AY: The Wildest Night Part Two

“Apa yang kau lakukan, Fabio?!” seru Yukos histeris.

Dia berdiri di sampingku, meraih lenganku. Aku menarik diri dan ia menjatuhkan lengannya ke sisi tubuhnya.

“Mendapatkan tumpangan,” jawabku tenang.

“Tumpangan? Siapa dia???”

Temanku – yang baru aku sadari namanya aku tak tahu – menggeram di dadanya seperti beruang.

Yukos mundur dan menempel ke mobilnya. “Jadi begini?” Yukos menatapku nyalang.

Aku mendesah dan menyeka air hujan dari wajahku. Sementara sang biker hanya duduk dengan pasif, mendengarkan dan tidak menanggapi.

“Kos, aku udah bilang hubungan kita telah berakhir. Jadi nggak usah ikut campur!”

Mata Yukos goyah dan dia melangkah ke arahku lagi, meraih lenganku dan mencoba untuk menarikku dari atas motor. “Kita bisa memperbaikinya, sayang! Ayo, turun dan kita pulang.”

Aku menyentak bebas lenganku, dan Yukos meraihnya kembali, menarikku sehingga aku hilang keseimbangan. Biker itu menggeram lagi dan mengayunkan tinjunya, tepat mengenai dagu Yukos. Itu adalah pukulan malas, lambat dan hampir disebut santai tapi pukulan itu mengirim Yukos terbang hingga jatuh terduduk di pantatnya.

“Dia gak akan ikut denganmu. Kau sudah punya kesempatan dan kau jelas-jelas sudah mengacaukannya. Jika aku melihat kau mengganggunya lagi, aku akan menghancurkanmu!” ancam sang Biker.

Yukos tak menjawab. Biker itu memutar pedal gas motornya, memutar roda belakang motor melingkar, memuncratkan lumpur ke arah Yukos. Kami masuk ke dalam keramaian lalu lintas dan Biker itu mengendarai motornya dengan cermat dan teliti yang mengejutkanku. Dia telah menakut-nakuti Yukos dengan ban motornya, tapi dia sebenarnya seorang pengendara yang sangat berhati-hati.

Aku tidak memberitahunya ke mana harus pergi, tapi ia sepertinya sudah memiliki tujuannya sendiri. Aku tak perduli dia akan membawaku kemana. Aku mencengkeram perutnya dan membiarkan dia berkendara.

Dia membawaku ke sebuah bangunan megah di kawasan elite kota ini. Aku turun dengan kaki gemetar. Tentu saja setelah sekian lama bermandi hujan.

Dia meraih tanganku. “Ayo, mari kita keringkan tubuhmu.”

“Dimana kita?”

“Rumahku. Kupikir karena bocah itu bilang ia ingin membawamu pulang ke rumah berarti kau tinggal bersamanya, dan aku rasa kau belum ingin kembali ke sana kan?”

Aku mangut-mangut.

“Tidak masalahkan?”

Aku melangkah lebih dekat lagi, dan sekarang aku hampir menempel dirinya.

“Tapi sebaiknya aku tahu dulu siapa namamu, bukan?”

“Aku Bima Dewangga,” Ia menarikku untuk berjalan lagi, membawaku memasuki rumah setelah membuka pintu.

“Aku Fabio.”

“Oke, Fabio…” ulangnya.

Kami akhirnya masuk dan aku melihat sekilas dinding putih yang luas dengan lukisan indah, sofa kulit dan kursi empuk, TV besar di dinding, dan patung-patung yang semakin menambah kesan artistik.

Aku tiba-tiba mematung tak tahu harus bagaimana. Menggigil kedinginan dengan pakaian basah yang menetes ke lantai.

Sepertinya Bima memahami kebingunganku. Ia yang melangkah beberapa kaki di depanku tiba-tiba berbalik menghadapku.

“Maafkan aku, kau pasti sangat kedinginan…” katanya. “Baiklah, tanggalkan pakaianmu sementara aku mengambil handuk,” ia melesat pergi entah kemana.

Aku perlahan membuka kemejaku, tapi tidak dengan bawahanku. Sebaiknya setelah ia kembali membawakan handuk untukku.

“Sini,” Bima datang menghampiriku lagi. Tanpa permisi ia langsung menyeka dadaku.

Jarak kami yang sangat dekat membuat hidungku menangkap bau keringat dan kulit basahnya. Aromanya sangat jantan.

Tanpa sadar aku melangkah lebih dekat, sehingga tubuh kami menempel. Kuangkat daguku sedikit demi menghirup aroma maskulinnya. Berada di depannya membuatku sadar betapa gagahnya dia. Bahkan itu sudah ia buktikan saat dia memukul Yukos hingga terlempar, padahal Yukos bukanlah orang bertubuh kecil juga.

Tiba-tiba ia merunduk. Hembusan nafasnya yang hangat mengenai mukaku. Aku langsung merunduk.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Bima pelan.

“Entahlah, aku juga meragukannya…”

Bima terkekeh. Tiba-tiba ia meraih pinggangku dengan tangannya yang besar, menekan tubuhnya keras terhadap tubuhku. Aku merasakan ereksi dibalik celana jinsnya, tonjolan keras yang terasa di perutku. Aku merunduk semakin dalam.

Dia mengangkat daguku. Saat mata kami bertemu, ia langsung menciumku. Aku sudah mengira ketika matanya berubah sayu dan dia bergerak ke arahku. Ciumannya lembut, sensual, dan pelan. Ia menguasai bibirku dengan bibirnya, tidak ragu-ragu tapi juga memberiku kesempatan untuk mendorongnya. Bibirnya bergerak di atas bibirku, dan lidahnya mencari lidahku, dan aku juga tak bisa berhenti menciumnya.

Aku sempat terkejut terhadap perilakuku sendiri, tapi aku mendorong pikiran itu menjauh. Aku menyukai orang ini. Aku suka menciumnya. Aku menyukai kenyataan bahwa ia berbahaya dan asing. Aku belum pernah tidur dengan siapa pun kecuali pacarku, dan aku jelas belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Aku merasa nakal, sensual dan ceroboh, dan aku menyukai itu.

Bima kemudian mendorongku dan membaringkanku di sofa. Aku membungkus lengan dan kakiku pada tubuhnya dan menciumnya dengan segenap gairah yang aku miliki, dan aku merasa ereksinya menggembung dibalik celana jinsnya dan menekan di atas perutku. Aku merasakan dorongan yang gila untuk membuka restleting celana jinsnya dan menyentuhnya.

Tapi tiba-tiba aku bersin. Tentu saja, aku tak pernah bersin hanya sekali saja, selalu setidaknya tiga. Kali ini, itu empat kali, berturut-turut, dan aku nyaris tak berhasil memalingkan kepalaku agar tidak bersin di wajahnya. Aku sangat malu. Tapi aku masih menginginkan dia, aku masih ingin meneruskan dorongan tak bermoralku untuk menyentuh miliknya.

Bima langsung bangun dari atas tubuhku. “Ya Tuhan, kau belum selesai melepas pakaianmu, aku malah menggerayangimu…” ia mengutuk dirinya sendiri.

Aku terkekeh.

“Sebaiknya kau mandi dulu. Ayo!” Dia membawaku ke kamar mandi pribadi. Sebuah kamar mandi mewah. Semuanya berlapis marmer mengkilap dan stainless steel.

Aku memenatap lapar padanya saat ia memutar shower. Celana jins ketat membungkus pantatnya, dan dia masih tegang di balik retsletingnya. Aku berkali-kali memperingatkan diriku sendiri bahwa aku tak seharusnya berada di sini, aku tidak boleh melakukan ini dengan pria yang tidak kukenal sama sekali.

Tapi kenapa tidak? Mengapa aku tidak lakukan ini? Tak ada yang menahanku, benar kan? Sebuah pikiran nakal mengalahkan akal sehatku.

Aku berdiri dan melepas celanaku, menunggunya untuk berbalik dari menyesuaikan suhu air. Dia melihatku berdiri, mengenakan underwear lembab, dan matanya melebar. Jantungku berdebar begitu keras hingga aku yakin dia akan mendengarnya.

Aku sengaja mengenakan undies tipis malam ini karena sebelum pergi kencan berfikir bahwa aku dan Yukos akan memiliki malam yang indah serta berakhir dengan seks yang panas. Tapi ternyata undies ini bukan untuk si brengsek itu. Dan sekarang aku senang, karena di sini ada dewa seks yang benar-benar panas, lebih segala-galanya dibanding pria biseksual menyebalkan itu!

Aku menatap matanya, menelan kegugupanku. Tapi aku berusaha keras untuk tampil percaya diri di hadapannya. Bergerak menjemputnya dan menempelkan tubuhku pada tubuh berototnya. Ereksinya menjadi lebih keras dan lebih besar lagi, dan aku menjilat bibirku, tak menginginkan yang lain kecuali untuk membuka retsleting celana dan melihat apakah ia sesuai dengan visi di kepalaku.

“Segera mandi. Nanti kau flu,” tiba-tiba Bima melerai pelukanku.

Aku langsung merengut.

Dia langsung pergi meninggalkanku yang masih bergelut dengan birahiku.

Sial!

Aku bergegas mandi, menikmati air panas. Secepat dan sebersih mungkin lalu menyambar sebuah handuk hitam tebal yang tergantung di dinding.

***

3 thoughts on “AY: The Wildest Night Part Two

  1. bebongg 08/10/2013 pukul 8:54 am Reply

    nanggung euyy😥
    update lagi, update lagi :*
    ehemm.. berasa kaya baca yg si playboy, tapi dengan versi lebih hawt :p

  2. jacob damelian S(lian25) 08/10/2013 pukul 9:14 am Reply

    bgs sihh bro santay,tp ttp jo dan mario jdi niatan pertama klo cek ne blog,,,,
    Update mario dan jo jga dongg brooooo,pelissss lahh

  3. Halrien 08/10/2013 pukul 3:24 pm Reply

    Yang ini mirip si perjaka diksi nya. No offensive gw kurang suka cerita yg ini walaupun baru baca 2 part mungkin karena di part ini si main karakter keliatan slutty, ga tau kenapa gw lebih suka bianglala, slave, sama final break up, bianglala walaupun lambat alur nya tapi gw nikmatin tiap paragraf nya, yg ini adegan esek2 nya malah gw skip. Tapi tetep update ya buat pembaca yg laen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: