Chapter XIa

*14 Maret 2013*

Johan mendapat telepon dari sang Mama. Beliau memberitahu bahwa salah satu sepupu Johan akan mengadakan lamaran Minggu ini, tepatnya tanggal 17 Maret. Johan diminta datang. Karena acara lamarannya hari Minggu, maka Johanpun langsung mengiyakan.

“Kamu kesininya kapan?” tanya sang Mama.

“Paling cepat hari Sabtu sih, Ma.”

“Sabtu? Kenapa nggak besok aja gitu?”

“Aku kan kuliah, Ma. Lagian buat apa cepat-cepat kesana?”

“Pake nanya…?! Temu kangen sama keluarga dong…!” nada bicara Mamanya terdengar sewot.

“Huuhhh… Minggukan bisa.”

“Kamu tuh ya, dibilangin sombong sama keluarga besar di sini. Liburan hampir tiga bulanan, tapi kamu nggak jadi liburan ke sini!”

“Hehehe…” Johan terkekeh.

“Belum kawin aja udah jaga jarak sama orang tua…”

“Hm, hm, mulai deh…”

“Emang iya…!”

“Kan udah dibilang cuacanya jelek, Ma…”

“Emang kesininya jalan kaki, eh?” kejar sang Mama.

“Hehehe…”

“Ya udah! Jadi kamu pulang hari Sabtu ya? Jangan lupa beliin Papamu keripik Belut. Terus Manisan Terong. Eh, satu lagi, harga cabe di sana sekilo berapa ya?”

“Nggak tahu.”

“Mahal nggak? Di sini sekilonya 45 ribu, Jo. Haduuhhh… Di sini semua harga sayur mayur mahal semuaaaa…”

“Hehehe. Tapi di sana ikan laut murah.”

“Iya dong. Kan dekat sama pantai? Kalo masih mahal juga kebangetan…!”

“Ya udah deh, besok Jo tanya harga cabenya berapa.”

“Kalo lebih murah, beli dua kilo ya? Eh, tiga kilo aja! Pasti tetangga dan keluarga di sini pada pengen minta juga.”

“Ya, ya. Tiga kilo ya.”

“Sayuran juga. Apa sayuran yang lagi banjir di sana?”

“Nggak tahu. Standar ajalah. Buncis, Kubis…”

“Buncis boleh…”

“Itu aja ya. Sip.”

“Yang lain apa ya? Eh, ntar kamu kesulitan bawanya, Jo?”

“Nah, itu dia pertanyaan yang dari tadi Jo tunggu-tunggu. Kesulitan banget, Ma.”

“Huh! Kamu tuh ya? Sekali-kali pulang…”

Johan terkekeh.

“Ya udahlah, segitu aja. Hati-hati ya perginya.”

“Iya, Ma.”

“Jangan lupa beliin keripik Belut-nya, Manisan Terongnya—”

“Iya, iya. Udah Jo catet nih di notes.”

“Ya, ya. Udah dulu ya.”

“Ya, Ma. Salam buat Papa, Kak Reno sama semua yang ada disana.”

“Ya, ya. Asalamualaikum…”

“Walaikumsalam…” balas Johan lalu menghela napas. Dasar Ibu-ibu, desisnya.

Akhirnya sehari sebelum berangkat, setelah Mario pulang sekolah, mereka berdua langsung pergi belanja ke pasar. Mereka belanja pesanan sang Mama dan oleh-oleh lainnya.

“Ayah disana berapa lama?” tanya Mario.

“Senin Ayah pulang kok. Seninkan mesti kuliah.”

Mario mengangguk-angguk.

“Kalo pulang bawa oleh-oleh ya.”

“Oleh-oleh apaan? Ayah nggak bakal jalan-jalan di sana.”

“Apa aja. Makanan kek…”

Johan tak merespon omongan Mario barusan.

Selain membeli belanjaan yang akan dibawa besok, Johan juga membeli keperluan dapur untuk mereka berdua. Saat Mario tahu yang sudah dan sedang mereka beli itu bukan untuk dibawa juga, ia langsung protes.

“Nggak usahlah, Yah. Mubazir ntar…”

“Mubazir apanya?”

“Gue gak bakal masak selagi Ayah nggak ada,” terang Mario lalu nyengir.

“Terus?”

“Beli aja, hehehe…”

“Justru itu.”

“Justru itu apa?”

“Cepat, cepat. Nggak ada yang mo dibeli lagikan? Kita pulang. Udah sore nih,” ajak Johan tanpa memperdulikan pertanyaan Mario.

“Kacang goreng, kacang goreng…” gerutu Mario sambil mengikuti Johan ke parkiran.

***

*15 Maret 2013*

Malam harinya…

Selesai belajar, Mario bergabung dengan Johan yang sedang menyaksikan Gala Live Show X-Factor.

“Siapa yang keluar, Yah?” tanya Mario.

“Masih lama. Yang tampil baru tiga kontestan.”

“Huhhh, jadwal acaranya kemaleman. Masa sampai dini hari sih… Kesian yang mau sekolah besok…”

“Hehehe. Di provinsi kita aja kali ya sekolahnya sampai Sabtu. Di Jakarta sono cuma sampai Jumat. Besok mereka berakhir pekan…”

“Iya. Kok kita beda yah?”

“Nggak tahu…”

“Kira-kira siapa ya yang keluar?”

“Belum tahu. Mereka belum tampil semua.”

“Kira-kira aja menurut Ayah?”

“Gak objektif dong kalo nilai sekarang,” kilah Johan.”

Mario mangut-mangut.

“Di forum pada heboh sama Mikha dan Nu Dimension,” terang Mario.

“Karena cakep?”

“Heeh.”

“Kamu juga heboh?”

“Nggak. Kalo kontestannya mirip Arie atau Ayah baru gue heboh…”

Johan mencebikkan bibirnya.

Mario nyengir.

Mereka kemudian melanjutkan menonton. Sesekali baik Johan ataupun Mario berkomentar tentang penilaian juri, penampilan kontestan, suara berisik penonton di studio hingga iklan yang ditayangkan di sela-sela [i]commerical break[/i].

Namun malam itu mereka tidak menonton acaranya hingga tuntas. Saat Ilusia Girls sedang membawakan lagu [i](Everything I Do) I Do It For You[/i] dari Bryan Adams, Mario yang sudah nguap berkali-kali memutuskan untuk masuk ke kamar. Tidak lama setelah Mario pergi, Johan pun mematikan TV dan menuju ke kamar Mario.

“Sudah tidur, Yo?” tegur Johan. Saat itu kamar Mario hanya diterangi lampu tidur yang redup.

“Belum. Kenapa, Yah?” Mario mengangkat kepalanya sedikit.

Johan yang sedari tadi berdiri di ambang pintu langsung masuk dan tiduran di samping Mario.

“Ada apa?” tanya Mario penasaran.

“Gak apa-apa. Buruan tidur. Besok telat.”

“Ini juga mau tidur,” kata Mario kesal.

“Besok Ayah perginya pagi-pagi.”

“Pukul berapa?”

“Travelnya jemput pukul enam-an.”

“Ayah pake travel? Kenapa nggak pake motor aja?”

“Males, capek.”

“Ooh, gitu.”

“Besok bangunin Ayah lebih pagi, ya?”

“Pasang aja alarm.”

“Setel gih di ponsel kamu. Ponsel Ayah di kamar.”

“Mau pukul berapa bangunnya?”

“Empat.”

“Empat?”

“Ya, Empat. Eh, kepagian. Pukul setengah lima aja.”

“Oke. Udah.”

“Good. Sekarang Mari tidur!” Johan menarik selimut yang dipakai Mario untuk membungkus tubuhnya.

“Eh!” protes Mario. Ia merampas selimut itu lagi.

“Bagi dikit napa?”

“Ambil aja selimut Ayah.”

“Malas.”

“Ya udah, nggak usah pake selimut.”

“Ayolah…,” Johan menarik selimut pelan-pelan. Ia kemudian membungkus kaki sampai ke dadanya dengan selimut.

“Kalo ceramahin orang pinter banget dah. Coba kalo dia sendiri…” omel Mario.

“Eh, gak boleh gitu sama Ayah sendiri… Ntar kualat.”

“Emang pinter banget ngelesnya. Apa-apa pasti karena Ayah, Ayah, Ayah.”

“Siapa yang menasbihkan panggilan itu???”

“Bukan untuk disalahgunakan juga kali…”

“Udah, udah. Tidur, tidur, tidur!” pungkas Johan. Ia membentangkan selimut yang membungkus tubuhnya dan Mario sama rata.

“Adilkan?”

Mario tak berkomentar lagi.

“Kalo masih dingin juga, come to Ayah,” ujar Johan lagi sembari melingkarkan lengannya ke pinggang Mario tanpa sungkan.

Dada Mario meletup tiba-tiba. “Ini orang bisa bikin gue khilaf deh,” desisnya dalam hati dengan nada frustasi.

***

Johan terbangun oleh deringan alarm dari handphone Mario. Ia mengucek-kucek matanya yang masih terasa berat. Ia langsung mematikan alarm yang masih menjerit. Sebelum turun dari ranjang, ia menoleh ke arah Mario yang masih terlelap. Johan membetulkan selimutnya yang sudah merosot ke bawah. Setelah itu langsung ke kamar mandi, mengambil wudhu, menunaikan salat Subuh dan “bergelut” di dapur.

Sementara itu, sebelum hari terang benar, Mario bangun dari lelapnya. Saat ia membuka mata, Johan sudah tak ada lagi di sampingnya. Mario menghela nafas sambil mengusap permukaan ranjang tempat Johan semalam berbaring. Dingin. Ia beringsut mencium bantal yang Johan gunakan lalu menghirup dalam-dalam aroma rambut Johan yang wangi.

Huufffhhh. Cuma segini yang bisa gue dapatkan, desisnya dalam hati. Entah berapa lama ia berlaku seperti itu. Memejamkan mata sambil menikmati aroma tubuh Johan yang masih tertinggal.

Tiba-tiba pintu kamar dibuka. Mario membuka matanya. Johan berdiri di samping tempat tidur dengan aroma tubuh yang segar dan wangi. Sepertinya ia baru saja selesai mandi.

“Buruan bangun,” kata Johan.

“Iya, Yah. Ayah udah mo berangkat?”

“Udah siap. Tinggal nunggu jemputan aja lagi.”

“Ooohhh…”

“Ayo buruan mandi gih…”

“Entar aja.”

“Ayah mo sarapan nih.”

“Sarapan duluan aja.”

“Oke,” Johan berjalan keluar kamar.

Sepeninggalan Johan, Mario kembali merapatkan selimutnya dan mencoba kembali untuk tidur. Tapi ia sudah sepenuhnya terjaga. Matanya enggan untuk terpejam. Akhirnya ia bangun, menyambar handphonenya dan berjalan ke meja makan.

Di ruang makan, Johan sedang menikmati sarapannya. Mario langsung duduk di depannya sembari memperhatikan menu yang tersaji di atas meja makan.

“Busyet! Ayah masak sebanyak ini?”

“Ya. Ini menu buat kamu. Ayah udah buatin kamu sambal Orek, sambal ikan sama gulainya tuh. Jadi sepeninggalan Ayah kamu nggak usah beli lagi.”

Mario mangut-mangut sambil membuka menu yang dibuat Johan satu persatu. Ia bingung mau ngomong apa. Johan membuatkan semua menu ini untuknya? Perhatian sekali dia.

“Oh, iya, di kulkas ada Nutrijell. Tapi belum dingin sih…”

“Oh, jadi Ayah beli sayuran kemaren buat gue yah?”

“Heem…”

“Sebenarnya Ayah gak perlu repot-repot sih. Gue kan bisa pulang ke rumah buat makan…” kata Mario seraya meraup segenggam Orek dari toples.

Johan berhenti sebentar mengunyah makanannya.

“Kenapa?”

“Iya juga ya? Kenapa aku nggak kepikiran? Kamu kan bisa pulang buat makan…”

Mario terkekeh.

“Kan aku nggak perlu repot-repot masak…” sambung Johan lalu kembali menyendokkan nasi ke mulutnya.

“Hiihihi… Tapi thanks lho, Yah. Ini baru namanya Ayah yang hebat…!” Mario mengacungkan jempolnya.

Johan hanya diam namun memasang tampang cool-nya.

Mario tersenyum lalu menghela nafas. “Kalo dia perhatian terus kek begini, gimana gue bisa move on…” gerutunya.

***

Mario memasuki kelas sembari bersiul kecil. Di bangku deretan depan ia disambut sama segerombolan teman-temannya yang tengah membicarakan X-Factor semalam.

“Siapa yang out?” tanya Mario sembari menaruh tas-nya ke atas meja.

“Illusia Girls,” jawab Dira.

“Emang cocok mereka keluar. Dari awal suara mereka nggak nyampur,” celetuk salah satu dari mereka.

“Ih, jelekan Gede Bagus!” bantah yang lain.

“Terserah deh mau siapa aja yang out. Asal jangan Nudi, hihihi…” timpal yang lainnya lagi.

“Mikha dooongg…” kali ini Kenanga yang nimbrung.

“Ya. Mikhaaaa… Cucok banget deh. Masih brondong, tapi udah kuliah… Pengen deh punya pacar kayak dia, hihihi…” Erli menambahkan.

“Cakepan gue!” teriak Mario sambil lewat.

“Pasti doonnggg…” balas Kenanga.

“Ada apa di dalam?” tanya Arie yang baru saja mau masuk ke kelas.

“Ngerumpi.”

“Kok elu gak ikutan?”

“Karena elu sebagai ketua rumpi belum datang,” balas Mario.

“Hahaha. Sok atuh kita ngarumpi…”

“Sok lah.”

“Gue baru buka FB, gue baca status Mister Jo, dia tulis Bye Curup. Dia kemana?”

“Ayah ke Bengkulu.”

“Ayah?”

“Iya, Ayah. Dia pulang ke Bengkulu.”

“Ayah siapa?”

“Ayah Jo lah.”

“Ayah Jo…?” desis Arie kebingungan.

Mario yang melihat kebingungan Arie akan kata-katanya barusan, langsung sadar dengan apa yang barusan ia katakan. Ia pun buru-buru meluruskan.

“Uhm, maksud gueee, Ayahnya Kak Jo telepon, minta Kak Jo pulang sebentar ke Bengkulu. Soalnya sepupunya mau lamaran…”

“Oooh. Elu sih Ayah Jo, Ayah Jo. Bikin orang bingung aja deh. Ambigu banget antara Ayahnya si Kak Jo atau elu sekarang manggil Mister Jo itu Ayah…”

“Ayahnya Kak Jo. Gue gak punya Ayah,” tegas Mario.

“Hehehe. Sorry-sorry…” ucap Arie. “Eh, jadi elu di rumah sendiri dong?”

“Iya.”

“Hati-hati lhooo… Awas adaaaa…”

“Ada apa? Ada kunti cantik?”

“Bukan. Kolor Ijo.”

“Biarin. Gue punya kok kolor warna Ijo.”

“Bukan. Kolor Ijo beneran. Yang suka memperkosa itu lhooo…”

“Gue kan cowok, bego!”

“Kalo Kolor Ijo-nya suka cowok, gimana?”

“Itu sih elu yang pura-pura jadi Kolor Ijo, Mo!” ledek Mario.

“Sembarangan. Kalo elu mah gak perlu diperkosa. Menyerahkan diri dengan senang hati ke gue,” balas Arie.

“Amit-amit.”

“Elu nggak ingat waktu itu—”

“Waktu kapaaannn?” potong Mario cepat.

“Ituuu, waktu kita tidur bareng…”

“Ngarang bebas elu. Gue gak ingat!”

“Hm, masa kenangan seindah itu elu lupakan sih…”

“Hoy, dasar Binan elu berdua…!” timpal Wanda yang duduk di bangku depan mereka.

“Kenapa, Nda? Pengen gabung juga? Hayyooo… Jadi bertiga kita,” kata Arie.

“Najis!”

“Asyik kok! Threesome, kekekek…” goda Arie.

“Ish!” Wanda memasang tampang jijik.

“Sok jual mahal elu, Nda. Biasanya juga nongkrong di lampu merah,” kali ini Mario yang ngomong.

“Elu kira gue traffic light…?!”

“Bukan. Yang suka bawa-bawa kecrekan…”

“Itu mah elu kaleeee…!”

“Udah, udah. Itumah elu berdua!” pungkas Arie.

“Elu!” balas Mario dan Wanda bersamaan ke arah Arie.

“Tuh kaaan, suaranya aja sama.”

“Kan elu yang mentorin,” balas Mario.

Saat mereka sedang bersenda gurau, bel masukpun berbunyi. Murid-murid yang sibuk dengan beragam aktivitasnya segera duduk ke bangku masing-masing.

***

Jam istirahat kedua.

Mario dapat SMS dari Johan.

[b]Dari: Kak Jo
Date: 16/03/2013
Time: 11.23

Yo, Ayah udh nyampe 9 tadi.

Dari: Mario
Date: 16/03/2013
Time: 11.24

y, Yah. Slam sm Om-Tante y.

Dari: Kak Jo
Date: 16/03/2013
Time: 11.25

iya. Slamat blajar.

Dari: Mario
Date: 16/03/2013
Time: 11.26

skrg lg istirahat yah.

Dari: Kak Jo
Date: 16/03/2013
Time: 11.27

oooh. Mkan apa km?

Dari: Mario
Date: 16/03/2013
Time: 11.28

ngemut permen doang. Ntar makan dirmh aja.

Dari: Kak Jo
Date: 16/03/2013
Time: 11.29

ya, ya. Ntar langsung pulang jgn keluyuran![/b]

***

Beberapa menit sebelum bel pulang berbunyi…

“Mo, malming kemana elu?” tanya Arie.

“Di rumah.”

“Gak nongkrong? Mumpung Mister kagak ada.”

“Gue jaga rumah. Tadi aja dia udah ngasih warning ke gue.”

“Apa katanya?”

“Pulang sekolah jangan keluyuran! Boro-boro ngizinin gue keluar malam…”

“Kan dia kagak tahu.”

“Ogah ah. Lagian gue juga gak tahu mau kemana. Elu sendiri kemana? Pacaran?”

“Nggak ah. Juwi gak boleh pacaran atau keluar sampai UN selesai.”

“Keciaaaannnn….”

“Kenapa kasian? Kan ada elu ban serep gue…”

“Mendingan gue sama Kolor Ijo.”

“Kan gue Kolor Ijo-nya???”

“Ya udah, gue nyerah.”

“Tuh kaaann, elu sendiri yang menyerahkan diri dengan senang hati…”

“Menyerah bukan berarti kalah.”

“Iya aja deh biar cepat.”

“Jadi elu gak ada gawe ntar malam, Mo?”

“Kagak. Napa elu mau gue ‘gawein’ ?”

“Nginap di rumah gue aja ya? Temani gue…”

“Elu bilang kagak takut?”

“Bukan takut. Ah, kalo kagak mau ya udah!”

“Ih, ngambek? Gue kerjain beneran lho…”

“Ntar elu yang gue kerjain!”

“Mau dong, hehehe…”

“Kalo mau ntar malam ke rumah.”

“Baiklah. Mister Jo ngizinin?”

“Ntar gue tanya ke dia okey, Bray?”

“Yoi, Bray!”

***

Mario menelepon Johan untuk minta izin supaya Arie diperbolehkan menemaninya di rumah. Johan langsung mengiyakan.

“Pulang ini elu langsung ke rumah ya, Bray?”

“Gue pulang dulu. Gue ganti baju baru kesana.”

“Sip. Kalo gitu elu silahkan ganti baju, terus langsung ke rumah, okey?”

“Okey, Honey. Tenaaaannnggg…”

Mario mencebikkan bibirnya.

Akhirnya sepulang sekolah, mereka berdua berpisah. Mario langsung pulang sementara Arie juga pulang ke rumahnya untuk ganti baju.

Sesampainya di rumah, Mario langsung mengirimi Arie pesan WA.

[b]Mario: Hbs ganti baju langsung cbut kesini y, Mo! (13.08)

BF_Arie: gue maksi dulu kali. (13.10)

Mario: mkn disni aja. Kk jo udah nyiapin menu kok. (13.11)

BF_Arie: baiklah klo bgt,🙂 (13.12)

Mario: jgn lp bwa gitar. (13.12)

BF_Arie: sip (13.16)[/b]

Tidak berapa lama kemudian, Arie pun datang.

“Masuk, Mo…” kata Mario sambil membuka pintu lebih lebar.

“Ya. Motor gue gimana?”

“Biarin aja di sana. ”

“Gak apa-apa nih?”

“Palingan hilang.”

“Kampret elu! Lebih berharga motor gue dari pada elu kali.”

“Ya udah pacaran aja sama motor.”

“Jeleous nih?”

“Dikit. Eh!”

“Banyak gak apa-apa kok.”

“Udah, udah. Mau masuk gak elu?”

“Iya, iya. Motor gue masukin ke garasi ya?”

“Ya. Jangan ke garasi tetangga.”

“Terserah gue dong…” kata Arie sambil menghampiri motornya dan memasukkannya ke dalam garasi.

“Lho, ini ada motornya Mister Jo,” kata Arie sewaktu melihat motor yang biasa dipakai Johan terparkir di garasi.

“Dia pake travel.”

“Ooohhh…”

Mereka berdua lalu masuk dan duduk di depan TV.

“Ngapain kita?” tanya Arie.

“Elu maunya ngapain?”

“Main PS yuk?”

“Mana ada. Elu nanya begituan di rumah ini. Adanya buku.”

“Hehehe. Gak gaul ah! Jadi di rumah elu ngapain aja?”

“Ya gini.”

“Emang betah elu?”

“Betahlah.”

“Kalo gue mana betah kek begini.”

“Awalnya sih nggak betah juga. Tapi lama-lama terbiasa. Gue punya banyak waktu buat belajar.”

“Pantes otak elu agak berisi sekarang.”

“Anjrit elu. Elu tuh yang otak Udang!”

“Tanpa Udangan kau buat kukecewaaa…” senandung Arie.

“Undangan Dodol!”

“Mau dong Dodol. Dodol Garut ya?”

“Sono pergi ke Garut.”

“Jauuhhh…”

“Eh, tadi Ayah bilang ada Nutrijell. Ntar gue ambil dulu,” kata Mario seraya bangkit menuju dapur.

“Ayah…?” desis Arie.

“Nih!” Mario menaruh mangkuk berbentuk segi empat ke atas meja beserta pisaunya. “Potong aja sendiri.”

“Siapa yang buat?” tanya Arie sambil menarik tempat Nutrijell tersebut dan mengambil pisau di sebelahnya.

“Ayah.”

“Ayahnya Mister Jo kesini ya?”

“Uhm, nggak, nggak! Ini, maksud gue, Kak Jo buatin ini untuk Ayahnya. Ternyata beliau nggak jadi kesini…”

“Ooohhh… Eh, makan yuk?” ajak Arie.

“Eh? Yang jadi tuan rumah siapa sih sebenarnya?”

Arie terkekeh. “Tadi gue mau makan elu larang.”

“Nyok!”

Mereka berdua berjalan menuju ruang makan.

“Banyak banget menunya…” komentar Arie saat Mario buka tudung saji.

“Jangan dimakan semua! Ini untuk dua hari ke depan!”

“Basi kali…”

“Nggaklah. Kan bisa gue angetin?”

“Mau dong diangetin juga…”

“Ntar. Gue hidupin kompornya dulu…”

“Elu mau angetin gue pake kompor?”

“Iya. Kenapa? Atau mau diangetin pake setrikaan?”

“Hahaha. Pakaian kali gue. Udah ah, makan yuk!”

“Tuh, piring ambil sendiri. Nasi di sana, sendok di sana, gelas, air di sana.”

“Gak sopan banget sama tamu.”

“Emang gue pelayan…”

“Bukan kok. Gue yang pelayan. Pelayan cintamu…”

“Kalo gitu elu yang harus ngambilin gue nasi.”

Arie mangut-mangut.

Selesai makan mereka duduk di teras. Arie memetik gitar yang tadi dibawanya. Tapi agak berapa lama, ia berhenti dan menelepon Juwita. Mario pun menggantikannya memetik gitar sembari berdendang tak karuan.

“Nyanyi apaan elu?” tegur Arie seusai menelepon.

“Oh, kalo telepon gak dilarang ya?”

“Nggak. Kan nggak ketemuan, hehehe…”

“Tapi sama aja kalo teleponnya ampe berjam-jam.”

“Mana aja berjam-jam? Palingan cuma sepuluh menitan tadi.”

“Tadi aja yang sepuluh menitan. Biasanya ampe kuping elu budek.”

“Hahaha. Nggak lah.”

“Gue mau nanya ama elu, Mo. Enakan PDKT sama orang baru apa orang lama?”

“Maksudnya orang baru atau orang lama gimana tuh?”

“Orang yang baru elu kenal atau orang yang udah lama elu kenal.”

“Enakan orang baru deh keknya. Kek gue sama Bebeb. Sebelumnya kita gak saling kenal tuh…”

“Kenapa yah?”

“Enak aja. Gak perlu banyak pertimbangan. Beda kalo PDKT sama orang lama. Elu bakal ngerasa banyak keraguan. Ragu ditolak, ragu hubungan yang sudah terjalin selama ini akan renggang, malu juga…”

“Gue rasa juga begitu.”

“Gue pernah mengalaminya. Dan itu bikin gue sesak ampe sekarang, Bray. Saran gue, kalo elu suka sama seseorang, gak usah mikir lama-lama. Ntar elu kejebak sama pikiran dan pertimbangan elu. Kalo udah gitu alamat deh, elu gak bakal sanggup buat nyatain perasaan elu…”

“Gue setuju. Seharusnya emang begitu…”

Keduanya terdiam. Hening sesaat. Hanya desau angin dingin yang berbisik pelan.

***

Mario membuka akun Facebook-nya. Di beranda FB, ia melihat Ajeng Kartika baru saja mengaploud dua buah foto. Johan Adiwiguna ditandai dalam foto tersebut.

Dua buah foto itu menampilkan wajah Ajeng dan Johan yang sedang tersenyum menghadap kamera.

Mario pun langsung mengomentari.
[quote]
[color=blue][b]Mario Indonesia:[/b][/color] Cie…cie…

[color=blue][b]Ajeng Kartika:[/b][/color]
@mario haha.

[color=blue][b]Mario Indonesia:[/b][/color]
foto kpn ini mbak?

[color=blue][b]Ajeng Kartika:[/b][/color]
kmaren.

[color=blue][b]Mario Indonesia:[/b][/color]
berarti mbak di Bkl* dong?

[color=blue][b]Ajeng Kartika:[/b][/color]
iya.

[color=blue][b]Mario Indonesia:[/b][/color]
cie..cie.. Nyusul Kak Jo ya?

[color=blue][b]Ajeng Kartika:[/b][/color]
apa deh. Nggak kok. Mbak krmh tante disni.

[color=blue][b]Mario Indonesia:[/b][/color]
sekalian ketemuan gt ya. Hahaha.

[color=blue][b]Ajeng Kartika:[/b][/color]
gosip. Gak ada niat kok, tp mungkn jodoh.😄

[color=blue][b]Mario Indonesia:[/b][/color]
cocok kok.

[color=blue][b]Fitra Yang Fitrah:[/b][/color]
suit 2x.

Tarik [color=blue][b]Farah Farlyna[/b][/color], [color=blue][b]Adit Pradista[/b][/color]😄😄😄

[color=blue][b]Ajeng Kartika:[/b][/color]
hhfffhhh.

[color=blue][b]Mario Indonesia:[/b][/color]
haha. Skrg msh dibkl mbak?

[color=blue][b]Fitra Yang Fitrah:[/b][/color]
makin berani nih keknya.

[color=blue][b]Farah Farlyna:[/b][/color]
wow…! Udh go publik ye…

[color=blue][b]Ajeng Kartika:[/b][/color]
rusuh2! Bubar!!!

@mario iya dek.

[color=blue][b]Fitra Yang Fitrah:[/b][/color]
@farah bener bgt tuh. Udah jalan berdua. Ketemu camer nih.

[color=blue][b]Farah Farlyna:[/b][/color]
heeh. Pantesan kita gak diajak, Pit. Ditunggu undangannya, hihi.

[color=blue][b]Ajeng Kartika:[/b][/color]
rumpi deh elu bedua.[/quote]

***

Senin sore, Johan akhirnya kembali ke Curup. Ia membawa banyak oleh-oleh berupa makanan dari Bengkulu.

“Kamu udah makan belum?” tanya Johan.

“Sudah. Tapi gue mau makan lagi ah…”

“Ya udah. Ayah mo mandi dulu.”

“Sip!”

Johan masuk ke kamarnya sementara Mario ke dapur.

Selesai mandi, Mario dan Johan duduk di depan TV.

“Dua hari kemarin ngapain kamu? Nggak macem-macem kan?” tanya Johan.

“Macam-macam sih.”

“Hm.”

“Ya, macam-macamlah kegiatannya. Makan, tidur, nonton, mandi…” jawab Mario sambil nyengir.

“Arie jadi nginap di sini?”

“Jadi kok.”

“Ngapain aja kalian?”

“Apa deh,” gerutu Mario mendengar nada bicara Johan yang penuh selidik. “Nggak ngapa-ngapain…”

“Masa?”

“Emang Ayah pengennya kita ngapain?”

“Uhmmm…”

“Curigaan banget deh. Gue anak baik-baik. Nggak bakal makan teman sendiri, hihihi…”

“Seharusnya sih begitu. Gak boleh teman makan teman, apalagi Jeruk makan Jeruk…”

“Nyindir!”

“Siapa yang nyindir? Yang ada itu pagar makan tanaman…”

“Udah revisi tuh. Kaleng makan Sarden.”

“Hahaha.”

“Ayah di sana ngapain aja? Pacaran yaaa…???”

“Terserah aku dong,” jawab Mario diplomatis.

“Huh! Tuh kan, apa juga gue bilang, elu berdua mah emang Anang-Ashyanti, Jodohku.”

“Jodoh siapa?”

“Ngeles aja. Elu berdua lah, Ayah sama Mbak Ajeng.”

Johan mesem-mesem.

“Jangan lupa makan-makan ah.”

“Tadi kamu makan.”

“Makan lagi dong! Jadi sewaktu di Bengkulu, Mbak Ajeng ke rumah Ayah?”

“Iya.”

“Ngenalin calon ya?”

“Mau tahu aja.”

“Harus dong! Gue kan anakmu.”

“Anak kecil gak boleh tahu.”

“Itukan anak kecil. Gue kan anak gede.”

Johan acuh tak acuh.

“Cerita dong Yah, gimana Ayah nembak dia.”

“Belum kali.”

“Oh, belum yah? Kenapa? Padahal ketika di Bengkulu kemarin momentnya pas lho…”

“Mau mikir dulu. Lagian kan belum minta pendapat kamu…”

“Kok gue? Situ yang mo pacaran. Kalo kata Arie, mau nembak orang itu jangan lama-lama. Jangan juga terlalu banyak pertimbangan. Ntar ada aja deh hal-hal yang membuat rencana itu jadi batal…”

“Oh gitu. Menurut kamu emang Ayah cocok sama Ajeng?”

“Cocok kok.”

“Oh ya? Kenapa bisa bilang gitu?”

“Kalian kan udah dekat. Udah tahu juga pribadi masing-masing. Jadi nggak butuh waktu pengenalan lagi. Tinggal meneruskan yang sudah terjalin selama ini…”

“Emang nggak apa-apa Ayah punya pacar?”

Mario diam. Tatapannya fokus ke layar TV.

“Yo!”

“Ya?”

“Emang nggak apa-apa Ayah punya pacar?”

“Engg, ya nggak apa-apa. Emang haruskan?”

Johan mengangguk-angguk.

“Kalo gitu secepatnya Ayah bakal nembak Ajeng. Doain oke?”

“Ya, didoain kok…” jawab Mario nyaris tak terdengar.

***

*18 Maret 2013*

*On Facebook*
[quote]
[color=blue][b]Mario Indonesia[/b][/color]
Kalo rasa sakit ini bs membuat gue melupakan elu, gak apa-apa kok. Silahkan bersama dia. Tapi plis, sakitnya jangan lama-lama yah.
Baru saja . Suka . Komentar . Bagikan . Hapus[/quote]

====
Notes: *Bkl : Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: