Chapter VIIIb

*31 Januari 2013*

“Assalamualaikumm…” ucap Mario sambil membuka helmnya.
“Waalaikumsalaaamm…” sahut Johan yang tengah duduk di teras sambil memainkan laptopnya.
“Huufffhhh… Panas banget ini hari,” keluh Mario. Ia merosot di kursi sambil membuka dua kancing teratas seragamnya.
“Tadi Mama kamu telepon,” beritahu Johan.
“Apa katanya?”
“She misses you. Malam ini dia nyuruh kamu nginap di sana…”
“Oohh…” Mario mangut-mangut.
“Beliau bilang, sejak tinggal di sini, kamu belum pernah ke sana?”
Mario mengangguk.
“Belum pernah ke sana???” Johan mengulangi ucapannya.
“Belum.”
“Oh, dude! Kebangetan banget! Kasih kabar juga nggak?”
Mario lagi-lagi geleng kepala.
“Kok gitu sih, Yo? Nggak rindu sama Mama?”
“Rindu, yaahhh, rindu…” desah Mario.
“Malam ini kamu ke sana. Lihat keadaan Mama kamu.”
“Bareng ya?”
“Sendirian aja lah.”
“Kakak juga…”
“Insya Allah deh.”
“Sip!” seru Mario seraya bangkit dan menenteng sepatunya ke dalam. Tapi kemudian ia kembali lagi dan bertanya, “Kakak sudah maksi?”
“Belum. Buruan ganti baju terus kita makan.”
“Kok belum? Nungguin gue ya?”
“Cepetan!”
Mario nyengir.

Jadilah malam harinya mereka berdua ke rumah Mario. Mamanya Mario mencak-mencak sama kelakuan anaknya yang seolah-olah melupakan dirinya.

“Tuh, tuh…! Masih muda aja udah nggak ingat lagi sama Mama! Apalagi kalo udah gede! Udah kawin!”

“Yaelah, baru beberapa hari. Delapan, Sembilan, Sepuluh hari juga…” Mario membela diri.

“Seenggaknya telepon, SMS, tanyain kabar gitu…” balas Mama Mario.

“Ya, Maaf… Dalam waktu dekat ini sebenarnya Mario udah berencana untuk pulang. Tapi Mama udah keburu telepon,” kelit Mario.

“Huh! Alesan…!”

“Ini Martabak India buat Mama…” Mario menyodorkan bungkusan ke atas meja. “Mama kan demen banget sama Martabak ini. Kurang baik apa coba Marionya???”

“Aih, cuma sekedar Martabak…” sungut Mamanya.

“Cukup Martabak aja dulu. Kalo mau rumah nunggu Mario jadi pengusaha sukses deh…”

“Amiiinnn,” sambut Mamanya.

“Tapi kalo udah nggak sabaran, besok Rio beliin satu set rumah buat Mama. Rumah-rumahan…!” sambung Mario sambil nyengir.

Mamanya memutar bola mata.

Malam itu mengalirlah percakapan yang hangat antara Mario, Mamanya, dan Johan. Mama Mario kerap bertanya ke Johan tentang anaknya setelah tinggal bersama Johan, apakah ada perubahan ke arah positif atau nggak.

Mario sesekali menimpali obrolan Mamanya yang nampak antusias mengorek segala sesuatu tentang dirinya. Ia juga cerita ke mamanya tentang bagaimana pengalamannya pertama kali ke pasar pagi bareng Johan. Ia juga dengan bangga mengatakan kalau sekarang ia sudah terbiasa bangun pagi.

Menjelang pukul sebelas malam, Mamanya Mario pamit ke kamar untuk istirahat. Mario pun mengajak Johan untuk ke kamarnya.

“Huuffhhh….!” Mario menghempaskan tubuhnya ke ranjang yang sudah cukup lama tidak ia tempati.

“Setelah beberapa hari nggak dihuni, kamar ini terasa aneh…” gumamnya sambil mengedarkan pandangan ke seisi kamar.

Johan ikutan merebahkan diri di samping Mario.

Tapi tiba-tiba Mario bangkit dan melompat bangun.

“Kenapa?” tanya Johan.

“Seragam gue belum di keluarin dari tas. Entar kusut,” jawabnya.

“Ohhh…”

Setelah menggantungkan seragam sekolahnya di hanger, Mario menyalakan TV lalu kembali berbaring di tempatnya semula.

Dari tempatnya sekarang, ia sibuk memindahkan saluran TV dari channel satu ke channel lainnya.

“Nggak ada acara yang menarik…” desisnya.
“Trans TV aja,” usul Johan.

“Bioskop Trans. Tapi nggak tahu film apaan tuh…”

“Nggak apa-apa.”

Mario menuruti permintaan Johan. Mereka berdua memusatkan pandangan ke arah layar TV.

Sebuah film berjudul The Unborn (diketahui dari sudut kiri atas layar) sedang diputar. Entah apakah film ini termasuk film box office atau nggak, yang jelas baik Mario ataupun Johan baru pertama kali mendengar judul film ini. Jadi boro-boro mereka tahu deretan pemainnya ataupun jalan ceritanya.

“Huaaammm…. Ini film tentang apaan sih?” gumam Mario frustasi.

“Sepertinya sih Thiller deh…” jawab Johan sambil terus fokus ke arah layar TV. “And… Uhm, is he Gary Oldman, isn’t?” tanyanya sambil menunjuk ke arah layar TV saat seorang pria tengah di zoom in.

“Nggak tahu.”

“Tahu kan Gary Oldman?”

“Bapaknya Harpot itu kan kalo gak salah…”

“Sirius Black.”

“Ya, dia maksud gue.”

“Biasanya Mister Oldman selalu total dalam berakting. Bram Stoker, Harpot, Batman…”
“Tapi tetap aja gue nggak tertarik sama ini film. Mungkin karena nggak nonton dari awal,” kata Mario lalu menguap lebar.

“Kamunya buruan tidur. Udah malem,” kata Johan setelah melihat Mario nguap berkali-kali.

“Ya nih, udah ngantuk. Gue bobo duluan ya…” Mario langsung meringkuk dengan Kepala menghadap Johan.

***

Malam ini cukup dingin, tapi lebih hangat dari biasanya. Itulah yang Mario rasakan dalam tidurnya. Ia tidur dengan lelap tanpa mimpi.

Seandainya dalam tidurnya, ia menyadari posisi tidurnya yang super dekat dengan Johan malam ini, mungkin hatinya akan meledak saking senangnya.

Posisinya begitu manis. Mereka berhadapan. Kepala Mario berada tepat di bawah dagu Johan, sampai-sampai wajahnya hampir terbenam di antara ketiak Johan. Sebelah tangannya memeluk tubuh Johan (dalam tidur pun ia masih mencuri kesempatan, ;D). Sementara Johan, hidungnya hampir mencium rambut Mario, sehingga setiap hembusan nafasnya membelai kepala Mario.

Posisi tidur demikian bertahan cukup lama, sampai akhirnya Johan mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Namun tangan Mario tetap berada di atas dadanya.

Menjelang subuh, Mario terjaga karena hawa dingin yang semakin menggigit tulang. Pantas saja. Selimut mereka sudah berada di betis. Ia langsung menarik selimut kembali sampai ke bahu.

Ia bersiap-siap untuk memejamkan mata kembali, saat ia menyadari siapa yang berada di sampingnya. Ia mengangkat kepalanya dan memandangi wajah Johan yang tertidur pulas.

Deru napasnya pelan dan teratur. Ia menyusuri pahatan wajah tampan Johan dengan matanya. Saat pandangannya tertumpu pada setangkup bibir merah seksi itu, ingin sekali ia menyentuh, bahkan melumatnya. Pasti hangat. Pasti nikmat. Lumayan untuk mengusir dingin pagi ini.

Mario menghela napas, berusaha menahan gejolak di dalam dadanya. Ia kembali berbaring dan menatap langit-langit kamar, sementara jemarinya bergerak meraba bagian bawah tubuhnya yang mengeras.

Demi apapun, ia ingin melakukan itu. Sumpah. Pikiran kotor berpusar di otaknya.

Mario menyingkap selimutnya dan memeriksa bagian bawah tubuh Johan yang tertutup selimut.

Anjrit! Johan hanya mengenakan celana pendek. Paha mulus yang ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus itu begitu menantang.

Arrgghhh…! Mario membentur-benturkan jidatnya ke bantal. Serentetan nama binatang meluncur dari tenggorokannya.

Gerakan “ribut” Mario barusan mengusik Johan. Ia terbangun dan mengangkat kepalanya sedikit.

“Yo, yoo…” ia mengguncang bahu Mario.

“Eh?” Mario mengangkat wajahnya.

“Kamu kenapa?”

“Nggak… ” Mario pura-pura menguap.

Johan menggeser tubuhnya dan berbaring menghadap Mario. Ia juga merapatkan selimutnya.

“Dingin banget sih…” desisnya.

“Iya…” balas Mario sembari jelalatan mencari guling. Ia butuh sesuatu untuk dipeluk untuk meredam gejolak nafsunya.

“Nyariin apa? Ponsel kamu di atas meja,” beritahu Johan.

“Guling.”

“Itu, di bawah kaki kamu.”

Mario menarik guling dengan kakinya lalu memeluknya langsung. Permukaan guling yang empuk sedikit menenangkan juniornya.

“Sekarang pukul berapa ya…” gumam Johan sambil melihat jam di layar handphone.

“Pukul berapa?” tanya Mario.

“Empat. Tidur lagi ah. Kalo sudah adzan ntar baru bangun,” pungkas Johan sambil memejamkan kembali matanya.

Mario mangut-mangut. Ia memeluk guling erat sembari menikmati wajah Johan.

Aahhh, kapan ya gue bisa tidur dalam pelukan dia??? Tanya Mario dalam hati.

Tiba-tiba Johan membuka matanya lagi.

“Kenapa?”

Mario geleng kepala dan membelakangi Johan.

Johan menggerak-gerakkan bibirnya ke kiri-ke kanan lalu kembali memejamkan matanya.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: