Bianglala Satu Warna Chapter XVk

Gue baliiikkk!! Sorry lama update-nya,😀

===

***Johan***

Aku terbangun setelah mengalami mimpi yang cukup menegangkan. Mimpi diikat di sebuah ruangan tak dikenal sendirian. Untungnya setelah bergerak-gerak sekuat tenaga, ikatannya bisa dilepas. Tapi saat ingin kabur, ada seseorang menghadangku. Aku langsung menyarangkan pukulan ke kepalanya dan kemudian melarikan diri. Kemudian aku terbangun.

Aku langsung bernafas lega setelah tahu itu hanya mimpi. Nggak tahu kenapa tiba-tiba mimpi seperti itu.

Aku menoleh ke kanan. Pandanganku langsung tertuju ke sosok yang tidur di sampingku.

Mario.

Aku langsung bangun saat ingat apa yang sudah kami lakukan.

DIA!!! Geramku kesal.

Aku bermaksud ingin menyentak tubuhnya, memaksanya bangun, lalu menghajarnya. Tapi niat itu kuurungkan saat pandanganku tak sengaja tertuju pada kipas angin yang menyala tepat di depan kangkangan kaki Mario.

Ngapain dia? Kepanasan? Masa di hawa dingin begini kepanasan?!

Aku langsung mematikan kipas angin itu. Saat ingin mematikan lampu tidur, aku juga melihat mangkok ukuran sedang berisi air. Air apaan?

Apa yang udah Mario lakukan saat aku tidur tadi?

“Mario!” aku menyentak tubuhnya dengan cara menarik kakinya.

Ia bergerak.

“Bangun, bangunnn!!!” seruku. Kesal rasanya lihat dia cuek banget tidur tanpa celana.

“Enggg…” desis Mario pelan.

“Mario!!!”

Mario membuka matanya.

Saat tatapan kami beradu, emosiku memuncak. “Bangun!” aku menarik kakinya.

“Aaaww…eee… Sakit! Sakit!” rintihnya.

Aku langsung melepas kakinya. Rintihannya terdengar memilukan.

“Aduuhhh… Pelan-pelan…” desisnya.

Aku mengerutkan kening sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada.

Mario bangun dari tidurnya dengan pelan.

“Kenapa?” tanyaku sambil menekan nada penasaran.

“Pantat Oh sakit…”

“Sakit?” aku menaikkan alisku.

“Ayah nggak ingat semalam? Kita berdua main. Ayah masukin paksa Oh…” terangnya pelan sambil menunduk.

Aku mangut-mangut. Ya, aku ingat, tapi aku nggak suka mengingatnya!

“Terus itu air apa?” tanyaku sambil menunjuk dengan dagu mangkok berisi air di atas meja tadi.

“Oh, itu… Semalam Oh ambil es balok…”

“Buat apa?”

“Ditempelin ke–” Mario menunjuk hole-nya. “Biar perihnya berkurang…”

Aku mangut-mangut.

“Kipas angin juga…” ia menunjuk kipas angin yang tadi kumantikan.

“Ooo…” hanya itu yang keluar dari mulutku. Setelah itu aku berjalan menuju keluar. Tapi saat hendak melewati pintu, aku berhenti dan balik badan. “Sekarang gimana?” tanyaku.

“Apa?” Mario mengangkat wajahnya.

“Masih sakit?”

“Masih… Tapi kalo nggak digerak nggak kerasa kok.”

Aku mengangguk-angguk lalu kembali melanjutkan langkahku.

***

***Mario***

Gue senang. Juga sedih. Senang karena Ayah nggak marahin gue. Tapi sedih karena ada sesuatu yang hilang rasanya dari gue sekarang. Gue nggak tahu apa. Hanya saja gue ngerasa—gimana ya, bagian diri gue nggak lengkap lagi.

Hmmm, mungkin seperti perasaan saat seorang gadis sudah melepas keperawanannya? Mungkin sih…, seperti perasaan gue saat ini. I dunno. Gue harap perasaan ini lekas hilang. Gue yang menginginkan semuanya, jadi nggak ada yang perlu dipikirkan, apalagi disesalkan.

Gue nggak menyesal. Ah, ada sedikit penyesalan… Hehehe. Eh, bukan penyesalan sih… Lebih ke perasaan kecewa kali yah? Kecewa karena keperjakaan hole gue diambil tanpa kemesraan. Padahal semua orang pasti menginginkan yang demikian kan? Tapi, ah sudahlah.

Gue berusaha mem-blok pikiran semacam itu. Gue yang selama ini memaksa Ayah, mungkin pantas bagi gue dipaksa dimasukin juga. Wkwkwk.

Hhh, nevermind.

***

***Johan***

Aku bingung. Aku seperti tak mengenal diriku sendiri.

Kenapa denganku?

Ini bukan aku. Aku tidak pernah bersikap lembek seperti ini. Tidak pernah!

Tapi sekarang, kenapa aku selalu membiarkan Mario bertindak sesukanya? Dan kenapa aku tak marah?

Seharusnya aku marah!

Dia membawa pengaruh buruk buatku. Dan aku sadar betul itu. Tapi kenapa aku tidak mengusirnya dari sini?

Tingkahnya semakin kelewatan. Tapi aku tidak bertindak apa-apa. Terus membiarkan dia mendapatkan apa yang diinginkannya.

Oke, aku menolak kemauannya. Tapi tidak sekeras dulu! Sudah berkali-kali seperti ini. Sudah berkali-kali Mario berhasil menguasaiku. Tapi kenapa semakin lama, aku semakin terbiasa saja dengan semuanya?

Padahal semuanya sudah diluar batas. Diluar batas!

Aku sudah bercampur dengannya! Berhubungan badan. Kurasa itu adalah puncak dari segala hubungan percintaan.

Aku sudah melakukannya! Seharusnya aku marah!!! Seharusnya aku menghajarnya!!!

Tapi kenapa? Kenapa aku diam saja? Aku bahkan membiarkannya tetap bernafas dengan tenang di kamar. Kenapa?

Ada apa sih dengan dirimu, Johan???

Ini bukan Johan!

Kenapa aku nggak bisa marah sama dia? Kenapa aku justru khawatir sama keadaannya?

Oh God…! Ada apa sih denganku?

***

Ajeng memperhatikan garis wajah Johan dengan cermat. Seakan-akan ia akan mendapat jawaban atas kedatangan Johan ke rumahnya.

“What’s going on?” akhirnya ia angkat bicara.

“Lagi sibuk ya? Kok nggak pernah main ke rumah?” Johan balik nanya.

“Nggak juga sih. Elu juga tuh nggak pernah main ke sini…” sindir Ajeng.

Johan tersenyum tipis.

“Lagi kasmaran keknya. Makanya temen dilupain…”

Johan memanyunkan bibir bawahnya.

“Apa kabar Mario?”

“Ba…ik!”

“Mo lanjut kemana dia?”

“Belum tahu.”

“Elu pengen dia disini apa keluar kota?”

Johan mengerutkan jidatnya.

“Biasa aja kali! Emang pertanyaan gue salah?”

“Terserah dia maunya dimana.”

“Hmmm… Masih gengsi-gengsian elu? Kapan sih elu menekan ego elu sedikit?”

“Jeng, aku nggak tahan lagi…”

“Nggak tahan kenapaaaa…???!!!” Ajeng pura-pura kaget.

“Aku nggak mau terjebak semakin jauh.”

“Kenapa lagi sih??? Kumat lagi…” gerutu Ajeng.

“Semuanya terjadi melebihi apa yang bisa kamu bayangin. Aku nggak mau hancur gara-gara ini.”

“Kok elu ngomong gitu sih?”

“Aku nggak nyaman dengan semuanya.”

“What? Nggak nyaman? Setelah berbulan-bulan baru elu ngerasa nggak nyaman?” cecar Ajeng.

“Aku kehilangan aku yang dulu, Jeng!”

Ajeng tak merespon.

“Aku jadi berbeda. Semakin lama semakin berbeda. Bergeser ke arah yang lebih buruk.”

“Ada apa sih??? Cerita ke gue, biar gue paham apa maksud elu…”

“Aku nggak bisa terus mencintai Mario.”

“???”

“Cinta seperti ini nggak sehat.”

“Jo, dulu elu mo ngelepasin Mario karena elu nggak suka sama dia. Sekarang elu kembali mo ngelepasin dia padahal elu udah cinta sama dia? Sebenarnya yang elu cari apa sih?”

“Kita berbeda pandangan. Visi kita nggak sama.”

“Beda? Gimana?”

“Aku sayang sama dia, ya sayang. Aku juga mulai cinta sama dia, ya cinta. Aku sayang dan aku cinta tanpa ada embel-embel apapun. Tapi dia nggak. Mario pengen lebih dari itu.”

“Pengen lebih dari cinta? Bukannya kata orang-orang cinta itu di atas segalanya…???”

“Mario pengen gituan…”

Ajeng menyerucutkan bibirnya.

“Aku nggak bisa, Jeng.”

“Ya, gue ngerti. Kalo itu alasannya, gue yang bakal bantu elu. Tapi apa elu udah bicara ke Mario? Siapa tahu ada jalan keluar lain…”

“Udah. Tapi dia kayak nggak perduli gitu. Tetap pengen ngelakuin itu.”

“Bagi sebagian orang, itu memang nggak bisa dikompromikan. Termasuk gue sih… Nah, sekarang kembali ke elu. Elu gak bisa menuhin keinginan dia? Sedangkan dia misalnya tetap ngotot pengen gitu, yaaa… Cuma ada satu pilihan. PUTUS. Itu kan yang elu pengen? Kalo elu mo putus, sekaranglah saatnya. Mumpung belum terlalu lama dan alasannya tepat.”

“Aku sama dia harus putus?”

“Kalo kamu nggak bisa menuhin keinginan dia, ya putus jalannya. Kecuali kalo kalian punya penyelesain yang lain.”

“Ah! Bingung!!!”

“Elu tinggal pilih putus atau lanjut.”

“Nggak segampang itu, Jeng.”

“Lho, kok gitu? Biasanya yang namanya Johan itu jarang bimbang.”

“Putus nggak bakal menyelesaikan masalah, lanjut apa lagi…”

“Kok bisa?”

“Aku udah terbiasa sama Mario…”

“Elu udah jatuh cinta beneran sama Mario, makanya elu bimbang ya?”

“Banyak hal baru yang aku dapatkan bareng dia… Hal-hal yang dulu bahkan tak pernah ada dalam benakku…”

“Cie…cieeee…” ledek Ajeng.

“Di satu sisi, aku sudah sangat nyaman bersama dia. Tapi di sisi lain, aku masih merasa ia sebagai ancaman…”

“Hahahaha…! Lucu banget sih elu?! Nyaman tapi terancam? Kontradiktif banget tauk!”

“Itu yang aku rasain…”

“Makanya ikuti kata hati elu. Hati nggak pernah bohong…”

Johan menghela nafas berat.

***

Hati nggak pernah bohong, ucapan Ajeng tadi terus menggema di benak Johan.

Johan menyentuh dadanya. Merasakan detak jantungnya lebih seksama.

Ia selama ini tak pernah membohongi hatinya. Bahkan ia terlalu mengikuti kata hatinya. Membiarkan perasaan terus menggulirkan kisah terlarang bersama Mario.

Tapi pantaskah ia mengikuti kata hatinya ini? Sejauh mana ia harus mendengarkan suara kalbunya?

Kata orang hati akan memberikan jawaban yang sebenarnya. Hati akan menuntun orang menemukan apa yang mereka cari.

Johan sudah mengikuti kata hatinya sejauh ini. Tapi apakah jawaban yang tersedia saat ini yang ia cari?

Sebelum mengenal Mario, ia selalu mengandalkan logika dan akal budinya. Ia dengan mudah bisa memilah hal yang baik dan buruk. Ia jarang sekali mengikuti perasaannya. Karena larut dalam perasaan bisa membuat seseorang mudah jatuh.

Tapi perlahan, dominasi logikanya tergeser dengan perasaannya. Ia mulai mengedepankan perasaan dari pada akal. Ia meleburkan diri bersama segala yang Mario bawa. Ia berusaha menikmati semuanya, membiasakan dengan segala yang dulunya tabu baginya.

Dulu ia pikir akalnya tak akan terkalahkan. Mario tak akan bisa mengubah dirinya. Ia terlalu menyepelekan anak itu. Ia yakin sekali bahwa dia lelaki straight, jadi lelaki manapun mana bisa membelokkannya, apalagi anak seperti Mario. Pun jika ia seorang pencinta lelaki, ia juga tak akan menyukai Mario. Anak itu sama sekali tak menarik baginya. Ia pasti akan mencari pasangan yang dewasa, mapan dan bisa menjadikannya lebih baik, alih-alin siswa sekolah menengah atas, kekanakan, minim prestasi dan berandalan seperti Mario.

Tapi sepertinya logikanya benar-benar sudah raib entah kemana. Dia mulai simpatik pada anak itu. Ia tidak sekedar sayang layaknya seorang kakak ke adik, tapi lebih dari itu. Ia berhasrat terhadap Mario.

Dan hasrat ini yang Johan takutkan. Ia khawatir hasrat ini akan menggelincirkannya lebih jauh lagi. Ia sudah melakukan semuanya dengan anak itu.

Mengingat tentang itu, dadanya semakin membuncah. Ia menepikan motornya di pinggir jalan. Ia melepas helm dan mengusap wajahnya berkali-kali.

Ya Allah, ada apa sih denganku?? Desisnya dalam hati. Kenapa ia jadi gila seperti ini?

Ada resah yang menghinggapi hatinya sejak pagi tadi. Berkali-kali ia mencoba melupakan kejadian semalam, tapi hal itu terus menghantui pikirannya. Biasanya jika sudah curhat ke Ajeng, hatinya lumayan tenang dan pikirannya kembali terbuka. Tapi kali ini tidak. Apa karena ia belum menceritakan semuanya ke sahabatnya itu?

Johan merogoh handphone di saku jeans-nya dan mencari kontak Ajeng di phone book-nya.

17 thoughts on “Bianglala Satu Warna Chapter XVk

  1. Chochowlatte 09/13/2013 pukul 2:54 pm Reply

    Kyaaaa… akhirnyaa diupdate >///<
    Uda deg2an bang sumpehh.. Pengen tau Keadaan Mario :3
    Moga hub MarioJohan lbh cetarr :v
    Ditunggu updatenya :"3 Jgn lama lg ya pliss :3❤

  2. brownice 09/13/2013 pukul 3:13 pm Reply

    kentang ah… pengen update an yg lebih panjang lagi. tiap hari kerjaan gw ngecekin ada update an atau ga. Buat TS, Semangat ya, Semoga sehat selalu…

  3. Muluk 09/13/2013 pukul 4:57 pm Reply

    Arie dong pliss.. (˘̩.˘̩ƪ)

  4. lian25 09/13/2013 pukul 6:09 pm Reply

    Ternyta bkn cma aku yg ngrasa matio atau johan sperti berbeda sikap nya,ternyta dcerita nya jga gtu yesss,,,

    Hemmm bingung intinya g pengen mario sakit.hati karna jo,klo pts bsa bkin mario g kesiksa lagi itu baik,tp klo mrka ttp sama2 dan pcran itu lbh baik lagi,udh kadung kelanjur srek ma johan-mario

  5. zeamays 09/13/2013 pukul 10:13 pm Reply

    Horeeeee update!!!!!

    Hmmm kayanya Johan bakal nerima sama keadaan sekaramg deh. Yaa semoga aja lah. Abis kaaasian Mario.

  6. sefares 09/14/2013 pukul 12:28 am Reply

    Mario harus sama Johan. Pokoknya harus! Ya kalau sama Ari, takutnya konflik akan menipis yang akhirnya hilang. Meskipun gak tau juga sih. Tapi, aku sebih suka konflik antara Mario dan Johan.

  7. arixanggara 09/14/2013 pukul 3:43 am Reply

    nahhh looohhh, hampir lupa ma chap sebelumnya…..!!!

    akhirnya ajeng nongol lagi….!!!

    Satu pesen gue bang, jangan ngilang lagi yaaaa updatenya jangan kelamaan, jadi ilang entar filnya hehehehehehehe

  8. ray_har 09/14/2013 pukul 9:42 am Reply

    akhirnya update jg! gue smpe saban hari tengok ini blog lho. Kok kyknya johan n mario bakalan putus ya.. jgn2 endingnya johan malah sm ajeng hadeuuh😦

  9. ray_har 09/14/2013 pukul 9:47 am Reply

    update!!!!🙂

  10. PUTTRA P 09/14/2013 pukul 10:55 am Reply

    arie please😥 ,,,,gw pingin liat johan merasa kehilangan mario saat mario kembali lagi dengan arie😦

  11. Muluk 09/14/2013 pukul 4:27 pm Reply

    Mario sm Arie aja lah, sama2 belok.. Klo belokin yg lurus, ntar dosanya jd double2 wkwkwk. Lagian makin kesni Johan makin ngeselin, labil tingkat dewa. Mario jg gt sih, egois tingkat super dewa. Ato gak ywda deh Arie sm abangnya Johan aja! Huwayyoooo.. Ahahahaha!

  12. Tando 09/15/2013 pukul 5:19 am Reply

    hohoho, johan lg di masa2 Denial tuh… Udh tau dia suka n cinta n nafsu sama mario… Eh masih mw mungkir lg…

  13. Tando 09/15/2013 pukul 5:35 am Reply

    Oh iye, q mw Kasi saran buat TS… Krn johan lg d masa2 denial n bru tau akan rasanya ml ma mario. Yaudah buat mario goda johan dgn gerakan tubuhnya aja. Mw nari telanjang kek, atau dgn gerakan2 yg mengundang nafsu… Contohnya nie, mario pura2 gk sadar akan adanya johan d rmh. N si mario merangsang anusnya sendiri dgn jari… Tp saat johan melihat mario lg merangsang diri sndiri. Tiba2 nafsu johan jd bangkit n pengen mengulang kejadian yg lalu… Hehe…

  14. kimHyeSup 09/17/2013 pukul 4:58 am Reply

    akhirnya update jg,. Dih, Johan lg ngalamin yg namanya labil hati,. Kalo gini gmn dong nasib Mario? | Btw, Oh jd galau gr” uda ga perjaka ting tong ni, wkwk

  15. yoedi16 09/19/2013 pukul 11:20 pm Reply

    sayang ceritanya..mkin lama makin dikit updatenya itu jg hrus nunggu lama. sama kaya cerita2 yg terbengkalai…tp ya moga aja cpt tamat jd g prlu buka opmin lg.

  16. cears! 09/20/2013 pukul 10:47 pm Reply

    kalau boleh jujur, cerita ini adalah cerita gay paling rasional yang pernah ada, smua cerita yang pernah gue baca bagus2 sih.. tapi gak ada paling nyata kaya gini..
    gue suka banget sama konfil batin Johan, itu keliatan nyata banget!
    kalo ada cowok srt8 tiba2 belok, pasti bakal ada kejadian yang johan alami sekarang..
    jadi cepett dilanjutttt ya bangggggg :*
    hehe

  17. arixanggara 09/23/2013 pukul 12:50 pm Reply

    aduhhh bang kalo lama kayak gini, arix ada usul nihhh. Pas up-date entar di review yaa beberapa chap kebelakang biar yg lupa nggak hilang feelnya pas baca

    #banyakMINTA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: