Bianglala Satu Warna Chapter XVj

Thanks yang udah baca. Terlebih-lebih yang udah baca plus komen lagi!😀

gue baca semua komen kalian. Tapi kayaknya ribet kalo mesti balas satu-satu ya.

Mass Fadel, thanks dah komen di mari. Baru tau situ baca cerita gue juga, hehe. Kirain ndak suka baca.

Kalo yang laen pan udah tahu. Mereka suka komen di trit bsw yang di forum.

Gue tetap tunggu komen kalian guys!

=

***Johan***

Setelah hentakan terakhir, otot-ototku mengendur. Aku membentangkan kedua lenganku begitu saja di sisi tubuhku. Deru nafasku mulai menurun dan aku merasakan keringat lembab di sepanjang punggungku.

Lelah.

Kupejamkan mataku. Angin lembut sesekali membelai kulit telanjangku. Dingin tapi sangat menyenangkan.

Mataku terasa berat. Perlahan kesadaranku mengabur, tapi indera pendengaran dan perabaku masih berfungsi dengan jelas. Aku masih bisa merasakan belaian angin dan suara kumandang adzan. Oh, God, solat Jumat sudah dimulai, gumamku dalam hati. Aku harus mandi. Cukur janggut dan kumis juga. Tapi rasanya malas banget buat buka mata. Terlebih-lebih hembusan angin lembut meninabobokanku. Dan semuanya memudar…

***

***Mario***

Seak!!!

Cairan panas terus membanjir di dalam mulut gue. Gue berusaha sekuat tenaga menahannya tetap di mulut. Tapi karena Ayah terus menghentak dan melesakkan miliknya ke mulut gue, mau nggak mau cairan kental dari juniornya itu tertelan.

Rasanya…

Wueks! Gue nggak suka! Apalagi sebenarnya gue agak jijik sama cairan ini. Bentuknya yang putih kental, agak mirip ingus sih. Kok ada yang pada suka ya nelan muntahan lahar panas ini?

Gue pengen muntah karena banyak alasan. Selain membayangkan bentuknya yang udah gue bilang kayak ingus tadi, juga karena hentakan keras Ayah yang mengenai belakang pangkal tenggorokan gue. Coba aja elu sentuh bagian itu pake telunjuk, pasti ada sensasi ingin muntah kan? Nah, sekarang coba elu bayangin gimana kalo yang nonjok tenggorokan elu gedenya melebihi jempol kaki elu, eh?

Setelah Ayah berhenti menyentak dan menekan kepala gue agar tetap di tempat, perlahan tubuhnya melemas. Saat itulah gue mencabut miliknya dari mulut gue. Dan saat gue membuka mulut, cairan itu ikut keluar menimpa milik Ayah.

Sebenarnya nggak gue sengaja. Gue pengen menahannya tetap di mulut dan pengen gue muntahkan ke luar jendela. Tapi gue udah keburu muntah. Namun tetap juga gue melompat dari ranjang menuju kamar mandi.

Di kamar mandi, gue meludah sampai tenggorokan gue terasa kering. Setelah itu gue kumur-kumur untuk membersihkan mulut gue dan kembali ke kamar.

Pas gue balik ke kamar, gue temui Ayah masih terlentang dengan mata terpejam. Ia bernafas dengan pelan. Cairannya udah berubah bening di sekitar juniornya. Gue pelorotin celana dalam dan celananya yang masih ia kenakan sampai setengah pahanya. Celana itu gue gunakan buat mengelap bekas cairannya. Setelah itu gue ambil selimut. Sambil rebahan di atas tubuhnya, gue bentangkan selimut ke atas tubuh kami sampai ke dada. Gue pengen tidur sambil meluk dia dalam keadaan bugil kayak di film-film. Gue pun mulai memejamkan mata.

Oh, iya, ngomong-ngomong gue dengar khotib udah membacakan khotbah tuh di masjid. Gue sama Ayah absen hari ini, Ya Allah. Ini kesempatan nggak datang dua kali. Ampuni gue Tuhan, desis gue dalam hati lalu ikutan tidur bareng Ayah…

***

***Johan***

JUMATAN!

Aku tersentak bangun. Tapi sedetik kemudian aku tersadar kalau waktu solat Jumat sudah selesai.

Aku menghela nafas dengan susah payah. Ada yang membebani tubuhku.

Aku mendorong beban itu–Mario–hingga jatuh dari tubuhku. Ia hanya bergerak sebentar kemudian lelap kembali.

Aku duduk dan mengacak rambutku… Sekarang kejadian sebelum tidur tadi terurai di benakku saat melihat tubuh bugil Mario. Dan aku juga, bugil.

Aku menguap dan tak sengaja pandanganku tertuju ke jam dinding yang jarum pendeknya sudah melewati angka dua. Huffhh… Aku mengusap wajah dan merasakan rambut kasar di daguku. Belum cukur jenggot, desisku dalam hati.

Aku kembali menoleh ke Mario, menatap tubuhnya sampai ke wajahnya. Lalu pandanganku bergerak ke arah celanaku yang tergeletak di ujung ranjang. Kejadian sebelum tidur tadi kembali menyeruak di benakku.

Mandi Akh, desisku dalam hati. Aku bergerak menuruni ranjang dan mengambil celanaku sambil lalu. Kebetulan di lantai dekat ranjang handukku tergeletak. Segera kuambil, kukibaskan sebentar dan kulilitkan ke pinggang. Setelah itu langsung menuju kamar mandi.

Selesai mandi, badanku terasa sangat segar. Sementara Mario masih saja tidur. Kututupi tubuhnya dengan selimut lalu beranjak ke ruang makan. Tentu saja aku belum makan siang. Biasanya habis salat Jumat baru aku dan Mario santap siang. Tapi karena “yang-tadi-itu”, semuanya berantakan. Jumatan nggak, makan siang lewat, dapat dosa iya.

Kusendokkan nasi dan lauk ke piring dan kutuangkan segelas air putih lalu semuanya kubawa ke ruang tengah. Aku lagi pengen makan sambil menonton TV. Akhirnya acara makan siang menjelang sore itu kuhabiskan dengan bolak-balik dari ruang makan ke ruang tengah lebih kurang tiga kali.

Selesai makan, acara nonton TV tetap berlanjut. Berganti-ganti dari satu channel ke channel lain. Cukup lama sampai akhirnya Mario datang dan dengan santainya duduk di sampingku masih dalam keadaan tanpa sehelai benangpun. Tapi kali ini reaksiku biasa saja, tak seperti sebelumnya. Aku sudah mulai terbiasa setelah hampir 4 jam melihatnya begitu.

“Kok Ayah nggak bangunin Oh sih?”

“Emang nggak bisa bangun sendiri?” balasku.

“Oh masih pengen tidur meluk Ayah. Enak ya tidur bugil berdua…”

Aku tak menggubris omongannya.

“Berasa lagi honeymoon…” ia terkekeh.

Aku melempar tatapan sinis. Ia membalasnya dengan kekehan lagi.

“Rencana Oh tadi, pas kita bangun, lanjut main lagi. Game-nya kan belum selesai…”

Aku tetap diam.

“Ayah belum masukin Oh…”

Aku mengganti channel TV, karena acara yang tadi kutonton sudah habis.

“Entar malam kita sambung…”

Aku langsung menoleh.

“Iya kan?” demikian sambutan Mario. “Entar malam… Waktunya panjang…”

“Oh! Iya! Entar malam gimana kalo kita ke rumah mama kamu? Buat ngerayain kelulusan kamu!” ide itu muncul begitu saja di kepalaku.

“Oke!” sambutnya cepat.

Aku tersenyum. Berarti nanti malam bisa berakhir dengan semestinya.

“Kamu mandi gih.”

Mario menggeliat dan merentangkan tangannya lebar-lebar. “Hayah huaahh haauuaammm…”

“Nguap dulu baru ngomong.”

“Ayah sudah makan?”

“Sudah.”

“Makan dulu ah, baru mandi,” ia bangkit dari duduknya.

“Eh, kasih tahu Mama kamu kalo kita nginap di sana malam ini!” pesanku.

“Kita nginap?” suaranya sedikit kaget.

“Heeh,” aku menikmati kekagetannya itu.

“Pulang aja.”

“Kalo sempat,” balasku. Tentu saja kita nggak akan pulang, desisku dalam hati.

Mario tak berkata-kata lagi. Ia berlalu menuju belakang.

***

13 thoughts on “Bianglala Satu Warna Chapter XVj

  1. lian25 08/28/2013 pukul 9:00 am Reply

    Pertama nya,,,, ahayyyy
    Maaf bro kmrin g smpt ksh saran saat bro santay minta saran kepada pembaca karna ada bbrapa alsan.tapi aku ttp baca kokk ,,,ciusaaannnn

  2. lian25 08/28/2013 pukul 9:02 am Reply

    Tambahin lagi dong bro updatean nyaaaaa,mga johan makin cinta ma marioooo amennnnnn

  3. bebongg 08/28/2013 pukul 9:59 am Reply

    imuuuuttttnya chap ini:/
    ya olo bang, ini johan bener2 gak minat ya sama mario??
    sedih gue😥
    yg dari awal harapan gue kl johan bakal bisa tambah cinta ke si mario, harus terjun bebas lagi ,
    sebenernya gue gak suka sama tipe2 org kaya si johan yg sekarang, I mean, kl dia bener2 gak mau ya udah bilang aja, gue jadi kasian sama si marionya kalo si johan ini gak ikhlas mau gituan sama dia:/
    but, yahh… gue tetep nggu2 cerita lo sih bang😉 apapun itu😉

  4. sasukechan 08/28/2013 pukul 10:28 am Reply

    johan, elu salah strategi. justru d rumah mario dia akan sangat bebas dan tentunya keinginannya untuk lu masukin akan terwujud sempurna.

    kira-kira berapa ronde ya? kalo bisa flip-flop ajah. hmmmmm….. wkwkwkwkkkkkk

  5. zeamays 08/28/2013 pukul 11:25 am Reply

    Hmm agak heran sama Johan. Kadang gue ngerasa doi ini kaya bukan manusia deh. Terlaku kaku dan moralis sekali. Hahaha. Mau ngerencanain apa lagi ya dia ke Mario? Kok feeling gue mengatakan ending-nya Mario ngga akan sama Johan ya? Kalo masalah penulisan, kok rasanya chapter ini kurang eventful ya. Kaya cuma cerita mereka bangun tidur terus udah. Tapi tetap bagus dan enak dibaca. Sebenernya gue paling kagum dari tulisan lo adalah karakternya kuat banget. Setiap bagian, misalnya ngga dikasih tau lagi POV siapa pun gue sebagai pembaca bisa sadar itu lagi POV siapa. Keren!

  6. ray_har 08/28/2013 pukul 11:28 am Reply

    tidur bugil berdua #hmmmmmm -_-

  7. Chochowlatte 08/28/2013 pukul 12:57 pm Reply

    kok imut bgt QAQ
    padahal uda siapin tissue, sapa tau ada ronde ke 2 “\(>/////,,//<)b

  8. arixanggara 08/28/2013 pukul 1:07 pm Reply

    agak nyesek sihhh bacanya, gak sampe 5menit selesai. padahal sehari mondar-mandir keluar masuk ni blog nyampek belasan kali, tapi yahhh gue ikhlas yang penting di update terus kalo bisa sehari sekali *ngarep

  9. PUTTRA P 08/28/2013 pukul 1:58 pm Reply

    dikit banget knp gak disambungin ama yg i lanjutan tanggungkan jadinya,,,,
    ayodong buat johan masukin mario wkwkkwkw :P:P
    BTW gmna kabar arie tuh kan mau konvoi bareng tadinya -_-

  10. Muluk 08/28/2013 pukul 5:05 pm Reply

    Arie masih di sekolah gak jadi ikut konvoi krn setia nungguin mario yg janji mau balik. Sementara mario asik2an sm johan. Mario tegaaakkkk!! (˘̩.˘̩ƪ)

    *team arie*

  11. rafky 08/28/2013 pukul 10:58 pm Reply

    good job bang,,

  12. fad31 08/29/2013 pukul 9:40 am Reply

    aih mas ay…crita sbgus ini mana mungkin dlewatkan, dridlu jg bca kok cm g prnah komen aja d bf…nemu yg dblog ini pindah deh kmari, klo di bf males skip komen2 yg bisa ber page2 saking bnyak penggemarnya..ahihihi *senyum dtu2pi kipas ala diva internasional* lol

  13. sisipelangi 08/30/2013 pukul 5:47 pm Reply

    @all thanx sudah komen. Hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: