Si Perjaka dan Si Playboy Chapter Eight

Dengan handuk melilit di pinggang, Mike mengikuti Julian keluar dari kamar mandi. “Julian, itu tidak benar, maksudku, malam ini tidak seperti malam yang dibicarakan semua orang. Aku mungkin hanyalah seorang playboy seperti yang kamu minta, dengan bottom yang berbeda setiap minggunya, dan aku dapat meyakinkanmu, tidak pernah ada yang membuatku merasa seperti ini.”

Julian memiringkan kepalanya dan menatap Mike. “Aku yakin kau benar. Aku tidak mungkin bersaing dengan para bottom berpengalaman yang berkencan denganmu selama ini.”

“Julian, bukan itu yang aku maksudkan. Para bottom itu, aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perbedaannya, tetapi mereka tidak sepertimu. Kamu nyata, tanpa topeng, enak untuk dipeluk dan dimanjakan, setiap inci tubuhmu sangat menarik, kau membuatku bergairah sejak pertama kali bertemu. Tak satu pun dari mereka bisa bersaing denganmu.”

Mike berharap Julian mengerti betapa luar biasanya dia, tapi Mike kuatir kata-katanya kurang bisa menggambarkan maksudnya dengan cukup baik.

Julian tersenyum padanya. “Aku punya guru yang baik. Tapi pak guru, aku sangat mengantuk. Apakah kamu rasa kita bisa berbaring sebentar?”

“Sial, aku tak membawa baju untuk menginap…” Julian mengacak rambut basahnya.

“Tidak perlu baju tidur, cukup naiklah ke tempat tidur dan berpelukan denganku dan kita akan tidur. Ini sudah larut malam.”

Julia menguap lalu tampak terkejut. “Aku benar-benar lupa kau memesan minuman. Dan apa yang ada di piring tertutup itu?” Julian menatap ke atas meja.

“Kalau kau suka, aku akan menuangkan sampanye untuk kita.”

“Aku sangat mengantuk…tapi apa yang ada di piring?”

“Silakan dibuka dan dilihat apakah ada sesuatu yang kamu suka.”

Julian mengulurkan tangannya di atas kepalanya dan berjalan ke meja.

“Aku tidak tahu, Aku pikir aku terlalu lelah untuk…stroberi! Stroberi dengan gula merah dan krim asam. Oh, aku benar-benar lapar. Ambillah dan buka sampanye-nya – Aku baru saja mendapat angin segar.”

Julian membawa piring hasil jarahan itu ke tempat tidur dan duduk bersilang kaki di dekat kepala ranjang.

“Bagaimana kau tahu?”

“Aku tidak tahu. Ses Anna mengatakan akan ada minuman di dalam ruangan. Aku belum pernah melihat stroberi dengan krim asam sebelumnya.”

“Aku sudah pernah melihatnya di sebuah pesta dan langsung jatuh cinta.”

Julian mengambil stroberi, besar merah dicelupkan ke dalam krim dan kemudian gula. Kristal emas gelap menempel ke sisi berry. “cicipilah.”

Julian mengambil segelas sampanye dari tangan Mike dan mengulurkan stroberi kepadanya untuk digigit. Julian nampak begitu senang, Mike tidak ingin berkata tidak.

Mike mengunyah dan menelan, menutup matanya saat manisnya gula dan krim asam tart bertemu dengan berry yang ranum di dalam mulutnya.

“Ini menakjubkan.”

Mike duduk di tepi tempat tidur di samping Julian dan tersenyum. “Siapa yang menemukan perpaduan yang begitu nikmat rasanya?”

“Aku tidak tahu, seseorang yang sangat cerdas.”

Julian menghabiskan berry pertama dan mencelupkan berry berikutnya, dan menawarkannya ke Mike. Mike menatapnya, duduk bersila dan telanjang di tempat tidur, memegang buah merah dengan lapisan gulanya. Sebuah kencan buta satu malam yang mempesona. Dan Mike, yang memiliki kencan semalam selama beberapa kali dalam sebulan, merasakan getar sayap melankolis mengelilingi hatinya. Beruntungnya orang yang mendapat kata cinta dari pria cute di hadapannya ini. Pasti seseorang tersebut adalah seseorang yang lebih baik dari dirinya. Dia tidak pantas mendapatkan Julian, dan dia sangat yakin akan hal itu. Cukup. Mike menarik napas dalam-dalam. Dia hanya memiliki Julian untuk satu malam.

Julian mendesah dan mendorong piring yang hampir kosong menjauh. Gelas sampanye ia letakkan di meja samping tempat tidur, dan dia meluncur ke tempat tidur dan melengkungkan tubuh ke samping. “Aku harus menutup mataku, hanya untuk satu menit.”

Mike berbaring di belakangnya, menyelinapkan tangannya dan membungkus lengannya di pinggang Julian. Mike menariknya lebih dekat sehingga dapat merasakan ketika tubuh Julian melunak dan napasnya menjadi teratur. Untuk sesaat sebelum Mike jatuh tertidur seperti Julian, pikirannya memikirkan beberapa kemungkinan tentang ide-ide diluar kebiasaannya sebagai playboy. Ternyata satu malam dengan Julian tidak akan cukup.

***

2 thoughts on “Si Perjaka dan Si Playboy Chapter Eight

  1. andre 07/19/2013 pukul 2:39 pm Reply

    moga bukan cinta satu malam ya…

    • sisipelangi 07/20/2013 pukul 2:04 pm Reply

      @andre melinda dong cinta satu malam, xixixixi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: