Bianglala Satu Warna Chapter XVk-lanjutan

Cerita sebelumnya:
Mario meminta have sex sebagai hadiah kelulusannya. Tapi Johan menolak. Karena Mario terus merengek, akhirnya Johan mengalah. Meskipun setengah hati ia mau melakukannya bersama Mario. Namun mereka hanya melakukan sebatas oral. Dan itu membuat Mario tidak puas. Ia ingin Johan memasukinya.

Suatu malam, setelah beberapa malam Mario gagal membujuk Johan memasukinya, ia akhirnya melakukan tindakan sedikit ektrem. Ia memanfaatkan kesempatan saat Johan sedang tidur. Sehingga terjadilah apa yang ia inginkan.

Sayangnya, pengalaman seks pertama itu tidak sesuai harapannya. Dan terlebih lagi menimbulkan masalah. Johan merasa sedih dan curhat ke Ajeng. Hubungan mereka berdua di ujung tanduk. Nah, apakah hubungan mereka bisa dipertahankan?? Apakah Johan mau memaafkan Mario??

***

Tak butuh waktu lama, panggilan Johan langsung diangkat Ajeng.

“Assalamualaikuuummm…!” sapa Ajeng.

“Wallaikumsalam.”

“Ya, Jo?”

“Hati aku masih ngeganjel…”

“Kenapa?”

“Ada yang belum aku kasih tahu ke kamu.”

“Tentang apa?” tanya Ajeng dengan nada santai.

“Aku dan Mario, we’ve had sex…” terang Johan disertai hembusan nafas berat.

“Ow…!” seruan itu meluncur cepat dari mulut Ajeng.

Sejenak kemudian tak terdengar suara dari kedua ujung sambungan panggilan.

Mereka berdua sama-sama jadi kikuk.

“Jeng?” panggil Johan akhirnya.

“Ya, ya…! Uhmmm, sorry, gue kaget tadi dengernya. Kok bisa?”

“Mario yang maksa.”

“Maksa?” nada Ajeng terdengar tak percaya dengan keterangan Johan barusan.

“Konyol ya?”

“Seorang Johan bisa dipaksa?” Ajeng menekan intonasi suaranya.

“Itu dia, Jeng. Aku sendiri bingung sama diri aku sendiri. Kok bisa ngalah gitu sama dia…”

“Lu ngalah sama dia alasannya apa?”

“Nggak tau. Aku sayang sama dia dan gak mau dia kecewa…”

“Elu tau itu artinya apa?”

“Eh?”

“Artinya elu udah pakai perasaan sekarang, Jo. Lu sudah menggunakan perasaan untuk Mario, bukan logika lagi. Bagi elu sekarang, Mario bukan hanya sekedar “Mario” kan?”

“Mario sudah jadi bagian hidupku. Dia sudah ada tempat tersendiri di hati aku… Akh!” desis Johan kesal.

“Apa itu artinya elu udah kalah?”

“Kalah?”

“Kalah sama perasaan. Menyerah dan mengakui kalau Mario mencuri hati elu?”

“Perlahan begitu, Jeng.”

“Dan elu akan membendungnya kan? Tak akan membiarkan perasaan itu mengalir di hati elu…”

“Aku tak pernah membendungnya. Justru selama ini aku membuatkan aliran untuk Mario. Aku nyaman. Kamu jangan pikir aku terus bergumul dengan perasaanku sendiri untuk menolak perasaan itu, Jeng. Nggak. Aku menerima jika pada akhirnya akan mencintai Mario.”

“Terus apa masalahnya sekarang?”

“Permintaan dia itu. Itu yang tak bisa aku terima. Jika ia bisa melupakan tentang seks, aku akan merangkul dan mencintai dia.”

“Kenapa tidak dibicarakan?”

“Mario tak bisa mengerti, Jeng. Selama nafsunya belum terlampiaskan ia seperti buta. Sampai akhirnya terjadilah hal itu…” Johan menghela nafas.

“Elu pengen gue bicara sama dia?”

“Silahkan…”

“Ya udah. Kalo gitu, coba gue bicara ke dia ya? Moga aja dia mau pacaran seperti yang elu minta.”

“Ya, Jeng. Aku sayang sama dia.”

“Ya.”

“Oke. Thanks. Assalamualaikum…”

“Walaikumsalam.”

***

Mario berdiri saat melihat kepulangan Johan.

“Ayah…!” sapanya ceria.

Johan tersenyum kecil.

“Dari mana?”

“Rumah teman,” jawab Johan sambil lalu.

Mario mangut-mangut sambil memperhatikan punggung Johan yang menghilang di balik pintu kamar.

Ia menghela nafas dan kembali duduk di sofa. Respon Johan barusan sangat dingin. Terasa sekali sikap ogah-ogahannya saat menjawab pertanyaan yang ia berikan.

Mario memejamkan matanya. Ia yakin pasti gara-gara ML semalam.

“Ah, kenapa juga gue maksa dia. Gue benar-benar gak bisa bersyukur…” sesalnya. “Seharusnya dapat kasih sayang dari dia udah cukup, kenapa gue harus minta dia ML juga…”

Mario menyandarkan kepalanya ke sofa. Ia memikirkan bagaimana kelanjutan hubungan mereka ke depan. Jujur ia khawatir kehilangan Johan. Melihat sikap Johan yang dingin tadi, ia takut Johan minta putus.

Ia menyesal. Benar-benar terasa penyesalannya baru sekarang. Ia benci karena udah ngelakuin itu. Nikmatnya nggak dapat, sementara masalah baru pun muncul.

“Apa gue harus minta maaf sama Ayah? Bilang kalo gue nyesal dan gak akan minta macem-macem lagi. Janji nggak akan nuntut macem-macem asal ia mau maafin gue dan gak mutusin gue…” hatinya mulai mempertimbangankan ide itu.

Mario menoleh ke arah pintu kamar. Ia ingin menemui Johan, tapi ragu.

Sementara itu di kamar, Johan duduk di meja belajar dan menghidupkan laptop-nya. Tak ada tugas yang harus dikerjakan. Tapi ia hanya ingin browsing saja sebagai pembunuh waktu.

Biasanya kalau nggak ada kerjaan, dan Mario juga nggak ada kerjaan, mereka berdua duduk di teras atau nonton di ruang tengah. Tapi hari ini ia memilih untuk lepas dari kebiasaan itu. Ia sengaja ingin menghindari Mario. Bukan karena ia benci, toh sejak lama ia tak bisa membenci anak itu. Tapi kali ini ia ingin mengeraskan hatinya dan memperjelas sikapnya ke Mario supaya anak itu mengerti bahwa ia tidak suka diperlakukan seenaknya seperti semalam. Ia ingin Mario tahu hubungan seperti apa yang ia inginkan. Ia ingin Mario belajar untuk mengendalikan keinginannya dan menghargai pilihan orang lain. Ia lakukan itu semata-mata karena sayang sama anak itu. Ia ingin membangun hubungan yang sehat dan tanpa paksaan. Harapannya semoga Mario bisa mengerti.

***

Ajeng datang habis makan siang ke rumah Johan. Saat itu Johan lagi nonton, sementara Mario lagi online di teras.

“Eh, Mbak Ajeng…! Kemana aja elu, Mbak? Baru nongol sekarang…” sapa Mario.

“Biasaaa… Pemotretan di Bali,” Ajeng nyengir.

“Oh, ya? Pasti untuk cover majalah Trubus tuh…”

“Tau aja elu!”

“Hahaha…”

“Dari rumah, Jeng?” tanya Johan dari ambang pintu.

“Dari rumah teman tadi.”

“Motor kamu mana?”

“Tadi teman gue yang jemput ke rumah…”

“Terus kesini tadi naik ojek?” kali ini Mario yang nanya.

“Nggak. Di anter sampe mulut gang aja. Dianya ada urusan…”

“Oohhh…”

“Nah, tujuan gue ke sini mo minta kalian antar gue ke rumah.”

“Jiah! Napa gak sekalian aja lu minta antar dia ampe ke rumah, Mbak? Ribet amat…?”

“Rumah gue sama jalan yang ia tuju itu berlawanan…”

“Ribet. Gegara nggak mau ngeluarin modal…” celetuk Johan.

Ajeng terkekeh.

“Masuk, Jeng!” ajak Johan.

“Gue mo langsung pulang aja. Yo! Anterin Mbak ya?”

“Oke,” jawab Mario disertai anggukan.

“Yuk, sekarang yuk!”

“Oke, gue ambil kunci motor dulu,” jawab Mario sambil melesat ke dalam.

“Kamu mau ngomong sama dia ya?” tanya Johan sepeninggalan Mario.

“Iya.”

“Jangan bawa-bawa aku ya,” pesan Johan.

“Tenang. Gue bakal bawa-bawa Kak Reno!”

“Jiah! Nggak ada hubungannya…”

“Emang!”

Johan misuh-misuh.

“Yuk, Mbak!” seru Mario dari dalam.

“Yuk!!!” balas Ajeng. “Oke, gue balik. Lu berdoa aja ya,” katanya ke Johan.

“Apa deh…” gerutu Johan.

***

Dalam perjalanan menuju rumah Ajeng…

“Yo! Gimana hubungan elu sama Jo?”

“Baik, Mbak.”

“Baik ya? Gimana dia? Masih kaku atau gimana?”

“Nggak banyak berubah sih…”

“Tapi elu nyamankan sama dia?”

“Yaaa, begitu… Nyaman-nyaman aja.”

“Sering berantem nggak?”

“Nggak. Palingan berantem karena gue yang bandel.”

“Emang elu bandel kek gimana?”

“Suka ngelakuin hal-hal yang dia gak suka.”

“Contohnya?”

“Uhmmm… Apa ya?”

“Berantem?”

“Nggak. Nggak pernah berantem lagi. Mau berantem sama siapa? Di rumah mulu…”

“Terus? Kamu suka malas?”

“Eee… Masalahnya lebih ke apa ya? Susah sih jelasinnya, Mbak…”

“Kok?”

“Ya gitu deh, hehehe…”

“Nah, kalo udah berantem, biasanya gimana tuh nyelesainnya?”

“Ngalir aja. Tiba-tiba udah ngobrol biasa lagi…”

“Oooohhhh, gitu. Eh, menurut elu, si Jo itu beneran sayang nggak sih sama elu?”

“Emang kenapa, Mbak?”

“Pengen tahu aja. Kan kalian udah hampir tiga bulanan nih. Pasti elu bisa ngerasain lah gimana…”

“Sayang, Mbak. Tapi kadang-kadang sempat ragu juga.”

“Kok gitu?”

“Di saat-saat tertentu doang sih. Kalo lagi kesal sama dia suka mikir dia keknya gak ngerti gue banget.”

“Wajarlah itu. Nah, kalo elu sendiri pernah nggak ngerasa bikin dia kesal?”

Mario tak langsung menjawab.

“Apa selalu berusaha bikin dia bahagia?” pancing Ajeng.

“Enggg, pengennya buat Ayah bahagia. Tapi kan penerimaan orang kan beda.”

“Menurut elu, apakah elu udah berbuat yang terbaik buat dia?”

“Pastinya belum. Masih jauuuhhh…”

“Kalo dia udah berbuat yang terbaik nggak buat elu? Mungkin berkorban apa gitu…”

“Ah, bahas yang lain aja deh, Mbak.”

“Lho? Ya udah… Gue kepo banget yah? Hehehe…”

“Iya, kepo! Yeee…”

“Hahaha…!”

Tak terasa mereka sudah sampai di depan gerbang pagar rumah Ajeng.

“Gue anter ampe di sini aja ya, Mbak.”

“Nggak mo masuk dulu?”

“Nggak usah, Mbak.”

“Oke. Makasih ya udah dianterin?”

Mario mengangguk..

***

***Mario***

[i]”Menurut elu, apakah elu udah berbuat yang terbaik buat dia?”

“Kalo dia udah berbuat yang terbaik nggak buat elu? Mungkin berkorban apa gitu…”[/i]

Pertanyaan Mbak Ajeng tadi terus berputar di kepala gue. Menyentak kesadaran gue.

Iya, apa yang sudah gue lakukan untuk hubungan gue sama Ayah?

Jawabannya: Nggak ada.

Gue baru sadar, selama ini gue nggak ngelakuin apa-apa untuk hubungan kita. Setelah terus berharap bisa mendapatkan Ayah dan harapan gue itu terkabul, gue nggak ngelakuin apa-apa sebagai rasa syukur gue.

Keterlaluan banget gue. Bukannya menjaga anugerah yang sudah Tuhan berikan, justru gue menyia-siakannya. Gue selalu berusaha mengambil keuntungan dari Ayah.

Sementara Ayah? Dia yang selama ini lebih banyak berkorban. Ikhlas menerima gue, belajar mencintai gue, berusaha memenuhi apa yang gue paksakan ke dia…

Ya Allah, jahat banget gue!

Akh, kenapa gue baru sadar sekarang sih? Kemana aja gue selama ini?

Tiba-tiba gue kangen banget sama Ayah. Gue pengen peluk dia dan bilang minta maaf. Gue sayang sama dia. Gue nggak mau kehilangan dia.

Gue memacu motor lebih cepat. Gue pengen buru-buru nyampe rumah dan ketemu Ayah.

Sesampai di rumah, gue memarkirkan motor dengan tergesa-gesa lalu berlari cepat masuk ke rumah.

Di ruang tengah gue mendapati Ayah tengah duduk di sofa. Ia keheranan melihat gue lari-larian di dalam rumah.

Ayah…! Desis gue dalam hati.

Tanpa pikir panjang gue langsung memeluk lehernya dari belakang. Gue peluk erat-erat sambil memejamkan mata. Ya Allah… Gue nggak mau kehilangan dia.

“Eh..eeh…” Ayah berusaha melepaskan pelukan gue.

“Plis, Yah, jangan dilepas…” desis gue. Gue belum tuntas melepaskan kerinduan yang melanda gue tiba-tiba ini.

Ayah membiarkan gue memeluknya.

“Gue kangen…” desis gue.

Ia tak menjawab.

“Gue kangen sama Ayah…” gue gak mau melepaskan lehernya.

“Jangan tinggalin gue, Yah…” kata gue lagi ketakutan.

“Lepasin,” kata Ayah dingin.

“Ayah, maafin Oh…” gue makin ketakutan.

Ia tak menjawab.

“Oh nggak mau kehilangan Ayah,” gue pengen nangis rasanya.

Ayah tetap diam.

Gue memeluk lehernya makin erat. Tanpa bisa ditahan air mata gue keluar dan jatuh di atas leher Ayah.

Ayah menoleh dan mengusap air mata gue yang menetes di lehernya.

“Oh takuttt…” gue mulai nggak bisa mengontrol perasaan.

“Kamu kenapa?” Ayah akhirnya bertanya juga.

“Oh takut kehilangan Ayah…”

Ayah tak berkomentar.

“Jangan tinggalin Oh. Oh mohon…”

***

***Johan***

Taktik apa lagi yang sedang dilancarkan Mario? Gumamku dalam hati.

“Oh tahu selama ini cuma jadi masalah buat Ayah…”

Tapi suaranya terdengar sangat tulus sih…

“Oh nggak pernah berusaha membahagiakan Ayah…, justru Ayah yang selalu mencoba membahagiakan Oh… Padahal Oh yang cinta sama Ayah…” ujarnya.

Aku masih saja diam. Hanya mendengar omongannya saja.

“Oh belum terlambat kan, Yah?” tanya Mario penuh harap.

Entah, jawabku dalam hati. Aku ingin mengakhiri semua ini, tapi masih belum sanggup.

“Oh berharap kata “masih” dari Ayah. Tapi Oh nggak mau memaksakan kehendak lagi seperti yang sudah-sudah…” nada suaranya terdengar pasrah.

Aku melepas lingkaran lengannya di leherku. Ia tak melawan.

Aku meregangkan otot leherku dan menyandarkan kepala ke sofa. Sementara Mario berjalan ke arahku. Lantas ia duduk di sebelahku. Sisa isakan tangisnya sesekali terdengar.

Lagi, aku jadi lemah di hadapannya. Aku tak sanggup melihat ia seperti ini. Aku ingin memeluk dan menenangkannya. Kekerasan hatiku seolah raib jika sudah berhadapan sama Mario. Aku tak pernah bisa lagi bertindak keras padanya.

“Sini…” desisku.

“Hah?” respon Mario seraya menoleh ke arahku.

“Ayah peluk…” Aku tiba-tiba juga ingin memeluknya.

Mario langsung beringsut mendekat. Ia membenamkan wajahnya ke dadaku saat aku melingkarkan lengan di sekitar bahunya. Kuusap-usap bahu, tengkuk dan rambutnya untuk menenangkannya.

Cukup lama kami berdua dalam posisi seperti itu tanpa kata.

Kemudian Mario mengangkat wajahnya. Kami bertatapan.

“Oh takut kehilangan Ayah…” desisnya.

“Kalo takut, jangan biarkan dia pergi,” sahutku.

“Oh pengennya gitu. Tapi dengan kelakuan Oh selama ini… Oh takut bisa membuatnya pergi…” bibir Mario bergetar.

“Keinginan untuk pergi selalu ada,” jawabku jujur.

“Jangan…!” desis Mario pelan.

“Keinginan itu karena kamu yang buat.”

“Maaf…” ucap Mario. “Oh mau berubah…”

“Berubah?” entah kedengarannya terdengar mustahil bagiku.

“Iya. Kalo Ayah masih ngasih kesempatan buat Oh memperbaiki semuanya…”

Aku kembali diam.

“Ayah maunya kita pacaran tanpa seks kan? Oh mau ngejalaninnya…”

Aku menyipitkan mata.

“Mungkin Ayah gak percaya. Jujur, Oh juga gak yakin. Tapi Oh mau coba, Yah. Oh pengen mencintai Ayah secara tulus, tanpa mementingkan nafsu…”

“Oh ya? Apa mungkin bisa?”

“Nggak tahu. Tapi Oh pengen coba. Jika Oh gagal, Ayah silahkan tinggalkan Oh…” Mario menghela nafas dalam-dalam. “Tapi asal Ayah tahu, membayangkan Ayah pergi aja, bikin nafas Oh sesak. Apalagi kalo itu jadi kenyataan. Jadi, Oh nggak akan biarkan hal itu jadi nyata. Dalam artian, Oh tak akan nyerah gitu aja. Oh tak akan biarkan Ayah pergi gitu aja…”

Dan lagi, aku terjebak sama ucapannya. Ah, memang aku tak bisa mengabaikan anak ini.

“Seharusnya dari dulu kamu mikirnya gitu…” aku merangkulnya lebih erat.

“Oh baru dapat wangsit, Yah…”

Aku terkekeh.

“Hmmm, tapi kalo minta dicium boleh ya?”

“Mau dicium?”

Ia menengadahkan wajahnya ke arahku. Kusambut bibirnya dan kukecup lembut.

“Thanks, Yah…”

Aku tersenyum.

“Kalo grepe-grepe dikit boleh gak?”

“Mario!”

Ia nyengir.

***

13 thoughts on “Bianglala Satu Warna Chapter XVk-lanjutan

  1. Yudhie 09/27/2013 pukul 9:58 am Reply

    Mario β†’ ungrateful
    Johan β†’ hypocrite

    Yakin neh gak pake sex? Kayaknya ntar malah Johan deh yang bakalan nagih. Udah ngerasain ngentot pasti mupeng klo dah horny. Apaan kontrol diri segala macem toh ujungnya nyerah juga. Dan ohmario pasti bakal jejingkrakan kesenenganπŸ˜€

    Hadeeuuuuh ohmario maurer kok jadi binal banget yak. LOL :p

  2. lian25 09/27/2013 pukul 10:24 am Reply

    Puji tuhan ada lagi updatean nya,serasa dikit dan bntr bgt baca nya huhuhu
    Tapi mksh tuk updatean nya

  3. lian25 09/27/2013 pukul 10:24 am Reply

    Ehhhh uni aku yg pertamanya yaaa ?

  4. PUTTRA P 09/27/2013 pukul 12:45 pm Reply

    update juga,,,tokohnya jgn terpaku ma mario – johan doang bro,,mnrut gw konfliknya masih masalah batin,,klo bisa di liat cerita ini masih panjang soalnya belum sampai ke bagian klimaks,,,dan cerita ini seting waktunya terlalu lambat. BTW miss you arie

  5. ray_har 09/27/2013 pukul 1:04 pm Reply

    horeee udah updateeee.. mario kalo pngen ngesex ama arie ajaaπŸ™‚

  6. Chochowlatte 09/27/2013 pukul 8:19 pm Reply

    Moga2 Johan yg keburu napsu dan ncus mario >:3

  7. arixanggara 09/28/2013 pukul 11:23 am Reply

    kayaknya bakal perang batin nih entar

    Di suatu sisi Mr Jo udah mau ngcushh, ehh mario yg tobat karena kemakan janji

    Atau mario bakal mencari pelampiasan hasratnya yg udah di ubun2 pada ari atau bisa jadi bakal ada tokoh baru dan bisa buat mario lupa akan johan dan ari hehehehehe

    #BayanganNGASAL

  8. arixanggara 09/28/2013 pukul 11:29 am Reply

    ohh ya lupa, thanks bang uda di review
    Jdi gak ribet cari chap sbelumnya……!!!

    Satu lagi, aku bookmark(speed dial) ya bang di opminku indexnya hehehehe alasannya sihh biar gak ribet…..!!!

  9. danar23 09/29/2013 pukul 4:40 am Reply

    mudah2n ada org ketiga yg bikin jo cemburu…..
    tp jangan arie,cukup shbtn aja ma arie.
    kak reno yg jd org ke 3 gt,hehehe

  10. akyuza 09/29/2013 pukul 6:56 am Reply

    Oh somplak!πŸ˜„ Setelah part sebelumnya gw misuh2 gegara kelakuan Oh yg maksa2 kak jo buat do-this-and-thatπŸ˜„ part ini gw mewek2 gegara penyesalan Oh.. Aaah aku emg wanitaah penuh perasaan~ *menggelinjang imut* #plak
    btw arie kemana? Kangen ih :3
    saking ga sabar nunggu di forum, akhirnya gw terjun ke blog -,-

  11. sefares 09/29/2013 pukul 8:49 am Reply

    Dikit amat? Tapi gak papa deh. Yang penting kan cerita ini tetap lanjut. Oh iya, entah kenapa aku seperti merasakan perasaan mario. Walaupun tidak bisa ku utarakan, tapi aku selalu merasa sedih jika membayangkannya.

  12. Erick 10/01/2013 pukul 11:06 am Reply

    Hmmm, jenis cinta platonik akan sulit utk karakter spt mario. Johan lbh baik sakiti mario sekali saja sampai sesakit sakitnya, untuk mario bisa move on. Tapi… Cinta… Siapa yang bisa tebak…

  13. DMVST 12/24/2014 pukul 7:40 pm Reply

    rasanya macarin kak Jo kayak macarin anak pak ustadz.. perasaan cinta dia punya, tapi kalo urusan nafsu sepertinya masih kepikiran sama dosa. entah kelewat beriman ato pernah trauma.. 😒😒😒�

    saya telat banget nemu serial Bianglala Satu Warna ini.. telat pake banget. masak baru sekarang mulai bacanya.. 😒😒😒

    buat yg bikin cerita, semoga sehat dan baik-baik saja. salam buat Arie. 😘😘😘

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: