AY: The Wildest Night Part One

“Io, aku minta maaf,” kata Yukos. “Itu hanya komentar bodoh.”

Aku memutar mataku dan mendongkol. “Terserah. Tapi kau yang mengatakannya. Oke, kau minta maaf. Aku maafin. Tapi apa itu memperbaiki keadaan? Tidak sama sekali. Jangan ganggu aku. Antar aku pulang.”

“Ayolah, sayang. Aku bisa berbuat lebih baik. Aku akan berubah.”

“Ya. Pernah dengar kata-kata itu juga. Baru saja minggu lalu.” Aku memandang ke luar jendela dari VW Golf milik Yukos, menonton pinggiran jalan yang basah kuyup oleh hujan, kelabu dan menjemukan.

Sama seperti hidupku.

“Jadi, kamu pengin aku gimana? Aku bilang akan melakukan lebih baik lagi, dan aku akan melakukannya. Itu nggak cukup buat kamu?”

Aku tak ingin menjawab pertanyaan itu, jadi aku diam. Otakku sekarang sibuk memikirkan kejadian sebulan terakhir yang panjang dan menyakitkan, yang mana kami lebih banyak bertengkar daripada bercumbu, lebih sering mengabaikan masing-masing dari pada pergi berkencan.

“Ayolah, sayang. Kumohon bicaralah padaku.” Yukos menaruh tangannya di kakiku, dan aku menepisnya, menyentak kakiku pergi menjauh.

“Nggak ada lagi yang bisa diomongin. Dari tadi omongan kita muter di situ aja. Ya, kau benar. Kita berantem tentang suatu hal, dan aku beri tahu masalahnya, dan kau memperbaikinya semampumu. Aku mengakui itu, dan itu bagus. Masalahnya adalah, selalu ada saja masalah. Jika bukan satu hal, pasti yang lainnya.”

“Semua orang punya masalah, Io,” kata Yukos. “Tapi kita pasti bisa menyelesaikannya.”

Sekali lagi, aku tak ingin menjawab. Satu tanggapan saja akan mengakibatkan lebih banyak perdebatan, putus lagi. Kami telah putus empat kali selama tiga tahun kami bersama-sama, terakhir kali baru saja seminggu yang lalu. Lalu dia menyiapkan kencan romantis sebagai permintaan maaf, dan itu membuatku terkesan, sehingga menghasilkan seks yang cukup spektakuler dipenghujung malam itu. Spektakuler, karena kita sampai melakukan dua kali, yang mana kita tak pernah melakukannya selama berbulan-bulan.

Setelah malam itu aku optimis hubungan kami akan bergairah kembali. Tapi ternyata aku salah. Aku memergokinya menatap wanita. Aku paham dan memberinya sedikit kelonggaran. Aku tahu dia suka wanita juga. Tapi bukan berarti ia harus melakukannya terang-terangan dihadapanku kan? Apalagi kita sedang berkencan.

Parahnya lagi saatku tegur, ia justru menatapku kesal sambil berkata, “Wanita itu masa depanku. Kita berdua tidak untuk selamanya kan?”

Terang saja darahku menggelegak. Bisa-bisanya ia berkata begitu saat ini. Menyinggung perasaanku. Aku memang pure gay. Apakah ini isyarat kalau ia akan melepaskanku? Apakah ini isyarat kalau ia tak serius sama hubungan kami?

Sial.

Semua rencana indahku buyar seketika. Padahal semuanya sudah kusiapkan dengan baik, berpakaian rapi dengan memesan tempat di restoran favoritku, sebotol anggur yang bukan-paling-murah, percakapan yang baik di mana aku secara singkat mengingatkannya mengapa aku jatuh cinta padanya. Dia pernah mempesona dan lucu, dan ia cukup panas, menurut ukuran orang kebanyakan. Dia adalah tetangga sebelah rumah temanku.

Kembali ke situasi saat ini…, sekarang adalah puncak kekesalanku setelah sekian lama menumpuk di belakang kepalaku. Hari ini ia mengeluarkan komentar seenak jidatnya, seminggu lalu kedapatan menggoda brondong siswa sekolah menengah atas, sebulan lalu kedapatan flirting dengan gadis seberang rumah… Akh!!! Semua kecurangannya itu membuat darahku menggelegak. Aku tak tahan lagi!!!

Aku membuka pintu mobil dan keluar.

“Sayang… Kau mau kemana?”

Aku tetap diam dan mulai menyusuri trotoar. Sementara Yukos tetap mengikutiku dengan mobilnya.

Dan… Sial! Kenapa hujan sih?! Kenapa semuanya terasa sangat menyebalkan!

Hujannya sekali turun langsung lebat! Kalau tahu begini, aku tidak akan keluar dari mobil. Aku menyesali dalam hati.

“Masuk,” kata Yukos. “Kau bisa sakit.”

Aku berdiri, mengharapkan ia langsung berada di sebelahku, membantuku. Benarkah? Tidak. Dia tetap duduk di dalam mobil, mengobrak-abrik di kursi belakang untuk mencari handuk untuk dibaringkan di jok kulitnya. Dia mendorong pintu terbuka dari dalam.

Aku menatap, dengan mulut ternganga. Dia bahkan tak bisa keluar dari mobil untuk membantuku? Bagus.

“Buruan masuk. Kursi kulitku nanti basah!”

Aku tertawa, menggelengkan kepala. “Kau memang luar biasa.”

Gengsiku bermain. Tidak akan! Aku meneruskan langkah.

“Fabio, jangan bego. Ayo masuk.”

“Menyingkirlah. Kita putus!”

“Kita lima mil dari rumah, sekarang hujan, kau basah kuyup, dan kau berjalan ke arah yang salah. Masuk akallah, untuk sekali saja.” Yukos tidak memohon, atau keluar untuk memohon padaku, atau memaksaku untuk melakukan hal yang masuk akal, ia hanya mengemudi disebelahku dalam VW Golf kecilnya dan bicara padaku, dengan tenang, melalui celah jendela. Hanya celah, sehingga hujan tak bisa merusak jok kulit mobilnya.

“Terus? Apa pedulimu? Pergi aja sana!”

“Ntar aku benar-benar pergi lho!” nada suara Yukos mengancam.

“Pergi! Pergi!”

“Oke. Aku serius. Terserah kamu mau apa.”

Aku tak berkata apa-apa sampai Yukos benar-benar melaju pergi.

Brengsek.

Aku terus saja berjalan melalui genangan air dan lumpur, semakin basah dan basah, rambutku jadi rata diatas kulit kepalaku. Ketika Yukos sudah tak terlihat, aku membiarkan air mataku jatuh. Tangisan yang membakar mata dan mengaburkan pandanganku.

Aku tidak memperhatikan saat deru kendaraan perlahan melewatiku. Aku tak memperhatikan, hanya terus melangkah, menangis, menatap kearah kakiku dan mengutuk Yukos. Oleh karena itu, aku juga tidak melihat ketika sebuah Moge Ducati minggir di pinggir jalan dan berhenti, aku juga tak melihat saat pengendaranya turun dan berdiri di depan motornya, menunggu.

Aku berjalan tepat kearahnya.

Dia bertubuh besar, padat, dan basah kuyup. Dia berbau kulit basah. Aku tak tahu kenapa ia berhenti jadi aku terus melangkah ketika ia menangkap lenganku. Aku mendongak dan benar-benar tersentak saat sepasang mata kecokelatan jernih menembus kearahku, penuh simpati dan perhatian.

Dia mengenakan jaket kulit motor yang sporty. Celana jinsnya yang ketat, hitam, dan kelihatannya mahal. Ia juga memakai sepatu boot sehingga menambah kesan macho-nya. Rambutnya tebal, hitam, dan menempel di dahinya. Perawakannya bak seorang Marinir, atau mantan marinir. Dia tampak seperti itu. Dia juga tinggi. Kurasa mencapai 180-an cm. Dadanya bidang, bahu dan lengannya tampak sangat besar bahkan ketika tertutup jaket kulitnya.

“Apakah kau baik-baik saja?” Suaranya dalam dan halus, sementara tangannya yang hangat pada kulit telanjangku, dan ia masih belum melepaskan, meskipun aku secara terbuka mengamati tubuhnya.

“Apakah aku terlihat baik-baik saja?” balasku. Aku tidak menangis lagi, karena dia mengejutkanku.

Mulutnya melengkung dan diluruskan. “Kau tampak…marah. Dan basah.”

“Lebih kurang seperti itu.”

Dia masih memegang tanganku, seolah-olah aku akan limbung jika tak dipegangi. Well, aku mungkin akan jatuh sebenarnya. Apalagi jika matanya yang berapi-api terus tertuju kearahku lebih lama lagi. Dia membalas tatapanku dengan stabil.

“Butuh tumpangan?” Dia bertanya, mengacungkan ibu jarinya ke arah sepeda motornya.

Sejenak aku terdiam. Perawakannya yang tinggi besar membuatku berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana jika ia jahat? Akh, tapi apa yang ia incar dariku? Aku tak memiliki barang berharga sama sekali! Bahkan, aku baru ingat sekarang kalau handphone-ku saja tertinggal di dashboard mobil Yukos.

“Bagaimana?” lelaki itu mengejutkanku. “Apa aku terlihat mengerikan?” ia mencoba tersenyum ramah.

“Terima kasih, aku senang mendapat tumpangan,” kataku akhirnya.

Ia tersenyum lagi. Kamipun naik lantas Motornya menyala dengan raungan serak. Ia memundurkan motornya dan memutar pedal gas sehingga kita melompat ke depan, mesin mengaum dan ban tergelincir meluncur di jalan yang basah. Gemuruhnya memekakkan telinga, bergetar sampai ke kaki dan perutku.
Kami melewati persimpangan tempat aku melompat keluar dari mobil Yukos, tapi kami tidak lebih dari satu mil ketika kami melewati VW Golf milik Yukos datang menuju ke arah kami. Mungkin dia tadi putar balik dan berpikir untuk menjemputku. Tapi itu tak ada gunanya, sudah terlambat baginya.

Yukos melihatku di atas sepeda motor dan benar-benar menyentakkan mobilnya dan berputar dengan cara yang sangat kasar. Dia berhenti di samping sepeda motor dan memberi isyarat ke arah sisi jalan, menunjukkan dia ingin kami menepi. Teman biker baruku berpaling untuk menatap curiga padaku. Aku mengangguk.

Yukos menjerit mengatakan berhenti dan aku merasakan diriku geli bahwa ia mendadak mengemudi seperti orang gila, sekarang ketika aku bersama pria lain. Sekali lagi, yang berputar di pikiranku adalah tak ada gunanya, sudah terlambat.

***

12 thoughts on “AY: The Wildest Night Part One

  1. rez1 08/09/2013 pukul 8:40 am Reply

    >_< urggh. cerita nya keren. bahasanya juga gag berat. suka deh. hehhe

    • sisipelangi 08/10/2013 pukul 4:05 am Reply

      @rez1 thx bray. Dr forum juga ya???

      • rez1 08/21/2013 pukul 1:32 am

        iya hehhhee… lebih sering kesini drpd forum. lebih up to date hahaa

  2. bebongg 08/09/2013 pukul 10:05 am Reply

    kalo bahasa alaynya mah ini tuh “kewl” kemaren yo, skg io :-*
    aku suka yg imut2😀
    btw, kayanya gue bakal benci sama karakter si yukos :@
    bianglala satu warnanya jangan lupa ya😉

    • sisipelangi 08/10/2013 pukul 4:06 am Reply

      @bebong kewl apaan sih bel?

      • bebongg 08/10/2013 pukul 9:03 am

        cool abang, cool maksudnya mah😀
        yg bianglala satu warna dong😥
        ditamatin dulu😉

  3. andre 08/09/2013 pukul 4:23 pm Reply

    sipp…

  4. ray_har 08/09/2013 pukul 8:53 pm Reply

    menarik banget.. ditunggu lanjutannya🙂

  5. chochowlatte 08/15/2013 pukul 4:31 am Reply

    w pengennya ayah tetep sama mario :3

  6. nick 04/27/2014 pukul 4:58 am Reply

    berasa de javu baca ini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: