Chapter IXc

***Mario***

Gue langsung gak tahu mesti ngapain, ketika sambungan diputus.

Gue bingung, mau lanjut makan, atau berdiri atau duduk atau ngomong atau…

“Homoan elu ngemeng apa?” tegur Gugum.

Gue gak jawab.

“Dia nembak elu? Ngajakin elu kawin?” cerocos Gugum lagi.

“Ssttt…!” gue geram sama mulut nyinyirnya dia.

Gugum mencebikkan bibirnya.

Gue mendongak ke atas, berharap ada seseorang yang bisa ngasih pencerahan ke gue.

Gue tiba-tiba teringat sama HP gue yang sejak tiga hari lalu gue biarkan mati karena low bat.

Kak Jo nyuruh gue aktif-in HP lagi.

Gue meraba-raba kantong jeans, HP gue gak ada di sana.

Akh, gue baru ingat, HP gue kan di dalam tas.

“Gue pulang dulu ya. HP gue ketinggalan,” pamit gue ke Gugum.

“Habisin dulu nasgornya, Bray,” kata Gugum.

“Biarin. Gue udah kenyang!” balas gue sambil langsung setengah berlari menuju rumah Gugum.

Sesampai di kamar, gue langsung menghidupkan HP sekaligus men-charge-nya.

Kurang dari setengah menit, beberapa buah SMS langsung masuk.

Pertama,

[b]Dari: Kak Jo
Date: 06/02/2013
Time: 19.05

knp blm pulang?[/b]

Kedua,

[b]Dari: Kak Jo
Date: 06/02/2013
Time: 22.27

Mario, km dimn?[/b]

Ketiga,

[b]Dari: Kak Jo
Date: 07/02/2013
Time: 04.55

Mario.[/b]

Keempat,

[b]Dari: Kak Jo
Date: 09/02/2013
Time: 16.24

MARIO PULANG KALO KAMU MASIH INGAT TUJUAN KAMU DULU APA[/b]

Deg. Gue langsung menelan ludah pahit setelah membaca SMS terakhir Kak Jo yang dikirimnya beberapa menit yang lalu.

Selain pesan singkat, ada juga 10 buah pesan WA yang masuk. Sembilan buah dari Arie, dan satunya dari Kenanga.

[quote][u]06-02-2012[/u]

BF_Arie: Lg apa Mo? (16.16)
BF_Arie: Mo, kata Mr. Jo elu mo maen ke rmh gue? Kok gak jadi? (22.54)

[u]07-02-2013[/u]

BF_Arie: kok elu blm datang, Bray? Bntar lg masuk (07.26)
Kenanga: O, Kok Qm gak Msux? (07.54)
BF_Arie: Bray, knp elu gak sklh? (08.05)
BF_Arie: Ulangan BI bray! (08.42)
BF_Arie: Bray, elu dimn???(09.41)
BF_Arie: Maksi, Bray… (14.06)
BF_Arie:😦 (20.14)
BF_Arie: met tidur, Mo, dimanapun elu berada. (21.54)[/quote]

Gue tersenyum membaca semua pesan WA Arie. Dia perhatian juga sama gue. Udah jelas-jelas WA-nya nggak gue baca, tapi masih aja ngirimin gue pesan. Dasar Dodol. Hehehe.

***Johan***

Setelah memberi ultimatum ke Mario lewat [i]short message[/i] dan [i]by phone[/i], sekarang aku tinggal menunggu anak itu pulang. Aku yakin dia akan mendengarkan omonganku. Ada sesuatu—yang aku sendiri belum mengerti—yang selama ini membuat Mario sepertinya begitu penurut sama aku. Entahlah. Padahal dia itu tipe pembangkang. Itu bisa aku baca saat pertama kali aku mengajar di kelasnya. Ia susah untuk dikendalikan. Bahkan sikapnya itu tercermin saat ia berkomunikasi dengan mamanya. Tapi perlahan-lahan ia seperti anak kecil yang begitu mudah kukendalikan.

Bahkan Arie saja tak habis pikir bagaimana caraku merubah sikap Mario. Menurutnya, Mario itu sosok yang sama sekali tak mau diatur. Ia hidup dengan gayanya sendiri dan semaunya sendiri. Sebelum ia pindah ke rumahku, Mario memang jarak absen sekolah, tapi bukan berarti raganya selalu di dalam kelas. Ia akan sesukanya mangkir dari pelajaran dan nongkrong di kantin atau sembunyi di belakang sekolah di saat-saat mata pelajaran yang tidak disukainya sedang berlangsung.

Jika di sekolah saja, hampir tak ada yang bisa mencegahnya, apalagi di rumah. Kamarnya berantakan dan hampir tak tersentuh sapu, kecuali jika Bik Dar yang membersihkannya. Omongan Mamanya tak pernah didengar. Ia pulang, pergi, main dan nginap di rumah teman-temannya kapanpun ia mau.

“Dulu cuma omongan gue yang didengar, Mario. Itupun kadang-kadang,” kata Arie.

Saat ia mengatakan itu, aku tersenyum simpul. Tentu saja Mario akan mendengarkan Arie. Anak itu kan naksir Arie (Agak berat aku mengatakan ini. You know the reason).

Tapi sekarang, menurut cerita Arie, sedikit demi sedikit sikap Mario sudah berubah. Ia yang pemalas, perlahan mulai berubah rajin. Saat Arie bertandang ke rumahnya, kamar anak itu sudah rapi dan bersih. Ia juga tak pernah bolos saat mata pelajaran berlangsung, meskipun mata pelajaran itu tak ia sukai. Yang membuat aku lumayan bangga, sekarang ini Mario mulai aktif saat diskusi dan kemampuannya memahami materi pelajaran meningkat. Itu tandanya, omonganku didengarnya. Ia juga sungguh-sungguh ingin mewujudkan harapannya itu.

***

Saat adzan Maghrib berkumandang, terdengar suara deruman motor berhenti di depan pintu pagar. Aku yang sedang menutup tirai jendela kamar langsung melihat siapa yang datang.

Seperti dugaan awalku, Mario pasti akan pulang. Aku lebih memilih ia mengetuk pintu ketimbang membukanya dan berdiri menunggunya di ambang pintu.

Tak lama kemudian, bel berdering.

Aku langsung membuka pintu. Sejenak tatapan kami beradu. Mario langsung menarik tatapannya dari wajahku. Ada ketakutan yang terbaca di bola matanya.

Ia takut kumarahi mungkin. Tapi kali ini aku berjanji tidak akan mengungkit apapun. Aku tak akan memojokkan dia atau menceramahi dia. Biar dia sendiri yang mereview tindakannya.

“Masuk…” kataku.

Ia langsung masuk tanpa berkata sepatah katapun.

Aku langsung meninggalkannya menuju raung tengah dan menyalakan TV. Setelah itu beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.

Saat aku kembali, Mario sudah duduk di depan TV.

“Sholat, Yuk?” ajakku.

Ia mengangguk dan langsung beranjak ke kamar mandi tanpa sepatah katapun.

Setelah ia mengambil air wudhu, kami berduapun salat berjamaah untuk pertama kalinya…

Selesai salat, kami berdua beranjak ke ruang tengah lagi.

“Sudah makan?” tanyaku.

“Sudah, tadi sore…”

“Makan lagi yuk?”

“Engg…”

“Atau mau cari makan di luar?” usulku.

Mario melihatku sejenak.

“Makan sate keknya enak… Atau Pecel Lele…”

“Emang di rumah gak ada makanan?”

“Ada. Tapi udah lama nggak makan di luar…” terangku.

“Pergi sekarang?”

“Bentar lagi lah… Lima menit lagi,” kataku.

Mario mengangguk.

***

***Mario***

*Pukul 17.07*

Sedari tadi gue bimbang untuk mengambil keputusan. Gue harus pulang atau nggak?

Gue bingung. Di satu sisi gue pengen banget pulang dan tinggal sama Kak Jo lagi. Itukan yang gue harapkan selama gue dalam masa “pelarian”. Gue udah rindu sama dia dan kehidupan gue di sana. Tapi di satu sisi, hati gue membahas soal harga diri dan gengsi. Gue udah didiemin sama dia ketika di sana. Gue nggak dianggap. Dan sekarang gue harus kembali ke tempat dia? Dia aja nyuruh pulang nggak ada lembut-lembutnya. Bahkan huruf-huruf di SMS-nya di-capslock semua…

“Eh, elu kenapa sih, Bray? Udaahh, terima aja,” tegur Gugum.

“Terima apaan lagi?”

“Homoan elu itu…”

“Diam elu, Semprul! Tiap hari elu ngomongin homo, homo, homoooo terus. Jangan-jangan elu yang homo!”

“Hahaha. Kalo gue homo, dah habis elu selama di sini, Panjul!”

“Siapa tahu aja elu lagi nyusun rencana busuk buat ngelakuin itu…”

“Rencana apaan? Selagi gue nggak kesambet setan homo, dijamin, pantat elu gak bakal kenapa-kenapa, hahaha…!”

“Hadeeehhh, payah deh ngemeng sama orang yang otaknya di pantat. Omongannya gak jauh-jauh dari pantat, weeekkk…!” ledek gue.

“Pantat elu!”

“Tuh kaaannn…”

Gugum mencebikkan bibirnya lalu menghisap rokoknya dalam-dalam.

Setelah saling melempar ejekan sama Gugum, pikiran gue kembali disibukkan sama pilihan pulang atau nggak.

Pulang, enggak, pulang, enggak, pulang.

Jadi gue harus pulang nih? Hati kecil gue menolak.

Oke, sekali lagi.

Pulang, enggak, pulang, enggak.

Nah lho? Hati kecil gue yang lain protes.

Huffhhh… Pusing gue.

“Woyy! Elu kenapa sih, Bray?” tegur Gugum lagi.

Hmm, minta pendapat Gugum aja deh.

“Gum, gue ada game nih… HP gue kan punya banyak tombol keypad nih ya…” gue memperlihatkan HP Qwerty gue ke Gugum.

“Iya gue tau. Emang HP elu aja yang lebar?”

“Nah, gue punya dua kata nih, yaitu Ya atau Tidak. Elu silahkan pilih Ya atau Tidak, terus pencet salah satu tombol HP gue bebas yang mana aja.”

“Game apaan nih?”

“Ikutin aja aturan mainnya!”

“Oke. Gue pilih Ya!”

“Sip. Terus silahkan pilih tombol mana?”

“Tombol G!”

“G? Oke!” gue mulai menghitung ya dan tidak dari tombol pertama (Q) sampai tombol G.

“Yeah, apa boleh baut*, gue emang mesti pulang!” seru gue sembari bergegas mengambil tas di kamar.

“Eh, maksud elu apa, Panjul?!” seru Gugum.

“Gue mo balik!” jawab gue sambil menyandangkan tas ke bahu.

“Game elu tadi gimana?”

“Nggak ada game-gamean! Gue mo balik dulu, Bray! Thanks udah nampung gue dua hari ini. Elu emang salah satu homoan gue yang paling homo, eh paling paling baik maksudnya!”

“Bangsat!” Gugum menendang pantat gue, tapi gue buru-buru mengelak.

“Dadah Homoan gue…!” gue pamit ke gugum.

“Bangsat!”

Gue ngakak.

***

Dari rumah Gugum, gue muter dulu kesana kemari. Gue nggak berani langsung pulang. Gue nggak mau kena marah dari sore sampai malam sama Kak Jo.

Saat Adzan Maghrib berkumandang, gue baru memutuskan buat pulang. Ini waktu yang tepat. Kalo pulangnya malam-malam, ntar dosa gue di matanya makin bertambah.

Di jalan, semakin dekat jarak gue dengan rumah Kak Jo, dada gue semakin berdebar keras. Huuhhh, kira-kira sebesar apa kemarahan Kak Jo ntar ya?

Gue menekan bel dengan tangan gemetar. Sebelum gue menghembuskan satu tarikan nafas, pintu sudah terbuka.

Kita berdua beradu pandang, hanya sebentar. Gue gak sanggu penatap bola matanya yang pekat.

Kak Jo menyuruh gue masuk, setelah itu langsung berlalu. Gue menghembuskan napas lalu mengunci pintu.

Saat gue masuk, Kak Jo lagi menghidupkan TV. Gue langsung ke kamar dan menaruh tas di atas ranjang. Setelah itu mengurut dada sejenak, berusaha menenangkan pikiran dan menguatkan hati untuk mendengar muntahan murka Kak Jo nanti.

Gue keluar kamar dengan hati masih berdebar-debar. Shit. Gak bisa diajak kompromi banget sih hati gue…?!

Eh, ternyata Kak Jo gak ada di sana. Gue kembali menarik napas lega sambil duduk di salah satu sofa. Kemudian Kak Jo kembali masuk dengan rambut dan muka basah.

“Salat, yuk?” ajaknya.

Gue mengangguk ragu. Tapi buru-buru ke kamar mandi. Gue mengambil wudhu lalu kita salat berjamaah. Dalam doa, gue berharap semoga gue diberi ketenangan dan masalah ini berakhir manis.

Habis salat, nggak ada tanda-tanda Kak Jo bakal memulai ceramahnya. Bahkan mimik wajahnya nampak tenang dan tak menunjukkan gurat kemarahan sama sekali. Ini pertanda baik atau buruk ya???

Yang lebih anehnya lagi, Kak Jo mengajak gue dinner ke luar!

Wow. Apa mungkin doa gue tadi sudah dikabulkan Tuhan?

Semoga. ;D

***

Mario dan Johan pulang ke rumah setelah makan malam sekitar pukul 20.18. Di jalan mereka mampir dulu di supermarket untuk membeli snack.

Sesampainya di rumah, Johan langsung mengerjakan salat Isya, sementara Mario menonton TV.

Habis salat, Johan bergabung bersama Mario. Mereka nonton sambil menikmati snack dalam diam. Memang suasana di antara mereka belum mencair. Terutama Mario. Ia tak tahu harus bicara apa sama Johan. Ia kehabisan topik untuk dibahas. Lagi pula, sebenarnya ia masih menanti kapan Johan membuka percakapan mengenai permasalahan kaburnya dia.

Namun, sampai detik ini, Johan tak juga menyinggung masalah itu. Seakan-akan Mario tak melakukan apa-apa.

Tentu saja Mario jadi bingung sekaligus senang.

Akhirnya, ia sendiri yang membuka percakapan tentang masalah itu. Menurutnya, lebih baik ia terlebih dulu mengakui kesalahannya. Itu lebih baik dan Johan pasti suka.

“Kak, gue minta maaf soal beberapa hari ini…” ucapnya pelan.

“Nggak usah dibahas lagilah. Anggap aja itu pelajaran buat kita,” kata Johan bijak.

Kita? Mario bertanya-tanya.

“Sekarang fokus ke tujuan kamu dan anggap aja masalah itu udah clear, okey?”

“Ungg, okey…” jawab Mario kikuk. Ia betul-betul tak mengerti dengan isi kepala Johan saat ini.

“Jadi gue tetap boleh tinggal di sini kan?”

“Tentu dong. Makanya Kakak nyuruh kamu pulang.”

“Gue gay. Kakak nggak takut…?”

Johan menoleh. Tanpa berkata-kata ia langsung memeluk Mario.

“Ini cukup?” tanya Johan.

“….” Mario tak bisa berkata-kata. Ia shock dengan perlakuan Johan barusan.

Johan melerai pelukannya.

“Gay sama aja dengan cowok normal lainnya kali ya? Nggak sembarang cowok pengen diembatkan? Cuma cowok yang menarik hati kalian ajakan? Dan aku bukan termasuk dalam bagian yang menarik hati kamu. Jadi kenapa mesti takut?” Johan menatap Mario lekat.

Mario memaksa bibirnya tersenyum. Dia pengen banget bilang kalo sebenarnya Johan sangat menarik hatinya. Bukan hanya menarik hati, tapi sudah menjungkir-balikkan hatinya selama ini. Tapi buru-buru keinginan itu ia tahan, dari pada menambah masalah baru.

“Mulai sekarang nggak perlu ada yang ditutup-tutupi lagi. Cuma Kakak minta satu hal sama kamu, bisa kan kamu lebih mementingkan sahabat dari pada cinta?”

Mario mendongakkan wajahnya.

“Ini tentang kamu dan Arie…”

“Oh, iya, gue ngerti…”

***

Yes! Gue rasanya pengen teriak sekencang-kencangnya sambil jumpalitan di atas tempat tidur. Akhirnyaaaaa… Gue bisa lagi tidur di kamar ini!

Gue langsung teringat Ariesboyz. Gue pun langsung PM dia mengenai Kak Jo yang udah bisa terima keadaan gue. Dia turut senang katanya dan berharap gue dan Kak Jo bisa jadian. Tentu aja gue langsung mengamini. Hihihi.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: