Chapter IXa

*06 Februari 2013*

Alarm handphone Mario berbunyi. Ia menggeliat bangun. Sekarang baru saja pukul lima pagi.

Ia sengaja bangun lebih awal dari biasanya. Ada yang ingin ia buktikan.

Sembari menunggu waktu berjalan, ia online di Facebook sambil terus terbungkus selimut di atas tempat tidur.

Ayam Pak Rahik, berkokok. Mario kembali melihat jam. Kurang lima menit dari pukul setengah enam.

Mario turun dan menyingkap tirai jendela. Suasana di luar belum terang benar.

Ia kembali ke ranjang dan membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut. Hawa dingin kota ini terasa cukup menggigit, pun bagi Mario yang sedari lahir bermukim di sana.

Tak lama kemudian, terdengar suara kecil. Seperti langkah kaki… Kunci di buka… Pintu garasi bergeser…, sepertinya Johan sudah bangun dan sedang membuka pintu garasi.

Lantas terdengar bunyi mesin motor dinyalakan. Johan sedang memanaskan mesin motornya. Hanya beberapa menit saja. Kemudian terdengar suara pintu garasi kembali ditarik dan deruman motor perlahan menjauh.

Mario menghela napas. Sekarang terbukti sudah, Johan tak menghiraukannya lagi. Hari Minggu yang lalu, Johan tidak membangunkannya dan tidak mengajaknya belanja ke pasar dengan alasan lupa. Tapi apa mungkin kali ini alasannya lupa lagi???

[i]Gue sekarang udah tahu di sisi mana Kak Jo berada…[/i], desis Mario.

Kecewa. Jujur, satu kata itu sekarang tengah melingkupi benaknya. Ia kecewa dengan sikap penerimaan Johan pasca-pengakuan itu. Ia tak akan sekecewa ini jika ia tak mendengar pendapat Johan tentang Gay sebelumnya. Ia sadar, tidak mudah menerima keadaannya, bahkan untuk dirinya sendiri. Tapi bolehkan ia menuntut aplikasi dari pernyataan Johan beberapa waktu lalu itu? Mana bukti dari serangkaian pernyataan Johan yang begitu dewasa menyikapi orientasi seksual seseorang???

Mario termangu di atas ranjang. Sedih, kecewa, sesal, marah, benci pada keadaan, semuanya terangkum dalam benak Mario saat ini.
[quote]
[color=blue][b]Mario Indonesia[/b][/color]
Biarkan sesak ini membeku bersama dinginnya pagi.
Baru saja. Suka . Komentari . Bagikan . Hapus[/quote]

***

Mario tengah menyiram bunga, setelah menyapu seisi rumah, ketika Johan tiba dari pasar.

“Baru pulang, Kak?” tegur Mario.

“Iya,” Johan mengangguk dan melepas helm-nya. Setelah itu ia langsung berlalu ke dalam.

Mario tersenyum, berusaha membesarkan hatinya. Ia tak ingin menyinggung tentang apa alasan Johan lagi-lagi tak membangunkannya.

Setelah semua kembang dalam pot yang berjejer di teras sudah di sirami, ia menemui Johan di dapur. Cowok itu tengah mengupas bawang.

“Gue bantu ya?” Mario menawarkan diri.

“Nggak usah. Kamu mandi aja, ntar telat sekolahnya.”

“Oke…” jawab Mario pelan. Ia berjalan ke kamar. Saat melintasi ruang keluarga, ia melirik jam di dinding.

Pukul 06.08.

Masih begitu banyak waktu sebelum bel masuk sekolah berbunyi tepat di pukul 07.30.

Mario geleng-geleng kepala mengingat alasan penolakan Johan tadi.

Ia mencoba menenangkan perasaannya dengan menghela napas sebanyak mungkin. Berharap sesak yang mengganjal bisa ikutan keluar seiring setiap hela napasnya.

Selesai mandi, Mario berencana langsung ke sekolah tanpa menunggu menu yang disiapkan Johan masak.

“Kak, gue pergi ya…” pamit Mario.

“Iya, hati-hati.”

Mario menjawab dengan anggukan pelan, meskipun saat menjawab pamitannya tadi Johan tidak menoleh sama sekali.

Mario menghela napas dan menarik langkahnya.

Sejujurnya, bukan jawaban itu yang Mario ingin dengar. Ia ingin Johan menahannya, menunggu menu yang ia sediakan tersaji dan mereka sarapan bareng seperti hari-hari sebelumnya.

Ah, lupakan, desis Mario getir.

Di sekolah, hatinya masih juga tak menentu. Suasana kaku dan canggung di rumah, terbawa sampai ke sekolah.

“Hey, Bray!” Arie menepuk punggungnya.

“Rie…” respon Mario pelan.

“Tumben elu datangnya pagi amat?”

“Elu sendiri?”

“Gue dapat giliran piket kali. Tuh lihat nama gue…” Arie menunjuk daftar piket siswa yang ditempel di tembok kelas.

“Ohhh…”

“Bantu gue, yak?” Arie nyengir.

“Apa?”

“Angkatin kursi. Gue dua baris ini, elu dua baris sana. Oke Sayang?”

Mario langsung bergerak tanpa merespon omongan Arie barusan.

Waktu istirahat…

Mario dan Arie duduk berhadapan di kantin. Di depan mereka masing-masing tersaji semangkuk Model dan Teh botol dingin.

“Woy…! Makan…!” tegur Arie. Saat itu Mario duduk melamun.

“Gue nggak nafsu makan…”

“Ebuset! Kenapa elu? Nggak biasanya…” desis Arie keheranan.

Mario geleng kepala sambil mengaduk-aduk kuah model dengan sendok.

“Elu sakit, Mo?” tanya Arie.

“Nggak…”

“Atau cacingan kali?”

Mario mendesis.

Arie terkekeh.

“Makan dong ah! Mubajir tau…”

“Elu aja kalo mau…” Mario menyodorkan mangkuk Modelnya ke arah Arie.

“Serius…???”

“Duarius.”

“Duarius Sinathrya…”

Mario tak membalas.

“Elu pagi tadi sarapan apa? Masih kenyang ya?” tanya Arie.

“Gue nggak sarapan.”

“Lha, terus sekarang nggak juga makan? Perut elu mo diisi ama apa? Angin??? Gimana mau belajar kalo gak ada tenaga… Ayo makan!” omel Arie seraya mendorong lagi mangkuk Model ke depan Mario.

“Nggak…”

“MAKAN!”

Mario tak bergerak.

“Ayolah, Mo. Bentar lagi masuk lho… Apa mau gue suapin, eh?” Arie menyendokkan Model dan kuahnya ke dalam sendok. “Nangningnang ningnangningnung… Ayo makan, Adik manissss….”

“Ugh!” Mario menyingkirkan tangan Arie dari depannya.

“Ya udah, terserah elu deh…” Arie nyerah. Ia kembali melahap Model-nya sendiri.

“Eh, Rie, menurut elu, kalo ada orang yang jelas-jelas nggak suka sama elu, maka sikap elu gimana?” tanya Mario tiba-tiba.

“Menjauhlah.”

“Gak berusaha buat dia suka gitu?”

“Kalo bisa ya diusahakan. Tapi kalo kagak, ya udah… Kenapa? Ada orang yang benci ama elu, Mo?”

“Nggak…”

“Tapi biasanya seseorang bisa benci itu karena ada sebabnya dong… Nggak mungkin elu benci atau nggak suka sama seseorang gitu aja… Iya nggak?”

“He-eh…”

“Jadi kalo bisa cari tahu dulu kenapa dia benci. Kalo emang salah di kita, tahulah harus gimana, Mo. Tapi kalo bencinya gak jelas, mending ceburin ke comberan aja dah!”

“Kalo misalnya penyebabnya itu karena sesuatu, bukan suatu kesalahan gitu, dan sesuatu itu bikin dia gak suka gimana?”

“Sesuatu? Apaan? Kek Syahrini aja elu! Contohnya apa?”

“Status elu misalnya…”

“Status gimana?”

“Ck, misalnya elu kena penyakit. Nah orang baru tahu tentang itu. Setelah tahu dia langsung takut dan menjauh dari elu… Gimana?”

“Jangan sampe deh…”

“Seandainya…”

“Semua kembali ke hati masing-masing kali ya? Kalo orangnya bisa menerima seseorang tanpa memperdulikan status atau masa lalunya atau penyakitnya, mungkin itu bukanlah masalah. Tapi kan di dunia ini kebanyakan orang yang pikirannya sempit dari pada yang terbuka???”

“Jadi elu gimana?”

“Kalo gue sih mendingan menjauh juga lah. Tuh orang berarti nggak bisa menerima kita dong ya? Gimana mo menjalin hubungan yang baik kalo kek gitu…” Arie menyeruput teh botolnya.

Mario ikut-ikutan menyeruput teh botolnya yang masih penuh.

“Emang kenapa sih, Mo? Tiba-tiba aja elu nanya beginian?”

“Nggak apa-apa. Eh, ini duit makanan gue,” Mario menaruh uang ke atas meja. “Gue mo ke toilet. Makanan gue ambil aja,” sambung Mario sembari pergi dengan teh botol di tangan.

“Siippp…!”

***

Mario pulang dengan sebuah keputusan. Ia sudah memutuskan satu hal sepanjang hari ini.

Pergi. Ya, pergi.

Seperti kata Arie, untuk apa dia terus bertahan untuk orang yang tak bisa menerima keadaannya?

Seperti kata Ariesboyz juga, semakin cepat elu tahu tentang Pak Guru, semakin mudah juga elu menentukan sikap.

Dan siang ini, ia sudah memiliki sikap. Ia akan mundur dari keinginannya, meskipun itu terasa berat…

***

Mario melipat semua pakaiannya dan dijejalkan ke dalam tas bersama barang-barang lainnya. Separuhnya ia masukkan ke dalam tas plastik.

Tak ada lagi yang tersisa.

Ia lantas keluar dan bermaksud menemui Johan. Cowok itu lagi di kamarnya.

Mario mengetuk pintu kamar dengan ragu.

“Iya?” terdengar suara dari dalam.

“Gue, gue mau pergi Kak…”

“Oh, iya.”

Mario menelan ludah. [i]Dia nggak nanya gue mo kemana?[/i]

“Gue pergi sekarang.”

“Iya, iya.”

Mario menyeret langkahnya keluar.

“Yo, Mario…!”

Mario berhenti. “Ya…?”

“Sudah makan? Makan dulu.”

Mario tak menjawab.

Lupakan, desisnya dalam hati. Ia bergegas kembali ke kamar, mengambil barang-barangnya dan pergi mengendarai motor.

Dalam perjalanan…

Mario menurunkan kaca helmnya. Matanya berkaca-kaca. Ia benar-benar pengen nangis, tapi sekuat tenaga di tahannya.

Selama ini ia pikir Johan orang yang beda. Orang yang akan mengubah sikapnya dan memberi rasa aman dan perhatian buat dirinya. Ia keliru. Johan bukan sosok yang tepat untuk menggantikan sosok seseorang yang selama ini ia inginkan. Entah, mungkin tak akan pernah ada… Tak kan ada…

[i]Hidup gue memang gak akan lengkap… Gak akan sama seperti teman-teman gue… Gak ada yang bisa memberi rasa itu…[/i] gumam Mario lirih.

Ia mengusap matanya yang perlahan kabur. Air mata yang tak mampu ia tahan terus menetes, menghalangi pandangannya ke jalan raya.

Mario kemudian mengambil handphone di saku bajunya.

[i]Gue harus kemana?[/i] pertanyaan itu tiba-tiba muncul.

Ia gak ada niatan untuk pulang ke rumah. Ia benci rumah. Semua kejadian ini baginya bermula dari sana, tempat yang tak pernah memberikannya kasih sayang yang lengkap sehingga membuatnya seperti ini.

[i]Apa gue pergi ke rumah Arie?[/i] hati kecilnya bertanya. [i]Nggak. Gue nggak mau kesana. Gue juga benci dia. Kalo seandainya dia nggak pacaran sama itu cewek, mungkin hati gue gak bakalan beralih suka ke Kak Jo… Arie teman gue, tapi dia nggak pernah ngerti perasaan gue,[i] hati kecilnya menyalahkan Arie.

[i]Lantas kemana???[/i]

Gugum.

Ya. Ke tempat Gugum aja deh. Di sana ia bisa bebas. Gak bakal ada yang rewel sama dia. Gak bakal ada yang nanya macem-macem tentang keadaannya. Gugum juga selalu terbuka sama dia. Selalu mengizinkannya tinggal di sana sesuka hatinya.

Mario mempercepat laju motornya menuju kediaman Gugum…

Hinggar bingar suara musik Remix langsung memekakkan telinga Mario setibanya di rumah Gugum.

“Hey, Braaayy…!” seru Gugum menyambut kedatangan Mario.

“Apa kabar, Bray? Lama nggak ke sini…? Sombong elu ah! Homoan elu juga tuh, si Arie, udah sombong banget…” cerocos Gugum.

“Homoan, homoan… Sembarangan aja elu!”

“Hahaha…! Masuk nyok!” Gugum menepuk pundak Mario.

Di ruang tamu, nampak beberapa orang duduk sambil merokok. Total ada lima orang. Dari kelimanya, hanya dua orang yang Mario tahu. Anjos dan Anda. Keduanya anak SMA Negeri 4. Selebihnya Mario baru lihat pertama kali.

“Halo, Yo!” sapa Anjos dan Anda.

“Hey…!” balas Mario.

“Rumah elu masih rame aja, Gum…”

“Iya. Selalu rame. Gue pan pencinta keramaian…” Gugum ketawa.

“Dasar elu tuh. Tiap hari gawenya maeeeen mulu. Kapan elu belajarnya, oey?! Bentar lagi UN…”

“Tenang ajalah. Kitakan punya banyak teman tempat nyotek, Sob. Itulah gunanya teman, iya nggak???”

“Geblek! Dari dulu selalu jurus itu elu pake! Kuno ah!” Mario mendorong kepala Gugum.

“Hehehe… Eh, ini tas elu kembung amat? Dari mana elu?” Gugum memukul-mukul permukaan tas Mario.

“Baju.”

“Lha, banyak amat dah?”

“Iya. Baru gue ambil dari rumah Tante gue. Udah ah, gue taroh di kamar dulu. Berat nih…”

“Buruan gih! Terus gabung ama kita-kita. Kita enjoooyyy…!!!”

Mario tak menjawab omongan Gugum barusan, melainkan langsung menuju ke lantai atas, tempat kamar Gugum berada.

Sesampai di kamar, Mario mendapati ruangan itu berantakan luar biasa. Celana, boxer, kertas dan sebagainya berserakan di segala penjuru kamar. Di atas tempat tidur, ada seorang cowok cuma pake boxer doang tengan tertidur. Entah siapa lagi. Lumayan manis, tapi bukan tipe Mario.

Malam harinya, suasana rumah Gugum makin kacau. Ada beberapa teman lagi yang datang. Dari hasil ngobrol dan kenalan, ternyata mereka siswa SMK dan dua orang udah putus sekolah.

Mereka semua ngobrol dan merokok diiringi dentuman musik dengan volume maksimal.

“Rokok, Yo?” Anjos menyodorkan bungkus rokok ke dekat Mario.

“Iya, thanks…”

“Elu nggak ngerokok, Bray?” tanya Gugum sembari menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

“Nggak…”

“Yaelah! Cemen elu ah! Ayam berkokok di pohon Duren, Nggak merokok nggak keren!” ledek Gugum.

Mario terkekeh.

“Pantun lama banget, Bray!”

“Tapi masih berlaku ampe sekarang,” sambar Anda.

“Yoi! Kata cewek gue, bau rokok itu seksi…” sambung Bram, salah satu teman Gugum yang baru datang malam ini.

“Cewek elu aja yang otaknya miring, Bro,” balas Mario.

Tawa mereka berderai.

“Ngerokok itu bisa menentramkan pikiran, Bray. Bisa bikin elu rileks…” ujar Gugum.

“Bener banget tuh! Elu mendingan coba gih…! Pasti ntar elu ketagihan,” bujuk Anjos.

“Gue udah pernah coba, Jos. Rokok, miras, semuanya udah gue cicip! Gak ada enak-enaknya…” bantah Mario.

“Huh! Tubuh elu aja yang lemah, Bray!” ledek Gugum.

“Anak Mami sih… Hahaha…!” sambung Anda.

“Biarin…” Mario acuh tak acuh.

“Eh, pukul berapa nih?” tanya salah satu teman Bram.

“Sembilan kurang, Bro…”

“Beli minum nyok?”

“Yuk, yuk…! Nggak asoy dah cuma ngerokok doang…!”

“Siapa nih yang mo beli?”

“Giliran elu, Bram.”

“Temenin dong…”

“Ah, lamaaa…! Ayo! Ayo!”

Mario menghela napas mendengar percakapan mereka. Mereka mau beli minuman keras. Perasaannya makin gak nyaman aja.

“Bray, gue ke kamar ya?” bisik Mario ke Gugum.

“Eh, kenapa? Gabung dong, Yo!”

“Gue capek nih… Gue gak enak badan…”

“Yaelah…”

“Gue tidur duluan ya?”

“Bentar lagi lahh… Ikut minum segelas dulu…” tahan Gugum.

“Elu mo bikin gue teler, eh? Sekarang aja gue gak fit, apalagi elu cekoki sama miras, Dodol!”

“Anak Mami…!”

“Masa bodoh, ah!”

“Ya udah, tidur sono! Jangan lupa sebelum tidur cuci kaki, muka, baca doa, peluk guling…”

“Ya, ya, ya, ya…!” potong Mario sembari bergegas menaiki tangga.

“Mau kemana elu, Yo…?!” teriak Anjos.

“TIDUUURRRR…!”

“NGGAK ASYIK ELU!”

“BIARIN!!!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: