Si Perjaka dan Si Playboy Chapter Seven

WARNING!!! This story contains explicit sex and erotic scenes,😀

Semprotan air menghantam seluruh tubuh Julian saat ia berlutut di lantai kamar mandi, tapi rasanya menyenangkan, benar-benar luar biasa. Mike terbawa sensasi untuk menyentuh setiap inci kulit Julian, bahwa ia menyadari semprotan air jet hanyalah sensasi tambahan.

Mike memompa lebih banyak sabun ke telapak tangannya, dan mengangkat salah satu kaki Julian, dan menyabuninya dari bawah ke atas dan lengkungannya, antara jari kakinya. Ia memegang kaki dan membiarkan semprotan jet menyemprotkan air membasuh busa sabun, kemudian tangannya perlahan-lahan naik sampai betis dan pahanya, memijat lembut dan mencintai nuansa kulit lembut di bawah tangannya. Dia tahu kulitnya sendiri kasar, tapi Julian tidak mengeluh. Sebenarnya, ketika ia menatap wajah julian, matanya setengah tertutup dan melihat ke arahnya, entah apa yang di pikirannya, Mike benar-benar penasaran. Mike menyabuni kaki yang lain, perlahan-lahan mencucinya dan bergerak naik ke bagian atas pahanya.

“Buka kakimu untukku.”

Julian membuka kakinya dan ia mengulurkan tangan dengan jari berbusa. Ia menelusuri dengan ujung jarinya yang licin. Seorang perjaka! Dia tidak akan setuju untuk bertemu dengannya jika ia sudah tahu. Tapi dia akan kehilangan malam terbaik yang pernah ia miliki dalam waktu yang lama. Mungkin yang tidak pernah ia miliki.

Meskipun Julian mengangkat pinggulnya, dan Mike tahu apa yang Julian inginkan, dia melanjutkan mencuci kulit Julian dengan perlahan, lembut, menjalankan tangannya ke atas lekukan perut dan ke dada, di mana ada nipple merah kecokelatan yang sangat ingin dia sentuh.

Tiba-tiba, kesunyian, dan kurangnya percakapan membuat Mike gugup. Satu-satunya suara adalah desisan dari jet air dan napas mereka. Mike jadi terobsesi untuk mengetahui lebih dari sekedar tubuh Julian, dia menjadi terobsesi dengan apa yang Julian pikirkan dan rasakan. Itu hal baru untuk Mike yang playboy.

“Julian?”

“Hmmm?”

Sial, ia harus memikirkan sesuatu untuk bertanya padanya, dan ia tidak tahu apa yang ia inginkan. Dia hanya ingin mendengar suaranya.

“Apakah airnya cukup hangat?”

***

Kelopak mata Julian bergetar terbuka. “Apa? Ya, ya…” sulit untuk membentuk kata-kata, untuk suatu alasan.

Setiap perhatiannya terfokus pada tangan Mike saat pria itu menyabuni dan menjelajahi tubuhnya. Mike menyabuni tangan Julian, lalu menyabuni bahunya sampai ke ujung-ujung jarinya, Julian merasa benar-benar tanpa tulang dan kesemutan.

“Oke, aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja. Kau begitu tenang.”

“Oh, maaf.” Apakah itu hal yang benar untuk dikatakan? Sial pengalamannya sangat minim. Antara desis air dan jantung berdebar di telinganya, sisi shower tampak cukup keras untuk Julian bersandar.

Mike memompa shampo ke tangannya dan menjatuhkan diri ke bangku di sampingnya.

“Aku ingin mencuci rambutmu.”

Julian berbalik dan Mike memijat rambut Julian dan mengusapkan shampo ke rambutnya, kemudian mengambil shower dan membilasnya membiarkan gelembung-gelembung shampoo mengalir.

“Aku rasa aku sudah cukup bersih, Mike,” kata Julian. “Atau setidaknya sebagian besar tubuhku.” Mata Julian bertemu dengan matanya, dan Mike tersenyum. “Aku menyimpan yang terbaik untuk yang terakhir.”

“Yah, aku pikir kau harus menunggu.”

Mike mengerutkan kening dan Julian tersenyum, merasa lebih percaya diri dalam menghadapi Mike.

“Aku rasa hanya satu dari kita yang bersih. Berdiri.”

Mike patuh berdiri di depannya. Itu menempatkan salah satu aset terbaiknya tepat di depan wajah Julian dan Julian mengambil waktu sejenak untuk melihat lebih dekat kemaluannya. Ini menjorok ke arah wajahnya, dan dia memutuskan untuk menggodanya sedikit dan mengambil ujung kemaluannya ke dalam mulutnya, menjilati sekitar dua kali sebelum melepaskannya.

“Tidak, jangan berhenti,” kata Mike, mengulurkan tangan, tapi Julian mengangkat bahu di bawah lengan Mike dan berdiri.

“Maaf, aku ingin lagi, tetapi aku tidak ingin dituduh pemalas. Kau menghabiskan waktu yang sangat lama untuk memandikanku dan sekarang giliranku.”

Ekspresi wajah Mike begitu berharga. Sensualitas ini terasa begitu tajam dan Julian mulai menyadari itu dan menikmatinya. Julian mengikuti langkah-langkah yang Mike lakukan, kembali dulu, kemudian kaki dan kaki di bagian depan. Julian sengaja melewatkan satu bagian yang paling ingin dia sentuh. Menjalankan permainan secara adil ternyata menyenangkan juga.

Tapi selain itu, ia menemukan bahwa menjalankan menggosok sabun ke tubuh Mike yang luar biasa menimbulkan kenikmatan dalam dirinya. Jalur-jalur otot di bawah kulit Mike, rambut kasar pada kakinya, Julian mempelajari lekuk tubuh Mike dan memperhatikan reaksinya dengan seksama setiap Julian menyentuh tubuhnya.

Ketika Julian tidak sengaja mencubit puting gelapnya, penis Mike tersentak dan menabrak perutnya. Menarik.

Pada saat ia selesai dengan semuanya dan tinggal bagian yang paling menarik, kesabaran Julian tampaknya menipis. Julian menyabuni tangannya dan membelai di antara kedua kaki Mike, kemudian ke kemaluannya yang sudah sekeras batu.

“Julian!”

Mike berjuang menahan cekikikannya di ketegangan dalam suaranya. “Ya?”

“Cukup, aku tidak tahan. kemarilah.” Ia menarik Julian, dan menekankan kejantanannya di atas perut Julian.

“Aku ingin kau sekarang.”

“Oh, tentu. Sekarang kita berdua sudah bersih.”

Mike melotot padanya dan Julian tertawa lepas.

“Kau menghabiskan waktu yang sangat lama menyiksaku dengan jari-jarimu yang berbakat. Aku hanya ingin membalas kebaikanmu.”

“Ini tidak lucu, Julian,” kata Mike, tetapi sudut bibirnya berkedut. Dia bergeser memeluk Julian sehingga mereka berciuman, sementara aliran air masih mengaliri tubuh mereka.

Mike tidak lagi bersikap perlahan-lahan, tapi segera membuka mulutnya dan memaksa. Ketika lidahnya bermain, ia menggeser tangannya ke pantat Julian dan mengangkat tubuhnya sehingga kakinya menjauh dari lantai. Ia menguatkan tangannya di bawah paha Julian dan menekan punggungnya ke dinding kamar mandi.

Julian tersentak dan ia melepaskan ciumannya untuk menatap Mike.

“Apa yang salah?”

Julian menunjuk dan Mike menunduk untuk melihat bahwa salah satu jet menembak langsung ke hole Julian.

“Oh…” Mike menggeser tubuh mereka menjauh. “Oke, sekarang ready? Jangan bergerak, begitu…begitu…” komando Mike. “Baik?” Ia menahan Julian di tempat saat tubuhnya bergetar dan ia menempelkan dadanya ke bahu Julian.

Sebelum Julian sempat melakukan hal lain, Mike mengangkat tubuhnya sedikit dan memasukan kemaluannya ke bagian tubuh Julian yang gemetar. “Aku tak bisa menunggu lagi.” Ia mendorong dalam-dalam, dua atau tiga kali, kemudian melambat, meluncur masuk dan keluar, berulang- ulang, sehingga ujungnya membentur tempat dalam diri Julian yang selama ini hanya pernah ia baca.

“Ya, Julian, titik prostat,” gumamnya ke telinga Julian lembut.

“Mike, oh Tuhan, ya, ya.” Mike bergidik saat ia tumpah di dalam diri Julian, dan menemukan pelepasannya lagi.

“Aku bahkan tak bisa percaya kau begitu ketat, Julian!” Ia memegang tubuh Julian dengan kakinya melilit pinggang, kemudian terduduk ke salah satu bangku dengan Julian di pangkuannya. Air masih mengalir di atas mereka, mengenai semua sudut, dan tiba-tiba saja air menjadi panas memukul kulit mereka yang basah dan uap air menjadi luar biasa.

“Mike, tolong matikan airnya. Aku tidak tahan.”

Tangan Mike bergerak dan mematikan air shower.

“Apakah kau baik-baik saja? Aku seharusnya berfikir itu adalah pertama kalinya buatmu. Kau sakit, ya? Aku sangat menyesal.”

Julian menggelengkan kepalanya kemudian meletakkan tangan Mike di bahunya. “Bukan itu, aku tidak merasa sakit. Hanya tiba-tiba saja inderaku menjadi lebih sensitif. Baik, buruk, intensitasnya begitu terasa. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan diriku sendiri.”

Mike meletakkan kepalanya ke dinding. “Aku mengerti. Mari kita keluar dari sini dan mengeringkan badan. Aku rasa aku perlu berbaring sebentar.”

Julian mencium di lehernya dan berdiri dengan kaki gemetar. “Oke, aku tidak pernah berpikir aku bisa melakukan sejauh ini…”

Mike melangkah keluar dari kamar mandi, dan ia menyerahkan handuk dan Julian melilitkannya di sekitar pinggangnya, mengeringkan rambutnya dengan handuk yang lain.

“Jadi, inilah yang semua orang bicarakan,” kata Julian, sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku tak percaya, selama ini aku telah meragukan kenikmatan yang luar biasa…”

***

2 thoughts on “Si Perjaka dan Si Playboy Chapter Seven

  1. Halrien 07/16/2013 pukul 3:17 pm Reply

    Yang ini kayanya repost, isi nya sama kaya part sebelum nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: