Bianglala Satu Warna Chapter VXg-lanjutan

Untuk beberapa detik Mario kebingungan dengan ketidaksinkronan antara pengirim pesan dan isi pesan.

Kok Haris ngirim pesan tentang kemah? Ia kebingungan.

Namun sedetik kemudian jantungnya langsung berdegup kencang. Tepat saat suatu pikiran melintas di kepalanya.

Haris…, Arie…

Spontan ia menoleh ke Arie.

“Kenapa?” tanya Arie saat Mario menatapnya dengan mimik wajah yang tak biasa.

Masa sih? Hati Mario tak bisa mempercayai. Ia kembali membaca pesan itu. Meneliti nama pengirimnya. Siapa tahu tadi ia salah lihat.

Nama pengirim itu tetap Haris.

Entah kenapa ia menjadi gugup. Hatinya berkecamuk. Perlahan ia menekan tombol OK dan kalimat ‘Memanggil Haris…’ langsung tertera di layar handphone-nya.

Handphone Arie berbunyi. Mario langsung menahan nafas.

“Ngapain sih, Mo? Gue angkat nih!”

Jujur, sebagian dari hati kecilnya, Mario berharap handphone Arie nggak berbunyi. Hatinya menolak fakta bahwa Haris itu Arie.

“Woy! Gue angkat ya?!” tegur Arie lagi. “Elu bilang kagak ada pulsa…”

“Pantesan nomer elu nggak aktif pas gue hubungi tadi. Elu sedang jadi Haris,” Mario tak bisa menutupi nada dingin dari suaranya. Ia sendiri tak mengerti mengapa harus mengeluarkan nada sedingin itu.

“Ah?” Arie kebingungan. Tapi sedetik kemudian tersentak dan langsung mengembalikan tampilan handphone-nya ke layar utama.

“Jadi elu lupa…”

Rahang Arie bergerak-gerak sambil terus menatap layar handphone-nya.

“Jadi elu udah tahu siapa gue, Rie?”

Arie tak menjawab.

“Pantesan elu tahu siapa gue. Bahkan mungkin lebih dari yang gue bayangkan. Lebih dari yang gue ceritain selama ini…” Mario tertawa miris. “Cerita panjang lebar…, pura-pura jadi cowok normal di hadapan elu…, konyol banget gue.”

“Gue juga baru tau, Yo. Gue baru tau kalo yang di forum itu elu pas elu ngasih nomer WA elu ke gue…”

“Gue udah ngasih clue yang jelas banget sebelumnya…”

“Iya. Tapi nggak ada Mario Kampung Jawa. Dan gue nggak kepikiran itu elu. Nggak pernah terpikir. Setelah gue tau kebenarannya, semuanya baru terasa sangat jelas. Kampung Jawa, rumah Mister Jo, tempat elu tinggal sekarang… Siapa yang nyangka?”

Giliran Mario yang diam.

Mereka diam. Lama. Atmosfer terasa berbeda. Mereka seakan kehilangan kata-kata, canggung menguasai, meskipun begitu banyak pertanyaan yang berputar di kepala mereka.

“Jadi… Pak guru itu, Mister Jo?” akhirnya Arie memecahkan kebisuan.

Mario tetap bungkam.

“Pantesan elu dekat banget sama dia, nurut banget sama dia, tinggal bareng dia, ini alasannya…”

Mario masih tak bersuara.

“Dia emang sempurna.”

Mario menghela nafas sepelan mungkin.

Arie tiba-tiba tertawa lirih sambil geleng-geleng kepala.

“Akh! Seak!” umpat Arie geram sambil melepas tutup handphone-nya, melepas batre serta kartu sim-nya. Setelah itu kartu sim tersebut ia patahkan jadi dua.

Mario yang melihat itu tidak berkomentar apa-apa. Cuma di dalam hati ia terus mengutuk kejadian yang sedang ia alami sekarang. Kenapa? Kenapa Ariesboyz itu harus Arie? Kenapa mesti dia? Sumpah, ia nggak menginginkan ini. Mungkin ia berharap ini terjadi dua bulan yang lalu. Saat ia masih berharap bisa memiliki Arie. Tapi sekarang hidupnya udah beda. Sudah ada Johan di hatinya.

“Gue pulang, Rie…” ia merasa ia masih tak bisa menguasai keadaan. Ia juga tak bisa berkata-kata. Malam ini ia merasa seperti tak mengenal Arie. Semua kehangatan beberapa saat yang lalu menguap begitu saja. Yang ia inginkan sekarang jauh dari sahabatnya itu.

Arie hanya diam saat ia pamit. Mungkin Arie-pun merasakan hal yang sama. Pun saat tubuh Mario menghilang di balik pintu kamar, ia masih dalam posisi yang sama.

***

Sesampai di rumah, Mario langsung masuk ke kamar, diikuti sama Johan.

“Kalo tadi mo nginap juga nggak apa-apa, Oh,” kata Johan sambil naik dan bersender di kepala ranjang.

“Nggak,” jawab Mario singkat. Ia berganti pakaian lalu ke kamar mandi.

Di kamar mandi ia tercenung sejenak. Dadanya kembali bergemuruh mengingat Arie. Rasa sesak menghimpit dadanya. Dengan malas ia menggosok gigi, cuci muka, tangan dan kaki. Dinginnya air tak mampu meredakan emosinya. Ya. Ia emosi. Ia merasa sangat emosional sekali.

Setelah bersih-bersih selesai, ia tak segera keluar dari kamar mandi. Kembali berdiri kaku dengan wajah menghadap cermin. Meneliti tatapan matanya yang nanar. Dadanya semakin sesak. Rasa panas menjalar naik ke matanya dan ia menangis.

Jujur, ia tak tahu kenapa ia mengeluarkan air mata. Perasaannya campur aduk sekarang. Sedih, kecewa, marah, terluka…

Cukup lama ia membiarkan air matanya bergulir jatuh membasahi pipinya, tanpa suara, tetap mematung menghadap cermin.

Apa yang gue tangisi? Usik hati kecilnya.

Mario mengucap matanya yang masih terasa panas. Kembali membasuh mukanya berkali-kali dan menyeka wajahnya dengan handuk hingga kering. Menarik nafas sebentar lalu keluar kamar.

Johan masih di posisi semula saat ia kembali. Santai sambil menonton TV. Mario mendesah dan menatap pacarnya itu beberapa detik saat hendak menutup pintu kamar.

Sekelabat wajah Arie kembali melintas di pelupuk matanya. Ia menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir wajah itu. Ia langsung naik ke atas tempat tidur dan mencium pipi Johan.

Johan menoleh dan tersenyum. Ia menaruh telapak tangannya ke atas kepala Mario.

“Mana oleh-oleh dari Arie? Ada nggak buat Ayah?” tanya Johan.

Mario menghela napas mendengar pertanyaan Johan barusan. Ia juga baru ingat kalau kemeja hadiah dari Arie juga lupa ia ambil di atas meja belajar tadi.

“Cuma keripik sanjai doang…”

“Mana? Kok nggak bawain buat Ayah?”

“Ish, kita kan bisa beli…”

“Hmmm, kan beda rasanya kalo oleh-oleh…”

Mario mangut-mangut.

“Oh, ya, gimana tadi hadiah ultah buat dia? Suka nggak?”

“Suka lah! Mustahil nggak suka…”

“Hehehe…”

“Makasih atas sarannya. Kalo Y–Oh, ultah, hadiahnya lebih keren dari itu, oke?”

“Terserah yang ngasih hadiah dong…”

“Iyaa. Eh, kalo Oh ultah, Ayah mau ngasih kado apa?”

“Rahasia dong!”

“Uh.”

“Kalo kamu?”

“Uhmmm, apa ya? Oh mo kasih raga Oh aja deh!”

Johan mengerutkan keningnya.

“Kalo hati kan udah Oh berikan ke Ayah sekarang. Nah, kalo raga kan belum…”

“Buat apa?”

“Terserah Ayah mo diapin. Mo dipake mungkin…”

“Emang baju.”

“You know what I mean, Yah…”

“I dunno…”

“Huh!!! Pura-pura bego.”

“Udah ah. Ayah nggak mau bahas itu,” pungkas Johan.

“Ya udah! Kelonin!” pinta Mario dingin. Malam ini ia ingin diperlakukan manja sama Johan. Ia ingin menutupi suasana hatinya.

***

Keesokan harinya…

*On WhatsApp*

Arie: Bray, kemeja elu ketinggln (07.06)

Mario: Ya (07.08)

Arie: Kita bs ngomong? (07.08)

Mario: soal apa? (07.09)

Arie: semalam. Gue harap elu gak marah sm gue ya (07.09)
Arie: Mo, elu marah y? (07.10)
Arie: Bray (07.15)

Mario: nggak (07.16)

Arie: Smoga itu benar ya. Krn gue punya penjelasan atas semua tindakan gue itu (07.16)

Mario: iya (07.17)

Mario menghela nafas. Melempar handphone ke samping tubuhnya. Lantas terdiam. Ia merasa kacau, tapi hatinya kosong.

“Morniiingg…”

Mario menoleh dengan malas. Ia hampir saja melupakan Johan yang sedang push up di lantai.

“Morning…” balasnya pelan.

“Bangun-bangun udah manyun…” ledek Johan sambil kembali memalingkan wajahnya lurus ke lantai.

Mario tak menjawab. Ia kembali diam, menghela nafas berat, diam lagi. Tercenung lalu mengacak rambutnya gemas.

“Hmmm…!”

Mario kembali menoleh ke Johan. Tapi Johan malah fokus lagi ke gerakan push up-nya.

“Kenapa?” tanya Mario. Ia turun dari ranjang.

“Buruan cuci muka, sapu rumah, terus liat bak mandi tadi airnya udah penuh atau belum…”

“Ogah!” balas Mario cepat. Bukannya segera menuruti perintah Johan, ia malah naik ke atas tubuh Johan yang sedang push up. Berbaring sejajar di atas tubuh pacarnya itu, dengan kedua lengan melingkar di dada Johan.

Johan langsung menghentikan gerakannya.

“Ayo angkat Oh. Bisa nggak?” tantang Mario seraya memeluk Johan lebih erat. Pipinya menempel di punggung Johan dengan mata terpejam.

“Ayooo…, cek bak tadi!”

“Angkat dulu!”

“Oke. Tapi Mario Junior-nya ditidurin dulu…”

Mario nyengir. Efek morning erection masih berlangsung. Juniornya masih mengeras di balik boxer tipisnya.

“Emang masalah?” Mario malah menekan miliknya lebih dalam ke atas tulang ekor Johan.

“Marioooo…!”

“Ya Ayaaahhh…?”

Johan tak menjawab. Ia kembali meneruskan gerakan push up-nya.

Senyum Mario mengembang di atas tubuh Johan. Bukan hanya senyumnya saja, miliknya juga ikutan mengembang di bawah sana.

“Sial…! Mario!” Johan menjatuhkan tubuhnya ke lantai.

“Awww…!” jerit Mario saat kedua lengannya terhimpit lantai dan dada Johan. Ia buru-buru menarik lengannya dari tindihan dada Johan.

“Turun!”

“Nggak!”

“Turun atau Ayah banting kamu?” ancam Johan.

“Ayah, pliiisss… Oh lagi galau. Oh pengen meluk Ayah…” desis Mario.

“Galau, galau. Pagi-pagi udah galau!”

Mario tak merespon. Ia menyembunyikan wajahnya ke punggung Johan. Pikirannya kembali tersita ke Arie.

“Ayaahhh…” ucap Mario.

“Eh?”

Mario bergeser naik dan membenamkan wajahnya di cerukan leher Johan.

“Hey… Ayo, bak tadi udah penuh…” kata Johan lembut.

Mario merengek.

“Ayolaaahhh…”

Mario langsung bangun dengan cepat.

Johan yang menangkap garis keras yang terbentuk di bibir Mario langsung tersenyum tipis. Saat Mario bermaksud keluar kamar, ia segera menahannya.

“Oh…!”

Mario berbalik dan mematung di depan Johan.

“Ke sini dulu…”

Mario menghela nafas dan berjalan dengan sikap malas menghampiri Johan.

“Kenapa lagi?!”

Johan bangkit dari telungkupnya. Ia menarik lengan Mario sembari melemparkan tubuhnya ke ranjang. Mereka berdua pun berbaring di ranjang dengan posisi Mario menindihnya.

Sedetik kemudian bibirnya sudah menempel di bibir Mario. Menghisap lembut kedua tangkup bibir merah brondong kinyis-kinyis itu. Hanya beberapa detik saja.

Mario membuka matanya perlahan. Ciuman yang teramat singkat baginya. Ia merasa belum cukup dan kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Johan.

Johan yang tahu maksud Mario langsung menyambut bibir pacarnya itu lagi. Kali ini lebih lama dan lebih intens. Jujur, ia sangat menyukai tekstur bibir Mario. Ia sangat menikmati rasa bibir Mario yang manis. Dan untuk yang satu ini ia benar-benar tak bisa menolak hasratnya. Meskipun hatinya meronta dan selalu saja berkata “ini nggak benar” tapi ia tak kuasa menolaknya.

Pagutan mereka sangat lembut dan standar. Jauh dari kata liar dan menggebu-gebu. Tapi ciuman sederhana itu mampu menimbulkan percik api di antara mereka. Terutama bagi Mario. Hanya ciumanlah yang bisa ia dapatkan dari Johan sampai saat ini. Dan ia tahu benar ini tak cukup membasuh hasratnya yang besar. Ia menginginkan lebih dari ini. Ia ingin mendaratkan bibirnya ke bagian tubuh Johan yang lain.

Namun lagi-lagi keinginannya dipatahkan oleh Johan. Saat bibirnya bergerak ke dagu, Johan menolak dengan halus. Johan menjauhkan kepala dari bibirnya. Setelah itu menjatuhkan kedua telapak tangannya di kedua sisi wajahnya dan menatap matanya tanpa berkata-kata. Dan lagi-lagi tatapan mata itu yang selalu membuat Mario tak berkutik. Membuatnya tak sanggup meneruskan keinginannya dan memilih menekan hasratnya ke jurang hatinya. Ia kecewa. Selalu kecewa. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.

“Ayo, cek baknya tadi. Ayah mo lanjut sit up,” lerai Johan setelah mengecup kening Mario.

Mario mendesah. Rasa kecewa masih bercokol di benaknya.

Johan mengerti arti desahan Mario. Ia tahu itu desah kekecewaan. Tapi ia tak bisa mengobati kekecewaan itu. Hatinya belum sepenuhnya terbuka. Masih ada penolakan di dalam dirinya.

“Ayo…”

Mario bangkit tanpa berkata-kata dan melesat meninggalkan kamar.

***

7 thoughts on “Bianglala Satu Warna Chapter VXg-lanjutan

  1. bebongg 08/13/2013 pukul 5:32 am Reply

    akhirnyaaaaa….
    update jugaaa!!
    tuhkan arie kan, arie!
    tapi jgn buat mereka musuhan dong😥
    biarkan mereka tetap menjadi sahabat😉

    aahh ayah…
    kan kesian mariooo !
    sekali aja dong buat ayah takluk sama mario! atau ayah yg khilaf ngasi kejuatan ke mario😉

    maap ya bang aku banyak minta, gak usah dihiraukan..
    tapi tolong buat jadi kenyataan😀 *udah2lewatinaja* *cumabecanda*

  2. Tsu no YanYan 08/13/2013 pukul 6:06 am Reply

    kyaaaaa udah update! makin seru! makin penasara!
    ishhh Jo nih gitu banget! ntar Mario berpaling lagi loh ke Arie… ayo yg yakin donk sama perasaan lo Jo!!! *abaikan*

    “Akh! Seak!” umpat Arie geram sambil melepas tutup handphone-nya, melepas batre serta kartu sim-nya. Setelah itu kartu sim tersebut ia patahkan jadi dua. Hmmmm kartunya udah patah, tp kok *On WhatsApp* masih ‘Haris’..?

    lanjut bang^^

  3. jacob damelian S(lian25) 08/13/2013 pukul 9:16 am Reply

    Bro santay,, akhir nya update jga,,,

    Hemmm mga pershbtan arie ma mario g jd kaku,
    Dan smga mario dan arie TETAP SBGAI SAHABAT,,,

  4. sasukechan 08/13/2013 pukul 9:34 am Reply

    lanjut, gw rasa abis ini hubungan antara mario-arie lebih kompleks
    mungkin juga jo akhirnya memilih meninggalkan mario lewat ajeng?
    dan akhirnya arie-mario jadian n live happily ever after, wkwkwk….

  5. PUTTRA P 08/13/2013 pukul 4:10 pm Reply

    dengan sihir cinta gw harap mario dan arie bisa jadian,,,,clinggggg
    #gk jelas dikit😛
    lama nih bro santay gw sllu pantengin tiap ahri lhooo blognya nunggu updateannya🙂

  6. arixanggara 08/13/2013 pukul 6:36 pm Reply

    tuhhh kan, jadi tambah rumit hidup mario…!

  7. Dan 08/14/2013 pukul 1:38 pm Reply

    Jo – top kan? Tapi pasif
    Mario – Bottom kan? agresif, tapi kalah sama Jo yang pasif -…- sumpeh ini pasangan bikin gigit jari gregetan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: