Chapter VIIIc

*02 Februari 2013*

***Mario***

Gue tengah santai-santai nih di kamar sambil nge-forum. Habis nggak tahu mesti ngapain. Nonton TV bosen. Nggak ada tontonan yang menarik. Dengerin radio, males. Nongkrong, nggak tahu mesti ajak siapa. Pengennya sih bareng Kak Jo. Tapi tahu tuh, ngapain dia di kamar. Setelah makan malam tadi, dianya langsung ke kamar. Nggak ngajak-ngajak lagi, hihi. Padahal gue nggak nolak lho kalo dia ngajak gue “ngamar”. ;D

Dan akhirnya, seperti biasanya, gue lagi-lagi nge-forum. Buka BF, buka FB, browsing sana-sini. Lumayanlah buat membunuh kebosanan, dari pada gue manyun.

*On BF*

[quote]
[b]OHMario:[/b]
Bray, gw bete nih…

[b]Ariesboyz:[/b]
knp lg?

[b]OHMario:[/b]
sendirian gw. Pak guru nggak ngajakin gw ke kamarnya, :p

[b]Ariesboyz:[/b]
eh buset. -__-
ngapain tuh pak guru di kamar? Ngocok? Ahaha.

[b]OHMario:[/b]
tau deh. Kalo beneran mau dong gabung. Wkakak.

[b]Ariesboyz:[/b]
Join dong! Hihihi.

[b]OHMario:[/b]
bakalan orgy nih. Bhahaha.

[b]Ariesboyz:[/b]
yoi. Eh, gmn udah elu nonton LOS-nya?

[b]OHMario:[/b]
blm, hehehe.

[b]Ariesboyz:[/b]
kok blm? Recommended pake banget, bray. Pasti elu suka, secara nama pemaennya sama kek elu, Mario juga.

[b]OHMario:[/b]
baiklah. Coba gw donwload dulu deh. Hitung2 membunuh kesepian gw karena keacuhan pak guru, hiks…

[b]Ariesboyz:[/b]
cup..cup…

[b]OHMario:[/b]
:*[/quote]

***

Bener kata Ariesboyz. Rugi gue baru nonton The Love of Siam. Film lama yang keren banget (kemana aja gue selama ini???). Pantes aja si Ariesboyz bilang jangan ngaku gay kalo belum nonton ini film. Emang amat sangat direkomendasikan, Bray. Bukan hanya untuk kaum gay, tapi juga untuk keluarga. Karena sebenarnya ini film tentang kekuatan sebuah keluarga—menurut gue sih.

Dan yang pastinya, hubungan Tong dan Mew, yang begitu menarik minat gue. Entah sudah berapa kali gue memutar ulang scene saat mereka kissing. Scene favorit gue tuh, hahaha.

Lagi asik-asiknya gue nonton, tiba-tiba Kak Jo masuk.

“Lagi ngapain, Yo?”
“Nonton Kak.”
“Nonton apaan?”
“Film Thailand,” jawab gue seiring duduknya Kak Jo di samping gue.
“Apa judulnya?”
“The Love of Siam.”
Kak Jo mangut-mangut.
“Keren lho. Film lama, tapi gue baru tahu dari teman,” terang gue.
“Bercerita tentang apa?”

Gue tiba-tiba terdiam. Tentang apa? Gue harus jawab apa ya? Masa gue bilang tentang gay…

“Tentang keluarga.”
“Bagus ya?”
“Pake banget. Tonton aja sendiri…”

Rupanya Kak Jo tertarik sama promosi gue. Haha. Dia menaruh laptop ke atas pangkuannya dan mulai nonton.

Entah kenapa, gue jadi deg-degan. Tentu saja karena konten itu film. Tentang kisah terkarang dua Adam, ada kissing pula…

Ah, masa bodoh! Mungkin ini suatu kesempatan yang dikasih Tuhan, biar gue lebih mudah menjelaskan tentang diri gue ke dia someday…

***

Minggu Pagi…

Mario menggeliat bangun. Sinar mentari pagi masuk menerpa tubuhnya melaluo sela-sela ventilasi kamar.

Jam berapa sekarang?

Ia melihat jam di layar handphonenya. Pukul 07.06

Sudah pukul tujuh lewat. Ini kali pertama ia bangun sesiang ini setelah pindah ke rumah Jo.

“Kok Kak Jo nggak bangunin gue yah…?” gumamnya. Apa dia kesiangan juga?

Ia ingat pagi ini jadwal mereka belanja ke pasar. Ia pun buru-buru merapikan tempat tidur dan menyibakkan tirai jendela lalu berjalan menuju kamar Johan.

Belum sempat ia mengetuk pintu kamar, ia mendengar suara dentingan sendok dari arah Dapur. Akhirnya ia pun memutuskan menengok ke sana.

Ternyata itu suara yang ditimbulkan Johan yang sedang berkutat dengan menu sarapannya.

“Lho, Kakak udah bangun? Kenapa nggak bangunin gue?” tegur Mario. Nggak biasanya kan begini.

Johan mengangkat wajah sekilas. “Oh, sudah bangun…”

“Kakak tadi ke pasar sendirian?” tanya Mario lagi sambil meneliti beragam hasil belanjaan Johan di atas meja.

Johan mengangguk.

“Tunggu, tunggu, ada apa ini? Tumben gitu…”

Johan hanya diam.

“Ada apa, Kak? Biasanya gue dibangunin? Ampe-ampe berasa ada gempa dah saking kuatnya…”

“Tadi lupa aja.”

“Lupa? Masa bisa lupa sama makhluk secakep gue sih?!” Mario narsis.

Johan tersenyum. Tapi Mario tahu senyumnya sedikit dipaksakan.

“Mau masak apa, Kak? Ada yang bisa dibantu?”

“Nggak usah. Bentar lagi beres.”

“Baiklah. Kalo gitu gue beresin rumah aja ya?”

Johan mengangguk pelan.

Mario pun mengambil sapu dan berjalan ke ruang tengah dengan hati diliputi pertanyaan akan perubahan sikap Johan yang tiba-tiba…

Mereka makan dalam diam.

Suasana ini tentu membuat Mario jadi tak nyaman. Sedari tadi ia terus mencari-cari di mana letak kesalahannya sehingga bisa membuat Johan dingin seperti ini.

Acara sarapan hari ini terasa sangat kaku. Mario juga tak lahap seperti biasanya. Bahkan menelan beberapa sendok nasi saja ia enggan. Ia tak nambah nasi. Sikap Johan membuat selera makannya menguap entah kemana.

Selesai sarapan, Mario berjalan ke teras. Ia duduk di sana sambil menatap kembang-kembang mawar merah yang siap mekar.

Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara panggilan dari dalam. Mario bergegas masuk dengan jantung berdegup cukup kencang. Mungkin ini saatnya ia tahu kesalahannya…

Johan duduk di depan TV dengan santai. Satu lengannya bertengger di atas sandaran sofa.

“Ada apa, Kak?” tanya Mario.

“Lagi apa?”

“Nggak ada…”

“Kamu nggak bilang ya film semalam tentang gay…”

Mario langsung nyengir.

“Emang kenapa? Kalo gue kasih tahu, pasti Kakak nggak mau nonton…”

Johan hanya diam.

“Menurut Kakak nih ya, tanpa memperdulikan tema homoseks-nya, itu film bagus kagak?”

“Gimana ya? Filmya bagus. Akting Mamanya Tong keren banget. Tapi usai nonton banyak pertanyaan yang membekas di hati. Misalnya apakah Kakak si Tong masih hidup atau nggak? Terus si June itu apakah emang kakak Tong apa bukan? Hubungan Tong sama Mew gimana ke depannya? Mereka pacaran atau kagak? Pokoknya berasa ada yang masih bolong-bolong ketika aku selesai nonton…”

“Sepertinya emang diset begitu dah. Biar penonton yang nebak dan nentuin jawabannya. Tapi kalo menurut aku sih, June dan Tang itu beda orang. Terus Si Tong dan Mew nggak pacaran…”

“Gitu ya?”

Mario mengangguk.

Mereka kemudian hening sejenak.

Tapi tiba-tiba Johan melemparkan pertanyaan yang sedikit mengejutkan.

“Kamu nggak belokkan?”

Deg.

“Maksudnya?”

“Kamu nonton gay-theme movie. Terus dulu Kakak juga lihat kamu buka forum Gay. Apa mungkin kamu…?” Johan menggantung pertanyaannya.

Mario menelan ludah.

Hmm… Apa gue ngaku aja ya? Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya… Gumam ia dalam hati.

“Gue udah kasih alasan kan soal forum itu?”

“Iya…”

“Dan tentang film bertema gay, itu bukan blue film, so…”

“Oke. Jadi kamu bukan gay?” Johan meminta kepastian.

“Gue nggak takut jika harus jadi gay…”

“Ya atau nggak?” kejar Johan.

“Gue…”

“Oke. Aku udah tahu.”

“Tahu apa?” dada Mario berdebar keras.

“Laptopmu. Video di laptopmu.”

Rasa panas langsung menerpa Mario sampai ke muka.

Video? Semalam Johan mengacak isi laptopnya?

“Benarkan?”

“Kakak nggak seharusnya buka laptop gue tanpa izin…”

“Oke, maaf soal itu. Tapi apa penjelasan kamu soal gay porn videos itu?”

“Iya. Gue Bi, oh, bukan. Gue gay,” jawab Mario dingin.

Johan diam.

Suasana kembali hening. Sangat hening.

“Gue gay dan apakah itu menganggu elu, Kak?”

Johan tak menjawab.

“Gue masih ingat statement Kakak tentang gay di rumah gue dulu,” Mario mengingatkan.

“Jadi kamu sengaja mancing aku waktu itu…”

“Ya. Aku harus tahu apa—”

“Apa motivasi kamu ke aku?” potong Johan sambil menatap Mario tajam. Tatapannya begitu menusuk.

“Gue hanya ingin dekat.”

“Dekat? Kamu awalnya benci banget sama aku, dan tiba-tiba berubah, semakin berubah, terus memutuskan untuk tinggal di sini…” nada suara Johan terdengar menuduh.

“Maksud Kakak, gue punya rencana lain gitu?”

“Cuma kamu yang tahu. Tapi aku berhak untuk berpikiran begitu.”

“Nggak. Gue suka sama Arie,” jawab Mario.

“Arie ya? Ohh… Jadi…” Johan menghela nafas. “Selama ini kamu cemburu sama Juwita, aku pikir sama Arie…”

“Ya. Gue sayang sama Arie…”

Mereka kembali hening.

“Apakah Arie tahu soal ini?” tanya Johan kemudian.

Mario menggeleng keras. “Belum.”

“Aku nggak tahu harus ngomong apa. Ini pertama kali seseorang mengaku dirinya homo secara langsung ke aku…”

“Elu benci sama gue sekarang?”

“Aku nggak bisa nentuin sikap sekarang. Kamu salah. Dan kamu tahu itu salah. Tapi, ah, entahlah!” Johan mengangkat kedua tangannya seperti sikap menyerah.

“Elu nggak bisa terima orientasi seksual gue, Kak?”

“Gue nggak tahu!” Johan geleng-geleng kepala sambil bangkit dan meninggalkan Mario.

“Apakah ini penolakan?” kejar Mario.

“Tujuan kamu di sini untuk belajarkan?”

“Iya.”

“Untuk belajarkan?” ulang Johan sekali lagi.

“Iya.”

“Setidaknya, aku bukan target kamu. Aku lega dengar itu,” ucap Johan dan benar-benar berlalu.

Mario tertegun.

Apa kesimpulan atas pernyataan Johan barusan? Apakah dia bisa terima mengenai kegay-annya?

Mario mengangkat tangan dan menyentuh pipinya yang mulai lembab.

Ia menangis.

Semuanya terasa kabur sekarang. Harapannya semakin jauh.

Bagaimana mungkin ia bisa mengakui tentang perasaannya, jika baru mengetahui isi hatinya saja, Johan sudah bersikap begini?

Ia berjalan pelan ke kamar dan berbaring dengan mata menerawang.

Ia mengusap pipinya lagi.

[i]Seenggaknya satu beban gue berkurang. Gue nggak perlu pura-pura dan menutupi kegay-ian gue di depan Kak jo. Gue yakin everything gonna be okey,[/i] Mario mencoba menenangkan hatinya.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: