Chapter XV

*15 April 2013*

“Nah begitulah ceritanya…,” pungkas Ajeng setelah bercerita panjang lebar. Tapi tentu saja tidak semuanya ia ceritakan. Misalnya permintaannya agar Johan menerima Mario saat anak itu nembak dia. Ia takut kalau Mario dengar bagian itu, ia jadi makin sedih setelah semalam ditolak sama Johan.

“Sayang keinginan gue itu nggak berjalan lurus… Tapi ya sudahlah…” kata Ajeng.

“Keinginan apa lagi?”

“Supaya kalian pacaran…”

“Kan udah pacaran…?”

Ajeng mengerutkan keningnya.

“Lho, gimana sih? Katanya Ayah udah cerita semuanya???”

“Ayah elu bilang semalam elu nembak dia—”

“Emang bener.”

“Tapi elu dia tolak.”

“Eh? Dia bilang gitu?”

“Heeh. Emang yang sebenarnya gimana?”

“Diterima dong! Gak lihat nih wajah gue berseri-seri kek gini?”

Ajeng langsung melotot.

“Suer elu?!”

Mario mengangguk mantap. “Iya. Sekarang kita pacaran, hihihi…”

Mata Ajeng berkilat tajam. “Sialan! Ternyata tuh orang boongin gue ya?!”

“Hahahaha, kena deh!”

“Ugh!” Ajeng mengepalkan tinju dan bergegas masuk ke dalam rumah.

“JOOOOOOO…!!!” teriak Ajeng keras sampai menggema ke seisi rumah. Mario yang duduk di teras terkekeh lalu menyeruput jus-nya kembali.

“JOOOOOOO…!!!”

“LAGI MANDI KALI, MBAK!” timpal Mario dengan teriakan pula.

Ajeng berjalan ke kamar mandi. Ia menggedor pintu kamar mandi dengan gusar.

“Ya…?” terdengar suara dari dalam.

“Eh, sialan elu ye! Elu ngadalin gue ternyata!”

“Ajeng ya? Kenapa, Jeng?” tanya Johan dengan nada tak bersalah.

“Elu bilang semalam Mario elu tolak! Ternyata elu terima kan…???!”

“Mario yang bilang ya?”

“IYA! KURANG AJAR ELU!”

“Hehehehe…”

“Ketawa lagi elu!”

“Aku mau mandi dulu nih…”

“Selamat yah, Jeung! Eh, jangan lupa makan-makan!!!”

“Makan aja sendiri. Noh, masih ada nasi sama sambel.”

“Makan di 21 atau Rakiti dong!”

“Pergi aja duluan! Kapan-kapan aku nyusul!”

“Grrrr…!!!”

***

[b]Chapter XV[/b]

*15 April 2013*

Johan melirik jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.17 menit. Ia menoleh ke pintu kamar Mario yang terbuka sedikit. Sedari tadi anak itu nggak keluar-keluar dari kamarnya.

Sedang apa sih dia? Masih belajar atau udah tidur? Tanya Johan dalam hati. Ia langsung bergerak ke sana.

Mario ternyata masih terjaga. Ia duduk di depan meja belajar dengan buku di hadapannya. Johan tersenyum. Ia langsung menghampiri Mario.

“Serius banget sih…” tegur Johan seraya melingkarkan lengan di sekitar pundak Mario.

Mario mendongak sambil melepas headset-nya.

“Hmmm, belajar apa dengar lagu???” Johan menyipitkan matanya.

“Hehehe, dua-duanya…”

“Kalo udah belajar buruan tidur. Udah malam nih.”

Mario mengangguk sambil memasang headsetnya kembali.

Johan merengut. Ia melepas headset di telinga Mario.

“Kenapa?” tanya Mario.

“Jangan lama-lama.”

“Iya. Bentar lagi kok.”

“Tidur.”

“Iyaaaa…”

“Di kamar Ayah.”

Mario langsung mendongakkan kepalanya. Johan tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.

“Kenapa? Pengen dikelonin?”

Johan tertawa.

“Ya udah, Ayah ke kamar duluan ya…”

Mario mengangguk. Ia senyam-senyum sambil memasang headsetnya lagi.

***

Johan lagi bersantai di atas ranjang sambil menonton TV saat Mario masuk.

“Sudah belajarnya?” tanya Johan.

“Sudah,” jawab Mario sembari melompat ke atas tempat tidur.

“Bersih-bersih dulu gih…”

Mario menghela nafas. Dengan enggan ia ke kamar mandi. Gosok gigi, cuci tangan, kaki dan muka dengan cepat lalu kembali ke kamar Johan.

Saat ia masuk, Johan sudah tidak lagi menonton TV. Ayah-nya itu tengah bersandar di kepala ranjang dengan kedua lengan di belakang kepala.

“Hupp, iyaak..” desis Mario sambil menjatuhkan pantatnya ke ranjang. Tanpa sungkan ia merebahkan kepalanya ke pangkal lengan Johan.

“Bobo gih…” kata Johan.

“Belum ngantuk.”

Johan menurunkan tangannya dari belakang kepala. Ia menggeser kepala Mario sehingga bersandar di dadanya. Ia lantas mendekap leher Mario.

“Yah…”

“Ya?”

“Kenapa Ayah suka sama Yo?”

“Yo?”

“Gue…”

“Ckck, langsung ganti aja namanya sekarang…”

“Biar mesra, hihihi. Kan gak asik kalo elu-gue…”

“Gitu yah?”

“Iya-in aja kenapa sih?”

“Iya deh. Asal kamu senang,” kata Johan lalu mengecup rambut Mario.

“Ayo jawab.”

“Hmmm, karena apa ya…?”

Mario mendongakkan wajah menunggu Johan bicara.

“Hmmm…” Johan balik menatap Mario.

Mario menaikkan alisnya.

Johan mencium puncak hidung Mario. “Karena Ayah suka,” jawabnya kemudian.

“Suka apanya?”

“Nggak tahu.”

“Ugh! Itu bukan jawaban…” Mario merengut.

“Ayah juga nggak tahu Sayaaaang. Mungkin kamu udah guna-gunain Ayah?”

Mario mencebikkan bibirnya.

Johan terkekeh. Ia memeluk leher Mario erat. “Ayah sayang kamu dan lupakanlah apapun alasannya…”

Mario diam.

Johan merubah posisi tubuhnya yang semula bersandar sekarang sedikit tegap. Ia melingkarkan kedua kakinya di sekitar tubuh Mario dan juga memeluk pinggang pacarnya itu. Ia lantas menggerak-gerakkan badannya sambil tetap memeluk Mario, sehingga tubuh keduanya seakan berayun-ayun di atas ranjang.

Mario memejamkan matanya. Menikmati ayunan yang diciptakan Johan. Sesungguhnya begitu banyak yang ingin ia tanyakan ke Johan, tapi ia memilih untuk tetap diam. Setidaknya untuk saat ini.

“You like it, Yo?”

Mario mengangguk. “Kek anak bayi lagi diayun sama babysitter…”

“Jadi Ayah ini babysitter gitu?”

“Hehehe, iya. Tapi buat Yo doang. Yang lain gak boleh!”

Johan terkekeh. Ia kemudian menciumi belakang kuping Mario.

Mario merinding geli dibuatnya.

Johan kembali mengecup area itu. Setelah itu ia menggigit daun telinga Mario kuat.

Spontan Mario langsung menyikut rusuk Johan.

“Aduuhhh…” Johan mengaduh.

“Makanya jangan pake gigit dong…” Mario merubah posisi duduknya jadi menghadap ke Johan.

Johan meringis. “Wah payah nih kalo pacaran sama berandal…”

Mario terkekeh.

“Bisa babak belur nih…” Johan mengelus-elus rusuknya.

“Ayah lebay deh. Tadi nggak kuat kok…”

“Tapi sakit tahu…”

“Masih sakit rahang Yo waktu itu…”

“Yaahhh dia balas dendam…”

“Nggak bermaksud kok… Hihihi…”

“Ah, gagal deh! Padahal maksud Ayah tadikan pengen dielus… Huhh…” Johan pura-pura manyun.

“Oh…? Hihihi… Sini Yo elus. Sakit ya? Di mana yang sakit?”

“Udah ah. Gak pas lagi momentnya…” Johan mendorong Mario hingga terlentang di ranjang. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh Mario.

“Sesak, Yah… Kenapa sih suka banget nindihin orang…”

“Udah malam. Bobo yuk…?” ajak Johan pura-pura tak mendengar omelan Mario.

“Makanya awaasss…!”

“Hoaaammm…” Johan membenamkan wajahnya ke cerukan leher Mario.

Mario terdiam sejenak. Ia melirik kepala Johan lewat ekor matanya. Ia lantas tersenyum. Hatinya bahagiaaaaa banget. Ia nggak pernah kepikiran akan bisa merasakan ini bersama Johan. Dengan mantap ia melingkarkan kedua lengannya ke tubuh Johan dan memejamkan matanya.

***

Johan terbangun saat waktu menunjukkan pukul 02.05 pagi dalam posisi yang tak biasa. Tidur telungkup di atas tubuh Mario tanpa selimut. Mereka berdua tidur terbalik. Kepala di kaki dan kaki di kepala ranjang.

Johan langsung bangkit. Hembusan nafas Mario terdengar lebih lancar sekarang. Johan tersenyum kecil. Ia awalnya main-main saja akhirnya tertidur beneran dengan posisi seperti tadi.

Tak ingin membangunkan Mario, ia memilih untuk tetap tidur terbalik. Ia lantas mengambil dua buah bantal di ujung kaki Mario. Satu bantal ia sisipkan ke bawah kepala Mario. Sedangkan satu bantal lagi diperuntukkan untuk dirinya sendiri. Ia pun berbaring di samping Mario sambil membentangkan selimut untuk mereka berdua. Terakhir ia mengecup kening pacarnya itu dan melanjutkan tidur kembali…

***

*17 April 2013*

Akhirnya Mario bisa bernafas lega. Ujian Nasional baru saja berakhir. Dengan siulan kecil ia melangkah ke parkiran siswa.

“Bray, elu langsung pulang?” tegur Arie yang berjalan di belakangnya.

“Ya. Kenapa?”

“Main ke rumah gue yuk?”

“Hmmm, boleh,” Mario menerima ajakan Arie.

Mereka berdua pun meluncur ke rumah Arie. Sesampainya di sana mereka langsung naik ke lantai atas, tempat kamar Arie berada.

“Elu gak ketemuan sama Juwi, Mo?”

“Ntar malem. Sekalian malam Kamisan…”

“Kok ntar malem? Kalian kan udah lama gak ketemu, emang gak kangen?”

“Sama Bebeb gue gak lost contact kok. Malah kangenan juga gue sama elu. Elu sombong sekarang…”

“Eh? Sombong gimana?”

“Ya. Jarang mo main ke sini lagi. WA gue juga jarang…”

“Hehehe, masa sih…”

Arie tersenyum kecil.

“Elu juga gak pernah mo main ke rumah gue…”

“Elu nggak ngajak sih!”

“Yaelah, sejak kapan elu jadi pemalu gini?!”

Arie terkekeh.

“Kalo gue kan wajar jarang mo main sama elu. Takutnya ganggu elu. Apalagi Minggu tuh. Elu kan mo pacaran…”

“Gue bisa luangin waktu buat teman juga kali. Apalagi buat cowok gue…”

“Ish!”

“Hahaha…”

“Oh, iya, katanya elu liburan mo ke Padang? Jadi nggak tuh?”

“Jadi dong. Elu mo ikut?”

“Nggak ding.”

“Kenapa? Kita bisa jalan-jalan di sana.”

“Gue udah ada agenda lain…”

“Agenda apaan?”

“Ada dong!”

“Gaya-gayaan elu! Palingan ngejogrok di kamar.”

“Biarin. Yang penting asik…”

“Asiknya pas lagi coli doang, hahaha…!”

“Ketahuan yang keseringan coli…”

“Hahaha. Elu kali. Eh, malam ini elu gak ada kegiatan kan?”

“Nggak. Kenapa?”

“Nginap di rumah gue ya?”

“Emang ada acara apa?”

“Adalah. Okey?”

“Oke deh. Ntar malam gue ke sini…”

“Beneran ya.”

“Iya.”

“Makan yuk? Tadi pagi Mama masak soto.”

“Boleh banget!” kata Mario.

“Ayo!”

Mereka berdua keluar kamar. Tapi tiba-tiba ada telepon masuk di handphone Mario. [i]Ayah memanggil[/i].

“Walaikumsalam. Kenapa, Yah? Udah. Lagi di tempat Arie… Mauuuuu… Ya. Sekarang! Walaikumsalam.”

“Yooo…!” panggil Arie yang tadi berjalan lebih dulu baru sadar kalo Mario nggak ada di ruang makan. Ia pun kembali berjalan ke arah kamar.

“Eh, ayo makan…” kata Arie saat ia mendapati Mario di dekat tangga.

“Aduh, sorry, Mo. Gue pulang dulu ya?”

“Lho kok tiba-tiba mo pulang?”

“Kak Jo ngajakin ke Rimbo Recap.”

“Ngapain kesana?”

“Jalan-jalan aja… Eh, elu mo ikut?” ajak Mario.

“Boleh. Tapi nggak apa-apa nih?”

“Ya nggak apa-apa. Yuk!”

“Oke. Gue ganti baju dulu.”

“Gue tunggu di luar ya…!” seru Mario.

Arie mengangguk sambil menaiki tiat tangga dengan cepat.

***

Rimbo Recap adalah sebuah kawasan persawahan di kota kecil ini. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya hamparan hijau semata. Begitu menenangkan. Apalagi didukung dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang menggoyang pepohonan. Di kejauhan Bukit Basah berdiri dengan gagahnya dengan latar langit biru yang membawa keteduhan.

Mario, Johan, Arie, dan Ajeng berjalan beriringan meniti pematang sawah. Di kiri kanan mereka padi yang masih hijau bergoyang ke kiri-ke kanan bagaikan ombak. Sesekali di tengah hamparan sawah itu mereka melihat belalang terbang dan meloncat dari tangkai padi ke rerumputan kecil di pinggir pematang sawah. Atau katak kecil yang melompat lincah di antara rumpun padi. Sementara di ketinggian sesekali gerombolan burung kecil terbang melintas dengan kicauannya yang riang. Begitu indah. Suatu suasana yang tidak semua orang bisa menikmatinya lagi.

“Masih lama nggak nih?” tanya Ajeng.

“Yaelah, baru juga jalan lima menit… Nggak kok. Itu yang ada pondok kecil itu…” terang Johan sambil mengarahkan telunjuk ke sebuah pondok kecil yang hanya berjarak sekitar empat meter dari mereka.

“Kita ini mo ke sawah siapa sih?” tanya Arie.

“Ke sawah Kakak, Rie.”

“Ooh, Kakak punya sawah ya?”

“Punya ortu maksudnya. Tapi yang garapnya orang lain…”

“Oohhh…”

Akhirnya mereka pun sampai. Johan menaruh plastik bawaannya ke atas pondok. Mereka berempat juga duduk menjuntaikan kaki di sana.

“Waahhh, di sini enak banget ya? Adeeemmm…” kata Ajeng.

“Iya. Udaranya segar banget,” sambung Mario.

“Ya udah kalian berdua nggak usah pulang lagi. Tinggal di sini aja,” celetuk Arie.

“Jangan dooonnggg… Pasti ada yang nggak rela,” Ajeng melirik Johan.

Arie terkekeh. “Ya udah, Mbak boleh pulang. Biar Mario aja yang tinggal di sini, hihihi…”

Ajeng dan Mario berpandangan lalu tersenyum simpul.

Belum dua menit mereka di sana, datanglah seorang lelaki paruh baya menghampiri mereka. Ia melepas tudung capingnya dan melempar senyum ke arah mereka.

“Udah lama sampainya?” tanya si bapak sambil menyalami Johan dan yang lainnya.

“Baru kok, Pak,” jawab Johan.

“Apa kabar? Udah lama nggak ketemu…”

“Iya nih. Terakhir ke sini kapan ya? Kalo nggak salah sewaktu Papa pamitan mo pindah ya?”

Si bapak mengangguk-angguk.

“Nahh, ini Pak Lopi. Beliau yang garap sawahnya…” terang Johan.

Pak Lopi mengangguk.

“Gimana Pak? Ada kendala nggak kira-kira?” tanya Johan disertai tawa kecil sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

“Allhamdulillah nggak ada. Nah, Sekarang ini di tempat bapak tanam Buncis dulu, sekarang bapak tanami Ketimun…”

“Oohh…”

“Udan berbuah?” celetuk Mario.

“Udah, udah. Kalo kalian mau ambil pergi aja ke sana…”

“Boleh tuh. Banyak nggak, Pak? Gue mo jualan besok pagi…” canda Ajeng.

“Dasar! Tanam woy!” timpal Mario.

“Hehehe…”

“Kalo mo mancing juga bisa. Di sebelah sana ada kolam.”

“Oh ya? Punya siapa?” tanya Johan.

“Punya Bapak. Ikan Mas.”

“Wih boleh tuh. Gue udah lama nggak mancing…” kata Arie.

“Silahkan…”

“Yuk, mancing Mo?” ajak Arie.

“Mancing pake apa? Elu bawak Pancingnya?”

“Oh, iya…”

“Bapak punya. Ada dua…” Pak Lopi menunjuk ke arah langit-langit pondok. Di sana ada dua buah pancing yang disisipkan ke atap.

“Siiippp!”

“Ntar aja. Kelar makan,” tahan Johan.

Sembari menunggu jam makan siang, mereka berempat memetik Timun, mengambil kelapa muda, foto-foto, memetik sayuran, jalan-jalan di sekitar sawah dan tepi sungai.

Sehabis makan, baru Mario dan Arie menuntaskan keinginan mereka untuk memancing. Sementara Johan dan Ajeng lebih memilih duduk di bawah sebatang pohon Embacang yang rindang tak jauh dari kolam sambil mengobrol.

“Gimana kalian sekarang?” tanya Ajeng.

“Siapa?”

“Elu berdualah.”

“Aku sama Mario?”

“Bukan! Elu sama Pak Lopi!”

“Nggak ada hubungan apa-apa lah.”

“Ugh! Bertele-tele banget sih elu?! Iya elu sama Mario lah!!!” kata Ajeng keki.

“Kepo.”

“Grrrr…!!!” Ajeng mengepalkan kedua tangannya.

“Hehehehe…”

“Elu semenjak sama Mario jadi nyebelin ya. Ketularan nakalnya Mario!”

“Masa?”

“Iya! Seharusnya elu yang pengaruhi dia. Kenapa jadi elu yang dipengaruhi sih?”

“Nggak kok.”

“Nggak sadar elu?!”

“Emang enggak.”

“Ah sudahlah! Balik ke pertanyaan gue tadi. Gimana elu sama dia?”

“Baiiikkk…”

“Terus?”

“Ya, baik. Kamu bisa lihat sendirikan?”

“Ya ampuunnn—sabar, sabar. Oke, apa yang elu rasain sekarang? Nyaman sama hubungan kalian?”

“Nyaman-nyaman aja…”

“Jadi sekarang elu mengakui kalo elu itu suka cowok…”

“Belum dong. Aku sama dia baru tiga hari. Masih terlalu cepat buat bilang gitu…”

“Lama! Kalo elu suka dia, berarti elu gay!”

“Atau bi,” sambung Ajeng lagi.

“Aku nggak suka cowok. Aku yakin banget! Nggak suka!” Johan menekan setiap katanya.

“Emang menurut elu si Mario itu bukan cowok?”

“Aduh, bingung…”

“Elu itu sebenarnya masih denial. Hati kecil elu sudah mengatakan itu, tapi elu aja yang belum mau mengakui.”

“Aku sayang Mario. Apa cinta dan sayang itu sama?”

“Sayang seperti apa? Rasa sayang itukan banyak!”

“Sayang seorang kakak ke adik, tapi kadarnya lebih. Jadi gimana tuh?”

“Gue rasa elu tahu sendirilah. Elu sayang dia ada embel-embel nggak? Ada sexual desire nggak sama dia?”

“Sexual desire? Uhmmm, yang jelas sekarang ini gue senang meluk dan nyium dia. Gue nyaman saat dia tidur di pelukan gue…”

“Kalo gue suruh elu milih untuk serius pacaran sama Mario mau nggak elu? Ganti rasa sayang antara kakak-adik di hati elu selama ini, dan ubah jadi rasa sayang pacar ke pacar? Mau nggak elu?”

“Pacaran sejenis? Aku nggak mau jadi belok.”

“Kalo elu nggak mau, ya udah! Lepaskan Mario!”

“Aku sayang sama dia…”

“Lha? Terus? Kesian dong dia! Elu mainin dia…”

“Kalo mau lepasin dia gimana juga caranya? Aku udah terima dia…”

“Soal itu, gue bisa nanganinnya. Yang jadi masalah itu di elu! Elu harus pilih salah satu. Buat keputusan yang jelas dong! Secepatnya elu tentukan perasaan elu secara mantap.”

Johan tak menjawab. Ia menatap punggung Mario yang tengah duduk memancing bersama Arie.

“Terus sejak elu pacari dia, gimana Mario sekarang?”

“Dia sih nampak happy banget. Dia juga nggak malu-malu manja-manjaan sama aku. Orangnya jeleous-an juga.”

“Oh ya? Jeleous sama siapa?”

“Sama Arie.”

“Kok bisa?”

“Waktu itu aku nanya ke dia, gimana kabar Arie? Kalian satu ruangan nggak pas UN? Dia langsung cemberut. Ngapain sih nanya-nanya Arie? Gerutunya.”

“Bukannya kata elu dia sempat suka sama Arie?”

“Iya. Sebelum ketemu aku, dia itu udah lama banget suka sama Arie. Jadi kalo ada orang yang deket sama Arie, dia bakal cemburu. Makanya dia sempat benci sama aku. Rupanya dia nggak suka Arie dekat sama aku. Itu alasannya dulu. Padahal mana adalah pikiranku menjurus ke situ. Waktu itu aku masih lurus banget, hahaha…”

“Terus kenapa dia tiba-tiba suka elu?”

“Dia mulai dekat sama aku setelah Arie punya pacar. Dia mulai berusaha ngelupain Arie dan terpikat sama kebaikan dan pesona aku, hahahah…! Dan akupun jadi korbannya…”

“Sumpah deh! Satu-satunya yang gue benci sama elu itu adalah tingkat kepedean dan kenarsisan elu yang luar biasa!”

“Hahahaha…!”

***

Malam harinya…

Johan lagi menonton TV saat sebuah panggilan masuk ke handphone-nya. Ternyata dari Mamanya Mario. Beliau bertanya di mana Mario sebab berkali-kali ia menelepon, tetapi panggilannya nggak dijawab. Johan mencari Mario di kamar, tapi nggak ada. Ternyata tuh anak lagi tidur di kamarnya. Ia pun memberitahukan ke Mamanya Mario kalau sang anak sudah tidur. Beliau lantas menyampaikan pesan supaya besok malam mereka berdua bermalam di rumahnya Mario sebagai ganti batalnya mereka nginap tiga hari yang lalu. Johanpun mengiyakan.

Setelah panggilan itu ditutup, Johan kembali ke ruang tengah dan mematikan TV yang masih menyala. Lalu ia balik lagi ke kamar dan gantian menyalakan TV yang ada di kamar. Setelah itu ia duduk di sebelah Mario yang tidurnya nampak pulas.

“Hey! Bangun!” seru Johan sambil memukul pantat Mario.

Mario bergeming.

“Bangun, bangun, bangun!!!” Johan mengguncang pundak Mario.

Mario menggeliat.

“Jam segini udah tidur…”

Mario membuka matanya perlahan.

“Ganggu aja deh…” desisnya sambil beringsut lebih dekat ke Johan. Ia lantas tidur di pangkuan Johan.

“Mama kamu tadi telepon…”

“Oh…”

“Beliau bilang besok kita nginap di sana. Kan tiga hari lalu kita gak jadi tuh. Jadi besok malam aja katanya. Ngumpul karena kamu udah melewati UN dengan lancar.”

“Ah, cuma karena itu doang?” komentar Mario dengan mata terpejam.

“Hey! Ayah udah bilang nggak boleh cuek gitu sama orang tua…” Johan mengingatkan.

“Yo ngantuk, Yaaahhh…” rengek Mario.

“Masih pukul delapan ini!”

“Capek.”

“Capek apaan? Tadi siang cuma jalan beberapa meter juga di sawah.”

“Aaaahhh…”

Johan bergeser ke sebelah kanan yang kosong sehingga kepala Mario jatuh ke ranjang.

Mario langsung melotot sambil membentuk bibirnya menjadi garis keras.

Johan tak perduli. Ia justru ikutan berbaring di sisi Mario. Lalu ia beringsut ke bawah sedikit sehingga kepalanya sejajar dengan kepala Mario. Kemudian ia menghadap Mario dan langsung menjatuhkan bibirnya ke atas bibir Mario yang sedang manyun.

Johan memagut bibir Mario sedikit kasar dan menghisapnya keras sehingga menimbulkan bunyi saat ia melerai pagutan singkat itu.

“Gimana? Udah nggak ngantuk lagikan?”

Mario mengerjap-kerjapkan matanya. Terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan Johan.

“Uhmmm, masih ngantuk!” Mario memejamkan matanya lagi.

Johan terkekeh. “Nggak bakal dicium lagi…”

Mario langsung membuka mata sambil merengut.

“Kapan nih mau cerita tentang keluarga kamu?” tagih Johan. “Sekarangkan udah kelar ujiannya…”

“Harus ya?”

“Janji lhoo…”

“Hufffhhh…”

“Kalo nggak mau juga nggak apa-apa kok.”

“Iya deh…” Mario bergeser mendekat lalu merebahkan kepalanya ke dada Johan.

“Ayah nggak maksa kok…”

“Ya. Nggak ada salahnya Ayah tahu. Hitung-hitung mengenal latar belakang calon pasangan hidup,” Mario mendongak sambil tersenyum.

Johan membalas dengan senyum simpul.

“Yo itu dua bersodara,” Mario mulai bercerita dengan suara pelan. “Kakak Yo namanya Marco. Kita beda tiga atau empat tahunan. Lupa. Nggak penting juga sih. Dia sekarang di Kanada. Papa orang Kanada. Makanya wajah Yo rada-rada bule. Terutama rambut Yo yang kecokelatan. Untungnya sih nggak bule-bule amat. Lebih banyak wajah Indonesianya…”

“Oh, kamu indo ya? Papa kamu asli Kanada?” tanya Johan tak percaya.

“Yup. Asli Kananda. Kenapa emang?”

“Soalnya wajah kamu nggak bule-bule amat. Kecuali rambut, hidung, kulit… Yang lainnya sangat Indonesia…”

“Ya. Dan Yo bersyukur banget akan hal itu…”

“Kenapa? Bukannya banyak orang yang kepengen berwajah indo?”

“Yo nggak bisa bayangin gimana jadinya kalo muka Yo sangat bule…” Mario geleng-geleng kepala.

“Ada apa sih?”

“Yo nggak tahu siapa Papa Yo. Gimana rupanya, sifatnya, dan apapun tentang dia. Dia udah ninggalin Yo sejak Yo masih berusia 8 bulan…”

“Ohh…” desis Johan tak percaya.

“Nggak tahu dia kemana. Pulang ke Kanada kali. Entahlah.”

“Emangnya Mama kamu nggak tahu dia pergi?”

“Mama nggak pernah mau cerita. Setiap Yo ungkit masalah ini, selalu aja menghindar. Makanya Yo suka kesal. Gue anaknya! Gue berhak tahu apa yang terjadi! Kenapa dia pergi ninggalin kita! Tapi Mama selalu aja bungkam!!! Dulu pas kecil gue bisa dibohongi. Bilang Papa pergi kerja atau alasan-alasan klise lainnya. Makin beranjak gede, timbul ketidakpercayaan gue sama alasan-alasan konyol kek gitu. Gue menyadari kalo gue dibohongi. Masa papa nggak pernah pulang???” nada suara Mario terdengar emosi.

Johan mengelus bahu Mario.

“Dulu apa-apa Mama bisa ngelakuin semuanya. Mama bisa beliin apa yang gue pengen sama seperti yang teman-teman gue punya. Gue nggak perduli, masa bodoh nggak punya papa! Tapi lama-lama gue jadi rindu dan iri juga sama orang lain yang punya papa. Nggak semuanya bisa dilakukan Mama. Mama nggak bisa ngajarin main sepeda, Mama nggak bisa nemenin nonton bola tengah malam…”

“Saat lihat teman-teman gue joging bareng papa mereka, atau lihat teman-teman gue menyemangati papa mereka yang lagi tanding voli, dada gue selalu bergejolak. Sedih dan selalu bertanya-tanya kenapa gue nggak punya papa? Kadang-kadang gue juga berkhayal seandainya gue punya papa, maka gue bakal ngelakuin ini itu bareng dia… Yang jelas gue juga pengen banget nyebut kata papa. Berseru memanggil seseorang dengan sebutan “PAPA!” tapi gue nggak pernah punya kesempatan buat nyebut kata itu…”

“Tapi gue selalu dihibur sama Kak Marco. Dia yang selalu nenangin gue, ngajak gue main, ngajarin gue bersepeda… Ngajarin gue buat nulis permintaan pas malam tahun baru. Gue selalu nulis kata “PAPA” di kertas itu. Gue sangat percaya itu akan jadi kenyataan. Sayang sebelum harapan itu terwujud, Kak Marco malah ninggalin gue. Dia lebih milih ikut keluarga Om Henri ke Kanada…”

“Siapa Om Henri?”

“Adik Mama nomer dua.”

“Kok dia bisa di Kananda?”

“Dia kerja di sana. Dia juga yang ngenalin Mama sama Papa…”

“Ohhh…”

“Gue makin kesepian setelah Kak Marco pergi. Gue benci sama dia karena ninggalin gue. Dia lebih milih hidup dengan orang lain dibandingin nemenin gue. Padahal dia tahu kalo cuma dia yang ngerti gue. Gue tergantung sama dia…”

“Udah berapa lama dia pergi?”

“Gue SD kelas lima…”

“Kenapa dia mo pergi?”

“Ya buat sekolah. Dia bakal dapat pendidikan yang sangat baik di sana. Tapi gue tahu bukan cuma itu aja alasannya. Dia ikut Oom kesana supaya dia nggak dengar suara-suara sumbang di sini. Suara-suara yang Kerap gue dengar dari kecil tentang keluarga gue…”

“Omongan yang bikin gue sakit hati, minder, marah tapi gue nggak bisa berbuat apa-apa. Mereka bilang Mama gue simpanan bule, gue hasil kumpul kebo, gue anak haram…”

“Siapa yang bilang gitu?”

“Dulu teman-teman SD sama teman-teman kompleks gue kalo kalah main sama gue selalu ngomong gitu. Dari mana mereka bisa bilang gitu kalo bukan orang tua mereka yang bilang ke mereka?”

Johan memeluk bahu Mario.

“Dulu orang sering nanya macam-macam sama gue dan Kak Marco. Pertanyaan yang bernada melecehkan kami. Tiap kita main ke rumah tetangga, selalu aja ada yang goda kita tapi nadanya ngejek. Nanya ke kita pake bahasa Indonesia yang di-Inggris-inggrisin dengan tujuan nyindir mama yang ditipu bule, nanya kapan Papa kami pulang seakan pengen terus ngingatin kalo kami nggak punya papa, nyebut kami anak Londo musuh pribumi padahal jelas-jelas kami keturunan Indo-Kananda. Tapi orang-orang bego itu selalu aja beranggapan semua bule itu penjajah!”

“Waktu itu yang paling parah kena ledekan itu Kak Marco, soalnya wajahnya bule banget. Dia nggak bisa menyamarkan paras bule-nya dan itu selalu jadi sasaran pertanyaan siapa aja. Kentara banget fisiknya beda sama orang kebanyakan dan menimbulkan lagi-lagi omongan miring. Makanya gue bersyukur banget wajah gue lebih dominan Indonesianya. Jadi tampang gue nggak begitu jadi perhatian, meskipun dibandingin teman-teman yang lain tetap aja gue beda banget. Karena selalu diejek, lama-lama Kak Marco nggak nyaman sehingga ia langsung mengiyakan pas Oom ngajakin dia tinggal di Kanada. Ninggalin gue yang akhirnya jadi sasaran berikutnya…”

“Pas Kak Marco pindah, fitnahan orang bukannya berhenti, malah nambah. Tetangga bilang kalo Kak Marco dibawa sama Papa ke negaranya. Dan gue sengaja ditinggal sama Mama karena Papa nggak ngakuin gue anak dia. Sebab wajah gue nggak bule kayak Kak Marco. Dan sebenarnya alasan Papa ninggalin kami dulu karena Mama ketahuan selingkuh dan hasil selingkuhan itu adalah gue…”

Johan menghela nafas perlahan mendengar cerita Mario. Rahangnya mengeras.

“Gegara itu banyak teman kompleks yang nggak mau temanan ama gue lagi. Gue kesepian. Gue benci sama keadaan gue. Gue juga benci Kak Marco yang nggak pernah ngasih kabar ke gue. Untung gue masih punya teman di sekolah. Mereka nggak pernah menyinggung tentang fisik ataupun latar belakang keluarga gue. Yang penting bagi mereka kita klop. Gue udah nggak merasa sepi lagi dan ikut larut sama kenakalan mereka. Dan sama mereka-mereka itulah gue bisa bebas. Gue happy dan mulai lebih suka di luar rumah. Ngga perduli sama omongan tetangga atau teguran Mama. Toh mereka termasuk juga Mama yang bikin gue kayak gini. Mereka yang bikin gue jadi nggak kerasan di rumah. Mereka yang ngucilin gue…”

“Karena pengaruh teman-teman gue yang melawan sama ortu, nggak respect sama ortu, makanya gue mulai ikut-ikutan masa bodoh juga sama Mama. Apalagi gue ngerasa punya alasan kuat berbuat begitu. Semua gara-gara Mama. Gue juga anti pati sama lingkungan rumah gue yang gue anggap sok suci semuanya!”

“Di SMP dulu ada guru olahraga masih lajang. Gue suka banget gaya dia yang rapi. Baju dinas-nya pas di badan terus kalo ngajar baju olahraganya itu tetap wangi. Gue suka kikuk kalo dekat dia. Telinga gue suka dijentik sama dia kalo mulai buat ulah atau nggak serius ngikutin intruksi dia. Tapi dia juga sangat perhatian sama gue. Gue termasuk salah satu murid kesayangan dia, sebab gue lumayan jago olahraganya. Sepak bola, voli, basket dan lari. Gue dulu suka berandai-andai kalo dia itu papa gue… Dan bahkan mimpi basah pertama gue sama dia…”

“Sejak dapat mimpi itulah pandangan gue ke dia tiba-tiba sedikit berubah. Kalo lihat dia pasti kebayang sama mimpi basah itu. Mulailah gue suka lihat ke arah selangkangan atau pantat dia. Waktu itu gue pikir hal yang wajar. Cuma pengaruh mimpi aja. Tapi lama-lama kok gue bukan cuma merhatiin selangkangan dia doang, tapi selangkangan teman-teman gue, senior gue, guru-guru gue, orang entah siapa yang gue ketemu. Pokoknya gue jadi suka merhatiin cowok. Menilai cowok itu cakep, cowok itu manis, cowok itu jelek…”

“Pas SMA, gue ketemu sama Arie. Kita sekelas dan sama berandalan. Gue cepat akrab sama dia. Gara-gara nggak ikut upacara kita berdua dihukum hormat ke bendera pas tengah hari. Di sana kita kenalan sama Gugum, Sean, Farid dan yang lain-lain. Makin menjadilah kenakalan kami. Tapi dari banyak teman-teman gue, entah kenapa gue paling dekat sama Arie. Begitu juga sebaliknya. Mungkin karena kita sekelas dan tiap hari ketemu…”

“Arie sama gue itu tuaan dia tiga bulan. Makanya dia kadang-kadang suka sok ngeboss sama gue. Tapi meski gitu, dia sangat perhatian sama gue. Kalo gue telat masuk, tanpa diminta dia pasti udah langsung ngarang alasan buat disampein ke guru. Kalo gue nggak masuk sekolah, dia pasti bakal langsung cari tahu penyebabnya ke rumah gue. Kalo gue sakit, dia yang nungguin gue, marah-marah dan maksa kalo gue nggak mo makan, padahal kalo giliran dia yang sakit nyuruh dia makan itu sudahnya minta ampun! Kalo gue luka dia paling panikan…”

“Gue juga suka diajak main ke rumahnya dan keluarganya baik semuanya. Orang tuanya perhatian. Papanya suka nasehatin kita berdua. Sama Beliau gue sedikit bisa ngerasain gimana rasanya punya Papa. Gue kadang iri sama keharmonisan keluarga mereka…”

“Karena pertemanan gue sama dia itu akrab banget, akhirnya ortu kita saling mengenal. Sebab mereka suka ketemu di sekolah pas dipanggil guru karena kami buat ulah. Dan setelah Mama kenal ortunya Arie, gue mulai ngajakin dia main dan nginap di rumah. Di rumah dia tanya banyak hal, termasuk Papa yang nggak pernah ketemu sama dia…”

“Kalo sama Arie itu, entah kenapa gue nyaman banget. Jadi gue ceritain semuanya ke dia. Gue jelasin gimana kondisi keluarga gue, gimana kehidupan gue tanpa Papa. Setelah dengar cerita gue itu, dia malah makin perhatian sama gue. Kalo ada orang yang ngomong tentang Papa, pasti dia langsung belokin percakapan. Kalo ada orang yang coba-coba mo nyindir gue, pasti bakal dia “urus” duluan, padahal gue sendiri nggak masalah. Pokoknya sebisa mungkin ia nggak mau siapapun yang coba-coba ngungkit masalah keluarga gue…”

“Mungkin karena sikap dia itulah gue jadi sangat respect sama dia. Dan lama-lama gue suka sama dia. Sebab dia ngertiin gue banget. Cuma dia yang selalu berusaha nyenangin gue. Perasaan aneh pas SMP muncul lagi. Gue kembali demen lihat cowok, terutama Arie. Suka memperhatikan garis wajah Arie, tubuh Arie, jendolan dia… Hehehe…”

“Gue jadi bingung sama perasaan gue. Gue mau nanya ke teman-teman, tapi malu. Soalnya teman-teman gue selalu ngomongin cewek dan nggak ada yang pernah bahas tentang cowok. Bahkan mereka suka nonton film porno dan kayaknya nafsu banget lihatnya. Gue sih nafsu juga, tapi nggak nafsu banget. Soalnya fokus utamanya ke pemain cewek. Palingan pemain cowoknya diliatin pas awal-awal aja. Setelah itu yang dishoot cuma sebatas perut ke bawah. Bahkan ada bokep yang dari awal ampe akhir si cowoknya nggak diliatin wajahnya. Dishoot dari belakang, atau dishoot dari atas yang nampak cuma rambut doang. Bikin bete. Padahal yang jadi perhatian gue itu si cowoknya…”

“Akhirnya gue cari tahu sendiri di internet, dan dikasih tahu kalo gue ini homo. Seks menyimpang. Dijembrengin di sana faktor-faktor penyebabnya sampai ancaman dosa bagi kaun homoseksual. Gue takut. Tapi gue nggak bisa nekan perasaan ini. Rasa takut gue dikalahkan sama nafsu gue yang menggebu-gebu. Tiap malam gue search gambar cowok-cowok bugil, gue save. Nggak puas cuma lihat gambar, gue search videonya. Pertama kali gue dapat video bergenre gay, rasanya puas banget. Fokus utama ke dua orang cowok sekaligus!”

“Kalo gue ingat-ingat gimana gue bisa kayak sekarang, setelah sekian lama gue bertanya-tanya kenapa gue jadi gay, akhirnya gue sedikit tahu jawabannya. Bukan datang secara tiba-tiba. Ini hasil dari latar belakang gue yang hidup tanpa Papa, yang membuat masa kecil gue selalu merindukan sosok Papa sehingga lama-lama memiliki ketertarikan terhadap cowok. Bukan hanya itu, gue juga terbentuk sama lingkungan yang selalu menjatuhkan gue. Akibat mulut orang-orang yang nggak bertanggung jawab dan selalu menuntut orang lain supaya sama dengan mereka. Selalu mencap buruk orang lain, terutama anak tanpa Papa kayak gue. Dan semuanya semakin diperparah dengan kehadiran Arie. Yang seakan memberi wadah bagi gue menyalurkan semua perasaan aneh di diri gue…”

“Semuanya saling mendukung dan melengkapi sehingga menghasilkan produk kayak gue. Pun saat ini, dukungan itu terus berjalan. Seakan-akan gue emang gak bisa lepas dari jerat dunia gay. Buktinya setelah lepas dari Arie, gue malah ketemu Ayah…” Mario menatap Johan.

Johan langsung membelalakan matanya.

“Awalnya Yo benci setengah mati sama Ayah karena deket sama Arie. Tapi lama-lama jadi suka sama Ayah. Ayah tahu kenapa?”

“Kenapa?”

“Karena Ayah lebih perhatian dari pada Arie. Ayah nanyain kenapa Yo nggak ikutan les, Ayah ngobatin luka pas Yo tabrakan, Ayah yang ngerawat pas Yo mabuk… Padahal saat itu sikap Yo ke Ayah kurang ajar bangetkan? Kita juga belum kenal dekat. Dan yang paling Yo suka itu saat Ayah marah karena Yo dekat sama Gugum. Pas Yo berencana tahun baruan sama Gugum, Ayah langsung telepon Yo dan nyuruh Yo tahun baruan sama Ayah… Terus pas Yo minggat ke rumah Gugum, Ayah juga ngasih ultimatum ke Yo buat pulang. Pokoknya perhatian banget. Dan Yo senang diperlakukan kayak gitu. Yo ngerasa seakan lagi didikte sama Papa. Makanya Yo tunduk sama Ayah. Yo menikmati semuanya. Bahkan jujur nih ya, kalo lihat Ayah marah, Yo jadi suka horny deh, hihihi…”

Johan mencekik leher Mario pelan. Membuat Mario kegelian.

“Sebenarnya Yo juga suka bingung kenapa bisa tunduk banget sama Ayah. Selama ini Yo keras kepala, berandalan, nggak mau diatur, tapi kok kalo di hadapan Ayah jadi penurut, lembek dan bertolak belakang banget. Pengen berontak tapi nggak bisa…” terang Mario.

“Yaa, seperti yang kamu tadi bilang, Kamu butuh dimarahi, butuh diperhatikan, butuh nasehat, butuh orang yang ditakuti dalam wujud seorang pria yang dalam gambaran kamu itu mirip dengan sikap selayaknya seorang papa. Selama ini mungkin kamu sering kena marah, tapi yang marahin kamu bisanya cuma marah doang. Ada yang perhatian, tapi dia bukan sosok seperti yang kamu inginkan. Contohnya perhatian dari mama. Dia sangat perhatian sama kamu, tapi kamu nggak suka. Karena apa? Mungkin karena dia cewek, sedangkan kamu pengen dapat perhatian cowok. Kamu juga punya orang yang ditakuti. Misalnya Pak Monte, guru terkiller di sekolah. Kerjaannya cuma marah, mukul, kalo ngasih nasehat dengan suara yang keras, sementara kamu orangnya nggak suka dikasarin, meskipun kamu suka main kasar. Intinya kebutuhan jiwa kamu itu terbagi di diri beberapa orang, bukan terdapat dalam satu sosok yang kamu inginkan. Nah, finally, datanglah satu sosok pangeran tampan yang memenuhi segala kriteria kamu itu. Cakep, pintar, perhatian, penyayang, tegas… Perfect lah pokoknya. Tidak lain dan tidak bukan adalah Ayahmu ini ini…” Johan senyum saat menyebutkan tiga kalimat terakhir.

“Weeee…”

“Hehehe…”

“Tapi bener sih. Makanya waktu itu Yo pengen manggil Ayah dengan sebutan Papa, karena Yo menemukan figur seorang Papa di diri Ayah. Tapi Ayah nggak mau…”

“Ayahkan nggak tahu kalo ceritanya kek gitu… Kalo sekarang mau manggil Papa nggak apa-apa kok…”

“Nggak ah. Udah nyaman sama panggilan Ayah…”

“Hehehe…”

“Ya, begitulah cerita keluarga Yo. Kenapa Yo kek sekarang, kenapa Yo nggak suka ngomongin soal keluarga, kenapa Yo nggak kerasan di rumah, kenapa Ayah nggak pernah ketemu Papa, kenapa Yo bersikap kek gitu sama Mama…”

Johan tersenyum tipis. Ia mengelus bahu Mario sebentar lalu menyandarkan tubuh Mario ke samping tubuhnya. Setelah itu ia menindih Mario.

Mereka berdua berhadapan dan saling pandang.

“Yo, dengar ya, mungkin kehidupan kamu nggak seindah punya orang lain. Kamu bukan berasal dari keluarga yang ideal seperti yang orang-orang bilang. Tapiii, kamu juga nggak boleh tutup mata kalo di luar sana banyak orang mengalami hal serupa.

Semua yang udah kamu lalui membentuk kamu jadi sekarang ini. Seperti itukan menurut kamu? Tapi apa kamu mau begitu aja diombang-ambing sama pengalaman hidup kamu itu?

Berhenti menyalahkan keadaan atau menimpakan kesalahan pada orang lain, karena itu bukan jalan keluarnya. Sudah berapa lama kamu menyalahkan mamamu? Apa dengan menyalahkan dan bersikap buruk ke beliau, terus hidup kamu jadi tenang? Kamu bahagia? Kamu berprestasi? Masalah kamu clear?

Nggak kan. Malah semuanya makin kusut. Coba kalo kamu bersikap baik sama beliau, kamu mungkin bisa lebih kuat dari sekarang. Kalian bisa saling menguatkan. Cuma seorang ibu yang paling mengerti anaknya. Seharusnya kamu bangga punya Mama kayak beliau. Bertahun-tahun jadi single fighter demi membesarkan kamu. Bertahan dan nggak goyah meskipun dia dapat kabar miring yang terus-terusan memojokkan dirinya. Dia pasti terluka sama gunjingan masyarakat. Tapi nggak ada yang lebih menyakitkan lagi bagi seorang ibu, kecuali ketika anaknya nggak berada di sisinya. Nggak menguatkannya, tapi justru malah membencinya. Padahal kamu sumber kekuatannya. Kalo nggak ada kamu mungkin udah lama beliau pergi dari sini. Lari dari suara-suara sumbang.

Kenapa kamu malah menambah kesedihannya? Ia sudah tertekan sama statusnya, kepergian papa kamu, kepergian kakak kamu, omongan miring… Seharusnya kamu yang menguatkannya dan melindunginya, bukan justru terus mengingatkannya pada kepahitan hidupnya. Siapa yang mau ditinggal pergi sama suami? Ada nggak yang mau? Ibu mana yang mau menyulitkan anaknya? Seorang ibu nggak akan mau berpisah sama anaknya, tapi kamu lihat mama kamu. Dia rela melepaskan Kakak kamu, demi kebahagiaan anaknya. Padahal dia mungkin tersiksa. Pasti ia menyalahkan dirinya sendiri karena nggak bisa membuat kalian terus bersama, karena ini kesalahannya.

Yo, di luaran sana banyak anak yang berseteru sama Papanya, benci sama Papanya, terpuruk justru karena sikap papanya. Jadi, Papa bukan segalanya. Kalo kamu merasa hidup kamu baru sempurna jika punya seorang Papa, kamu salah besar. Masa sih kamu mengabaikan kebahagiaan yang lain, hanya karena nggak dapat kasih sayang dari seorang papa?

Banyak anak-anak broken home yang sukses di bidang mereka masing-masing. Tapi banyak juga yang terpuruk karena nggak mau bangkit. Lebih banyak lagi orang-orang sukses yang berangkat dari keluarga harmonis. Dan itu wajar. Tapi nggak sedikit juga anak-anak yang masa depannya hancur dan hidup nggak karu-karuan meskipun dibesarkan dalam keluarga harmonis dan lingkungan yang kondusif. Jadi kesimpulannya apa? Semuanya tergantung tekad dan keinginan pribadi orang tersebut. Sejatinya yang bisa memilih jalan itu adalah diri kita sendiri. Lingkungan bisa dikalahkan dengan tekad yang kuat.

Jadi Ayah berharap banget sama kamu, mulai sekarang nggak boleh lagi menyalahkan keadaan ya? Nggak boleh lagi bersikap buruk sama Mama. Sayangi beliau, buat dia bangga, buat bibirnya tersenyum, kasih tahu ke dia kalo pengorbanannya nggak sia-sia… Kamu udah kehilangan papa, masih mau kehilangan mama juga?”

Mario bergeming.

“Sip? Janji sama Ayah?” Johan menatap Mario lekat.

Mario balik menatap Johan. Menatap sepasang bola mata Johan yang pekat.

Johan menaikkan alisnya.

Mario mengangguk. “Yo bakal dengar apapun kata Ayah…”

Johan tersenyum. “Nah gitu dooogg. Nggak usah sedih. Kamu memang nggak punya Papa, tapi kamu punya Ayah sekarang…”

Mario terkekeh.

“Kok ketawa?”

“Terus? Masa nangis…”

“Hehehe…”

“Kok ketawa?” Mario melontarkan pertanyaan yang sama.

“Terus? Masa nangis?”

“Akh!”

Johan senyum.

Mereka berdua kembali berpandangan, tanpa kata, sehingga menghadirkan keheningan.

“Manis banget sih…” kata Johan memecah kebisuan.

“Siapa?”

“Kamu. Manis kek madu.”

“Hahaha. Tapi biasanya orang bilang manis kek gula.”

“Bagusan madu. Madu banyak khasiatnya, kalo gula bisa mendatangkan penyakit…”

“Ohohoho…”

“Ya udah, silahkan kalo mo bobo lagi. Udah malem juga nih…” pungkas Johan sambil bangkit dari posisi menindih Mario. Ia bersandar di kepala ranjang sambil menghadap layar TV yang sedari tadi menyala.

“Ayah belum mau tidur?”

“Belum ngantuk.”

“Yo sebenarnya juga nggak ngantuk. Tapi gak ada kerjaan, mendingan bobo…”

“Ya udah bobo aja…”

“Peluk ya?”

“Ntar Ayah peluk pas bobo. Ayah lagi mo nonton nih…”

“Ughh..! TV-nya berisik. Kecilin dong…”

Johan mengecilkan volume TV.

“Masih berisik…”

“Ah, cuma dua garis juga…”

“Nggak bisa tidur kalo berisik.”

“Belagu. Ya udah. Ayah nonton di ruang tengah aja…”

“Jangan! Di sini aja,” tahan Mario.

“Katanya berisik?”

“Iya emang berisik.”

“Terus? Masa nonton gak pake suara? Emang film bisu apa…”

“Ya udah, nggak usah nonton. Tidur aja…”

“Hemmm…”

“Udah malam juga ini. Besok Ayahkan kuliah? Besok kesiangan lagi…”

“Ayah nggak pernah kesiangan kayak kamu…”

“Besok pasti bakal kesiangan!”

“Ya deh. Malam ini Ayah manut sama kamu!” pungkas Johan sambil menekan tombol on/off di remote TV. Setelah itu langsung memperbaiki posisi bantal dan berbaring di samping Mario yang senyam-senyum kegirangan.

Johan membungkus tubuh mereka dengan selimut lalu tidur menghadap Mario dan memeluk pacarnya itu.

“Happy, eh?”

“Banget,” jawab Mario sambil menyusupkan kepalanya ke dada Johan.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: