Chapter VIII

Pak Prapto, guru mata pelajaran Sosiologi datang dengan senyum mengembang di bibir. Beliau menyapa seluruh penghuni kelas.

Setelah basa basi sebentar, beliau langsung mengajak para siswa melanjutkan materi minggu kemarin.

“Penelitian sosial lagi ya?”
“Ya, Pak.”
“Tahap penelitian, Pak.”
“Ya, ya… Tahap penelitian ya?” gumam Pak Prapto sembari mengangkat pinggang celananya, ini memang salah satu ciri beliau. Sedikit-sedikit mengangkat pinggang celana padahal celananya nggak kedodoran sama sekali.
“Tahap penelitian itu terdiri dari merumuskan masalah penelitian, merumuskan rancangan penelitian…”
“Memilih metode penelitian, mengumpulkan dan mengolah data hasil penelitian, membuat laporan penelitian, mempresentasikan hasil penelitian…” seluruh siswa serentak mengikuti dan menyambung ucapan Pak Prapto.
“Ya, ya…” Pak Prapto mengangguk-angguk sambil lagi-lagi membetulkan pinggang celananya.
“Sekarang kita masuk ke Konsep dan Variabel. Apa itu Konsep? Apa itu Variabel?”
“Konsep adalah ide-ide…” jawab Mario agak keras dengan spontan.
“Ya, ide-ide…?” Pak Prapto melempar pandangan ke Mario. Begitu juga murid yang lain.
“Eh…” desis Mario salah tingkah. Ia tak menyangka ucapannya barusan di dengar Pak Prapto.
“Konsep merupakan ide-ide, terus…?”
“Konsep adalah ide-ide, gambar hal-hal…” Mario berusaha mengingat-ingat bacaannya semalam.
“Ide-ide, penggambaran hal-hal atau benda-benda atau pun gejala-gejala sosial, yang dinyatakan dalam istilah atau kata,” akhirnya Pak Prapto meluruskan jawaban Mario.
“Ya, ya… Gue lupa,” desis Mario geregetan.
“Lupa?” celetuk Arie.
“Ya, gue sempat baca semalam…”
“Hah? Elu baca materi semalam?” tanya Arie dengan pandangan meremehkan.
“Eh, elu nggak percaya?”
“Tampang kriminal kek elu!”
“Anjrit!” umpat Mario sepelan mungkin di telinga Arie. “Elu tuh tampang PK!” balasnya.
“Pemberantasan Korupsi?”
“Penjahat Kelamin!”
“Kelamin siapa?”
“Tau ah!”
“Kelamin elu masih ada, bray?”
“Kenapa? Elu mau?”
“Njrit!”
Mario terkekeh.
“Elu kira gue apaan, eh?”
“Menurut elu…?”
“Gue?”
“Bukan, Pak Prapto…”
“Pak Prapto itu guru. Guru Sosio tepatnya.”
“Suka kelamin nggak ya?”
“Gila elu, Bray! Tanya aja sono!”
Mario terkikik.
“Menurut elu?”
“Apanya?” Arie balik nanya.
“Dia suka kelamin nggak?”
“Haish! Suka, tapi bukan punya elu pastinya.”
“Kok elu tahu?”
“Ish… Apaan sih elu? Di dunia ini mana ada orang yang gak demen kelamin?”
“Hihihih… Berarti elu juga dong?”
“Pastilah!”
“Punya gue?”
Arie melotot sambil menggeram.
Mario terkekeh.
“Pagi-pagi udah stress elu!”
“Elu yang duluan.”
“Enak aja! Elu tadi yang ngomong gue PK…”
“Udah ah, gue mau belajar…”
“Belajar sono, biar otak elu gak konslet mulu.”
Mario menunjukkan ekspresi jelek ke Arie.
“Yaiks! Wajah elu mirip kelamin, Bray! Ciyus!”
“Shit!” Mario memukul lutut Arie keras dengan buku-buku jarinya.
“Awww…” Arie mengadu kesakitan.

Saat jam istirahat.

Seperti biasanya, Mario dan Arie pergi ke kantin sambil bergandengan bahu.

“Oh…!” sapa Kenanga genit saat tak sengaja mereka berpapasan di koridor.
Mario mengangguk sambil tersenyum kecil.
“Mau ke kantin ya?”
“Ya. Mau ikut?” timpal Arie.
“Makaciihhh… Baru aja gue ke sana,” jawab Kenanga sok imut.

Mario mencubit pinggang Arie.
“Aduh! Apaan sih?!” Arie mengaduh.
“Sengaja banget elu ye, bermanis manja grup sama tuh Nenek Ganjen?!”
“Kenapa? Elu cemburu, eh?”
“Cemburu, cemburu! Gak banget lah!” gerutu Mario.
“Elu kan demen ama dia?”
“Dia yang demen ama gue!” bantah Mario.
“Halah! Padahal sama suka….” goda Arie.
“Nggak. Dia suka sama gue, tapi gue-nya suka ama elu!” Mario menonjok dada Arie.
“Awww…! Ciyus? Miapah???” Arie pura-pura kaget.
“Mikorex!”
“Obat elu dong?”
“Diem elu jamur!” balas Mario.
“Hahaha…”

Tiba-tiba Handphone Arie berbunyi.

“Dari Bebeb nih…” gumamnya.
“Angkat aja.”
“Sip…” kata Arie sembari menekan tombol OK.

Seperti biasa, kalo Arie sudah teleponan sama si Juwita, maka sederet kata-kata manis nan memabukkan akan keluar beruntun memenuhi udara. Sampai-sampai Mario mencebikkan bibirnya beberapa kali setiap mendengar gombalan parah yang terlontar dari bibir Arie.

Namun kali ini ada yang sedikit berbeda di hati Mario. Jika biasanya ia selalu berusaha mati-matian menekan rasa cemburunya setiap mendengar Mario merayu Juwita, tapi kali ini hatinya adem ayem saja. Ia nggak merasakan getaran kecemburuan seperti biasanya. Ia nampak rileks berjalan di samping Arie. Bahkan ia menganggap semua omongan Arie itu lucu. Sangat lucu. Dan jujur, Mario belum menyadari perubahan suasana hatinya itu.

***

Sementara itu saat ini Johan tengah jalan-jalan naik getek di danau Harum Bastari* bersama Ajeng.

Seperti janji merek sebelumnya, hari ini Ajeng mengajak Johan jalan-jalan, dan pilihan mereka adalah ke danau Harum Bastari, salah satu tempat wisata di kota kecil ini.

“Dari dulu ampe sekarang ini tempat kagak banyak perubahannya ya?” komentar Ajeng sembari mengedarkan pandangan.
“He-eh. Tetap segini aja…”
“Gue udah lumayan lama nggak kesini. Terakhir kapan ya? Kalo nggak salah ketika sama teman-teman kuliah semester satu deh…” Ajeng mengingat-ingat.
“Udah dua tahunan dong berarti? Kalo aku waktu barengan sama Pipit dan Adit sih, sekitar dua bulanan yang lalu…”
“Ngapain? Arisan jombloers ya?” Ajeng terkikik.
“Sekali lagi, aku bukan jomblo, tapi single…”
“Iya deh single gak laku-laku…”
“Dari pada kamu pacaran tapi makan hati mulu?” Johan meletin lidah.
“Ish…” Ajeng cemberut.
“Mendingan kita dong, single happy, hohoho…”
“Eh, elu pada belum ngerasain aja enaknya pacaran itu kek gimana. Sekate-katenya enakan single, tapi tetap berdua lebih baik, cuy!”
“Kata siape tuh?”
“Noh, Acha Septriasa…”
“Jadul banget lagunya? Sekarang udah jaman Harus Terpisah, Nona…”
“Biarin. Gue gak suka boyband!”
“Boyband dari mana? Sejak kapan Cakra Khan bikin BB?”
“Elu gak tahu? Kemane aja lu?!”
“Merem di kamar…”
“Si Cakra udah ikutan bikin BB. Nama Boyband-nya My Name Is Khan. Personelnya ada tiga. Cakra Khan, Shah Rukh Khan and Dahlan Is-Khan…!”
“Hahaha…! Teler ah! Kiran beneran. Dahlan Iskan mah menteri BUMN kali…”
“Hihihi…”
“Gokil-gokil sih. Ternyata orang putus cinta nggak selamanya mewek dan berteman ama sekotak tissue ya, Jeng?”
“Nggak semua cewek kek begitu kali, ah! Gugur satu tumbuh seribu. Emang cowok cuma dia doang?”
“Good, good! I like your thinking!”
“Ho-oh. Gue kan smart girl…” Ajeng nyengir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: