Cerpen: Final Break Up

The Final Break Up

Putus.

Gue menelan ludah. Gue menatap Deri nanar.

“Ya, kita break dulu,” ucap Deri yakin.

“Haruskah?”

“Gue butuh ruang untuk sendiri, Fian.”

“Tapi nggak mesti putus kan? Aku nggak akan ganggu kamu beberapa hari ke depan, tapi jangan break yaa…” pintaku memelas.

“Itu keputusan aku.”

Gue menghela nafas berat. Seperti biasa, gue selalu nggak bisa mengubah keputusan Deri. Gue sayang dia dan akan ngelakuin supaya dia happy.

“Oke. Berapa lama kamu butuh sendiri?”

“Nggak pasti.”

Gue pengen ditelan bumi saat ini juga!

***

Tiga hari berlalu…

Rasanya sangat menyakitkan tanpa Deri. Hidup gue rasanya hampa banget nggak ada pesan sayang dari dia.

Jenuh. Satu kata yang gue rasakan saat ini. Waktu bergulir begitu lambat. Gue tersiksa banget. Baru tiga hari saja rasanya udah nggak ketemu selama sebulan.

Seminggu berlalu…

Gue benar-benar udah nggak sanggup membendung kerinduan ini.

Persetan sama keinginannya untuk sendiri! Gue butuh dia sekarang. Minimal dengar suaranya, titik!

Gue menelepon Deri. Berkali-kali gue telepon, dia nggak angkat juga.

Shit, gue menggerutu.

Tapi gue nggak putus asa. Tetap mencoba menghubungi dia dengan harapan panggilan gue bakal diangkat.

Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk, dari nomer yang nggak dikenal. Ternyata dari Deri.

Deri:
Fian, plis, jangan ganggu gue. Bknnya kita udh sepakat untuk nggak komunikasi skrg?

Gue:
Tp aku rindu kamu sangat. I miss u so bad,😦

Nggak dibalas.

Gue:
ini nggk adil, Der. Kmrin itu cm masalah kecilkan? Knp sanksi yg aku terima nggak setimpal sih???

Deri (kini ia membalas dengan nomernya):
Elu nggak mau dengar omongan gue. Gue gk suka itu!

Gue:
Toni itu tman aku. Ms km jeles sm dia sih? Aku aja nggak pernh melarang km untk jln sm siapapun krn komitmen kita untk saling percy kan?

Deri:
Jd gue gk boleh cemburu gt? Elu gk suka gue cemburu gt?!

Gue:
Bkn gt, Der. Aku sk km cemburu krn itu tanda cinta. Cm liat2 jg dong siapa yg km cemburui? Toni itu sohib aku. Km tahu itu!

Deri:
Ttp gue gk suka. Elu itu sharusnya dengar gue bkn dia. Plis respect n trust ur man!

Gue:
Selama ini gue selalu respek n percaya elu, Der. Br sekali kok gue nentang elu, krn emang kmrn itu kondisiny beda. Gue kan udh ksh penjelasan ke elu? Ya udahlah, sorry kalo elu gk suka. Nite!

Amarah gue meledak. Kerinduan gue berubah jadi kemarahan.

***

Gue sama Deri sudah tujuh bulan pacaran. Gue sayang banget sama dia karena cukup panjang perjuangan gue buat ngedapetin dia. Perkenalan kami bermula dari chat di facebook. Setelah itu kopi darat. Gue surprise banget pertama kali liat dia. Ternyata face dia melebihi ekpektasi gue. Foto sama aslinya sesuai, bahkan lebih cakep aslinya. Gue pun langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi gue sadar sama keadaan gue. Tampang gue biasa-biasa aja, jadi nggak mungkin dia suka sama gue. Tapi gue nggak mau kalah sebelum bertanding. Nggak bisa ngandalin fisik, masih ada cara lain. Yaitu dengan kepribadian. Langkah pertama, gue berusaha menjalin persahabatan dengan dia. Sebisa mungkin gue menjadi sahabat yang menyenangkan, punya attitude yang baik, otak yang smart dan bisa diandalkan. Gue yakin dengan semua itu ia bakalan nyaman sama dia. Kalo dia udah nyaman, kalo emang gue berjodoh berkesempatan sama dia, gue yakin itu cuma masalah waktu.😛

Benar aja. Dengan segala treatment yang gue kasih ke dia sebagai sahabat, lambat laun gue sama dia semakin dekat. Gue pun beraksi. Semakin intens mendekati dia sampai akhirnya setelah temenan dekat selama hampir setengah tahun, gue memberanikan buat nembak dia dan… diterima!😀

Gue senang bukan kepalang. Gue janji dalam hati nggak bakal menyi-siakan dia. Gue bakal buat dia happy selalu. Gue bakal menyayangi dia dan nurut sama dia. Gue pengen ngebuktiin kalo dia gak salah milih gue.

Semua janji itu udah gue penuhi selama tujuh bulan perjalanan cinta kami. Gue selalu dengar apa yang dia suka atau tidak suka. Gue selalu mematuhi apa yang dia suruh dan dia larang. Gue pengen dia selalu senang sama gue, meskipun terkadang gue tersakiti sama dia. Dia suka ngacuhin gue dan nggak mau dengar nasehat gue. Dia juga selalu bertindak sendiri dan seringkali nggak memperdulikan perasaan gue. Tapi tetap aja gue bertahan dan mengalah. Gue nggak mau kita berantem dan pengen hubungan kita tetap adem ayem.

Sampai akhirnya dua minggu yang lalu kita berantem juga. Masalah sepele sih. Gue tetap pergi sama Toni, teman dekat gue ke acara reuni SMU. Si Deri gak suka dengan alasan takut gue kepicut sama cowok lain (?). Dan saat itu gue ngerasa gue harus membangkang sama dia. Reunian ini nggak tiap tahun diadakan. Selain itu gue juga udah kangen dan pengen ketemu serta bernostalgia bareng teman-teman satu almamater gue di SMU, tanpa ada niatan pengen cari cowok baru. Gila apa? Gue udah punya Deri. Gue gak butuh cowok lain!

Tetap aja Deri nggak terima semua penjelasan gue. Tapi gue tetap pergi sama Toni. Dan saat gue pulang dia mencak-mencak sama gue. Yang tadinya nggak suka gue ke reuni, sekarang melebar ke topik kedekatan gue sama Toni. Dia cemburu dan bilang Toni bukan teman yang baik. What the hell! Gue kenal dan temanan sama Toni udah lama, jauh sebelum gue kenal sama Deri.

Lagi dan lagi gue ngalah. Gue minta maaf dan janji bakal denger omongan dia. Tapi apa? Dia malah minta break karena alasan pengen sendiri! Dia pengen gue sama dia sama-sama intropeksi atas hubungan kita!

Dan tanpa perlawanan gue terima.

Namun hari ini amarah gue mencapai titik puncak! Dia masih nyalahin gue setelah gue mengemis pengen dengar suara dia?

Oke. Gue bakal coba untuk menuruti keinginan dia! Gue nggak bakal hubungi dia meskipun rasa rindu gue udah segunung! Gue nggak bakal bergeming dan berusaha menghilangkan dia dari pikiran gue!!!

***

Entah sudah berapa hari berlalu, gue nggak menghitungnya.

Gue lagi di kantin bareng Toni.

“Eh, kok elu sama Deri nggak pernah keliatan sama-sama sih?” tanya Toni tiba-tiba.

“Break.”

“What? Kenapa? Gegara reunian itukah?”

“Yup.”

“Gila…! Itukan udah lama…”

“Kita breaknya juga udah lama.”

“Sorry ya. Gue ada andil juga sama retaknya hubungan kalian. Pasti sekarang elu galau banget…”

“Nggak juga. Awal-awalnya sih iya. Seminggu berjalan gue coba keep in touch, tapi malah gue dimarahi lagi. Dari situ gue berusaha membiasakan diri tanpa diri dan sekarang udah mulai terbiasa…”

“Jangan sampai putuslah, Bro. Elu kan susah banget dapatin dia? Ayo selesaikan segera masalahnya,” saran Toni.

“Thanks, Bro. Dia yang pengen waktu sendiri. Gue kasih deh. Gak bakal gue ganggu!”

“Sekali lagi sorry ya…”

“Udahlah. Bukan salah elu. Elu teman terbaik gue…” kata gue menenangkan Toni sambil menepuk pundaknya.

***

Tiga hari kemudian…

Gue baru selesai mandi sore dan santai di kamar saat sebuah pesan singkat masuk.

Deri:
Yang, aku di rumah kamu nih…

Gue langsung mengernyitkan kening. Deri di rumah? Gue langsung berjalan ke ruang tamu. Benar aja. Dia lagi ngobrol sama papa.

“Udah lama?” sapa gue.

Deri langsung tersenyum melihat kedatangan gue.

“Ayo ke kamar!” ajak gue langsung.

Deri mengangguk. Ia pamit ke Papa lalu membuntuti gue ke kamar.

Sesampai di kamar…

“I miss you, Beib. Miss you so bad…” desis Deri sambil memeluk gue erat selepas gue menutup pintu kamar.

Gue menghela nafas. Gue berusaha menahan diri.

“Aku yang salah, aku minta maaf. Aku egois dan udah gak percaya sama kamu. Padahal semua kekhawatiran aku nggak beralasan. Tapi semua itu karena aku sayang sama kamu…” ucap Deri di telinga gue.

Tumben Deri bersikap kek gini ke gue? Baru kali ini dia minta maaf sama gue. Tentu aja gue senang dengarnya.

Gue langsung membawa lengan gue ke kepalanya. Membelai rambutnya dengan lembut. Setelah gue ada di dekapan dia, baru terasa kalo sebenarnya gue juga sangat merindukan dia.

“Aku bakal berubah. Aku nggak bakal nyalahin kamu lagi, swear!” kata Deri sungguh-sungguh.

Gue tersenyum. Kita saling berpandangan.

“Udahlah, Yang. Lupakan ya? Sekarang kita mulai bina hubungan yang lebih sehat lagi…” pungkas gue.

Deri mengangguk.

“Besok aku jemput kamu. Kita ke kampus bareng lagi ya?”

“Ya. Tapi jangan telat ya? Besok aku ada kuis…” jawab gue.

“Sip!”

Kami lalu berpagutan mesra.

***

Keesokan harinya…

Gue berkali-kali melihat jam di layar hape. Lima menit lagi perkuliahan dimulai tapi kok Deri nggak nongol-nongol juga???

SMS dan telepon gue juga nggak ada balasan. Kemana sih dia? Apalagi on the way?

Tiga menit lagi.

Ugh, kemana sih tuh orang? Gue bisa telat nih! Kalo tahu gini kejadiannya, gue gak bakal ngizinin adek gue pake motor gue.

Huffhhh… Mendingan gue naek ojeg aja dah! Pungkas gue dalam hati. Nunggu tuh orang datang, mau sampe kapan? Siapa tahu nggak bakal datang lagi!!!

***

Lega. Gue bisa menjawab pertanyaan kuis yang tadi dilontarkan sama dosen. Gue pun buru-buru minta izin keluar soalnya sedari tadi hape di kantong gue bergetar. Kayaknya banyak banget sms atau panggilan yang tak terjawab.

Kesemuanya dari Deri!

“Ya, Yang?” gue telepon Deri balik.

“Kamu gimana sih?! Katanya minta jemput! Pas dijemput udah pergi!” suara Deri terdengar gusar.

“Kamu jemputnya jam berapa?”

“Aku lupa. Tadi Mama minta anterin ke pasar terus aku langsung ke kampus…”

“Terus kenapa sms sama telepon aku nggak direspon?”

“Hape aku profilnya silent. Tapi pas aku buka hape, aku langsung jemput kamu kok!”

“Kalo aku nunggu kamu, aku pasti telat, Der. Kan semalam aku dah bilang aku ada kuis…” terangku dengan nada lembut.

“Seharusnya kamu kasih tahu aku kalo udah pergi! Jadinya kan nggak sia-sia!!!”

Gue menghela nafas panjang.

“Ya, maaf… Sekarang kamu dimana?”

“Di rumah kamu!”

“Really? Kenapa nggak langsung ke kampus aja?”

“Pulang sekarang!”

Tut!

Oh my— oke, gue bakal pulang.

Sesampai di rumah…

“Kenapa pulang, Den?” tanya Pak Ajun, tukang kebun rumah gue.

“Deri ke sini. Tapi motornya mana ya?” gue mengedarkan pandangan ke sekitar halaman rumah.

“Baru aja pergi…”

“Hah? Pergi?”

“Iya. Habis nelpon tadi…”

Bahu gue langsung merosot dengarnya. Jadi, maksud si Deri apa sih? Dia maunya apa dengan ngerjain gue kek gini?

“Hallo…!” gue telepon diri dengan gusar.

“Ya…” jawabnya santai.

“It’s not funny, Der! Maksudnya apaan sih—”

“Nggak enakkan digituin?”

Rahang gue langsung mengeras.

“Gue benci sama elu! Kita putus aja!” balas gue spontan penuh emosi.

“Fian, kita—”

Tut!

Gue menekan tombol reject dengan kesal.

Tak berapa lama kemudian, sebuah pesan singkat masuk.

Deri:
Gitu aja ngambek? Aku cm pergi beli cemilan, Sayang. Jgn marah ya? ILUSM.

Gue mengernyitkan dahi setelah membaca sms-nya. Beneran nih?

Gue:
Ya udah. Buruan ke sini.

Deri:
sip :*

Beberapa menit berlalu setelah sms balasan itu. Tapi Deri nggak nongol-nongol juga. Beli cemilan di mana sih dia? Masa selama ini? Jangan-jangan dia bohong lagi supaya gue gak marah!

Deri:
Yang, km g ada jam kuliahkan skrg? Aku pulang krmh dulu. Mama td telp.

Gue:
Pulang knp? Ada apa?

Deri:
g tau. Ntar aku jemput km. Jangan kmana2. TETAP DI SITU!

Gue terkekeh. Terkadang gue ngerasa senang juga dapat perintah dari dia.

Setelah beberapa saat, akhirnya pacar gue yang tampan tapi ngeselin itu datang juga.

“Huhh, apa deh. Mama cuma minta anterin ke kantor,” gerutu Deri sambil menaruh kantong kresek hitam berisi cemilan ke atas meja.

“Lho, mobilnya beliau kenapa?”

“Masuk bengkel.”

“Ya nggak apa-apalah. Dia kan mama kamu? Gak salah dong dia sekali-kali minta tolong sama anaknya? Kamu juga gak boleh gerutu ah kalo bantu ortu. Dosa,” kata gue dengan nada ringan.

Deri tersenyum. “Kamu emang paling jago deh bikin hati aku tenang, Yang…”

Gue tersenyum girang.

***

“Eh, kemarin elu kemana sih? Pergi gak bilang-bilang…”

“Gue pulang, Bro. Deri ada di rumah.”

“Deri? Tapi kemarin gue lihat dia ada di kantin tuh pas elu pulang…”

Gue mengernyitkan dahi sambil memandangi Toni.

“Ohhh, iya. Dia sms gue kalo dia ada di rumah mo jemput gue pas kita lagi kuis. Habis kuis gue langsung pulang tanpa nanya dia masih di rumah apa kagak. Ternyata gue pulang, dianya malah nemuin gue di kampus…” terang gue.

“Oohhh…” Toni mengangguk-anggukan kepala.

Mendapat informasi yang tak terduga dari Toni tadi ngebikin pikiran gue nggak tenang. Deri di kampus? Tapi dia bilang beli cemilan?

Gue langsung menghubungi Tante Lidya, mamanya Deri, untuk memastikan kebenaran ucapan Deri kemarin.

Gue:
Te, mobilnya semalam masuk bengkel ya?

Tante Lidya:
Nggak. Emang kenapa, Ian?

Gue tersenyum kecut membaca jawaban Tante Lidya barusan. Ternyata Deri bohong!

Gue:
Gpp, Te. Soalnya kemarin ada mobil yg persis sm kek punya tante. Kirain mobilnya Tante…

Gue menghela nafas panjang, memejamkan mata dan berusaha menenangkan pikiran. Ternyata Deri sengaja ngebohongi gue supaya gue nggak marah dan minta putus. Gue harus gimana? Senangkah? Sedihkah? Kenyataannya ternyata dia cinta sama gue.

Ah, sudahlah. Nggak usah diperpanjang. Selagi kebohongannya itu masih bisa ditolerir dan nggak berhubungan dengan kesetiaan, gue maklumi kok. Gue nggak mau berantem lagi.

***

“Yang, malam minggu ini nginap di rumah aku ya?” pinta Deri.

Saat ini kami tengah menghabiskan sore hari di dermaga kecil yang sepi.

“Mama-Papa sama Mbak Putri nginap di rumah nenek. Gue sendirian di rumah.”

“Kok kamu nggak ikut?”

“Sengaja. Biar bisa berduaan sama kamu semalaman…” Deri mengerling nakal.

“Bertiga kali. Kan ada Satpam…”

“Haish! Dia kan di pos jaga…”

Gue terkekeh. “Oke deh. Aku ke sana.”

“Sip!” ia meremas jemari gue kuat.

Malam Minggu pun tiba.

Pukul tujuh lewat sedikit gue langsung cabut ke rumah Deri. Udah nggak sabar pengen menghabiskan waktu berdua semalaman sama dia. Jarang-jarang moment seperti ini bisa terjadi.

Sesampainya di rumah Deri, gue dikasih tahu sama Mas Budi, satpam rumahnya, kalau Deri lagi pergi bareng teman-teman kompleksnya. Gue langsung menghubungi dia.

“Ya?” terdengar sapaan dari ujung sambungan.

“Yang, kamu di mana? Aku dah di rumah kamu nih…” terang gue sambil berusaha menahan kesal.

“Oh, kamu udah di rumah? Langsung ke kamar aja ya? Aku lagi jalan sama—”

“Ya, satpam rumah kamu udah kasih tahu,” potong gue. “Cepetan pulang ya?”

“Ya, ya. Kamu tunggu aja.”

“Oke,” jawab gue sambil langsung menuju kamar Deri.

Satu jam gue nunggu dia di sana. Tapi Deri belum balik juga. Gue pun kembali menghubungi dia.

“Der, masih lama nggak sih?”

“Bentar lagi. Aku juga mo pulang, tapi gak enak sama teman-teman nih…”

Gue menghela nafas mendengar jawabannya. “Berapa lama lagi sih?”

“Bentar lagi ya? Teman-teman masih ada urusan nih…”

“Huhhh… Kalo tahu gini, kenapa kamu nggak kasih tahu aku sih? Kan aku nggak perlu ke sini sebelum kamu balik…” sesal gue.

“Kamu di rumah juga nggak ada kerjaan kan? Anggap aja rumah sendiri! Itu aja jadi masalah sih, Yang…”

Gue menghela nafas. Seperti biasa, gue lagi yang disalahin.

“Oke, oke. Aku tunggu ya…” pungkas gue.

Selagi menunggu Deri pulang, gue memilih menonton teve. Sebelumnya gue juga ngubek-ngubek isi kulkas di dapur buat cari makanan buat nemenin gue nonton. Untung ada film bagus yang diputar di salah satu stasiun teve. Lumayan jadi penghibur buat ngabisin waktu.

Setelah sekian lama mantengin teve, sekalinya gue ngecek jam, sekarang udah pukul 22.41 WIB. Gue tersentak dan kembali sadar kalo Deri belum pulang juga.

“Shit!” umpat gue kesal. Buru-buru gue menghubungi dia lagi.

Nggak diangkat. Bahkan saat gue coba lagi panggilan gue direject. Setelah itu nomernya udah nggak aktif.

Gue menekan gigi-geligi gue dengan kuat. Kadung emosi gue sampai ke ubun-ubun.

“Oke kalo ini mau elu!” geram gue sambil menaruh hape gitu aja di ranjang lalu kembali fokus ke teve.

***

Deri pulang saat jarum jam hampir menyentuh pukul 23.15 WIB. Gue diam aja saat dia masuk dan menghempaskan diri di sebelah gue.

“Kamu belum tidur, Yang?”

“Belum,” jawab gue singkat.

“Nungguin aku yah?” tanya Deri tanpa rasa bersalah sambil menyunggingkan senyum manisnya.

“Kamu nggak bakal pergi lagi kan?”

“Nggak dong…”

“Kalo gitu aku pulang sekarang,” sambut gue sambil turun dari ranjang.

“Eh, kok pulang?” tanya Deri keheranan.

Gue nggak menjawab omongannya. Gue matiin teve dan berjalan ke dapur untuk ngembaliin gelas dan piring yang tadi gue gunakan.

“Kamu beneran mo pulang? Aku balik kok kamu yang pergi?” tanya Deri.

“Gue capek sama sikap elu, Der! Elu selalu nggak nganggap gue. Gue selalu jadi urutan ke sekian dalam prioritas elu! Elu manis ke gue cuma saat elu butuh gue doang. Selebihnya? Elu selalu gak perduli…”

“Fian…”

“Elu yang bikin janji, elu yang nyuruh gue ke sini dan gue datang, tapi elu malah pergi sama teman-teman elu. Teman-teman kompleks yang hampir setiap hari elu ketemu sama mereka. Tapi elu lebih milih jalan sama mereka dan nyuruh gue nunggu sampai lumutan di sini! Ya udah kalo gitu, pilih aja teman-teman kompleks elu! Kalo cuma numpang tidur doang, gue juga punya rumah, punya kamar sendiri yang lebih nyaman dari ini!” cerocos gue dengan nada penuh emosi.

“Yang…”

“Udah, gue mo pulang! Gue udah nggak tahan lagi dan kita putus aja!” pungkas gue sambil melesat ke luar rumah.

***

Untuk kesekian kalinya Deri mencoba menghubungi gue, tapi untuk kesekian kali pula gue mengabaikan setiap sms dan panggilannya.

Gue nggak mau perduli lagi. Kali ini gue serius. Meskipun berat, gue rela putus sama dia. Gak perduli gue bakal menyesal atau nggak. Gue tahu gue pasti bakal merindukan dia, merindukan saat-saat kebersamaan ataupun moment-moment pertengkaran kami. Tapi kali ini gue bakal mempertahankan harga diri gue!

“Eh, kok nggak diangkat sih?” tegur Toni.

“Biarin aja.”

“Elu beneran mo putus sama Deri?”

“Seriuslah. Eh, kok elu tahu?”

Toni nyengir.

“Siapa yang kasih tahu? Deri kah?”

“Ya. Dia cerita ke gue kalo elu minta putus. Dia bilang kali ini elu nampaknya benar-benar meledak…”

Gue mendengus.

“Pikir-pikir lagi lah… Susah cari cowok cakep kek dia…”

“Percuma cakep kalo bikin makan hati…”

“Tapi dia sayang sama elu…”

“Huh!”

“Kalo elu beneran mo putus, putus secara baik-baik bagusnya, Bro…” saran Toni.

“Gue males ketemu dia…”

“Kan bisa lewat hape? Angkat aja telepon dia…”

Gue melirik hape gue yang terus bergetar. Ya udahlah, gue angkat aja deh, gumam gue dalam hati.

“Halo?” sapa gue dingin.

“Ayang!” suara Deri terdengar senang bercampur cemas.

“Ketemuan di taman yuk?”

“Oke. Aku kesana sekarang.”

“Ya,” jawab gue sambil memutuskan sambungan.

“Gimana?” tanya Toni.

“Gue mo bicara sama dia di taman sekarang.”

“Oooh, sip. Semoga dapat jalan keluar yang terbaik.”

Gue mengangguk.

***

Angin berhembus sepoi-sepoi meniup pucuk-pucuk dedaunan. Gue dan Deri duduk di salah satu bangku taman di bawah pohon rindang.

“Aku minta maaf…” Deri memulai percakapan.

“Gue maafin.”

“Serius? Ah, kamu emang pacar aku yang paling baik…”

“Gue maafin, tapi bukan berarti gue mau balikan sama elu. Gue tetap pengen putus.”

“Lho, kok…? Kamu serius pengen putus? Nggak kayak yang sudah-sudah?”

“Hubungan kita selama ini sangat melelahkan, Der. Gue capek. Gue sudah sampai di titik kesabaran gue.”

“Kamu selama ini nggak pernah kayak gini. Ini bukan kamu…”

“Aku nggak mau lagi jadi Fian yang dulu. Dulu gue pikir hubungan kita bakal baik-baik aja kalo gue terus ngalah sama elu. Selama ini gue terus simpan “never say never” di benak gue untuk setiap masalah yang gue hadapi. Tapi ternyata itu nggak cukup kalo cuma berjalan di salah satu pihak.”

“Aku cinta kamu, Fian. Banyak banget cowok yang ngejar aku, tapi aku tetap setia sama kamu. Apa kesetiaan aku itu gak ada artinya buat kamu?”

“Thanks buat kesetiaannya. Gue juga selama ini setia sama elu. Bukan hanya itu, gue selalu memaafkan semua kesalahan elu ke gue. Gue tahu elu beberapa kali boongin gue. Bilang beli cemilanlah, nganterin nyokaplah… Tapi gue berusaha untuk nggak jadiin itu masalah. Tapi apa balasan yang gue dapat? Elu salah nyalahin gue even saat itu jelas-jelas salah elu.”

“Fian, plis, Yang… Kita bisa sama-sama lagikan? Udah beberapa kali kita putus sambung. Apa bedanya dengan yang sudah-sudah? Kita mesti balikan lagi…”

“Nggak! Apa kata elu, tapi kali ini gue kasih tahu, kita nggak akan pernah bersatu lagi,” ucap gue dingin.

“Kamu nggak bisa tanpa aku.”

“Mulai saat ini bakal gue coba tanpa elu,” kata gue mantap sambil bangkit dan beranjak meninggalkan Deri.

***

Sakit. Hati gue emang sakit. Rasa sayang itu masih ada buat Deri. BF yang selalu jadi kebanggaan gue di depan teman-teman karena rupa rupawannya. Tapi sekarang gue sadar, bukan hanya wajah yang gue butuhkan. Tapi rasa nyaman. Sampai kapan gue akan mempertahankan hubungan hanya karena cowok gue cakep tapi selalu nyakitin gue?

Biarlah cinta gue itu gue tinggalin bersama Deri di kursi taman. Silahkan dia yang bawa kemanapun dia pergi. Gue harap dia bisa mendapat pelajaran dari sana. Dan sekarang gue siap membuka hati yang baru. Kira-kira ada yang mau menggantikan posisi Deri di hati gue? Tapi harus yang bisa buat gue nyaman ya…🙂

The End.

One thought on “Cerpen: Final Break Up

  1. Tsu no YanYan 07/11/2013 pukul 3:21 pm Reply

    iya ya, percuma punya cowok ganteng tapi makan hati!!! #minumtehbotol# setuju sama Fian!!! ><)b…. tapi sayang juga cowok ganteng diputusin~ ihihihi Lol😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: