I Am A Slave for You Sekuel: I’ll Volunteer

Masih ingat dengan kisah Wahyu? Cowok apes yang dilecehkan cowok rada psycho bernama Rizky? Hmmm, kira-kira bagaimana ya kabar si Wahyu sekarang? Kita intip yuk!

Bagi yang belum baca atau udah lupa monggo dicek di:

Slave Part One|Slave Part two

Sekuel I’am A Slave for You:

I’LL VOLUNTEER.

Wahyu merupakan sosok pribadi yang kuat. Tak mudah trauma dengan kejadian buruk yang pernah dialaminya. Meskipun begitu, bukan berarti ia bisa melupakan begitu saja apa yang sudah menimpanya. Ia tetap waspada akan setiap langkahnya. Terlebih lagi saat hatinya terus mengingatkan bahwa ia masih berutang satu janji konyol dengan cowok psycho itu. Janji yang tak akan pernah dipenuhi oleh Wahyu sampai kapanpun. Menyerahkan tubuhnya untuk diperlakukan sesukanya lagi sama cowok gila itu? Yang benar saja! Itu sama saja ia ikut-ikutan gila! Tapi tentu saja, sekonyol apapun hutang satu ronde itu, tapi Wahyu yakin bagi si Rizky, itu tidak main-main. Cowok itu menganggapnya serius dan di luar sana sedang mencari cara untuk menjeratnya lagi. Oleh karena itu, ia selalu wanti-wanti untuk tidak pergi ke area sekolahan Regi, awal di mana petaka itu terjadi. Ia juga jarang keluar rumah, kecuali ada keperluan mendesak. Pokoknya sebisa mungkin tetap stay di rumah.

Oh, iya, sedikit mengenai Regi, sejujurnya Wahyu sangat marah dan kesal sama sohibnya itu, terutama di minggu pertama pasca ia disekap di rumah Rizky. Bisa dikatakan Regilah yang menjadi biang kerok kejadian buruk yang menimpa dirinya. Gara-gara ia menjemput Regi di sekolahnya, ia jadi bertemu sama makhluk terkutuk macam Rizky. Karena ajakan Regi juga akhirnya ia dijerat sama Rizky dan “menginap” bersama cowok itu sampai pagi. Untungnya pikiran jernihnya masih bisa menguasai otaknya. Ia sadar semua ini bukan salah siapa-siapa, apalagi Regi. Temannya itu tak tahu apa-apa. Jika ada orang yang patut disalahkan, maka dialah Rizky. Yang begitu kejamnya menganiaya orang tak bersalah secara seksual.

Wahyu sadar, ini semua murni apes yang harus ia tanggung, sebagai lika-liku hidup yang siapapun tak ingin mengalaminya, namun mesti ia tanggung. Wahyu tak mau karena aib ini, ia justru terpuruk. Ia malah ingin lebih tegar lagi dan bisa hidup lebih baik tanpa memperdulikan apa yang sudah ia alami. Maka dari itu, ia berhenti menyalahkan Regi. Selain itu ia juga mencoba untuk menerima keadaan dirinya kini.

Dua minggu setelah peristiwa itu, ia sempat ingin menceritakan semuanya ke sahabatnya itu. Tapi niat itu diurungkannya. Entah kenapa, hatinya masih berat untuk membeberkan rahasia itu ke orang lain. Ia belum bisa percaya pada siapapun kecuali hatinya sendiri. Ia takut orang lain tak bisa menjaga mulutnya dan jika itu terjadi habislah dia. Karena itu sampai saat ini menurut Wahyu, tak ada yang tahu soal rahasia kelam itu kecuali dia, Rizky dan Tuhan yang tahu.

***

Tiba-tiba di suatu sore…

Sederet nomor tak dikenal: elu tahu sudah 1 bulan lebih terlewat? Gue gak bisa nunggu lebih lama!

Wahyu mengerutkan keningnya, tak paham apa yang dimaksudkan si pengirim pesan.

Salah kirim kali, Wahyu memilih mengacuhkannya.

Sederet nomor tak dikenal:Wahyu, elu jangan mangkir dari hutang satu ronde kita.

Pesan itu datang lagi. Dan kali ini berhasil membuat Wahyu menelan ludah.

Rizky?!

Dari mana cowok gila ini mendapatkan nomor hape-nya?

Sederet nomor tak dikenal: elu tahu gue bukan orang yang suka basa basi. Elu mo bohongi gue? Nggak ada tempat untuk pembohong buat gue!

Terserah apa kata elu dah! Emang elu pikir gue harus datang lagi menyerahkan diri gitu? Secara gue masih waras, nggak mungkin gue ngelakuin itu! Desis Wahyu dalam hati.

Sederet nomor tak dikenal: ada harga yang harus elu bayar karena kebohongan elu! Gimana kalo teman karib elu, REGI, yang jadi gantinya?

Regi? Jadi penggantinya? Bakal dijadikan korban kayak gue? Mata Wahyu membelalak.

Wahyu tercenung dengan tenggorokan tercekat.

Ia sadar cowok macam Rizky nggak main-main. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Diam saja dan membiarkan Regi jadi korban seperti dirinya?

“Kalo Regi jadi pengganti, setidaknya gue punya teman senasib…” pikiran kejamnya melintas.

“Tapi masa sih gue membiarkan sesuatu yang buruk menimpa dia? Sahabat macam apa gue? Apalagi jika hal yang buruk itu karena gue…” pikiran jernihnya mengingatkan.

“Terus gue harus menghentikan cowok itu, gitu? Datang dan menyerahkan diri supaya Regi nggak diapa-apain?” gugat hati kecilnya.

“Kalo gue ketemu dia lagi, akh…” Wahyu menghentikan ucapannya. Bayangan buruk menari-nari di pelupuk matanya. Penyiksaan yang lebih hebat lagi mungkin akan ia terima. Rizky pasti sangat geram padanya.

Sederet nomor tak dikenal: semuanya di tangan elu.

Wahyu menghela nafasnya. Ia bingung. Dia bukan superhero yang rela mengorbankan diri buat orang lain, tapi ia juga bukan manusia tanpa hati yang bisa diam aja melihat temannya mengalami nasib buruk.

Mondar-mandir di kamar, akhirnya Wahyu memutuskan untuk membalas pesan tersebut.

Wahyu: jangan apa2in teman gue itu.
Sederet nomer tak dikenal: ha! Akhirnya elu balas juga. Semua di tangan elu.

Wahyu: gue bakal datang. Tp gue punya syarat.

Setelah Wahyu mengirim pesan itu, nomor tersebut meneleponnya.

“…” Wahyu mengangkat panggilan tanpa berucap sepatah katapun.

“Halo, my toy, syarat apa, eh?” suara di seberang terdengar renyah dan santai.

“Gue pengen ngomong sama Regi.”

“Regi? Dia gak ada di sini.”

Wahyu mengerutkan keningnya.

“Gue belum ngapa-ngapain dia, jadi elu tenang aja. Dia masih aman di rumahnya, atau di mana pun itu gue nggak peduli.”

Regi nggak ada di sana? Jadi ngapain gue ke situ, desis Wahyu dalam hati.

“Tapi jangan karena Regi nggak ada di sini, jadi elu sok pintar. Menjerat Regi ke sini sesuatu yang mudah buat gue. Elu bakal bayar dengan harga yang mahal kalo elu coba-coba bertindak bodoh, apalagi mangkir dari janji satu ronde kita dan memperingatkan dia… Elu tahu gimana gue kan???”

Rahang Wahyu mengeras.

“Gue sengaja gak nyekap tuh orang, justru demi kebaikan elu. Apa elu mau dia tahu kalo elu sudah melewati malam panjang bareng gue…???”

“Heh, elu emang berhati malaikat ya?” cemooh Wahyu. “Nggak usah basa-basi. Gue langsung aja dengan syarat gue. Pertama, elu jangan melibatkan orang-orang di sekitar gue dalam melampiaskan nafsu bejat elu itu. Kedua, jangan kasih tahu ke siapa-siapa tentang kita, dan ketiga, gue bakal datang asal elu nggak memperlakukan gue dengan kasar…”

“Well, cuma itu syaratnya? Mudah. Gue pikir elu mo minta imbalan yang gede…”

“Jadi elu setuju?”

“Ya, yaaa…”

“Gue serius. Gue nggak mau dikasarin dan dipaksa…”

“Oke. Itu masalah gampang. Kita bisa buat kesepakatan, okey? Sebaiknya elu ke sini sekarang…”

“Ya!”

“Gue di depan rumah elu. Lihat ke jendela!”

“Apa?!” Wahyu langsung melongok ke arah jendela. Sebuah mobil hitam mengkilat terparkir di luar pagar. Sesosok cowok berjaket kulit melambai ke arahnya. Sementara satu tangannya menggenggam hape yang ditempelkan di telinganya.

Wahyu meringis. “Dasar cowok gila…”

***

“Masuk…!” Rizky membukakan pintu mobil untuknya.

Wahyu mendelik dan masuk dengan enggan.

Rizky tersenyum binal lalu menutup pintu mobil, jalan memutari kepala mobilnya dan masuk dari pintu kanan kemudian duduk di belakang kemudi.

“Hari ini sangat cerah. Gimana kabar elu?”

“Amat sangat buruk!” jawab Wahyu tanpa basa basi.

“Oh ya?” Rizky pura-pura terkejut. “Tenang saja. Sebentar lagi gue bakal buat hari elu kembali indah,” sambungnya lagi-lagi dengan senyuman binalnya.

Wahyu membuang pandangan ke luar mobil. Inikah takdir gue? Hatinya menggungat.

Mereka pun sampai di rumah Rizky yang mewah dan megah. Suasana hati Wahyu semakin suram. Rumah ini…, Wahyu tak meneruskan kata hatinya.

“Masuk, yuk!” ajak Rizky. “Nggak perlu sungkan. Bukannya elu udah pernah ke sini, eh?”

Wahyu menelan ludah. Rizky sengaja mengingatkannya tentang malam itu.

“Ayo!” ajak Rizky lagi. Wahyu pun mensejajari langkah Rizky dengan berani. Ia tak ingin menunjukkan ketertekananya di depan cowok brengsek itu.

Rizky tersenyum. “Mau minum?”

“Boleh.”

“Apa?”

“Terserah, asal yang dingin.”

“Oke!” Rizky berjalan gontai menuju dapur. Sementara Wahyu tanpa dipersilahkan langsung duduk ke sofa.

Tak berapa lama kemudian, Rizky datang dengan dua gelas minuman di tangannya.

“Rumah sebesar ini nggak ada pembantu?” tanya Wahyu.

“Ada. Tapi gue pengen ngelayanin elu…”

Wahyu mengangkat sudut kiri atas tangkup bibirnya.

“Oke, sekarang ayo kita bicara!” Rizky merebahkan punggungnya di sandaran sofa.

“Di sini aman?” Wahyu melirik sekeliling.

Rizky terkekeh. “Amaaaannn! Mo maen di sini juga gak akan ada yang mergoki! Jadi elu ngomong aja…”

Wahyu kembali melirik sekeliling, tak bisa mempercayai omongan Rizky begitu aja.

“Hey! Di sini cuma ada satpam, tukang kebun merangkap sopir dan pembantu. Satpam di posnya, tukang kebun di kamarnya dan pembantu di belakang!” terang Rizky.

“Di belakang? Bukan berarti ia nggak bisa dengarkan omongan kit—”

“Okey! Ayo!” Rizky bangkit dan menyambar lengan Wahyu dengan gusar. Ia membawa cowok itu menaiki tiat tangga menuju kamarnya.

Wahyu sedikit panik. Ia belum siap (dan tak pernah siap) jika Rizky ingin menggaulinya…

“Batas keras! Gue bilang gue gak mau dipaksa!” seru Wahyu.

Rizky berhenti dan melepaskan cengkeramannya di lengan Wahyu.

“Elu bikin gue kesal.”

“Sorry…”

“Batas keras? Lanjutkan…” Rizky bersandar di pagar pembatas tangga.

“Gue gak mau elu memperlakukan gue kayak malam itu. Mohon ngerti gue. Gue belum pernah berhubungan badan dan itu nggak manusiawi…”

Rizky diam saja.

“Jangan paksa gue melayani elu terus menerus. Jangan masukin gue secara paksa, jangan suruh gue minum cairan elu…”

“Baiklah!”

Wahyu menunduk.

“Kalo gitu ayo kita mulai sekarang!”

“Se-sekarang?”

“Yup. Sekarang saatnya gue nuntut hak gue!”

Wahyu mengernyitkan dahinya. Hak? Sejak kapan dia berhak atas gue, dan sejak kapan gue punya kewajiban sama dia??? Nggak tahu malu! Gerutu Wahyu.

***

“Beruntung banget orang yang punya teman kayak elu,” komentar Rizky sambil duduk di bibir ranjang dengan kedua lengan bertumpu di atas ranjang.

Wahyu cuma mangut-mangut.

“Tapi gue saranin jangan terlalu baik sama orang. Apa elu udah mikir kalo Regi yang berada di posisi elu, apakah dia bakal melakukan hal yang sama buat elu?”

“Dia bakal ngelakuin hal yang sama. Itulah namanya teman,” jawab Wahyu mantap.

Rizky terkekeh. Ia kemudian berjalan mendekati Wahyu.

“Gue kagum sama elu. Begitu mengagungkan persahabatan…” Rizky melingkarkan kedua lengannya di pinggang Wahyu.

“Tapi gue juga kasihan sama elu…” Rizky membelai rambut yang menutupi kening Wahyu.

“Jangan sok punya hati! Lakukan apa yang ingin elu lakuin. Gue pengen pergi!”

“Hehehe…, bukannya elu sendiri yang tadi bilang nggak mau dipaksa? Tapi, karena elu udah minta, gue siap laksanakan!” Rizky membelai bahu Wahyu.

Wahyu menghela nafas. Tubuhnya seketika kaku.

“Rileks…” kata Rizky seakan tahu apa yang cowok di depannya itu rasakan.

Wahyu mengerjapkan kelopak matanya.

Rizky merunduk sedikit dan meraup bibir Wahyu. Memagut bibir merah itu kasar.

“Lepas pakaian elu!” perintahnya sambil melepas kaus berkerahnya sendiri melewati kepala.

Wahyu melepaskan bajunya dengan enggan.

“Semuanya!” perintah Rizky lagi ketika Wahyu hanya menanggalkan atasannya saja.

Wahyu mendesah, sebagai bentuk keberatannya. Tapi ia nggak mau berkonfrontasi saat ini, sehingga ia menuruti keinginan Rizky.

Rizky terkekeh melihat ketelanjangan Wahyu. Sementara yang ditatap nampak gelisah dan tak nyaman dengan ketelanjangannya.

“Ikut gue!” Rizky melambaikan tangan ke Wahyu sembari melangkah ke ruangan yang dinamainya Ex-Room.

Wahyu memutar bola matanya.

“Elu pilih yang mana?” Rizky menunjukkan scarf dan borgol di tangannya.

Wahyu yang baru tiba di ambang pintu langsung mengernyitkan jidatnya.

Rizky mengangkat dan menggerak-gerakkan scarf di tangan kanan dan borgol di tangan kirinya.

Wahyu menunjuk tangan kanan Rizky.

“Ini? Oke!” Rizky mengalungkan scarf ke lehernya dan menaruh borgol ke atas meja.

“Come to Master!” Rizky duduk dengan santai di bibir ranjang.

Wahyu mendekat.

Rizky tersenyum.

Wahyu duduk di sebelah Rizky.

“Eh, siapa yang nyuruh duduk? Bangun!”

Wahyu mendelik dan bangun dengan cepat.

“Berdiri di depan gue!”

Wahyu maju selangkah dan bergeser ke kanan tepat di hadapan Rizky. Dadanya berdebar nggak karuan. Malu dan merasa sangat direndahkan.

Sementara Rizky lagi-lagi tersenyum sembari menyusuri tubuh Wahyu lewat matanya. Lantas ia menjulurkan lengan kanannya ke arah selangkangan Wahyu. Menggerak-gerakkan twins ball cowok itu.

Wahyu menahan nafas. Guncangan lembut pada twins ball-nya menimbulkan getaran lain. Membuat bola kembarnya itu mulai membesar.

Rizky menyadari itu. Ia sekarang meremas-remas bola kembar itu sehingga Wahyu mendesah. Tapi tiba-tiba ia menghentikan gerakannya. Wahyu langsung bereaksi, menatapnya dengan pandangan tak rela.

“Balik badan!”

Wahyu menggerak-gerakkan bibirnya. Menggerutu tak bersuara.

Plak!

“Adaw!” Wahyu berjengit saat pantatnya ditampar.

Plak!

Kali ini tamparan mendarat di pantat kanannya. Panas.

Plak!

Wahyu memejamkan matanya.

Plak!

“Batas keras!” teriak Wahyu sembari balik badan.

“Gue nggak mau disiksa.”

“Baru aja segitu…”

“Kalo gue diam aja, berapa kali lagi baru elu berhenti nampar gue?!”

“Balik badan!”

Rizky acuh.

“Balik badan! Gue nggak bakal nampar elu lagi!”

Wahyu menarik bibirnya menjadi garis geras dan kembali membelakangi Rizky. Sedetik kemudian, ia merasakan tangan Rizky menangkup kedua bongkah pantatnya. Pelan-pelan jemari cowok itu meremas bongkah pantatnya. Jujur, Wahyu menyukai gerakan lembut yang Rizky lakukan. Ia merasa diperlakukan manusiawi. Untuk beberapa saat ia melupakan bahwa ia melakukan ini dalam tekanan. Namun perasaan itu tak berlangsung lama, ketika ia merasakan Rizky mendorong masuk jarinya ke dalam dirinya secara tiba-tiba. Terang saja tubuhnya langsung menegang. Ia juga menjerit.

“Elu melanggar lagi!”

“Argh!” Rizky mencabut jarinya dengan kasar.

Wahyu kembali menjerit. “Cukup! Gue nggak mau lagi!”

“Elu tuh terlalu banyak protes! Bisa nggak elu diam?”

“Gimana gue nggak protes kalo—” ucapannya terhenti saat kedua lengannya ditarik ke belakang dengan keras.

“Oke, silahkan ngomong!” ia mendengar nafas Rizky memburu.

“Lepasin gue!” Wahyu meronta sambil menahan sakit karena tangannya yang dipelintir.

Rizky tak perduli. Ia justru menurunkan celananya sampai ke pangkal paha. Setelah itu membungkukkan tubuh Wahyu secara paksa, sehingga pantat cowok itu mengarah ke selangkangannya. Tanpa babibu, ia langsung melesakkan juniornya ke dalam diri Wahyu.

“Aaaarrgh!” Wahyu menjerit saat junior Rizky menerobos dirinya dengan paksa.

Rizky mendorong miliknya sedalam mungkin sehingga tubuh Wahyu mengeras. Perlahan ia menarik miliknya keluar, lalu menekannya ke dalam lagi tanpa memperdulikan jeritan Wahyu. Ia sangat kesal dengan ocehan dan komplen cowok ini. Jadi ia masa bodoh dengan istilah batas keras dari Wahyu.

“G-gue–e lepass-siiinn…” Wahyu meronta.

“Kalo elu meronta terus, yang ada elu bakal capek!” Rizky menyetubuhi Wahyu dengan keras dan bertenaga. Juniornya keluar masuk dengan cepat, sehingga terdengar kecipak saat tubuhnya bergesekan dengan pantat Wahyu.

Tubuh Wahyu bergetar hebat. Bergerak seiring hentakan demi hentakan yang dilancarkan Rizky. Ia mencoba berdiri untuk menahan laju junior Rizky. Tapi lengan cowok itu menekan pinggangnya dengan kuat.

Plak!

Tamparan keras mendarat di pantat kanannya. Wahyu menggeram rendah.

Rizky terkekeh mendengar geraman rendah itu. Ia makin bernafsu menyetubuhi Wahyu. Ia mendorong miliknya kuat ke Wahyu lantas membenamkannya sebentar di sana. Menikmati sensasi hangat sembari melengkungkan tubuhnya, menempel pada punggung Wahyu dan mengulum telinga cowok itu lembut.

“Menggeram lagi. Aku suka mendengarnya…” pinta Rizky.

Wahyu mengatup bibirnya rapat-rapat.

“Ayo…!” pinta Rizky sambil menekan miliknya lebih dalam lagi.

“Akhh…” Wahyu tak kuasa mendesah saat milik Rizky menyentuh satu titik—titik rangsangnya mungkin—yang mengirimkan sensasi nikmat ke tubuhnya.

Rizky terkekeh. Ia langsung mengangkap bibir Wahyu yang terbuka. Melumatnya dan menggigit tangkup bibir merah itu.

Wahyu goyah. Lututnya lemas dan serasa tak sanggup menopang dirinya. Ia ingin berbaring. Gempuran Rizky membuatnya limbung.

“Gguee… Lepaasss…!” desisnya.

“Apa?” Rizky menarik miliknya keluar.

Kesempatan itu langsung digunakan Wahyu untuk berdiri, namun sayangnya gerakannya terlambat sedetik. Sebab milik Rizky sudah meluncur masuk lagi ke dalam liangnya.

Wahyu kembali tertunduk sambil mendesah pelan.

Kali ini gerakan Rizky lebih cepat dan brutal. Menghentak dengan kecepatan penuh. Terus merangsek, seakan ingin menerobos sampai ke usus. Ia menarik miliknya sedikit keluar sebagai awalan untuk menghujam lebih dalam lagi.

Wahyu menggigit bibirnya. Berusaha bertahan agar tidak terjerembab ke lantai. Berpegangan pada kedua lututnya yang lemas. Tapi akhirnya tangannya tergelincir jatuh. Rizky buru-buru menangkap pinggang Wahyu dan membantu cowok itu berdiri.

“Rapuh banget sih!” ejek Rizky. Ia kembali menampar pantat Wahyu keras. Lalu memposisikan tubuh cowok itu seperti semula untuk dimasukinya lagi.

Ia baru saja menekan kepala juniornya ke dalam saat telinganya menangkap isak pelan. Ia mengurungkan niatannya dan menarik wajah Wahyu ke arahnya.

Cowok itu menangis. Air mata menetes di kedua pipinya.

“Kok elu nangis sih???”

Wahyu tak menjawab.

“Oke, istirahat sebentar…” Rizky mundur ke belakang sambil menggoyang-goyangkan junior-nya yang masih berdiri.

“Kenapa elu berhenti?! Terus aja!!!” kata Wahyu sambil menahan isak tangisnya.

Rizky hanya senyam-senyum aja.

“Puas elu kan kalo bisa nindas orang?!”

Rizky bangkit dan memegang pundak Wahyu.

“Kan elu sendiri yang bersedia—”

“Tapi bukan berarti elu bisa memperlakukan gue seenaknya. Syarat gue—”

“Ya! Ya! Ya! Elu dari tadi ngomongin syarat mulu. Makanya gue kesal…” terang Rizky sambil mengikuti garis tubuh Wahyu dengan jemarinya.

“Sekarang elu istirahat dulu…”

“Gue nggak mau lagi!”

“Kita belum selesai.”

“Gue mohon, pliiisss. Gue benar-benar mohon sama elu. Gue nggak mau lagi…” Wahyu mengiba.

“Gue janji nggak bakal sekeras tadi.”

“Tetap gue nggak mau…”

Rizky membalas penolakan itu dengan mengangkat tubuh Wahyu dan membaringkannya ke ranjang.

“Pliiissss…” nada suara Wahyu terdengar putus asa.

Rizky tersenyum. Tanpa suara ia membawa bibirnya ke atas nipple Wahyu. Membasahi titik itu dengan ludahnya dan menghisapnya lembut.

Wahyu mengerang. Terlebih saat Rizky menjatuhkan satu tangannya ke atas nipple-nya yang lain. Memainkannya dengan gerakan lambat.

Sudut bibir Rizky tersenyum saat melihat reaksi Wahyu. Ia menghisap nipple cowok itu makin kuat. Dan perut Wahyu mengempis.

“Elu suka?”

Wahyu tergagap.

Rizky terkekeh melihat mimik wajah Wahyu. Ia tahu Wahyu menyukai permainannya, tapi cowok itu malu untuk mengakuinya.

“Baiklah. Bagaimana dengan yang ini?” Rizky merosot turun dan berhenti tepat di bawah pusar Wahyu. Ia menegakkan batang kemaluan cowok itu dengan mulutnya. Dibawanya milik Wahyu ke dalam mulutnya.

Pertama-tama ia menyelubungi kepala junior Wahyu dengan bibirnya. Beberapa kali ia membasahi bagian itu dengan lidahnya. Sesekali ia melakukan gerakan menghisap. Membuat Wahyu terpaksa melengkungkan pinggangnya untuk membendung sensasi yang ada.

“Gimana kalo kita masukin semuanya, eh?” goda Rizky sambil menenggelamkan milik Wahyu ke dalam mulutnya dengan dramatis.

Wahyu mendesah seiring masuknya sedikit demi sedikit kemaluannya ke dalam rongga mulut Rizky.

Basah. Ia merasakan sekujur tubuhnya basah. Darahnya mengalir deras. Rasanya sungguh luar biasa. Pikirannya mengabur seiring dengan gerakan mulut Rizky pada juniornya.

Wahyu menggeliat, mencengkeram seprai dengan kuat. Ia hampir mencapai tepian orgasme. Ia tak tahan menerima lebih banyak lagi, tapi ia juga tak ingin Rizky berhenti. Ia tak rela barang sedetikpun cowok itu melepaskan miliknya. Ia menjatuhkan jemarinya ke atas rambut Rizky dan menekan kepala cowok itu lebih dalam ke arah selangkangannya.

Rizky tersentak. Pikirannya berputar cepat, merespon gerakan Wahyu barusan. Serta merta ia melepaskan milik Wahyu dan mengangkat kepalanya.

Wahyu ikutan tersentak menerima reaksi Rizky yang tiba-tiba. Terlebih lagi saat mendengar nafas cowok itu naik turun dengan berat. Bibir Rizky juga bergetar dengan rahang mengeras.

Rizky perlahan merebahkan tubuhnya ke samping Wahyu. Ia memejamkan mata. Deru nafasnya pun mulai melambat.

Wahyu yang tak mengerti apa yang sedang terjadi terus mengamati Rizky. Ia waspada jika sewaktu-waktu cowok itu bertindak di luar kewajaran.

“Elu boleh pulang,” kata Rizky tiba-tiba.

Wahyu mengerutkan keningnya.

“Ada apa? Kenapa tiba-tiba—”

“Gue pengen istirahat. Elu juga kan?”

“Elu baik-baik aja kan?”

“Cepat pergi sebelum gue berubah pikiran!!!” hardik Rizky.

Wahyu melompat bangun. Ia memunguti pakaiannya yang berserakan dan langsung menuju kamar mandi. Membasuh mukanya dan menyisir rambutnya yang berantakan. Setelah itu mengenakan kembali pakaiannya.

Saat ia keluar dari kamar mandi, ia masih menemui Rizky dalam posisi yang sama. Rebah terlentang dengan pandangan menerawang.

“Gue mau pulang. Elu benaran nggak apa-apa?” tanya Wahyu sekali lagi dari ambang pintu ex-room.

Rizky menoleh ke arahnya.

“Oke, gue pulang…” pamit Wahyu.

“Kenapa elu nanya keadaan gue?” tanya Rizky.

“Maaf, nggak apa-apa,” Wahyu bermaksud melangkah mundur.

“Kenapa?” tanya Rizky lagi.

Wahyu berhenti dan menatap Rizky. “Karena elu tiba-tiba bersikap aneh…” terangnya.

“Gue baik-baik aja. Gue cuma… Capek!”

“Ohhh… Iya. Gue baru tahu elu kenal rasa capek juga,” kata Wahyu sinis.

Rizky tersenyum tipis.

Wahyu bergerak mundur dari ambang pintu.

“Wahyu! Elu mo nemenin gue?”

Wahyu mengernyitkan dahinya.

“Kalo elu mau. Gue nggak bakal minta elu melayani gue. Cuma nemenin gue istirahat…”

Wahyu memainkan sudut bibirnya. Mencerna ucapan Rizky barusan.

“Kalo elu nggak keberatan. Tapi kalo elu mo pulang, juga nggak apa-apa kok. Maaf gue nggak bisa anter…”

Wahyu maju selangkah, tepat di ambang pintu. Hatinya tiba-tiba tergerak mendengar ucapan lembut dan sopan Rizky barusan. Wajah cowok itu nampak lembut dan berbeda dari biasanya.

“Elu sakit?” Wahyu berjalan menghampiri Rizky.

Rizky geleng kepala.

“Elu nampak lemah…”

“Oh ya?” Rizky mengangkat kedua alisnya dengan congkak. Tapi Wahyu bisa merasakan itu dipaksakan.

Wahyu menyentuh kening Rizky. “Nggak panas…”

“Gue emang nggak sakit kok…”

“Terus?”

“Gue cuma capek. Gue pengen tidur. Elu mo nemenin gue tidur?”

Wahyu tak segera menjawab. Melainkan meneliti Rizky dari ujung rambut sampai ujung kaki berulang-ulang.

“Tenang. No sex scene…” kata Rizky meyakinkan. “Kalo elu mau, ayo kita pindah ke kamar. Kita bisa nonton teve di sana,” Rizky bangkit dan berjalan meninggalkan Wahyu yang masih berdiri di pinggir ranjang.

Wahyu menghela nafas sejenak lantas mengikuti Rizky keluar ruangan kecil itu.

Rizky nampak menghempaskan diri ke ranjang. Ia berbaring terlentang di tengah-tengah ranjang dengan santai meskipun dalam keadaan telanjang.

“Sebaiknya elu pake pakaian dulu…” saran Wahyu.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa,” jawab Wahyu sambil duduk di kursi belajar.

“Kok duduk di sana? Di sini aja!” Rizky menepuk permukaan ranjang di samping tubuhnya.

Wahyu bangkit.

“Kalo mo nonton, itu remot-nya di sebelah teve,” terang Rizky.

Wahyu yang bermaksud ke ranjang langsung berbelok ke arah teve yang berada tepat di depan ranjang. Sekalian saja ia menyalakan teve berukuran jumbo tersebut. Setelah itu ia duduk di samping Rizky.

“Kalo elu mo nonton film, pilih aja DVD-nya di sana,” kasih tahu Rizky sambil mengarahkan telunjuk ke lemari kecil di samping teve.

“Ya.”

“Gue mo tidur,” Rizky menarik selimut menutupi bahunya.

“Oke!”

“Kalo elu mo pulang, jangan lupa pintunya dikunci dari luar. Terus kuncinya masukin lagi lewat bawah.”

“Heeh.”

Rizky membungkus tubuhnya dengan selimut sampai ke kepala, berdehem kecil kemudian hening.

Setelah ditinggal Rizky tidur, suasana rumah semakin bertambah hening. Cuma hanya suara teve yang terdengar.

Cukup lama ia menonton acara teve dengan berganti-ganti channel, sampai bosan melandanya. Ia pun memutuskan untuk keluar kamar. Berkeliling ruangan rumah besar ini sepertinya cukup menarik.

Perjalannya dimulai dengan melintasi ruangan kecil yang hanya bersisi satu set sofa dan kursi santai, sebelum akhirnya berbelok menuruni tangga yang lebar, megah dan kokoh. Setelah kakinya mencapai lantai dasar, ia berjalan lurus, melintasi ruangan luas dengan berbagai macam benda antik berupa patung dan guci. Sementara di dinding dihiasi ornamen dan lukisan-lukisan beraliran surealis.

Anehnya, tak ada satu hiasan yang berupa foto di sepanjang ruangan yang ia lewati. Padahal Wahyu ingin sekali melihat wujud orang tua dan keluarga Rizky. Atau barangkali potret keluarga ini dipajang di ruangan lain? Mungkin.

Ada pertanyaan lain yang mengusik benak Wahyu. Kemanakah orang tua Rizky? Kok mereka nggak pernah kelihatan ke sini? Terus saudara-saudaranya juga nggak ada. Apa mungkin dia anak semata wayang? Ia sama sekali tak mengenal latar belakang cowok berbahaya ini. Apakah keluarganya tahu tentang sepak terjang si Rizky yang kriminal ini?

Gue bakal tanya itu nanti pas dia bangun, kata Wahyu dalam hati.

Setelah berkeliling di beberapa ruangan rumah, Wahyu memutuskan untuk kembali ke kamar. Rasanya sedikit lancang jika ia menelisik seluk beluk rumah ini tanpa sepengatahuan pemiliknya.

Sekembalinya dari luar, Wahyu mendapati Rizky masih tidur. Hanya posisinya saja yang berubah dari terlentang sekarang dalam posisi miring dengan selimut sampai di bahu.

Wajahnya nampak tenang. Jauh dari kesan menyebalkan dan pongah seperti yang selama ini ia tampilkan. Wajahnya seakan tanpa dosa, menerbitkan senyum di bibir Wahyu.

Kenapa sih kelakuan elu nggak secakep paras elu… Desis Wahyu sambil duduk di samping Rizky.

Wahyu menghela nafas kemudian melirik jam dinding. Sudah sore sekarang. Tapi entah kenapa ia enggan rasanya untuk angkat kaki dari sini. Ia ingin menunggu sampai Rizky bangun. Ia sendiri tak mengerti dengan perasaannya. Alih-alih ingin meninggalkannya, ia justru ingin terus menatap bahkan membelai wajah yang tertidur lelap itu.

Aneh.

Elu gila?! Protes hati kecilnya.

Wahyu menghela nafas. Ia menjatuhkan kepalanya ke bantal. Menatap langit-langit dengan serentetan protes di dalam kepalanya…

To be continue…

16 thoughts on “I Am A Slave for You Sekuel: I’ll Volunteer

  1. ray_har 08/16/2013 pukul 11:55 am Reply

    wah ini dilanjut! keren keren keren🙂

  2. Halrien 08/16/2013 pukul 12:32 pm Reply

    Gw kira ga bakal dilanjut. Yang ini bakal jadi series panjang apa cuma series pendek?

  3. barber jacket 08/18/2013 pukul 3:44 am Reply

    The crux of your writing while appearing reasonable at primary, did not really work properly with me after some period. Somewhere throughout the sentences you actually managed to make me a believer unfortunately just for a short while. I however have got a problem with your leaps in logic then one would do well to fill in those gaps. In the event that you actually can accomplish that, I would certainly end up being impressed.

  4. Fajar 08/18/2013 pukul 11:13 pm Reply

    Ayo lanjut, suka bagian akhir nya nih. penasaran sama kelakuan si rizky. kenapa tiba2 dia bersikap bgtu. hmm.. Keren.😀

  5. arixanggara 08/19/2013 pukul 7:41 am Reply

    cerita2 bang santay emang keren2, dari gaya bahasa, sudut pandang dan alurnya. tapi kok full sex scen gitu(AY dan yg ini), apa gak kebangetan kalo anak SMA udah se badung Rizky(di nalar aku ni cerita agak kurang masuk akal) mungkin karena aku penyuka romantic storry kali yaa jadi perjalanan cinta mario and mr jo tetep nomer wahid dari ke4 karya bang cerita2 bang santay emang keren2, dari gaya bahasa, sudut pandang dan cerita2 bang santay emang keren2, dari gaya bahasa, sudut pandang dan alurnya. tapi kok full sex scen gitu(AY dan yg ini), apa gak kebangetan kalo anak SMA udah se badung Rizky(di nalar aku ni cerita agak kurang masuk akal) mungkin karena aku penyuka romantic storry kali yaa jadi perjalanan cinta mario and mr jo tetep nomer wahid dari ke4 karya bang cerita2 bang santay emang keren2, dari gaya bahasa, sudut pandang dan alu

  6. Dhewie Kartika 08/28/2013 pukul 4:29 am Reply

    rizky uda mulai da rasa ma wahyu begitu juga sebaliknya
    hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm

  7. Me and you 09/04/2013 pukul 9:33 am Reply

    Kapan nih lanjutannya?????

  8. World aloner 12/28/2013 pukul 7:27 am Reply

    Ini belum ada lanjutannya ya?

  9. Ary Saputro 06/17/2014 pukul 4:21 am Reply

    cerita nya keren,
    mengingankan saya pada masa lalu saya. (pesan nya nyampek, di tunggu kelanjutannya)

    sayang berbau sex and gay

  10. Jiji 09/28/2014 pukul 5:28 am Reply

    Wahyu suka sama rizky yaaaa ?

  11. rakasangcowokcakep 09/29/2014 pukul 3:37 am Reply

    Selalu berharap, cerita yang ini segera di lanjuuuuut… Udah satu abad kok g ada updatean lagi ??? Ada apa gerangan dengan sang penulis ??? T_T

  12. rindu 10/23/2014 pukul 3:55 pm Reply

    mana ni lanjutannya ????
    Ini belum ada Lanjutannya ya???

  13. Nabil 11/01/2014 pukul 5:38 am Reply

    Lanjut bang. Keren nih cerita. Penasaran gimana perasaan Rizky sebenarnya sama si Wahyu

  14. […] Slave Part One|Slave Part two|Volunteer Part One […]

  15. […] Part One|Slave Part two|Volunteer Part One|Volunteer Part […]

  16. asics onitsuka tiger 07/17/2015 pukul 9:36 am Reply

    asics shoes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: