Bianglala Satu Warna Chapter XVb

Mario senyam-senyum.

“Kenapa?” tegur Johan.

“Nggak, Yah. Nggak nyangka aja, ternyata yang suka PM-an sama Yo di forum itu anak Curup juga!” nada suara Mario masih tak percaya.

“Masa sih? Terus kamu tahu dia siapa?”

“Belum. Tapi cepat atau lambat pasti Yo bakalan tahu. Soalnya dia anak Smansa juga!”

“Wow! Ternyata yang belok di Smansa bukan cuma kamu aja, ya? Ada yang lain juga. Hummm, kira-kira berapa banyak cowok gay di sana???”

“Hahaha. Ya pasti adalah! Orang ratusan gitu, masa cuma gue doang yang homo?!”

“Ya sih. Cuma nggak terdeteksi aja sih… Eh, kok bisa PM-PM-an???”

“Iseng sih. Ayah tenang aja, nggak usah jeleous, oke?” Mario mengerling nakal.

“Nggak tuhh…”

“Hahaha. Yo pengen ngobrol langsung sama dia, Yah. Sebab dia itu yang selama ini jadi teman curhat Yo di forum…”

“Oh, gitu…”

“Iya. Kayaknya anaknya asik. Eh, dia biseks. Udah punya pacar, cewek…”

“Kesian ceweknya…”

“Wkwkwk…!”

“Kapan mo ketemuannya?”

“Belum tahu. Dia sih dari kemaren-kemaren ngajakin kopdar. Cuma Yo nggak tanggepin. Masalahnya nggak kepikiran kalo dia di Curup juga. Tapi setelah barusan tahu lokasinya , jadi pengen ketemuan. Pengen juga punya teman senasib di kehidupan nyata, bukan cuma di dunia maya aja…” Mario menerawang.

“Ya udah. Tapi jangan libatin Ayah lho, ya?!”

“Kenapa? Dia udah tahu kalo Yo punya Ayah…”

“Hah?! Dia udah tahu?!”

“He-eh. Emang kenapa?” tanya Mario super kalem.

Wajah Johan langsung cemas.

“Tenang aja. Muka Yo aja dia belum tahu. Apalagi muka Ayah… Di curhatan Yo nyebutin Ayah itu dengan panggilan ‘Pak Guru’. Jadi jangan cemas oke?’

“Kalo kalian ketemuan, tapi lama-lama juga bakal ketahuan juga…”

“Ish, yang discreet! Pokoknya Ayah nggak usah takut. Yo juga masih discreet, Yah…”

Johan langsung memeluk Mario.

“Yo nggak mau kehilangan Ayah. So, Yo pasti bakal hati-hati jaga Ayah…” ujar Mario pelan.

Johan membalas ucapan Mario dengan ciuman lembut di rambut pacarnya itu.

Ah, ini gila. Aku makin terbuai sama dia, desis Johan dalam hati.

***

*11 Mei 2013*

Mario tiduran di sofa, berkutat dengan handphonenya, main games, saat Johan keluar dari kamar dengan pakaian rapi.

“Lho, mo kemana, Yah?” tanya Mario seraya mendongak menatap Johan.

“Kamu udah mandi belum?”

“Belum. Emang mo kemana sih?”

“Ah, kamu. Dari tadi disuruh mandi…”

“Ayah mo kemana?” tanya Mario lagi.

“Ayah mo Kepahyang.”

“Ngapain?”

“Kondangan. Ada teman Ayah yang kawin…”

“Kawin muda?”

“Senior di kampus.”

“Ooohhh…” kata Mario.

“Sini!”

“Kenapa?” Mario bangkit dan menghampiri Johan.

Johan mengendus tubuh Mario, membuat Mario mengerutkan keningnya.

“Gak usah mandi, cuci muka aja terus ganti baju!”

“Yo ikut nih?”

“Nggak mau ikut?”

“Mau dong!” jawab Mario cepat sembari melompat dan berlari ke belakang.

Selagi Mario bersiap-siap, Johan pergi ke garasi dan memanaskan mesin motornya.

Beberapa menit kemudian, Mario keluar menghampiri Johan.

“Pergi sekarang, Yah?” tanya Mario seraya merapikan blazer-nya.

“Yuk!”

***

Rupanya bukan hanya mereka berdua saja yang pergi menghadiri pernikahan seniornya Johan. Ada beberapa orang dan kesemuanya mengendarai motor. Mereka berkumpul di bundaran* sebelum akhirnya konvoi bareng.

“Elu bawa siapa, Jo?” tanya Rifai, teman sekampus Johan.

“Adekku.”

“Emang elu punya adek?” celetuk cewek yang dibonceng Rifai.

“Iya. Ini, si Mario.”

“Oh, Mario namanya? Kakak-adek sama cakepnya…” puji tuh cewek.

“Tapi perasaan bukannya elu anak bontot ya, Jo?”

“Yup.”

“Lha terus…?” timpal cewek yang tadi.

“Adek ketemu gede,” jawab Johan santai.

“Ponakan elu?” kejar Rifai.

“Pacar,” jawab Johan dengan nada candaan.

“Ooohhhh… Hahahaha…!” tawa Rifai dan ceweknya pecah.

Mendengar jawaban Johan barusan, rasa panas naik ke pipi Mario. Dia nggak tahu harus malu atau bangga dengan apa yang dia dengar tadi.

***

Jarak kota Curup-Kepahiang normalnya hanya memakan waktu sekitar setengah jam. Meskipun begitu, tergantung dengan pengendara. Berhubung waktu sudah menunjukkan pukul 10.16, mereka semua mengendarai motor dengan santai. Sesampai di Kepahiang, mereka juga tidak langsung menuju lokasi, melainkan berkumpul dulu di rumah temannya Johan, sebab masih ada teman-teman satu kampus yang ingin pergi bareng mereka. Rencananya mereka akan ke kondangan itu tepat saat makan siang.

Sesampainya di Kepahiang, lagi-lagi banyak yang nanya ke Johan siapa yang dibawanya. Beberapa teman cewek Johan ada yang bertingkah genit ke Mario. Mario cuma ketawa-ketawa cool aja. Akhirnya saat jarum jam menyentuh angka dua belas, mereka semua bergerak menuju tempat kondangan. Di sana mereka nggak lama. Makan, duduk sebentar sambil dengar teman-teman Johan yang nyumbangin suara ’emas’-nya, salaman dengan kedua mempelai, foto bareng dan cabut!

“Sekarang kita kemana nih? Masa langsung pulang?” tanya salah seorang teman Johan.

“Gue mo pulang. Ada urusan nih,” jawab salah satu dari mereka.

“Urusan apaan?”

“Adalah, hahaha…”

“Gue juga mo pergi nih. Pacaran!”

“Ya udah, kalo yang ada urusan buruan cabut gih! Kalo yang nggak mo kemana-mana, nyok ke rumah gue aja?” ajak teman Johan, di mana mereka berkumpul tadi.

“Ada makanan nggak?”

“Soal isi perut mah bisa beli kali ah!”

Mario melirik Johan yang sedari tadi diam saja. Dia sih terserah Johan.

Johan balik melirik Mario. Tapi setelah itu merogoh handphone di saku kemejanya.

“Uhm, waktu masih pukul dua kurang…” desisnya.

“Emang kenapa?” tanya Rifai.

“Yo, mau ke Bengkulu nggak?” Johan malah nanya ke Mario.

“Ngapain?”

“Ke rumah Ay–Kakak!”

“Eng, terserah…”

“Oke. Kita ke Bengkulu aja,” pungkas Johan.

“Ntar pulang?” tanya Mario.

“Nginap dong.”

“Oohhh…”

“Kenapa?”

“Yo nggak bawa apa-apa…”

“Aya…h, KAKAK, juga…”

“Jadi kalian mo langsung ke Bengkulu nih?” celetuk Rifai.

“Ya. Aku sama Mario mo ke Bengkulu.”

“Ya udah. Kalo gitu kita balik ke Curup nih. Hati-hati aja ya…”

Johan dan Mario serempak mengangguk.

***

Tanpa direncanakan, akhirnya Mario dan Johan bertolak langsung ke Bengkulu. Dari Kepahiang ke Bengkulu bisa ditempuh hanya dengan waktu lebih kurang satu jam (lagi-lagi tergantung si pengendara).

“Mau kamu atau Ayah yang bawa?” tanya Johan setelah mereka mengisi minyak full tank.

“Terserah…”

“Gantian aja, oke? Kamu bawa perginya, pas pulang gantian Ayah yang bawa…”

Mario mengangguk. Mereka berdua berganti posisi dan kembali melaju menyusuri jalan lintas Kepahiang-Bengkulu…

***

Memasuki gerbang perbatasan antara Kepahiang dan Bengkulu Tengah, tepatnya di tengah hutan rimba, mereka melihat banyak pengendara motor dan mobil-mobil truk yang putar arah.

“Ada apa nih, Yah?” tanya Mario.

“Nggak tahu. Pelan-pelan aja…” perintah Johan.

“Razia!!!” seru seorang pengendara yang putar arah di depan mereka.

“Polisi lagi razia, Yah,” beritahu Mario.

“Heeh. Ayah juga lihat noh di depan ada beberapa orang polisi…” kata Johan sambil memperhatikan polisi berseragam patroli.

“Terus gimana?” tanya Mario.

“Sini Ayah yang bawa. Kamu bonceng…”

“Emang apa bedanya?”

“Mereka razia SIM sama STNK, Sayang. Kamu udah punya SIM?”

“Belumlah…”

“Makanya biar Ayah yang bawa.”

Mario menepikan motor. Mereka kembali berganti posisi. Benar saja, seperti yang dibilang Johan tadi, polisi berpatroli untuk memeriksa kelengkapan surat-surat berkendara. Karena Johan selalu bawa SIM dan STNK, jadi mereka bisa lolos.

“Gimana, kamu lagi yang mo bawa?” tanya Johan.

“Ayah aja deh…”

“Sip!” Johan mempercepat laju kendaraannya.

“Yuhuuu!!!” seru Mario.

***

2 thoughts on “Bianglala Satu Warna Chapter XVb

  1. kimHyeSup 07/09/2013 pukul 12:10 am Reply

    asiik~ makin mesra aja nie si Jo ama mario.. Ga sabar nunggu mario ketemu ama temen bf-nya.. Penasaran!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: