Bianglala Satu Warna Chpater XVi

***Mario***

Gue terbangun tanpa alasan setelah tidur yang nyenyak banget. Gue terbangun, langsung buka mata dan (sial) langsung ingat sama kejadian malam ini.

Gue menoleh ke samping. Ada Arie yang meringkuk kayak ebi. Ia tidur membelakangi gue tanpa selimut. Ngomong-ngomong ia juga sudah mengenakan celananya ditambah jaket.

Gue menghela nafas dan menatap langit-langit. Kejadian sebelum tidur tadi kembali menggenang di benak gue. Gue sudah melakukan tindakan besar malam ini. Gue sudah berhubungan seks sama sahabat karib gue sendiri. Sahabat yang pernah gue suka. Gue sudah melihat bagian paling pribadi dari dirinya. Bukan hanya melihat, tapi juga menyentuh dan mencicipi rasanya. Suatu impian liar yang selalu gue harapkan akan terjadi karena gue benar-benar mengharapkannya. Tapi itu impian yang sudah gue buang dari hati gue terhitung dua bulan yang lalu!!! Bagaimana dengan sekarang? Sekarang gue ngerasa malu sudah ngelakuin itu sama Arie. Seharusnya gue nggak menodai persahabatan kami dengan seks. Gue malu banget rasanya. Bahkan untuk menatap wajah Arie yang masih terlelap pun gue nggak sanggup.

Akh, bodohnya gue! Gue mengutuk tindakan itu.

Gue melirik jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 03.06 pagi.

Gue pengen cepat-cepat pergi dari sini. Gue nggak sanggup liat elu, Bray, setelah kejadian konyol semalam…

Tiba-tiba Arie bergerak dan mengubah posisi tidurnya menghadap gue. Jantung gue langsung berdebar keras kayak ketakutan. Gue langsung memejamkan mata dan pura-pura tidur. Terasa ada tarikan di selimut gue. Sepertinya Arie menyelimuti dirinya sendiri. Setelah itu nggak ada gerakan lagi. Gue pun perlahan membuka mata dan melirik ke arahnya lewat ekor mata. Arie sudah terlelap lagi. Gue menarik nafas lega lalu merubah posisi tidur jadi membelakanginya.

Ayah sekarang pasti udah tidur deh… Desis hati gue tiba-tiba.

Ada air dingin rasanya menyiram hati gue setelah desisan tak diinginkan itu.

Kenapa sih gue nggak bisa ngelupain dia? Dia yang bikin gue kayak gini. Dia aja nggak mikir perasaan gue…

Huhh! Gue menghela nafas berat.

Akh, sepertinya gue bakal menunggu pagi dengan pikiran galau. Shit!

***

Mario tertidur dengan membawa kecamuk di hati. Ia terbangun saat adzan subuh berkumandang. Ia langsung bangkit dan menoleh ke Arie yang masih pulas.

Gue harus pulang sekarang sebelum dia bangun, desisnya dalam hati.

Ia pun turun dari ranjang dengan pelan. Mencari pakaiannya di lantai, tapi tidak ada. Ternyata kaos dan celananya itu tersampir di kepala ranjang. Mungkin saat semalam ia sudah tidur, Arie yang menaruhnya di sana.

Setelah mengenakan pakaian lengkap, Mario melangkah ke arah luar dan membuka pintu dengan hati-hati. Ada deritan kecil saat pintu dibuka. Untungnya tidak sampai membangunkan Arie. Begitu pun saat ia menutup pintu itu kembali. Terdengar bunyi ‘ceklek’ meskipun ia sudah menutupnya sepelan mungkin.

Lega. Begitulan yang Mario rasakan setelah keluar dari kamar Arie. Ia buru-buru menuruni tangga sambil menyisir rambut dengan jemarinya. Di ruang tengah ia bertemu dengan Amaknya Arie. Mungkin beliau hendak memulai aktivitas sebagai seorang istri dan seorang ibu.

“Laa, sudah bangun, Yo?”

“Ya, Te.”

“Cepat nian?”

“Hehehe. Mo pulang, Te—”

“Kenapa?”

“Eng, ada urusan.”

“Ooo… Ya udah. Hati-hati pulangnya.”

Mario mengangguk.

“Si Arie tadi udah bangun?”

“Belum, Te.”

“Ya, ya…”

“Rio pulang ya, Te…?”

“Hati-hati, hati-hati. Salam sama Mama ya…”

“Ya…!”

Hawa dingin langsung menyambutnya saat di luar. Mario mengendarai motornya dengan sedikit gemetar menahan dingin. Sesampai di rumah, kedua pori-pori lengannya membesar dan tubuhnya merinding karena dingin. Ia menekan bel dengan tergesa-gesa.

Saat tahu yang datang itu Mario, sang mama langsung heran. Tumben anaknya pulang subuh-subuh begini.

“Tadi itu Oh ngaterin Kak Jo ke rumah teman. Dia ada acara di sana. Kebetulan lewat rumah, yaa, mampir deh…” Mario ngarang alasan.

Untungnya alasannya itu terdengar masuk akal di telinga Mamanya. Ia pun bisa masuk ke kamarnya tanpa harus direpotkan dengan pertanyaan lainnya.

Sesampai di kamar, Mario langsung melompat ke atas ranjang. Tapi saat tubuhnya menyentuh permukaan ranjang, ia mengumpat kesal. Ranjangnya terasa dingin karena sudah lama tak ditiduri. Ia pun menarik selimut hingga membungkus tubuh melampui telinganya. Kemudian ia memejamkan mata, mencoba kembali tidur…

Ia terbangun saat mendengar ketukan keras di pintu kamar. Saat ia membuka mata, ternyata hari sudah terang. Ia menggeliat sementara ketukan di pintu masih terdengar.

Mario turun dari tempat tidur dan membuka pintu. Dan ia tersentak ketika melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.

Arie.

Mario langsung menelan ludah. Gugup.

“Eh, kok tadi pagi elu pulang nggak ngasih tahu gue sih?”

“Ngg… Yaaa…” Mario mundur untuk memberi jalan Arie masuk ke kamar.

“Elu tidur?”

Mario mengangguk sambil membuntuti Arie.

“Yaelah, kalo pulang cuma mo tidur, kenapa nggak lanjutin tidur di rumah gue sih?” Arie duduk di ranjang.

Mario tersenyum tipis.

“Tadi gue ke rumah Mister Jo. Pintu pagarnya terkunci…”

Mario mangut-mangut mendengar keterangan Arie.

“Jadi gue ke sini. Karena gue yakin elu pasti pulang ke rumah elu…”

“Ya.”

“Ada apa sih?”

Mario menghela nafas. Lagi-lagi ia harus mendengar pertanyaan serupa dari Arie.

“Elu berantem sama dia?”

Mario tak menjawab.

“Makanya elu kabur ke rumah gue semalem? Ungg… Masalahnya apa sih? Kok elu sampai—”

“Ugh! Bisa nggak sih elu diam, Rie?!” potong gue kesal. Ia nggak mau mengingat kejadian semalam!

“Sorry. Gue cuma pengen tahu keadaan elu aja…”

“Gue baik-baik aja.”

“Oh…”

“Ya udah. Gue mo mandi dulu.”

“Silahkan. Gue juga mo ke toko…”

Mario menoleh ke Arie lalu mengangguk-anggukkan kepala. “Oke.”

Arie balas mengangguk lalu bangkit dari duduknya. “Ntar ke acara doa bersamanya bareng aja ya!” ajak Arie kemudian.

“Eng, Insya Allah kalo gue datang.”

“Kenapa? Datang ajalah. Doa bersama itu penting lho…”

“Iya deh. Oke, bareng.”

“Ya. Ntar gue yang jemput atau elu yang jemput gue?”

“Elu aja.”

“Oke sip!” Arie mengangkat jempolnya dan berlalu keluar kamar.

Mario menghela nafas setelah tubuh Arie menghilang di balik pintu.

***

*24 Mei 2013*

Hari ini sepertinya merupakan puncak ketegangan bagi sebagian besar siswa kelas XII. Pasalnya hari ini adalah pengumuman kelulusan yang akan menentukan langkah mereka selanjutnya.

Mario sejak kemarin sore mulai tegang. Meskipun kemarin ia bersama seluruh teman-temannya di jurusan IPS sudah melakukan doa bersama. Tapi itu tak mampu menenangkannya. Perasaan ini diperburuk lagi dengan kenyataan kalo ia masih mikirin hubungannya sama Johan.

Dan ia tak henti-hentinya merutuki kebodohannya karena pikiran itu. Tapi sialnya, semakin ia merutuki hatinya yang tak mau diajak kompromi, semakin besar pula penyesalannya karena sudah meninggalkan rumah Johan.

Coba kalo gue tahan sedikit emosi gue, saat ini gue masih sama Ayah. Ayah bisa nenangin gue, sesalnya.

Tapi sedetik kemudian, ia kembali menemukan kekuatannya. Membenarkan semua tindakan yang sudah ia ambil.

Ngapain juga gue mikirin dia?! Dia aja sampai sekarang nggak berusaha nyari gue! Seharusnya gue buktiin ke dia kalo gue bisa tanpa dia! Gerutunya dalam hati.

Begitulah yang terjadi sejak kemarin. Hatinya berubah-ubah. Sebentar-sebentar menyesal, sebentar-sebentar membenarkan keputusannya. Jujur ia capek dengan pikirannya ini, tapi tak tahu bagaimana menghentikannya.

Tok…tok…!

Mario melirik pintu kamar.

“Yo…!” terdengar suara mamanya.

“Ya…?”

“Sarapan yuk…???”

“Ya, Ma. Rio ganti baj—” ia menepuk jidatnya. Seragamnya kan di rumah Johan???

“Mama tunggu di meja makan ya…”

“Ya Maaa…” balas Mario tanpa semangat.

Nah, terus gimana nih? Gue ke sekolah pake apaan?

Apa boleh buat! Mau nggak mau gue mesti kesana ambil pakaian, pungkasnya dalam hati.

Mario pun mengenakan pakaian biasa dan jaket lalu turun menemui Mamanya di ruang makan.

“Lho, kok belum ganti pakaian?” tanya sang mama.

“Ma, Mama makan duluan aja ya? Rio mo ngambil seragam di rumah Kak Jo dulu…”

“Lha, seragam kamu masih disana?”

“Iya.”

“Ya udah buruan. Mama sarapan duluan yaaa…”

Mario mengangguk dan melesat ke luar. Memanaskan mesin motornya sebentar dan mengendarainya menuju rumah Johan.

***

***Johan***

Hari ini siswa kelas 3 Menengah Atas menghadapi kelulusan. Aku diingatkan oleh berita di TV barusan. Dan seketika ingatanku tertuju ke Oh. Berarti ini hari kelulusannya juga. Hmm, semoga dia lulus dengan nilai baik.

Eh, by the way, orang kalo kelulusan itu pake seragamkan??? Kok dia nggak kesini ngambil seragamnya?

Aku melirik jam di dinding. Udah hampir pukul setengah delapan. Atau dia punya seragam yang lain? Hmm, bisa jadi.

Akupun berhenti memikirkan dia dan fokus dengan hitungan push up-ku.

Tapi, engg, hari ini… Kamis. Akh, bukan! Hari ini Jumat. Kalo Jumat mereka biasanya pakai seragam batik. Ah, iya! Mario nggak mungkin punya batik dua. Atau saat pergi dia udah bawa seragamnya???

Dugaan-dugaan itu membuatku nggak tenang. Aku pun berhenti push up dan menuju kamar Mario. Kuperiksa lemarinya. Aha! Seragamnya masih ada di sana. Berarti pagi ini tuh anak pasti bakal kesini.

Benar saja. Baru beberapa detik aku memikirkannya, terdengar bel dari luar. Aku yakin itu pasti Oh.

“Mo ngambil seragam ya?” sambutku.

Oh menatapku tak seceria biasanya. Ia mengangguk.

“Gimana kira-kira nilainya nanti? Bagus nggak?”

“Nggak tau…”

“Harus optimis dong…”

Ia tak menjawab dan langsung menuju kamarnya. Tidak lebih dari semenit, ia sudah keluar kamar dengan seragam di tangan.

“Kenapa belum dipake?” tanyaku.

“Di rumah aja.”

“Di sini aja. Repotkan kalo mo balik ke rumah lagi? Lagian sepatu kamu juga di sini…”

Mario diam.

“Udah sarapan belum?” tanyaku.

“Oh iya, tadi Mama nunggu gue buat sarapan. Gue harus pulang!” jawabnya cepat.

“Ntar biar Ayah yang kasih tahu Mama kalo kamu sarapan di sini…” tahanku.

Ia nampak ragu.

Aku melangkah menghampirinya. “Buruan ganti, terus sarapan. Sekarang udah pukul setengah delapan lewat,” beritahu sambil menunjuk jam dinding.

“Oke…” desisnya pelan.

“Atau mo Ayah yang pakein, eh?” godaku.

Ia tiba-tiba cemberut.

Aku mengelus rambutnya. Dua malam ia nggak tidur sama aku, aroma tubuhnya udah sedikit berbeda.

Selesai mengawasi Mario berganti pakaian, aku mengajaknya ke meja makan. Menyiapkan sarapan buat kita berdua dan menemaninya makan meskipun aku belum mandi pagi.

Seusai makan, ia langsung pamit. Aku mengangguk dan menyemangatinya. Tak perduli dengan sikap dinginnya yang tak berubah sejak datang tadi.

***

***Mario***

Gue barusan ketemu Ayah. Dan dengan berat hati gue harus mengakui kalo gue senang. Gue senang sekaligus gugup ketemu dia. Apalagi sambutannya ramah banget. Padahal gue udah mikir dia bakal dingin pas lihat gue. Ternyata gue salah. Dan, akh, seperti biasa, gue selalu nggak bisa berkutik kalo udah berhadapan sama dia. Gue nggak tahu, sihir apa yang udah ia tiupkan sehingga gue selalu kayak kebo dicocok hidung jika berhadapan sama dia!

Seharusnya gue bersikap angkuh sama dia tadi. Gue cukup menerobos masuk rumahnya, ambil pakaian dan cabut! Nggak usah dengerin semua omongan dia. Apalagi sampai sarapan bareng. Tapi, yaaahhh, lagi-lagi itu cuma sebatas wacana di otak gue. Faktanya rencana dan tindakan gue itu nggak pernah sinkron. Selalu aja Ayah yang di atas angin! Hufh!!!

Tapi nggak bisa dipungkiri juga, setelah tahu reaksi Ayah ke gue yang semanis tadi, hati gue jadi sedikit tenang. Nggak tahu kenapa. Gue nggak bisa menjelaskan penyebabnya. Lagi-lagi karena pengaruh mantra sihirnya mungkin.

***

Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 08.47. Para siswa bergerombol di depan kelas masing-masing. Mereka sedang menunggu wali kelas datang untuk membagikan amplop berisi tulisan lulus atau tidak lulus.

Beberapa siswi terlihat berpelukan. Ada juga yang komat-kamit baca doa. Bahkan ada yang nangis. Semuanya itu sebagai ekspresi dari ketegangan mereka menunggu detik-detik pengumuman. Padahal menurut desas desus yang entah dari mana (ada yang bilang dari guru TU, ada juga yang bilang dari penjaga sekolah, atau dari siswa yang orang tuanya mengajar di smansa, pokoknya macam-macam), semua siswa SMANSA Cuko lulus seratus persen. Tapi tetap saja rasa khawatir kalau kabar itu tidak benar tetap menghinggapi hati mereka.

Dan akhirnya saat paling menegangkan pun datang juga. Tepatnya ketika para wali kelas satu persatu datang memasuki kelas yang mereka bina. Kelas yang tadi riuh seketika hening. Hawa ketegangan sangat terasa.

Ketegangan pun semakin menjadi saat wali kelas pun memberikan wejangan ke seisi kelas dengan kata-kata yang terdengar ambigu. Seperti; ‘Bagi yang belum berhasil melewati UN, jangan berkecil hati. Kegagalan ini bukan akhir dari kehidupan kalian… Bla…bla…bla…’. Siapa yang nggak tegang coba dengar kalimat seperti itu?

Untungnya ucapan sepatah dua patah kata dari wali kelas selesai juga. Dan kini saatnya para siswa dipanggil untuk menerima amplop yang berisi hasil pertarungan mereka selama tiga hari pada tanggal 15-17 April yang lalu.

Semua siswa yang dipanggil namanya dikasih amplop dan langsung disuruh keluar kelas. Mereka diminta membuka amplopnya di luar. Tapi beberapa siswa saking groginya sampai nggak berani membuka amplopnya. Mereka meminta teman mereka yang membukakan atau bahkan ada yang lebih memilih membukanya di rumah.

“Bray!” terdengar teriakan khas dari arah luar.

Mario menoleh. Ada Arie yang wajahnya nampak sumringah di dekat kusen pintu kelas.

Arie yang namanya sudah dipanggil di awal-awal tadi mengarahkan telunjuk ke kertas yang dipegangnya. Sementara bibirnya bergerak membentuk kata: Gue Lulus.

Mario tersenyum seadanya. Ia mengacungkan jempol ke Arie lalu kembali fokus memperhatikan teman-temannya yang namanya dipanggil oleh wali kelas.

Kalo Arie aja bisa lulus, apalagi gue! Mario mencoba membesarkan hatinya.

“Mario Lingga Evans!”

Mario menghembuskan nafas keras dan bangkit dari duduknya, sedikit tergesa menghampiri meja guru.

Kini amplop penentuan sudah di tangan. Mario bergegas ke luar dan langsung disambut Arie.

“Gimana?” tanya Arie.

Mario tak menjawab. Ia langsung membuka amplop setelah mengucapkan “Bismilahirahmanirrahim” dengan lantang.

Begini isi utama surat pengumuman itu:
Nama : Mario Lingga Evans
No. Ujian : …
No. induk: …
Kelas : XII.IPS.1
Jurusan : IPS

Dinyatakan : “Lulus” dengan jumlah nilai UN = “50,08”
Demikian untuk dapat diperhatikan.
[

“Gila! Gedean nilai elu, Bray!” Arie mendorong kepala Mario gemas.

“Alhamdullilah gue lulus! Yeah!!! Elu berapa?”

“Gue 48,01,” beritahu Arie sambil memperlihatkan surat pengumuman.

Mario terkekeh.

“Gila elu ya!”

“Gue belajar kaleee…!”

“Gaya elu!”

Mereka berdua berpelukan erat.

“Yang lain gimana?”

“Kita 100% lulus kok!”

“Ohh, jadi berita itu benar? Baguslah!”

“Tapi gue belum tahu siapa peraih NEM tertinggi nih…”

“Ah, penting amat! Yang penting gue udah lulussss…!” kata Mario seraya melipat surat pengumuman dan dimasukkannya ke dalam saku baju.

“Eh, hari ini kita konvoy yuk?!”

“Oke! Bareng anak-anak kan?”

“Ya. Gue juga udah bawa seragam putih abu-abu gue buat dicoret-coret…”

“Anjrit! Gue nggak nih…”

“Gimana sih elu? Seragam gue ada tuh di jok motor…”

“Gue balik ah kalo gitu. Gue mo ambil seragam dulu.”

“Ya udah. Buruan gih…”

“Sip!” Mario berlari menuju parkiran dengan penuh semangat.

Sesampainya di rumah…

“Gimana, Oh?” kedatangannya langsung disambut Johan.

“Nih!” Mario mengeluarkan kertas terlipat dari saku bajunya.

Johan langsung menerima dan membuka kertas itu. Senyumnya langsung tersungging di bibirnya saat membaca apa yang tertulis di sana.

“God job, maboy!” seru Johan sambil mengacak rambut Mario bangga.

Mario terkekeh.

“50,08. Jadi rata-ratanya berapa nih?”

“Eh, iya, ya? Berapa ya?” Mario balik nanya.

“Jumlah bidang study yang di-UN-kan ada berapa?”

“Enam.”

“Enam? 50:6 …, 6×7 = 42, oke, 8 ya? 6×8 = 48. Rata-rata 8,3. Sip! Good!” seru Johan puas.

“Delapan?? Yeah!” Mario sangat puas. Ia mengedipkan matanya lalu melangkah menuju kamar.

“Nilai tertinggi berapa?” tanya Johan seraya membuntuti Mario.

“Gak tahu.”

“Peraihnya siapa?”

“Nggak tahu juga…” jawab Mario sembari membuka lemari pakaian.

“Berapa orang yang nggak lulus?”

“Lulus seratus persen, Yah!” jawab Mario sambil menarik baju putih abu-abunya dari lipatan.

“Bagus dong…”

“Yup. Oh pergi dulu ya!” pamit Mario sambil bergegas melewati Johan.

“Eh, mo kemana…???”

“Konvoy, Yah!”

Johan melirik seragam yang ada di tangan Mario. Dan ia tahu bakal diapakan seragam itu nantinya.

“Oh, sini dulu!” panggil Johan.

Mario berhenti. “Apa?”

“Sini,” Johan berjalan menghampiri Mario.

“Apa lagi? Oh buru-buru nih…”

“Mo corat-coret seragam ya?”

“Sekalian sih…”

“Gak usah pergi. Ngapain konvoy segala? Bahaya!”

“Ah!” bantah Mario. Ia kembali melangkah menuju keluar.

Johan dengan gesit meraih lengan Mario. Mario langsung menatap Johan.

“Pliiisss, Yah…” pinta Mario setelah melihat Johan menampilkan ekspresi cool-nya.

Johan tak menjawab. Ia malahan berjalan melewati Mario menuju pintu ruang tamu. Mario mengawasi gerakan Johan dari tempatnya berdiri. Ternyata Johan menutup pintu.

Mario langsung menghela nafas kesal sambil memutar bola matanya.

“Pokoknya Oh mo pergi!” seru Mario sambil berjalan ke arah pintu dan Johan.

“Udahlaahhh…” tahan Johan pelan saat Mario melintasinya. Ia menepuk pundak anak itu. Tapi karena Mario tak memperdulikannya dan tetap membuka pintu, ia langsung memeluk dan mencium tengkuk Mario dari belakang. “Udahlah, Sayang…” desisnya pelan.

Mario terdiam dan urung membuka pintu. Tapi tak sampai hitungan menit, ia kembali memutar gagang pintu.

Johan menahan tangan Mario.

“PLIS, YAH!” Mario kesal.

“Nggak usah pergi. Kenapa sih suka banget ninggalin Ayah?”

Mario mangut-mangut mendengar pertanyaan Johan barusan.

“Bentar lagi kamu jadi mahasiswa. Sama dong kayak Ayah…”

“Udah ah!” Mario melepas pelukan Johan. Hatinya tetap keukeuh pengen pergi.

“Uhmmm… Kamu nggak pake sabun yang biasanya? Wangi tubuh kamu beda…” Johan mengendus bahu dan leher Mario.

Leher Mario bergerak mengikuti endusan Johan.

“Tuh kan beda…” gumam Johan lagi.

“Emang yang biasanya kek gimana?”

“Ya gitu. Ayah udah familiar sama aroma tubuh kamu…”

“Sabun di rumah beda sama sabun di sini.”

“Ya, makanya Ayah bilang wangi kamu beda.”

“Gak penting banget…”

“Ayah nggak suka wangi yang ini. Ayah pengen aroma yang biasanya. Aroma Oh.”

“Ayah cari aja ampe ketemu. Mungkin di bagian area yang lain…” saran Mario. Ngomong-ngomong ia mulai terangsang sama endusan Johan pada lehernya.

Gila! Cepat banget sih gue horny?! Gerutu Mario kesal.

“Apa bedanya…” Johan menjentik daun telinga Mario.

“Ouch!” teriak Mario. Tapi teriakannya lebih terdengar seperti desahan sehingga Johan menyipitkan matanya.

“Nakal!” kata Johan.

“Oh bisa lebih nakal lagi…”

“Ayah nggak suka kalo kamu nakal.”

“Nakalnya beda…” Mario merapatkan tubuhnya ke Johan. Menempelkan juniornya yang sudah mengeras ke pangkal paha kanan Johan.

“Hey!” Johan melotot terhadap aksi tak sopan Mario barusan.

“Siapa yang mulai, eh?!”

“Kamu aja yang terlalu cepat—”

“Yeah, that’s right Daddy! Oh bakalan selalu horny sama Daddy. Nggak tahu kenapa!” potong Mario.

“Sama orang lain?”

“Enggak!”

“Emang pernah coba?”

Tiba-tiba wajah Arie melintas di benak Mario. “Enak aja!”

“Sekarang aja bilang gitu. Coba kalo udah ketemu sama yang lain…”

“Ayah pengen Oh coba sama orang lain?”

Johan menyipitkan matanya. Ia tak senang membayangkan Mario dengan orang lain.

“Coba aja!” suara Johan terdengar dingin.

Mario ngakak. Ia senang mendengar nada cemburu disertai ancaman dari Johan barusan. Nada itu membawa nafsunya setingkat lebih tinggi.

“Kalo nggak suka, makanya jangan sampai keduluan sama yang lain…” kata Mario memprovokasi.

“Gitu ya? Masih usaha juga kamu yaaa…” Johan menjewer telinga Mario.

Dasar homo labil! Katanya nggak bakal ngerayu Johan buat ngeseks lagi, woy?! Protes hati kecil Mario tiba-tiba.

Gleg!

Sial, gerutu Mario dalam hati.

Omongan elu itu nggak ada yang bisa dipegang. Cuma sesaat. Pas emosi doang. Giliran diangin-anginin dikit langsung melempem… Ledek hati kecilnya lagi.

Gairah Mario terjun bebas seketika. Bener juga! Gue terlalu gampang dimainin sama Ayah. Suka-suka dia aja kapan mau nyenengin gue, kapan mo diemin gue…

Mario menghela nafas. Gairah yang tadi menggebu-gebu seketika berubah seratus delapan puluh derajat jadi dingin tanpa sebab. Johan terkejut melihat sikap Mario. Dan ia hanya mengawasi aja gerakan Mario yang mengambil jarak dari dirinya.

Gue harus ambil sikap. Gue nggak mau terus-terusan diperlakukan kayak gini! Desis Mario dalam hati.

“Gue mo pergi! Arie pasti udah nungguin dari tadi!” Mario kembali ke rencana semula.

“Bentar lagi Jumatan, Oh…” kata Johan.

Jumatan? Oh iya, hari ini Jumat. Mario menghela nafas. Terus gue mesti gimana nih??? Ia bertanya dalam hati.

“Kamu udah kasih tahu Mama belum kalo kamu lulus?” tanya Johan.

“Oh, iya!” Mario merogoh saku celananya. Tapi kemudian ia terdiam dan mimik wajahnya seperti memikirkan sesuatu.

“Hape gue—”

“Kenapa?”

Mario tak menghiraukan pertanyaan Johan. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali ia memegang handphone-nya. Tadi pagi? Nggak. Semalam? Nggak juga. Kemaren? Nggak. Di rumah Arie? Juga nggak. Masa sih? Ia baru sadar bahwa sudah dua hari ia nggak menggunakan handphone.

“Ponsel kamu ilang?” tanya Johan.

Jadi terakhir kapan? Kalo di rumah Arie nggak, berarti hape-nya di sini? Mario masih bertanya-tanya dalam hati. Nggg… Atau jangan-jangan jatuh pas dia minggat?

Mario melesat ke kamar Johan. Seingatnya terakhir kali ia menggunakan handphone-nya yakni saat baca cerita stensilan sebelum berantem sama Johan.

“Nomernya nggak aktif…” beritahu Johan.

Mario menoleh.

“Ayah barusan coba miscall…”

Mario manyun dan berkacak pinggang di depan ranjang. Kembali mengingat-ingat kira-kira di mana letak handphone-nya. Namun kemudian mulai mengacak tempat tidur. Mengangkat semua bantal yang tersusun rapi dan…

“Aha! Ini ada!!!” seru Mario sambil mengambil handphone yang tergeletak di bawah bantal. Posisinya di dekat kepala ranjang dan menempel di dinding.

“Tapi mati. Lowbatt…” ia menekan tombol on/off. Handphone-nya nyala sebentar kemudian mati lagi.

“Charger aja dulu. Pake ponsel Ayah aja…”

Mario menerima handphone yang disodorkan Johan. Ia mengirim sms buat mamanya. Setelah itu mencharger handphone-nya yang lowbatt.

Setelah itu Mario berjalan ke kamarnya buat ganti baju. Ia nggak mungkin pergi buat konvoy. Anak-anak pasti udah berangkat dari tadi. Ia ogah nyusul mereka sendirian. Lagi pula sebentar lagi sholat Jumat. Ayat suci sudah dilantunkan dari masjid terdekat.

“Ini ada sms balasan dari Mama kamu, Oh!” terdengar teriakan dari luar saat ia sedang melepas baju batiknya.

“Apa katanya?” tanya Mario sambil melempar baju ke ranjang. Setelah itu berjalan menuju tempat Johan.

“Ini!” Johan menyodorkan handphone-nya saat Mario muncul. Saat ini ia sedang duduk di sofa sambil menonton berita.

Mario langsung membaca isi pesan tersebut. Bibirnya membentuk senyuman setelah membaca isinya.

“Nah gitu dong! Bikin beliau bangga…” kata Johan saat Mario duduk di sampingnya.

“Oh bales ya pesannya?”

Johan mengangguk dan kembali fokus ke TV. Saat itu berita menayangkan tentang siswa peraih nilai tertinggi se-Indonesia.

“Siswi dari Bali ternyata yang dapat nilai paling tinggi…” kata Johan.

Mario ikut-ikutan melihat ke TV.

“Apa ya hadiahnya? Biasanya sih dapat beasiswa dari pemerintah sampai tamat kuliah S1…” kata Johan.

“Emang tahun kemarin gitu ya?”

Johan mengangguk.

“Kalo hadiah buat Oh apa, Yah?” tanya Mario tiba-tiba.

Johan langsung noleh ke Mario.

“Oh kan lulus. Nilainya juga lumayan…”

“Ntar, Ayah pikir dulu,” Mario kembali menatap ke layar TV.

“Atau biar Oh yang pilih sendiri?”

“Apa?” tanya Johan tanpa mengalihkan pandangannya.

“Oh cum—”

Jangan bilang kalo elu mo ML lagi! Elu kan udah bilang gak bakal mint—STOP.

Sial, belum selesai ngomong, hatinya udah interupsi duluan.

Benerkan kalo elu mo ngomong itu? Ejek hatinya. Hahaha…! Dasar homo gatel! Pikiran elu tuh gak jauh-jauh dari isi celana!!!

“Hadiah apa? Kalo bisa Ayah penuhi, nanti Ayah penuhi…” omongan Johan menyudahi debat di hati Mario.

“Terserah Ayah aja deh…” ucap Mario pelan. “Tapi gue maunya sih ML…” dan untuk yang ini hanya diucapkan dalam hati.

“Lho katanya mo pilih sendiri?”

Mario tak menjawab.

Johan menatap Mario lekat. “Kok diam? Mumpung Ayah lagi sayang-sayangnya sama kamu nih…” Johan mengacaukan rambut Mario dengan gemas.

“Sayang-sayangnya?”

“Ya. Udah dua malam Ayah nggak ngelonin kamu. Sekarang kamu pulang bawa kabar bagus. Kamu…lulus…ujian. Ayah senang. Itu baru Oh-nya Ayah namanya!”

“Kalo gitu turutin permintaan Oh,” sambut Mario. Persetan sama protes di dalam kepalanya. Inikan kesempatan!

“Yaaa, apaaa?”

“ML!” suara Mario meluncur cepat dan datar.

“Udah diduga…” gumam Johan santai.

“Ayah sendiri yang bilang silahkan pilih maunya apa,” Mario membuat pembelaan.

“Kenapa harus ML?”

“Enggg…” hatinya juga bingung kenapa. “Karena suka!”

“Ayah gemes banget sama kamu. Kenapa pikirannya itu mulu?!” Johan menghela nafas putus asa.

“Oh juga gemes sama Ayah. Kenapa Ayah nggak mau? Wajarkan kalo pacaran…”

“Emang kalo pacaran harus ML gitu? Gawat dong!”

“Kita kan sama-sama cowok. Gak ada yang perlu dikhawatirin…”

“Pasti karena gak bakal hamil… Iya?”

“Ya. Terus kan gak ada selaput dara gitu. Nggak kenal perawan atau nggak perawan…”

“Jadi kalo misalnya kamu pacaran sama cewek, kamu gak bakal ngeseks?”

“Nggak!”

“Kamu bisa tahan ya? Karena faktor virginitas tadi itu kan ya? Terus kenapa nggak kamu terapkan pemikiran itu ke hubungan kita? Anggap aja kita pacaran cowok-cewek…”

“Nggak bisa. Kita kan nggak ada yang cewek…”

“Anggap aja gitu. Ayah yang ceweknya deh nggak apa-apa…!”

“Nggak bisa!”

“Kenapa sih nggak bisa? Emang semua gay itu kalo pacaran pasti ada embel-embel ML-nya ya?”

“Nggak. Ada juga yang nggak. Hubungan tanpa seks.”

“Naaah, kenapa kita nggak pilih yang itu? Pacaran, saling sayang, tanpa harus berbuat macam-macam. Kayak anak ABG gitu. Mereka pacaran, tapi pacaran yang sehat…”

Mario tak menjawab. Ia menatap layar TV sambil memberengut .

Johan menghela nafas. Ia tahu Mario belum bisa menerima penjelasannya.

“Kalo selain ML pengennya apa?” tanya Johan setelah mereka membisu beberapa lama.

“NGGAK ADA!” jawab Mario sambil bangkit dari tempat duduknya.

GOD! Satu-satunya yang masih nggak bisa aku terima dari dia, keinginannya ini. ML lagi, ML lagi! Gerutu Johan dalam hati..

“OKE!”

Mario berhenti melangkah. Maksudnya apa? Ia bertanya dalam hati. Oke buat apa? Ia kembali berjalan.

“Ayah sanggupi.”

Mata Mario membulat dan mulutnya menganga tak percaya.

“Ayah serius?” tanya Mario. Ia lagi nggak mau dibercandain saat ini.

“Serius.” Johan mematikan TV.

10 thoughts on “Bianglala Satu Warna Chpater XVi

  1. sasukechan 08/21/2013 pukul 1:32 pm Reply

    menunggu dg sabar postingan berikutnya…. eh kayaknya gak mungkin hari itu, masa belom jumatan udah ml.

    tapi kl beneran johan-mario ml, hmmmmm… kayaknya ad syarat tambahan…

    lagi2 terputus d bag yg nanggung

  2. adinu 08/21/2013 pukul 2:04 pm Reply

    ML- makan lontong, make lombok, mau lagi, mario lemes

  3. PUTTRA P 08/21/2013 pukul 3:18 pm Reply

    walaupun beneran terjadi ml kayaknya hambar deh. gk tau chemistrinya gak dapet karena mungkin johan
    1.suka sama mario belum sepenuh hati ya karena johan berharap mario bisa nglupain perasaannya setelah lulus sma (jika mario kul diluar daerah)
    2.johan masih belum nrima dia gay,masih pingin normal(alternatif cari pacar cwe mungkin klo dtinggal mario pergi :P)
    3.johan masih terlalu alim buat ml (pacaran aja baru ma mario jd masih baru)
    4.johan terlalu ke bapak”an (ya maunya ngemong gitu kaya punya anak,,,kalo jdiin kakak mungkn hasrat ml masih ada kali :P)
    5.trerlalu formal banget( wlpun gw jg kuliah perasaan belum nemu orang yg seformal ini)
    yap dari awal part sampe part ini gw masih mikr sifat johan terlalu kaku n formal untuk umur 21than. hopeless bgt untuk hubungan mario n arie buat jadian😦

  4. arixanggara 08/21/2013 pukul 3:21 pm Reply

    nanggung bgt bang….!!!!

    jadi inget hadiah kelulusanku dulu hehehehe

  5. rez1 08/21/2013 pukul 3:27 pm Reply

    aishh aishh aishhh. Dreams come true xD

  6. Dan 08/21/2013 pukul 4:14 pm Reply

    Aaaaah ditungggguuuuuu! Buat Johan jadi ganas seganas ganasnyaaaaaaa! Sayang donk pertama kali kalau mlempem, biar si johan nagih nagih dan nagiiih hihihihi

  7. bebongg 08/21/2013 pukul 9:24 pm Reply

    setidaknya harapan gue ke Johan gak terjun bebasss!!! Uh yeahhh… walopun kaya.nya dia kepaksaa buat gituan, gak tau juga sih, gmna ujung hub.an mreka ntr..
    gue sih berharapnya mreka baek2 aja..
    Johan terlalu dewasa untuk sifat kekanakan mario..

  8. Chochowlatte 08/21/2013 pukul 9:31 pm Reply

    kyaaaa akhirnya mario-johan bakal mL jg :3
    banyakin adegan lemonnya ya bang (b°w°)b

  9. ray_har 08/22/2013 pukul 9:28 am Reply

    mariooo kamu plin plan amat siih, dibaikin dikit langsung lumer, marahnya gak tahan lama hadeuh gak jd mario-arie nih😦

  10. fad31 08/22/2013 pukul 12:13 pm Reply

    halo mas ay..:-D
    *siap2 ngintipin*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: