Chapter Xb

*03 Maret 2013, Pukul 15.13*

[b]Dari: Mario
Date: 03/03/2013
Time: 15.13

Kk, jemput gue ya.

Dari: Kak Jo
Date: 03/03/2013
Time: 15.16

udh pulang lesny?

Dari: Mario
Date: 03/03/2013
Time: 15.16

mulai kemarin, lesnya udh selesai Kak.

Dari: Kak Jo
Date: 03/03/2013
Time: 15.17

oh gitu. Oke kk jemput skrg. Km dirmh kan?

Dari: Mario
Date: 03/03/2013
Time: 15.17

ya.[/b]

Setelah membaca SMS terakhir Mario, Johan langsung berangkat menuju rumah Mario.

Saat ia tiba, Mario sedang duduk di teras bareng mamanya dan Bibik.

Johan tersenyum dan mengucap salam.

“Gimana keadaan Tante? Udah sehat?” tanya Johan.

“Alhamdullilah, Jo. Sekarang udah enakan,” Mamanya Mario tersenyum.

“Syukurlah…” desis Johan.

“Mau jemput Den Rio ya, Den?” tanya Bik Dar.

“Iya Bik. Tadi udah dapat panggilan dari dia minta dijemput,” Johan tersenyum.

“Oh, supirnya Rio ya?” canda Tante.

“Hahaha…! Iya nih…” balas Johan.

“Sesekali boleh dong jemput adik sendiri,” celetuk Mario.

“Boleh-boleh ajaaa…” ucap Johan. “Justru lebih bagus biar kamu nggak keluyuran.”

Mario nyengir.

“Kalo mo pulang jangan lupa bawa gulai ya. Udah disipain kan, Bik?” Tante menoleh ke Bibik Dar.

Bibik mengangguk.

“Biar kalian gak perlu masak lagi nanti malam,” kata Tante.

“Boleh tuh,” kata Johan.

“Pulang sekarang kitanya?” tanya Mario.

“Terserah kamu sih. Mau sekarang atau ntar malem…” jawab Johan.

“Ntar aja. Kalian nggak ada kerjaan kan?” usul Tante.

“Kalo Rio sih gak ada. Nggak tahu kalo Pak Guru…” Mario noleh ke Johan.

“Nggak ada kok…”

***

Akhirnya mereka berdua pulang setelah selesai Maghrib. Bahkan gulai yang rencananya mau dibawa ke rumah, akhirnya disantap di rumah Mario saat mereka makan malam.

Setelah pamit dan Mario mengingatkan Mamanya untuk tak bekerja terlalu keras dan menjaga kesehatan, mereka pun kembali ke rumah Johan. Tapi di perjalanan, Johan mengajak Mario mampir dulu ke tempat Pipit. Akhirnya sekitar pukul sembilan malam baru mereka benar-benar tiba di rumah.

“Malam ini gue nggak belajar ya, Bos?”

“Kenapa?”

“Males. Lagian besok nggak ada PR… Boleh ya?”

“Terserah…” jawab Johan sambil beranjak ke kamarnya setelah menutup tirai jendela. Sementara Mario bergerak ke kamar mandi dan membersihkan diri.

Selesai ganti pakaian, ia bermaksud browsing di laptopnya. Tapi baru ingat kalau laptopnya tertinggal di kamarnya.

Ia pun pergi ke kamar Johan untuk meminjam laptop.

“Laptopmu mana?” tanya Johan yang sudah berbaring di tempat tidur.

“Barang-barang gue tinggal semua di rumah. Tadi kita langsung pulang, nggak ambil pakaian di kamar…”

“Kenapa nggak bilang…”

“Namanya juga lupa…”

“Tuh, laptopnya di atas meja.”

“Pinjam ya?”

Johan mengangguk.

Mario langsung naik ke tempat tidur Johan setelah mengambil laptop di atas meja.

“Jangan berisik!” kata Johan memperingatkan.

“Yaaa…!”

Johan memejamkan matanya. Sementara Mario asyik browsing diselingi online di Facebook dan Boyzforum.

“Jangan buka yang macam-macam…” kata Johan tiba-tiba.

“Ngagetin aja dah… Ya, nggak.”

“Awas kalo buka yang nggak-nggak…”

“Tenang, ntar gue remove semua chat history-nya…”

Johan melotot.

Mario terkekeh. “Udah tidur gih. Gue cuma cari bahan buat makalah BI…”

Johan memejamkan matanya kembali. Sementara Mario kembali melanjutkan browsingnya.

***

Johan terjaga tanpa sebab menjelang Subuh. Saat itu ia merasakan hembusan hangat menerpa dadanya. Saat ia membuka mata, nampak wajah lelap Mario menempel di dadanya.

Ia menatap wajah itu cukup lama. Pikirannya berputar, tapi ia sendiri bingung dengan isi kepalanya saat ini. Akhirnya ia memejamkan mata kembali.

Sebelum ia kembali terlelap, Mario tiba-tiba bergerak. Anak itu menyembunyikan wajahnya ke dada Johan. Gerakan Mario memaksanya kembali membuka mata. Ubun-ubun Mario tepat berada di bawah dagunya. Rambut kecokelatan yang lembut itu menguarkan wangi shampoo yang nyaman bagi indera penciuman Johan.

Entah apa yang menggerakkan hatinya, tiba-tiba saja Johan mengangkat tangan dan membenamkan jemarinya ke rambut Mario. Menyibak helai-helai rambut itu pelan. Setiap gerakannya menerbitkan wangi lembut yang disukainya.

Dalam tidurnya, Mario masih bisa merasakan usapan di kepalanya. Namun ia tak tahu pasti ini nyata atau mimpi. Tapi ia benar-benar ingin membuka matanya, memastikan bahwa ini bukan khayalannya semata.

Berharap bukan mimpi, desis Mario dalam tidurnya.

Ia membuka mata perlahan dan melihat apa yang melebihi harapannya.

Ternyata ini bukan mimpi. Jemari-jemari itu benar-benar sedang membelai rambutnya. Ia memejamkan matanya kembali. Berusaha meresapi kehangatan dan kelembutan belaian itu. Lagi pula ia takut Johan akan berhenti jika tahu ia sudah bangun.

“Kok tidur di sini?” tanya Johan tiba-tiba.

Mario pura-pura terlelap.

“Hey, pindah ke kamarmu gih…”

Ish! Nyebelin banget sih, gerutu Mario dalam hati.

“Ayo buruan…”

“Eeenggg…” rengek Mario sembari menggeliat.

“Kamu nih, laptopnya nggak dibalikin ke tempatnya. Awas, awas, ketindih ntar…”

“Ugh! Kenapa lagi sih???”

“Awaasss…”

“Gue ngantuk Kak…”

“Pindah ke kamar kamu gih. Ngapain juga tidur di kamar orang…” omel Johan seraya menaruh laptopnya ke atas meja belajar.

“Sekali-kali nggak apa-apa kali…”

Johan tak merespon ucapan Mario barusan. Ia kembali berbaring ke tempat tidur.

Mario beringsut sedikit dari tempatnya. Ia telungkup dengan posisi kedua lengan di bawah dada.

“Ambil selimut kamu, Yo. Ntar masuk angin,” kata Johan.

“Ya…” kata Mario tanpa bergerak.

Johan merubah posisinya dengan berbaring membelakangi Mario. Beberapa saat suasana kembali hening. Tapi kemudian Johan kembali mengingatkan Mario untuk mengambil selimutnya.

Mario bangun dengan malas disertai gerutuan tak jelas. Ia pergi ke kamarnya dan menyambar selimut yang terasa dingin lalu kembali ke kamar Johan.

“Eh, balik lagi… Sekalian aja tidur di sana…” kata Johan.

Mario nyengir.

“Gue mau tidur di sini.”

Johan misuh-misuh sambil merapatkan selimutnya.

Mario melompat ke samping Johan. Ia meringkuk dengan selimut membungkus tubuh sampai ke leher.

“Dari dulu gue berharap bisa tidur kek gini sama abang gue…” kata Mario.

“Kirain sama Arie,” celetuk Johan.

“Kalo sama dia mah udah sering kali,” kata Mario.

“Oohhh…”

“Emang kenapa? Tenaaannggg, nggak ada kejadian yang nggak-nggak. Gue pandai menjaga diri…”

“Siapa yang nuduh…”

“Gue tahu pikiran elu Kak…”

“Hahaha. Sok tau.”

“Ngeles aja.”

Johan berbalik menghadap Mario.

“Aku percaya sama kamu kok, adik manis…” kata Johan disertai senyum menggoda.

Mario mencebikkan bibirnya.

“Emang kamu sama kakakmu nggak akur ya?”

“Kita jauh.”

“Jauh apanya? Rentang usianya?”

“Tempatnya.”

“Pantesan aku nggak pernah lihat dia… Emang dia di mana?”

“Masih di bumi kok.”

“Belahan mana?”

“Kanada.”

“Yeee… Serius.”

“Serius kok. Udah ah, males bahas soal keluarga,” pungkas Mario sepihak.

Johan tersenyum. Lagi-lagi Mario tak nyaman jika mereka membahas soal keluarganya. Johan benar-benar penasaran, tapi berusaha ditutupinya.

“Ya udah, tidur lagi gih…” Johan mengelus kening Mario sekaligus merapikan rambutnya.

“Thanks…”

Johan tersenyum.

“Seandainya Kakak gue atau Aya—” Mario memutuskan kalimatnya.

“Kita tak akan pernah bisa menghindar dari keluarga. Kemanapun kita pergi, ikatan darah tak akan bisa diputus…” ucap Johan sembari menatap Mario lembut.

“Ya,” ucap Mario singkat.

“Di sini ada aku yang bisa kamu anggap sebagai pengganti Kakakmu. Kakak pasti akan membantu apa kesulitan kamu…”

“…”

“Yang lain-lain nggak usah dipikirin. Anggap aja kamu istimewa.”

Mario mendongakkan wajahnya.

“Hehehe, nevermind.”

“Nggak ngerti.”

“Ya, lupakan.”

“Gue istimewa?”

“Ya, anggap aja begitu.”

“Justru Kakak yang istimewa.”

“Eit, sembarangan! Masih normal ya…”

“Ini lagi ngomongin apaan sih?” Mario nggak mudeng.

“Hahaha. Lupakan…! Lupakaaannn…!”

“Dibilang istimewa nggak mau…” gerutu Mario.

“Udah, udah, otak kamu masih tidur tuh keknya…”

Mario mesem-mesem.

“Eh, Kak, sampai umur berapa Kakak tidur bareng ortu?” tanya Mario tiba-tiba.

“Kenapa? Nggak ingat tuh.”

“Kira-kira aja. SD, SMP, SMA…”

“SD deh keknya. Sampai kelas 2 SD. Emang kenapa? Kamu sampai SMA ya? Pantes manja,” ledek Johan.

“Sembarangan! Gue itu dari kecil udah nggak tidur sama Mama lagi,” bantah Mario.

“Sama Papa ya?”

“Gue belum pernah tidur sama Papa sampai hari ini…”

“Masa? Nggak mungkinlah…”

“Serius. Dari kecil gue nggak pernah ngerasain tidur di pelukan Papa…”

“Saking sibuknya beliau ya?”

“Mungkin…” jawab Mario pelan.

“Sama aja kok. Mau Mama atau Papa, semuanya sama. Mereka sama-sama sayang sama anaknya. Cuma mungkin caranya aja yang beda…”

“Tapi gue kadang-kadang mikir, gimana ya rasanya ngobrol sama Ayah? Becanda sama Ayah? Bahkan tidur dipeluk Ayah…” tatapan Mario menerawang.

“Mau tahu rasanya?”

“Pengen banget sih…”

“Sini, sebelum dipeluk sama Papa beneran, rasain dulu pelukan bakal calon Papa,” Johan beringsut mendekati Mario dan membawa tubuh Mario ke dalam dekapan hangatnya.

***

***Mario***

Gue tersentak dan tak percaya dengan apa yang gue rasakan sekarang.

Gue sekarang lagi di dalam lingkaran lengan Kak Jo yang hangat. Tanpa malu-malu, gue langsung mengambil kesempatan membenamkan wajah gue ke dadanya. Mencium wangi tubuhnya dalam-dalam seraya memejamkan mata dan menikmati suasana hangat dan romantis pagi ini.

“Gimana rasanya?” tegur Kak Jo.

“Eng?”

“Rasanya…”

“Emang gini ya rasanya dipeluk papa?”

“Gak jauh bedalah… Bahkan yang ini rasanya lebih legit.”

“Kue kali.”

“Hahaha. Maklum fresh from the oven…”

“Kalo Papa gue kek Kak Jo gimana yah…?”

“Gimana apanya? Pastilah masuk daftar Hot Daddy…”

“Haish! Pede gila.”

Kak Jo terkekeh.

“Kalo gitu Kakak gue jadiin pengganti Papa gue yah?” tanya gue tiba-tiba.

“Eits! Apa-apaan???”

“Nggak apa-apa dong.”

“Masa jadi papa adopsi sih…”

“Papa angkat.”

“Kenapa sih kamu kok segitunya? Seakan-akan Papa kamu nggak perhatiin kamu…”

“Emang iya!” sambar gue cepat.

“Oh ya?”

“Iya. Dia itu—” gue menghela napas. Gue gak mau membuka apapun.

“Dia itu apa?”

“Nggak.”

“Kakak nggak boleh tahu?”

“Bukan nggak boleh, tapi belum,” koreksi gue.

“Iya, gak apa-apa kok…”

“Jadi boleh nggak gue panggil papa?”

“Janganlah… Kakak aja.”

“Hmmm… Ya udah,” kata gue pelan. Sedih.

“Kamu kan sudah punya Papa.”

“Kalo gitu gue panggil Ayah, boleh?”

“Ayah dan Papa sama aja.”

“Tapi kan beda. Kalo Papa untuk orang tua kandung. Nah, kalo Ayah khusus buat Kakak…”

“Hmmm, maksa nih?”

Gue nyengir di bawah tatapannya.

“Ya udah. Gak apa-apa. Tapi di antara kita berdua aja yah…”

“Kenapa?”

“Ntar kalo orang lain dengar, mereka gempar. Punya anak, tapi istrinya manaaa…?”

Gue terkekeh membayangkan kota kecil ini gempar karena calon guru yang cakep dan memiliki reputasi bersih ternyata sudah punya anak segede gue, berumur 17 tahun dan ganteng pula. Hihihi.

“Ya, i see…”

“Lebih mengerikan lagi kalo Kakak dituduh jadi suami baru mama kamu… Huuhhfff…”

“Hahahahaha….!” gue ngakak sengakak-ngakaknya.

“Hufff… Girang banget…”

“Lucu, Kak, eh, Ayah…”

Kak Jo terkekeh.

“So, sekarang gue mo tidur lagi. Peluk gue ya, Yah?” gue mengedipkan mata.

“Baiklah anakku,” Kak Jo mendekap gue lebih erat.

Gue tersenyum dengan hati berbunga-bunga. Gue rasanya gak percaya dengan apa yang gue rasakan saat ini. Tapi, ini ciyus lho. Hihihi.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: