Bianglala Satu Warna Chapter XVf.a

Sekitar pukul tujuh pagi, Mario dan Johan sudah bersiap hendak pergi. Tepatnya setelah Johan selesai mandi. Sedangkan Mario cuma cuci muka aja dengan alasan sudah mandi junub setelah insiden mimpi basah di atas tubuh Johan, hihihi.

“Lho, kalian mo kemana pagi-pagi gini?” tanya Ibu saat mereka berdua pamit.

“Mo sepedaan di pantai, Ma,” jawab Johan.

“Sarapan dulu,” Bapak yang lagi baca koran ikutan nimbrung.

“Kita bakal sarapan di luar, Pa,” kata Johan.

“Kenapa mesti di luar, eh? Di rumah aja…” saran Ibu.

“Pengen cari suasana yang beda aja, Ma. Si Dedek Mario ini pengen sarapan di pantaaaaiii…” Johan menepuk pundak Mario.

“Ooohhh, gituuu. Mumpung lagi di sini ya, Yo? Belum pernah sarapan di pantai?” tanya Ibu sambil tersenyum ramah.

“Belum pernah, Bu…”

“Ya udah. Hati-hati aja. Pilih menu yang sehat ya…” pesan Ibu.

Mario dan Johan menangguk berbarengan.

“Kak Reno mana? Belum bangun?” tanya Johan saat pamit ke Bapak.

“Sudah. Lagi di kamar,” Ibu yang jawab.

Johan yang terus dibuntuti Mario akhirnya beralih menuju kamar Reno.

“Kaaakkk…!” panggil Johan seraya mengetuk pintu kamar Reno.

“Yaa…??!!”

“Mau ke pantai nggak?”

“Nggak deh.”

“Sepedaan?”

“Kalian aja!”

“Ya udah. Kita pergi ya…!”

“Ya, ya! Hati-hati!”

“Yoyoiii!!!”

“Kak Reno suka olahraga nggak, Yah?” tanya Mario saat mereka baru hendak meninggalkan rumah.

“Biasa aja.”

“Ooohhh…”

“Emang napa?”

“Kan Minggu nih…, moment-nya pas buat olahraga pagi…” jawab Mario sambil naik ke atas jok motor di belakang Johan.

“Dia sih biasanya olahraga sore hari,” terang Johan seraya membawa motornya meninggalkan rumah.

“Olahraga apa yang dia suka?”

“Basket, futsal, bulu tangkis…”

“Jago nggak mainnya?”

“Dari dulu dia selalu jadi tim inti di basket dan futsal…”

“Keren yah…”

“Biasa aja! Ayah juga bisa main basket sama futsal…”

“Tapi pasti kalah jago dari dia.”

Johan menoleh dan memelototi Mario.

Mario langsung nyengir.

“Kenapa malah ngomongin dia?”

“Hehehe…”

“Dari tadi pagi nanyain dia mulu. Kamu suka sama dia?”

“Ayah cemburu?”

“Gatel!”

“Wew! Enak aja! Khawatir ya kalo Yo bisa gaet dia, eh?”

“Mana mungkin!”

“Lha terus kenapa cemburu?”

“Bukan cemburu. Cuma nggak mau aja kalo kalo dia sampai kayak aku. Cukup aku aja deh yang jadi gila kayak gini… Huuffhhh…” Johan menghembuskan nafas berat. “Dia harus lurus sampai mati…”

“Amiiinnn…!”

“Awas kalo kamu pengaruhi orang lain…!”

“Pengaruhi apanya? Siapa juga yang mempengaruhi,” bantah Mario.

“Mata dijaga!”

“Mata siapa?”

“Hati dijaga!”

Mario yang duduk di belakang Johan memutar bola matanya.

“Mau makan apa kamu?”

“Hati!”

“Hati?”

“Eh, tadi Ayah nanya apa?”

“Hmmm, jadi tadi kuping kamu di mana? Dengar nggak apa yang Ayah omongin tadi?”

“Yang mana?”

“Semuanya.”

“Dengar…, tentang jaga mata, jaga hati itukan? Iya! Bakal dijaga just for you, Ayah…!”

“Kita mo sarapan apa?”

“Apa mo ditambah kecupan sayang juga, eh?”

“Marioooo… Tuhkaaannn, kamu yang mulai ngomong yang nggak-nggak… Ayah nggak mau kalo kejadian tadi pagi terulang lagi! Jangan lagi sekali-kali kamu numpahin cairan kamu ke Ayah!”

“Sssttt…! Jangan keras-keras, Yah. Orang pada ngeliatin tuh…” bisik Mario.

Johan langsung melirak-lirik ke kiri kanan. Kebetulan mereka berhenti di lampu merah, otomatis beberapa pengendara bisa mendengar omongannya dengan jelas.

Wah, apa yang mereka pikirkan ya? Tanya Johan dalam hati.

“Denger nggak, Yo? Ayah tuh paling nggak suka kalo anak-anaknya ceroboh! Kamu kalo makan grasa-grusu. Untung cairan minumannya tadi cuma kena baju dia, kalo kena mukanya gimana?!” sambung Johan dengan volume suara seperti semula.

Mario menahan bibir rapat-rapat untuk menahan tawanya yang hampir meledak. Improvisasi si Johan benar-benar mengocok perut dan membuat imajinasi vulgar-nya terpampang nyata.

Cairan minuman? Ribet amat dah! Di mana-mana kalo orang ngomong minuman nggak pernah pake kata tambahan cairan di awalnya. Maksa banget deh, gelak Mario dalam hati.

Satu lagi, numpahin cairan, yang dalam konteks ini, tentu saja yang Mario pikirkan adalah cairannya tadi pagi, tumpah di wajah Ayah? Oh Tuhaaannn…, juniornya naik seketika. Itukan adegan klimaks di film-film porno?? Wkakak.

Mario membentur-benturkan keningnya ke punggung Johan.

“Eh, kenapa?”

“Nggak apa-apa,” Mario masih menahan tawanya.

“Kamu ketawa?”

“Eeennggg…, iyaa…”

“Kenapa?” Johan kembali memacu motornya setelah lampu berganti hijau.

“Improv Ayah maksa banget! Masa cairan minuman sih???”

“Hehe… Gara-gara kamu!”

“Kenapa Yo lagi? Salah Ayah ngomongnya pake toa…”

“Emang apa yang salah sama cairan minuman? Segala sesuatu yang diminum itu berbentuk cairan kan???”

“Iya. Tapi kita jarang, bahkan Yo gak pernah dengar orang ngomong cairan minuman. Apalagi saat ngomong informal…, kalo dalam ilmu bahasa itu namanya PEM-BO-RO-SAN KA-TA!!!”

“Hahaha…! Ada soal mengenai pemborosan kata di soal UN kemarin?”

“Nggak tahu, nggak inget!”

“Apa sih yang otak kamu ingat, eh?”

“Cairan, hihihi…!”

Terus mengobrol dengan sesekali perdebatan kecil, tak terasa mengantarkan mereka ke kawasan pantai kembali. Karena masih pagi, jadi suasana belum seramai malam kemarin. Mereka juga bisa leluasa memilih tempat di restoran yang mereka datangi.

Kelar makan mereka duduk cukup lama di resto tersebut sambil menikmati pemandangan laut yang biru dan tenang. Setelah itu mereka berdua menuju tempat penyewaan sepeda.

Mereka berdua menyewa dua buah sepeda masing-masing seharga Rp.25.000,00 dan bersepeda santai mengikuti garis pantai di jalan yang sudah disediakan.

Deburan ombak lembut yang terkadang hanya berjarak beberapa langkah dari jalan begitu membawa suasana berbeda. Riuh tapi menenangkan. Gemericik air perlahan menjadi buih-buih putih saat membentur bebatuan menjadi pemandangan yang menarik.

“Yah, kalo gak salah, katanya Pantai Panjang ini merupakan pantai terpanjang seasia tenggara ya?”

“Yup.”

“Faktanya?”

“Kurang tahu. Pernah baca di internet. Coba baca sendiri…”

Setelah cukup lama bersepeda melewati garis pantai, mereka berdua berbelok ke kanan, melewati jembatan kecil menuju hutan pinus dengan jalan semen yang hanya bisa dilewati dua orang bersisian. Jalan tersebut membelah hutan dan menawarkan pemadangan hijau, sebagai sisi lain yang menarik dari pantai panjang. Beberapa kali mereka melintasi atau bertemu dengan orang yang jogging menggunakan jalan tersebut. Oh, iya, jalan kecil ini merupakan satu-satunya jalur alternatif untuk pulang ke tempat semula (ke tempat penyewaan sepeda) selain harus putar arah melewati jalur awal yang mereka dengan mengikuti garis pantai.

Kelar bersepeda mereka berdua memesan es dogan (kelapa muda) yang banyak ditawarkan di sekitar pantai. Rasa haus dan panas perlahan hilang setelah segarnya es dogan melewati tenggorokan.

“Habis ini kita pulang ya?” ajak Johan.

“Katanya mo ke bioskop?”

“Kan siang ntar. Kita pulang ke rumah dulu, lunch, baru nonton. Habis nonton kita langsung pulang ke Curup.”

“Habis nonton langsung ke Curup? Jadi nggak balik ke rumah kakak lagi?”

“Nggak. Repot amat bolak-balik…”

“Ya, ya… Oke.”

Mereka berdua pun menuju parkiran dan kembali ke rumah orang tua Johan. Menghabiskan waktu di sana sampai waktu makan siang, setelah itu ke bioskop dan akhirnya bertolak kembali ke Curup.

***

Kenanga: O, gk ada tuh haris yg tinggal di sukowati (14.15)

Sebuah pesan WA masuk. Mario langsung menepuk jidatnya sesaat membaca isi pesan tersebut. Ia nyaris terlupa dengan perihal ini.

“Nggak ada? Hmmm…berarti tuh orang boong dong…” gumam Mario.

“Apa?” rupanya Johan yang tengah konsentrasi ke jalanan mendengar gumamamnya.

“Ini, Yah, barusan Kenanga kasih tahu ke Yo, kalo gak ada yang siswa SMANSA kelas XII yang namanya Haris dan tinggal di Sukowati,” terang Mario.

“Haris itu siapa?”

“Itu, teman forum yang ngajak Yo ketemuan…”

“Ooohhh, yang kamu kasih tahu waktu itu?”

“Yup.”

“Nggak ada? Berarti dia boong dong?”

“Iya!” jawab Mario seraya mengetik jawaban pesan WA Kenanga barusan.

Mario_cute: emang ada brp orang yg namanya Haris angkatan kita, Ke? (14.18)

Kenanga: 2 org. Haris Fatur sama Haris Pramono. (14.19)

Mario_cute: anak ipa y? (14.19)

Kenanga: yup. Fatur tinggal di Mojorejo, Haris Pram di Sambe Lama. (14.21)

Mario_cute: oohh, gitu ya? Yakin nih gak ada Haris lain? (14.22)

Kenanga: yakin! Gue dah tanya ke teman-teman. Emang napa sih? (14.23)

Mario_cute: ada tetangga teman gue yg di bkl, katanya punya sepupu yg sklh di smansa. Namanya haris. Btw, thx ya Ke. (14.25)

Kenanga: oh geto. Gak ada! Salah kali sekolahnya. Yup, you’re welcome,🙂 (14.26)

Kenanga: eh, O, anak ips jd nggak sih kemah bersama? (14.26)

Mario_cute: g tau gue. Kata Abim bakal di infokan ke grup fb. Udh ada blm? (14.27)

Kenanga: beluuummm. Mknya gue nanya ke elu. (14.29)

Mario_cute: coba elu tanya ke dia. Gue g ada nomernya. Bilang ke dia lekas infokan dong. Biar anak2 yg lg liburan di luar kota bisa siap2 pulang. (14.30)

Kenanga: sip. Ntar diksh tau. Eh, itu acaranya sblm pengumuman kan??? (14.30)

Mario_cute: enaknya sih sebelum. Kalo sesudah, kalo ada yg kagak lulus gmn? Kan berat buat mereka datang. Kita2 jg udh mulai sibuk sm persiapan msk PNT. (14.32)

Kenanga: PNT? PTN kaleee! (14.32)

Mario_cute: oh, iya sori. (14.33)

Kenanga: btw elu lg dmn skrg? (14.34)

Mario_cute: di hatimuuu. (14.34)

Kenanga: [emot shy] (14.34)

Mario_cute: gue lg dijln mo pulang curup nih. Gue kmrn ke bkl. (14.35)

Kenanga: ooohhh. Hati-hati ya, Say. (14.36)

“Kata Kenanga, di sekolah cuma ada dua Haris, Yah…” beritahu Mario lagi.

“Mungkin masih ada Haris lain. Kenapa nggak coba nanya ke teman yang lain? Eh, Arie pasti tahu!” usul Johan. “Nah, kenapa kamu gak nanya ke dia? Apa kabar tuh anak sekarang?”

“Huhhh… Nomernya kagak aktif! Tahu dah, sombong amat tuh monyet! Awas aja pas dia pulang ntar!”

“Masih marah kali!”

“Bukan tipe kek Arie sih yang suka ngambekan. Apalagi kalo marah. Tapi, gak tahu juga sih, siapa tahu sifatnya akhir-akhir ini berubah…”

“Lagi ada masalah kali…”

“Mungkin. Eh, Ayah mo gantian nggak bawa motornya?”

“Nggak usah.”

“Ya udah,” Mario kembali melirik layar handphone-nya.

Sinyal nampak naik turun nggak stabil. Rasanya ia nggak mungkin bisa mengakses internet saat ini. Memang sinyal untuk 3G di daerah Liku Sembilan (daerah gunung, jalur lintas Bengkulu-Curup) belum mendukung. Padahal Mario udah nggak sabaran pengen buka forum Boyzforum untuk menanyakan kebenaran informasi yang diberikan Ariesboyz.

Huhhh, ia menghela nafas frustasi lalu memasukkan handphone ke saku jaketnya.

***

8 thoughts on “Bianglala Satu Warna Chapter XVf.a

  1. sasukechan 07/22/2013 pukul 9:14 am Reply

    Kocak, kenapa jadi cerita komedi ya bro santay? Wkwkwk….
    Arie udah tau kayaknya n marah ama mario makanya ponselnya dimatiin, hmm…..
    Kok gak ada dr sudut pandang mario lagi? Apa khusus yg hwot aja ya bro?

    Anyway pertamax gak ya?

    • jacob damelian S(lian25) 07/22/2013 pukul 9:21 am Reply

      Aku pkr aku yg pertama ternyata bukan,,, hemmmmmmmmm
      Kecewa kecewaa,,,

      • sasukechan 07/23/2013 pukul 12:40 am

        Hehehe… Coba lg bro *berasa quiz*

    • sisipelangi 07/22/2013 pukul 4:35 pm Reply

      @sasukechan masa sih jg komedi? Hehe.

      Bukannya sebelumnya banyakan pov-nya si Mario?

    • sisipelangi 07/22/2013 pukul 4:36 pm Reply

      @sasukechan masa sih jg
      komedi? Hehe. Bukannya sebelumnya
      banyakan pov-nya si Mario? 

  2. jacob damelian S(lian25) 07/22/2013 pukul 9:19 am Reply

    Wahh wahhh wahhh update cerita sklian promosi kawasan wisata di daerah pantai panjang ne kayak nya hahah,,,

    Sklian sisipin pic daerah pantai trs jalanan buat main sepedaan itu dong bro santay,
    Biar imajinasi nya makin tinggi kan lumayan buat ngisi waktu SANTAY berimajinasi ria hahahah,,,

    • sisipelangi 07/22/2013 pukul 4:37 pm Reply

      @lian25 pengen sih pake unggah foto gitu. Tp ribet nih sering ol via mobile. Ntar deh coba tak cari gambarnya dulu…hehe

      • jacob damelian S(lian25) 07/22/2013 pukul 10:03 pm

        Sipp sippp
        Ditunggu ditunggu,,,,
        Jdi penasaran ma kota bengkulu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s