AY: The Wildest Night Part Four & Five [End]

Chapter Four

Milik Bima belum sepenuhnya menegang, tapi hampir berdiri tegak lurus dengan tubuhnya. Dia menarik tubuhku kearahnya, mengangkat seluruh beratku dengan satu tangan. Aku duduk mengangkangi lututnya dan memegang miliknya di tanganku sekali lagi.

Dia mengulurkan tangan dan membuka laci di meja sebelah tempat tidur, merobek satu pengaman dari rentengannya dan membukanya. Aku mengambil pengaman itu darinya dan membentang di atas puncak kemaluannya, menggulung ke bawah dengan dua tangan secara bergantian. Saat sudah terpasang, dengan memegang pinggulku Bima mengangkat dan membimbingku ke arah kemaluannya. Aku memegangi miliknya dengan satu tangan dan menjajaki milikku dengan ujung kepala juniornya.

Aku menahan tubuhku di atasnya sejenak, menatap ke arahnya, mata kita bertemu. Aku bersumpah ada bunga api yang terbang di udara, meskipun hanya sesaat. Aku membenamkan diriku ke bawah dalam satu gerakan lambat, terengah-engah, mulutku gemetar saat dia meregangkan milikku lebih lebar untuk menerima dirinya. Ya Tuhan, miliknya besar. Dia mengisiku, dan membuatku meregang untuk menyesuaikannya.

Dia mengerang saat aku melingkupinya, geraman rendah seperti predator di belakang tenggorokannya, suara primitif yang membuatku jadi liar. Aku menyangga tubuhku dengan tangan di dadanya dan mulai memutar pinggulku dengan pelan, terukur tanpa tergesa-gesa, membiarkan milikku menyesuaikan ukurannya. Dia bahkan belum sepenuhnya masuk ke dalam, dan aku sudah menuju ke arah orgasme. Aku tak bisa bernapas merasakan dirinya ada di dalam diriku, dan malah bertambah buruk ketika ia membelai dadaku dengan tangannya dan melakukan sihirnya lagi, memutar- mutar dan mencubit kedua nipple-ku dengan tangannya yang besar.

“Seberapa sering kau melakukannya dengan mantanmu?” Bima bertanya, nyaris belum menggerakkan pinggulnya, belum menyodok sama sekali. “Kau masih ketat.”

Aku menarik napas untuk bicara. “Tidak tentu. Entahlah, mungkin milikmu yang terlampau besar, Tuan,” godaku.

Ia terkekeh. “Oh ya? Kuharap tidak menyakitimu…”

Aku menggeleng sembari mengangkat pinggul hingga membuatnya hampir keluar dariku, dan dia mendorong ke arahku, ingin menenggelamkan dirinya lagi. Aku mengempaskan diriku, dan kali ini aku mengambil seluruh miliknya ke dalam diriku, sampai ke dasar, mengendaskan pinggulku padanya. Aku ambruk ke atas tubuhnya, melumat bibirnya, napasku terengah, lembab keringat mulai terasa di tulang punggungku.

Api bergolak di dalam perutku, menyebar ke setiap jengkal tubuhku, merespon setiap pergerakan Bima di dalam tubuhku. Ia bergerak dan berdenyut. Setiap gerakannya mengirim ekstasi mendebarkan ke seluruh tubuhku, menyesakkan napas, mengeluarkan rintihan dari tenggorokanku. Aku menyesuaikan ritmenya, hanya sedikit bergerak masuk dan keluar, aku mencengkeram tubuhnya, lenganku di lehernya, seluruh tubuhku menempel pada tubuhnya, keringat kita bertemu dan napas kita bersatu. Bibirnya menyentuh bahuku dan jari-jarinya mencengkeram pinggul dan pahaku, berusaha mengambil kendali.

Aku merasa otot-ototnya tegang dalam sentuhanku, dan kemudian ada saat memusingkan ketika ruang merentang dan berputar dan tiba-tiba Bima sudah berada di atas tubuhku, tubuhnya berat tapi tidak menekanku, sekarang miliknya di dorong sepenuhnya tapi tidak menerjang. Mulutnya menemukan nipple-ku, dan dia menggigit tonjolan sensitif itu dengan giginya, menyebabkan lenguhan kecil dariku.

Bima bergerak makin bersemangat sekarang, menarik keluar dirinya lebih jauh dan mendorongnya kembali, dan aku mengerang menyertai setiap gerakan pinggulnya, setiap dorongan nikmat darinya. Aku tak bisa menahan suara yang keluar dariku, suara itu seperti sedang ditarik keluar dariku, dari tenggorokanku tanpa bisa kukendalikan.

“Aku biasanya tidak begitu berisik,” kataku, menanam ciuman di pipi, rahang, dan terakhir bibirnya.

“Jangan berhenti,” katanya. “Aku menyukainya. Aku suka suara yang kau buat…”

“Kalau begitu jangan berhenti apa yang sedang kau lakukan,” kataku, tersenyum diatas mulutnya.

“Tidak akan terjadi.” janji Bima.

Dia menarik keluar sehingga hanya ujungnya yang ada dalam diriku, mengaitkan kakiku di atas bahunya dan menekuk lututnya. Setengah berat tubuh bagian bawahku kini disangga oleh kemaluannya dan kakiku yang ada di pundaknya. Tanganku mencengkeram selimut, mencakar dengan kekuatan putus asa saat ia mulai mendorong dirinya ke dalam diriku, lambat pada awalnya, kemudian kecepatannya mulai meningkat. Pinggulku menempel di pinggulnya, dan sekarang aku menerima miliknya sepenuhnya, seluruh miliknya masuk ke dalam dan menyeruduk dinding bawahku, tergelincir dengan licin kembali keluar, kemudian ia melakukan dari awal lagi hanya untuk menekan hole-ku lagi.

Eranganku sekarang vokal, bukan hanya rintihan napas, tapi suara desahan kenikmatan sepenuhnya. Dia bergabung denganku, menggeram dan mendengus, seperti binatang mengamuk dengan mata liar dan otot berkilat, keringat berkilau dan sensual. Dorongannya bertambah cepat, merangsek sampai ke usus. Aku menggelepar bagai ikan kekurangan air.

Aku menjerit keras sekarang, lebih keras dari suara yang pernah aku keluarkan, saat tubuhku dibawa ke puncak sensasi. Bima juga berteriak, dan kemudian miliknya berdenyut dan mendorong keras. Aku merasa dia klimaks, merasa otot-ototnya menegang dan dia bersandar di atas kakiku. Lalu saat orgasmeku mulai terjadi, aku melihat titik-titik putih diseluruh pandanganku, titik-titik kecil tak berwarna menyebar keluar satu sama lain sampai seluruh dunia menjadi putih sepenuhnya dan tubuhku terkurung dalam ekstasi dan kejang yang begitu kuat dan tak berujung, tanpa henti. Miliknya terus tenggelam dalam diriku, mendorong ledakan dalam tubuhku jadi lebih panas, lebih tinggi, dan lebih kuat.

Dengan gemetar kugenggam milikku yang semakin mengeras, memompanya kuat dengan tanganku. Ada sesuatu yang mendesak ingin terbebaskan di dalam sana. Merangsek maju dengan cepat bagai air bah lalu meluncur keluar berkali-kali tepat saat ledakan bergulir melalui tubuhku, aku mengejang, dan terkulai.

Tapi tidak dengan Bima. Ia masih bergelut dengan miliknya di dalam diriku. Terus menghentak penuh tenaga, menggila dan membuat seluruh tubuhku bergetar. Kupikir ia akan meledak ketika ia terus mendorong, menuju puncak orgasmenya.

Entah bagaimana tiba-tiba kakiku sudah berada di tempat tidur dan tubuh Bima sudah ada di atas tubuhku dan miliknya masih berdenyut di dalam diriku, menarik sisa-sisa terakhir dari sensasi dari dalam tubuhku.

Napasku terengah-engah dan otakku berputar lambat. Benar-benar orgasme yang intens.

“Ini adalah benar-benar seks terbaik dalam hidupku…” desisku.

Bima menoleh dan menurunkan bibirnya ke bibirku. Ia menciumku dengan kelembutan yang mengejutkan.

Aku mengulurkan tanganku ke bawah dan membelai miliknya yang mulai membesar, kemudian menyadari bahwa ia masih mengenakan pengaman, lemas dan basah. Aku menariknya bebas dan meletakkan pengaman itu di meja samping tempat tidur. Bima mengangkat alis ke arahku, lalu meraih satu pengaman lagi.

Aku menghentikannya. “Bagaimana jika kita meninggalkan itu?” kataku sambil menunjuk kondom di tangannya.

“Aku lebih suka tidak mengambil risiko.”

“Aku belum pernah melakukan tanpa itu.”

“Itu bagus. Sebaiknya harus selalu begitu.”

“Kau pernah melakukannya tanpa pengaman?” Aku mulai menyentuh miliknya lagi, menggeser tanganku pada miliknya yang licin dan basah kuyup. Bima mengerang, menekan dahinya ke dahiku. Dia menggerakkan pinggulnya dengan halus. Omong-omong, sekarang ia sudah ereksi sepenuhnya.

“Ya dan…”

“Aku ingin merasakannya bersamamu,” potongku sambil menariknya masuk ke dalam diriku, dan dia masih ragu-ragu, mencoba untuk menariknya keluar.

“Pliisss,” pintaku. “aku ingin merasakan milikmu keluar di dalam diriku.”

“Seharusnya jangan…” tolaknya.

Tapi itu sudah terlambat. Aku menggesek kearahnya, meregang dan siap untuk menerima dirinya.

Dia mengerang, setengah nikmat dan setengah frustrasi.

“Kita sama-sama sehat,” desis Bima meyakinkan dirinya lalu ia berguling dariku, mengabaikan jeritan protesku. Dia meluncur turun dari tempat tidur, menyambar tumitku dan menarikku ke arahnya. Dia menarik kakiku yang lain dan memutar kakiku hingga aku tak punya pilihan selain berguling tengkurap. Aku melihat ia menyeringai sangat lebar, menyeret pantatku ke arah miliknya yang tegang. Dia membiarkan jari kakiku menyentuh lantai, lalu menyelipkan tangan di bawah panggulku dan mengangkatku, mendorong bantal di bawah perutku, rendah, sehingga pantatku menjadi lebih tinggi.

Bima menggenggam miliknya dan menyenggolkannya di pantatku, menggeser ujungnya ke bawah celahku, kemudian turun. Aku melebarkan kakiku, merasakan tangannya mencengkeram pantatku dan menyebarkannya terpisah.

Dia menampar pantatku dengan tangannya, cukup keras hingga menyengat, menyebabkan jeritan terkejut dariku, kemudian dia mencium tempat di mana ia menampar tadi, mengubah jeritanku menjadi erangan. Dia melakukan hal yang sama ke sisi yang lain, dan kali ini ketika ia menciumnya, aku mendorong pinggulku kearahnya. Dia bergantian menampar dan mencium pantatku berkali-kali sampai aku tak bisa menerimanya lagi, dan tepat pada saat itu, ia mengelus telapak tangannya di kulit pantatku.

Aku memutar pinggulku lagi, permohonan tanpa kata meminta dirinya tanpa pelindung di dalam diriku.

Dia menggeser miliknya ke celah pantatku, kemudian berhenti. Aku menahan nafas. Tiba-tiba aku merasakan dirinya masuk ke dalam, selambat dan sehati-hati seperti yang pertama tadi. Dia membenamkan miliknya ke dalam diriku, mendorong miliknya sampai pangkalnya dalam satu gerakan. Aku melengkungkan punggung ke arah dalam dan tersentak.

Bima meletakkan tangannya di pantatku, mendorong pantatku ke arah dirinya sambil mencengkeram satu pinggulku dan meningkatkan temponya, sekarang lebih yakin pada dirinya sendiri karena ia tahu aku bisa menerimanya lebih terbuka dari yang sebelumnya. Selusin dorongan kemudian, aku merasakan orgasmeku terbangun dan pinggulku mulai berputar terhadap miliknya. Bima pun mempercepat gerakannya sekarang.

Ketika aku mengerang lupa daratan, dia menggapai ke bawah, mencondongkan tubuhnya ke arahku, dan menemukan milikku yang menegang. Ia menggerakkan tangannya dengan intens di sana.

“Oh God…!!” teriakku.

Aku orgasme dengan keras. Aku melihat bintang-bintang lagi, dan merasa kejang di tubuh bagian bawahku. Tapi Bima tak berhenti, dan aku menyadari bahwa dia baru saja mulai. Kemaluannya masih menyodok ke dalam diriku, dan aku menjerit dan mengerang di atas selimut karena orgasme terus meroket melandaku.

Ia mulai mendengus, hembusan napas yang panjang dan serak, dan ia mendorong lebih keras lagi ke arahku, milikku mengetat, mencengkeram, menjepit miliknya, kemudian ia klimaks dan semua kendali menghilang.

Dia menghentak ke dalam diriku, dan aku merasakan bolanya menampar dan berdenyut. Klimaksnya seperti banjir panas di dalam diriku, mengisi setiap ruang yang tak tersentuh oleh kemaluannya dengan cairan kental.

Bima membungkuk di atasku sekarang, napas terengah-engah di atas rambutku yang masih basah, napas kasar dan putus asa mencari udara. Seluruh tubuhnya gemetar, menjalar ke arahku, denyutan tak terkendali miliknya ke dalam diriku.

“Jika aku orgasme sekali lagi aku pasti mati,” bisikku.

Bima mengangkat tubuhnya dariku, tapi aku sudah seperti jelly, tak bisa bergerak dan ia harus mengangkatku, membaringkanku ke tempat tidur.

“Aku tak pernah klimaks sebegitu hebat seumur hidupku,” kata Bima.

Aku menyeringai. “Yah, sepertinya setelah ini kau akan mendapatkannya lebih banyak lagi….” desisku.

***

Chapter Five

Kami melakukannya lagi malam itu, dua kali, sebelum jatuh tertidur setelah fajar. Setiap kali lebih panas dari sebelumnya. Ketika Bima dan aku akhirnya jatuh ke pelukan masing-masing, kami berdua kehabisan tenaga dan kelewat lelah.

Seluruh badanku pegal, tapi aku begitu menikmatinya.

Aku terbangun oleh cahaya pagi yang tertuju padaku dari jendela, dan Bima duduk di tempat tidur di sampingku dengan secangkir kopi di kedua tangan, aroma kopi telah membangunkanku.

“Pagi, tukang tidur,” katanya, menyodorkan kopi saat aku duduk, aku tak mau repot-repot menutupi tubuhku dengan selimut.

Aku nyengir.

Kami lantas meneguk kopi masing-masing dalam keheningan. Aku tergoda untuk menciumnya, tapi aku tahu bagaimana mulutku, dan aku merasa perlu gosok gigi dulu.

Saat aku keluar dari kamar mandi, kulihat ia sudah berpakain rapi.

“Mau kemana?” tanyaku.

“Aku harus ke kantor sekarang.”

“Kau? Pekerja kantoran? Kau lebih cocok jadi marinir…”

Ia tertawa sambil merapikan kemeja di sekitar ikat pinggangnya. Pandanganku langsung mengembara ke tonjolannya. Aku menginginkannya lagi.

Aku mendekatinya dan menyentuh retsletingnya.

Dia mundur, menyeringai. “Tidak, tidak bisa. Aku harus pergi sekarang sebelum terlambat.”

Aku mengejarnya melintasi ruangan sampai aku membuat dia terpojok. Dia menatap ke arahku, dengan mata terbakar.

“Fabiooo…” ia memperingatkanku.

Aku berlutut di depannya, membuka retsleting dan menarik celananya ke bawah sehingga kemaluannya yang memanjang melompat bebas. Dia tersentak ketika aku membawanya jauh ke dalam tenggorokanku tanpa banyak peringatan.

“Kita bisa melakukan ini,” kataku, menyebarkan air liurku padanya, dengan kedua tangan.

Dia terasa bersih dan enak. Dia klimaks dengan keras, dan cepat. Aku menyelipkan kembali miliknya ke dalam celananya dan berdiri, menyeka bibirku dengan punggung tanganku, terengah-engah.

“Ohhh, kau tahu, tadi, aku sudah memikirkan untuk berlibur denganmu, jika kau mau…” ia mengucapkannya sedikit terputus-putus.

“Benarkah?”

“Iya.”

“Kemana?”

Ia mengangkat bahunya dan mematut diri di cermin.

“Maksudnya?”

“Tunggu saja. Tapi yang pasti kau harus bersiap jika sewaktu-waktu kuajak, oke?”

Aku terkekeh. “Tentu. Aku tak akan melepaskan ini…” aku meremas ereksinya.

“Hey! Kau tak bisa membangunkannya terus menerus…”

“Aku bisa!”

“Baiklah, tapi bisakah kau membuatku bernafas sekarang? Aku harus bekerja…” bisiknya.

“Bisa diatur…” aku mengecup rahangnya.

“Oke. Kau—aku akan pergi. Kuharap kau tidak menemui pria semalam itu.”

“Tidak. Aku akan pulang ke rumah—rumahku. Kau tuanku sekarang,” aku mengedipkan sebelah mata.

Ia mengangkat kedua jempolnya.

Aku tersenyum. Kemarin malam bisa saja sangat buruk, tapi aku juga merasakan itu malam terhebatku. Dan kurasa magis itu akan berlanjut pada malam-malam berikutnya…

*the end*

to be continue to the next Amazing You Series…

One thought on “AY: The Wildest Night Part Four & Five [End]

  1. Tsu no YanYan 11/20/2014 pukul 8:40 am Reply

    I have been waiting for ‘The Next Amazing You Series’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: