Bianglala Satu Warna Chapter XVd

Selesai makan, sayup-sayup terdengar adzan berkumandang. Ayah pun langsung mengajak gue mencari masjid terdekat untuk menunaikan salat Maghrib. Kita berdua pun gabung dengan jamaah yang lain. Selesai salat Ayah ngajakin gue keliling kota lagi.

“Mo kemana lagi kita?” tanya Ayah saat kita tengah meluncur di jalanan.

“Terserah. Ayahkan tour guide-nya…”

“Ke Mega Mall aja, yuk?”

“Boleh…”

Ayah kembali membawa sepeda motor menyusuri jalan yang nggak gue kenal sama sekali. Apalagi di malam hari kayak gini. Setelah berbelok beberapa kali dan berhenti di traffic light, tahu-tahu kita sudah sampai di Simpang Lima lagi. Nggak lama kemudian, kita justru sudah memasuki area parkir Mega Mall tanpa gue tahu apa aja yang sudah kita lalui.

Sesampainya di Mall tersebut, Ayah langsung menuju counter pakaian.

“Silahkan pilih.”

“Buat Yo?”

“Kamu kan nggak bawa pakaian ganti…”

Gue menghela nafas. Terharu sekaligus senang.

Gue memilah-memilih t-shirt dan sesekali minta pendapat Ayah yang juga lagi memilih kemeja.

“Yang mana, Yah?” gue menunjukkan dua buah t-shirt. Satu berwarna hijau tosca dan satunya lagi berwarna merah dengan gambar kartun jerapah kecil di tengah-tengahnya.

Ayah mengerutkan kening sejenak, sebelum menunjuk t-shirt merah.

“Yang ini?”

“Dua-duanya bagus kok, Dik,” celetuk sang penjaga.

“Mau dua-duanya juga boleh,” kata Ayah.

“Satu aja,” kata gue seraya menaruh lagi t-shirt hijau tosca-nya ke tempat semula.

Gue memberikan t-shirt yang gue pilih ke penjaga tokonya. Lalu menghampiri Ayah yang masih memilih kemeja.

“Sudah dapat belon?” tanya gue.

“Belum. Kamu sudah?”

“Sudah. Noh, sama Mbaknya…”

“Yang mana jadinya?”

“Pilihan Ay–Kakak.”

“Sebenarnya nggak perlu nanya sih. Apapun yang kamu pake pasti jatuhnya keren kok,” bisik Ayah ke telinga gue lembut, membuat gue tersipu. Sial. Bisa-bisanya dia goda gue di tempat umum kek gini!!!

“Celananya udah pilih belum?”

“Celana juga?”

“Lha terus kamu cuma pake baju doang, nggak pake celana nih?”

“Pake celana ini aja…” gue menyentuh celana yang sedang gue pakai.

“Ya udah, beli boxer aja.”

Gue mangut-mangut.

“Underwear juga. Jorok ah nggak ganti! Jamuran ntar…”

Gue melirik Mbak penjaga. Dia senyam-senyum dengar omongan Ayah barusan. Gila juga nih Ayah, ngomong begituan kuat-kuat di depan cewek, gumam gue dalam hati.

Akhirnya di toko itu gue beli sepotong t-shirt, boxer, dan underwear. Sedangkan Ayah beli underwear dan dua buah kemeja. Tapi saat mo bayar, Ayah nyuruh si Mbak penjaga yang tadi buat ngambil t-shirt hijau tosca yang jadi pilihan gue sebelumnya. Ayah beli juga t-shirt itu!

Kami berdua membawa pakaian yang di beli menuju lantai dua.

“Sekarang kita mo kemana?” tanya gue.

“Kemana, ya?” Ayah balik nanya.

Jujur, gue risih lama-lama di sini. Banyak mata—baik cewek maupun cowok—yang ngeliatin kita. Ntah apa yang aneh. Mungkin karena ada dua cowok jalan berduaan di mall sambil bawa tas belanjaan itu nampak aneh? Meskipun masing-masing dari kita cuma bawa satu buah tas.

“Wajarlah mereka liatin kita. Wong cowok-cowoknya cakep-cakep gini!” jawab Ayah santai.

“Narsis!”

“Narsis gimana? Coba kamu lihat satu-satu cowok-cowok di sini, ada gak yang cakepnya ngelebihin Ayah?”

“Oke. Berarti mereka sirik gitu? Nah, kalo ceweknya kenapa coba?”

“Udah jelas, suka sama kita lah!”

“Bisa jadi. Kalo orang tua, bapak-bapak sama ibu-ibu yang ngeliatin???”

“Ada yang om-om gay yang lagi cari brondong, tante-tante girang, atau bapak-bapak dan ibu-ibu yang berkhayal kapan punya anak secakep kita…”

Gue ngakak.

“Kalo anak kecil yang ngeliatin penjelasannya gimana?”

“Yang cowok berharap kalo gede entar pengen punya wajah yang cakep kayak kamu. Nah, kalo yang cewek berharap kalo gede ntar pengen punya cowok yang keren kayak Ayah…”

“Dasar…!” gue terkekeh. Sumpah, Ayah hari ini gokil banget. Bikin gue horny deh, ups.😀

“Oke, cukup ngomongin orang. Sekarang kita mo kemana nih?”

“Kan udah dibilang Ayah yang tour guide-nya…”

“Nonton aja yuk?”

“Bioskop?”

Ayah mengangguk.

“Ayok!”

Kita naik ke lantai tiga. Tapi sayangnya film yang pengen kita tonton itu tayangnya pukul 21.10. Sementara sekarang baru saja pukul 20.04.

“Terus gimana?” tanya gue.

“Lama amat kalo mesti nunggu jam sembilan. Kalo nonton film yang tayang sekarang aja gimana?”

“Nggak ah. Nggak suka,” tolak gue.

“Uhmmm, terus kita mesti nunggu nih?”

“Gimana kalo kita jalan-jalan dulu sembari nunggu jam sembilan?” usul gue.

“Jalan kemana lagi?”

“Terserah Ayah…”

“Enggg… Kamu nggak capek?”

“Emang Ayah capek?”

“Sedikit…”

Gue mangut-mangut sambil melempar pandangan ke poster yang ditempel di dinding bioskop.

“Atau gini aja… Besok aja kita nontonnya gimana?” usul Ayah kemudian.

“Besok pukul berapa?”

“Kita tanya dulu yuk…!” Ayah masuk ke lobi bioskop, bertanya ke petugas bioskop sebentar, lalu kembali lagi menemui Mario.

“Besok pukul dua belas kurang. Gimana?”

“Boleh…” gue setuju. “Terus sekarang kita langsung pulang?”

“Pulang aja ya? Kita istirahat…” Ayah menatap gue lembut. Tatapannya itu buat gue pengen memagut bibirnya.

Gue mengangguk.

***

Di jalan hendak menuju rumah, tiba-tiba hape Ayah berbunyi. Sebuah panggilan dari Kak Reno.

“Yo, Kak Reno, abangnya Ayah ngajakin gabung. Kita karaoke. Mo nggak?”

“Yo sih ayo-ayo aja…”

“Ya udah, kita putar balik lagi aja.”

“Karaoke-an di mana emangnya, Yah?”

“Katanya sih di Inul Vizta.”

“Lokasinya?”

“Di BIM*…”

“Di dekat pantai itu ya?”

“Heeh.”

Akhirnya kita berdua pun sampai ke lokasi yang tadi diberitahukan sama Ayah. Malam ini area parkiran hampir penuh. Sepertinya semua remaja kota Bengkulu keluar rumah pada malam minggu ini.

Sesampainya di tempat karaoke milik dari penyanyi dangdut Inul Daratista tersebut, Ayah kembali menelepon Kak Reno. Setelah itu ia langsung mengajak gue masuk ke dalam. Kita duduk sebentar di lobi.

“Kita tunggu Kak Reno bentar ya…”

“Emang dia di mana?”

“Di sini. Dia jemput kita di sini.”

Gue mengangguk-angguk.

Tak berapa lama kemudian, muncullah seorang pria muda, tampan, dan rapi menghampiri kami. Raut wajahnya nampak ramah. Melihat kedatangannya, Ayah langsung bangkit. Ia mencium tangan cowok itu.

Gue yakin banget itu pasti Kak Reno. Ajigile, dua kakak beradik good looking semua. Sama-sama bikin basah, desis gue dalam hati.

Gue langsung pasang senyum manis lalu menyalaminya. Tangannya lembut dan wangi. Nggak ada bedanya sama tangan Ayah.

“Ini Mario ya?”

“Yup…”

“Mama yang kasih tahu ya, kita di Bengkulu?”

“Ya. Tadi Kakak pulang. Mama bilang kalian lagi di pantai…”

“Ya, ya…”

“Yok masuk!” ajak Kak Reno.

Kami berduapun langsung mengekori langkahnya.

Di dalam ruang karaoke, terdapat lima orang, termasuk Kak Reno. Tiga cewek dan dua cowok.

“Yang mana adekmu, Ren?” tanya salah seorang teman Kak Reno, cewek berambut sebahu.

“Yang ganteng.”

“Ganteng semua,” celetuk cewek berbaju garis-garis horizontal.

“Berarti adekku semua,” Kak Reno terbahak.

“Yang ini adekku,” kata Kak Reno seraya menunjuk Ayah.

“Namanya?” tanya cewek berambut sebahu lagi.

“Kenalan sendiri dong.”

Ayah yang sedari tadi diam langsung mendekati teman-teman Kak Reno seraya mengulurkan tangan. Gue pun mengekor di belakangnya. Setelah perkenalan itu, gue jadi tahu nama-nama mereka. Cewek berambut sebahu namanya Dina, yang berbaju garis horizontal namanya Iis, yang duduk di apit Dina dan Iis namanya Mayang, dan yang terakhir, satu-satunya cowok, selain Kak Reno, namanya Hendro.

“Mario, kamu indo ya?” tebak Mbak Dina.

Gue mengangguk.

“Oohhh, pantesan rambut kamu kecokelatan, kulit putih… So bule.”

Gue terkekeh.

“Mamamu atau Papamu yang bule?”

“Papa.”

Gue bisa melihat gerakan kecil Ayah yang menoleh ke gue saat gue menyebut kata ‘papa’.

“Bule mana?” kali ini Mbak Mayang yang nanya.

“Kanada.”

“Berapa bersaudara? Punya Kakak nggak?” tanya Mbak Mayang lagi.

“Nggak usah dijawab, Dik. Kentara banget dia lagi modusss…” timpal Kak Hendro.

Gue tersenyum tipis. “Punya. Seumuran sama Ay—Kak Jo.”

“Yaaahhh… Nggak ada yang lain? Pamanmu misalnya yang masih single?”

“Ampun deh, May!” Kak Reno geleng-geleng kepala.

“Gak usah diladeni tuh si Maya. Mendingan karaoke-an aja lagi. Ntar keburu abis waktunya,” kata Kak Hendro.

“Bisa nyanyi???” Mbak Dina melirik gue dan Ayah bergantian. Ayah langsung menunjuk gue.

“Kamu, Mar?”

“Bisa sih. Tapi fals,” kata gue.

“Sama ajalah. Yang nyanyi dari tadi juga suaranya fals semua. Kalo merdu pasti dah masuk dapur rekaman,” celetuk Mbak Iis.

“Dapur rekaman? Dapur umum pantesnya!” timpal Kak Reno.

Semua tergelak, kecuali Ayah. Seperti biasa, ia cuma tersenyum tipis.

Secara tak sadar gue membandingkan Ayah dengan Kak Reno. Mereka memang sama-sama tampan, tapi kepribadian mereka berdua sepertinya cukup bertolak belakang. Kak Reno lebih ramah. Gue bisa melihat kesan pertama saat di lobi tadi. Selain itu cara dia menatap lawan bicara, tatapannya terasa hangat. Cara ngomongnya juga asik. Ketawanya juga lepas. Beda banget sama Ayah yang terkesan sedikit kaku dan formal.

Singkatnya berada di dekat Kak Reno, bisa membuat seseorang merasa nyaman. Kita bisa dengan cepat terbawa sama pembawaannya yang luwes dan menyenangkan.

Malam itu, acara karaoke-annya ditutup dengan lagu Ekspresi dari Titi Dj yang kami dendangkan secara keroyokan, minus Ayah. Ia tak bergeming di sofa dan sibuk memandangi layar hape-nya.

***

notes:

*BIM = Bengkulu Indah Mall

9 thoughts on “Bianglala Satu Warna Chapter XVd

  1. Halrien 07/15/2013 pukul 2:48 pm Reply

    Bagian d nya kaya nya lupa di post

    • sisipelangi 07/16/2013 pukul 2:40 am Reply

      @halrien cm salah huruf aja kok sharusnya d, bkn e. Noh di edit…

  2. bebongg 07/15/2013 pukul 8:46 pm Reply

    aihhhh…
    si jo makin cakep aja bang..
    lanjut bang lanjutt! buat tahapan mereka kaya mike sama juiannnn!!
    tapi dicurup aja, ntr ketauan lagi kalo di rumahnya jo -.-
    yeyyy!!! \(^_^)/

    • sisipelangi 07/16/2013 pukul 2:41 am Reply

      @bebong bel, elu nih fujo setipe sama ajeng ya. Membawa kesesatan! Wkwkwkw

  3. sasukechan 07/16/2013 pukul 12:25 am Reply

    Bro yg d nya terlewat

    • sisipelangi 07/16/2013 pukul 2:42 am Reply

      @sasuke bkn terlewat. Slh huruf aja kok bray🙂

      • sasukechan 07/16/2013 pukul 4:56 am

        oh git ya? soalnya yg abis dari nonton sunset kok langsung karokean, kirain ada bagian yg terloncat
        btw tulisanmu komplit bro, dr yg mild sampe hard ada semua, hehehe…..

  4. sisipelangi 07/16/2013 pukul 5:45 am Reply

    @halrien n @sasuke yup, ternyata emang ada yg terlewat. Mangap2 yaw…

    Oke, tak posting yg “d”-nya.

    • sasukechan 07/16/2013 pukul 11:11 am Reply

      Sip, tinggal nunggu chapter yg berikutnya…
      Btw pada migrasi kesini aja kali ya yg dr forum, sekarang kan gak bisa kebuka lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: