Si Perjaka dan Si Playboy Chapter Four

Julian begitu basah. Mike menekan kejantanannya dan menggesekkan lembut dan berirama pada kejantanan Julian, menggerakkan pinggulnya maju mundur, menikmati panas dan tatapan mata Julian yang lebar. Mike sudah sering diberitahu bahwa ukuran kejantanannya lebih besar daripada rata-rata, apakah itu yang membuat Julian takut?

“Julian, apakah semuanya baik-baik saja?” oh, sejak kapan ia begitu perduli dengan kondisi partner kencannya?

Senyum Julian menenangkannya. “Lebih dari baik, ini luar biasa.” Julian membungkuk untuk memberikan Mike kecupan kilat.

“Geser ke depan.” Mike menaruh tangannya di bawah sisi pantat Julian, membimbing cowok itu ke atas dadanya sampai ereksinya berada tepat di depan wajahnya. Aroma Julian begitu seksi, dan Mike menarik napas dalam. Jika ada seorang pria yang ingin Mike cicipi, pria itu adalah Julian; dan Mike membawanya ke mulutnya, menjangkau puncak ereksi kemerahan milik Julian. Mike bisa mendengar rintihan pendek saat ia menggodanya, dan ketika ia menghisap tepat di puncak ereksinya, Julian melenguh. Dia begitu responsif, Mike ingin membuat Julian orgasme lagi dan lagi hanya untuk kesenangannya mendengarkan lenguhan Julian.

“Mike, aku ingin…”

Apa yang Julian inginkan?

Mike menjilat sepanjang batang ereksi Julian dengan lambat berusaha mengacaukan pikiran Julian.

“Apakah ada sesuatu yang bisa aku lakukan untukmu?” desis Julian.

Mike merasakan kejantanannya mengejang ketika mendengar suara Julian yang sangat seksi.

“Aku rasa ada.” Mike menunggu untuk mendengarkan apa yang ada dalam pikiran Julian, napasnya semakin terengah-engah ketika posisi Julian berbalik darinya, menghadap jauh dari wajah Mike dan membungkus kejantanannya dengan satu tangan Julian yang lembut di sekitar pangkal ereksinya. Apa yang Julian lakukan padanya membuatnya bertambah panas dan bertambah keras dari menit ke menit. Tangan Julian mengalirkan rasa hangat dan sungguh membuat Mike bergairah, dan ia mencoba untuk mengalihkan perhatiannya. Mark bergidik dan akhirnya membenamkan wajahnya dalam diri Julian sekali lagi, berkubang dalam aroma dan suara yang Julian keluarkan saat lidah Mike membelai langsung pada bibir hole-nya yang merekah. Suara Julian yang tertahan di belakang tenggorokan bergetar dari mulut Julian menuju kejantanan Mike dan memberitahu Mike tentang kegelisahan Julian lebih jelas dibandingkan melihat dari ekspresi wajahnya.

Mike terus memutar lidahnya di sekitar hole Julian, dan berjuang untuk berkonsentrasi karena Julian telah memindahkan tangan ke bola-bolanya dan membelainya, dan bibir Julian menutupi kepala ereksinya, naik turun perlahan-lahan sepanjang kejantanannya, bahkan ketika merasakan tangan Julian sekarang bermain di atas nipple kecilnya, Mike tak tahan. Itu benar-benar menyiksanya, terutama pada setiap gesekan mulut panas Julian. Tidak bergerak maju-mundur, hampir tidak ada gerakan sama sekali, hanya gerakan lambat Julian membawa kejantanannya semakin dalam. Mike nyaris berhenti bernapas ketika ia merasa kepala kejantanannya yang membesar menyentuh bagian belakang tenggorokan Julian.

Dan Julian tetap seperti itu, selama beberapa detik. Pria ini benar-benar bottom yang istimewa, teknik mengisap kejantanannya berbeda daripada yang pernah Mike rasakan sebelumnya. Sesaat ketika Mike pikir dia mungkin meledak di sana, Julian bergerak, menarik kembali hingga hanya kepalanya saja yang berada di dalam mulutnya. Julian menjilati sekeliling kepala kejantanan Mike dalam gerakan melingkar yang lambat.

Mike memeluk pinggul Julian, menarik pinggulnya lebih dekat ke wajahnya, dan mulai menjilati Julian dengan sungguh-sungguh.

Mike melakukannya dengan cepat berharap Julian akan mempercepat gerakannya juga, mungkin mereka akan bertemu irama yang sesuai dan meringankan siksaan yang dirasakannya. Jadi Julian akan menangkap isyarat dan mereka bisa mencapai puncak mereka bersama-sama.

Mike sudah tak sabar ingin menembakan cairannya ke dalam mulut Julian, dan ia menghentakkan pinggulnya.

Tapi ternyata hal itu tidak membuat Julian memepercepat gerakannya yang berirama lambat dan menyiksa.

Mike memutar kepalanya ke samping. “Julian, lebih cepat, aku tak tahan. Hisap milikku lebih cepat, come on, baby. Shit, rasanya seperti neraka.” Mike tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk bercinta dengan pantat indah Julian.
“Kemarilah.” Mike membanting Julian ke sampingnya di tempat tidur dan memutarnya jadi mereka berbaring berdampingan.

“Ayolah, Julian.” Mike mendorong kaki Julian terpisah dan menyelipkan satu jari ke dalam hole basah pria itu, kemudian masukan satu jarinya lagi.

Julian mengaduh kecil.

“Kenapa?” Mike membenamkan jemarinya di dalam.

Julian menggigit bibir bawahnya dan menggeleng.

Mike tersenyum. Ia meraih pengaman di meja samping tempat tidur dan merobeknya hingga terbuka dengan giginya.

“Maukan kau melakukannya tanpa itu?” pinta Julian saat Mike hendak memasang pengaman ke ereksinya.

“Kau yakin?”

“Eng, uhm, yeah…” Julian ragu.

“Apakah kau selalu tanpa—”

“Oh, tidak!” potong Julian cepat. “Ini pertama, ah, maksudku, kau begitu menarik. Ya, menarik! Aku ingin merasakan milikmu langsung tanpa—”

Senyum Mike mengembang sebelum Julian selesai bicara.

“Baiklah. Aku mengerti maksudmu,” Mike menaruh pengaman ke atas meja kembali.

“Kau begitu siap untukku, sayang. Aku akan menyetubuhimu hingga kau menggila. Kau pasti menyukainya kan, sayang? Katakan padaku bahwa kau ingin aku menyetubuhimu…” pinta Mike seraya memukulkan ereksinya di atas telapak tangannya.

Suara Julian pecah terisak, takut, namun ia berbisik, “Aku suka, aku ingin merasakanmu di dalam diriku, lakukanlah, setubuhi aku hingga aku menggila. Lagi pula, ini alasannya aku ada di sini.”

Bagian yang sangat kecil dari otak Mike yang tidak sepenuhnya dikendalikan oleh nafsunya merasakan bahwa komentar Julian terdengar aneh, tapi itu hanya mengalihkan sebagian kecil dari kesadarannya. Sisanya terikat dalam gairah untuk merasakan ereksinya yang akan masuk ke dalam tubuh Julian. Mike menyokong dirinya di lengannya, menatap wajah Julian yang penuh nafsu, mata Julia tertutup lagi.

“Buka matamu, Sayang. Aku ingin melihat wajahmu saat aku menyetubuhimu. Ayolah, Julian…, Julian apakah kau baik-baik saja?”

***

Julian diliputi perasaan takut saat merasakan kepala penis Mike yang besar dan bulat mendesak masuk ke dirinya. Mike menggumamkan kata tidak jelas di leher Julian dan Julian membuka matanya saat Mike mengangkat kepalanya. Mike ingin melihat wajah Julian, dan Julian tidak yakin dia adalah seorang aktor yang cukup baik untuk menyembunyikan ketakutan dan antisipasinya dari pengalaman yang telah lama ia nantikan ini.

Julian merasa hole-nya meregang saat Mike mendorong masuk, terjadi penolakan pada benda asing yang belum disadari Mike bahwa hole-nya masih perjaka. Tapi Julian tahu dan ia merasakan sakit yang menyengat tajam, tapi tetap bungkam.

Mike kembali mendorong masuk, tertahan dan ia melirik Julian.

“Kau menutup.”

Julian menyunggingkan senyum masam. Ini masalah.

“Rileks, Sayang…” bisik Mike memberi semangat.

“Kau begitu besar. Mungkin milikku belum terbiasa,” kata Julian memberi alasan.

“Perlu pemanasan lebih, eh?”

“Ah, uhm… Tak perlu. Beri sedikit paksaan…” Julian mengambil resiko.

“Oh…” Mike menggesek ereksinya ke belahan pantat Julian. Cukup lama hingga Julian mengelinjang dan membuka sedikit. Mike tersenyum. Ia langsung mendorong masuk, memaksa dan… Julian tersentak dan menjerit saat Mike menerobos penghalangnya.

Perih luar biasa. Otot-otot miliknya langsung mencengkram ereksi Mike dengan ketat sehingga Mike tertahan dan hampir tak bisa bergerak. Mike pun menatapnya dengan mata elangnya, tajam seperti mata kucing. Rasa sakit masih di sana, tapi Julian mencoba bergerak dengan melingkarkan kakinya di seputar pinggang Mike, dan memeluk leher Mike; Julian menutup matanya untuk beberapa detik, merasakan semuanya, membawa Mike semakin dalam, dan ketika ia membukanya lagi, Julian melihat Mike menatap dirinya dalam pandangan horor.

“Julian, ya Tuhan, kau tidak, itu-kau masih perjaka, kan?”

“Ya,” suara Julian begitu rendah bahkan ia sendiri nyaris tak bisa mendengarnya. Tapi sia-sia untuk menyangkal apa yang mereka berdua tahu kebenarannya. “Tadinya,” sambungnya.

Mike membeku, hanya setengah ereksinya berada di dalam tubuh Julian, tapi hole Julian dengan ketat menahannya disana.

“Lalu kenapa?”

Julian mengangkat pinggulnya dan merasakan kejantanan Mike meluncur lebih dalam. “Setubuhi aku, Mike. Bercinta sekarang…”

“Tidakkah kau merasa sakit?”

“Plisss…, berbicara nanti karena aku tidak tertarik untuk bercakap-cakap saat ini.”

Mike tak ada masalah dalam mengikuti keinginan Julian karena dia mendorong ke depan dan membenamkan dirinya semakin dalam, menyentuh dinding Julian.

“Setubuhi aku sama seperti kamu memperlakukan partner-mu yang lain. Jangan perdulikan apa yang baru kau ketahui…”

Mike menghentak, merespon ucapan Julian. Julian menjerit dan membenamkan wajahnya ke dada Mike. Ia telah menunggu begitu lama untuk merasakan ledakan kebahagian dari seorang pria pengisi dirinya dengan kejantanannya meskipun ia belum bisa menikmatinya karena rasa sakit yang dominan. Tapi lama-lama akan terasa nikmat kan?

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: