Chapter XIVb

Setelah di kamar, Johan langsung menghubungi Ajeng.

“Ya? Gue baru nyampe rumah. Tenang aja,” kata Ajeng dari seberang sambungan.

“Aku baru aja nyium dia,” terang Johan langsung.

“Nyium? Sapa?”

“Mar—”

“Oh.., Ya Tuhan, elu serius???”

“Gimana sih? Kan—”

“Jadi elu beneran ikutin permintaan gue tadi?”

“Maksudnya, tadi kamu nggak serius?”

“Serius kok. Serius. Hahaha…! Ya ampuuunnnn…”

“Ya, aku udah nyium dia,” kata Johan lagi.

“Ohmay—secepat itukah elu menyanggupi permintaan gue? Gue gak nyangka lho! Gue semakin yakin kalo sebenarnya elu itu…”

“Apa?”

“Hehehe, nevermind. Terus gimana reaksi dia?”

“Dia biasa aja. Gak pingsan kok. So, itu artinya apa?”

“Biasa gimana?”

“Ya, biasa. Gak kasih respon apa-apa.”

“Masa sih? Dia gak kaget gitu? Atau mukanya merah…”

“Nggak. Dia cuma diam sebentar, terus ngelap pipi bekas aku cium…”

“Ah, itu artinya dia kaget!”

“Kaget gimana? Dianya diam.”

“Ish! Elu kadang-kadang suka bego deh. Kaget itu gak selalu loncat, teriak dan sebagainya kali! Elu lihat noh di film-film romantis, pas ceweknya di cium cowok, langsung terpaku dengan adegan slow motion. Apalagi kalo di sinetron, ditambah dengan alunan musik nan lembut sampai habis satu lagu…”

“Kamu aja yang korban film.”

“Elu percaya deh ama gue. Gue ini udah lama menyandang predikat fujo. Jadi elu harus percaya ama gue,” paksa Ajeng.

“Siapa kamu…”

“Fujo! Udah gue bilang kan…”

“Ya, ya. Mau Fujo, Fuji, apalah. Jadi kesimpulannya apa tentang reaksi dia itu?”

“Dia suka sama elu,” jawab Ajeng yakin.

“Menurutku sebaliknya.”

“Kita lihat aja ntar! Feeling gue 90% akurat kalo soal Beginian,” kata Ajeng pede.

“We’ll see…”

“Okey. Kalo gue benar, elu harus terima permintaan gue.”

“Haish! Apalagiii???”

“We’ll see…”

Tut!

Johan berdecak kesal.

***

*27 Maret 2013*

***Johan***

Bianglala melengkung sempurna di langit. Warnanya indah. Di bawah busur pelangi itu, langit nampak terang. Aku pun tergerak untuk mengabadikannya. Tidak hanya memotretnya, aku juga langsung menjadikannya wallpaper ponselku.

Setelah cukup lama membusur di langit, keindahan itu pun lama-lama berangsur pudar. Dan akhirnya lenyap tak tersisa, hanya menyisakan gerimis kecil yang membasahi dedaunan.

Gerimis pun tak berlangsung lama. Berganti panas yang menyilaukan mata. Menerpa permukaan dedaun yang sempat basah diguyur hujan panas, sehingga cahaya kuning keemasan memantul dengan sempurna.

Sudah jarang sekali aku merasakan cuaca seperti ini. Biasanya musim hanya berganti dari hujan ke panas. Itupun dalam rentang waktu berbulan-bulan. Pun kalaupun ada, tak pernah menciptakan bianglala seperti tadi. Hanya hujan kecil yang menyisakan sakit kepala.

Entah sudah berapa lama aku menikmati pantulan cahaya matahari selepas gerimis tadi, sampai terdengar suara mesin motor yang berhenti di depan pintu pagar.

Aku langsung menoleh. Rupanya Mario sudah pulang. Ia tengah membuka pintu pagar dengan sebelah tangannya agar tercipta ruang yang cukup supaya motornya bisa masuk.

“Ckck, yang udah punya pacar, HP gak pernah lepas dari tangan,” tegur Mario setelah memarkirkan motornya di depan teras.

“Orang motret bianglala…” balasku.

“Emang tadi di sini pelanginya kelihatan juga?”
“Iya. Bagus banget tadi. Lengkungannya sempurna. Nih…” aku memperlihatkan gambar pelangi yang sudah kujadikan wallpaper.

“Ah, semua pelangi juga gitu,” komentar Mario acuh.

“Kamu pasti suka bianglala ya?” tanyaku. Dan aku yakin jawabannya pasti suka.

“Nggak,” jawabannya diluar perkiraanku.

Tentu saja jawabannya melenceng. Seharusnya ia menyukai simbol gay itu. Sudah jadi rahasia umum jika the rainbow flag itu simbol gay. Tapi kenapa ia tak suka?

“Tiap gue lihat pelangi, gue cuma melihat perbedaan aja, tanpa adanya keindahan. Bagi gue, pelangi itu cuma ada satu warna. Abu-abu,” terang Mario dengan nada dingin.

Hah? Apa yang ada di pikirannya sekarang?

Mario pun kembali mengutarakan kata hatinya. Menyampaikan persepsinya tentang pelangi. Dan aku gak nyangka akan mendengar semua itu meluncur keluar dari bibirnya.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar bisa melihat dan mengetahui isi hati anak itu. Merasakan kesedihannya, kesinisannya, ketidakterimaannya akan dirinya…

Rangkaian kata-kata yang keluar dari bibirnya bisa kubaca sebagai jelmaan dari hatinya yang kerontang. Ia butuh kasih sayang, namun keluarga kurang memperdulikannya. Ia butuh kekuatan, tapi tak ada yang mau menopang langkahnya. Ia butuh senyuman, namun orang-orang—termasuk aku– malah memandang sinis padanya. Mencaci segala kesalahannya, tak mau menerima tindakannya. Padahal sejatinya ia tak ubah sepotong baja, meskipun keras, namun bisa dengan mudah dibentuk menjadi sebuah pisau yang akan berguna bagi semua orang.

Kutatap mimik wajahnya yang datar. Sumpah, untuk pertama kali, aku benar-benar merasa menyayanginya. Aku ingin sekali menenangkannya, memeluknya dan berkata bahwa Ayah akan merubah warna pelangimu…
[quote]
[color=red][b]Bianglala Satu Warna[/b][/color]
Bianglala di Cakrawala
Membujur
Sedih terkubur
Menghadirkan seribu nuansa
Multiwarna
Dikau membaur
Pesona hancur
Suka duka luka
Aku, Mejikuhibiniu
Tidak!
Kamu, Abuabu
Rancak
Kelabu
Sesak!
Membiru

-Johan Adiwiguna-[/quote]

***

*27 Maret 2013*

Tengah malam.

Johan baru selesai mengerjakan tugas yang akan ia presentasikan besok pagi. Ia menguap seraya merentangkan kedua lengannya lebar-lebar. Pinggangnya terasa penat setelah cukup lama duduk di kursi. Matanya pun sudah terasa berat. Langsung saja ia mematikan laptop. Setelah itu pergi ke kamar mandi.

Seperti biasa, setelah mencuci muka, tangan kaki dan gosok gigi, ia sekali lagi akan memeriksa pintu dan jendela. Memastikan semuanya sudah terkunci. Ia juga memperhatikan keadaan sekitar rumah lewat kaca jendela. Setelah itu biasanya ia menengok Mario dan terakhir masuk ke kamarnya.

Pun malam ini. Ia melakukan kebiasaannya itu, meskipun matanya sudah terasa berat. Semua jendela dan pintu sudah dikunci, keadaan di luar pun aman-aman saja. Ia lantas melihat Mario di kamarnya. Anak itu sudah dibuai mimpi rupanya.

Johan tersenyum. Namun saat ia ingin menutup kembali pintu kamar, ia teringat lagi pembicaraan mereka tadi siang mengenai pelangi. Termasuk penggalan percakapan mereka yang terakhir.

[i]”…Atau mau Ayah yang cariin? Biar pelanginya nggak cuma warna grey doang…”

“Errgghh… Tapi cariin yang kayak—”

“Ya, ya, kayak Arie!”

“Bukaaaannn!”

“Terus?”

“Kayak Ayah!”[/i]

Tadinya Johan merasa ini guyonan semata sih. Tapi malam ini entah kenapa hatinya sangat peka. Ia merasa ada sesuatu yang tersirat di dalam kata-kata Mario itu. Apa benar Mario menyukainya? Bukan baru sekali ini saja anak itu berkata demikian. Tapi selama ini ia tak pernah menghiraukannya.

Akh! Ini pasti pengaruh omongan Ajeng deh, gerutu Johan. Hampir setiap hari makhluk fujo itu meracuninya. Meyakinkan pendapatnya tentang perasaan Mario, lama-lama tanpa Johan sadari hati kecilnya menanggapi semua omongan ngawur gadis itu.

Tapi… Gimana kalo Ajeng benar? Gimana kalo Mario emang suka aku? Apa yang harus kulakukan? Aku belum pernah memikirkan kemungkinan ini, pertanyaan itu menggelitik hati kecil Johan

Ah, masa bodoh. Itu urusan dia. Dan semestinya ia bisa menyikapinya. Ia tak akan mungkin berani mengutarakan itu ke aku. Sama Arie aja dia lebih memilih diam, apalagi denganku, gumam Johan dalam hati, berusaha tak mau ambil pusing. Kenapa pula ia harus memikirkan itu? Ia yang membutuhkan aku. Jika ia membuatku tak nyaman, aku bisa bertindak sesuai yang aku inginkan. Yang tak boleh terjadi itu adalah jika aku yang menyukainya. Itu baru gila! Pungkas hati kecilnya berusaha menghapus segala pikirannya yang berhubungan dengan Mario.

***

*03 April 2013*

***Johan***

“Jeng, ada yang ngirimin SMS kek gini ke aku,” beritahuku seraya menyodorkan ponsel ke dia. Saat ini kami lagi di rumah. Rencananya, aku, dia, Farah, Pipit dan Adit bakal ngerujak bareng.

“SMS apaan?” Ajeng mengambil ponsel yang aku sodorkan lalu membaca SMS-nya.

Ia mengerutkan jidat mulusnya itu. “Ih? Siapa nih?”

Aku mengangkat bahu.

“Emang elu ngerebut pacar siapa?”

“Boro-boro ngerebut, pacar aja kagak punya…”

“Lha, terus itu…?”

“Nggak tahu. Aku pikir salah kirim. Ternyata benar buat aku. Pas aku telepon, dia nggak mau angkat.”

“Diemin aja deh kalo gitu…” katanya sambil mengembalikan ponselku.

“Ya. Tapi bikin penasaran sih…”

“Coba elu ingat-ingat, siapa cewek yang lagi dekat sama elu sekarang?” goda Ajeng.

“Kamu,” jawabku spontan.

“Selain gue lah!”

“Farah.”

“Selain teman-teman elu deh! Ribet amat dah!”

“Nggak ada.”

“Kalo cowok?” tanya Ajeng sambil terkikik.

“Moyong!”

“Hihihi. Siapa tahu kan ada binan yang terbakar api cemburu, hahaha…!”

“Udah ah, nggak usah nyerempet kesitu. Takut ntar aku jadi binan beneran,” kataku sambil nyengir.

“Bukannya emang iya?”

“Wah, nantangin nih…”

“Hahaha…!”

“Serius, Jeng, jangan sampai deh aku kek gitu. Lihat Mario aja aku kesian. Gak kebayang kalo aku di posisi dia. Sekitar seminggu yang lewat dia tuangin isi hatinya ke aku tentang keluh kesahnya jadi gay. Aku sedih dengarnya…”

“Oh ya?”

“Iya. Bagaimana ia harus selalu menahan perasaannya, memendam cintanya, menyembunyikan keadaannya yang ia sendiri tak tahu sampai kapan…”

“Ya, banyak banget gue dengar keluh kesah serupa. Emang sulit sih hidup kek mereka. Apalagi di negeri kita ini, iya kan? Tapi bagaimana pun itu, gue yakin setiap orang memiliki kebahagiaannya sendiri. Kebahagiaan itu ibarat cahaya, bisa masuk lewat lubang sekecil apapun…”

Aku mengangguk-angguk membenarkan ucapan Ajeng.

“Makanya mulai sekarang elu harus menjaga perasaan Mario. Elu tahu kan bagaimana susahnya jadi dia? Dia mungkin gak punya teman yang bisa diajak ngomong selain sama elu. Cuma elu kan yang tahu keadaan dia?”

“Kamu kan tahu.”

“Iya. Tapi dia gak tahu kalo gue udah tahu. Sebaiknya dia jangan tahu dulu, ntar dia malah malu lagi…”

Aku mengangguk.

Aku calon pendidik. Mungkin ini bisa jadi permulaan yang bagus bagiku untuk menangani “anak didik” pertamaku. Tidak hanya membantunya dalam bidang kognitif, tapi juga afektif. Aku harus bisa membuat Mario jadi remaja yang optimis dan bangga terhadap dirinya sendiri. Ia harus mengerti bahwa ia hanya berbeda dalam satu hal, tapi tidak dalam hal yang lainnya. Jadi kenapa ia harus meratapi perbedaan kecil itu? Itu bukan apa-apa.

“Mario itu ibarat cangkir kosong. Kita bisa mengisi apapun ke dalamnya,” kata Ajeng kembali berfilosofi.

“Really? Apakah seprai bisa dimasukin ke sana?” kelakarku.

“Bisa, bisa. Asal cangkirnya segede baskom!”

“Hahaha. Bukan cangkir lagi dong namanya…”

“Benci banget deh! Gue lagi serius-seriusnyaaa…” gerutu Ajeng.

“Hehehe. Tapi benar sih apa kata kamu. Mario itu masih muda, ia masih labil, nggak jauh-jauh lah ya, sama kita. Jadi apapun bisa terjadi. Harus ada orang yang bisa mengarahkan dan mengawasinya.”

“Dan itu tugas elu!” sambar Ajeng cepat.

“Aku bakal membimbingnya sesuai pengetahuan dan kemampuanku. Aku juga masih muda dan yaaah, semoga aku dan dia bisa berjalan di track yang benar sama-sama.”

“Amiiiiin. Gue doain elu berdua bisa sama-sama. Syukur-syukur kalo bisa pacaran, hihihi…”

“Mulai lagi!”

“Hehehe, maaf. Sisi Fujo gue lagi kambuh…” Ajeng nyengir.

***

*05 April 2013*

Entah sudah berapa banyak SMS masuk ke ponselku. Pasti kesemuanya dari peneror itu. Biar ajalah. Toh semua kata-katanya gak ada yang enak buat dibaca.

“SMS-nya banyak banget, Yah? Kenapa gak dibuka?” tegur Mario. Saat ini kami lagi di depan TV. Ia memintaku mengajarinya materi Matematika.

“Biarin ajalah. Teman-teman emang suka iseng,” kilahku.

Mario mengangguk sambil mangut-mangut. Ia pun kembali fokus ke soal yang kuberikan.

Memandanginya serius seperti sekarang, aku jadi seyum-senyum sendiri. Dari dulu aku memang sangat menyukai ekspresi serius seseorang saat mereka—baik cowok ataupun cewek—sedang mengerjakan atau memperhatikan sesuatu. Bagiku itu tandanya mereka benar-benar respect terhadap apa yang mereka lakukan dan saksikan.

Dan tentunya jarang-jarang aku bisa melihat mimik serius dari Mario. Ia lebih banyak menampilkan wajah pecicilan, jelalatan dan “why so serious”-nya itu meskipun dalam suasana yang serius sekalipun. Dan itulah yang terkadang membuatku kesal. Padahal aku sendiri tak tahu bisa saja itu hanya sekedar cara untuk menutupi perasaan dia yang sebenarnya. Buktinya saja saat kami membahas tentang pelangi beberapa waktu yang lalu, kata-katanya sangat serius, tapi ujung-ujungnya ia lagi-lagi menampilkan sikap seakan tiada masalah.

Tiba-tiba ia menoleh ke arahku. Persis saat aku lagi memandangi dia.

“Kenapa?” ia mengerutkan kening.

“Nggak apa-apa. Bisa nggak?” aku balik bertanya.

“Lagi usaha,” ia nyengir sebentar, lalu kembali ke mimik seriusnya dan berpaling lagi ke soal di depannya.

Aku kembali tersenyum. Spontan aku melingkarkan lengan di bahunya.

“Susah ya?” tanyaku. Saat itu bibirku hampir menyentuh daun telinganya.

Ia merinding sedikit dan menoleh ke arahku.

Wajah kami hampir bersentuhan. Mario menatapku hampir tanpa ekspresi. Aku langsung tersenyum untuk menutupi rasa canggung yang tiba-tiba saja menghinggapi hatiku.

Canggung? Yang benar saja. Masa bisa canggung sama anak kecil ini sih? Gerutuku dalam hati. Biasanya dia malah yang nampak begitu ke aku.

“Lumayan. Nggak ada yang lebih mudah lagi ya?”

Aku terkekeh. “Kalo yang itu bisa diselesaikan, yang mudah kan tentu bisa,” kataku sambil mengelus-elus bahunya tanpa sadar.

Mario menoleh ke arah bahunya yang sedang kuelus. Ia tersenyum.

Aku langsung menghentikan gerakan jemariku. Aku jadi kikuk lagi. Sial, ada apa sih malam ini?

“Hm, Ayah sholat dulu yah. Soalnya udah kelar pas Ayah balik nanti!” kataku mencoba mengembalikan sikapku yang dulu.

Ia mengangguk, tersenyum dan menampilkan sikap pasrah.

Aku menggertakkan gigi bawahku.

***

Keesokan harinya…

Aku dan Ajeng makan di rumah makan Pondok Rumbio. Biasanya kalo ada acara ultah, rapat atau mengadakan event-event santai tempat ini masuk dalam list.

“Elu nggak masak tadi ya? Kok ngajakin lunch di sini?” tanya Ajeng.

“Masak sih. Cuma lagi pengen aja makan di luar.”

“Oh ya? Bisnis elu pasti lagi berkembang pesat…”

Aku tertawa.

Memang semenjak Papa sama Mama pindah ke Bengkulu, bisnis Papa yang di sini, aku yang handle. Well, sebenarnya bukan bisnis yang wah sih. Ini hanya bisnis turun temurun dari pihak keluarga Mama yang dipercayakan ke Papa sebab saudara Mama yang lain sudah punya pekerjaan semua.

Pekerjaan itu cuma toke sayuran dan beras. Yah, itulah yang menghidupi keluarga kami dari dulu. Alhamdullilah, Papa bisa mengemban amanat Kakek dengan baik. Bisnis itu tidak hanya dalam lingkup kota kecil Curup ini saja. Terutama untuk bisnis sayuran, bisnis Papa sudah menjangkau Palembang, Medan, Jambi, Lampung, Jakarta dan Surabaya. Dan semenjak Beliau fokus dengan usahanya di Bengkulu (yang dulu ditangani Bang Reno), sekarang giliranku yang ambil bagian menangani bisnis yang di sini. Meskipun tidak bisa sepenuhnya aku yang melakukannya. Sebenarnya aku hanya mengecek barang yang masuk dan keluar, mengecek pembayaran, transferan, pembukuan dan sebagainya. Dan beruntung sampai saat ini tak ada kendala. Semoga saja ke depannya terus demikian. Hehehe.

“Gue baru aja dua hari yang lalu bareng Shinta dan teman-teman makan di mari,” terang Ajeng.

“Oh ya? Ada event apa?”

“Makan-makan aja sambil gosip, hehehe…”

“Gosip kok mesti ke tempat ini…”

“Biar makin asyik dong. Kalo tempatnya cozy, ngegosipnya kan bisa main seru…”

Aku geleng-geleng kepala.

“Nah, elu ngajakin gue ke sini, cuma buat makan atau pengen ngegosip juga?”

“Bukan, mo arisan.”

“Aihhh, arisan! Arisan brondong kinyis-kinyis…”

“Grrr…!”

“Hihihi…”

“Sebenarnya emang tentang dia sih…”

“Yes!” seru Ajeng girang.

“Belum cerita juga. Nggak jadi ah!”

“Ups, ups. Sorry, sorry. Hm, hmm. Kenapa dia?” tanya Ajeng pura-pura lembut.

“Biasa aja kali ah ngomongnya.”

Ajeng nyengir.

“Ya, ya. Sok mangga. Mo curhat kan?”

Aku menghela nafas. Harus mulai dari mana?

Ajeng melambaikan tangan di depan wajahku.

“Ntar.”

“Wah keknya berat nih…”

Aku masih bingung gimana mengutarakannya.

Tok…tok…tok…, Ajeng mengetuk permukaan meja dengan buku jemarinya.

“Jeng, ada gak cowok normal jadi belok?” pertanyaan itu meluncur keluar dari bibirku yang sedikit bergetar. Dan aku sangat ingin mendengar jawaban “nggak ada” darinya.

Ajeng melotot.

“Ada nggak? Teman kamu, kenalan kamu…”

“Elu ada rasa-rasa ya?”

“Ada nggak?” desakku.

“Selalu ada kemungkinan. Pakar psikologi di dunia pernah bilang: semua manusia yang ada di dunia ini terlahir sebagai manusia dengan orientasi seksual yaitu biseksual. Jadi tergantung mana yang lebih dominan. Penyuka sesama, lawan jenis, atau fifty-fifty…”

“I know. But, kalo yang tiba-tiba berubah belok pas gede ada nggak ya? Pasti nggak ada!” aku menjawab sendiri pertanyaanku.

“Siapa bilang? Ada! Tapi pasti ada penyebabnya lah. Gak mungkin secara tiba-tiba.”

Aku menghela nafas.

“Emang kenapa? Elu—”

“Nggak. Cuma nanya aja.”

“Serius nih? Kalo elu emang ada rasa mo belok, gue bisa jadi tutor yang pas buat elu,” kata Ajeng dengan seringai setannya.

“Sial.”

“Nggak usah takut. Pas elu mendeklarasikan kebelokan elu, otomatis elu bakal dapat pasangan.”

“Hadeeehhh… Jangan sampai deh. Kamu sebagai teman gimana sih, malah menyesatkan…”

“Seperti yang udah gue katakan sebelumnya, gue cuma mentor. Yang punya potensi itu elu berdua. Nah, tugas gue sebagai fujo itu mengasah potensi kalian. Hahaha, Anggun Sasmi kali gue ah.”

“Terkutuklah wahai fujo seperti dirimu,” kelakarku.

Ajeng ngakak.

Kami diam sebentar setelah pelayan mengantarkan jus yang kami pesan. Aku melirik jam di dinding. Sebentar lagi Mario pulang. Aku pun langsung mengabarinya kalau sepulang sekolah langsung saja ke sini untuk makan siang.

***

Aku benar-benar marah pada Mario. Ia terlalu ikut campur sama masalahku. Sampai-sampai rasanya belum puas hanya menyarangkan dua pukulan kecil di tubuhnya. Kenapa pula ia harus meladeni isi SMS itu?

Lucunya, kalo aku yang marah sama Mario, si Ajeng malah marah ke aku.

“Dia sayang sama elu. Harusnya elu terharu dong dia berantem belain elu. Ini kok elu malah mukul dia…” Ajeng cemberut.

Aku tak menjawab omelannya. Sebenarnya memang sedikit berlebihan sih tadi aku ke Mario. Ngomelin dia di depan temannya dan Ajeng. Di tempat kejadian lagi. Sakit akibat berantem aja belum ilang, udah aku tambah. Tapi aku benar-benar emosi. Emosi akibat sangat khawatir sama dia. Takut ia kenapa-kenapa padahal sebentar lagi harus ujian. Kalo berantem dengan tangan kosong sih, aku yakin dia pasti jago. Yang aku takutkan kalo lawannya pake senjata tajam dan keroyokan.

Aku hanya ingin selagi bersamaku, Mario tidak terlibat masalah apapun!

***

Malam harinya…

[b]Dari: Ajeng
Date: 06/04/2013
Time: 21.05

gmn keadaan mario?

Dari: Johan
Date: 06/04/2013
Time: 21.06

baik.

Dari: Ajeng
Date: 06/04/2013
Time: 21.06

lg apa dia?

Dari: Johan
Date: 06/04/2013
Time: 21.07

gk tw. Tidur kali di kmr

Dari: Ajeng
Date: 06/04/2013
Time: 21.09

tidur? Kok g elu kelonin? ;p

Dari: Johan
Date: 06/04/2013
Time: 21.11

emang aku induknya.

Dari: Ajeng
Date: 06/04/2013
Time: 21.11

ya ampun, kasar banget sih? Elu msh marah ama dia?

Dari: Johan
Date: 06/04/2013
Time: 21.12

Y

Dari: Ajeng
Date: 06/04/2013
Time: 21.13

Kek anak perawan aja sih, marahnya lama. Udh baikan sono!

Dari: Johan
Date: 06/04/2013
Time: 21.13

emang situ kalo marah g lama?

Dari: Ajeng
Date: 06/04/2013
Time: 21.14

ya enggaklah

Dari: Johan
Date: 06/04/2013
Time: 21.14

jd situ bukan anak perawan dong?

Dari: Ajeng
Date: 06/04/2013
Time: 21.15

haha, sialan elu!

Ayo lihat mario. Lg ngapain dia di kamar? Siapa tahu aja dia lagi nangis krn elu marahin dia.

Dari: Johan
Date: 06/04/2013
Time: 21.16

berantem aja gak nangis, apalagi dimarah

Dari: Ajeng
Date: 06/04/2013
Time: 21.16

siapa tahu? Dimarah sm orang yg disayang itu jleb bgt tahu. Rasanya sakiiiit.

Dari: Johan
Date: 06/04/2013
Time: 21.17

curcol.

Dari: Ajeng
Date: 06/04/2013
Time: 21.18

haha. Serius ini.

Dari: Johan
Date: 06/04/2013
Time: 21.20

YA! Bawel banget dah!

Dari: Ajeng
Date: 06/04/2013
Time: 21.20

haha sip. Elu ngomong yg lembut sm dia, terus peluk, cium jg boleh… Hihihi.[/b]

Dasar! Aku memilih tak membalas SMS-nya yang terakhir. Jika diladeni, tuh cewek bakal makin menjadi.

[b]Dari: Ajeng
Date: 06/04/2013
Time: 21.26

dengar gak elu?[/b]

Masa bodoh, jawabku dalam hati.

Aku mengganti saluran TV saat acara yang kutonton sedang jeda iklan. Nggak ada acara yang menarik. Bosan jadinya. Akhirnya Setelah lawakan Sule Cs di OVJ berakhir, aku mematikan TV lalu menyambangi Mario di kamarnya. Bukan karena nasehat Ajeng tadi, tapi pada dasarnya aku memang ingin memastikan keadaannya.

Anak itu nampak meringkuk sambil memeluk guling. Aku tersenyum. Kesian banget sih, hahaha. Jadi sedikit merasa bersalah sudah memukulnya tadi. Ia pasti berpikiran kalau aku sangat marah padanya.

“Yo, udah tidur?” tegurku seraya naik ke atas tempat tidur.

“Belum…”

“Kenapa?”

“Belum aja,” ia menghadapku.

“Memarnya masih sakit?” tanyaku seraya memperhatikan rahangnya.

“Lumayan.”

“Perut kamu gimana? Sakit nggak?” tatapanku beralih ke perutnya.

“Ya.”

Aku langsung menyusupkan lengan ke dalam bajunya. Ku elus perutnya lembut.

“Satu-dua hari ke depan sakitnya hilang kok…” kataku mencoba menghiburnya.

Ia diam saja.

“Besok kamu sekolah nggak?” tanyaku sambil ikutan berbaring di sampingnya.

“Sekolah…”

“Luka kamu? Rahang, bibir masih memar…” aku mengamati tepi bibirnya yang sedikit memar.

Mario lagi-lagi diam saja. Ia menyentuh rahangnya.

“Besok kalo nggak mau sekolah dulu nggak apa-apa,” saranku. Aku tak akan membiarkannya sekolah kalo keadaannya begini. Pasti besok teman-teman dan gurunya pada nanya.

Mario masih bergeming.

“Besok Ayah kirim surat izinnya…”

Mario mangut-mangut.

“Sekarang istirahat aja,” saranku sambil meraih lengannya dan memijatnya pelan.

Mario memejamkan matanya sebentar. Tapi kemudian ia bertanya tentang karate. Kami akhirnya mengobrol. Disela-sela obrolan itu aku memberitahukannya beberapa titik kelemahan tubuh manusia yang bisa diserang saat berkelahi dengan tangan kosong.

Air mukanya berangsur-angsur ceria setelah kita mengobrol dan bercanda. Setelah itu aku menyuruhnya untuk tidur biar kondisi badannya kembali pulih. Ia tak membantah. Hanya saja saat aku ingin ke kamarku, ia memintaku untuk tidur bersamanya. Aku tak menolak. Aku kembali rebah di sampingnya. Ia nampak senang karena tak perlu memintaku dua kali untuk menemaninya tidur.

***

Lewat tengah malam…

Aku terbangun tanpa sengaja. Saat membuka mata, pandanganku langsung tertuju ke wajah Mario di sampingku. Ia tidur tengkurap dengan wajah mengarah ke aku.

Aku menatap wajahnya cukup lama. Meneliti bibir dan rahangnya. Saat jemariku menyentuh rahangnya, ia tak bergerak. Sepertinya ia tidur dengan nyenyak.

Entah setan apa yang sudah merasukiku, sehingga malam ini aku sangat betah memandangi wajahnya.

[i]Brondong Kinyis-kinyis…[/i] gumamku dalam hati menirukan omongan Ajeng.

Ia nampak sangat manis dalam tidurnya. Air mukanya itu nggak menunjukkan kenakalannya sama sekali. Cenderung polos. Sayang kelakukannya berbanding terbalik sama wajahnya.

Trouble Maker, desisku sambil menyentil telinganya.

Ia bergerak sedikit, menghembuskan nafas keras lalu mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangiku.

Aku terkekeh. Keisenganku mendadak muncul. Aku menyentil telinganya lagi. Kali ini lebih kuat.

Mario mendengus. Ia menatapku kesal.

“Sorry, gak sengaja…” kilahku.

“Pukul berapa sekarang?” Mario mencari-cari ponselnya.

“Masih malam. Tidur aja lagi,” kataku sambil menarik pinggangnya mendekat dan kupeluk dia.

Mario langsung mengubah posisinya tidurnya lagi. Kali ini ia menghadap ke aku. Tanpa sungkan ia menelusupkan wajahnya ke cerukan leherku. Aku langsung membelai kepalanya dan mencoba memejamkan mata kembali. Rasanya sangat nyaman bisa mendekapnya seperti ini…

***

*09 April 2013*

“Halo, Jo, ada apa?” sapa Ajeng. Saat ini aku lagi meneleponnya.

“Kenapa sekarang aku jadi rada-rada belok, haha…”

“…”

“Halo? Dengar nggak?”

“Ya, ya. Maksudnya elu itu belok—oh, elu demen batangan maksudnya sekarang…???!”

“Batangan?”

“Oh, maaf. Belum meletek sih… Hihihi. Belok ya?”

“Tanggung jawab!”

“Hahaha…!” tawa Ajeng meledak. “Eh, eh, kok elu bisa ngomong gitu sih? Emang kenapa?”

“Yaaa, gimana ya? Dua hari ini rada aneh aja di hati. Masa pas malam-malam aku bangun terus natap wajah Mario sambil bergumam brondong kinyis-kinyis? Biasanya lihat wajahnya aja malas…”

Tawa Ajeng kembali meledak. Aku jadi malu sendiri dibuatnya. Meskipun kami mengobrol via telepon, tetap saja rasa panas menjalar ke wajahku.

“Cinta karena terbiasa. Hahaha. Hebat banget si Mario ya, bisa membelokkan straight alim tampan nan rupawan. Sugoi deh tuh anak!”

“Jangan bikin hati aku makin nggak enak.”

“Kalo begitu, nggak ada alasan lagi bagi kalian untuk nggak pacaran. Iya kan? Ooohhh, akhirnyaaaa… Usahaku tak sia-sia…” ceracau Ajeng.

“Nggak secepat itulah. Masih butuh serangkaian tes lagi untuk membuktikan aku belok atau nggak. Hahaha…” aku mencoba menghibur diri.

“Tes apaan?”

“Nggak bakal aku kasih tahu. Yang ada jadi kacau nanti!”

“Gitu ya? Oke deh. Gue tunggu hasil tesnya!” balas Ajeng.

***

Aku mengambil laptop dan browsing di kamar. Seperti yang kukatakan ke Ajeng lewat telepon, aku akan menguji diriku sendiri. Benar nggak sih aku belok?

Pertama, aku mengetik kata “cowok” di Google’s search engine. Puluhan gambar cowok terpampang di layar laptop. Aku meneliti mereka satu persatu, mencari mana yang menurutku cakep. Ah, cakepan aku, desisku dalam hati.

Selanjutnya aku menambah kata “seksi” di belakang kata “cowok”. Gambar cowok-cowok shirtless bermunculan. Wah, badan mereka keren-keren. Aku membandingkan perut six-pack mereka dengan perutku. Aku harus olahraga lebih giat supaya mendapatkan perut six-pack yang sempurna. Aku mengklik salah satu gambar yang membawaku pada satu artikel tentang cara mendapatkan perut six-pack.

Cukup lama aku berkutat dengan artikel mengenai perut six-pack dan seluk beluk kesehatan tubuh, sampai aku lupa dengan tujuanku semula.

Oke, sejauh ini aku nggak merasakan keanehan saat melihat cowok bertelanjang dada. Bagaimana kalo cowok nude? Aku langsung menghapus kata “seksi” dan mengubahnya dengan kata “nude”. Ternyata gambarnya yang disajikan nggak sesuai dengan kata pencarian.

Aku mengganti keyword dengan “cowok bugil” dan “cowok telanjang”. Tetap aja yang keluar gambar cowok shirtless. Bahkan keluar juga foto cewek berjilbab. Apa-apaan???

Kali ini aku coba dengan bahasa Inggris supaya jangkauannya lebih luas, hehehe.

[i]Hot Man[/i]. Ah, biasa aja lihatnya.

[i]Sexy Man[/i]. Wah, iri sama body mereka. Keren-keren.

[i]Nude Man[/i]. Lha, kok yang keluar banyak gambar patung cowok telanjang sih? Pun kalo ada gambar yang menampilkan cowok bugil, aku jadi ilfeel lihatnya.

Jadi aku nggak belok dong? Hatiku bertanya.

Aku menghela nafas. Lega rasanya mendapatkan jawaban yang memang aku inginkan.

***

“Yakin nih nggak belok?” tanya Ajeng sambil menikmati es krim di tangan.

“Yakin!”

“Emang elu uji sama apa sih?”

“Ada, hahaha…”

“Malah ketawa.”

“Konyol sih. Tapi cuma itu yang kepikiran. Aku mencoba melihat gambar-gambar cowok naked.”

“What? Hmmm…”

“Dan nggak suka sama sekali.”

“Cowoknya yang kek gimana?”

“Yang ideal lah.”

“Videonya juga udah nonton?”

“Video apa?”

“Video gay.”

Aku mengerutkan kening.

“Kenapa? Cowok straight hobi nonton bokep, cowok gay juga hobi. Tapi tentu yang sesuai genre mereka.”

Aku menelan ludah. Nggak bisa ngebayanginnya.

“Kalo belum, elu harus tonton dulu. Baru elu bisa tarik kesimpulan.”

“Pasti enggaklah!”

“Coba dulu. Siapa tahu elu minat, hahaha…”

“Nggak perlu nonton yang begituan kali untuk memastikan belok atau nggak. Apa yang aku lakukan tadi malam aja sebenarnya udah berlebihan.”

“Kan elu sendiri yang bilang sekarang ragu? Biar nggak ragu lagi apa salahnya sih dicoba…”

Aku mangut-mangut.

“Elu bisa download di gay-tv.biz atau gay.wen.su. Dua-duanya format 3gp kok.”

“Kok kamu tahu?”

Ajeng nyengir.

“Gila. Jangan-jangan kamu suka nonton juga ya?”

“Cuma lihat sekali sih. Eh, dua. Dua apa tiga ya? Hihihih…”

Aku geleng-geleng kepala.

“Kamu masih normal gak sih, Jeng?”

“Maksud elu???”

“Ya—”

“Normal lah. Sangat amat normal! Buktinya gue nonton yang cowok. Kalo yang cewek baru elu boleh curiga ke gueee…” cerocos Ajeng sambil melempar stick es krimnya.

“Who knows…”

“Huh! Elu tuh yang mesti dipertanyakan… yeee… Eh, tapi kalo elu mo gretongan, bisa minta aja ke Mario. Dia pasti ngoleksi tuh.”

“Gak penting.”

“Pasti dia bertanya-tanya kenapa Ayahnya tiba-tiba minta video gay. Hahaha…” ceracau Ajeng.

Nggak lama setelah Ajeng pulang, aku mendownload satu video gay dari situs yang tadi ia bilang. Tak ada salahnya mencoba menonton untuk lebih meyakinkanku lagi. Harapanku sih semoga hasilnya nggak berubah.

Tidak butuh waktu lama untuk mendownload video yang hanya berukuran 4 MB-an. Aku pun langsung memutarnya.

MENATPLAY (Ready to Play?). Demikian kalimat pertama yang tertera saat aku memutar videonya. Tulisan itu terbentuk dari retakan di dinding. Tulisan itu disusul dengan gambar warna merah berbentuk kelamin pria yang dibungkus garis berwana putih. Di bawah gambar tersebut terdapat tulisan PLAY SAFE! No to bareback. Lalu disusul lagi dengan tulisan MENATPLAY SUPPORTS THE NATIONAL AIDS TRUST. Setelah itu baru muncul adegan pertamanya. Seorang pria berjas mewah tengah duduk dengan pandangan serius ke arah laptopnya. Beberapa detik kemudian datang seorang cowok berkemeja rapi dengan map di tangan. Mereka ngobrol sebentar. Si cowok pertama mencuri-curi pandang ke arah selangkangan si cowok yang baru datang. Cowok berkemeja itu tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) akan kelakuan lawan bicaranya yang nampak bernafsu itu. Ia masih saja terus bicara dengan serius sesekali menunjuk kertas di dalam map-nya.

Adegan ini berlangsung beberapa detik. Lalu si cowok berjas mulai meraba selangkangannya sendiri, pertama secara diam-diam, lalu semakin berani dan terang-terangan di depan lawan bicaranya itu. Anehnya, kini giliran si cowok berkemeja yang terdiam menatap aksi si cowok berjas. Jakunnya turun naik. Lantas dengan mupengnya ia menjulurkan tangan ke arah organ vital si cowok berjas. Shit, desisku dalam hati. Selancar dan semudah itu prosesnya? Hahaha, naif banget dah. Aku langsung menghentikan videonya. Nggak menarik sama sekali. Langsung saja kudelete berkas itu dari ponselku.

[i]Nggak ada yang perlu diragukan lagi. Aku normal kok![/i] kataku lega.

Akupun keluar kamar sambil bersiul kecil.

***

*11 April 2013*

Malam semakin beranjak larut. Aku bersiap-siap hendak tidur. Setelah memeriksa pintu dan jendela, seperti biasa aku juga menyambangi Mario di kamarnya. Anak itu sudah di alam mimpi.

Seperti beberapa hari belakangan, aku jadi suka memperhatikan wajahnya. Pun malam ini. Menatap wajahnya yang damai dalam pelukan mimpi.

Entahlah, aku tak habis pikir. Aku yakin sekali kalau aku masih Johan yang dulu. Tidak ada perasaan yang menyimpang dalam diriku. Dan itu sudah kubuktikan. Tapi kenapa saat melihat Mario keraguanku kembali datang? Akh, perasaan seperti apa ini?

***

*12 April 2013*

“Elu bilang elu nggak punya ketertarikan seksual sama gambar cowok ataupun videonya?” Ajeng mengulang pernyataanku.

“Iya.”

“Tapi elu suka lihat Mario?”

“Iya.”

“Suka seperti apa sih?”

“Suka, ya sukaa.”

“Suka gimana? Nafsu gitu?”

“Uhmmm… Masa sih? Bukan gitu. Cuma akunya senang perhatiin dia pas tidur. Memperhatikan alisnya, bibirnya, rahangnya… Terus jadi suka belai rambutnya. Aku juga nyaman banget meluk dia. Sementara kalo dulu, nggak pernah gitu. Nggak pernah memperhatikan dia sedetil itu. Kalopun meluk dia pas tidur, ya peluk aja tanpa perasaan apa-apa…”

“Jadi intinya, sekarang elu sangat perhatian sama dia ya.”

“Ya. Kalo dulu perhatiannya generally, sekarang udah specifically.”

“Mungkin itu tandanya elu udah mulai jatuh hati sama dia.”

“Jatuh hati? Cinta maksudnya?”

“Iya,” jawab Ajeng disertai anggukan.

“Tapi aku yakin aku masih normal. Kalo aku suka dia berarti aku belok dong?” hati kecilku nggak menerima.

“Tapi itu kenyataannya…”

“Aku rasa bukan. Mungkin cuma rasa sayang yang besar aja. Mungkin nggak kalo sikapku ini kayak orang tua? Para orang tua suka memperhatikan anaknya di kala mereka tidur. Memandangi wajahnya, tersenyum, terus mencium pipinya… Itu hal yang wajarkan?”

“Masalahnya, elu bukan orang tua. Elu cowok single, masih berusia 21 tahun, tapi suka memandangi brondong berusia 18 tahun, cowok pula, dan dia bukan anak elu!” Ajeng membantah pendapatku mentah-mentah. Nyebelin banget ini orang, gerutuku dalam hati.

“Tapi aku tetap berpegang teguh sama hasil uji cobaku. I am not gay.”

“Iya. Oke, gini aja. Elu coba pastiin perasaan elu ke Mario kek gimana. Kebetulan gue udah bilang ke tuh anak kalo gue udah tahu ke-gay-annya. Gue juga sampai detik ini masih ngomporin dia supaya nembak gebetannya dia–elu. Nah, kalo dia kemakan omongan gue terus nembak elu, elu terima aja…”

“Eh? Nggak bisa!”

“DENGAR DULU!” Ajeng mendelik. “Elu terima aja dulu. Coba elu pacari dia. Gimana perasaan elu? Elu sayang? Elu cinta? Ntar bakal kerasa kok.”

“Tapi kalo ternyata enggak gimana? Sama aja mempermainkan dia.”

“Kalo elu ngerasa ini bukan dunia elu, elu bilang ke gue. Serahin semuanya ke gue, biar gue yang ngatur. Ingat! Jangan bertindak sendiri!”

“Nggak, nggak…” aku geleng-geleng kepala.

“Gue cuma mo nolong elu kok. Elu harus menuntaskan rasa penasaran elu, kan? Atau jangan-jangan elu takut beneran cinta sama dia?”

“Takut juga sih. Masa aku belok…” desisku.

“Kalo potensinya—”

“Potensi lagi!”

“Hahaha. Mentor di sini, wkwkwk. Nah, gimana?”

“Ehmmm…”

“Hitung-hitung elu berbuat kebajikan buat si Mario. Bentar lagi dia UN tuh. Kalo dia nembak elu sebelum UN seperti yang gue saranin ke dia, dan elu terima dia, waahhh… Pasti dia bakal bahagia banget. Efeknya ke semangat dia. Kalo dia semangat, maka dia bakal ngikutin UN-nya semangat juga. Aura positif itu bisa menghantarkannya meraih NEM yang memuaskan…!!!”

Aku terdiam mencerna kata-kata Ajeng.

“Gimana? Deal? Oke, sip!”

“Masih mikir.”

“Udah, jangan kebanyakan mikir! Terima aja.”

“Oke deh! I agree and take the challenge.”

“Yipiiii! Sip! Elu tunggu aja dalam dua tiga hari ini, gue yakin Mario bakal nembak elu, hihihi.”

Aku tersenyum simpul. Nggak tahu harus bersikap kek gimana. Aku rasa aku sudah ikut-ikutan gila seperti Ajeng.

***

*14 April 2013*

Mario menyeret kakinya yang terasa lemas menuju kamar. Ia memutar gagang pintu tanpa tenaga. Berkali-kali ia menghembuskan nafas berat.

Ia kemudian duduk di meja belajar dengan kepala tertunduk. Ia tertegun dengan pikiran berkecamuk. Tiba-tiba ia menyunggingkan senyuman sinis.

Heh, siapa gue? Siapa? Kepedean banget sih gue nembak Ayah. Mana mungkin dia suka sama gue. Dia normal. Kalo pun dia belok, gak mungkin juga dia suka sama cowok ingusan kek gue. Hehhh, salah gue juga sih ngikutin saran Mbak Ajeng, desis Mario dalam hati meratapi kebodohan yang baru saja ia lakukan.

Tapi sudahlah. Setidaknya gue sudah menyampaikan perasaan gue ke dia. Itu hak gue. Dan hak dia juga buat nolak gue. Gue udah janji bakal ambil resiko, kata hatinya mencoba menyemangati.

Mario bangkit dengan malas. Hati dan fisiknya terasa berat. Tapi ia mencoba menyemangati dirinya dan berbesar hati.

Gue nggak boleh sedih. Besok gue UN…! Ia mencamkan kalimat itu di dalam hatinya.

Ia akhirnya berjalan ke kamar mandi. Membasuh mukanya berkali-kali, menatap cermin dan mencoba tersenyum.

Gue kan tampan. Pasti di luar sana banyak cowok tampan yang mau sama gue! Gumam Mario dalam hati sambil memperhatikan wajahnya.

Ia terkekeh. Kepedean banget dah gue! Pertama kalo nembak cowok aja gue ditolak, gerutunya kemudian sambil meninggalkan kamar mandi.

Sesampai di kamar, ia langsung naik ke atas ranjang. Membungkus tubuh dengan selimut, berdoa, memejamkan mata dan berusaha melupakan rasa sakit yang baru saja ia alami.

***

Mario gelisah. Ia tak bisa memejamkan matanya. Ia terus saja memikirkan penolakan Johan. Antara penyesalan dan perasaan lega terus berkecamuk di dalam dadanya. Tak ada yang bisa menyingkirkan pikiran itu dari benaknya. Musik, online, browsing, dan semuanya terasa hambar. Tak ada yang mampu mengalihkan pikirannya.

Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya dibuka. Dada Mario langsung berdebar. Ia langsung menutupi kepalanya dengan selimut dan menghadap ke dinding. Terasa olehnya saat Johan naik ke atas ranjang.

“Yo, udah bobo?” tanya Johan.

Mario tak menjawab.

“Have a nice sleep and dream, Honey…” ucap Johan sambil menepuk bahu Mario lembut.

Mario membelalakan matanya di dalam selimut. Honey?

Johan bergerak turun dari tempat tidur. Menyadari itu, Mario langsung membuka selimutnya.

“Gue belum tidur kok.”

“Lha, Pacar Ayah belum bobo? Kok tadi nggak jawab?” Johan berdiri di sisi tempat tidur dengan kedua tangan di dalam saku celana.

Pacar? Desis Mario dalam hati.

“Kenapa belum bobo?” Johan kembali naik ke atas ranjang.

“Nggak apa-apa.”

“Ya udah bobo sekarang…”

“Iya. Tapi…”

Johan menunggu Mario bicara.

“Ayah belum jawab,” hati Mario ketar-ketir.

“Soal apa?”

“Tadi omongan gue di ruang tamu. Gue serius, Yah.” hati Mario makin nggak karuan. Kepalang tanggung, gue harus dengar sendiri kata “tidak” dari mulutnya, katanya dalam hati.

“Ooohhh… Yang ‘I love you, Yah’ tadi ya?”

Mario mengangguk pelan.

“Pacar Ayah nggak usah mikirin itu lagi. Sekarang it’s time to sleep. Besok UN, jangan sampai ngantuk pas ngerjain soal.”

“Pacar Ayah? Maksudnya?” kejar Mario. Ia tak puas dengan keterangan Johan barusan.

“I love you too. Hehhh, mo dengar apa lagi?” Johan menampilkan ekspresi manyun.

“Beneran nih?” wajah Mario langsung berbinar. Bak piring yang baru dicuci Sunlight, langsung cling!

“Beneraaaaan. Ya udah, bobo gih.”

“OKE! Ayah bobo di sini ya?”

“Nggak. Ayah mo bobo di kamar.”

“Disini aja, Yah. Yo gak bisa bobo. Kelonin?” Mario mengedipkan sebelah matanya.

“Huuhhh, jangan manja,” kata Johan tapi ikut berbaring di sebelah Mario.

“Nggak kok,” timpal Mario sambil merebahkan kepalanya di ketiak Johan.

“Ayo tidur. Sekarang udah larut malam,” Johan membelai rambut Mario. “Sebelum tidur berdoa dulu supaya besok UN-nya lancar.”

“Iya, Ayaaahhh… Tadi udah kok!”

“Masih manggil Ayah nih?”

“Emang kenapa? Gue suka sama panggilan itu.”

“Nggak mau ganti?”

“Nggak. Tetap Ayah. Nggak apa-apa kan?”

“It’s oke. Bagus malahan. Nggak perlu ada yang berubah…”

“Heem,” desis Mario sambil memejamkan matanya.

“Yo…”

“Iya?”

“Kalo kamu bisa bersikap manis kek gini sama Ayah, kamu juga bisakan bersikap manis dan sopan sama mama kamu?”

Mario membuka matanya.

“Ayah nggak suka kamu bersikap seperti tadi ke beliau. Kamu nggak sopan banget…”

“Iya…” jawab Mario singkat.

“Sekarang Ayah udah jadi pacar kamu. Ayah boleh tahu dong tentang keluarga kamu?”

“Boleh. Tapi nggak ada yang enak buat dikasih tahu…”

“Nggak apa-apa. Ayah pengen tahu aja.”

Mario diam sejenak. “Pengen tahu tentang apa?”

“Banyak yang pengen Ayah ketahui. Misalnya tentang Papa kamu yang sampai saat ini belum pernah ketemu sama Ayah, tentang Kakak kamu…”

“Gue males cerita. Tapi karena sekarang Ayah udah jadi pacar Yo, okelah…”

“Hehehe. Nggak keberatan kan?”

“Keberatan banget.”

“Justru itu. Kalo berat biar Ayah bantu ringanin.”

“Bisa aja.”

“Bisa dong…”

“Katanya tadi nyuruh bobo?”

“Nggak mesti sekarang kok ceritanya. Bisa besok, besoknya lagi, besok besoknya lagi… Kan kita masih lama pacarannya???”

“Iya, lama. Ampe kita kawin.”

“Bentar lagi kalo gitu. Kamu kan pengen langsung kawin pas lulus SMA?”

“Iya. Sama Ayah.”

“Hahaha…”

“Kawin terus bulan madu…” gumam Mario sambil mengecup dada Johan.

“Ish!”

Mario terkekeh.

“Tidur!”

“Yaaaa. Galak amat sih…”

Johan memukul pantat Mario.

“Aahhh, lagi, Yah…”

“TIDUR!”

Mario terkekeh sambil membenamkan wajahnya lebih dalam ke dada Johan.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: