Bianglala Satu Warna Chapter XVc

Tak terasa mereka sebentar lagi memasuki gerbang kota Bengkulu, kota semarak.

“Yo, kamu lapar gak?” tanya Johan saat mereka melewati pedagang gorengan di pinggir jalan.

“Nggak juga. Emang kenapa?”

“Beli gorengan mau?”

“Boleh.”

Johan menepikan motornya di depan gerobak gorengan. Mereka membeli gorengan lalu meneruskan perjalanan.

“Yo suapin, ya?” Mario yang duduk di belakang menawarkan diri.

“Mana?”

Mario mengambil satu gorengan dari kresek, bergeser merapat ke Johan seraya mengulurkan tangannya ke depan mulut Johan.

Johan langsung menangkap gorengan yang disodorin Mario dengan mulutnya.

“Yah, kita lihat sunset ntar ya?” ajak Mario.

“Oh, iya… Pukul berapa sekarang?”

“Masih lama kok. Santai aja bawa motornya…”

“Kita pulang dulu ke rumah, istirahat bentar, terus baru kita ke pantai, oke?”

“Oke!”

***

Johan menepikan motornya di depan pedagang buah. Ia membeli 1 kg Sawo dan 2 kg Mangga sebagai oleh-oleh.

“Dari sini rumah Ayah masih jauh nggak?” tanya Mario.

“Nggak kok. Sekitar lima meteran, terus belok kiri. Masuk setengah kilo-an nyampe deh ke rumah.”

“Tante sama Om udah tahu Ayah ke sini?”

“Belum. Oh, iya, panggil Ibu sama Bapak aja ntar.”

“Oke, oke…”

***

Sesampainya di rumah Johan…

Suasana asri langsung terasa. Tak ubahnya dengan suasana rumahnya di Curup, rumah kediaman orang tua Johan di Bengkulu juga banyak ditanami pepohonan. Rambutan, Mangga, Kelapa…

Pintu depan tertutup. Seolah nggak ada tanda kehidupan di sana. Johan menekan bel di samping pintu pagar. Tak berapa lama kemudian, nampak perempuan setengah baya muncul dari samping rumah.

Beliau mengerutkan kening seraya menghampiri pagar, tapi setelah Johan melepas helmnya, senyumnya langsung mengembang.

“Jo…!”

“Ma…!”

“Aih, kok pulang nggak bilang-bilang sih…?” Mama Johan membuka pintu pagar.

“Mendadak sih, Ma…” jawab Johan sambil mengendarai motornya memasuki pekarangan.

“Mendadak gimana?” beliau menutup pintu pagar lagi.

“Tadinya sih Jo cuma pergi Payang*, ada teman yang kawinan. Pas pulang tiba-tiba aja kepikiran buat langsung caw ke Bengkulu…” terang Johan seraya turun mengikuti Mario.

“Ooohhh…”

Mario langsung menyalami camer Mamanya Johan.

Mama Johan tersenyum menyambut Mario.

“Ayo masuk. Lewat samping aja,” ajak Mamanya Johan.

“Papa sama Kak Reno mana, Ma?” tanya Johan sambil berjalan mengekor Mamanya dan Mario.

“Papa ada di dalam. Kakakmu lagi pergi.”

“Pergi mulu sih tuh orang…”

“Hehehe…”

“Siapa, Ma?” seorang pria mature, berperawakan tegap dan bijaksana muncul dari beranda samping.

“Nah, itu Papa,” Mamanya Johan menunjuk pria yang tadi bertanya.

“Anakmu, Pa, Johan…!”

“Jo? Kok nggak ngasih tahu?”

“Mendadak katanya…” Mamanya Johan yang jawab.

“Mendadak gimana? Emang di jalan nggak bisa kasih kabar?”

“Kejutan, Pa!” celetuk Johan.

Mario yang berjalan di belakang Mamanya Johan langsung menyalami Papanya Johan. Lagi-lagi ia mendapat senyuman ramah.

“Sama teman, Jo? Naek motor ya?”

“Ya, Pak,” Mario yang menjawab.

“Tadi di gunung ada razia,” beritahu Johan seraya memberikan oleh-oleh ke Mamanya.

“Terus? Kalian kena?” Mamanya Johan urung masuk ke rumah.

“Nggak. Kendaraan Jo kan lengkap,” Johan duduk di kursi teras.

“Emang sekarang ini polisi gencar banget razia. Soalnya banyak motor yang hilang,” terang Papanya Johan.

“Ooohhh, pantesan…”

Mamanya Johan mangut-mangut di depan pintu, lalu melangkah masuk ke rumah.

“Ini siapa, Jo? Teman sekampus?” Papanya Johan mengarahkan kelima jarinya ke Mario.

“Oh, bukan, Pa. Ini Mario, teman—”

“Teman kamu di rumah itu?”

Mario mengerutkan kening. Kok beliau tahu? Ayah udah cerita ke mereka ya? Tanya Mario dalam hati.

“Heeh. Inilah wujud Mario, Pa…”

Mario mengangguk dan tersenyum. Papanya Johan membalas dengan anggukan pula.

“Sering main ke Bengkulu, Yo?” tanya Papanya Johan (selanjutnya akan disebut Bapak).

“Jarang sih, Pak…”

“Wah kalo gitu mumpung lagi di sini, minta Kak Jo jalan-jalan ke pantai, benteng…” usul Bapak.

“Ya, Pak. Tadi Yo juga udah bilang ke Ka…k Jo…” Mario kikuk memanggil Johan dengan sebutan Kakak.

“Entar kita mo lihat matahari terbenam, Yah,” terang Johan.

“Di mana? Di pantai?” timpal Mamanya Johan (selanjutnya akan disebut Ibu) dengan nampan di tangan. Beliau menyuguhkan teh dan buah-buahan yang tadi mereka bawa.

“Ya, Ma.”

“Hati-hati. Di pantai sekarang rawan. Banyak polisi razia di warung remang-remang tuh…” beliau ikut nimbrung bersama mereka bertiga.

“Ngapain juga kita ke warem, Ma? Emang mo mojok?” Johan terkekeh.

“Ya, waspada aja…”

“Cuma mo nemenin Mario lihat sunset aja kok…”

“Mario? Ini Yang nemenin kamu di rumah, ya?” tanya Ibu.

“Ya, Bu…”

“Cakepan dia dari kamu, Jo…” kata Ibu polos.

Johan ngakak.

“Wajar Ma, ini anak ada darah bulenya…”

“Bule?”

“Ya. Indo-Kanada…”

“Ooohhh…”

Mario senyum sewajarnya.

“Yo, yuk kita ke kamar. Istirahat dulu, terus baru ke pantai,” ajak Johan seraya bangkit dari duduknya.

“Ya, masih lama sunset-nya. Mendingan istirahat dulu, tidur, mandi…” kata Bapak.

“Sudah makan belum kalian?” tanya Ibu.

“Gulai apa, Ma?”

“Gulai plecing kangkung sama pindang ikan…”

“Mo makan nggak?” tanya Johan ke Mario.

“Terserah…”

“Mo makan dulu atau mandi dulu?”

“Uhmmm… Mandi dulu aja.”

“Sip. Nyok!” Johan menarik lengan Mario menuju kamar.

***

“Kamar mandi itu!” Johan menunjuk satu-satunya pintu yang berseberangan dengan tempat tidur, tepatnya di sudut kamar.

“Nggak ganti baju, Yah?”

“Pake baju tadi aja dulu. Ntar kita beli.”

“Beli?”

“Ya.”

Mario mengangguk-angguk sambil berjalan menuju kamar mandi.

Rasanya segar banget saat kulitnya diguyur air dingin. Rasa penat berkurang. Keringat dan debu yang lengket di tubuhnya hilang. Ingin rasanya ia berlama-lama bermain main. Setelah Mario, giliran Johan yang mandi.

Seusai mandi mereka berdua malah tidur!

Mereka bangun saat waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat. Itupun dibangunkan oleh Ibu.

Selesai solat Ashar, Johan pun langsung mengajak Mario ke pantai. “Ntar telat!”

Mario mengangguk. Setelah menyisir rambutnya dan mematut diri di cermin sebentar, ia langsung keluar kamar. Pamit ke orang tua Johan dan setengah berlari keluar menghampiri Johan yang sudah duduk di atas motornya.

Johan membawa motornya, berbaur dengan kendaraan lainnya membelah keramaian kota di petang hari.

***

***Mario***

Gue nggak tahu sama sekali nama jalan ataupun daerah yang kamu lewati. Gue buta banget sama Bengkulu. Menurut gue jalanan di kota ini gak ada beda. Gak ada ciri khas. Setiap jalan yang dilewati rata-rata dua jalur, banyak cabang dan bermuara di persimpangan yang di tengah-tengahnya terdapat semacam gapura—kalau gue gak salah sebut namanya—dan hampir selalu ketemu lampu merah. Jalan sedikit, kena lampu merah. Jalan sedikit, berhenti lagi karena lampu merah. Lama berhenti di depan traffic light!

“Kalo Yo sendirian, rasanya Yo bakal nyasar deh…” kata gue ke Ayah.

Ayah terkekeh.

“Jalannya sama semua.”

“Bukan kamu aja yang bilang gitu. Banyak yang punya keluhan serupa…”

“Seminggu aja disuruh muter-muter ini kota, belon tentu Yo hafal jalurnya,” kata gue lagi.

“Mama aja yang udah lama tinggal di sini masih kebingungan… Hehehe…”

“Tuh kaaannn. Terus ini di setiap persimpangan hampir selalu ada lampu merah ya???”

“Heeh. Itu juga yang Ayah pikirkan. Kita lama di traffic light dari pada di jalan jadinya…”

“Yup!”

Gue terus ngajakin Ayah ngobrol seraya memperhatikan kiri-kanan jalan. Dari sekian daerah yang kita berdua lalui, gue cuma tahu sama Simpang Lima aja. Sebab setiap ke Bengkulu, pasti gue lewati daerah ini kalo mau ke Prapto atau ke Pasar Minggu. Selain itu ada patung kudanya yang gampang buat gue kenali.

Nggak terasa, kita sudah memasuki kawasan pantai. Di sisi kanan jalan terbentang air kebiruan dengan ombak yang cukup tenang. Di sepanjang pantai rapat dengan penjaja makanan. Pengunjung yang kebanyakan anak-anak muda kayak kita berdua juga ramai. Ada yang duduk bergerombol di depan kendaraan, berdiri di depan warung atau lalu lalang sambil ketawa-ketiwi.

Ayah memarkirkan motornya di sebuah area yang bertuliskan Parkir Motor, yang ditulis di papan kecil dan ditancap pada sebatang pohon pinus kecil (lagi-lagi kalo gue gak salah). Di sebelah parkiran itu terdapat kafe. TRIS namanya.

“Kita makan di sini aja ya?”

Gue mengangguk. Jujur, perut gue juga udah keroncongan. Tadi di rumah kita nggak jadi makan karena ketiduran.

Tempat makan yang kita pilih menyajikan view yang bagus. Dengan konsep outdoor, setiap pengunjung disediakan tempat berupa meja dan kursi yang dinaungi payung cafe ukuran besar. Setiap tempat langsung menghadap ke bentangan pantai.

Kami memilih duduk di satu-satunya tempat yang kosong. Tak berapa lama kemudian, pelayannya pun datang membawakan daftar menu yang tersedia.

Ayah dan gue memilih menu makanan yang sama, yakni nasi goreng spesial. Sementara untuk minumannya, gue memilih jus nanas. Sementara Ayah, seperti biasa, jus wortel.

“Sebentar lagi matahari terbenam…” kata Ayah.

Gue spontan memandang ke seberang lautan. Sepertinya begitu. Langit mulai kemerahan menandakan sebentar lagi sunset akan segera datang.

Tak berapa lama kemudian, menu pesanan kami pun disajikan. Tanpa banyak cincong, kita berdua langsung menyantap nasgornya.

Nasi gorengnya enak. Jus-nya juga segar. Rasanya puas. Gue dan Ayah berfoto berdua di sana.

Cukup lama kami di cafe, yakni sampai matahari terbenam.

Indah. Sangat indah. Lagi romantis. Suasana berubah teduh. Langit biru perlahan diselimuti hitam yang menenangkan. Di seberang sana langit semerah saga mengiringi Mentari yang pulang ke peraduannya. Luber ditelan bentangan air berwarna keemasan. Sekian menit kami membisu, fokus menatap matahari yang tergelincir di kaki langit.

Perlahan-lahan merah memudar, gelap datang menyelimuti. Gue menghela nafas dan melirik Ayah. Dia juga melirik gue. Tiba-tiba tangannya meraih tangan gue. Menggenggam jemari gue erat lalu kembali melempar pandangan ke lautan. Darah gue berdesir…

***

Notes:

*Payang = Kepahiang

10 thoughts on “Bianglala Satu Warna Chapter XVc

  1. bebong 07/09/2013 pukul 10:04 am Reply

    chap yg ini imut bgt sih kak :” lagi dong lagi.. Hehe
    mreka so sweet bgt ya :* aku paling suka dipart terakhir sama yg si ayah disuapin si yo :*

    • sisipelangi 07/09/2013 pukul 12:08 pm Reply

      hehehe.

      Btw, met menunaikan ibadah puasa ya!

  2. jacob damelian S(lian25) 07/11/2013 pukul 7:48 am Reply

    Bro santay knpa yg di forum g dilanjutin lagi,,,,?
    Banyak yg nungguin tuh termasuk aku,,
    Oh ia nama fb nya apa ,klo blh mau aku add,,

    Ini aku lian25 member forum

    • sisipelangi 07/12/2013 pukul 2:32 am Reply

      @lian25 wih, ada ente. Welcome to my blog yaw, bray

      • jacob damelian S(lian25) 07/13/2013 pukul 6:05 pm

        Hahaha noh di forum pada nanya knpa g dlnjutin,
        Ini jga dpt link blog nya karna liat komen di lapak nya kamu bro,,,,

        Siiippp siiiipppp bruan dlnjutttttt bro

  3. Tsu no YanYan 07/11/2013 pukul 3:06 pm Reply

    yeiii akhirnya baca juga lanjutannya bianglala satu warna… kangen banget ama Yo! #peluk Mario
    Johan becandaanya menjurus banget… untung temennya ga ada yang curiga… aseekk Johan makin sayang Yo>.<

    • sisipelangi 07/12/2013 pukul 2:33 am Reply

      @tsu no yanyan : *peluk balik* #eh😀

  4. Tsu no YanYan 07/12/2013 pukul 3:18 pm Reply

    eh ga boleh peluk-peluk bang, ntar BF-nya situ marah loh~~~

    • sisipelangi 07/13/2013 pukul 1:43 am Reply

      hahaha. Ya udah, peluk Jo aja deh kalo gitu… :p

  5. reinaldy 11/28/2014 pukul 12:24 pm Reply

    setelah baca cerita ini sampai tuntas jadi pengen kayak mario bisa dapetin seorang yg sayang sabar dan pengertian,kapan ya bisa dapat ayah seperti itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: