Chapter XIIIb

“Aaaaa….!!! Berhenti, berhentiiii…!!!” seru seseorang dengar suara paniknya.

Semua–kecuali Mario dan adiknya Rahmat—menoleh ke arah sumber suara. Seorang cewek berlari tergesa-gesa setelah setengah melompat dari motor dan menghampiri mereka.

“Berhentiii… Uuhhhggghhhh….” ia nampak gemas.

“Ayo lerai, leraiii, ya ampuuunnn… Kenapa pake nonton aja siiihhh…???” ia menarik-narik lengan Arie.

“BERHENTI!” sebuah suara berseru keras.

Mereka kembali menoleh, tak terkecuali Mario.

Cowok yang baru saja berseru keras itu, Johan, berjalan dengan langkah gontai namun pasti mendekati tempat perkelahian. Wajahnya dingin, tanpa ekspresi, tapi rahangnya nampak mengeras.

Melihat siapa yang datang, spontan Mario melepas cengkeram tangannya dari leher adeknya Rahmat.

“Bang Jo…” desis salah seorang teman adiknya Rahmat.

“Fred?”

Cowok yang dipanggil Fred itu mengangguk.

“Lagi ngapain kalian?” tanya Johan.

“Ini, Bang, Mardi…” Fred menjawab dengan suara sedikit terbata.

“Elu Johan kan?” timpal adiknya Rahmat.

“Iya,” jawab Johan singkat.

“Eh, gue gak suk—”

“Mar, udah!” potong Fred. Ia lantas berbisik ke telinga adiknya Rahmat. Entah apa yang ia bisikkan, tapi setelah itu adiknya Rahmat tidak sepercaya diri tadi.

“Kamu siapa?” tanya Johan.

“Maaf, Bang, dia teman gue. Namanya Mardi, sepupunya Kak Rahmat,” Fred yang jawab.

“Sepupunya Rahmat?” celetuk Ajeng.

“Iya, mantannya Kakak,” jawab adiknya Rahmat yang ternyata bernama Mardi itu.

“Rahmatnya mana? Dia yang nyuruh elu ke sini?”

“Nggak. Dia nggak tahu.”

“Lha terus kok elu bisa di sini?”

“Jadi selama ini yang ngirim SMS itu dia,” Mario yang jawab.

“Yang hack FB gue dia juga,” Arie menambahkan.

“Oh, jadi bukan Rahmat?”

“Kak Rahmat gak tahu…”

“Amin, Ya Allah,” Ajeng mengelus dadanya.

“Kenapa kamu ngelakuin itu?” tanya Johan masih dengan nada dinginnya.

“Gue kasihan aja sama Kak Rahmat. Dia sayang banget sama pacarnya, tapi pacarnya direbut sama orang yang ngaku teman dekat ceweknya.”

Johan mendengus.

“Ya ampuuun, Rahmat udah cerita apa aja ke elu? Kok elu bisa berpendapat gitu sih?” tanya Ajeng.

Mardi nggak menjawab.

“Lucu kalian ini,” kata Johan sambil ketawa sinis. “Yang punya masalah orang lain, kenapa kalian yang ikut campur???”

“Dia SMS yang nggak-nggak sama Ay—Kakak. Gue panas bacanya,” jawab Mario cepat.

“Kenapa kamu yang panas?! Itu SMS buat siapa?!” hardik Johan.

Mario tak menjawab. Ia semakin merunduk dalam.

“Jangan suka ikut campur urusan orang lain! Benahi hidup kamu sendiri!” sambung Johan masih dengan nada sekeras tadi.

“Udah, udah,” potong Ajeng. “Bubar, bubar. Ugh, kalian ini…” gerutunya.

Mardi dan kawan-kawannya beringsut pergi, kecuali Fred.

“Kenapa Ay—Kakak diam aja dibilang nggak keruan kek gitu…?!” kata Mario tiba-tiba sambil mengangkat kepalanya. “Dia udah ngomong kek gitu masih didiemin aja, harusnya kasih dia pelajaran… Huhhh…!!!”

“Gitu kalo orang bego! Kesemuanya pengen diselesaikan dengan kekerasan! Terus kamu dapat apa tadi???”

“Kepuasannya itu, kalo bisa hajar orang—”

“Sebanding gak sama keadaan kamu? Ini…! Ini…! Ini…!” Johan menyentuh bagian-bagian tubuh Mario yang memar.

“Kalo berantem yah emang begitu. Kecuali kalo gue Raden Kian Santang…”

“Sssttt…” Ajeng memperingatkan Mario supaya nggak ngomong ngelantur. Johan paling nggak suka keseriusannya ditanggapi dengan gurauan.

“Emang kalian jago banget ya berantemnya?” tanya Johan lagi seraya menatap Arie dan Mario bergantian.

“Aku pengen lihat seberapa hebat sih adek-adekku ini adu jotos. Ayo, maju!”

Mario dan Johan tak bergerak.

“Ayo! Siapa aja! Ajarin aku dong!!!”

Ajeng mendorong Mario pelan. Mario menoleh. Ajeng mengangguk.

“Ayo, gimana?” tanya Johan dengan tatapan mengintimidasi.

Mario bergeming di hadapan Johan. Tapi di dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri yang selalu gemetaran jika dihadapkan sama Ayahnya itu.

“Oke, gini aja, tadi kamu mukul lawan gimana? Coba replay ke aku.”

“Dia yang nyerang duluan…”

“Dia yang nyerang duluan?”

“Iya. Terus baru gue balas.”

“Oke. Anggap aja aku sepupunya Rahmat tadi. Dia mukul kamu di mana?”

Mario menunduk rahangnya.

“Oke, anggap aja aku udah mukul kamu, terus kamu balas sekarang.”

“Balas?”

“Iya. Balas. Gimana tadi kamu balasnya?”

“Pukul pipi…”

“Ya udah, pukul aja,” Johan memiringkan kepalanya sedikit, sehingga pipinya tepat di hadapan Mario.

Mario nampak ragu.

“Pukul aja! Gak apa-apa kok!”

Mario melirik Arie dan Ajeng, seakan minta pendapat.

“Pukul aja…” kata Ajeng.

Mario mengepalkan tangannya dan mengarahkannya ke pipi Johan. Tapi ia tidak jadi memukul pipi mulus itu, melainkan hanya menempelkannya saja.

“Pukul!” kata Johan keras.

“Maaf, Kak… Gue emang salah,” ucap Mario berusaha mengakhiri situasi ini.

“Pukul!”

“Nggak.”

“Pukul aja, Yo. Nggak apa-apa kok,” kata Ajeng.

“Gue nggak mau. Kakak aja yang pukul gue,” kata Mario ke Arie.

“OKE!” jawab Johan sambil menyarangkan pukulan ke rahang Mario secara tiba-tiba, sebelum anak itu menyadarinya. Otomatis Mario langsung merintih kesakitan.

Arie, Ajeng dan Fred yang menyaksikannya saja ikutan meringis.

“Sekarang balas!” kata Johan dengan tampang dinginnya.

Mario yang tak menduga akan mendapat bogem mentah dari Johan, sekarang tidak berpikir panjang. Antara sedih, kecewa dan marah ia melayangkan pukulan ke arah pipi Johan. Sayangnya dengan gesit pukulannya ditangkis. Johan menangkap tinju Mario lalu menyarangkan pukulan ke perut anak itu sehingga tubuh Mario sedikit terangkat dan terlipat karena menahan sakit.

“Udah Jo, udah…!” seru Ajeng sambil menghampiri mereka berdua. Ia menarik Mario dari Johan dan membantu anak itu untuk berdiri.

Sementara itu, Arie yang berdiri di tempatnya semula tak menampilkan ekspresi apa-apa.

“Kita pulang yuk…” ajak Ajeng.

Johan tanpa berkata-kata lagi langsung melangkah menghampiri motornya. Tapi langkahnya dihentikan oleh seruan Fred. Anak itu berlari mendekatinya.

“Ya?”

“Sorry, Bang. Gue tadi cuma nemenin teman doang…”

“Masih ingat sama sumpah karate?”

“Iya…”

“Jangan cuma sekedar diingat, tapi dimaknai. Pulang!”

“Ya, Bang…” Fred melangkah dengan kepala masih menunduk.

“Siapa dia, Jo? Kok tunduk banget sama elu?” tanya Ajeng yang berjalan memapah Mario.

“Murid.”

“Murid karate elu?”

“Iya dulu.”

“Ayah itu karateka ya, Mbak?” tanya Mario seraya meringis pelan.

“Iya. Sabuk hitam dia.”

“Kok Mbak nggak kasih tahu gue sih? Kalo gue tahu dia jago karate, gak bakal gue ladenin tadi…” keluh Mario.

“Hihihi. Elu gak nanya sih…”

“Mana gue tahu. Gue pikir dia nggak jago berantem…”

“Seorang karateka sejati, nggak bakal gampang terpancing emosi. Mereka pandai menguasai emosi. Karate kan hanya boleh digunakan dalam keadaan terdesak…” terang Ajeng.

“Pantesan pukulannya sakit banget. Tadi pas gue berantem sama Mardi nggak gini-gini amat…” desis Mario seraya mengusap rahangnya.

“Jeng, bawa motornya Mario ya…” kata Johan.

“Oke!”

“Gue kuat kok,” kata Mario.

“Udah, turuti aja! Sini kuncinya…” kata Ajeng. Mario mengambil kunci motor di saku celana dan memberikannya ke Ajeng.

“Gue bareng sama elu ya, Mo…” kata Mario ke Arie.

“Oke.”

“Bareng Kakak aja!” timpal Johan.

“Iya…” desis Mario pelan.

“Rie, langsung pulang!”

“Ya, Kak,” sahut Arie.

“Nggak usah cerita ke siapa-siapa soal kejadian ini,” pesan Johan.

Arie mengangguk.

Mereka pun pulang meninggalkan lapangan kering berumput diiringi sinar Mentari sore yang mulai beranjak turun…

***

Di rumah.

Sesampainya di rumah, Ajeng menyuruh Mario langsung mandi. Setelah itu ia menyambangi Johan yang tengah menonton TV.

“Udaaahhh, wajahnya nggak usah tegang gitu kaleee…” Ajeng menyikut lengan Johan.

“Untung kita cepat tahu tadi tempatnya. Kalo nggak mau sampai kapan mereka berantem?”

“Ya udah, syukurilah,” balas Ajeng singkat.

“Mana tuh anak?”

“Gue suruh mandi.”

“Huhhh, ada apa sih sama dia…” gerutu Johan sambil geleng-geleng kepala.

“Dia sayang sama elu. Harusnya elu terharu dong dia berantem belain elu. Ini kok elu malah mukul dia…” Ajeng cemberut.

Johan bergeming.

“Tadi lucu banget deh. Dia belum tahu ya kalo elu jago karate?”

“Aku nggak pernah ngomong soal itu ke dia.”

“Hihihi, dia bilang [i]’Kok Mbak nggak kasih tahu sih kalo Ayah jago karate? Kalo gue tahukan nggak bakal gue ladenin…'[/i], hahaha…”

“Terus kamu jawab apa?”

“Elu gak nanya, gue jawab gitu.”

Johan tersenyum simpul.

“Nah, gimana tuh? Apa masih kurang buat elu, eh? Ayolah, Jooo… Pliiissss…” Ajeng menyatukan dua belah telapak tangannya di depan dada ke arah Johan.

“Apaan sih…”

“Ayolah jujur sama kata hati elu…”

“Aku gak pernah mengkhianati hati aku…”

“Terus? Elu butuh apa lagi???”

“Udah ah, pulang sono! Udah sore nih,” kilah Johan.

“Ugh! Selalu gitu!!! Ingat waktu terus berlalu, lhoooo….” Ajeng bangkit dari duduknya.

“Emang begitu keadaannya…”

“Ya udah deh! Gue pulang! Jangan lupa Mario ntar diobati.”

Johan tak merespon.

“Hey, gue pulang!”

“Iya, ah!”

“Cam-kan kata-kata gue tadi!”

“Bodoh.”

***

Selesai mandi Mario mengambil obat merah di kotak P3K. Ia mengobati lukanya di teras. Johan yang melihat Mario berlalu melintasi ruang tengah tak berkomentar apa-apa. Ia tetap memperhatikan layar TV. Tapi barulah beberapa saat kemudian ia bergerak menuju dapur.

Sementara itu Mario tengah mengolesi luka lecet pada sekitaran sikunya akibat bergesekan dengan tanah saat berkelahi tadi. Kemudian datang Johan sambil membawa baskom kecil berisi ice cube.

“Sini dikompres memarnya,” kata Johan.

Mario memutar posisinya menghadap Johan. Johanpun langsung menempelkan es batu ke rahang Mario.

Mereka berdua tak mengeluarkan suara sepatah katapun sampai Johan selesai mengompres luka memar di tubuh Mario. Setelah itu Johan langsung masuk dan menunaikan salat Ashar. Selesai salat ada SMS masuk dari Ajeng yang menanyakan apakah luka Mario sudah diobati atau belum.

***

Malam harinya selesai makan malam, Mario langsung mengurung diri di kamar. Sementara itu Johan asyik ber-SMS ria dengan Ajeng seraya menyaksikan acara OVJ.

Tapi setelah acara OVJ selesai, Johan berhenti menonton TV dan masuk ke kamar Mario. Anak itu berbaring menghadap tembok sambil memeluk bantal guling.

“Yo, udah tidur?” tegur Johan.

“Belum…”

“Kenapa?”

“Belum aja,” Mario berbaring menghadap Johan.

“Memarnya masih sakit?”

“Lumayan.”

“Perut kamu gimana? Sakit nggak?”

“Ya.”

Johan mengelus perut Mario. “Satu-dua hari ke depan sakitnya hilang kok…”

Mario diam saja.

“Besok kamu sekolah nggak?” tanya Johan sambil ikutan berbaring di samping Mario.

“Sekolah…”

“Luka kamu? Rahang, bibir masih memar…”

Mario lagi-lagi diam saja. Ia menyentuh rahangnya lagi.

“Besok kalo nggak mau sekolah dulu nggak apa-apa,” kata Johan.

Mario masih bergeming.

“Besok Ayah kirim surat izinnya…” sambung Johan.

“…”

“Sekarang istirahat aja,” kata Johan sambil meraih lengan Mario. Ia lantas memijitinya.

Mario membiarkan Johan memijat lengannya. Ia memejamkan mata, tapi kemudian membukanya kembali.

“Ayah jago karate ya kata Mbak Ajeng?”

“Biasa aja.”

“Belajar sama siapa?”

“Sama Uwak, Kakaknya Mama. Beliau guru karate.”

“Ooohhh… Udah sampai sabuk apa?”

“Hitam.”

“Waow! Ajarin dong…”

“Karate bukan untuk jago-jagoan. Cuma diperlukan kalo terdesak dan membela diri.”

“…”

“Tadi kalian berantemnya udah berapa lama?”

“Nggak tahu, nggak hidupin stopwatch juga…”

“Kalo berantem mah nggak usah lama-lama.”

“Siapa juga yang mo lama. Kalo bisa sih pengen sekali tonjok orangnya langsung KO.”

“Makanya harus tahu titik-titik kelemahan seseorang…”

“Perut, selangkangan…”

“Yup. Kebanyakan orang suka langsung menyarangkan pukulan ke wajah. Sebenarnya sih itu nggak bakal berpengaruh banyak. Soalnya, pukulan di wajah nggak seberapa dan tidak akan mempengaruhi kekuatan lawan,” terang Johan.

“Kalo gue sih suka ke perut atau rusuk.”

“Ya, dua-duanya titik kelemahan lawan. Kalo pukulannya keras di perut, lawan bisa muntah. Sementara kalo di rusuk, maka rasa sakitnya bakal kerasa di seluruh badan…”

“Berarti arah pukulan gue itu udah tepat dong ya? Gue paling suka menyerang bagian-bagian itu… Dan biasanya setelah diserang, lawan bakal kehilangan fokus sejenak…”

“Ya. Titik-titik kelemahan manusia itu ada di telinga, sebab telinga adalah pusat keseimbangan manusia. Makanya dalam tinju, gak boleh mukul telinga. Terus jakun, hidung, tengkuk tepatnya di bawah leher itu. Seringkan lihat di film-film pencuri memukul tengkuk korban sampai pingsan? Selain itu yaah, perut, kemaluan, rusuk, mata… Serang aja bertubi-tubi titik-titik tersebut, dijamin lawan sulit berkutik.”

“Sip, sip. Jadi kalo gue mo berantem la…”

“EHM!”

Mario nyengir.

“Udah tidur. Tadi itu just info aja. Satu, dua, tiga…! Setelah hitungan ketiga anda akan melupakan apa yang sudah anda dengar! Tidur!” Johan menjentikkan jarinya di depan wajah Mario.

“Wah ada Rommy Rafi’i…”

Johan tersenyum simpul.

“Istirahat gih,” pungkas Johan sambil bangun. Ia bermaksud ke kamarnya.

“Yah…”

“He?”

“Tidur di sini aja,” pinta Mario.

“Kenapa?”

“Gak apa-apa. Di sini aja…”

“Iya deh,” Johan kembali berbaring di samping Mario.

***

Keesokan harinya…

“Yo, Ayah ke kampus ya???”

Mario membuka matanya perlahan.

“Jumat kan? Ayah masih kuliah?” tanya Mario sambil menggeser tubuhnya pelan ke arah tembok. Meskipun pelan badannya masih terasa sakit akibat berantem kemarin.

“Ada urusan bentar. Lagian Ayah mo mampir ke sekolah kamu juga nganterin surat. Kamu buruan bangun, terus sarapan…!” terang Johan sambil keluar kamar.

“Iya…” balas Mario sambil meraih handphone di dekat lamput tidur.

Ada tiga buah pesan WA yang masuk.

[b]04-04-2013

Arie: Gmn keadaan elu, mo? (21.06)
Arie: baik aja kan? (21.10)
Arie: krik… (22.12)[/b]

Mario pun langsung membalas:

[b]Mario: sorry, mo. Gue baek2 aja. Tp hr ini gue gak masuk.[/b]

Siang harinya, Ajeng yang datang menemui Mario.

“Gimana keadaan elu, Dek?” tanya Ajeng.

“Baik kok.”

“Kata Jo hari ini elu gak sekolah?”

“Iya.”

“Oh ya, Jo-nya mana?”

“Pergi sebentar.”

“Kemana?”

“Ke rumah teman katanya.”

“Gimana semalam? Elu kena marah ya sama dia?”

“Nggak.”

“Nggak?”

“Ya, enggak.”

“Good news dong. Kirain tuh orang bakal ceramah lagi panjang lebar kek biasanya…”

Mario ketawa lirih.

“Elu tahu nggak, kemarin itu dia khawatir banget sama elu. Jangan suka buat masalah dong…”

Mario tersenyum simpul.

“Untung si Mardi itu kirim SMS ke Jo. Kalo nggak, kita nggak tahu kalian berantem…”

“SMS?”

“Iya. Pas kita lagi di Pondok Rumbio, Jo dapat SMS dari dia,” terang Ajeng. Ia pun menjelaskan bagaimana ia dan Johan bisa mengetahui Mario sedang terlibat perkelahian.

***

*04 April 2013 Pukul 14.16 di Pondok Rumbio*

Sebuah SMS masuk. Johan langsung membuka dan membaca. Setelah itu ia abaikan.

[b]Dari: +6282180039***
Date: 04/04/2013
Time: 14.16

woy bencong! Mana elu?![/b]

“Peneror lagi…” desis Johan ke Ajeng.

“Oh ya?”

“Heeh.”

“Apa katanya?”

“Nanya aku di mana.”

“Ya udah, nggak usah diladenin.”

Mereka berdua kembali ngobrol.

Beberapa menit kemudian…

[b]Dari: +6282180039***
Date: 04/04/2013
Time: 14.20

gue tunggu lima menit[/b]

Johan mengernyitkan keningnya.

“Dia lagi ya?” tanya Ajeng sambil menyeruput jus-nya.

“Iya nih. Gue tunggu lima menit, maksudnya apaan ya??”

“Dia mo ketemu elu kali…”

“Sebelumnya dia nggak pernah bilang… Ah, bodoh ah…” gumam Johan sambil mengetik SMS balasan.

[b]Ke: +6282180039***
Date: 04/04/2013
Time: 14.21

udahlah bro. Aku minta maaf kalo punya salah. Berenti neror, mari ngomong baik2.

Dari: +6282180039***
Date: 04/04/2013
Time: 14.22

adik elu udah janji sm gue hari ini duel[/b]

“Eh? Dia bilang adikku janjian duel sama dia?? Haha… Ngaco nih anak…!”

[b]Ke: +6282180039***
Date: 04/04/2013
Time: 14.22

adik? Maaf, Anda salah orang bung!

Dari: +6282180039***
Date: 04/04/2013
Time: 14.22

adik elu si Johan. Apanya yang salah sambung![/b]

“Uhmmm… Maksudnya adik…”

Ajeng merebut handphone dari tangan Johan.

“Maksudnya elu punya adik gitu? Tapi… Eh, adik elu si Johan… Elu itu yang jadi adiknya…!”

“Terus aku siapa dong?”

“Elu Kakaknya si Johan… Eh? Benar gak sih???”

Johan geleng kepala sambil tersenyum.

“Udah elu bales aja, gue Johan. Elu mo apa???”

“Uhmmm, aneh nih. Selama ini dia tahu ini nomer aku. Kok sekarang dia bilang ini nomer Kakakku?”

“Aaahhh, gini aja, Jo, gue punya ide. Elu pura-pura aja jadi Kakaknya elu. Terus elu tanya maksud tuh orang apa???”

Johan mengangguk-angguk.

[b]Ke: +6282180039***
Date: 04/04/2013
Time: 14.23

Kamu siapa? adikku punya masalah apa sama kamu??

Dari: +6282180039***
Date: 04/04/2013
Time: 14.23

tanya sendiri ke adik elu! Yg jelas gue tantangin dia duel sekarang. Mana dia?! Semalm Janjinya kita ketemu jam 2.[/b]

“Semalam dia sama ‘Johan’ janjian mo duel jam dua…” terang Johan ke Ajeng.

“Semalam?”

“Siapa ya? Ini orang mengada-ada deh…”

“Coba elu minta nomer yang janjian sama dia itu. Ada nggak?”

[b]Ke: +6282180039***
Date: 04/04/2013
Time: 14.24

oke. Aku dah hubungi dia. Nomernya nggak aktif. Smalam dia hubungi kamu pake nomer apa? Biar aku suruh dia langsung ksana.[/b]

Si peneror mengirimkan dua belas digit angka ke Johan. Johan langsung mengecek pemilik nomer itu dengan cara memanggilnya. Saat itulah keluar nama Mario di layar handphonenya.

Ia langsung menggertakkan gigi geram.

“Siapa Jo?”

“Mario.”

“Mario? Kok dia bisa…”

“Pantesan semalam nggak muncul tulisan message received di layar ponsel aku. Padahal seingatku pesan-pesan itu belum dibuka. Tuh anak ternyata…” desis Johan geram.

“Jadi yang ngajakin berantem itu Mario?”

“Iya.”

“Kapan? Di mana???”

“Nggak tahu.”

“Elu SMS lagi gih. Di mana. Biar kita bisa susul. Ayo!”

“Nih, tanya aja sendiri,” Johan menyerahkan handphone ke Ajeng.

[b]Ke: +6282180039***
Date: 04/04/2013
Time: 14.24

ketemuannya dimn?

Ke: Mario
Date: 04/04/2013
Time: 14.24

Yo, kamu dimana?[/b]

Selesai mengirim dua buah SMS tersebut, Ajeng menyerahkan handphone kembali ke Johan.

[b]Dari: Mario
Date: 04/04/2013
Time: 14.24

msh di skolah. Np yah?

Dari: +6282180039***
Date: 04/04/2013
Time: 14.25

blakang STM. Gue udh stand by dsna[/b]

“Lagi di mana dia?” tanya Ajeng lalu menyeruput jus Mangganya.

“Katanya sih masih di sekolah.”

“Pukul berapa sih sekarang?”

“Setengah tiga kurang sedikit.”

“Nggak mungkin dong dia masih nangkring di sekolah? Apa dia les tambahan?”

“Udah kelar les-nya. Ada sosialisi penerimaan SNMPTN katanya…”

“Bener nggak tuh? Siapa tahu dia boong. Dia lagi otw ke sana…”

“Ya. Aku dah tanya ke salah satu guru di sana.”
“Ya udah kalo gitu. Bentar lagi kalo gitu dia pulang,” kata Ajeng.

“Iya.”

“Nggak usah terlalu dipikirin kali. Sweet banget sih… Emang good Daddy deh…!” goda Ajeng sambil memutar bola matanya.

“Bukan gitu. Tuh anakkan suka bertindak nggak dipikirin dulu…”

“Buktinya dia nggak ngapa-ngapain…”

“Semoga aja,” desis Johan sambil menyeruput jus wortelnya.

“Eh, tapi katanya tadi pulang sekolah dia mo kemana?”

“Sukowati.”

“STM KAN DI SUKOWATI…?!” seru Ajeng seraya melotot.

Mereka berdua berpandangan.

“Berarti dia mo nemuin tuh orang. Buruan elu telepon suruh dia pulang, Jo!”

Johan langsung mengeluarkan handphone-nya.

“Nggak diangkat,” desis Johan.

“Jangan -jangan dia lagi di jalan…”

“Okey! Kita cabut!” Johan langsung bangkit sembari mengeluarkan uang dari saku kemejanya lalu menuju kasir. Setelah itu mereka berdua dengan cepat menuju parkiran.

“Belakang STM itukan luas. Di mananya ya???” tanya Ajeng sambil melompat naik ke belakang Johan.

“Pasti ketemu. Curup ini sempit, apalagi cuma seputaran STM doang,” jawab Johan sembari melarikan motornya dengan kecepatan tinggi.

***

*05/04/2013*

“Oh, jadi gitu. Tuh orang ngirim SMS juga ke Ayah juga ternyata. Pantesan kalian bisa tahu. Awalnya gue bingung kok bisa tahu…” komentar Mario setelah mendengar cerita Ajeng.

“Iya gitu. Untung dia SMS. Kalo nggak, mo sampai kapan kalian berantem…?!” Ajeng melotot.

Mario pura-pura menatap langit.

“Eh, elu tahu nggak sih kalo Jo itu sayang banget sama elu?”

Mario menatap Ajeng. “Oh ya?”

“Iya. Dan itu hal yang langka…”

Mario tersenyum simpul.

“Aarrgghhh…!!!”

Mario terkejut. “Kenapa, Mbak?!”

“Gak apa-apa, hehehe… Huhhhfff… Gue tahu apa yang ada di pikiran elu.”

“Maksudnya?” Mario mengernyitkan dahinya.

“Gunakan kesempatan yang masih tersisa. Apa yang hati elu inginkan, gak akan pernah terwujud kalo elu sendiri nggak berani untuk merealisasikannya…”

Mario terdiam dan berusaha mencerna apa yang baru disampaikan Ajeng.

“Hhhh, keknya Jo masih lama ya baliknya? Gue cabut ya…!”

“Nggak mau tunggu dia dulu?”

“Nggak usah. Ntar gue SMS aja dianya…”

“Ya udah.”

***

Selepas Ajeng pamit pulang, datanglah Arie. Mengenakan celana hitam (celana seragam batik sekolah) dan baju koko. Sepertinya selesai Jumatan ia tak berganti baju terlebih dulu.

“Woy!!! Gimana kabar elu?!” Arie berseru dari atas motornya.

“Elu lihat aja ndiri, Mo!”

“Hahaha…!” Arie tergelak sembari menghampiri Mario di teras.

“Nggak memar-memar banget deh,” kata Arie seraya menelengkan kepalanya sedikit ke arah rahang Mario.

“Emang nggak. Tapi masih nyeri…”

“Terus kenapa elu gak sekolah tadi?”

“Kak Jo bilang absen hari ini gak apa-apa.”

“Kenapa? Eh, gila tuh orang ya mukul elu beneran…”

“Pukulannya sakit banget, Bray…, ternyata dia karateka pemegang sabuk hitam.”

“Oh ya? Keren banget ya Mister Jo. Pinter, keren, jago karate lagi… Eh, cewek yang kemarin itu pacarnya ya?”

“Ya. Mbak Ajeng.”

Arie mengangguk-angguk.

“Oh, iya, gue hampir lupa…” desis Arie seraya bangkit dan menuju motornya.

“Kenapa, Mo?”

“Tas elu…” jawab Arie sambil membuka bagasi motornya.

“Eh, iya… Mana?”

“Nih…!” Arie mengeluarkan sebuah tas dari dalam bagasi.

“Nanya nggak si Gugum?”

“Iya. Tapi gue bilang kita bolos aja. Bosen dengar ocehan para mahasiswa…”

Mario mengangguk-angguk.

“Elu nggak apa-apa kan?” tanya Arie sambil menatap Mario lekat.

“Elu bisa lihat sendiri.”

“Sorry ya, Mo, gue gak bantu kemarin…”

“Kan emang harus sportif…”

“Iya. Tapi… Huffhh…”

“Biasa aja kali! Elu kan emang udah sering ngecewain gue…”

“Eh? Maksud…? Kapaann???”

“Hahaha…! Gue bercanda!”

Arie mangut-mangut.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: