Bianglala Satu Warna XVe

thx for @halrien n @sasukechan yang udah ngingetin ada bagian yang terlewat.

Oke, ini bagian “e”-nya. Dan yang kalian baca postingan semalam itu saya edit jadi bagian “d” yang terlewatkan. Ejoy reading guys!

Setelah karaoke, gue dan Ayah pulang berbarengan sama Kak Reno. Di jalan, Kak Reno beli dua loyang martabak. Masing-masing rasa duren dan Strawberry untuk dibawa pulang.

“Suka duren nggak?” tanyanya ke gue.

“Nggak,” jawab gue jujur. “Tapi kalo udah diolah sih suka…”

“Udah diolah nih, jadi martabak…”

“Lumayan,” ucap gue singkat.

“Kalo Jo sih nggak suka…”

“Jangankan makannya, baunya aja aku nggak suka…” kata Ayah.

“Iya. Kamu kan sukanya wortel. Kalo ada martabak rasa wortel, pasti kamu yang jadi pelanggan tetap…” canda Kak Reno setengah mengejek.

Gue terkekeh.

“Jadi kelinci aja sekalian, Jo…”

“Nggak ah! Makin imut ntar!”

“Hahaha…! Narseessss…!” Kak Reno memukul bahu Ayah.

Gue tersenyum melihat kebersamaan mereka. Ah, seandainya gue deket sama Kak Marco, mungkin yang terjadi kurang lebih sama seperti Ayah dan Kak Reno…

“Ayo pulang!” Ayah menarik lengan gue dengan posesif.

“Sip!” sambut Kak Reno.

Sesampainya di rumah, ternyata Bapak dan Ibu masih menonton TV. Ibu bertanya ‘apa itu?’ saat Kak Reno menaruh martabak ke hadapan beliau.

Kami pun bergabung dengan mereka berdua di ruang tengah sambil menonton TV dan ditemani martabak hangat. Selama bersama mereka, gue bisa merasakan begitu akrabnya mereka satu sama lain. Meskipun sifat Ayah dan Kak Reno itu berbeda jauh, tapi gue bisa melihat hubungan dekat antara keduanya. Saling menyayangi dengan cara masing-masing, tapi klop dan enak disaksikan. Begitu juga cara Bapak dan Ibu berkomunikasi, begitu cair, baik antara mereka berdua ataupun dengan kedua anak mereka.

Pikiran gue sempat melayang ke rumah. Membayang wajah Mama, Kak Marco dan Papa. Gue sesak mengingat kami semuanya terpisah jarak satu sama lain saat ini. Gue di sini, Mama di Curup, Kak Marco di Kanada dan Papa entah di mana… Kenyataan bahwa kami tak pernah berkumpul dalam satu atap membuat gue jadi melankolis.

Beruntung Ayah cepat-cepat mengajak gue ke kamar.

“Sudah ngantuk belum?” tanya Ayah.

“Nggak juga sih…” gue bingung mau jawab apa. Rasa kantuk belum datang, tapi gue juga pengen cepat-cepat masuk ke kamar.

“Capek ya? Buruan bersih-bersih gih. Terus kita tidur!” pungkas Ayah sambil menyuapkan potongan terakhir martabak di tangannya.

“Ya, seharian kalian di luar. Mendingan istirahat, biar besok bisa sepedaan di pantai…” kata Ibu.

“Oh, iya! Ide bagus tuh…!” seru Ayah.

“Sepedaan? Boleh, boleh…” gue juga antusias.

“Makanya buruan istirahat…” Ayah bangkit dan beranjak ke kamar. Gue pun buru-buru pamitan ke Bapak, Ibu dan Kak Reno lalu menyusul Ayah.

***

Gue tersentak dan terkejut saat Ayah langsung menarik gue dalam pelukannya tepat saat gue melangkahkan satu kaki ke dalam kamar.

“Yah…?”

Ayah memeluk gue erat sembari menciumi rambut gue.

Ada apa sih???

“Kamu sedih ya tadi? Jangan sedih, ada Ayah di sini…”

Darah gue berdesir. Ayah kok tahu gue tadi sempat sedih membandingkan kondisi keluarga gue sama dia?

“Yo nggak apa-apa…” kata gue. Yup, gue emang baik-baik aja.

Ayah melerai pelukannya, menjatuhkan tangannya di kedua bahu gue dan menatap gue lembut.

Gue tersenyum kikuk.

“Oke. Good! Buruan bersih-bersih terus tidur!”

Gue mengangguk tanpa kata. Berjalan ke kamar mandi dan membersihkan anggota badan terus kembali ke kamar. Setelah gue keluar, Ayah yang masuk ke kamar mandi. Cukup lama sebelum ia keluar dengan wajah segarnya.

Ia melepas kemejanya, menggantinya dengan singlet dan celana pendek. Gue yang sedari tadi duduk di bibir ranjang sambil memainkan hape terus mengawasinya lewat ekor mata.

“Ayo bobo!” Ayah merangkak naik ke atas ranjang.

Gue melepas celana yang gue pakai, sehingga cuma tersisa boxer doang dan berbaring di sisinya.

Ayah langsung berbaring menghadap gue sambil mengumbar senyum manis. Tanpa sungkan ia melingkarkan lengannya ke dada gue erat.

“Tidur yang nyenyak ya…” ucap Ayah lembut sambil mengusap rambut gue.

“Ayah juga…” gue menempelkan telapak tangan ke wajahnya.

Ayah memiringkan wajahnya sedikit dan mencium buku-buku jari gue.

“Capek nggak?”

“Lumayan letih nih…”

“Pengen dipijat?”

“Eh?”

Tanpa menunggu jawaban gue, Ayah langsung bangkit dan memijat betis gue.

“Yah, nggak usah…” tolak gue halus.

“Buruan bobo!” nada suara Ayah terdengar memerintah.

“Tapi Ayah juga capek. Seharian bawa motor, jadi guide…”

“Bobo!”

Gue menghela nafas dan memilih mengalah. Toh, jarang-jarangkan bisa mendapat perlakukan manis kayak gini dari Ayah? Mendingan gue nikmati aja deh…

***

Gue nggak tahu sampai pukul berapa Ayah mijitin gue. Yang jelas saat gue tiba-tiba terbangun, gue terbaring di dalam dekapan hangat Ayah, tubuh kami dibungkus selimut tipis, dan satu lagi, gue topless. Padahal seingat gue sebelum tidur tadi gue masih mengenakan baju.

Apa yang udah terjadi? Ayah melepaskan baju gue? Apakah dia udah… Gue menjulurkan tangan ke bagian bawah tubuh gue. Gue masih pake boxer dan akh, mana mungkin Ayah ngelakuin itu ke gue saat gue lagi tidur! Gue mencoba membuang pikiran tak karuan itu dari otak gue. Itu nggak mungkin, walaupun, yah, sebenarnya gue berharap itu nyata.

Gue tertawa geli dalam hati. Gila banget sih pikiran gue???

Ayah tiba-tiba bergerak. Gue menolehkan leher, menatap wajahnya. Sumpah, hari ini Ayah sangat ngemong! Pencapaian yang luar biasa dalam hubungan kami. Suap-suapan di atas motor, goda gue di tempat umum, beliin gue pakaian, melucu di mall, meluk dan nyium, mijitin gue sebelum tidur… Akh, rasa gembira meluap-luap. Melampui apa yang gue harapkan.

Gue makin cinta sama Ayah. Perlahan gue beringsut mendekati wajahnya… Membungkuk dan menempelkan bibir gue ke bibirnya yang tertutup. Sumpah, bibirnya manis dan lembut. Diam aja bibir itu menerbitkan nafsu setengah mati, apalagi kalo seandainya ia membalas pagutan gue…

***

***Johan***

Aku menggeliat bangun tepat saat adzan Subuh berkumandang. Tidur semalam nyenyak luar biasa. Mungkin karena terlalu kecapean.

Aku melirik Mario yang masih nampak pulas. Terlentang tanpa penutup badan. Aku tersenyum tipis lalu mendekat dan menunduk, menempelkan bibirku ke atas perut telanjangnya. Kulitnya terasa hangat.

Ia tak terpengaruh dengan sentuhan bibirku. Benar-benar pulas. Sama seperti semalam, saat ia tertidur ketika aku pijat. Nyenyak sampai-sampai saat aku melepas bajunya sebab keringatnya begitu banyak, ia tetap nggak bangun.

Adzan selesai berkumandang. Dari luar mulai terdengar suara-suara langkah kaki melewati kamar, barangkali suara Mama atau Papa. Aku turun dari ranjang dan keluar kamar. Setor muka supaya penghuni rumah ini tahu kalo aku sudah bangun.

Seraya terus-terusan menggerak-gerakkan lengan yang terasa linu, aku menuju kamar mandi di dekat dapur untuk berwudhu. Di dapur aku bertemu sama Mama yang mulai sibuk menyiapkan sarapan.

“Udah bangun?” sapa beliau.

“Udah, Ma…” jawabku seraya masuk ke kamar mandi.

Selesai berwudhu, aku langsung menuju kamar lagi. Mario belum bangun juga, dan sepertinya tidak ada tanda-tanda yang akan bangun sepagi ini.

Aku pun naik ke ranjang dan mengguncang tubuhnya lembut.

“Yo, bangun… Sholat yuk…?”

Mario bergerak.

“Bangunn…banguuunnnn…!!!”

Ia membuka matanya yang masih mengantuk.

“Sholat Subuh.”

Ia menguap lebar, menatap lurus ke arahku sebentar dan memejamkan matanya lagi.

Hmmm…

“Heyyy!!! Banguuuunnnn…!”

Mario membuka matanya lagi.

“Buruan. Ntar habis sholat baru tidur lagi,” kataku.

Mario bangun dengan malas. Bergeser ke bibir ranjang dengan kepala terkantuk-kantuk, duduk dengan kaki menjuntai dengan tatapan tanpa ekspresi.

“Buruaaaannnn…!” aku mulai gemas dengan tingkahnya.

Ia kembali menguap dan menyeret langkahnya ke kamar mandi. Tak berapa lama kemudian, ia kembali dengan wajah basah.

“Sudah wudhu-nya?” tanyaku.

Ia mengangguk dan mengenakan baju dan celana jeans-nya.

Kami berduapun sholat berjamaah.

Selesai sholat, Mario langsung melompat ke ranjang lagi. Aku geleng-geleng kepala. Setelah melipat sajadah dan menaruh di tempatnya, aku pun mengikuti Mario rebahan di ranjang.

“Yah, semalam Ayah ya yang lepasin baju Yo?”

“Yup,” jawabku singkat.

“Kenapa? Ayah macem-macem yaaa…”

“Hush! Enak aja!”

“Terus ngapain???”

“Keringat kamu banjir. Makanya Ayah lepasin…” terangku.

“Masa sih???”

“Iya,” kataku sambil menekan omonganku.

“Hmmm…” nadanya masih tak percaya.

“Emang kamu pikir Ayah ngapain kamu?”

“Yaaa… Gerayangi mungkiiinnn…” suaranya merendah.

“Hahaha…!”

“Kok ketawa? Jangan-jangan emang beneran ya?”

“Beneran apa?”

“Ayah udah nyerang Yo semalam?”

“Nyerang apaan? Emang kita perang…”

“Ya, perang sepihak. Nggak seru Ayah, ah! Seharusnya bangunin Yo dooonggg…”

“Ngomong apa sih kamu…”

“Perang-perangan…”

“Nggak ada perang-perangan. Semalam gencatan senjata,” kataku.

“Senjatanya apaan?” kejar Mario sambil mengerling mesum.

“Pedang…” aku membalas kerlingannya.

“Wah! Pedang ya? Lihat dong…”

“Udah disimpan.”

“Yaaaa… Gede nggak?”

“Emang pisau jagal? Kalo pedang mah panjang…”

“Berapa centi?” Mario makin mesum.

“Nggak ngukur…” sialnya, aku suka meladeninya.

“Sini kita ukur sama-sama…”

“Biar ntar tak ukur sendiri…”

“Nggak akurat!”

Aku terkekeh.

“Udah berapa korban pedang itu?”

“Pedangnya tumpul, jadi nggak makan korban,” jawabku.

“Berarti nggak bahaya dong?”

“Tergantung… Depends on condition…”

“Biar pedangnya aman, sini sarungin aja pedangnya ke Yo…” Mario mendesis.

Gila! Ini anak makin menjadi. Dan anehnya, kenapa aku menyukainya?

Tiba-tiba Mario naik ke atas tubuhku, menatap wajahku tajam dan… Akh! Bibir merahnya itu bergerak-gerak pelan.

“Boleh?” ia buka suara.

Sungguh sopan. Sudah berulangkali ia meminta izin setiap ingin menciumku. Entahlah, mungkin masih ada rasa sungkan yang tertinggal di hatinya.

Aku mengangguk.

Ia membungkuk dan menempelkan bibir merahnya ke bibirku. I’m not a good kisser. Aku tak punya banyak referensi soal itu, bahkan ciuman pertamaku diambil oleh Mario. Yeah! Mario! Aku tak perduli. First kiss bukanlah sesuatu yang berharga bagiku dan tak pernah memikirkan akan kuapakan ciuman pertamaku itu. Makanya saat kali pertama aku menempelkan bibirku ke bibir Mario, aku tak pernah terpikir dan juga tak ingat itu ciuman pertamaku. Lucu kalo ku ingat. Saat itu justru aku yang mulai mengecup bibirnya, jika kalian masih ingat, di atas sofa, bak pencium ulung dan tanpa sungkan saat Mario meminta izin ingin menciumku.

Jadi sampai saat ini aku tak tahu bagaimana teknik mencium yang bagus. Nevermind. Mario pun tak pernah komplain, meskipun aku selalu menciumnya dengan gaya yang sama. Menangkap tangkup bibir atasnya, menyesapnya sedikit untuk beberapa detik, lalu berganti mengecup kedua tangkup bibirnya sekaligus sebelum berganti menjerat tangkup bibir bawahnya di antara kedua tangkup bibirku, kembali menyesap menyerap kehangatan dan kelembutan bibirnya yang manis. Selalu seperti itu dan aku menyukainya lalu kita melerai ciumannya.

Bibir Mario merekah dan basah setelah kita berciuman. Ia tersenyum dan berbaring di atas tubuhku, yang mana sebelumnya duduk di atas perutku.

Deg!

Aku tersenyum. Tekanan lembut terasa di atas perutku. Tentara kecil Mario terasa jelas di atas perutku. Hangat dan keras.

Mario mengernyitkan keningnya, nampak berpikir lalu bergerak turun dan kembali tidur di sampingku. Aku mendesah. Sepertinya ia tahu apa yang tengah kupikirkan. Saat tubuhku terbebas dari berat badannya, perlahan kehangatan yang melingkupi tubuhku pun sirna.

Aku mengelus perutku, tempat di mana junior Mario tadi menempel hangat. Gila! Ini benar-benar sudah melampui batas. Kenapa aku merasa tersiksa saat ia turun dari tubuhku? Kenapa aku tak bisa mengontrol diri? Berciuman saja sudah sangat berlebihan, bagaimana mungkin aku memikirkan hal yang lain?

Aku menolehkan wajah, dengan lengan masih di atas perutku, menatap wajah Mario. Ia nampak memejamkan mata dengan dada naik turun.

Marioku. Semakin lama aku semakin menggila.

Tiba-tiba Mario membuka matanya dan langsung menoleh ke arahku. Kita bertatapan.

“Apa?” tanyaku.

“Apa?” ia balik bertanya.

Aku tersenyum kecil, lucu dan akh, canggung.

Canggung? Yang benar saja!

Canggung is not my style. Apalagi sama anak ini! Ada-ada saja!!!

“Yah,” tiba-tiba Mario memanggilku.

“Hm…”

“Kak Reno itu umurnya berapa?”

Kak Reno? Apa yang dipikirkannya tentang kakak semata wayangku itu?

6 thoughts on “Bianglala Satu Warna XVe

  1. Halrien 07/16/2013 pukul 9:57 am Reply

    Suka part ini, kaya kata mario, hubungan mereka udah ada kemajuan. Nyaris pedang2 an wkwkwk

  2. Halrien 07/16/2013 pukul 9:58 am Reply

    Suka part ini, hubungan mereka udah ada kemajuan. Nyaris pedang2 an wkwkwk

  3. sasukechan 07/16/2013 pukul 12:43 pm Reply

    pas pulang ke curup mario bakal di garap jo abis2an… Wkwkwk…. Tebakan ku pas d forum kayaknya terbukti🙂

    • sisipelangi 07/16/2013 pukul 3:55 pm Reply

      @sasuke emang tebakannya apaan??

      • sasukechan 07/16/2013 pukul 8:51 pm

        Itu loh, siapa yg top siapa yg bot. Wkwkwkw….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: