Bianglala Satu Warna Chapter XVh-lanjutan

Hawa malam ini dingin seperti biasanya. Tapi tetap tak bisa meredakan gejolak api di dalam dada gue. Amarah gue masih bergumpal di sana. Menyebar sampai ke sela-sela jari gue.

Di tengah jalan terbesit nama Arie dalam benak gue.

Arie.

Kenapa gue nggak ke rumah dia aja?

Ya, ya. Mendingan gue ke sana aja. Percuma aja kan kalo gue balik ke rumah. Bikin pusing aja dengan pertanyaan-pertanyaan Mama nantinya.

Niat gue bulat sekarang untuk menemui Arie. Gue pun menambah laju kecepatan motor gue membelah jalanan yang lengang.

Seperti biasa, Arie sedang di kamarnya saat gue datang. Gita yang membukakan pintu meminta gue langsung menemui kakaknya itu di kamar. Gue mengangguk dan tersenyum seadanya ke siswi menengah pertama tersebut.

“Rie…!” gue nyelonong masuk melewati pintu kamar Arie yang terbuka sedikit.

Arie yang sedang tiduran di ranjang langsung melompat bangun. Wajahnya nampak terkesiap melihat kedatangan gue yang tiba-tiba.

Tatapan kami beradu. Tapi saat melihat wajah Arie, justru gue menyebut nama Ayah dalam hati.

Emosi gue kembali naik.

Oke. Gue nggak butuh elu, Yah! Gue bisa dapetin apa yang gue mau dari orang lain! Desis gue penuh amarah.

“Yo…!”

Gue menutup pintu dan berputar menghadap Arie.

“Elu—ada apa?”

Elu bakal nyesal, Yah. Gue serius!!! Amarah di hati gue terus bergema.

Gue melompat naik, menubruk Arie yang masih menampilkan wajah kebingungan akan kedatangan gue. Mendapat serangan gue yang tiba-tiba, ia langsung jatuh tertidur.

Arie masih kebingungan di bawah tatapan gue. Tapi gue nggak ngasih dia kesempatan untuk bertanya lagi. Gue langsung meraup bibirnya dengan keras. Menekan bibir gue ke bibirnya.

Ini! Elu lihat, Yah! Gue bisa ngelakuin ini sama orang lain! Jerit hati gue ditengah hisapan gue pada bibir Arie.

Dan apa hanya perasaan gue aja, tapi gue ngerasa Arie mulai membalas ciuman gue. Awalnya pelan, tapi lama-lama pagutannya semakin liar mengimbangi gerakan bibir gue.

Jujur, gue nggak menyukainya. Hati kecil gue menolak. Seumur-umur, gue hanya pernah ciuman sama Ayah. Dan kini gue ciuman sama Arie. Rasanya? Ngg… saat bibir kita menyatu, gue nggak ngerasain gejolak seperti halnya saat gue ciuman sama Ayah. Gue hampir saja melerai ciuman itu, jika saja wajah Ayah nggak bermain di pelupuk mata gue. Jadi gue bukannya melerai ciuman itu, justru malah memagut bibir Arie makin beringas. Gue ingin melampiaskan kemarahan gue sama JOHAN!!!

Entah berapa lama kami berpagutan, yang jelas gue yang melerai ciuman itu. Karena dari Arie sendiri tak ada tanda-tanda untuk menghentikannya. Maka gue menarik kepala gue menjauh.

Kita berdua terengah-engah saat ciumannya usai. Tatapan kami bertemu. Gue melihat percikan gairah di mata Arie.

“Kenapa dengan elu?” desis Arie.

Gue nggak menjawab. Hanya mata gue saja yang terus menatapnya.

“Elu sadarkan gue siapa? Gue bukan Mister—”

Ya! Dia yang menyebabkan gue di sini malam ini! Potong hati kecil gue.

Gue nggak mau dengar apapun dan dari siapapun lagi saat ini. Jadi gue menyarangkan ciuman lagi ke bibir Arie untuk membungkam mulutnya.

Kali ini Arie nampaknya ingin menghindari ciuman gue. Tapi gue buru-buru menahan wajahnya dengan siku agar tetap lurus menghadap gue.

Sumpah! Gue benci melakukannya! Tapi saat wajah Ayah membayang di benak gue, gue terus memaksakan mencium Arie. Bahkan lebih dari itu. Gue menyusupkan tangan gue ke dalam kaos oblongnya. Menyusuri perut dan naik ke dadanya. Mencari dua titik kecokelatan pada dadanya.

Rabaan gue mengenai nipple sebalah kanannya. Gue langsung membelai titik kecil itu. Menekan, menarik dan membuat lingkaran di atas puncak nipple-nya dengan permukaan telunjuk gue.

Arie menatap gue nanar. Pupilnya membesar. Entah apa artinya. Mungkin ia terkejut dengan tindakan gue. Gue nggak perduli! Gue semakin liar dalam kewarasan gue. Ya. Gue sepenuhnya sadar atas segala tindakan gue ke Arie saat ini. Gue nggak lagi dirasuki gairah, tapi dikontrol amarah. Gue ngelakuin ini tanpa rasa!

Tanpa rasa. Ya, mungkin kedengarannya sangat berlebihan. Tapi itulah yang gue alami saat ini. Gue sendiri bingung. Kenapa gue nggak ngerasain gejolak nafsu seperti saat gue ngelakuinnya sama Ayah (gue masih berat banget buat manggil dia Ayah saking marahnya).

Oke, mungkin karena Arie masih bersikap pasif. Gue mungkin butuh sedikit rangsangan. Maka gue mengangkat kaos gue sampai ke ketiak. Lalu gue beringsut naik dan meletakkan nipple gue tepat di atas mulut Arie. Gue menekan kepala Arie ke arah gue, sehingga bibirnya menyentuh nipple gue.

Arie saat itu juga mengerti keinginan gue. Meskipun mulanya ragu-ragu, ia tetap membawa nipple gue ke mulutnya. Membuka bibirnya sedikit dan menghisap pelan. Gue menekan dada ke arahnya lebih kuat. Ya Tuhan, please, buat gue terangsang.

Mulut Arie terus bermain dengan dada gue, sementara tangannya menjalar ke punggung telanjang gue. Membelai tengkuk dan turun ke panggul melewati tulang belakang gue. Gue mendesah. Oke, gue mulai menikmati sentuhannya.

Gue minta waktu sejenak, melerai hisapan Arie sekedar untuk melepas baju. Arie juga mengikuti gue. Ia melepas kaos abu-abu yang ia kenakan. Setelah itu gue kembali menunduk untuk menyabut bibir Arie yang setengah terbuka.

Gue bisa merasakan Arie makin bernafsu. Terlihat dari gerakannya yang semakin intens. Memeluk gue dengan erat. Sesekali ia meremas pinggang dan punggung gue.

Ini rasanya seperti mimpi. Maksud gue, hampir tiga tahun gue memimpikan bisa bercinta dengan sahabat gue ini, dan sekarang terwujud! Dan gue masih nggak percaya. Hanya saja rasanya tak seperti yang gue bayangkan. Bukan gairah yang menggebu-gebu seperti yang selama ini ada dalam khayalan liar gue, tapi sepenuhnya hanya dorongan emosi.

Jujur, gue nggak menikmatinya. Pun saat Arie menghisap milik gue, sensasinya tak bisa menyamai rasa nikmat saat gue berciuman sama Ayah.

Ah, Ayah… Seandainya gue melakoni semua ini bareng elu…

Gue lemas. Semakin tak bersemangat melanjutkan kegilaan ini. Gue nggak bisa melakukan ini bareng orang lain. Hisapan kasar dan tak terukur Arie makin bikin gue nggak nyaman. Entah apakah memang begitu rasanya gue nggak tahu. Tapi jika melihat blue film ataupun pendeskripsian dalam cerita dewasa, sepertinya rasanya luar biasa nikmatnya. Namun kenapa gue nggak mendapatkannya? Apa karena pengaruh gue melakukannya bukan dengan orang yang gue inginkan?

“Udah, Bray. Biar gue lagi…” kata gue.

Arie melepas tentara kecil gue dari mulutnya.
Arie tersenyum dan memelorotkan celana bola beserta dalamannya. Miliknya melompat bebas. Nampak sangat keras.

Nggak sebesar yang ada dalam khayalan gue sebelumnya. Masih gedean punya gue.

Arie bangun dan berdiri dengan lututnya di hadapan gue. Memegang pangkal tentara kecilnya yang siap tempur.

Refleks gue mengelap jidat yang tiba-tiba berkeringat.

Oh, Tuhan, apa gue harus melakukannya? Sumpah, gue ragu!!!

Arie menautkan alisnya, menatap gue tak sabaran sambil menggoyang-goyangkan miliknya.

Ayah…, panggil hati kecil gue tiba-tiba.

God, gue nggak mau ngelakuinnya. Gue nggak mau.

Tiba-tiba Arie membungkuk dan memegang pundak gue.

“Gue tahu apa yang ada di hati elu…” bisiknya.

Gue mendongak menatap matanya. Gue menangkap kekecewaan di sana.

“Apa?!” tanya gue.

“Kenapa elu ngelakuin ini sama gue? Ada Mister Jo—”

Gue mendorong Arie hingga tertidur. “Kita sama-sama suka!” kata gue sambil mundur sampai ke selangkangannya. Melahap miliknya sambil berusaha mengosongkan pikiran.

Nggak ada yang perlu gue pikirkan. Kalo pun gue mau berpikir, pikirkan saja rasa cinta gue ke Arie dulu. Bangkitkan semua kenangan itu. Bangkitkan gairah-gairah terpendam gue di saat-saat gue begitu mengharapkan dia. Lampiaskan sekarang! Realisasikan sekarang! Lakukan! Lakukan!!! Ceracau gue dalam hati.

Arie mendesah. Matanya merem-melek. Tubuhnya mengejang. Kelihatannya ia benar-benar menikmati hisapan gue. Mendengar desahan putus-putusnya, hati gue semakin kacau dan semakin memikirkan Ayah.

Seandainya yang mendesah ini Ayah…

“Aww… Yo, Yoo…” desis Arie lirih sambil menahan laju kepala gue.

Gue melepaskan miliknya dan terengah.

“Pelan-pelan, Yo. Adek gue kena gigi elu…”

“Oh…? Maaf, Rie…” gue kembali meraih milik Arie. Menghisap miliknya hati-hati. Terukur dengan kecepatan tetap.

Arie kembali terdengar mendesah. Duduk dengan lutut dan satu tangannya bertumpu pada ranjang di samping belakang pinggang kanannya.

“Aoww..! Yo… Gigi elu…!”

Kecamuk di dada gue terhempas ke dasar. Sekarang gue kembali fokus ke Arie. Apa lagi yang udah gue lakukan?

“Iya, Rie?” gue gak dengar jelas apa yang tadi ia katakan.

“Gigi elu…”

Gigi lagi?

“Oh, maaf. Gue kelewat semangat,” gue kasih alasan. “Oke kali ini nggak gitu lagi. Elu ingetin gue kalo gerakan gue mulai kacau…” sambung gue sambil membungkus badan tentara kecilnya dengan tangan gue.

Tiba-tiba Arie memegang pergelangan tangan gue yang sedang berada di atas tentara kecilnya itu.

Gue mendongak.

“Cukup, Yo…” kata Arie lembut dan serak.

“Kenapa? Belum selesai.”

“Feel gue dan elu beda. Pikiran elu nggak di sini…”

“Eng, nggak. Gue cuma gugup. Ini pertama kali,” kilah gue sambil melingkarkan lengan di sekeliling dada Arie, mencoba membangun keintiman lagi.

“Pertama kali? Elu sama Mister Jo selama ini nggak pernah?”

“M-Maksud gue sama orang selain dia…”

Arie menyipitkan matanya. “Kenapa?”

“Kenapa apanya?” gue mulai kesal sama pertanyaannya.

“Kenapa elu ngelakuin ini dengan orang lain? Ada apa dengan kalian???”

“Ah! Kenapa sih elu, Bray?! Elu suka kan sama gue??? Udah, elu nikmati aja!” gue menghisap kepala tentara kecilnya.

“Jujur gue suka. Taiklah kalo gue nggak suka. Cuma gue ngerasain kok kalo kita nggak satu gairah. Elu dari tadi lebih banyak nggak fokusnya. Perhatian dan jiwa elu nggak di atas ranjang ini…”

Gue diam.

“Udah. Nggak usah dilanjutin…” Arie beringsut menjauh dan memungut celananya.

“Plis, Rie, jangan pake pakaian dulu…”

Arie menatap gue manyun.

“Pliiis. Gue pengen tidur sama elu.”

“Tidur?”

“Ya, tidur. Tidur beneran.”

“Buat apa?” Arie mengambil ancang-ancang ingin mengenakan celananya lagi.

“Peluk gue, Bray. Peluk gue…” kali ini benar-benar suara hati gue.

Arie menatap gue dari tempatnya.

Gue menunduk dan merasa sangat lemah di depannya.

Arie akhirnya urung mengenakan celana dan naik ke tempat tidur. Tapi ia hanya duduk di samping gue dalam diam.

Gue meliriknya sejenak. Rupanya ia juga lagi memperhatikan gue sehingga tatapan kami bertemu. Tanpa pikir panjang gue langsung menubruk dadanya. Gue jadi melankolis seketika. Gue rasanya pengen nangis.

Gue merasakan tangan Arie di bahu gue. Itu cukup menahan air mata gue yang hampir saja jatuh.

“Yo, elu kenapa?”

Gue geleng kepala.

Arie meluk bahu gue. Gue menekan jidat gue ke dadanya lebih dalam.

“Rie, gue pengen tidur…” kata gue.

“Oke…” Arie melerai pelukannya.

Gue menegakkan kepala dan beringsut ke samping tubuhnya. Lantas berbaring dan menarik selimut sampai ke dada.

Arie duduk mematung di tempatnya.

Gue menghela nafas dan menegakkan kepala dan mendekat ke arahnya. Gue memeluk pinggang telanjangnya. Arie pun langsung mengawasi gerakan gue.

Entah berapa lama gue berbaring sambil memeluk Arie yang tidak berucap sepatah katapun. Dalam keheningan yang tercipta, gue berusaha menenangkan pikiran gue yang kalut. Tapi entah dengan Arie. Gue nggak tahu apa yang ada dalam pikirannya di saat dia membisu seperti itu. Gue juga enggan mengusik kebisuannya. Biar dia tenggelam dalam pikirannya. Toh gue juga lagi nggak mau bercakap-cakap saat ini. Gue nyaman dalam keheningan ini. Gue nyaman memeluk pinggangnya. Ini suasana paling menenangkan yang gue rasakan sejak dua hari lalu dan gue pengen tidur dalam suasana seperti ini…

***

16 thoughts on “Bianglala Satu Warna Chapter XVh-lanjutan

  1. sasukechan 08/19/2013 pukul 9:42 am Reply

    gw pikir ada adegan seks antara mario ama arie, tapi ternyata belum saatnya wkwkwkwkkkkkkk….. ayo mario putusin aja johan trus kejar arie lagi

  2. chochowlatte 08/19/2013 pukul 10:18 am Reply

    aw..aw..awww~~ *A*
    nge-jleb bgt dah ML ama arie trnyataa tak di duga tak di sangkaa (=w=)/
    jk ayah tau mati kau >:3
    johan harus segera minta maap !

    • sisipelangi 08/21/2013 pukul 8:25 am Reply

      @choco haha. Entah apa yg tjd kalo johan tau…kkk

  3. ray_har 08/19/2013 pukul 10:40 am Reply

    yaaaaah gak jd ml ma arie… #penonton kecewa :p

  4. Fajar 08/19/2013 pukul 10:47 am Reply

    emosinya kerasa banget. Si Johan emang keterlaluan kalau sampai si Mario jadi begitu. Ck. Doa gue sih, pengennya si Johan nantinya di buat galau segalau-galaunya sama si Mario. biar dia tau rasa ╰(◣﹏◢)╯

  5. bebongg 08/19/2013 pukul 12:29 pm Reply

    udah bener2 hopeless gue.. terserah si Johan deh :’

  6. PUTTRA P 08/20/2013 pukul 3:19 pm Reply

    gk tau kenapa kurang banyak,,gw pingin liat johan gmna ditinggal saat malem itu ma mario:/

  7. lian25 08/20/2013 pukul 5:55 pm Reply

    Kyk nya aku aja yg bersyukur arie-mario g jd gtuan nya,
    Msh trs berharap mga mario ttp sama johan,
    Johan mimta maaf gihh,,,

    • sisipelangi 08/21/2013 pukul 8:28 am Reply

      @lian25 msh dukung mario-johan ya bray??

  8. PUTTRA P 08/21/2013 pukul 7:45 am Reply

    eh iya 1 lagi,,,perasaan walupun kita udah menghapus perasaan orang yg kita sukai dulu,,rasa itu ttp membekas deh gk semuanya hilang,,mungkin lebih tepatnya tertutupi oleh rasa cinta kita ke pacar saat ini,,tp rasa itu bisa muncul lg karena kenangan masa lalu kaya terulang shg rasa yg tertutupi bisa kluar lg…klo dsni mario kaya dah mati rasa ma arie kaya kurang logic jg klo dikenyataan. mungkin bro santay ngambil dri pngmnannya ya?

  9. sisipelangi 08/21/2013 pukul 8:35 am Reply

    @puttra benar bray. Emang kita gak bs menghps kenangan gitu aja. Tp di posisi mario, dia ketemu arie di saat ia benar2 lg jatuh cinta pake banget sm Johan. Lagi pula kalo bisa ditangkap pembaca, perasaan Mario ke Arie msh ada. Buktinya saat ia marah, pikirannya langsung tertuju ke Arie. Ia datang dgn harapan Arie bs mengganti posisi Jo. Tp karena ia lg marah dan kesal krn keinginannya buat ML sm Jo gak terpenuhi [dan itu udah berkali-kali] jd bs dimaklumi kalo Mario merasa seperti itu. Mungkin kalo suasananya beda, ia bs dengan mudah terbawa perasaannya yg dulu ke Arie.
    Satu lagi, di kalimat terakhir, di lubuk hatinya paling dalam Mario msh merasakan bahwa perasaannya ke Arie dulu msh ada. Buktinya ia pengen di peluk sm Arie. Ia merasa nyaman tidur smbl memeluk Arie…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: