I am A Slave for U: I’ll Volunteer Part Two

Masih ingat dengan kisah Wahyu? Cowok apes yang dilecehkan cowok rada psycho bernama Rizky? Hmmm, kira-kira bagaimana ya kabar si Wahyu sekarang? Kita intip yuk!

Bagi yang belum baca atau udah lupa monggo dicek di:

Slave Part One|Slave Part two|Volunteer Part One

I’LL VOLUNTEER PART TWO.
Logika Wahyu terkalahkan sama hati kecilnya. Dan sampai saat ini ia masih berbaring di samping Rizky yang masih tidur.
Menatap wajah Rizky yang semakin dilihat semakin tampan menjadi aktivitas yang menarik bagi Wahyu. Entahlah, sihir apa yang sudah dihembuskan jin penunggu rumah ini, sehingga Wahyu tidak ingin melepaskan pandangan dari wajah cowok itu.
Sesekali ia membelai bahu Rizky, atau sekedar merapikan selimut cowok itu yang melorot. Dan itu juga sangat menyenangkan baginya.
Setelah beberapa lama, Rizky belum bangun juga. Dan kini Wahyu yang dihinggapi rasa kantuk. Ia pun tertidur sambil menggenggam tangan Rizky…
Ia terbangun saat merasakan sesuatu yang keras digesekkan ke belahan pantatnya. Ia perlahan membuka mata dan menyadari kini ia sudah telanjang bulat. Ia menoleh ke belakang dan melihat tubuhnya dan Rizky tidak berjarak. Tangan cowok itu melingkar di perutnya. Dan benda keras yang membangunkannya tadi itu tak lain adalah junior Rizky.
“Udah bangun elu?”
“Hei! Elu tuh benar-benar ya…” Wahyu berusaha melepaskan lingkaran lengan Rizky di perutnya.
Rizky justru memeluknya makin kuat.
“Benar-benar sakit jiwa elu! Orang tidur aja masih dikerjain…”
“Gue Cuma nempelin kontol gue doang…”
“Itu sama aja elu melecehkan orang.”
“Dan elu suka kan?”
“Najis!”
“Hahaha. Munafik elu! Buktinya elu masih di sini. Buat apa? Elu belum puas pengen digarap gue lagi kan???” Rizky menekan kepala Wahyu ke bantal.
“Sembarangan elu! Gue cuma mau mastiin keadaan elu aja. Kalo gue tahu elu itu orang yang nggak tahu terima kasih, gue nggak bakal mau repot-repot jagain elu!”
“Jagain gue? Siapa yang nyuruh elu jagain gue, eh?”
“Selain Psiko, ternyata elu pengidap penyakit lupa juga ya. ELU tadi yang minta gue nemenin elu! Nggak ingat elu?!”
“Tapi gue nggak nyuruh elu tidurkan? Apalagi sambil pegang-pegang tangan gue segala.”
Wahyu menelan ludah.
“Elu ngapain aja selagi gue tidur, eh? Elu manfaatin gue, iya?!”
“Apa maksud elu? Siapa yang memanfaatkan siapa di sini, eh?!”
“Apa elu nyium gue tadi? Peluk gue? Grepe-grepe gue? Nyepong gue??? Apa?!”
“Jangan ngarep lu!!! Gue Cuma ngerapiin selimut elu doang. Nggak lebih!”
“Nggak percaya gue!”
“Terserah.”
“Berani elu macem-macem sama gue, elu bakal tahu akibatnya,” Rizky lagi-lagi menekan kepala Wahyu ke bantal.
Wahyu memilih untuk diam. Ia bosan meladeni tuduhan Rizky.
“Elu harus dihukum!!!”
“Terserah. Hukum aja. Gue udah capek ngeladenin elu… elu mau ngapain gue? Perkosa gue lagi?”
“Tuhkan, jelas banget elu tuh ketagihan sama gue.”
Wahyu menghela nafas. The real Rizky is back. Ia menyesal sempat menyayangi dan menaruh kasihan ke cowok itu barusan.
Rizky melompat bangun dan mengambil selendang yang entah sejak kapan sudah ada di atas meja di samping lampu tidur. Wahyu yakin selendang itu diambil Rizky di dalam Exe-room saat dia tertidur tadi.
“Bangun!” perintah Rizky.
Wahyu bangun tanpa komentar.
Rizky mengikat kedua pergelangan tangan Wahyu masing-masing dengan satu selendang. Ikatannya begitu kencang. Tidak hanya itu, ternyata Rizky juga mengingat pergelangan kakinya dengan dua selendang yang lain. Wahyu bisa menebak bahwa Rizky akan mengikat tangan dan kakinya ke ranjang.
“Balik badan!”
Wahyu membelakangi Rizky. Sedetik kemudian, bahunya didorong ke depan. Rizky lantas mengikat masing-masing ujung selendang yang tadi diikatkannya ke tangan Wahyu ke tiang hiasan ranjang sehingga kedua tangan Wahyu terentang lebar.
Belum sempat Wahyu berpikir apa yang akan dilakukan Rizky selanjutnya, tiba-tiba kaki kanannya ditarik ke arah kanan bawah dan diikatkan ke tiang ranjang sehingga posisi tubuhnya sekarang setengah terangkat ke atas. Setelah mengikat kaki kanan Wahyu, sekarang Rizky mengikat kaki kirinya ke tiang ranjang sebelah kiri bawah dan tubuh Wahyu pun langsung terangkat sempurna di atas ranjang. Tubuhnya seolah-olah melayang di atas ranjang dengan posisi kedua kaki dan tangan terentang.
Wahyu menelan ludah. Sudah dipastikan Rizky akan menyetubuhinya di udara.
“Gimana? Enak??” Rizky jongkok dan menyeringai ke arah Wahyu.
Wahyu hanya menoleh sebentar dan membuang muka.
Rizky terkekeh sambil menekan kepala Wahyu ke bawah.
“Ini akan sangat menyenangkan…” Rizky terkekeh sambil berjalan mengitari tubuh Wahyu sebelum akhirnya berhenti tepat di sela kaki Wahyu yang terlentang lebar.
“Hole elu masih sempit aja…” kata Rizky sambil menepuk-nepuk pantat Wahyu.
Wahyu memejamkan matanya. Kepalanya pusing setiap melihat ke bawah.
“Siap?” tanya Rizky seiring langsung menekan juniornya kearah liang Wahyu.
Wahyu langsung mengejang menahan serangan Rizky.
“Bener kan. Masih sangat sempit… ugh!” Rizky mendorong dan memaksa miliknya menerobos Wahyu yang melakukan penolakan.
“Elu masih belum paham juga ternyata. Semakin elu tolak, maka prosesnya semakin lama dan semakin sakit. Lebih baik elu rileks dan terima kontol gue ini…”
Wahyu menghela nafas, sehingga tubuhnya pun melemas.
“Buka lubang elu selebar-lebarnya biar gue bisa masuk dengan mudah. Bukannya elu udah nggak tahan pengen dapat semburan panas pejuh gue, eh? Hehehe…” Rizky menjauhkan kedua bongkah pantat Wahyu dengan tangannya.
Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit junior Rizky tenggelam ke dalam liang hangat milik Wahyu.
“Ohhhh….” Desah Rizky nikmat. Ia selalu menikmati saat-saat di mana miliknya mulai tenggelam dalam liang gelap nan sempit itu setiap bercinta. Tapi dari semua korban yang pernah ia masuki, hanya liang Wahyu yang benar-benar memberikan kenikmatan luar biasa. Liang sempit Wahyu yang belum pernah dijamah siapapun kecuali dirinya, selalu menyambutnya dengan pijatan yang menghadirkan rasa nikmat dan geli secara bersamaan dengan luar biasa, yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata selain lenguhan panjang dan dalam.
“Gimana? Enak?”
Wahyu bergeming. Meskipun rasa sakit tidak seperti sebelumnya, tapi ia tetap tidak bisa menikmatinya. Atau setidaknya belum bisa menikmatinya.
“Jujur ajalah. Nggak usah elu pura-pura menolak, padahal suka, hehehe…” Rizky menampar pantat Wahyu.
“Akh!”
Rizky mendaratkan tamparannya lagi.
“Ukh!”
Lagi.
“Aduh!”
Dan lagi.
Wahyu mengigit bibirnya.
“Mengerang lagi!” perintah Rizky sambil menampar kedua belah pantat Wahyu secara bersamaan dengan kedua tangannya.
“Sakit!” teriak Wahyu.
“Sakit ya?”
“Umppp…!” Rizky menghentak pinggulnya ke depan, membuat juniornya tertanam semakin dalam di liang Wahyu.
“Arg! Uhhh…” erang Wahyu.
Plok!!!
Rizky menghentak lagi.
Wahyu melenguh.
Rizky menghentak lebih keras. Membuat tubuh Wahyu terguncang.
Puas menyetubuhi Wahyu dengan posisi berdiri, akhirnya Rizky melepaskan ikatan Wahyu. Tapi bukan berarti ia menyudahi permainan itu. Ia menyuruh Wahyu berdiri jongkok di depannya dan mengoral miliknya.
Wahyu menuruti kemauan Rizky dengan terpaksa.
Terpaksa. Entahlah. Wahyu tak yakin. Apakah ini sebuah bentuk keterpaksaan atau kepasrahan.
Setelah beberapa lama dioral, Rizky meminta Wahyu telungkup di ranjang. Wahyu menghela nafas lega. Setidaknya kali ini Rizky akan menggempurnya dalam posisi normal.
Tapi bukan Rizky namanya jika tidak menyulitkan partnernya. Apa yang dipikirkan Wahyu salah besar. Setelah Wahyu telungkup, ia mengangkat kedua kaki Wahyu ke atas, sehingga posisi Wahyu sekarang tak ubahnya pesenam yang sedang memperagakan gerakan sikap Lilin. Bahkan lebih itu, sekarang Rizky meminta Wahyu berdiri hanya bertumpu pada kedua tangannya, sementara kedua kakinya dipegang Rizky.
Setelah membuka kedua kaki Wahyu dan menjepitnya ke ketiaknya, Rizky kembali menyetubuhi Wahyu sambil berdiri. Goa Wahyu yang terbuka seakan menantang kejantanannya itu langsung dimasukinya dengan mudah. Posisi Wahyu membuat miliknya masuk sepenuhnya. Nikmat sekali. Ia membenamkan miliknya itu cukup lama sebelum menariknya keluar sedikit, sebagai awalan menenggelamkannya kembali.
Sementara Rizky tengah diselimuti kenikmatan, berbeda dengan Wahyu yang Nampak sangat kepayahan menopang tubuhnya hanya dengan tangannya. Belum lagi hentakan Rizky yang bertubi-tubi, membuat sekujur tubuhnya bergetar. Berkali-kali tangannya ingin terlipat, tapi buru-buru diluruskan kembali secara paksa oleh Rizky dengan cara menarik pinggang Wahyu lagi.
Wahyu nanar. Kepalanya pusing dalam posisi terbalik seperti itu. Ia memejamkan matanya, berharap pusing bisa berkurang. Tapi hentakan demi hentakan yang diterimanya, membuat pikirannya tidak bisa tenang yang berimpas pada pusing di kepalanya.
“Gue mohon, berhenti, Ky. Kepala gue…” pinta Wahyu.
“Kenapa pala Elu?”
“Gue pusing terbalik kayak gini…” jawab Wahyu jujur. Tak ada gunanya pura-pura kuat di hadapan manusia berhati Iblis macam Rizky.
“Baru aja dua ronde. Masa udah kewalahan?”
Wahyu tak menjawab. Ia kembali memejamkan matanya.
“Tunggu sampe gue keluar!” kata Rizky sambil mempercepat gerakan maju mundur pantatnya.
Wahyu mengigit bibirnya. Pusing di kepalanya semakin hebat.
Plok. Plok. Plok.
Bunyi setiap gerakan Rizky menyetubuhi Wahyu. Semakin lama, ia semakin menggila. Cairan hangatnya tidak lama lagi akan keluar. Ia semakin mempercepat gerakan senggamanya.
Sementara itu, tubuh Wahyu semakin lemas. Sampai akhirnya kedua lengannya rebah dan tengkuknya mendarat ke ranjang. Rizky buru-buru menarik pinggul Wahyu yang merosot ke arahnya. Menjaga agar juniornya tetap berada di dalam Wahyu.
“Ah..! ah..!aahhhh…!” Rizky melenguh mengimbangi gelombang kenikmatan yang melanda dirinya.
Tak berapa lama kemudian, cairan kental keluar dari dirinya. Ia menghentak pinggulnya sehingga miliknya yang keras memenuhi liang Wahyu yang hangat. Setelah seluruhnya keluar, ia pelan-pelan mencabut miliknya dari liang Wahyu yang basah dan lengket oleh cairan putih kentalnya.
Rizky menjatuhkan kedua kaki Wahyu ke atas ranjang. Membuat beberapa tetes cairan itu menodai seprai saat pantat Wahyu mendarat ke ranjang.
Wahyu membuka matanya dan bergerak sedikit. kepalanya yang masih pusing membuatnya tak peduli dengan apa saja yang sudah terjadi.
Rizky mendorong tubuh Wahyu ke arah dinding. Saat itu ia melihat wajah Wahyu pucat sekali. Ia yang bermaksud untuk rebah langsung membatalkan niatnya itu.
“Hei, elu kenapa?” tanya Rizky.
Wahyu tak menjawab. Ia justru semakin mempererat pejaman matanya.
“Elu kenapa?” Rizky mencoba membangunkan Wahyu.
“Jangan ganggu gue!” teriak Wahyu.
Rizky menyentuh kening Wahyu. Ia tidak merasakan panas sama sekali.
“Ya udah. Lu capek ya? Silahkan tidur.”
***

5 thoughts on “I am A Slave for U: I’ll Volunteer Part Two

  1. […] Slave Part One|Slave Part two|Volunteer Part One|Volunteer Part Two […]

  2. Tsu no YanYan 11/19/2014 pukul 6:14 pm Reply

    ya ampun… #sambilkipaskipas

  3. world aloner 01/23/2015 pukul 8:01 pm Reply

    salam kenal kak, gue suka banget cerita lo yang ini, dan kalo buka blog lo pasti gue selalu ngecek ini cerita, oh iya kak kalo bisa, boleh ga next time kata k**** di ganti sama junior? tapi kalo ga bisa si ga papa kak, semangat kak untuk ttp ngelanjutin cerita kerennya

  4. Virgho 06/22/2015 pukul 4:31 am Reply

    .,Lanjutin cerpen ‘I am A Slave for U’ dong !!
    .Please !?!

  5. asics singapore outlets 07/15/2015 pukul 6:17 am Reply

    asics shoes singapore

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: