Chapter VIIIa

Cukup lama mereka berdua mengitari danau dengan getek berbentuk bebek itu. Beragam topik terus mengalir di antara keduanya.

Selesai mengitari danau, mereka beralih ke sebuah kafe kecil dan memesan menu sederhana berupa Jus Jeruk dan Miso Ayam. Di sana mereka kembali mengobrol banyak hal, tak terkecuali tentang mantan pacar Ajeng, yakni si Rahmat. Johan sebagai teman mendengarkan cerita dan curhatan Ajeng dengan seksama.

“Aduh, maaf banget deh, Jo, gue jadi curcol ke elu…” Ajeng menyelipkan sedikit rambutnya ke belakang telinga.
“No problemo kok. Curhat aja biar kamu lega.”
“Gue juga minta maaf ya, elu jangan kemakan sama banyolan Pipit sama Adit yang seringkali bilang elu jadi biang kerok permasalahan gue sama Rahmat. Elu nggak ada sangkut pautnya di sini.”
“Iya, aku ngerti kok. Biasalah si Pipit, si Adit. Kita berlima itukan emang udah blak-blakan…”
“Iya sih. Cuma gue nggak enak aja ama elu…”
“Eh, mereka udah tahu kamu putus sama Rahmat?”
“Gue baru kasih tahu ke elu sama Farah.”
“Oh, pantesan si Pipit atau Adit belum kasih laporan ke aku…”
“Kalo mereka tahu, pasti elu jadi sasaran lagi…” ucap Ajeng sambil geleng-geleng kepala.
Johan terkekeh. Ia lantas menyeruput minumannya.
“Seandainya kamu ngenalin secara resmi pacar kamu itu ke kita-kita, teman kamu maksudnya, kejadiannya nggak bakal kayak gini. Kenapa sih kamu buat jarak kita sama Rahmat? Kenapa kamu nggak jadiin pacar kamu, jadi teman kita juga? Kesalahpahaman ini mungkin nggak terjadi. Apa kamu nggak mau kita dan Rahmat sama-sama jaga kamu bareng-bareng?”

Ajeng tak menjawab. Ia hanya mengaduk Jus Jeruk dengan sedotannya.

“Kamu sama Farah itu udah kek saudara aku sendiri. Kamu itu aku anggap sebagai adik perempuan aku, meskipun mudaan kamu dua bulan. Sewajarnya sih kamu kenalin aku ke pacar kamu, ataupun orang yang lagi dekat sama kamu. Aku, Pipit dan Adit itu, meskipun suka bocor, tapi kamu sama Farah nggak usah ragu kok. Kita bisa diandalkan. Jujur, dengar Rahmat cemburu sama aku itu, aku geregetan banget tahu nggak. Masa sih pikirannya sepicik itu? Aku nggak enak aja mo bilang ke kamu buat putusin aja dia. Takutnya kamu beranggapan aku ikut campur masalah pribadi kamu. Dia nggak cocok buat kamu. Pikirannya terlalu sempit. Masa jeleous sama teman dekat pacarnya sendiri? Kalo kita mau pacaran, seharusnya sebelum kamu sama dia, kamu udah aku gaet duluan kok!” terang Johan panjang lebar.

“Farah juga bilang gitu… Berkali-kali dia bilang Rahmat itu egois. Masa nggak bisa lihat persahabatan kita deketnya kek gimana…”
“Iya, sorry to say, Farah benar. Tapi salah kamu juga sih SMS-nya nggak dihapus…”
“Ya. Itu yang sedikit gue sayangkan. Karena itu juga gue terus mengalah, karena pangkal masalahnya emang dari gue. Tapi ya sutralah, intinya dia bukan yang terbaik buat gue,” pungkas Ajeng.
“Yup. Yang udah biarin deh.”

Ajeng tersenyum lantas menyesap kembali jusnya.

***

*22 Januari 2013*

***Mario***

Gue lagi makan saat HP gue berbunyi. [i]BF_Arie calling[/i].

“Ya, Bray?”
“Eh, Mo! Elu di mana???”
“Di rumah…”
“Rumah siapa? Elu pindah ke rumah Mister Jo ya?”

Eh, kok di tau? Perasaan gue belum kasih tahu siapa-siapa dah.

“Iya. Elu tahu—”
“Kok elu gak kasih tahu gue?!” potong Arie cepat.
“L-lupa sih… Lagian nggak penting juga kan???”
“Gimana sih elu?! Gue sohib elu, Mo!” nada Arie terdengar gusar.
“Ya, sekarang elu udah tahu. Emangnya mau apa?”
“Gue sekarang di rumah elu.”
“Ooohhh, ke sini aja… Gue sendirian nih, Kak Jo masih ngampus…”

Tut.. Tut…!

“Eh, kok dimatiin?” gumam gue keheranan.
“Sabodoh ah! Palingan tuh anak lagi tancap gas ke sini,” gue kembali melanjutkan santap siang gue.

***

Keesokan harinya…

“Eh, maksud elu apa pindah ke rumah Mister Jo?” tanya Arie ketika Mario baru tiba di bangku mereka.
“Eh, Bray, gue tungguin elu kemarin, kok elu nggak nongol-nongol juga sih?”
“Gue nanya elu balas nanya sih???”
“Oh soal itu, gue punya misi, Bray…” Mario menelengkan kepala ke arah Arie sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Misi apaan elu? Kebanyakan gaya elu!”
“Ada deh…”
“Eh, kok elu bisa pindah ke sana sih, Bray?”
“Mau tau aja apa—”
“Mau tau banget!” potong Arie cepat.
“Kepo ah! Enelan nih mau tahu?”
“Sumpah! Elu nyebelin banget sih?!”
“Haitz! Slow aja, Bray… Calm down…” Mario mengusap-usap dada Arie.

Arie membiarkan tangan Mario tetap di dadanya, tetapi sepasang matanya melotot dan tangkup bibirnya membentuk garis keras.

“Gue cuma cari suasana lain aja kok, Bray. Dari dulu elu tahu kan gue nggak betah di rumah?”
“Biasanya elu larinya ke rumah gue?”
“Bosen ah lari ke rumah elu…”
“Ke rumah Gugum?”
“Bosen juga.”
“Ooohhh, gitu ya! Udah lain sekarang… Tongkrongannya ama anak kuliahan…” sindir Arie.
“Yoi, Bray! Temenan ama elu-elu pada nggak ada kemajuan, weeekkk…” Mario menampilkan mimik wajah jelek.
Arie mendesis.
“Eh, Bray, ntar main ke rumah Kak Jo ya?” ajak Mario.
“Ogah!”
“Kenapa?”
“Mendingan gue pacaran.”
“Haish! Pacaran mulu elu! Ntar kebablasan lhooo…”
Arie tak menggubris guyonan Mario barusan.

***

*28 Januari 2013*

Terdengar ketukan di pintu berkali-kali diselingi seruan, “Kak…Kak Joo…!”

Johan menggeliat kecil sambil mengucek matanya. “Yaaaa….” sahutnya pelan.

“Bangun. Udah pukul setengah enam nih…”

“Yaaa….” Johan menguap lebar seraya menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya. Terpaan hawa dingin langsung menyapanya.

Dengan otot-otot sedikit kaku ia berjalan membuka pintu. Di hadapannya berdiri Mario dengan wajah segarnya (tak seperti biasanya) dengan kedua lengan di dalam saku sweaternya.

“Tumben telat bangunnya?” tanya Mario.
“Semalam Kakak tidur pukul dua…”
“Eh? Kenapa?”
“Browsing, baca pdf…” jawab Johan. “Kamu sendiri tumben jam segini udah bangun?”
“Kebetulan aja kebangun sama kokok Ayam.”
“Oohhh, ya udah, Kakak solat subuh dulu. Thanks udah bangunin,” Johan menepuk pundak Mario pelan.
“Pagi ini ke pasar lagi kita?”
“Iya. Kulkas udah kosong tuh.”

Mario mengangguk dan kembali ke kamarnya.

Selesai solat, Johan menemui Mario yang tengah membaca di kamarnya.

“Pergi sekarang, yuk!”
“Okey!” Mario menutup buku dan melangkah mendekati Johan.
“Hari ini kita mau masak apa?” tanya Mario sambil berdiri menunggu Johan memanaskan motornya.
“Kamu mau apa?” Johan balik tanya.
Mario mengangkat bahunya. ” Terserah Kakak aja.”
“Kita pikirkan di jalan nanti aja,” pungkas Johan. “Ayok!”
Mario melompat ke belakang Johan.

***

*20 Januari 2013*

“Yo, bangun…! Hey…, Mario…!” Johan mengguncang-guncang tubuh Mario yang nampak lelap.
“Unggg….” desis Mario.
“Bangun!”
“Aaaaggghhh…!” teriak Mario sambil menutup wajahnya dengan bantal.
“Hey! Bangun!” Johan merampas bantal tersebut.
“Aaaggghhhh, kenapa sih, Ma?!” seru Mario dengan nada keras.
“Mama, Mama! Nggak ada Mama di sini. Ayo, yo, bangun!”
Mario membuka matanya dan langsung bangun ketika melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang.
“Hoaaaammm…. Pukul berapa sih…? Masih gelap,” Mario melirik keadaan di luar lewat lubang ventilasi jendela.
“Sekarang pukul setengah enam,” jawab Johan sambil menaikkan restleting jaketnya.
“Oh,” Mario menguap lagi. “Mau kemana, Kak?”
“Ayo ke pasar.”
“Ke pasar? Pagi-pagi? Ngapain???”
“Beli sayuran. Ayo!”
Mario turun dari ranjang dengan malas.
“Cuci muka dulu gih. Kakak tunggu di luar.”
“Ahhh, ribet dah,” desis Mario setelah sosok Johan menghilang dari kamarnya.

Itulah untuk pertama kalinya Mario pergi ke pasar untuk beli bahan dapur. Perginya ke pasar tradisional persis seperti ibu-ibu. Jujur awalnya Mario berasa canggung dan nggak pede. Berasa semua mata melirik dia. Dia takut ada salah satu dari orang-orang tersebut mengenalinya.

“Kakak nggak malu pergi belanja bahan dapur ke pasar? Kakak kan cowok?” tanya Mario.
“Awalnya sih malu. Tapi lama-lama biasa aja. Bukan kita aja kok yang belanja. Banyak juga, terutama yang nge-kost itu belanja,” terang Johan. “Kenapa? Kamu malu ya?”
“Ya. Nggak nyaman. Ini kan tugasnya pembantu atau emak-emak, Kak…”
“Ya sih. Dulu pas Mama Kakak masih di sini, Kakak juga ogah disuruh belanja beginian. Biasanya Kakak cuma nganterin beliau terus nunggu di parkiran. Tapi sekarang terpaksa sih. Kalo nggak beli sendiri, mau nyuruh siapa lagi? Tapi Kakak nggak tiap hari kok belanjanya. Seminggu dua kalilah.”
“Apa mungkin karena masih malu, jadinya Kakak belanjanya pagi-pagi begini ya? Biar nggak ada yang liat?”
“Bukan. Tapi kalo pagi sayurannya masih pada seger. Harganya juga lebih murah…”
“Ooohhh…”
“Kalo sekarang Kakak keknya makin pede belanjanya,” terang Johan.
“Kenapa?”
“Kan ada kamu. Belanjanya nggak sendirian.”
“Hehehe. Ya sih. Kalo pergi jalan-jalan atau belanja itu enakan sama temen.”

Mereka berdua berjalan memasuki area pasar yang ramai.

Sejak saat itu, dua minggu sekali mereka berdua pagi-pagi buta pergi belanja ke pasar tradisional setempat untuk membeli berbagai macam bahan masakan untuk diolah. Mario menyukainya. Ia menikmati kegiatan belanja itu. Yang ia rasakan adalah seperti pasangan muda pengantin baru yang tengah kasmaran. Ia pun tak sabar menunggu kegiatan belanja berikutnya lagi. Dan lagi.

***

Tinggal bersama Johan membuat siklus kehidupan Mario sedikit berubah. Ia yang biasanya bangun mepet banget (lima belas atau sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi), sekarang bangun sebelum pukul enam pagi. Itu sudah terjadi sejak hari pertama ia tinggal di rumah Johan. Susah memang. Kepalanya sering terasa pusing setelah dibangunkan Johan dengan tiba-tiba. Matanya masih dikeruyupi kantuk, tapi mesti gimana lagi, ia harus bangun. Johan tidak akan berhenti mengguncang-guncang tubuhnya sebelum ia bangun. Kemudian ia langsung disuruh membereskan kamarnya.

Tidak hanya itu, jika biasanya setelah bangun, mandi lalu ke meja makan untuk sarapan yang sudah disiapkan sang mama atau Bik Dar, maka sejak tinggal bersama Johan, setelah bangun tidur, ia akan ke dapur membantu Johan menyiapkan sarapan. Meskipun sebenarnya, kadang kala ia tidak membantu apa-apa. Ia hanya duduk di samping Johan yang bersibuk ria dengan peralatan dapur sembari menguap berkali-kali.

Namun sepertinya Johan sengaja membangunkan Mario dan memintanya menemaninya. Ia sadar Mario tidak akan memberi bantuan apapun. Tapi tujuannya bukan itu. Ia ingin Mario terbiasa bangun pagi seperti dirinya. Ia ingin merubah kebiasan Mario yang suka bangun telat. Kalo kata mamanya, orang yang kerap bangun telat, maka rezekinya dipatok Ayam.

Setelah masak, ia akan membantu Johan membereskan rumah. Tapi setelah beberapa hari tinggal di sana, Mario memiliki inisiatif—dalam rangka mengambil hati tentunya—membereskan rumah sendirian, saat Johan tengah masak. Alasannya biar semua pekerjaan cepat selesai. Jadi ketika Johan kelar menyiapkan menu makanan untuk mereka, Mario pun selesai juga membereskan rumah, menyiram tanaman serta memanaskan mesin motor keduanya. Setelah itu baru mandi lalu sarapan sama-sama.

Pada awalnya, segala rutinitas ini cukup sulit dan membosankan bagi Mario. Siapa pun tahu kalau ia sangat benci dengan rutinitas. Tapi bersama Johan, ia harus menuruti semuanya. Ia harus bangun pagi, bantu memasak atau beres-beres rumah, ke pasar pagi-pagi saat kantuknya belum sepenuhnya hilang dan menyisihkan waktu minimal satu jam setiap malam untuk belajar. Semua itu tak pernah ia lakukan sebelumnya.

Sempat timbul penyesalan di hatinya atas keputusan konyol bin nekatnya beberapa waktu lalu saat ngotot pengen tinggal bareng Johan. Apakah kehidupan seperti ini yang ia cari? Ia ingin menyerah dan kembali ke rumah. Kembali pada kehidupan bebasnya tanpa dikungkung beragam peraturan dari Johan. Namun saat ia menatap wajah angkuh dan cool milik Johan setiap kali mereka bertatapan, semangatnya kembali terlecut. Dadanya bergemuruh.

“Nggak. Gue nggak akan nyerah. Bagaimana pun caranya, gue mau taklukin ini cowok,” tekad Mario dalam hati.

Tekadnya kembali bulat. Ia kembali menguatkan hati untuk terus bertahan dan melaju dengan keputusannya. Perlahan-lahan, ia mulai terbiasa dengan rutinitas itu. Ia tidak sesudah dulu untuk membuka mata di kala gelap masih menyelimuti pagi, saat Johan membangunkannya. Ia juga mulai bersiul kecil saat menyapu lantai dan menyibak tirai jendela. Ia juga sudah cukup terbiasa dengan terpaan hawa dingin saat melangkahkan kaki ke luar rumah saat menyiram tanaman. Ia juga begitu menikmati saat memilih sayuran segar di pasar. Semuanya cukup menyenangkan saat ia ikhlas melakukannya. Semuanya terasa mudah. Semudah dirinya terlelap di malam hari di kala buku pelajaran masih tergenggam di tangannya…

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: