Bianglala Satu Warna Chapter XVf

“Usianya cukup matang untuk tergoda dengan anak kecil sepertimu,” jawabku.

“Yaelah! Apa hubungannya, woy?!”

“27.”

“Wah, lagi-lagi kuat-kuatnya tuhh…”

“Kuat apanya?”

“Tenaganya…”

“Sok tahu…”

“Menurut BKKBN, usia minimal buat cowok untuk kawin itu adalah 25 tahun. 25, 26, 27—tahun H+3 , berarti masa puncak itu…”

“Puncak apaan?”

“Libido. Lagi kuat-kuatnya di ranjang, kekekeke…”

“Ngawur! Analisa dari mana?”

“Dari BKKBN!”

“Ngasal!”

“Hihihi…”

“Otak kamu tuh kalo nyerempet ke begituan cepat amat konek-nya…”

“Namanya juga masa puber…” Mario ngeles.

“Makanya disalurin—”

“Nah! Itu dia!” potong Mario. “Salurin kemana? Ke Ayah, ya? Ayo!” Ia melompat naik ke atas tubuhku.

“Eh, eh!” aku refleks menahan tubuhnya yang hendak rebahan di atas tubuhku. “Main potong aja! Maksud Ayah itu, salurin ke hal-hal yang positif energi berlebihnya. Terutama olahraga. Biar pikirannya teralihkan ke hal-hal negatif tadi…” terangku sambil terus menahan Mario yang tetap duduk di atas perutku.

Mario mangut-mangut dengan mata mengerjap-kerjap.

“Udah ah! Tidur aja lagi, biar otak kamu tuh segeeerrrr…” pungkasku sambil menarik selimut sampai ke dada, sehingga Mario yang masih duduk di atas perutku, ikut terbungkus juga.

***

***Mario***

Gue tercenung di dalam selimut dengan tentara kecil yang masih mengeras.

Sepagian ini kenapa topik pembicaraan kita menjurus banget yah??? Bikin nafsu gue naik-turun naik-naik ke puncak gunung syahwat.

Ayah juga, terus aja ngeladenin gue. Sengaja banget bikin gue jumpalitan menahan kehendak di pagi yang cukup dingin tapi ‘panas banget’ ini. Tapi anehnya, dia kok bisa tenang gini yah? Apa dia gak konak kayak gue?

Ayo dong, Yah, konak pliiissss. Hahaha. Biar kita bisa saling meng…, meng… Mengkonakkan! Halah! Bukan. Saling memberi kenikmatan!!! Udah di ujung banget ini mah.

Mbak Ajeng. Zttt! Tanpa diminta melintas di benak gue lengkap dengan senyum manisnya. Lalu… Sederet petuahnya pun terurai di kepala gue.

Huuuhhhh… Pundak gue melemas.

Oke. Tahan.

Fine!

Gue merunduk dan merebahkan tubuh pelan-pelan ke atas tubuh Ayah yang ditutupi selimut…

Anjing! Napa Marjun* nggak tidur-tidur juga sih?? Makin keras dan makin membesar pula.

Gue mendongak!

Deg! AYAH?!

WEW! Dia tertidur pulas.

Pikiran nakal melintas di benak gue.

Hmm, Marjun berdenyut. Spontan gue menggesek-gesekkannya ke perut Ayah dengan gerakan naik-turun, lembut dan berirama.

Makin keras.

Gue kembali menatap Ayah. Dia masih tidur.

Akh! Gue udah nggak tahan!

Gue bergegas bangun dan menyibak selimut.

Gleg! Bulge terpampang di depan mata gue.

Ternyata bukan punya gue aja yang masih terjaga, Ajun** pun juga nggak ikutan terlelap seperti tuannya.

Hehehe, gue tertawa di kedalaman sana.

Gue menjulurkan tangan dan meraba gundukan di bawah pusar Ayah itu.

Rupanya… Kau juga menikmatinya kan, Ayah? Dasar! Gue mengerling kayak joker-nya batman seraya menangkap sesuatu yang tersembunyi di balik kain segitiga yang menutupi pinggul Ayah.

Hap!

Yeiy!!! Keras dan berkedut. Hangat juga.

Gue menggenggamnya erat dan gemas. Akhirnya…

Gue melepas undies penutup. Anjrit! Akhirnya gue bisa melihat secara live kontol Ayah.

Oke, sorry, akhirnya, hahahah… Gue gak bisa ramah-tamah pake bahasa kiasan lagi. Gue pake bahasa cabul aja deh biar lancar. Persetan sama bahasa. Gue sangat horny saat nyebut enam huruf itu meskipun cuma dalam hati. Satu kata itu terdengar sangat seksi di telinga gue. Entahlah, rasanya beda aja gitu. Sangat cabul dan liar. Gue pun selalu ngomong kontol atau ‘seak’ saat sama teman-teman.

Kontol, Man! KONTOL!

Gue menatap penuh gairah melihat kontol Ayah yang menjulang dengan kepalanya yang sedikit kemerahan. Gue suka bentuknya, bray! Nggak gede-gede amat, standar lah, tapi bentuknya itu lho, ramping dan meyakinkan. Bersih juga dengan rambut-rambut hitam di sekeliling pangkalnya.

Gue merunduk sedikit demi melihat bola kembarnya. Kencang dan berisi. Gue membelainya dan waw, kenyal! Tanpa sungkan gue membelainya lagi, kali ini dengan lidah gue.

Wah, kayaknya tipe-tipe begini kalo nyodok bakal tahan lama. Itu sih yang gue lihat di film-film porno. Hahaha.

Ayah tiba-tiba menggeliat.

Ampun! Moga-moga dia nggak bangun!

Gue buru-buru menyambar selimut dan menutupi tubuhnya lagi, biar dia nggak kedinginan. Ntar kalo dia ngerasa dingin jadi bangun buat nyari selimut.

Yesss! Dia tidur lagi. Gue menghela nafas pelan. Diam sebentar dengan hati deg-degan. Setelah cukup lama, gue kembali menyibak selimut Ayah pelan-pelan.

Kontolnya masih tegang juga. Hahaha. Emang malam keberuntungan gue deh keknya. Jadi gue nggak perlu susah-susah lagi buat ngebangunin si Ajun.

Ayah gerak lagi.

Akh! Nih orang gerak-gerak mulu sih?! Tidur dengan nyenyak napa??? Gerutu gue kesal.

Ayah menghadapkan wajahnya ke kiri.

Gelisah bener sih???

Gue tiduran di sampingnya sambil membelai kontol gue. Tenang, bray, bentar lagi oke??? Gue menenangkan milik gue yang udah nggak tahan lagi pengen bertempur.

Cukup lama gue berbaring sambil menahan seribu konak. Konak, ya. Bukan onak. Kalo onak mah biasanya kalo di cerita-cerita itu lawannya duri. Jadi onak dan duri. Kalo ini mah konak, kakaknya kolak. Aish!

Ayah udah tidur tanpa bergerak lagi.

Saatnya deh. Langsung aja kali ah! Ntar kalo pake foreplay, Ayah keburu bangun.

Gue naik dan duduk di atas kontol Ayah. Pelan-pelan gue arahin batangnya ke hole gue.

Ummmppp, gue menahan nafas saat kepala Ajun menekan liang gue yang ketat.

Aaakkkhhh, des!

Masuk.

Penuh rasanya, man!

Gue membawa kontol Ayah masuk lebih dalam menjelajahi liang gue.

Akhirnya… Ngentot juga gue.

Enak. Nggak ada rasa sakitnya tuh!

Gue memejamkan mata sambil terus menaik-turunkan pantat gue, membuat kontol Ayah terus menghujam masuk ke dalam liang gue.

Tiba-tiba Ayah mendesah. Spontan gue melirik ke arahnya. Dada gue deg-degan dan gue juga menghentikan gerakan naik-turun di bawah sana. Membiarkan kontol Ayah tenggelam di liang gue.

Gimana nih???

Ayah membuka mata perlahan.

Mampus dah gue!

Perlahan… Perlahan…

“Yo?”

Gue langsung menyambut Ayah dengan gempuran di bibirnya. Gue lumat penuh gairah. Ayah melotot.

Ia bergerak dan kemudian terdiam. Mungkin ia baru menyadari kalau salah satu anggota tubuhnya lagi kelonan di liang gue.

“Kenapa, Yah?” tanya gue santai.

“Kita…”

“ML. Enak nggak?”

Ayah senyum.

Gue menurunkan pantat gue lagi, sehingga kontol Ayah makin melesak masuk ke dalam. Barangkali seluruh batang kontolnya udah masuk ke dalam.

“Aakhhhh…” Ayah mendesah.

Gue terkekeh.

Tiba-tiba gue merasa kontol Ayah bergerak menuju keluar dari liang gue. Gue menatap Ayah dan dia mengerling. Gue ketawa. Ayah menyambut permainan gue.

Ayah membiarkan kepala kontolnya aja yang tetap di dalam liang gue, lalu kembali mendorong ke dalam sampai semua batangnya masuk seperti semula, lalu ditarik keluar lagi, di masukkan lagi. Begitu terus menerus.

Gue sempoyongan rasanya. Seluruh tubuh gue bergetar dan goyah. Meskipun begitu, gue juga tetap nggak mau Ayah menghentikan gerakannya. Gue pengen lagi dan lagi, meskipun setiap hentakannya itu membuat gue limbung.

Semakin lama gerakan Ayah semakin cepat, seiring berhamburannya desah kenikmatan dari bibir kami. Ternyata begini ya the power of sex. Emang memabukkan! Pantesan banyak orang yang gila seks!

Ayah berhenti. Nafasnya terengah-engah. Gue merunduk dan kita berciuman panas dan bergairah. Setelah itu gue kembali duduk dan mengambil kendali. Gue menggerak-gerakkan pinggul maju mundur, membawa kontol Ayah yang gue jepit dengan liang gue yang ketat dan hangat.

Ayah tersenyum. Di tengah puncak birahi seperti ini, ia tetap tampil cool dan penuh kontrol diri.

Sial! Sementara gue udah nggak karuan. Menggila dengan kata-kata cabul terus meluncur dari sela-sela bibir gue.

Cukup lama gue yang mengatur gerakan, sampai kemudian Ayah menarik kontolnya keluar. Tapi kemudian di masukkannya lagi dengan gerakan yang langsung menggila. Cepat dan menghantam sampai ke usus gue rasanya.

Gue berteriak.

“Anjrit, Yah!!!”

Ia terus menyetubuhi gue dengan kecepatan yang sama. Cukup lama, sampai di satu titik ia mendesah pelan, keras dan makin keras diiringi gerakan cepat kemudian menghentak beberapa kali. Hentakan terakhir, ia menghujam liang gue dengan penuh tenaga, sampai-sampai gue rasa bola kembarnya akan ikutan masuk ke dalam liang gue saking bertenaganya.

Rasa hangat mengalir di dalam liang gue pada hentakan paling bertenaga itu. Yeah, Ayah udah mencapai puncak orgasmenya dan melepaskan cairannya ke dalam diri gue…

Author vers:

Shit! Kenapa junior gue nggak tidur-tidur juga sih?? Makin keras dan makin membesar pula.

Gue mendongak!

Deg! AYAH?!

WEW! Dia tertidur pulas.

Pikiran nakal melintas di benak gue.

Hmm, tentara kecil gue berdenyut. Spontan gue menggesek-gesekkannya ke perut Ayah dengan gerakan naik-turun, lembut dan berirama.

Makin keras.

Gue kembali menatap Ayah. Dia masih tidur.

Akh! Gue udah nggak tahan!

Gue bergegas bangun dan menyibak selimut.

Gleg! Ayah membangun tenda kecil dengan underwear-nya di bawah sana.

Ternyata bukan milik gue aja yang masih terjaga, milik Ayah pun sama, membangkang pada tuannya.

Hehehe, gue tertawa di kedalaman sana.

Gue menjulurkan tangan dan meraba gundukan di bawah pusar Ayah itu.

Rupanya… Kau juga menikmatinya kan, Ayah? Dasar! Gue mengerling bak joker sang musuhnya batman seraya menangkap sesuatu yang tersembunyi di balik kain segitiga yang menutupi pinggul Ayah.

Hap!

Yeiy!!! Keras dan berkedut. Hangat juga.

Gue menggenggamnya erat dan gemas. Akhirnya…

Gue melepas undies penutup. Anjrit! Akhirnya gue bisa melihat secara live milik Ayah yang sesungguhnya.

Gue menatap penuh gairah melihat tentara kecil Ayah yang berdiri tegap. Gue suka bentuknya, bray! Standar, tapi ramping dan meyakinkan. Satu lagi, wangi dan bersih! Itu yang penting, meskipun dilindungi oleh rambut-rambut hitam di sekelilingnya.

Gue merunduk sedikit demi melihat bola kembarnya. Kencang dan berisi. Gue membelainya dan waw, kenyal! Tanpa sungkan gue membelainya lagi, kali ini dengan lidah gue.

Wah, kayaknya tipe-tipe begini akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit di ranjang. Itu sih yang gue lihat di film-film porno. Hahaha.

Ayah tiba-tiba menggeliat.

Ampun! Moga-moga dia nggak bangun!

Gue buru-buru menyambar selimut dan menutupi tubuhnya lagi, biar dia nggak kedinginan. Ntar kalo dia ngerasa dingin jadi bangun buat nyari selimut.

Yesss! Dia tidur lagi. Gue menghela nafas pelan. Diam sebentar dengan hati deg-degan. Setelah cukup lama, gue kembali menyibak selimut Ayah pelan-pelan.

Miliknya masih terjaga juga. Hahaha. Emang malam keberuntungan gue deh keknya. Jadi gue nggak perlu susah-susah lagi buat menstimulus miliknya itu.

Ayah bergerak lagi.

Akh! Nih orang gerak-gerak mulu sih?! Tidur dengan nyenyak napa??? Gerutu gue kesal.

Ayah menghadapkan wajahnya ke kiri.

Gelisah bener sih???

Gue tiduran di sampingnya sambil membelai si junior. Tenang, bray, bentar lagi oke??? Gue menenangkan milik gue yang udah nggak tahan lagi pengen bertempur.

Cukup lama gue berbaring sambil menahan gairah yang terus menhujam sampai ke ubun-ubun.

Ayah udah tidur tanpa bergerak lagi.

Saatnya deh. Langsung aja kali ah! Ntar kalo pake foreplay, Ayah keburu bangun.

Gue naik dan duduk di atas Ayah. Pelan-pelan gue arahin tentaranya ke gue.

Ummmppp, gue menahan nafas saat Ayah mulai menekan diri gue yang ketat.

Ouch!

Masuk.

Diri gue terasa penuh.

Gue membawa Ayah memasuki gue lebih dalam.

Akhirnya… bercinta juga.

Gue suka sensasinya. Gue nggak merasakan sakit seperti yang orang-orang bilang saat penetrasi pertama kali.

Gue memejamkan mata sambil terus menggerakkan tubuh naik-turun di atas tubuh Ayah, membuat milik Ayah terus menghujam masuk.

Tiba-tiba Ayah mendesah. Spontan gue melirik ke arahnya. Dada gue deg-degan dan gue juga menghentikan gerakan erotis gue. Membiarkan milik Ayah sejenak diam di dalam sana dengan kehangatan yang gue tawarkan.
Gimana nih???

Ayah membuka mata perlahan.

Mampus dah gue!

Perlahan… Perlahan…

“Yo?”

Gue langsung menyambut ucapan Ayah dengan gempuran di bibirnya. Gue lumat penuh gairah. Ayah melotot.

Ia bergerak dan kemudian terdiam. Mungkin ia baru menyadari kalau salah satu anggota tubuhnya sedang bermain di diri gue.

“Kenapa, Yah?” tanya gue santai.

“Kita…”

“Making love. Enak nggak?”

Ayah tersenyum.

Gue menurunkan pantat gue lagi, sehingga Ayah makin melesak masuk ke dalam. Gue rasa seluruh miliknya tenggelam masuk kali ini.

“Aakhhhh…” Ayah mendesah.

Gue terkekeh.

Tiba-tiba gue merasa tentara kecil Ayah bergerak menuju keluar tanpa gue komando. Gue menatap Ayah dan dia mengerling. Gue ketawa. Ayah menyambut permainan gue.

Ayah menyisakan sedikit saja miliknya tetap berada di dalam, seolah-olah ingin menariknya keluar, lalu kembali mendorong masuk dengan kedalaman seperti semula, lalu ditarik keluar lagi, di masukkan lagi. Begitu terus menerus.

Gue sempoyongan rasanya. Seluruh tubuh gue bergetar dan goyah. Meskipun begitu, gue juga tetap nggak mau Ayah menghentikan gerakannya. Gue pengen lagi dan lagi, meskipun setiap hentakannya itu membuat gue limbung.

Semakin lama gerakan Ayah semakin cepat, seiring berhamburannya desah kenikmatan dari bibir kami. Ternyata begini ya the power of sex. Emang memabukkan! Pantesan banyak orang yang gila seks!

Ayah berhenti. Nafasnya terengah-engah. Gue merunduk dan kita berciuman panas dan bergairah. Setelah itu gue kembali duduk dan mengambil kendali. Gue menggerak-gerakkan pinggul maju mundur, membawa Ayah yang gue penjarakan dalam ruang sempit nan hangat di diri gue.

Ayah tersenyum. Di tengah puncak birahi seperti ini, ia tetap tampil cool dan penuh kontrol diri.

Sial! Sementara gue udah nggak karuan. Menggila dengan kata-kata cabul terus meluncur dari sela-sela bibir gue.

Cukup lama gue yang mengatur gerakan, sampai kemudian Ayah menarik dirinya keluar. Tapi kemudian di masukkannya lagi dengan gerakan yang langsung menggila. Cepat dan menghantam sampai ke titik prostat gue.

Gue berteriak.

“Anjrit, Yah!!!”

Ia terus menggetarkan gue dengan kecepatan yang sama. Cukup lama, sampai di satu titik ia mendesah pelan, keras dan makin keras diiringi gerakan cepat kemudian menghentak beberapa kali. Hentakan terakhir, ia menghujam gue dengan penuh tenaga, sampai-sampai gue rasa keseluruhan miliknya akan ikutan masuk ke dalam milik gue saking bertenaganya.

Rasa hangat mengalir di dalam sana pada hentakan paling bertenaga itu. Yeah, Ayah udah mencapai puncak orgasmenya dan meledak di dalam diri gue…

***

Gue mendesah hebat seiring keluarnya cairan dari milik gue.

Basah.

Selangkangan gue lengket dan basah.

Perlahan gue membuka mata dan…

Seak! Gue mengumpat dalam hati.

Jantung gue hampir copot dari tempatnya. Apa yang baru saja terjadi???

Sepasang mata Ayah dengan tajam mengawasi gue.

Ooohhh, shit!

Gue langsung turun dari atas tubuh Ayah. Sekilas gue lihat singlet yang menutupi bagian perutnya basah.

Itu, cairan gue.

Gawat! Gue cari mati sama dia!

Ada nggak yang lebih buruk dan kurang ajar selain mimpi basah di atas tubuh seorang Johan Adiwiguna???

“Hey!”

Gue pura-pura nggak denger.

“Hey…!”

Gue mengangkat wajah dengan malas.

“Mimpi apa?” nada suara Ayah terdengar amat tenang. Tapi ketenangannya itu yang bikin gue takut luar biasa. Ibarat air, tenang-tenang menghanyutkan!

“Ngg…”

“Mimpi jorok!”

Gue menahan nafas.

“Di atas tubuh orang lagi…” Ayah mulai mengomel sambil bangkit dan melepas singletnya.

Gue diam, nggak tahu mesti ngapain. Meskipun begitu, di dalam hati gue terus ngomong bego ke diri gue sendiri.

Ayah kemudian berbaring lagi di samping gue sambil mengelap perutnya dengan singlet yang sudah ia tanggalkan.

“Maaf, Yah…” ucap gue pelan.

Ayah menoleh dan menatap gue setajam tadi.

Gue menundukkan pandangan.

Dari ekor mata gue lihat ia melempar singletnya ke lantai. Gerakannya kasar, dan itu cukup menandakan kalau ia benar-benar marah.

Tiba-tiba ia berbaring miring ke arah gue dan menarik pinggang gue merapat ke arahnya. Gerakannya itu menyadarkan gue kalo gue masih pake celana yang lengket sama cairan paska mimpi basah tadi.

Dan, entah apakah gue sudah pernah bilang atau belum, rasa lengketnya itu benar-benar gue benci. Tapi untuk kali ini gue tahan, karena gue nggak berani ngapa-ngapain, apalagi untuk lepas celana dalam keadaan darurat kayak gini.

“Tadi mimpi apa?” gue dan Ayah face to face.

Gue mesti jawab apa?

“Coba cerita!”

Gue nggak jawab. Lha, gue juga sungkan untuk bilang “ML”. Lagi pula sebenarnya dia udah tahu kan?

“Mimpi apa?” Ayah mengulangi pertanyaannya.

“Wet Dream.”

“Mimpi basah? Basah kenapa?”

Akh! Ni orang sengaja bikin gue salting! Padahal semua ini gegara dia yang terus mengembangkan imajinasi gue sebelum tadi gue terlelap.

“Hm!!”

“Mimpiii… Ayah tahu jenisnya apa,” kata gue pelan.

“Sama siapa?”

Elu lah! Jawab hati gue langsung.

“Sama…” gue rada khawatir kalo bilang sama dia. Jadi gue harus bilang sama siapa ya?

“Kak Reno mungkin…”

Kak Reno? Nggak pernah terlintas di benak gue sejak tadi. Padahal gue mau jawab Antonio Banderas.

“Kalo iya?” gue balik nanya.

Ayah tiba-tiba melotot.

Aduh, kayaknya gue salah ngomong nih…

“KAK RENO?!”

“Ngg, bukan, bukan…” ralat gue.

“Siapa?”

“Anton—”

“Siapa lagi dia?” potong Ayah cepat.

“Antonio Banderas!” gue menuntaskan ucapan gue dengan cepat.

“Antonio Banderas?”

Gue mengangguk.

“Antonio atau Kak Reno?”

“Antonio…”

“Serius? Nggak meyakinkan…”

“Serius kok…”

“Tapi tadi di mimpi kamu nggak bilang Antonio…”

Deg!

Gue ngigau tadi ya? Shit! Sejak kapan gue suka ngigau? Apa aja yang udah Ayah dengar? Seingat gue tadi gue ngomongnya cabul banget dah…

“Sorry, Yah…”

“Uhmmm…”

“Ayah sih mancing mulu…”

“Mancing gimana?”

“Ngeladenin Yo sebelum tidur. Jadinya kan kebawa mimpi…”

“Kamu aja yang piktor!”

Gue diam.

“Jadi sama siapa?”

“Kan Ayah udah denger…”

“Nggak jelas tadi!”

“Ayah…” ucap gue berat.

“Aku?”

“Ya. Maaf, Yah…”

Mata Ayah membesar. Nggak tahu kaget, shock atau gimana. Gue rasa ia sengaja memasang ekspresi seperti itu, biar gue makin tambah merasa bersalah.

“Kamu sama aku?”

“Ya.”

“Aku atau Kak Reno?”

“Ayah.”

“Hmmm…”

“Ayah marah?”

“Marah. Bisa-bisanya kamu jadiin aku objek…”

“Sorry. Tapi mimpi kan nggak bisa dikontrol…” gue coba membela diri.

“Tapi kenapa mesti di perut Ayah, eh?!”

Gue juga nggak tahu!! Hati gue ikutan teriak. Mungkin karena moment-nya pas aja. Gue lagi horny sama Ayah, terus gue tiduran di atas dia dan akhirnya crot crot deh…

Gue nggak menjawab kegusarannya.

“Kamu pikir aku ini apa…” ia kembali mengomel.

Gue tetap diam.

Ayah tiba-tiba menjewer telinga gue dengan keras.

“Adaawwww!!!”

“Kamu tuh ya, makin hari makin nyebelin!!!”

Gue meringis.

“Untung aja kamu nggak mimpiin Kak Reno. Kalo nggak…”

“Emang kenapa?”

“Berarti kamu selingkuh dalam mimpi!”

Wew! Gue speechless seketika.

“Tapi karena mimpinya sama Ayah, udahlah…”

“Ayah nggak marah?” tanya gue sambil terus menahan sakit dari jewerannya.

“Marah! Tapi berhubung yang kamu mimpiin itu pacar kamu sendiri, mesti gimana lagi?”

Gue tersenyum manis.

Ayah menjewer telinga gue makin keras.

“Aaaaaa…!”

Nggak lama, terus ia lepaskan.

Haduh, gue langsung membelai kuping gue yang terasa panas akibat jewerannya.

“Buruan mandi sana! Kotor kamu tuh!” Ayah berbalik membelakangi gue.

Gue tersenyum.

Lucu deh pagi ini. Gue benar-benar bisa gila!!!

======

Notes:

*Marjun : Mario Junior.
**Ajun : Ayah Junior

***

10 thoughts on “Bianglala Satu Warna Chapter XVf

  1. sasukechan 07/18/2013 pukul 11:56 am Reply

    Hahaha… Asli ngakak juga gw bacanya
    Padahal gw berharap itu beneran ya gpplah walo cuma mimpi, tetap hwot…
    #tisu tisu, banjir nih

    Tp beneran gak ya straight tampan nan rupawan macem jo bakal ml sama brondong kinyis2 kayak mario? Mmhhhhh……

    • sisipelangi 07/18/2013 pukul 3:09 pm Reply

      @sasuke haha. Ntahlah. Apakah mimpi itu akan menjadi kenyataan…

  2. bebong 07/18/2013 pukul 12:24 pm Reply

    aduh bang bunuh gua!! Sumpahh ngakak bgt bacanya!! Itu mario pervert bgt sih! Tapi aku suka :p
    lanjutt banggggggg…
    Kalo bisa jgn mimpi😄 *ketularan mario*
    btw, yg kali ini gua kaga pake mimisan😀
    aduuhhhh ayah stay cool bgt sih, yg lanjutannya pake pov nya ayah dong bang :*

    • sisipelangi 07/18/2013 pukul 3:12 pm Reply

      @bebong kalo gue bunuh elu, ada untungnya gak? :p

      Kalo mereka ngungkit kisah ttg mario mimpi basah di perutnya si jo, Jo selalu ngetekin Mario sambil jitakin palak tuh anak berkali-kali…😀

  3. jacob damelian S(lian25) 07/18/2013 pukul 12:25 pm Reply

    Bro santay aku pikir itu beneran tadi, argggg ternyata cuma mimpi huahhh,,,
    Tapi ttp bikin naik turun juga wkwkwk,,,

    Eh tapi jujur aku lbh suka cara penyampaian nya bro santay dari pada orisinil nya,,,
    Kerasa lbh pas dan lbh halus kata2 nya bro,,

    • sisipelangi 07/18/2013 pukul 3:14 pm Reply

      @lian25 haha.

      Ya, ya gue aja ngerutin kening pas baca cerita yang mario buat. Gila, kata gue. Ketahuan banget tuh orang keknya suka baca cerita 17sex.blogspot.com , wkwkwk

      • jacob damelian S(lian25) 07/18/2013 pukul 3:39 pm

        Hahaha ketahuan sisi fantasi liar nya kalo lagi di ranjang wkwkwk,,,,

  4. sisipelangi 07/18/2013 pukul 3:15 pm Reply

    @lian25 haha.

    Ya, ya gue aja ngerutin kening pas baca cerita yang mario buat. Gila, kata gue. Ketahuan banget tuh orang keknya suka baca cerita 17sex.blogspot.com , wkwkwk

  5. bebong 07/18/2013 pukul 8:37 pm Reply

    becanda bangg :p

    jadi mreka blom pernah gituan dong bang ? *blush*
    eh bang, kira2 wjahnya si yo kya siapa? Kalo si ayah mah, aku ngebayanginnya kaya chef arnorld, sifatnya rada sama sih..

  6. PUTTRA P 07/18/2013 pukul 10:03 pm Reply

    wkwk iya kapan tuh si jo bisa beneran “gtuan” ama si mario😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: