Chapter VIIc

Johan tengah mengupas bawang putih saat Mario datang menemuinya dengan sapu di tangan.
“Mau masak apa, Kak?” tanya Mario sambil mendekat.
“Sapunya gantung di balik pintu,” beritahu Johan.
“Ohh,” desis Mario sambil menuruti omongannya Johan.

“Kakak mau masak Capcay,” Johan baru menjawab pertanyaan Mario tadi.
Mario mengangguk-anggukan kepala seraya mendekat.
“Kamu suka Capcay?”
Mario lagi-lagi mengangguk.
“Naah, sekarang kamu bantu Kakak, oke? Pelajaran pertamanya kita mulai di dapur,” Johan tersenyum lebar.
“Siaaaappp. Gue bantu apa nih?” Mario meremas-remas telapak tangannya.
“Kupas dan potong-potong Wortelnya,” Johan mengarahkan telunjuk ke beberapa potong wortel di dalam plastik bening.
“Wouke! Mana pisaunya?”
Johan menunjuk pisau yang ditaruh di sebelah wadah sendok dan garpu.
“Cukup dua batang aja ya,” pesan Johan.
Mario mengangguk.

Selagi Mario ‘bergelut’ dengan Wortelnya, Johan beralih mencincang bawang Bombay. Dengan cekatan ia kemudian sudah beralih memotong-motong daun bawang. Sesekali ia melirik ke arah Mario yang nampak serius memotong wortel.

“Sudah belum? Lama amat?” tanya Johan.
Mario terkekeh.
“Ketahuan yang nggak pernah ke dapur…”
“Sering kok…”
“Ya sering buat buka kulkas doang cari makanan…”
“Hehehe…”
“Belajar dong masak. Menurut sebagian cewek nih, cowok yang jago masak itu seksi. Ada nilai plus-nya,” terang Johan.
“Ya, ya… Kakak emang seksi kok,” Mario menoleh ke Johan dan tersenyum lebar.
Johan terkekeh.
“Udah nih…” Mario menyodorkan Wortel yang sudah dipotongnya berbentuk serong.
“Sudah? Sekarang potong-potong Sawinya.”
“Sip.”

Sementara Mario beralih memotong Sawi, Johan memotong Bunga Kol perkuntum sebanyak dua genggam.

“Sudah asisten?” goda Johan ke Mario.
“Selesai, Chef!” balas Mario.
Johan terkekeh. Ia mengambil baskom sedang berisi Sawi yang sudah dipotong-potong. Ia mencucinya hingga bersih.

“Yo, tolong bawa ke sini Kembang Kol sama Wortelnya dong,” pinta Johan yang masih berdiri di depan bak cuci.

“Bawangnya juga?”
“Nggak. Bawangnya sudah dicuci tadi.”

Mario membawa wadah wortel dan Kembang Kol ke Johan.
“Nih…”
“Jangan lupa kalo nyuci buah atau sayuran itu harus benar-benar bersih. Biar pestisida, kotoran atau pun ulat yang menempel benar-benar hilang.”
“Ya, ya…”
“Zaman sekarang semua bahan makanan, baik yang mentah dan bisa dikonsumsi langsung rada-rada mengkhawatirkan. Kalo yang instan cemas sama komposisi dan bahan pengawetnya, sementara kalo bahan mentah takut sama pestisida-nya…” terang Johan.
“Iya, Kak. Bahkan sekarang ini di pasaran lagi marak yang namanya Semangka suntikan. Semangkanya biar rasanya lebih manis di suntik sama air gula…”
“Iya. Awalnya kita mau konsumsi buah-buahan untuk kesehatan tubuh, yang kita dapetin justru penyakit. Banyak pedagang nakal yang melakukan segala cara untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperhatikan kesehatan konsumennya. Semangka dan Jeruk disuntik gula, kacang diawetkan sama lilin, buah-buahan impor juga demikian. Diawetkan sama lilin. Makanya rada malas buat beli buah-buahan sekarang, terutama yang impor. Mendingan beli langsung ke kebunnya atau beli produk lokal deh…” gerutu Johan.
“Iya, Mama juga sering marah kalo gue suka jajan gorengan sembarangan…”
“Iya. Minyaknya kan udah nggak sehat lagi. Udah dipake berkali-kali…”
“Bukan itu aja Kak. Kata Mama, banyak minyak yang dicampur plastik biar gorengannya renyah.”
“He-eh. Dulu sempat beredar kabar kek gitu. Nggak heran deh kalo banyak konsumen yang kena penyakit berbahaya…”
“Ngeri juga ya, Kak…”
“Yah. Makanya Kakak lebih suka masak sendiri, ketimbang makan di luar. Meskipun sedikit merepotkan, tapi kita benar-benar tahu makanan yang masuk ke tubuh kita. Bisa terjamin kesehatannya. Kalo orang lain yang masak, kita nggak tahu sayurannya udah dicuci bersih apa belum, sudah benar-benar terbebas dari pestisida atau nggak…”
Mario mengangguk-angguk sambil mengikuti Johan yang berjalan menuju kompor. Johan menghidupkan kompor dan menumis bawang.

“Kakak belajar masak dari Mamanya Kakak ya?”
“Nggak. Kakak nggak pernah belajar masak. Cuma mungkin karena sering lihat Mama masak, jadi tahu sendiri gitu. Selebihnya baca-baca resep di internet…”
“Berarti emang udah ada bakat bisa masak ya…”
“Ya begitulah. Sekedar bisa masak, bukan jago masak.”
“Tapi kalo Kakak tekuni, atau ngambil pendidikan or kursus memasak, gue yakin Kakak bisa jadi chef handal.”
“Hahaha… Nggak pernah kepikiran untuk jadi chef. Kakak masak untuk diri sendiri aja. Jadi ketika tinggal sendiri, Kakak nggak dipusingkan lagi sama makanan. Nggak perlu tinggal di tempat yang deket sama warung nasi, bisa irit uang and… Bisa have fun juga. Kalo menu yang kita olah itu enak dan dipuji lidah orang lain, uhm, rasanya ada kepuasan batin…”
“Pasti pasangan Kakak bangga banget deh punya pacar yang bisa masak. Bisa masak berdua, kan romantis tuh…”
“Hehehe. Iya, bisa masak itu banyak keuntungannya…”
“Sayang gue nggak jago sama sekali. Pegang talenan aja gue nggak nyaman, hehehe. Gimana mo jago masak?”
“Makanya biasain. Kalo kamu bisa masak, kamu bisa buatkan menu spesial buat pacar kamu ntar. Atau buat kejutan untuk Mama…”
“Ya sih, pengen. Tapi balik lagi, gue anti banget sama yang ribet-ribet… Masak ini harus teliti kan ya? Nggak bisa sembarangan… Sementara gue itu grasa-grusu, pengen serba cepet…”
“Iya, makanya pekerjaan kamu nggak ada yang beres…!”
Mario nyengir.
“Eh, ini bawang apaan aja, Kak? Banyak banget?” tanya Mario sesaat melihat macam-macam bawang di wadahnya.
“Bawang merah, putih, bombay, daun bawang, Kucai…”
“Gue tahunya cuma bawang merah ama bawang putih…”
“Pasti karena sinetron ya?”
“Bukanlah. Karena itu yang sering gue lihat di mana-mana…”
“Nah, kalo yang ini kamu tahu nggak apa?” tanya Johan sambil menunjuk umbi berwarna oranye di antara wadah rempah-rempah.
“Ini mah Kunyit!”
“Kalo itu?” Johan menunjuk umbi sebesar pergelangan tangan anak kecil, bertekstur keras, berwarna cokelat agak kemerahan.
“Itu, namanya, eee, Asean, Asean…!”
“Asean?”
“Yaaa. Nama salah satu negara di Asia Tenggara… Uhm, Thailand, Kamboja, Filipin, Malaysia, Laos… Yeah! Laos, right?”
“Hahaha. Yoi, Laos alias Lengkuas.”
“Oke, kalo yang disebelahnya?” uji Johan lagi sembari mencampurkan Sawi dan Bawang Daun ke dalam kuali.
“Ini? Pasti Jahe!”
Johan mengangguk. “Nah, itu kamu udah tahu. Rempah-rempah standar masakan itu nggak jauh-jauh dari bumbu-bumbu tadi…”
“Tapi kalo gue lihat Bik Dar masak itu, bumbunya ribet banget dah. Ada Merica, Kemiri, Cengkeh dan macam-macam deh… Sampai-sampai gue bingung ngebedain mana yang Merica, Mana yang Ketumbar…”
“Bumbu yang digunakan dalam memasak itu emang tergantung sama masakannya. Nggak melulu pake Laos, Kunyit, Jahe… Sering kali kita juga memerlukan bumbu-bumbu yang kamu sebutkan tadi, buat memperkaya cita rasa masakan…”
“Gue nyerah deh. Nggak ngerti gue…”
“Hehehe. Ya udah, ambil mangkok aja gih. Bentar lagi Capcay kita masak nih…”
Mario mengangguk.

***

Di meja makan…

“Nih, hasil masakan kamu,” Johan menaruh mangkok Capcay ke hadapan Mario.
“Hummm…” Mario mengendus aroma dari mangkok Capcay yang masih mengepul. “Menggugah selera!”

Johan mengambil dua buah piring dan memberikannya satu untuk Mario.

“Ayo makan!” ajaknya.

Mario mengangguk. Ia menyendokkan nasi dan lauk tanpa sungkan.

“Makan yang banyak ya. Aku nggak mau pas Mama kamu ketemu kamu ntar, badan kamu lebih cungkring dari sekarang. Ntar dia ngira kamu nggak aku kasih makan di sini,” seloroh Johan.
“Hehehe. Tenang aja Kak. Justru Kakak yang harus siap-siap sama porsi jumbo makan gue ntar,” balas Mario.

Johan tersenyum tipis.

Mario makan dengan lahap. Ia benar-benar bersemangat menikmati santap siangnya bersama Johan.

Yaaah, memang hanya makan siang biasa. Tak ada kesan romantis sama sekali. Tapi tentu saja itu lebih dari sekedar makan siang bagi Mario yang sedang naksir Johan.

Selesai makan, mereka cuci piring bersama. Meskipun Johan tak meminta Mario membantunya, tapi anak itu bersihkeras membuntuti Johan menuju bak cuci. Meskipun ujung-ujungnya ia nggak kerja sama sekali, melainkan cuma melihat doang.

Kelar mencuci peralatan makan, mereka beranjak ke teras. Selesai makan tentu sangat nyaman bersantai di teras sambil ditemani hembusan angin siang yang lembut.

Seraya mengobrol ringan, diam-diam Mario online di Boyzforum dan PM-an dengan Ariesboyz. Tentu saja isi percakapannya mengenai Keberhasilannya ‘menyusup’ ke rumah Johan.

Malam harinya, sekitar tiga puluh menit sehabis makan malam, Johan mengingatkan Mario untuk belajar. Saat itu Mario tengah malas-malasan duduk di sofa ditemani Handphone-nya.

“Huhhh…,” Mario menghembuskan napas dari sela-sela bibirnya.
“Buruan! Ingat tujuan kamu di sini apa.”

Mario nyengir dan melangkah malas ke kamar. Sementara Johan mengikuti dari belakang.

“Gue berani kok sendirian di kamar, Kak. Nggak usah ditemani,” seloroh Mario.
“Cuma mo pastiin kamu ke meja belajar, bukan ke tempat tidur.”
“Hehehe… Segitunya…” gumam Mario sambil duduk di meja belajarnya.
“Besok kamu ada bidang study apa?” tanya Johan seraya menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan santai.
“Sosiologi, Bahasa Inggris, Kesenian sama Agama.”
“Nggak ada PR?”
“Nggak ada.”
“Tugas mata pelajaran lain ada nggak?”
“Uhmmm, kayaknya nggak deh…”
“Ya udah. Terserah kamu mo belajar atau nggak.”
“Eh?”
“Iya. Sebenarnya Kakak itu nggak pernah mewajibkan setiap malam harus belajar. Apalagi kalo nggak ada tugas. Tergantung mood aja. Kalo lagi kepengen belajar, ya belajar. Tapi kalo mood lagi jelek, kenapa mesti dipaksakan? Hasilnya nggak akan bagus. Mendingan cari cara dulu buat ngembalikan mood. Setelah itu baru belajar, baca-baca materi buat besok…”
“Tergantung mood ya? Tapi mood gue selalu buruk kalo berhadapan sama buku pelajaran…” Mario nyengir kuda.
“Makanya mood itu juga harus dimanajemenkan. Meskipun melakukan sesuatu harus berdasarkan mood, tapi jangan sekali-kali mood dijadikan alasan untuk mangkir dari kewajiban kita. Mulai sekarang coba deh kamu belajar untuk melawan rasa malas, timbulin dari dalam diri kamu motivasi yang bisa membangkitkan semangat. Putar terus dalam otak kamu apa yang bisa menjadi sumber kekuatan kamu untuk belajar… Jadikan itu senjata.”
“Engg… Kakak sendiri apa yang selalu menjadi sumber kekuatan dalam melakukan aktivitas Kakak?”
“Aku? Ego.”
“Ego? Maksudnya?”
“Aku ini orangnya punya ego yang tinggi. Selalu memikirkan harga diri. Satu-satunya yang membuat kita merasa lebih dari orang lain itu adalah saat kita merasa harga diri kita lebih tinggi dari orang lain. Dan ego dalam diri aku itu selalu meledak-ledak, membuat aku terus terdorong buat melakukan hal terbaik…”

Mario mangut-mangut.

“Jangan pernah merasa rendah diri, karena rasa rendah itu akan membuat seseorang menjadi pasrah dan malas berusaha. Selalu kata tidak mampu yang memenuhi benaknya. Takut gagal. Ngerasa orang lain selalu lebih baik dari diri kita dan menganggap kita nggak bisa kayak mereka.”

Mario tak menanggapi ucapan Johan. Ia berputar menghadap meja belajar dan menarik salah satu buku dari tumpukannya.

***

***Mario***

Sumpah. Gue bingung mau mulai dari mana. Bukan style gue banget deh duduk di depan meja belajar dengan buku pelajaran terbuka di hadapan. Gue ngerasa kek kutu buku gitu. Hahaha.

Tapi gue harus ngelakuin semua ini di depan Kak Jo. Gue harus berakting seserius mungkin agar dia terkesan sama gue. Wkwkwk.

Gue membuka lembar demi lembar buku yang terbuka dengan perasaan malas. Hadeeh, kapan nih Kak Jo keluar dari sini? Dalam beberapa situasi, gue lebih senang dia nggak dekat-dekat gue, salah satunya dalam situasi kek gini. Tapi sayangnya tuh orang sepertinya bisa ngebaca isi hati gue. Dia nampak tenang tiduran di ranjang sambil terus menatap layar HP-nya. Nggak menunjukkan tanda-tanda bakal meninggalkan kamar ini sesegera mungkin.

“Kak Jo nggak belajar?” tanya gue. Berharap dia segera pergi dari sini dan belajar di kamarnya.
“Belajar? Kakak masih libur kok.”

Ugh. Gue menekan gigi bawah gue dengan gemas. Sekarang kan dia emang masih dalam rangka liburan!

“Kalo libur nggak belajar ya?” gue nggak putus asa.
“Libur ya gunakan buat liburan.”

Haish!

Gue menatap ke buku Sosiologi di depan gue dengan frustasi. Seandainya buku ini bisa berubah jadi stensilan…

Gue menguap lebar seiring nada pesan dari HP Kak Jo kembali berkumandang. Entah dia tengah SMS-an sama siapa…

***

***Johan***

Aku melirik Mario yang duduk membelakangiku di depan meja belajar. Ia nampak serius. Senang melihatnya. Mungkin ia mau menunjukkan kesungguhannya untuk memenuhi harapannya di UN nanti.

Tiba-tiba ponsel-ku berbunyi. Ternyata SMS dari Ajeng.

[b]Dari: Ajeng
Time: 20.09
Date: 19/01/2013

Jo, gw putus sama rahmat.

¥Loving You¥[/b]

Putus? Hanya itu yang keluar dari bibirku.

[b]Dari: Johan
Time: 20.10
Date: 19/01/2013

I’m sorry 2 heart that. Tapi semoga itu yg terbaik, Jeng.

Dari: Ajeng
Time: 20.12
Date: 19/01/2013

ya, Jo. Gw udh cukup sabar ya selalu mengalah.

¥Loving You¥

Dari: Johan
Time: 20.13
Date: 19/01/2013

gak ush sedih. Msh ada kita2 di samping km. Bkn km aja yg single sekrg, ;p

Dari: Ajeng
Time: 20.14
Date: 19/01/2013

haha. Bs aje elu ye? Elu pada mah emang jomblo akut! Wkakak.

¥Loving You¥

Dari: Johan
Time: 20.14
Date: 19/01/2013

eits! Aku bkn jomblo, tp single!

Dari: Ajeng
Time: 20.16
Date: 19/01/2013

apa bedanya, woy?!

¥Loving You¥

Dari: Johan
Time: 20.17
Date: 19/01/2013

beda dong. Single itu pilihan, kalo jomblo mah nasib, ;D[/b]

Kali ini Ajeng membalas SMS-ku agak lama. Moga aja dia ada kesibukan lain, bukan tengah menangisi nasib cintanya yang kandas, hehe.

Aku pun kembali melirik Mario yang sedari tadi tak bersuara sama sekali. Ia nampak fokus sama buku pelajaran—entah apa—yang ia baca.

“Yo…” panggilku.
Mario menoleh.
“Nggak apa-apa.”
Mario berdecak.

Tiba-tiba SMS dari Ajeng masuk lagi.

[b]Dari: Ajeng
Time: 20.23
Date: 19/01/2013

Alibi[/b]

Aku terkekeh membaca balasannya.

[b]Dari: Johan
Time: 20.24
Date: 19/01/2013

kok blsny lama? Jgn bilang km lg mewek di toilet, ;D

Dari: Ajeng
Time: 20.25
Date: 19/01/2013

enak aje! Gw strong girl ya! Lg baca motivasi Marguh neh…😄

Dari: Johan
Time: 20.25
Date: 19/01/2013

haha. Pernh baca status fb Pipit gak?[/b]

Setelah menekan tombol send, aku melangkah mendekati Mario.

“Baca apa sih?”
Ia mendongak. “Eh, ini Sosio…” ia menunjukkan cover buku yang ia baca.
“Ternyata kamu bisa juga konsentrasinya…” pujiku sambil tersenyum.
Ia membalas senyumanku dengan sangat manis.
“Salah satu kelemahan Kakak, nggak pernah betah baca buku di meja belajar. Rasanya sangat kaku. Biasanya kalo baca itu di tempat tidur, teras atau ruang tengah…”
“Gue juga biasanya gitu, Kak. Baca di sini nggak nyaman,” jawabnya sambil menggeliat dan meregangkan otot-otot pinggang dan lengannya.
“Kalo nggak nyaman gimana bisa masuk ke otak yang kamu baca?” tanyaku.
“Emang nggak masuk. Nggak ngerti apa yang gue baca,” Mario menggaruk-garuk kepalanya.
“Haish!” Aku mengacak rambutnya.

Ia merunduk dengan gerakan ‘jinak’.

“Kalo mau belajar itu, yang diutamakan adalah kenyamanan. Kalo nggak nyaman gimana bisa belajar dengan baik? Dalam suasana yang nyaman, tenang dan kondusif aja terkadang otak kita nggak bisa diajak kompromi, gimana kalo jelas-jelas udah nggak nyaman keadaannya?” terangku panjang lebar.

Jemari Mario mengetuk-ketuk permukaan meja.

“Belajar nggak mesti terpaku di tempatnya. Bisa di mana aja sesuai keinginan kamu…”

Mario masih mengetuk-ketuk meja.

“Masa sih hal kek begini mesti di kasih tahu juga???”

Ia nyengir.

“Dasar…” gerutuku sambil membuka SMS Ajeng yang baru masuk.

[b]Dari: Ajeng
Time: 20. 27
Date: 19/01/2013

yg mana?

Dari: Johan
Time: 20.27
Date: 19/01/2013

Pacaran : Maen krmh pacar
LDR : Asik telfonan
Jomblo : Ngebc satu persatu Motivasi Marguh.

Dari: Ajeng
Time: 20.28
Date: 19/01/2013

kamsud elu??? Elu nyindir gw???[/b]

Aku terkekeh membaca balasan Ajeng, apalagi saat membayangkan mimik wajahnya saat melontarkan kalimat barusan.

[b]Dari: Johan
Time: 20.28
Date: 19/01/2013

hihi. Tersinggung y? Maap deh.
Btw, kok gak ada embel2 “loving u” lg di sms km?

Dari: Ajeng
Time: 20.29
Date: 19/01/2013

mendingan gw bc motivasi kali dr pd nangis di toilet?😄
loving u udah gak ada! Gw apus!
Eh, Jo, bsok elu ada waktu gak? Jalan2 yuk?

Dari: Johan
Time: 20.31
Date: 19/01/2013

boleh. Jm brp? Biar aku jemput.

Dari: Ajeng
Time: 20.31
Date: 19/01/2013

pkul sebelas gmn?

Dari: Johan
Time: 20.32
Date: 19/01/2013

sip. Besok aku jemput.[/b]

“Lagi SMS-an sama siapa sih? Keknya seru banget tuh…” tanya Mario.
“Mau tahu aja…”

Mario mencebikkan bibirnya.
Aku tak menggubrisnya dan kembali ke ranjang.

“Kak, udahan ya belajarnya?”
“Terserah kamu dong,” jawabku.
“Oke. Have doneeee….!!!” serunya sambil menutup buku dan bergegas menghampiri ranjang.
“Yuhuuu…!!!” ia menghempaskan tubuh di sampingku.

Aku geleng-geleng kepala.

“Coba jelasin ke Kakak apa yang udah kamu baca tadi,” kataku.

Mario langsung nyengir sambil mengerjap-kerjapkan matanya.
Aku membalas dengan menaikkan kedua alisku.

“Uhmmm… Apa ya?? Enggg…”
“Masa sih sedikit aja nggak nyangkut di otak kamu? Tadi itu baca apa cuma lihat gambarnya doang?”
“Baca sih, tapi ya gitu deh, hihihi…”

Aku menekan gigi-geligiku cukup keras. Geram sekaligus gemas dengan anak ini.

“Oke, malam berikutnya Kakak bakal tanya apa yang udah kamu baca atau pelajari, biar kita sama-sama tahu gimana hasil belajar kamu… Ada hasilnya atau nggak…” pungkasku.

Mario mengubah posisinya menjadi telungkup dan membenamkan wajahnya ke bantal.

***

Malam semakin senyap. Hanya cahaya temaram dari lampu tidur yang masih setia menemani Mario yang masih terjaga.

Selarut ini matanya belum juga dikeruyupi rasa kantuk. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan setiap detik yang sudah ia lalui bersama Johan hari ini, sehingga tidur pun rasanya ia tak ingin.

Hari ini ia lalui begitu indah. Menikmati siang hingga malam hari bersama Johan, orang yang ditaksirnya, benar-benar luar biasa. Hatinya tak henti-hentinya berdebar keras. Bahagia dan gugup bercampur aduk dalam hatinya setiap berdekatan dengan Johan.

Ah, sepertinya ia benar-benar sudah jatuh hati pada calon pengajar muda itu.

Mario menghela napas pelan dan penuh perasaan. Akhirnya, ia bisa masuk dan tinggal di rumah ini dengan lancar.

Apakah gue bisa menggaet Kak Jo selancar itu juga??? Mario bertanya-tanya.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: