Bianglala Satu Warna Chapter XVi-lanjutan

Thanks yang udah kasih pendapat. Kalian mewakili pembaca yang lain. Dari pendapat kalian gue jadi sedikit pede buat menggunakan sedikit kata-kata cabul yang akan bertebaran di postingan kali ini.

Gue sedikit surprise sama yang komen kali ini nick-nya beda dari yang biasanya ninggalin jejak di blog ini. Beberapa udah gue kenal nick-nya di forum. Beberapa lagi belum tahu dan masih menerka-nerka.

Gue senang dan semakin semangat buat nulis. Apalagi pas gue liat yg berkunjung selalu di atas 200/hari. Gue jadi berpikir siapa aja yang datang? Padahal ceritanya cuma itu-itu doang. Hehe.

Gue selalu tunggu komen kalian baik kritik dan saran. Kadang-kadang ada yang nggak sinkron sama cerita atau ada typo-typo tolong ditinggalkan lewat komentar.

Harapan gue semoga postingan kali ini nggak mengecewakan. Semoga.
===

***Johan***

“OKE!”

Ups! Satu kata barusan meluncur secara spontan.

Mario menghentikan langkahnya. Oh, God, ternyata dia mendengar ucapanku barusan. Huffhh…

Eh, Mario melangkah lagi. Syukurlah. Tapi berandal kecilku kayaknya ngamuk berat. Sesekali mungkin aku bisa menyenangkan dia.
“Ayah sanggupi,” kataku cepat sebelum Mario benar-benar pergi.

Langkahnya kembali berhenti dan diikuti pertanyaan, “Ayah serius?”

“Serius.” Aku mematikan TV.

Oke, ini keputusan besar yang ku ambil. Keputusan terburuk dan sangat tak masuk akal. Keputusan yang segera kusesali sedetik kemudian. Tapi aku nggak mungkin meralatnya kembali. Kuharap ada jalan keluarnya.

Mario berjalan mendekat dengan wajah kusut.
Making Love? Dengan anak ini? Oh, God, ML bukan sesuatu yang main-main kan? Kok bisa-bisanya nih anak minta yang se-ekstrem ini. Yup! Ini permintaan gila dari ABG  berusia 17 tahun. Aku saat seusia dia mikirin apa yah??? Yang jelas bukan seks.

“Ayah serius?” Mario bertanya lagi.

Nggak. Sama sekali nggak.

“Yaaahhh…” jawabanku berupa desahan.

“Kenapa?”

“Karena kamu maksa.”

“Biasanya Ayah marah kalo gue minta.”

“Kamu juga selalu marah kalo Ayah tolak,” balasku.

“Oke sekarang Ayah udah setuju. Oh gak perduli Ayah terpaksa atau nggak, Ayah gak boleh ralat ucapan Ayah!”

“Seandainya Ayah ralat?” pancingku.

“Gak bisa! Oh bakal paksa Ayah!!!”

“Widih?! Emang bisa???”

“Bisa dong…!” mata Mario berkilat licik. Aku seperti melihat tokoh antagonis di sinetron. Tapi ini nyata. Dan ternyata tokoh seperti itu memang ada in real life.

Oke, kayaknya nggak ada jalan mundur. Aku harus memikirkan Plan B. Bukan karena aku nggak bisa melawan seandainya ia memaksaku, cuma kali ini aku ingin cari jalan keluar yang nggak mengecewakan kedua belah pihak.

Sebelum Plan B terpikirkan, seperti biasa, Mario sudah bertengger di atas tubuhku. Memandangku dengan tatapan yang menyala-nyala. Nampak bersemangat sekali.

“Oh cium, ya?” ia minta izin.

Aku tak menjawab. Melainkan melingkarkan lenganku ke seputaran pinggang telanjangnya. Kini seluruh berat badannya bertumpu di tubuhku.

Mario menempelkan hidungnya ke hidungku. Setelah itu memajukan bibirnya untuk mengecup bibirku. Seperti biasa, tekstur bibirnya sangat lembut.

Ia menekan bibirnya cukup lama pada bibirku sebelum akhirnya bergerak meraih tangkup bibir atasku.

Oke, setelah bibir apa lagi? Tanyaku dalam hati. Aku harus tahu pergerakannya, berapa lama lagi sampai ia memintaku menyetubuhinya, sehingga aku bisa secepat mungkin mencari jalan keluar dari kungkungan brandal kecil ini.

Dari bibir ia bergerak ke daguku. Oh, iya, tiba-tiba aku ingat kalau aku belum mencukur kumis dan janggutku yang mulai tumbuh. Sebelum berangkat sholat Jumat nanti aku harus mencukurnya, aku mencatat dalam hati.

Mario bermain-main dengan janggutku. Menggesek-gesekkan pipinya di sana dan nampak kegelian.

“Ayah janggutnya nggak usah dicukur…”

“Kenapa?”

“Enak, gelii…” Mario kembali menempelkan pipinya ke ujung daguku.

Aku tersenyum kecil.

Setelah itu ia bergerak ke bawah, menciumi leherku. Berhenti sejenak untuk membuka bajuku. Setelah itu kembali mendaratkan bibirnya di sekitar leher, bahu dan dadaku.

Lho, kok dia nggak bergerak ke telinga? Seharusnya ke telinga dulu seperti dua hari yang lalu. Baru setelah itu ke dada. Kalo begini caranya, adegan pemanasan makin singkat. Tinggal dada, perut…selangkangan!!! Cuma dua step lagi. Gawat! Sampai sekarang otakku masih buntu!

Aku melirik jam dinding. Ya Allah, kok lama amat sih jam dua belasnya? Kalo udah jam segitu, aku kan bisa minta berhenti buat mandi. Kan mau Jumatan.

“Liatin apa, Yah?” tanya Mario disela-sela ciumannya di dadaku.

“Nggak ada, Sayang…” aku membelai rambutnya.

Ini anak gak boleh lihat jam. Kalo dia tahu sekarang udah mendekati pukul setengah dua belas, bisa-bisa gerakannya makin cepat. Bisa-bisa langsung minta dieksekusi.

Mario mulai menghisap nipple-ku, kayak bayi lagi netek sama ibunya. Sementara tangannya mulai bergerak. Meraba-raba pinggangku. Lalu bergerak naik ke rusuk, ketiak, turun lagi ke rusuk dan terakhir bergeser ke nipple-ku yang lain. Rasanya sedikit geli. Aku harus mengeraskan otot-ototku untuk melawan rasa gelinya.

Mario tiba-tiba melirikku lewat sudut matanya, tersenyum nakal tanpa melepaskan bibirnya dari nipple-ku. Aku suka ekspresinya itu. Ia sangat menggemaskan.

Puas membasahi nipple kananku, ia lantas beralih ke nipple kiriku. Ia memperlakukannya sama seperti pada nipple kananku tadi. Sementara lengan kanannya bergerak ke bawah, menyusuri perutku. Jantungku berdebar lebih cepat saat merasakan jemarinya makin bergerak ke bawah.

Sebentar lagi ia pasti akan menjamah area paling pribadiku. Memikirkan kemungkinan itu, ada sensasi tak menyenangkan menyapa perutku. Sensasi yang sama saat kita lagi nerveous atau ketakutan. Dan saat ini aku tak bisa memastikan yang aku rasakan sekarang nerveous atau takut.

Perutku semakin panas saat jemari Mario meluncur melewati pusarku. Ini sama sekali tidak berlebihan. Seumur hidupku, yang namanya area paling pribadi, ya benar-benar pribadi. Tak ada seorangpun yang pernah melihat apalagi menyentuhnya, terhitung setelah aku selesai berkhitan. Benar-benar ekslusive dan menimbulkan rasa malu jika orang melihatnya. Jangankan melihat, saat orang menyebut nama atau membicarakannya saja aku merasa tak nyaman. Berbeda dengan beberapa temanku, yang tak pernah sungkan menjadikan alat kelamin sebagai sebuah lelucon. Bahkan saat duduk di bangku kuliahpun masih banyakkan yang tiba-tiba meremas kemaluan sahabatnya sendiri saat bercanda. Dan mereka santai saja. Baik yang menyentuh ataupun yang disentuh. Itu bukan masalah, tapi akan menjadi sedikit masalah jika mereka melakukan itu ke aku. Entah, mungkin aku yang terlalu kaku. Hanya saja sesuai namanya, KEMALUAN, yang berarti sesuatu yang membuat malu. Jadi bukan hal yang nyaman untuk dijadikan pusat perhatian.
Kembali lagi ke gerakan jemari Mario…, berandal kecil-ku ini membawa jemarinya semakin ke bawah. Dan sekarang setengah jemarinya sudah melewati pinggang celanaku.

Aku menghela nafas lalu menggeliat tak nyaman.

Bagaimana cara menghentikannya???

Tiba-tiba Mario berhenti menghisap nipple-ku. Ia sepertinya hendak beringsut ke bawah, dan kurasa akan fokus pada selangkanganku.

Gak boleh!

Aku langsung menahan tubuhnya di tempat dengan cara memeluk punggungnya erat. Mario memalingkan wajahnya ke arahku dan tersenyum. Setelah itu ia mengecup kedua nipple-ku sedetik dan kembali bergeser ke bawah.

Akh, sepertinya fokus perhatiannya sudah di area bawah. Bahkan sekarang lengannya yang tadi sudah berada di bawah pinggang celanaku mulai bergerak lagi. Dan aku bisa merasakan ujung jarinya menyentuh rambut kemaluanku.

Aku langsung bangkit dan sedikit bergeser menjauh, sehingga Mario terjatuh ke sampingku. Aku menghela nafas dan berusaha bersikap sewajarnya. Mario tak mengindahkanku. Mungkin ia merasa semuanya baik-baik saja dan sekarang ia merunduk bersiap ingin membuka celanaku.

Aku langsung menggengam tangannya. Tahan dulu aksinya, urusan apa alasannya bisa kupikirkan belakangan.

“Kenapa, Yah?” tanya Mario lalu ia membungkuk dan mencium tepat di bawah pusarku.

Sial. Nggak pake tangan, pake mulut dianya.

“Eng…”

Mario menjulurkan lidahnya, menjilat celanaku, tepat di atas tentara kecilku.

Gila! Ada-ada saja kelakukannya.

Aku kembali mengumpat dalam hati. Menyesali keputusanku memenuhi permintaan gilanya tadi.

Tangan Mario kembali bergerak dan sekarang mulai menarik celanaku ke bawah. Tapi karena aku duduk, jadi ia sulit memelorotkannya.

“Yah, angkat pinggul Ayah…” pintanya.

Bukannya menuruti omongannya, aku justru mendudukkan pantatku lebih kuat ke sofa.

“Yah…” ia memukul pahaku.

“Eng, entar dulu…” ujarku spontan.

“Kenapa?”

“Ayahhh, kita, eng, inii…” God, please, beri petunjuk, pintaku dalam hati.

Mario tiba-tiba menggelitiki rusuk kananku, spontan aku bergerak menghindar ke kiri, membuat pinggulku terangkat. Mario buru-buru menarik celanaku ke bawah.

Melihat caranya tadi berhasil, ia menggelitik rusukku lagi, lebih kuat. Aku buru-buru menangkap tangannya dan mendorongnya menjauh.

Mario tersenyum, balik mendorongku sampai aku tersandar ke lengan kursi dan mengelitiki badanku dengan kesepuluh jarinya. Ggrrrr…! Doronganku tadi malah menerbitkan masalah baru. Ia bukannya menangkap bentuk penolakanku, justru menganggap itu tadi sebagai salah satu ‘permainan’ untuk membangkitkan gairah.

“Ooh, Oh… Berhentiii, berhentiii…”

Mario tak memperdulikan omonganku.

“Oh! Oh! Udaah…hhh, heiii…”

Ia menghentikan gelitikannya. Tersenyum kemudian mengecup dadaku.

Aku menghela nafas pendek-pendek.

“Ternyata Ayah gak tahan juga digelitikin…” desisnya.

“Iya, iyalah…”

Ia tersenyum tipis dan kembali meninggalkan ciuman di sekitar dadaku.

Keadaan lebih tenang sekarang. Jujur aku menyukai kecupannya barusan. Lembut dan tak terburu-buru. Aku akan menerima dengan senang hati ciumannya lebih banyak lagi di dadaku. Tapi hanya ciuman, tak lebih. Tidak sampai berlanjut ke adegan intim.

“Ayah suka?” tanya Mario.

Aku mengangguk.

“Gimana dengan yang ini?” Mario menyapukan lidahnya menyusuri garis dadaku.

No. Ini terlalu berlebihan. Cuma ciuman yang aku suka.

“You like it, Dad?”

Gimana nih? Jawab apa? Kalo dijawab suka pasti ia akan meneruskan aksinya itu. Kalo dijawab nggak suka, pasti ia akan melakukan aksi pengganti yang mungkin ‘lebih’ lagi untuk menyenangkanku.

“Ennggg…” God, aku capek sama permainan ini.

Mario menatapku menunggu jawaban sambil terus menyapukan lidahnya (dan sekarang) di sekitar nipple-ku.

Aku memejamkan mata. Apakah bercinta memang semenyebalkan ini? Hatiku bertanya-tanya.

Aku membuka mata dengan kesal dan masih mendapati Mario yang tetap asyik dengan nipple-ku yang sudah mati rasa oleh hisapan, gigitan dan pelintiran lidahnya.

“Udah!” tiba-tiba kekesalanku tak terkontrol dan terwujud juga lewat bentakan.

Mario langsung mengangkat wajahnya. Terkejut dan menatapku tanpa kata.

Aku langsung menyesal. Bentakan tadi itu benar-benar tak kusengaja.

“Enggg…” aku langsung membawanya dalam pelukanku.

Mario manut saja. Tapi ia tetap diam. Pun ketika aku mengusap-usap pundaknya lembut.

“Ayah… Engg…” aku kebingungan untuk mengembalikan suasana semula.

Mario sampai saat ini tetap diam. Menempel di tubuhku, hembusan nafasnya terasa sangat pelan.

Aku jadi kasihan. Aku lebih suka ia menunjukkan kemarahan seperti yang sudah-sudah dari pada ia diam begini. Dengan sikapnya yang seperti sekarang ini, aku jadi merasa bersalah.

Aku menyiumi pundaknya, ia tetap diam. Kucium pipinya, ia masih diam. Kucium keningnya, ia memalingkan wajahnya ke dadaku. Aku beralih mencium rambutnya, ia bergeming.

Hufhhh…

Kuusap punggungnya… Masih diam. Kuusap lagi… Tetap diam. Kugerakkan jemariku mengikuti tulang belakangnya, ia menggeliat kecil. Hmmm…

Kulakukan lagi gerakan serupa, sekarang lebih lembut dan sangat pelan. Mario merespon dengan sedikit melengkungkan tubuhnya.

Dia menyukainya?

Lagi, kubawa jari telunjuk dan tengahku menyusuri tulang punggung sampai ke tulang ekornya, sangat pelan, bahkan hampir melayang di atas kulitnya itu. Mario makin responsif.

Lagi dan lagi kulakukan gerakan serupa. Membawa jemariku mendaki punggung hingga ke tengkuknya. Kali ini Mario mengangkat kepalanya dan menatapku dengan mata setengah terpejam. Kusambut tatapannya dengan sebuah kecupan di keningnya.

Kurasa gairahnya sudah kembali. Buktinya tangannya sudah bergerak lagi di atas pahaku.
Tiba-tiba terlintas satu ide di benakku. Kurasa aku bisa mengulur laju permainan ini hingga pukul dua belas nanti.

Yeah! Aku bersorak dalam hati.

“Sini,” kataku.

“Apa?”

Tak kuindahkan pertanyaan Mario. Kurangkul tubuhnya, kuangkat dan kubaringkan di tempatku duduk tadi, lalu kutindih dia. Sementara itu, Mario terus menatap wajahku, memperhatikan setiap gerakanku sekecil apapun.

“It’s my time, my boy…” kataku di atas wajahnya.

“Oh ya…? Do it!” ia mendesis.

Aku tersenyum dengan percaya diri. Tapi sedetik kemudian kebingungan, aku harus melakukan apa???

Aku kembali menatap wajah Mario yang seperti sudah sangat siap menerima apapun seranganku.

“Enng, Oh pengen apa?” tanyaku dengan bodohnya.

“Pengen Ayah.”

“Eng, maksudnya, apa…” aku mendaratkan ciuman di pipinya.

“Fuck me, Daddy…” bisik Mario mantap di telingaku.

Ada hentakan di dasar perutku saat ia mengatakan itu.

“Kacuk* Oh, Yah…”

Aku tak menjawab.

“Ayo, Oh udah nggak sabar pengen dikacuk Ayah…. Oh pengen kontol Ayah…” ceracau Mario.

“…” aku mengecup dadanya.

“Sekarang!” Mario mengejangkan tubuhnya.

“…”

“Yaaahhh, ayooo…” Mario mendaratkan kedua lengannya di pantatku dan meremasnya kuat.

Aku menekan gigiku kuat-kuat. Aku tak menyukai tindakannya itu.

“Oohhh…ohhh…hhhh…hhhh…” Mario mendesah dan menggerakkan kepalanya kesana kemari bagai cacing kepanasan.

Sial. Ideku mengambil alih kendali justru membuat Mario semakin menggila!

“Aahhh, ayo Yaaahhh…” ia merengek.

“Iyaa, yaa…” lagi-lagi aku hanya mampu menciumi wajahnya.

“Buruaaannn, dari tadi Ayah diam aja. Fuck me, Mister…!” Mario membebani tengkukku dengan kalungan lengannya.

Kuhela nafas berat. Kepalaku rasanya mau meledak setiap kali ia mengatakan kata ‘fuck me’.

“Ayooo, sodok Oh, Yah. Sodok pake kontol Ayah…”

Demi Tuhan! Anak ini vulgar banget!

“Ayahhh…” desis Mario lagi. “Fuck…” ia mencoba melepas celananya.

“Nih, kontol Oh udah keras banget…”

Ya. Aku bisa merasakannya. Miliknya itu menekan selangkanganku.

“Kontol Ayah juga udah keraskan? Tinggal disodokin lagi ke Oh…”

Ya, tak kusangkal milikku juga bangun. Gesekan demi gesekan di sekitar area pribadiku setiap Mario bergerak rupanya membangunkan tentara kecilku itu.

“Sini Oh kulum Yah…”

“Apa?”

“Kontol Ayah lah. Biar makin keras,” Mario menyusupkan tangannya ke dalam bagian belakang celanaku, menyentuh tulang ekorku.

Aku mematung di atas tubuhnya. Waspada dengan gerakan tangannya.

Tak disangka, Mario menghentikan gerakannya. Hampir setengah menit, jemarinya masih diam juga di tempat semula. Aku langsung menatap wajahnya. Ia sedang menatapku dengan kening sedikit berkerut.
“Kok Ayah diam?”

“Kamu juga…”

“Oh diam karena Ayah diam. Ayah dari tadi diam aja…”

“Nggak… Ayah…”

“Ayah cuma nindih Oh doang sambil nyiumin pipi.”

“…”

“Kapan masukin kontolnya?”

Aku berjengit mendengar omongannya barusan.

“Atau Ayah pengen dikacuk sama Oh?”

Mataku langsung melebar karena ucapannya itu.

“Oh bisa kok!” ia berucap santai.

“Gimana? Ayah mo jadi bot atau top?” tanya Mario lagi melihat aku tak menanggapi ucapannya tadi.

“Bot?”

“Bottom. Sebutan buat yang difuck. Kalo top sebutan buat yang ngefuck.”

Bot…, Top…. Ternyata ada istilahnya juga.

“Kalo Oh sih yang mana aja. Tergantung Ayah. Yang penting ML!”

“…”

“Hayoo, gimana? Ngacuk nggak, tapi nindih. Berat tauk…” gerutunya.

“Belum diapa-apain aja udah complain…” aku mencoba meledeknya. Harapanku sih dia ngambek, terus mau berhenti.

“Iya, iyalah. Ayah tuh berat. Udah berat nggak gerak-gerak lagi… Kalo gerakkan beratnya nggak bakal kerasa…”

“Ya udah…” aku bangkit dari tubuhnya.

“Terus???” ia menautkan alisnya.

Aku balas menautkan alisku.

“Akh! Gimana sih???!”

Aku memejamkan mata dan menghela nafas pelan.

“Ayo!”

Aku membuka mata sedikit dan melihat ke Mario.

What the—tiba-tiba dia udah bugil, tidur ngangkang di atas sofa.

“Mario!” Aku kaget dengan apa yang kulihat.

“He?” gumamnya santai.

“Kamu apa-apaan?!”

“Apa?” ia balik nanya.

“KAMU!”

“Ya, kenapa??? Ayah sini, biar Oh lepas celananya…” ia mengedipkan matanya.

“Siapa nyuruh kamu naked?”

“Lha, kalo nggak naked, gimana nyodoknya???”

OH MY GOD, aku langsung memegang keningku.

“Kalo Ayah nggak mo lepas celana sih gak apa-apa. Cukup keluarin kontolnya…” ia mengguruiku.

“Kita…, huhhhfff…!” aku jadi panik sendiri. “Kita nggak, eng, jangan dulu… Bertahap,” aku kacau.

“???”

“Kita, kamu nggak usah–pakai celana kamu lagi. Ya. Pakai.”

“Dipakai? Terus?”

“Nggak sampai sejauh itu…” aku memiringkan kepalaku.

“Nggak sampai apanya?”

“I won’t do that. No! Nggak sampai bercampur.”

“Bercampur?”

“Senggama.”

“Ngentot maksudnya?”

“Kamu nggak tahu arti kata itu apa???!” aku kesal ia nggak pernah menyaring omongannya.

“Iya. Ngentotkan artinya?” ia mengucapkannya lagi tanpa rasa bersalah.

“Please! Berhenti ngomong kotor!”

“Oke, iya, iya. Itu aja dipermasalahin…” gerutunya.

“Pemilihan kata-kata itu menunjukkan dari kelas mana seseorang itu berasal…”

Mario memutar bola matanya. “Jadi kita bakal nyari kata yang dulu nih? Nggak bisa kita pikirkan sambil lalu aja gitu? Atau bisa nggak kita lupakan sebentar soal etika berbahasa…” nada suaranya terdengar kesal.

“Or we can forget about what we are doing now…” balasku.

“Selalu kayak gini…”

Aku melirik wajah Mario yang nampak sangat bete.

“Kali ini harus Yah! Ayah udah janji tadi…” ia kembali mengungkit keputusan bodohku itu.

“Ya, ya! Ayah ingat, ah!”

“Cuma diingat aja, gak dilakuin…”

“Yang tadi itu…”

“Yang mana? Ayah diam aja tadi.”

“Diam apanya…” bantahku.

“Yang namanya ML itu aktif. Lihat tuh adegan hot di film-film. Kissing, oral, macem-macem.”

Ini anak dimasukin ke jurusan seksologi aja nanti kali ya. Kalo soal seks jago banget omongannya. Cocok jadi konsultan seks.

“Dari tadi kita nggak ngapa-ngapain. Kissing kecil-kecilan doang…”

Persetan dah! Ngomel aja sana. Mendingan aku ke kamar, mandi dan berangkat ke Masjid.

“Yah! MO KEMANA?!” teriak Mario saat aku pergi meninggalkannya.

Aku tak menggubris pertanyaannya. Silahkan ngomel sana. Stop ngeladenin dia. Udah tahu aku nggak mau, masih aja maksa. Baru aja dua hari yang lalu aku menolak keinginannya dengan sedikit kasar, masih aja nggak jera. Ya sudahlah!

“AYAH!!!”

Aku menyambar handuk.

“Yah!” Mario berdiri di ambang pintu.

Aku tak memperdulikannya. Melilitkan handuk ke pinggang dan bersiap menanggalkan celana.

“Ayah!” Mario menarik lenganku.

Huffhhh… “Mariooo…”

Mario menarikku ke arah ranjang dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Aku menahan tubuhku agar tidak jatuh menimpanya dengan cara menumpukan lututku di sisi springbed.

“Ayaaahhh…” Mario menarik-narik lenganku ke arahnya.

“Ayah mo mandi.”

“Ntar mandinya. Make love dulu!”

“Udahlah.”

“Nggak! Make love dulu. Habis itu baru mandi.”

“Bentar lagi solat jumat,” aku mengangkat telunjuk yang ditujukan untuk lantunan ayat suci yang sejak dari tadi berkumandang dari masjid.

Mario melirik ke dinding, maksudku jam dinding.

“Sepuluh menit lagi.”

“Sebentar lagi.”

“Makanya buruan, Yah.”

“Tapi—”

“Lama!” Mario tiba-tiba bangkit, menarik handukku dan memposisikan kepalanya di depan selangkanganku.

Huhhfff, untung celanaku belum dilepas.

Tapi tentu saja aksi Mario tak hanya sampai di situ. Sebentar saja tangannya sudah berada di pangkal pahaku, menarik turun restleting dan memasukkan lengan kanannya ke dalam celanaku!

Oops! Aku dengan gesit menangkap tangannya.

Ia langsung mendongak sehingga tatapan kami bertemu. Kami berkomunikasi tanpa suara.

“Apalagi, Yah?” suara Mario pelan dan terdengar jengkel.

“Um, kita… Well, jangan dulu. Kamu… Maksudnya, jangan langsung kesitu.”

Rahang Mario mengeras.

“Maksudnya, Ayah pengen pemanasan dulu. Ya, gitu!” kataku cepat.

“Oke, silahkan!” Mario duduk bersila di depanku.

Aku mendesah. Desahan bosan.

“Ayo? Kok diam lagi?”

“Gimana?”

“Terserah Ayah. Ayah maunya apa?”

Udahan, jawabku dalam hati.

Aku mengelus rambutnya, membungkuk sedikit dan mencium keningnya. Well, satu-satunya yang suka kulakukan ke dia, iya, cuma itu!

“Jangan bilang cuma ciuman kayak tadi doang,” Mario mulai mengoceh.

“Iya!” aku mendorongnya agak keras ke ranjang lantas menindihnya.

Mario terlentang dengan sikap pasrah di bawah tatapanku.

“Please, Daddy. It’s your time. Lakukan sesuka Ayah. Buat Oh menggila,” ia menggigit bibir diakhir ucapannya.

What must I do?

“Huaaammm…! Ngatuuuukkk…” Mario pura-pura nguap.

Oke, follow your inner voice, saran hati kecilku.

Kuhela nafas keras, dan……… Mulai kuraup bibirnya.

Ikuti aja seperti yang dilakukan Mario tadi, kata hati kecilku lagi.

Kissing. Itu bukan masalah. Aku sering mencium dia. Selanjutnya? Seperti yang dilakukan Mario, kualihkan bibirku ke dagunya, turun menyusuri lehernya, turun lagi ke dadanya, bergerak ke bahunya, naik ke pundaknya, melompat ke rahangnya, sudut bibirnya, dagunya, turun lagi ke lehernya, dadanya, bahunya, pundaknya, naik ke rahangnya—

“Nipple, Yah…”

“Hah?” aku urung mengecup bibirnya.

“Nipple…” ia memelintir nipple kirinya.

Aku membawa wajahku dengan ragu ke atas nipple-nya.

“Hisap, Yah…”

Aku mendaratkan bibir di titik merah muda agak kecokelatan itu dengan enggan.

Mario langsung mendesah. “Sedot…”

Aku membulatkan bibirku sambil terus protes dalam hati kenapa aku harus menuruti semua permintaan dia.

“Aaahhh…”

Sebegitu nikmatkah baginya sampai ia harus mendesah?

“Lebih kuat, Yah. Lakukan kayak Oh tadi…”

Kayak dia tadi? Gimana ya? Aku nggak pernah memperhatikannya…

Kuhisap sedikit lebih kuat. Sangat tak efisien menghabiskan waktu dengan menghisap bagian tubuh sebesar kutil ini.

“Aaahhhh…” Mario kembali mendesah sementara lengan kanannya memelintir nipple satunya lagi.

Oke, aku sedikit berbaik hati. Kulepas tangannya itu dan kugantikan dengan lenganku sendiri yang sedari tadi diam tak tahu mesti ngapain. Kutekan-tekan titik kecil itu.

Desahan Mario makin keras. C’mon, dia sangat berlebihan.

“Terus, Yah…”

Aku menghisap lagi.

“Gigit Yah…”

Kuikuti keinginannya.

“Ah! Pelan-pelan, Yah. Jangan gigit beneran…”

Kukurangi tekanan gigiku pada nipple-nya.

Mario kembali mendesah sambil menggeliat.

“Sekarang Yah, main…” ia meremas pantatku.

Aku mengejang.

“Lepasin celananya, Yah,” Mario menjulurkan tangannya ke pinggangku.

“Biar Ayah aja ntar,” tahanku.

“Sekarang aja. Oh pengen kocok kontol Ayah.”

Aku menggertakkan gigi. “Please, jangan ngomong kotor!”

“Namanya emang itukan? Nyebutnya apaan coba?”

“Nggak usah disebut.”

“Ayolah, Yah. Ayah tuh kaku banget sih? Kalo lagi kayak gini itu wajar dong ngomong jorok. Biar makin hot!”

Aku ngerti. Tapi aku nggak nyaman. Sejak kecil aku selalu dijauhkan dengan kata-kata kotor. Sehingga sampai dewasa, mengucapkan kata-kata kotor itu terasa berat bagi lidahku.

“Ya udah deh. Lepas celana Ayah. Oh pengen kocok junior Ayah. Junior, See?”

Itu lebih baik.

“Nggak usah.”

“Nggak mau dikocok? Tapi Oh pengen pegang, Yah,” ia memaksakan tangannya melewati himpitan tubuhku dan tubuhnya.

Aku langsung menjepit lengannya dengan perutku.

“Ughhh…!” ia menarik keluar lengannya sambil menatapku tajam.

Aku melirik jam. Lima menit lagi.

Tiba-tiba Mario menggelitiki rusukku. Mau nggak mau aku bergerak. Dan saat itulah ia menarik turun restleting celanaku dan memasukkan satu tangan lalu menggenggam tentara kecilku.

“Yeah!” desisnya sambil meremas kuat.

“Mario!”

“Dia pengap di dalem, Yah. Keluarin aja…” Mario melepaskan milikku dari celana dalam. Sekarang ia memegangnya tanpa penghalang.

“Lepas, Mario!”

Mario tak perduli. Tetap menangkup seluruh milikku dengan telapak tangannya yang hangat. Aku langsung menarik lengannya menjauh.

“Ayah! Kenapa sih?!” ia mendaratkan tangannya ke sana lagi. “Sekarang milik Oh!”

“Jangan sampai Ayah marah!” ancamku.

“Marah aja…” ucapnya santai sambil menggenggam badan tentara kecilku, menegakkannya dan mulai menggerakkan tangannya naik turun.

“Mariooo…!”

“Diam, Ayah. Nikmati aja kocokan Oh…” ia menggerakkan tangannya lebih cepat.

Aku menggeliat.

“Ud—”

“Enakkan?” Mario memotong ucapanku.

“Udah!” aku menghalau tangannya dan langsung bangkit.

Mario juga bangun dan menangkap pinggangku dengan kedua lengannya.

“Ingat sama janji!” ia menggenggam juniorku lagi dari belakang.

Aku menghela nafas. Sebentar lagi amarahku akan meledak.

Tiba-tiba Mario sudah ada di depanku. Berlutut dan sebelum aku bertindak apa-apa, ia sudah membawa milikku ke dalam mulutnya.

Kepalaku berasap. Aku langsung mencengkram kedua pundaknya dengan kuat. Mario melepaskan milikku perlahan dan mendongak.

Tadinya aku ingin mendorongnya ke lantai. Tapi setelah menatap wajahnya, jadi nggak tega. Ada sesuatu yang menahanku untuk tak melukainya lagi kali ini. Aku berbalik membelai rambutnya.

Senyum Mario mengembang. Ia kembali menjamah milikku dengan mulutnya. Sementara itu, pikiranku kacau. Antara diam atau menolak.

Mario memanfaatkan kebimbanganku dengan mendorong tubuhku lembut hingga rebah ke ranjang. Lalu ia kembali memenjarakan milikku ke dalam mulutnya. Aku bisa merasakan hisapan lembutnya. Dengan perlahan seakan takut gerakan mulutnya akan membangkitkan amarahku lagi.

Aku menghela nafas. Masih kacau. Berbeda dengan Mario yang nampak fokus dengan milikku.

Aku memejamkan mata. Mengutuk dalam hati tentang apa yang sedang terjadi.

Lama-lama pikiranku tersita dengan gerakan mulut Mario yang makin cepat. Aku tersadar bahwa milikku pun semakin keras seiring perubahan irama kecepatannya. Sesekali Mario melepas milikku, tapi tak sedetikpun mendiamkannya. Jika tidak dengan mulutnya, Mario melakukan dengan tangannya.

Otot-ototku perlahan mengejang. Darahku mulai membuncah. Suhu tubuhku naik. Pikiranku mengabur. Aku tak mampu berpikir jernih sekarang. Ada sensasi yang melingkupi tubuhku sekarang, yang mendorong mulutku untuk mendesah.

Ini gila. Dalam waktu yang singkat, aku tak bisa berucap. Lidahku kelu. Aku ingin teriak menyuruh Mario berhenti, tapi suaraku berubah desahan setiap mulutku terbuka. Dan hisapan Mario pun makin menggila.

Berkali-kali aku ingin mendorong tubuhnya menjauh, tapi tanganku gemetaran. Gerakanku tak terkontrol. Aku justru menekan bahu Mario kuat dan itu disalahartikan olehnya. Ia justru mempercepat gerakan mulutnya. Mungkin ia berpikir bahwa aku memintanya tetap di sana dan jangan berhenti.

Dan cengkermanku semakin kuat agar tak goyah. Rasanya tubuhku ingin meledak. Entah perasaan apa ini. Tubuhku tak pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya. Jadi aku semakin kuat bertahan, takut gelombang aneh ini benar-benar akan meledakkan tubuhku menjadi kepingan-kepingan.

Aku mengeraskan otot-ototku, sekeras yang aku bisa. Sebab ada sesuatu yang rasanya mengalir di badan tentara kecilku. Dan aku tahu itu apa. Aku takkan membiarkan cairan itu keluar. Jadi aku mengejang lagi, menahan lajunya. Tapi aku tak bisa bertahan lebih lama, apalagi dengan Mario yang terus menstimulus milikku. Ia terus menggila, memasukkan seluruh tentara kecilku ke dalam mulutnya, menahannya di sana beberapa detik lalu melepasnya keluar.

Terdengar geraman dari belakang tenggorokanku. Geraman rendah seperti suara raja hutan.

Mario mendorong milikku masuk lagi, dan kali ini kepala tentara kecilku yang jadi sangat sensitif menyentuh pangkal tenggorokannya. Aku tersentak dan membuka mulutku. Dan saat itulah pertahanku goyah. Cairan panas yang sedari tadi kutahan melesak keluar. Aku mengejang dan menyentak selama melepaskan cairan itu.

Kudengar Mario tersedak dan menarik mulutnya menjauh. Tapi hentakan pinggul dan tekanan kedua tanganku—yang tak kusadari kapan berpindah ke kepalanya, membuatnya tak bisa berbuat apa-apa selain terus membiarkan milikku tetap berada di mulutnya.

To be continue…
===

notes:

Kacuk: setubuhi

16 thoughts on “Bianglala Satu Warna Chapter XVi-lanjutan

  1. andre 08/26/2013 pukul 8:04 am Reply

    akhirnya,
    hahaha….
    antara menolak dan menikmati

  2. arixanggara 08/26/2013 pukul 8:15 am Reply

    hemmm jadi juga ternyata, mungkin setelah ini ada perubahan di sikap johan. entah itu semakin care or cinta ke mario atau mencoba menjauh melalui bantuan mbak ajeng…..hemmm jadi juga ternyata, mungkin setelah ini ada perubahan di sikap johan. entah itu semakin care or cinta ke mario atau mencoba menjauh melalui bantuan mbak ajeng…..hemmm jadi juga ternyata, mungkin setelah ini ada perubahan di sikap johan. entah itu semakin care or cinta ke mario atau mencoba menjauh melalui bantuan mbak ajeng…..hemmm jadi juga ternyata, mungkin setelah ini ada perubahan di sikap johan. entah itu semakin care or cinta ke mario atau mencoba menjauh melalui bantuan mbak ajeng…..!!!!

  3. bebongg 08/26/2013 pukul 8:34 am Reply

    akhirnyaaa… update juga,
    sbenernya kasian sama mario, johan gak ikhlas sih..:/
    yah.. gak tau deh, si Ayah bakal gimana ke mario, mudah2an aja tetep sayang..
    soalnya menurut gue, johan yg skg udah bener2 bisa nerima mario 100% kecuali sama permintaan mario yg pgen ML itu..
    semngat ya abang santayy! gue tunggu kelanjutannya.. :*

  4. ray_har 08/26/2013 pukul 10:07 am Reply

    adegan ml paling aneh yang pernah gue baca wkwkwkwkwk tp keren deh, spt biasa johan nyebelin!

  5. sasukechan 08/26/2013 pukul 10:24 am Reply

    belum bisa dibilang ml, soalnya kan belum ada adegan ngentotnya, wkwkwkwkkkk……

    oh mario, lu nakal banget ya, ayah johan lu perkaos begitu sampe keenakan. mungkin gak ya kl mario nekat dan jadi top sementara johan yg jadi bot ny? hmmmm #berpikir….

    eniwey, semoga ada adegan ml antara arie ama mario, hehehe #pikiran nakal melintas, gimana kalo mereka trisam aja?

    *mimisan tingkat dewa dr atas dan bawah…

  6. zeamays 08/26/2013 pukul 11:33 am Reply

    Hahaha ini mah… tanggung banget ya rasanya. Tapi berhasil sih konsisten sama karakter dari tokoh-tokohnya. Johan tetap “lurus” dan Mario tetap nakal. Penasaran kelanjutannya bakal gimana setelah Mario nekat kaya gitu. Pengennya sih Johan nyerah dan jadi ngga terlalu kaku lagi. Tapi kayanya agak ngga mungkin ya?

  7. Chochowlatte 08/26/2013 pukul 11:55 am Reply

    bang adegannya ganti johan donk ya jd agresif ^,,^
    nanggung nii johannya.. mimisan ku blm heboh :v

  8. Fajar 08/26/2013 pukul 12:03 pm Reply

    Wakakakaka kok ngakak ya bayangin expresi nya si ‘Ayah’ hahaha. ampuuun gusti. ck.

    akhirnya dia ngerasa enak juga. tapi yakin abis ini dia lemes. (– ˛ — ٥ )

    di tunggu lanjutannya ya😀

  9. gemameeen 08/26/2013 pukul 12:16 pm Reply

    kentanggg bgt nihhh, haha nanggung aslinyaaa..

  10. Muluk 08/26/2013 pukul 1:28 pm Reply

    Baca scene ini kok jd sedih bgt ya.. Kyk abis dikhianatin. Kasihan Arie…..😥
    *team arie*

  11. fad31 08/26/2013 pukul 1:42 pm Reply

    agak aneh pas bca diawal2..lanjut ke bagian tengah bikin ngakak..dan di ending kayaknya paling pas bahasanya..keep writing mas ay!!!😀

  12. PUTTRA P 08/26/2013 pukul 2:18 pm Reply

    tuhkan gak jadi ngefuck😥 ,,,,,ayo dng bro santay buat ngefuck tp romantis gitu kata”nya😛

  13. Dan 08/26/2013 pukul 2:34 pm Reply

    Waaaaaaw! Paranoid Hereeeee! Konyoooooool wkwkwkwk mau ML aja ribetnya mupeng tapi tapi ih adegan terakhir biarpun singkat tapi rasanya rasanya bikin ON! #Plak aduh itu cuma di BJ, apalagi nanti kalau udah ML -.- aku masih menungguuuuuuu

  14. Muluk 08/26/2013 pukul 4:16 pm Reply

    Biar gak sedih2 amat, bikin deh cerita arie ketemu pasangan baru yg lbh worth it buat dia. Biar tauukk rasaakkk si marioookkk! (ˇ_ˇ’!l)

  15. PUTTRA P 08/27/2013 pukul 8:26 am Reply

    guys situs boyzforum ditutup yah? storysnya bnyak yg blum gw baca😦

  16. angelofgay 08/28/2013 pukul 5:33 am Reply

    Johan bakal ketagihan nantinya ✘¡°•◦✘¡°•◦✘¡

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: