Chapter XII dan Chapter XIII

Siang ini turun hujan panas. Banyak orang mengatakan, jika tiba-tiba turun hujan panas, maka di suatu tempat pasti sedang terjadi peristiwa yang tak mengenakkan. Percaya atau tidak, memang dari sms yang beredar ataupun dari jejaring sosial, baru sekitar dua jam yang lalu terjadi peristiwa tragis, yakni seorang PNS yang bekerja di lingkungan PEMDA mengalami kecelakaan tunggal di jalan Sukowati dan meninggal seketika di tempat. Dan kabarnya lagi, sang korban merupakan alumni SMAN 1 Curup, tempat Mario dan Arie menuntut ilmu sekarang.

Namun, bukan berita itu yang menarik perhatian keduanya saat ini. Saat yang lain sibuk menanyakan kepastian dan informasi kronologis kecelakaan serta identitas si korban, kedua sohib ini malah menatap pelangi yang tiba-tiba saja muncul menghiasi cakrawala.

“Sekarang jarang banget ya Pelangi muncul…” kata Arie.

“Iya, ya? Bahkan kalo gue gak salah ingat, terakhir gue lihat pelangi pas Januari tahun lalu…”

“Gue malahan baru lihat sekarang setelah SMP.”

“Lebay elu ah!”

“Serius! Selama itu lho… Gue baru lihat lagi sekarang. Gue juga kagak tahu saat pelangi muncul, gue lagi dimana… Kok gak pernah lihat???”

“Elu lagi nyabun kali! Hahaha…!”

“Set dah. Eh, kalo kata Nenek gue, pelangi itu titian para Bidadari ya? Mereka lagi turun ke bumi buat mandi…”

“Zaman gini masih aja elu percaya dongeng!” ledek Mario sembari membayangkan tujuh pemuda tampan cuma bercawat doang meluncur turun ke bumi melalui pelangi kek main perosotan.

“Gue kan cuma bilang cerita nenek gue.”

“Cerita nenek dibawa-bawa!”

“Ah, salah mulu deh gue ama elu!”

“Hahaha…!”

“Gue suka sama pelangi.”

“Kenapa?”

“Karena indah,” jawab Arie singkat sembari memotret lengkungan pelangi.

“Menurut elu sih iya. Tapi gue nggak suka sama pelangi.”

“Hah? Baru kali ini gue ketemu dan dengar orang yang nggak suka pelangi. Aneh elu! Kenapa?”

“Gak suka.”

“Iya, kenapaaa???”

Mario terdiam sejenak. Mulutnya terbuka siap untuk menjawab. “Uhm, ada alasannya. Tapi gue gak bisa jelasin. Rumit.”

“Halah!”

“Gak selamanya pelangi itu indah.”

“Pelangi selalu indah.”

“Bagi elu sih iya. Tapi lain menurut gue. Dengar kata pelangi, gue pasti merasa…” Mario menggantung kalimatnya.

“Merasa apa?”

“Merasaaa… Gak senang.”

“Justru pelangi itu bikin gue senang. Nyaman dan dramatis banget tiap liat pelangi.”

“Karena elu beda sama gue.”

“Emang kita bedalah!”

Mario tertawa lirih.

Kalo Pelangi itu bukan simbol LGBT, mungkin bakal lain ceritanya. Gue gak bakal membenci pelangi, desis Mario.

***

Sepulang sekolah, Mario mendapati Johan tengah duduk di teras dengan Handphone di tangan.

“Ckck, yang udah punya pacar, HP gak pernah lepas dari tangan,” goda Mario.

“Orang motret bianglala…”

“Emang tadi di sini pelanginya kelihatan juga?”

“Iya. Bagus banget tadi. Lengkungannya sempurna. Nih…” Johan menunjukkan gambar pelangi yang sekarang dijadikan wallpaper Handphone-nya.

“Ah, semua pelangi juga gitu.”

“Kamu pasti suka bianglala ya?”

“Nggak.”

“Masa? Bukannya pelangi itu simbol…”

“Ya. Justru karena dia simbol gay makanya gue gak suka.”

“Wah, terlepas dia simbol homoseks, pelangi itu juga simbol keindahan lho.”

“Bagi Ayah dan orang lain mungkin iya. Tapi nggak bagi gue.”

“Karena dia simbol gay gitu? Bukannya seharusnya kamu senang ya, simbolnya pelangi. Pelangi melambangkan indahnya perbedaan gitu…”

“Tiap gue lihat pelangi, gue cuma melihat perbedaan aja, tanpa adanya keindahan. Bagi gue, pelangi itu cuma ada satu warna. Abu-abu.”

Johan mengerutkan keningnya.

“Iya. Pelangi itu selalu bikin gue ingat sama keadaan gue yang beda. Karena gue beda, gue jadi sulit mendapatkan apa yang gue mau. Gue gak bisa menyatakan cinta ke orang yang gue cintai, gue gak bisa mengungkapkan cinta ke orang yang gue suka, gue cuma bisa memendam perasaan gue setiap saat… Menyedihkan bukan? Kalo orang-orang selalu berusaha menumbuhkan cinta di hati mereka, gue justru terus berupaya mengerdilkan perasaan itu di hati gue… Karena perbedaan itu. Jadi simbol gay itu gak berlaku buat gue, kecuali kalo warnanya cuma satu, grey…”

“Kebahagiaan itu lahir dan tumbuh dari diri sendiri dan untuk diri kita sendiri. Cuma diri kita sendiri yang bisa menciptakan kebahagiaan. Kamu masih belum bisa menerima keadaan kamu sendiri, jadi bagaimana kamu bisa meyakinkan orang lain untuk menerima kamu? Cinta nggak usah terlalu dipikirin deh. Ntar kalo udah kelar UN pergi gih cari gebetan sebanyak-banyaknya. Atau mau Ayah yang cariin? Biar pelanginya nggak cuma warna grey doang…”

“Errgghh… Tapi cariin yang kayak—”

“Ya, ya, kayak Arie!” potong Johan.

“Bukaaaannn!”

“Terus?”

“Kayak Ayah!” jawab Mario sembari ngeloyor pergi.

“Eh?”

***

[b]Chapter XIII[/b]

*15 April 2013*

Hari ini merupakan salah satu hari yang paling mendebarkan bagi seluruh siswa kelas tiga Sekolah Menengah Atas dan sederajat, sebab hari ini adalah hari UN pertama bagi mereka.

Johan yang terbangun setelah mendengar seruan untuk melaksanakan salat Subuh berkumandang, langsung membangunkan Mario yang tidur nyenyak di sebelahnya.

“Yo…, bangun…”

Mario tak bergeming.

“Yooo… Sholat yuk?”

Mario bergerak sedikit.

“Sayang, ayo sholat terus berdoa supaya UN-nya diberi kemudahan dan kelancaran.”

Mario membuka matanya yang terasa berat.

“Huaaammm…”

“Ayo.”

“Ngantuk Yah…”

“Buruaaannn…!”

Mario bangun dengan malas. Ia mengikuti langkah Johan menuju kamar mandi. Mereka wudhu secara bergantian kemudian menunaikan salat Subuh berjamaah. Selesai sholat mereka berdua berdoa dalam hati masing-masing.

“Peralatan UN udah disiapin semua belum?” tanya Johan selesai sholat.

“Sudah,” jawab Mario yang kembali berbaring di atas sajadah.

“Mapel apa yang di-UN-kan hari ini?”

“BI.”

“Terus?”

“Cuma itu doang.”

“Sip. Ingat aja gimana yang udah guru dan Ayah kasih tahu ke kamu. Jenis soalnya gak bakal jauh-jauh dari apa yang udah kamu pelajari…”

“Iya, semoga, amiiinnn…”

Johan mendekat dan menindih Mario. Ia memeluk dan mencium pipinya.

Mario memejamkan matanya.

“Hey, jangan tidur lagi!”

Mario nyengir.

“Ayah mo masak dulu buat sarapan…” Johan bangkit.

“Entar aja, Yah…” cegah Mario sambil memeluk pinggang Johan.

“Udah mau pukul enam nih… Kamu masuknya jam berapa?”

“Setengah delapan.”

“Kamu bangun juga. Olahraga kek biar segar, belajar lagi kek, atau apalah.”

“Yo mo bantuin Ayah aja…”

“Okey, Yuk!”

Johan berdiri dan melangkah ke dapur. Sementara Mario melipat sajadah dan sarungnya terlebih dulu. Setelah itu ia setengah berlari menyusul Johan dan melompat naik ke atas punggung Johan.

“Eh! Apa-apaan??? Turun!”

“Ogah,” kata Mario sambil menempelkan dagunya di pundak Johan.

“Gak suka punya pacar manja ah…”

“Sekali-kali sih nggak apa-apa.”

“Udah gede juga. Masa main gendong-gendongan…”

“Banyak tuh di film-film…”

“Inikan bukan film…”

“Biasa aja anak gendong sama Ayahnya.”

“Tapi anaknya udah nggak segede Gaban gini…”

“Kan anak merangkap BF…”

Johan misuh-misuh.

Mario mencium pipi Johan. “Cuma nyampe dapur aja kok. Emangnya Yo minta digendong ampe sekolahan apa…”

“Kalo sampai sekolahan mah kamu naik ojeg aja!”

“Hehehe… Ntar Ayah cemburu lagi.”

“Sama siapa? Tukang ojeg?”

“Iya.”

“Kalo tukang ojegnya Jorge Lorenzo sih mungkin…”

“Kalo Rio Haryanto?”

“Paling Ayah pacarin…”

Mario menggigit daun telinga Johan.

“Ish!” desis Johan sembari menurunkan Mario di dapur.

Mereka berdua pun mulai membuat menu sarapan. Dan kali ini suasana memasaknya berbeda dari biasanya. Diselingi ciuman dan pelukan hangat dari keduanya, selayaknya pasangan yang lagi kasmaran.

***

Lima belas menit lagi sebelum UN dilaksanakan, Mario sudah siap-siap berangkat ke sekolah. Ia sekarang tinggal menunggu Johan yang tengah berganti pakaian. Ayahnya itu akan mengantarnya ke sekolah hari ini sebelum pergi ke kampus.

“Berangkat kita?” tanya Johan yang muncul dari kamar.

“Ayah keren. Bikin nafsu,” komentar Mario melihat tampilan Johan.

“Eit!”

Mario terkekeh.

“Ayo berangkat!”

“Nyok!”

Mereka berdua meluncur ke sekolahan Mario yang terletak di kawasan Dwi Tunggal. Kawasan yang lebih sering disebut 21 (dua satu) oleh anak muda. Tempat tiga buah bangunan sekolah favorit berdiri.

Johan mengantar Mario sampai ke gerbang sekolah. Mario pun turun dan mencium tangan Johan.

“Ingat, kerjain soal-soalnya dengan tenang, gunakan waktu seefektif mungkin, baca soalnya baik-baik, jangan lupa doa yah?” pesan Johan.

“Oke sip, Yah!”

“Okey! Good luck, Sayang,” Johan mengedipkan sebelah matanya.

Mario mengacungkan jempolnya dan berjalan melintasi gerbang sekolah sembari bersiul kecil. Sementara Johan berlalu menuju kampusnya.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: