I’m A Slave for You Part 2 -End-

I’m A Slave for You Part 2 -End-

Wahyu tersedak berkali-kali saat kepala Rizky Junior menyentuh pangkal tenggorokannya. Tapi seperti semalam, cowok brengsek itu nggak mau perduli sama dirinya. Rizky tetap saja melesakkan miliknya ke dalam rongga mulut Wahyu dengan kasar. Sesekali ia menekan kepala Wahyu ke arah selangkangannya sambil mendesah nikmat saat seluruh miliknya basah di dalam mulut Wahyu.

“Ump…umppp…Uuummppp…aaaahhhh!!!” Rizky memaju-mundurkan pinggulnya dengan cepat di depan wajah Wahyu.

Wahyu membiarkan mulutnya menganga pasrah, membiarkan cowok itu terus memerawani rongga mulutnya. Meskipun demikian sepasang bola matanya berkilat marah.

Balas dendam itu lebih manis dan menyakitkan, gumam hati kecilnya berkali-kali dan berusaha menguatkan dirinya.

“Aaaarrrgggghhh….!” Rizky menyentakkan miliknya dengan keras ke dalam mulut Wahyu. Saat ia mengangkat pantatnya sedikit, ia memejamkan matanya dengan ekspresi nikmat. Sejurus kemudian, cairan hangat keluar dari juniornya.

Sontak saja Wahyu mendorong tubuh Rizky dan meludahkan cairan kental yang mencemari mulutnya.

Rizky yang sedang berada di puncak birahinya langsung membuka mata. Ia menatap Wahyu dengan marah. Ia benci saat kenikmatannya di ganggu.

“Elu ngapain?!” tegur Rizky.

Wahyu tak menjawab. Ia terus saja mengelap bibirnya dengan punggung tangan.

“Siapa yang nyuruh elu berhenti nyepong gue, eh?!”

“Elu kan udah keluar.”

“Gue baru keluar!”

“Ya uda—”

“Gue mau keluarin di mulut elu!” Rizky mendekatkan selangkangannya ke depan wajah Wahyu.

Wahyu melotot tajam di bawah tatapan Rizky yang tak kalah ganasnya.

“Cepat! Gue mau keluar!!!”

“Kenapa sih elu kejam banget sam—”

“Cepat!” potong Rizky sambil menonjok kepala Wahyu.

Wahyu membuka mulutnya. Rizky pun kembali memasukkan juniornya ke sana. Kembali memaju-mundurkan pinggulnya dengan gerakan cepat. Tidak lebih dari satu menit, cairan kentalnya yang tadi tertahan sebentar kini kembali melesak keluar.

“Telan!” perintah Rizky sambil terus memenuhi rongga mulut Wahyu dengan cairannya.

Wahyu tak bergeming sampai Rizky mencabut junior dari mulutnya.

Wahyu berusaha menelan cairan asing yang memenuhi rongga mulutnya. Ia hampir saja muntah setiap cairan itu melintasi tenggorokannya.

Sementara itu Rizky tersenyum puas sambil mengelus miliknya yang mulai melemas.

“Oke, sekarang kita mandi!” kata Rizky tanpa dosa sambil keluar dari bathtub dan menghidupkan shower. Ia lantas berdiri di bawah guyuran shower.

“Ayo!” Rizky mengajak Wahyu yang masih duduk di bathtub dengan sikap kaku.

Wahyu hanya diam sembari menatap genangan air bathtub yang keruh. Wangi busa dan kelopak mawar sekarang berganti dengan aroma cairan kental yang baru saja dikeluarkan Rizky tadi. Sekarangpun ia masih bisa melihat cairan putih kental yang tadi dimuntahkannya itu mengambang di sekitar lututnya.

“Heyy, ayooo…” satu tangan tiba-tiba terulur di dekat wajahnya.

Wahyu langsung bangkit tanpa memperdulikan uluran tangan yang ia sudah tahu pemiliknya itu. Ia langsung menuju shower.

“Naaah, gitu dong. Harus manut…” Rizky menarik tubuh Wahyu mendekat ke tubuhnya. Sekarang mereka berdua berada di bawah guyuran shower yang terasa menyegarkan.

Di bawah shower, Wahyu mangut dan merunduk, sementara Rizky mendongakkan wajah, membiarkan limpahan air shower menerpa wajahnya yang nampak puas.

“Elu tahu nggak, kalo elu itu satu-satunya partner yang gue ajak showeran…” terang Rizky.

Wahyu mencuih dalam hati. Terus gue harus ngerasa bangga gitu? Desisnya.

“Belum ada yang sampai sejauh elu. Kita biasanya cuma sebatas Exe-Room itu.”

Exe Room? Ulang Wahyu dalam hati. Ruangan apalagi itu? Tapi ia enggan untuk bertanya. Nggak penting dan masa bodoh! Justru ia melangkah mengambil sabun. Ia ingin secepatnya menyudahi adegan konyol ini.

“Sini biar gue sabunin,” Rizky menawarkan diri.

“Nggak usah.”

“Eit, elu itu kenapa sih sel—”

Wahyu langsung menyodorkan sabun ke tangan Rizky supaya cowok itu berhenti mengomel.

Rizky langsung tersenyum seraya mengambil sabun yang Wahyu berikan. “Naaahhh, gitu dong…! Jangan selalu bikin gue marah…” katanya sambil mulai menyabuni dada Wahyu.

Wahyu tetap saja diam. Mematung dan membiarkan Rizky menyabuni tubuhnya.

Jujur, ini pertama kalinya tubuhnya disabuni oleh orang lain (selain orangtuanya dulu) dan ia sempat berkali-kali berfantasi seks mengenai adegan mandi bersama, saling menyabuni tubuh dan bermain busa bareng sama pasangan. Tapi saat fantasinya itu terwujud sekarang, ia tiba-tiba muak. Faktanya ia merasakan itu dengan orang yang sudah melecehkannya.

“Cukup!” bentak Wahyu spontan.

Rizky menyipitkan matanya.

Wahyu menelan ludah. Ia langsung berbalik membelakangi Rizky.

Rizky tersenyum. Ia menyabuni punggung Wahyu.

“Ngomongnya nggak perlu keras-keras kok. Lembut aja suaranya…” kata Rizky sambil mengecup pundak Wahyu.

Wahyu menghela nafas perlahan. Bukan ini yang ia inginkan. Tapi dari pada cowok brengsek itu naik pitam lagi…

“Satu ronde lagi ya…?” tiba-tiba Rizky berbisik di telinga Wahyu.

Wahyu langsung membelalak.

“Oke…? Gue minta baik-baik lho… Jarang-jarang tahu gue bersikap lembut sama partner… Ah, kenapa gue mesti bersikap sopan sama elu???” ceracau Rizky sambil menempelkan miliknya di sela-sela bongkahan pantat Wahyu.

“Gue harus ngomong apa lagi sama elu biar berhenti nyiksa gue…?” Wahyu buka suara.

“Ehhh…”

“Pantat gue masih sakit…”

Rizky menghentikan gerakannya, berpikir sebentar dan kemudian mengerjapkan matanya.

“Oke. Karena elu belum terbiasa, gue terima permintaan elu. Tapi…! Elu harus ganti di lain waktu.”

Wahyu menghela nafas lega.

“Gimana? Deal…?”

“Oke,” jawab Wahyu tanpa pikir panjang. Masa bodoh sama perjanjian itu, pikirnya. Yang penting ia harus cepat pulang dan melaporkan cowok pshyco ini ke polisi.

“Sip! Silahkan teruskan mandi elu,” kata Rizky.

“Thanks…” ucap Wahyu dengan dada sedikit lapang.

***

Wahyu berdiri menghadap taman, persis di tempat Rizky berdiri tadi malam. Saat ini ia masih mengenakan handuk. Sementara sang empunya kamar tengah berada di kamar mandi.

Sebenarnya ini saat yang tepat jika ia ingin keluar dari sini. Tapi kondisinya tak memungkinkan. Selain pakaiannya semalam entah di mana, pintu kamarpun dikunci. Dasar kriminal kelas kakap, gerutu Wahyu.

Beberapa menit kemudian, Rizky pun keluar dari kamar mandi. Wangi sabun menguar dari tubuhnya. Telanjang dengan satu tangan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, ia melangkah gontai menghampiri Wahyu.

“Kok masih pake handuk aja? Belum puas maennya? Tapi tadi pas diajak malah nolak…” tegur Rizky.

“Pakaian gue mana?”

“Oh iya. Oke, sebentar!” dengan gesit ia menarik handuk yang melilit di pinggang Wahyu, dan melilitkan ke pinggangnya sendiri. Setelah itu mengambil kunci di kantong celana yang ia pakai semalam, yang ia taruh di sandaran kursi, lalu berjalan membuka pintu.

“STAY THERE!” kata Rizky dengan tegas sebelum menutup pintu.

Wahyu menghembuskan nafas berat. “Dasar wong edan!” umpatnya kesal. Ia menunduk dan memandangi tubuh telanjangnya. Tapi kemudian ia beralih memandangi celana yang dikenakan Rizky semalam.

“Kalo gue tahu dia taruh kuncinya di sana, pas dia mandi tadi gue bisa kabur dan pake tuh celana,” gerutunya geregetan sambil melangkah menghampiri kursi tempat celana itu ditaruh.

Sesampai di sana, matanya langsung tertuju ke dompet yang ada di atas meja. Ia langsung mengambil serta memeriksa isi dompet itu. Isinya banyak. Sejumlah uang, ATM, kartu pelajar, STNK, kartu perpus, kartu golongan darah, dan entah kartu-kartu apa lagi. Banyak banget.

Wahyu memeriksa kartu pelajarnya. Kartu pelajar atas nama Rizky Alfarisy, 9 Maret 1996.

“Huh, nama Islami. Tapi kelakukan kayak iblis…!” gerutu Wahyu sambil memasukkan kartu pelajar itu lagi dan memeriksa kartu yang lainnya.

Ada beberapa lembar kartu nama. Naaahhh, ini yang gue cari, gumam Wahyu dalam hati. Kartu ini bisa ia gunakan sewaktu-waktu bila diperlakukan. Ia bisa menyerahkan kartu nama ini ke polisi juga. Maka ia pun mengambil satu kartu lalu menaruh dompet ke atas meja dan beranjak ke tempat semula. Di tempatnya berdiri tadi, ia melipat kartu itu sekecil mungkin dan menggengamnya erat supaya si brengsek nggak tahu.

“Nih pakaian elu,” Rizky menyerahkan pakaiannya sewaktu menghadiri pesta semalam.

Wahyu menerima dengan sedikit terkejut. Soalnya pakaiannya itu dalam keadaan bersih, kering, terlipat dan harum lagi.

“Thanks…”

Rizky mengangguk.

Wahyu pun langsung mengenakan pakaiannya sambil terus diawasi Rizky. Tapi untungnya cowok itu nggak tahu saat Wahyu menaruh lipatan kartu nama ke dalam kantong celana. Ia pun merasa lega.

“Okeee, sekarang elu mo pulang?”

“Ya.”

“Gue anter.”

“Nggak usah. Gue pulang sendiri,” tolak Wahyu.

“No! No! No! Gue harus anter elu. Gue harus pastikan elu sampai dengan selamat, okey?”

“Gue tahu alamat rumah gue!”

“Eh, elu suka banget sih berdebat? Ayolah!” Rizky menarik Wahyu keluar kamar.

Akhirnya Wahyu pulang dianter Rizky. Ia terkejut saat cowok itu tahu lokasi rumahnya.

“Hahaha. Apa sih yang gue nggak tahu?” balas Rizky saat Wahyu menanyakan perihal itu.

“Elu udah lama ngincer gue, eh?!” tuding Wahyu.

“Nggak penting buat dibahas. Yang penting sekarang ayo kita masuk ke rumah elu…”

“Nggak! Elu nggak usah masuk! Ada kepentingan apa elu ke rumah gue?!” tolak Wahyu kembali dengan sikap galaknya.

“Buat ngembaliin elu ke rumah ortu elu lah…”

“Nggak usah.”

“Oke deh, kalo gitu. Tapi ingat, elu jangan bertindak gegabah oke. Gue tahu dalam benak elu terbesit buat ngelaporin gue ke polisi. Tapi gue saranin supaya elu pikir-pikir dulu. Elu nggak malu kalo semua orang tahu kalo elu dilecehin sama cowok? Apa kata orang? Seantero negeri bakal tahu kalo sampai masuk koran, teve…”

“Apa peduli elu? Itu urusan gue!”

“Gue cuma ngingatin kok. Lagian bukan masalah besar juga kan? Kita have fun, elu senang, gue senang. Elu nggak bakal kenapa-kenapa karena gue tusuk. Elu gak bakal hamil kan? Yang ada entar elu bakal ketagihan, hehehe…” Rizky mencolek dagu Wahyu.

Wahyu terdiam sejenak. Pikirannya kacau. Tapi ia buru-buru mengakhiri kekacauan itu dan membuka pintu mobil.

“Eit, tunggu dulu! Ini hape elu!” Rizky menyodorkan hape dari saku blazer-nya.

“Ohhhh…” desis Wahyu. Ia hampir lupa sama benda kesayangannya satu ini.

“Semalam gue udah kasih tahu ke ortu elu, kalo elu nginap di rumah teman. Jadi pintar-pintar elu aja ntar ngarang cerita kek gimana, oke dear?” Rizky mengerling nakal.

“Dasar PK!” semprot Wahyu yang disambut kekehan nakal oleh Rizky.

“Jangan lupa elu masih ada hutang satu ronde lagi sama gue!”

Wahyu mencuih sambil berbalik membuka pintu pagar rumahnya.

***

Sesampainya di kamar, Wahyu langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Benaknya membuncah. Ia bingung sikap apa yang harus ia ambil sekarang. Mengadukan cowok brengsek itu ke pihak yang berwajib atau mengubur masalah ini rapat-rapat?? Kalau sampai di bawa ke jalur hukum, ia nggak sanggup menerima konsekuensi yang ada. Kasus ini mencuat, aibnya terbongkar, diliput media, namanya dikenal karena jadi korban pelecehan… Nggak! Nggak! Wahyu mencoba menghentikan semua cuplikan menakutkan itu.

Tapi kalo ia diam saja, yang diuntungkan si brengsek Rizky itu! Ia tetap bisa berkeliaran dan tertawa sepuasnya setelah apa yang sudah ia lakukan. Bisa jadi tidak hanya ia seorang saja yang jadi korban, pasti banyak cowok di luar sana yang mengalami perlakukan yang sama dari si pschyo itu.

Wahyu memijat keningnya, mencoba mencari penyelesaian terbaik.

Sebaiknya lupain aja kejadian itu. Hal itu nggak akan berpengaruh banyak sama kehidupan elu, Yu. Sekarang ini sebaiknya elu hati-hati aja agar jangan sampai ketemu lagi sama Rizky brengsek itu! Jangan pernah ke sekolahan Regi lagi! Sebisa mungkin hindari kontak sama orang yang nggak elu kenal! Bisik hati kecilnya.

Jadi, gue harus mengubur masalah ini? Tanya hati kecilnya yang lain.

Sebaiknya begitu. Urusannya bisa bakal panjang, akan menyita emosi, pikiran dan tenaga elu kalo sampai masuk ke jalur hukum. Melibatkan banyak pihak dan bisa jadi akan merubah hari-hari elu ke depannya…, jawab hati kecilnya lagi.

Wahyu menghela nafas. Oke, kalo emang harus begitu. Tapi gue harus tetap waspada. Gue gak akan membiarkan peristiwa pahit ini terulang lagi… desis Wahyu dalam hati sembari merogoh kartu nama Rizky. Ia merapikan bekas lipatannya tadi dan menyimpan kartu nama itu ke dalam dompetnya. Siapa tahu suatu saat kartu nama ini ia butuhkan…

***

Mobil mewah itu berbelok memasuki pagar sebuah rumah. Di depan teras rumah cukup mewah itu sudah berdiri dua orang cowok dengan tatapan terus tertuju ke mobil yang baru datang tersebut.

Sang pengemudi pun turun dan langsung menyunggingkan senyum nakalnya ke arah dua cowok tersebut.

“Gimana? Sukses?”

“Hahaha. Gak ada kata gagal dalam kamus hidup gue!” jawab si pengemudi dengan pongah.

Cowok di sebelah yang bertanya tadi menghela nafas, berat. Wajahnya nampak murung.

“Udah, nggak usah merasa bersalah kali…” tegur sang penanya yang berbaju cokelat itu.

“Dia sedikit liar, but i like it! Very very like it!” suara sang pengemudi tadi terdengar puas.

“Gue harap ini yang terakhir kalinya elu nyuruh gue ngelakuin ini. Ini nggak benar!” kata si cowok berwajah murung.

“Tenang aja. Gue ada hadiah buat elu, kok. Nih, buat elu!” sang pengemudi menyodorkan amplop yang berisi segepok uang.

“Nggak. Gue nggak mau…”

“Lho kenapa? Ini karena kerja elu yang bagus…”

“Gue terpaksa ngelakuin itu. Dia sahabat gue. Elu jahat banget sih sama kita berdua? Sama dia? Sama gue? Gue ini pacar elu!”

“Elu, partner gue.”

Cowok berbaju cokelat terkekeh mendengar pertengkaran kecil di depannya.

“Gue… Gue pengen lebih dari sekedar itu…” ucap si cowok berwajah murung lirih.

“Elu tahu kalo perasaan elu itu sia-sia? Dari awal gue udah bilang jangan main hati…”

“Gue tahu, tapi—”

“Stop! Gue gak suka dengar itu! Ini, ambil!” cowok pengemudi kembali menyodorkan amplop.

“No…”

“Ya udah. Buat elu aja! Elu udah ikut dalam skenario di ultah gue. Pake nyebur segala…” si pengemudi beralih menyodorkan amplop ke depan cowok berbaju cokelat.

“Wah, serius???” mata si cowok berbaju cokelat berbinar.

“Nih, ambiilll…” kata si pengemudi dengan nada santai. Setelah itu ia mengancingkan blazer-nya dan berbalik ke mobil.

“Terus gue?” tanya cowok yang berwajah murung. Kali ini mimik wajahnya berubah cemas dan penuh pengharapan.

“Elu? Karena kerja elu bagus, gue bebasin elu!”

Cowok berwajah murung menelan ludah, pahit. Ia nampak tak senang mendengar jawaban barusan.

“Elu nggak bisa seenaknya!” teriaknya.

Si pengemudi tadi menyipitkan matanya. Kedua alis tebalnya hampir menyatu.

“Nggak semuanya bisa elu beli dengan uang!”

“Hahaha. Benar, benar. Gue lupa kalo selama ini kita ngelakuinnya secara gratis…tisss…tissss…” jawab sang pengemudi tadi santai.

“Gue gak mau terima duit elu. Gue gak akan menjual teman gue sendiri!”

“Oh ya?”

“Elu emang nggak jual dia, tapi memberikannya secara cuma-cuma!” celetuk cowok berbaju cokelat sambil menimang-nimang amplop di tangannya.

Cowok berwajah murung tadi terdiam, sementara si pengemudi dan cowok berbaju cokelat berpandangan dan terkekeh.

“Gue gak tahu gimana reaksi sohib elu yang liar dan menggairahkan itu, jika tahu ia sudah dijebak sama teman karibnya sendiri, eeehhh???” si pengemudi pura-pura menerawang menatap langit.

“Jangan ganggu dia lagi!”

“Dia masih punya hutang satu tusukan lagi,” timpal si pengemudi sambil mempraktekkan gerakan senggama.

“Gue—”

“Udahlah. Biarin aja. Itu urusan mereka,” potong cowok berbaju cokelat. “Mendingan sekarang kita berdua—”

“Cuih! Dua sepupu yang sama-sama iblis elu berdua! Berapa banyak lagi sih orang yang bakal elu hancurin, eh? Suatu saat elu pasti bakal kena ganjarannya!!”

“Sssttt… Udah, udahhh. Kenapa sekarang elu ngomongin soal ganjaran segala sih? Bukannya elu juga menikmatinya, eh?”

Si pengemudi terkekeh.

“Elu gak terima karena dia punya mainan baru lagi kaaannn? Udahlah, mendingan sekarang elu sama gue. Kita berdua itu sebelas dua belas, iya nggak bray?”

“Yoi!” jawab si pengemudi sambil bersiul dan masuk ke dalam mobilnya lagi.

Cowok berwajah murung tadi berlari menghampiri mobil. “Ky, Wahyu di mana sekarang?”

“Di rumahnya.”

“Gimana keadaannya?”

“Very well.”

“Nggak mungkin.”

“Cek aja sendiri. Oh, ya, kalo elu mo ke rumah dia, jangan lupa ingetin dia tentang hutang satu ronde itu, okey? Minta anterin sama si Ken noh… ”

Cowok berbaju cokelat memberi ciuman jarak jauh ke cowok berwajah murung yang langsung dibalas dengan ekspresi jijik.

“Hahaha. Regi, Regi. Sok jual mahal elu ah!” ucap cowok berbaju cokelat sembari kembali menimang-nimang amplop di tangannya…

***

Bersambung ke bagian ke dua. I’ll Volunteer.

5 thoughts on “I’m A Slave for You Part 2 -End-

  1. Tsu no YanYan 07/11/2013 pukul 3:17 pm Reply

    yahhh udah end u.u #berharap ada lanjutannya#…. bagusss banget ceritanya!!!>< huhuhuhu

  2. blackorchid 07/31/2013 pukul 11:14 am Reply

    bagian keduanya belum?

  3. […] Slave Part One|Slave Part two […]

  4. […] Part One|Slave Part two|Volunteer Part […]

  5. […] Part One|Slave Part two|Volunteer Part One|Volunteer Part […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: