Chapter XI

Chapter XI

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tinggal satu bulan lebih lagi Mario akan menghadapi UN. Sementara Johan pun sudah kembali aktif kuliah, tepatnya sejak tanggal 04 Maret yang lalu.

Kini keduanya sama-sama disibukkan dengan kegiatan pendidikan masing-masing, tapi hal itu tidak membuat mereka terlarut sama dunia mereka sendiri. Meskipun memiliki kesibukan, tapi hubungan Mario dan Johan tetap terjaga. Bahkan semakin akrab. Mereka berdua selalu makan bersama, kecuali makan siang. Sebab terkadang saat makan siang, Johan masih di kampus. Meskipun begitu, mereka berdua selalu saling mengingatkan untuk makan.

Tidak hanya soal makan, saat masak, membereskan rumah, solat, menyiangi taman, ke pasar, olahraga dan jalan-jalan mereka juga kerap bersama.

Adakalanya mereka juga tidur bersama. Apalagi Mario. Ia sering tidur di kamar Johan setelah meminta Johan untuk mengajarinya menyelesaikan beberapa soal persiapan UN. Mario sengaja sering meminta bantuan Johan agar bisa sering bersama yang nantinya akan berakhir ia pura-pura ketiduran di kamar Johan.

Singkatnya, tak ada lagi rasa canggung diantara mereka saat ini.

***

Seperti malam ini, Johan datang menemui Mario di kamar. Saat ini Mario sedang berkutat dengan buku kumpulan soal-soal persiapan ujian nasional.

“Yo, lagi belajar ya?”

“Heeh. Napa Yah?”

“Rajin amat. Satnite masih belajar…”

“Gak ada kerjaan sih… Ya udah belajar aja. Emang kenapa?”

“Nggak jadi.”

“Yeee, apaan sih?”

“Udah belajar aja gih. Ntar kalo kelar temui Ayah di kamar,” pungkas Johan sembari keluar dan menutup pintu kamar Mario.

“Haish, ada apa sih? Gue jadi nggak konsen lagi nih…” keluh Mario.

Beberapa menit kemudian, ia memutuskan untuk menyudahi jam belajarnya. Sejak Johan menyambanginya di kamar tadi, ia sudah tak konsentrasi. Terus memikirkan apa maunya Johan. So, dari pada ia terus dibuat penasaran, mendingan ia langsung menemui Ayahnya itu di kamar.

“Gue udah kelar belajarnya,” kata Mario sambil menampakkan wajah dari balik pintu kamar Johan.

“Cepat amat?” tanya Johan yang tengah duduk bersandar di ranjang.

“Hehehe. Ada apa sih Yah? Bikin penisaran aja deh…”

“Apa? Penis..saran?”

“Ups, hihihi. Itu bahasa plesetan dari forum.”

“Hati-hati ntar keceplosan lho.”

“Iya, iya. Ada apa?? Buruan ngomong…” desak Mario lagi.

“Nggak ada apa-apa. Kalo kamu udah belajarnya, Ayah cuma minta pijitin…”

“AH! Kirain apaan…! Ogah ah!” tolak Mario mentah-mentah.

“Hehehe… Capek banget nih habis main futsal tadi sore…”

“Siapa yang nyuruh main futsal…”

“Cmon, Nak, pijitin Ayahmu…” pinta Johan lembut.

“Huuhhh, giliran nyuruh aja suaranya dilembut-lembutin…” sindir Mario.

“Ayah selalu lembut kali…”

“Manaaa???”

“Tadi…”

“Sebelum-sebelumnya?”

“Jadi seorang ayah emang harus gitu. Harus tegas dan bise mengarahkan anaknya…”

“Ya deh, ngeles! Sini! Mana minyak pijatnya?” pungkas Mario.

“Tuh, di atas lemari.”

“Ckckck, udah disiapin. Bukannya biasanya di kotak obat ya?”

Johan terkekeh.

“Pijat jenis apa, Om? Pijat biasa apa pijat plus-plus nih?” goda Mario.

“Plus-plus deh.”

“Ketahuan yang suka ke panti pijat.”

“Nggak pernah.”

“Nah tadi plus-plus katanya…”

“Maksudnya plus tangan, kaki, leher, punggung…”

“Bilang aja seluruh badan!”

“Hehehe…”

Mario menjatuhkan beberapa tetes minyak pijat ke telapak tangannya, lalu dioleskannya ke betis Johan. Setelah itu ia mulai memijat betis Johan sembarangan. Tentu saja asal-asalan, sebab ia tak memiliki keahlian dalam memijat.

“Gimana rasanya, Om? Enak?” tanya Mario.

“Emang aku Om-Om senang apa?”

“Anggap aja begitu.”

“Biasa aja rasanya.”

“Heh, udah dipijat gak tahu terima kasih lagi,” gerutu Mario. Ia menekan betis Johan kuat.

“Eee, sakiiittt…” seru Johan.

“Segitu aja udah sakit,” ledek Mario.

“Yang bener ah.”

“Udah deh.”

“Ya deh…” kata Johan seraya menyodorkan lengan kirinya.

“Kenapa nih?”

“Lengannya lagi dong…”

Bibir Mario bergerak-gerak. Ia mengomel tak jelas.

“Entar Ayah buatkan nasi goreng deh…”

“Nggak.”

“Spesial pake telur ceplok.”

“Standar.”

“Kerupuk juga.”

“Gue bisa beli di pinggir jalan.”

“Plus segelas susu hangat.”

“Uhmmm…”

“Porsi jumbo.”

“Beneran ya?”

“Iya. Tapi pijitnya rada lama ya? Bahunya juga…”

“Tuhkan, makin menjadi-jadi deh…”

“Cuma itu doang…”

“Ya, iya. Sini!”

Johan tersenyum sangat manis.

***

Keesokan harinya…

Minggu pagi yang cerah.

Johan dan Mario jogging bersama. Sama seperti yang lain, tujuan mereka ke lapangan Setia Negara. Di sana, mereka dan warga kota kecil ini akan tumplek di lapangan itu. Berlari bersama mengitari lapangan yang tak seberapa luas. Tapi tentu saja tak semuanya jogging. Ada saja yang cuma kepingin cuci mata atau nongkrong di bangku di pinggir lapangan sambil menunggu kegiatan senam dilakukan setiap pukul tujuh pagi.

“Hari ini kita masak apa, Yah?” tanya Mario.

“Baru nyampe aja udah ngomongin masak…”

“Hehehe…”

“Kamu mau menu apa?” tanya Johan.

“Terserah Ayah sih…”

“Oke deh, ntar kita pikirin,” pungkas Johan sambil terus berlari kecil.

Mereka berdua berlari mengitari lapangan sampai keluar keringat. Setelah itu memutuskan berhenti dan duduk di salah satu kursi di pinggir lapangan. Sementara beberapa ibu-ibu dan cewek-cewek mulai membentuk barisan setelah pelatih senam datang. Sedangkan para cowok tak ubahnya seperti mereka berdua, duduk atau berdiri di pinggir lapangan secara bergerombol. Ada yang ngobrol ada juga yang jelalatan memperhatikan lawan (atau sesama) jenis. Hehe.

“Cari makan yuk, Yah?” ajak Mario dengan mata melirak-lirik kesana kemari mencari penjual makanan.

“Laper ya?”

“Lumayan.”

“Masa masih laper? Semalam udah makan nasgor porsi jumbo, pake telur, susu juga…”

“Itukan semalam. Sekarang udah laper lagi…”

“Hmmm…”

“Makan apa ya? Mie Ayam aja yuk?”

“Ah, kamu nih… Baru aja lari sebentar…”

Mario nyengir.

Mereka berdua lalu memutuskan makan di warung mie ayam yang letaknya tak seberapa jauh dari lapangan.

Pagi ini pengunjung sangat rame. Semua kursi terisi penuh. Untungnya saat keduanya datang, ada pengunjung yang pergi.

Mereka berdua masih harus menunggu antrian pesanan mereka datang. Mario sibuk berkutat dengan handphone-nya, sedangkan Johan cuma memperhatikan sekelilingnya.

“Uhm, Yo…”

“Iya?”

“Ada cowok cakep tuh…”

“Mana?”

“Lihat ke kiri.”

Mario menoleh ke arah yang dibilang Johan. Ia langsung meringis melihat penampakan di depan matanya.

“Huh!” desisnya.

Johan terkekeh. Cowok cakep yang dibilangnya barusan tadi adalah seorang pria berumur, berkumis tebal dan berperut buncit.

“Cakep apanya.”

“Kalo cowokkan pasti cakep. Masa cantik?”

Mario mangut-mangut.

“Atau yang itu, di sudut. Tapi udah ada yang punya tuh keknya…” kata Johan lagi.

Lagi-lagi Mario mengarahkan pandangan ke arah yang Johan maksud. Seorang bapak-bapak yang kepalanya sudah dipenuhi uban nampak makan mie ayam dengan lahap bersama seorang ibu-ibu yang bisa dipastikan adalah istrinya.

“Gue maunya cuma kek Arie.”

“Hadeehhh, Arie lagi. Apa cakepnya sih Arie? Cakepan juga Ayah…”

“Ya udah, yang kayak Ayah aja, atau kalo bisa Ayah sendiri,” balas Mario.

Johan langsung meringis dengan mimik jijik.

Mario tertawa hambar melihat reaksi Johan.

“Siapa juga yang mau punya pacar kayak situ. Udah dingin, galak lagi,” kata Mario.

“Hati-hati, entar kepicut lhooo…”

Mario mencebikkan bibirnya.

***

Beberapa menit kemudian, mie ayam pesanan mereka berdua tiba. Tanpa banyak kata, mereka langsung menyantapnya. Di tengah acara makan itu, tiba-tiba ada yang menepuk pundak Johan dari belakang. Ternyata Ajeng.

“Traktir dong…!” Ajeng tersenyum manis ke mereka berdua.

“Eh, Jeng? Dari mana? Makan, makan…” sambut Johan.

“Makan, Mbak…” kata Mario.

Ajeng mengangguk.

“Kita gabung di sini aja ya, Shin?” Ajeng menoleh ke temannya yang sedari tadi berdiri di sampingnya.

Sang teman mengangguk.

“Nggak apa-apakan kita gabung dimari?”

“Gak apa-apa kok. Asal nggak minta pangku aja,” kelakar Johan.

“Elu kira naek angkot…” balas Ajeng. Ia duduk di samping Johan, sementara temannya duduk di sebelah Mario.

“Sudah pesan?” tanya Johan.

“Udah,” jawab Ajeng dan temannya bersamaan.

“Eh, iya, ini teman gue, Shinta. Dia tetangga belakang rumah…” Ajeng memperkenalkan temannya tadi.

“Aku Johan,” kata Johan.

“Gue Mario,” kata Mario.

Shinta mengangguk.

“Dari mana tadi Mbak? Jogging juga?” tanya Mario.

“Iya. Elu berdua jogging juga?”

“Heeh,” Johan yang jawab.

“Jogging sih, tapi kebanyakan jalan santai sambil ngerumpinya,” kata Shinta.

“Hahaha. Namanya juga cewek, teteeuuup rumpi,” Ajeng terkekeh.

“Berarti kalian berdua capek karena ngerumpi ya, bukan karena jogging,” komentar Johan.

Ajeng dan Shinta saling pandang dan tertawa.

“Rumpi dan cewek itu bagaikan dua sisi mata uang,” kata Ajeng.

“Di kelas, kalo tiga orang cewek udah pada ngumpul, sepuluh orang cowok langsung menyingkir. Suara kita kalah,” celetuk Mario.

“Hahaha. Maklum kita kan punya dua bibir…” Shinta terkekeh.

“Dua bibir?” tanya Mario.

“Ya. Makanya rame, hehehe.”

“Cowok juga punya dua bibir,” Mario menyentuh tangkup bibir atas sama bawahnya.

“Bukan, maksudnya itu, uhmmm…” Ajeng menoleh ke kiri dan ke kanan yang nampak sesak.

“Udah, kamu masih kecil, Yo. Nggak boleh dikasih tahu,” timpal Johan.

“Emang apaan, Yah, eh, Kak?” Mario langsung meralat panggilannya ke Johan.

“Udah, habisin mie-nya. Terus kita langsung pulang,” kilah Johan.

Mario mangut-mangut.

“Search di mbah Google aja, Dek,” saran Shinta.

Ajeng terkikik.

“Dasar…” desis Johan.

Tiba-tiba Shinta berbisik ke Ajeng, dan Ajeng mengangguk.

“Oohhh… Wajar sih…” kata Shinta.

“Nggak lah,” bantah Ajeng.

Johan dan Mario memandang Ajeng dan Shinta.

“Gue, Johan, Pipit, Farah, Adit itu temanan dari SMA. Teman dekat. Dia aja yang jeleous…” terang Ajeng ke Shinta.

Shinta mangut-mangut.

Johan yang mendengar potongan percakapan keduanya sudah bisa menebak topik pembicaraan keduanya.

Sial, berita soal aku sebagai orang ketiga atas berakhirnya hubungan Ajeng dan Rahmat sudah menyebar kemana-mana, gerutunya dalam hati.

Johan tak mau ambil pusing. Ia dan yang lain terus berbincang sampai pesanan Ajeng dan Shinta datang. Disela-sela perbincangan itu, tiba-tiba Shinta menunjuk dua orang yang baru masuk ke warung mie ayam.

“Jeng, lihat deh yang baru masuk itu,” katanya pelan, tapi suaranya masih bisa didengar Mario dan Johan. Mau tak mau mereka berdua pun menoleh ke arah yang dibilang Shinta.

“Cowok sama cewek itu?”

“Ya. Gimana menurut elu?”

“Hmm, cowoknya cakep, ceweknya biasa,” komentar Ajeng lantas nyengir.

“Mereka suami istri lho.”

“Beruntung banget ya? Kok tuh cowok mau sih?” tanya Ajeng seakan nggak rela.

“Kamu kenal sama dia?” Johan nimbrung.

“Mereka berdua itu dosen gue,” jawab Shinta.

“Dosen ya? Masih muda banget…”

“Ya masih muda. Tiga puluhan deh.”

“Ceweknya pintar kali, makanya suaminya kepicut,” celetuk Mario.

“Tetap aja lihatnya gak sedap. Gak matching,” dengus Ajeng.

“Apaan sih, Jeng…” kata Johan.

“Bukan maksud gue merendahkan, Jo. Tapi ya, namanya cewek. Kalo lihat cewek yang, maaf nih ya, di bawah kita gitu, terus dapat cowok yang cakep, kita jadi panaaassss…”

“Gak rela gitu ye,” sambung Shinta.

“Heeh,” Ajeng mengangguk.

“Cantik kan relatif, Mbak,” kata Mario.

“Tapi kira-kira doang ah…” Ajeng dan Shinta terkikik.

“Dasar. Bersyukurlah yang punya fisik rupawan,” kata Johan.

“Elu muji gue, Jo? Makasiiihhh…” Ajeng nyengir.

“Yang bikin kita nggak habis pikir itu gini lho, ya, apa sih yang diambil Mr. Bayu dari Miss Ira? Rupa biasa, terus sangar pula…”

“Mereka dosen apa?”

“Sama-sama bahasa Inggris. Huhhh, pokoknya nggak banget deh sama si Miss itu. Orangnya dendaman. Pertama kali dia masuk, dia ngasih warning ke kita kayak gini, ‘Saya ini ya, sangat kuat di audiovisual. Jadi, bagi siapa yang buat masalah sama saya, maka bakal saya ingat terus. Hati-hati saja kalian, karena itu berarti kalian akan dipastikan gagal di mata kuliah saya. Kalian akan saya persulit jika berhubungan sama saya. Bahkan bila kalian bimbingan sama saya, maka kalian dipastikan akan GAGAL.’ See? Masa dosen dendaman sih?”

“Ya ampun, masa sih gitu? Nggak pernah belajar memahami psikologi anak kali tuh orang. Bukannya kalo jadi guru itu ada pembelajaran mengenai psikologi gitu ya??? ” Ajeng menoleh ke Johan.

“Yup.”

“Kalo digituin, anak-anak bisa tertekan dong…”

“Ya begitulah. Makanya kita bilang Mr. Bayu menikahi malapetaka, hihihih…”

“Kesian tuh Mister. Bisa-bisa ketampanannya hilang karena kesangaran sang istri…”

“Hahaha. Bisa dibuat FTV tuh. Judulnya, Ketampananku Pudar karena Istri Beringas…”

Ajeng terkikik.

“Hmmm, ada ya dosen kek gitu?” Mario angkat bicara.

“Ada. Tapi ada lho cerita yang menarik mengenai mereka. Uhm, sebenarnya sih soal Mr. Bayu. Beliau ini pernah tunangan dan beberapa minggu lagi bakal kawin sama pacarnya, tapi batal.”

“Kenapa? Beliau direbut sama si Miss Beringas?” sambar Ajeng.

“Hihihi. Bukaaannn. Ceritanya gini, Mr. Bayu ini pacaran sama Miss Leffy. Miss Leffy ini juga dosen di kampus gue. Beliau menjawab ketua prodi jurusan Bahasa Inggris sekarang. Tapi karena suatu peristiwa, hmm, sesuatu hal yang kecil banget sih sebenarnya, si Miss Leffy ini membatalkan tunangan.”

“Kok bisa? Kenapa?”

“Ceritanya, mereka ini lagi di bandara gitu. Miss Leffy ini sama temannya. Temannya ini lagi hamil gede gitu. Bawa tas juga yang lumayan berat ya. Sementara Miss Leffy ini gak bawa apa-apa, cuma tas kecil. Nah, pas naik pesawat, Mr. Bayu ini cuma nolong bawain tas Miss Leffy, sementara tas temannya itu nggak. Gara-gara itu dia batalin pertunangan.”

“Lho? Kok gitu? Salahnya di mana? Seharusnya senang dong pacarnya perhatian…” tanya Mario nggak ngerti.

Shinta angkat bahu.

“Wah, mantap banget pemikiran Miss itu. Dia bisa menilai calon suaminya seperti apa hanya dari hal sekecil itu. Kalian sebagai pacar mungkin bakal senang karena pacar kalian perhatian sama kalian. Tapi dia nggak. Malah mungkin kecewa dan sedih. Dari kondisi dia sama temannya itu, siapa sih yang sepantasnya di bantu sama si Mister?” komentar Johan.

“Iya. Beliau luar biasa. Gue kasih jempol buat dosen elu itu. Hanya karena hal sekecil itu dia memutuskan pertunangannya. Seharus si Mister nolongin teman pacarnya yang lagi hamil itu dong. Iya nggak? Cowok yang bijaksana bisa menempatkan dan memposisikan dirinya, kapan ia harus mendahulukan pasangannya, dan kapan ia harus mendahulukan orang lain yang lebih membutuhkan,” terang Ajeng.

“Iya juga ya…” desis Mario sambil mengangguk-angguk.

“Setelah peristiwa di bandara itu, jadinya mereka putus. Miss Leffy pacaran dan gak lama terus nikah. Mr. Bayunya terus melanjutkan studi S2 ke Australia. Pulang dari sana beliau pacaran sama teman SMA-nya yang kata teman-teman gue sih emang sejak dulu udah ngefan sama di Mister. Iya itu, si Miss Beringas,” Shinta mencebikkan bibirnya.

“Jadi ceritanya ngawinin fan nih?”

“Heeh. Si fan dapat durian runtuh deh. Udah dapat cowok cakep, lulusan luar negeri lagi.”

“Namanya juga jodoh. Kalo jodoh nggak bakal kemana,” kata Johan menuntaskan obrolan mereka pagi itu.

***

Bukan cuma Johan yang bisa menebak topik obrolan antara Ajeng dan Shinta tadi. Mario juga. Makanya sepulangnya dari sana, ia tergelitik untuk mengutarakan sesuatu ke Johan.

“Ayah pacaran aja sama Mbak Ajeng,” katanya tiba-tiba.

Johan mengerutkan keningnya.

“Kalian cocok.”

“Napa kamu tiba-tiba ngomong gitu?”

“Nggak apa-apa. Keinget aja sama obrolan Mbak Ajeng sama temannya tadi…”

Johan menghela napas.

“Kepalang udah dibilang orang ketiga,” sambung Mario sembari melirik Johan. Johan langsung melotot.

“Kadang-kadang cinta itu aneh. Punya jalan tersendiri yang nggak pernah kita duga.”

“Eh?”

“Iya. Gue baru aja kepikiran soal itu. Seakan-akan gue dapat pencerahan tadi, hehehe…”

“Pencerahan? Gayamuuuu…”

“Hehehe. Gue mikirnya gini, Ayah sama Mbak Ajeng itu temanan udah lama dan dekat banget. Udah tahu pribadi masing-masing kek gimana. Mustinya sih kalo jadi pasangan bisa klop dong? Iya nggak?”

“Akh, udah berapa kali kamu bahas tentang ini?”

“Cinta itu datangnya nggak terduga. Terkadang lewat jalan yang nggak pernah kita bayangin. Atau kita dapat pasangan yang nggak pernah kita pikirkan. Benerkan? Contohnya aja kisah dosennya Mbak Shinta tadi. Kalo nggak jodoh, maka nggak akan jadi juga. Kalo pun seandainya dipaksakan dan mereka nikah, pasti akhirnya gagal di tengah jalan. Sementara kalo seseorang emang jodoh kita, nggak bisa juga kita hindari. Mungkin Mister Bayu itu nggak pernah kepikiran dan bahkan nggak pernah terlintas bakal nikah sama temannya yang sangar itu. Tapi ternyata mereka jodoh. See?”

“So?”

“Gue rasa Ayah sama Mbak Ajeng itu kek gitu juga. Nggak pernah kepikiran buat jadi pasangan. Namun bisa jadi kalian itu jodoh. Jalannya mungkin agak muter dikit. Jadi teman dekat, terus Mbak Ajeng punya pacar, terus Ayah dituduh jadi orang ketiga, terus mereka putus, terus kalian sadar dan akhirnya pacaran, terus—”

“Terus nabrak!” potong Johan cepat.

“Iya kan? Coba deh Ayah renungin omongan gue barusan…”

“Ogah. Lagian kan tadi kamu sendiri bilang, kalo jodoh nggak bakal kemana. Jadi biar takdir aja yang bicara…”

Mario terdiam. Ia nampak berpikir.

“Benar juga sih…” desisnya sembari menggaruk-garuk kepala.

“Hehehe,” Johan terkekeh dan bangkit dari duduknya. Ia mengacak rambut Mario lalu berjalan ke kamarnya.

***

***Mario***

[i]Kalo jodoh nggak bakal kemana.[/i]

Hampir semua orang pernah dengar kalimat itu. Sebuah kalimat yang menurut gue mengisyaratkan kepasrahan. Tapi benar. Kata-kata itu sepenuhnya benar. Emang jodoh nggak bakal kemana-mana kok. Jodohkan nggak punya kaki, jadi mana bisa pergi? Hihihi.

Gue menertawai kekonyolan pikiran gue. Garing banget dah.

Sebenarnya, bukan tanpa alasan kenapa gue memikirkan lima potong kata tersebut. Pertama kali gue dengar kalimat itu hari ini dari Ayah sewaktu mengomentari dosennya Mbak Shinta tadi pagi.

Entah kenapa, gue tiba-tiba menghubungkan kalimat itu dengan kisah gue. Bisa dibilang gue ini adalah si Miss Beringas yang mengidolakan Ayah sebagai Mr. Bayu. Mungkin dulu perasaan Miss Beringas nggak jauh beda sama gue. Memendam perasaan suka tanpa berani mengungkapkannya. Perasaan itu terus ia simpan sampai Mr. Bayu tunangan sama cewek lain. Saat itu mungkin ia menganggap mendapat pendamping seorang Mr. Bayu hanyalah mimpi yang akan berakhir setelah kita terjaga. Tapi ternyata sekarang dream comes true. Statusnya yang dulu hanya bisa mengagumi Mr. Bayu, sekarang sudah menjadi nyonya Bayu.

Intinya, seperti yang gue bilang ke Ayah tadi, kalo jodoh nggak bakal lari kemana. Mau elu benci setengah mati sama seseorang, mau elu pergi ke ujung dunia atau bahkan ke Planet Mars sekalipun untuk menghindari seseorang, tapi kalo dia itu jodoh elu, pasti bagaimanapun caranya, pasti bakal bersatu. Begitu juga sebaliknya. Mau sekuat apa elu mempertahankan cinta elu, tapi kalo dia bukan jodoh yang ditakdirkan buat elu, pasti lambat laun akan berakhir juga.

Jadi maksud gue, mulai sekarang kayaknya gue nggak perlu takut deh sama perasaan gue ke Ayah. Kalo emang ada kesempatan buat gue jadi BF dia, pasti bakal ada caranya kok. Iya nggak sih? Bukannya maksud gue pengen nyerah sama perasaan gue, tapi lebih ke nggak mau ngoyo sama perasaan gue. Gue nggak mau perasaan ini membunuh gue.

Biarin deh semuanya mengalir senatural mungkin. Lebih baik gue menikmati setiap detik yang gue lewati bersama Ayah. Dia sayang sama gue, dan gue lebih sayang sama dia. Mungkin keadaan ini sama indahnya jika kami pacaran. Nggak perlu berkomitmen, nggak perlu mempengaruhi Ayah jadi gay kek gue, tapi gue mendapatkan sayang dari dia.

Jujur, pikiran ini berat buat gue. Gue nggak munafik, kalo di hati kecil gue, masih berharap besar kalo ada cinta yang terucap antara kami berdua. Tapi sudahlah, sekali lagi, cinta akan menemukan jalannya.

Jadi itulah alasan mengapa gue tadi lagi-lagi mendorong Ayah buat pacaran sama Mbak Ajeng. Biar gue nggak terus berharap. Setidaknya kalo dia punya pacar, gue bisa sadar diri kalo mau memimpikan dia lagi jadi pacar gue. Sama halnya saat Arie udah punya Juwi, meskipun sakit, gue bisa menghindar dan menutup satu persatu mimpi indah gue bersama dia. Dan terbukti, saat ini rasa gue ke dia itu hilang. Sayangnya sih, nggak benar-benar hilang, melainkan hinggap ke Ayah. Shit. Nah, maksud gue, kalo Ayah punya pacar, ntar rasa suka gue ke dia itu bisa hilang dan nggak hinggap ke orang lain lagi. Kalo pun mau hinggap, hinggap aja ke sosok yang punya memek gitu. Jangan yang punya batangan mulu, anjrit.

Hufffhhh. Gue membenturkan kepala ke permukaan bantal yang lembut berkali-kali. Bego, begoooo. Bukannya mikirin UN yang waktunya makin dekat, malah mikirin yang nggak-nggak!

By the way, kalo Miss Beringas kisahnya happy ending, gimana sama gue ya? Apakah nanti gue juga bisa mendapatkan Ayah? Kita nikah terus makan mie ayam berdua di…

Pletok!

Gue menjitak kepala gue sendiri. [i]KALO JODOH NGGAK BAKAL KEMANA. JADI NGGAK PERLU TAKUT DAN MENEBAK-NEBAK[/I], hati kecil gue mengingatkan.

Hffffhhh… Iya deh, desis gue pelan nyaris tak tedengar.

***

One thought on “Chapter XI

  1. Fandi 04/10/2013 pukul 7:06 am Reply

    I Dont KnOw What do You Think, I Just NeEd To KnOw ABout Your Story, Not ‘This One’?
    Please. . . . Write Your Story, I Really Love It. . . Thnks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: