Chapter VIIb

Setelah makan malam bersama, gue dan Kak Jo kembali ke rumahnya. Kami duduk santai di ruang keluarga sambil menonton TV.

“Kak Jo…” panggil gue.
“Eh?”
“Keberatan nggak kalo gue tinggal di sini?” tanya gue sambil menelan ludah. Gue deg-degan banget nanya soal ini.
Kak Jo menatap gue lekat.
“Um, maksud gue, biar gue bisa lebih fokus belajarnya,” terang gue buru-buru.
“Maksud kamu tinggal di sini itu gimana?” rupanya ia belum mengerti maksud gue.
“Yaa, tinggal bareng. Gue mau tinggal sama Kakak di sini. Kakak kan sendirian?” dada gue makin berdegup kencang.
“Engg…” Kak Jo menggaruk-garuk kepalanya.

[i]Duh, keknya dia nggak setuju nih…[/i]

“Gue sih pengen sungguh-sungguh. Kalo gue tinggal di rumah, gue orangnya suka teledor karena nggak ada yang ngarahin… Kalo bareng sama Kakak, mungkin gue bisa lebih disiplin…” gue mencoba meyakinkannya.
“Apa harus seperti itu?”
“Entahlah,” gue mengangkat bahu. Gue pun sebenarnya nggak percaya sama ide gila gue ini. “Tapi itulah kata hati gue yang sekarang…” terang gue jujur.
“Pikirin aja dulu masak-masak. Aku rasa itu terlalu berlebihan,” kata Kak Jo.

Aku langsung mangut-mangut. Apakah itu artinya penolakan? Semangat gue langsung hilang.

“Oke…” desis gue pelan.

***

Sumpah. Memikirkan ide gila gue tadi bikin hati gue nggak tenang. Gue rasa, gue sudah benar-benar gila. Gue sudah bertindak terlalu jauh. Apakah gue harus melakukan semua rencana ini demi mendekati Kak Jo?

Gue mengubah posisi berbaring gue. Sementara malam semakin hening. Waktu di layar HP sudah menunjukkan pukul 23.06. Tapi kedua mata gue tak bisa terpejam barang sejenak pun.

Gue ngerti kenapa gue nggak bisa tidur, karena hati gue gelisah. Hati ini nggak tenang, masih mengharapkan bisa tinggal serumah bareng Kak Jo.

Ya. Sebenarnya nggak ada yang pelu dipikirkan lagi. Sejak ide untuk belajar dengan Kak Jo terlintas di benak gue, gue sudah memikirkan untuk tinggal bersama dia. Dan hati gue selalu menggebu-gebu setiap membayangkan kenyataan itu. Betapa manisnya tinggal satu atap, hanya berdua, bersama orang yang kita suka. Rasanya seperti di film-film romantis.

Angan-angan gue membubung tinggi, setiap membayangkan sederet kejadian romantis yang (mungkin) akan terjadi antara kita berdua. Melakukan pekerjaan rumah sama-sama, belajar sama-sama, masak dan cuci piring sama-sama… Dan kebersamaan itu menimbulkan perasaan cinta di hati Kak Jo untuk gue, seiring berjalannya waktu.

Akh, begitu indahnya angan-angan itu. Tapi, bukankah ini terlalu muluk-muluk? Bahkan saat gue berencana mewujudkan rangkaian mimpi indah itu, sekarang gue sudah merasakan sakitnya. Gue ditolak secara halus.

Napas gue berhembus pelan dan berat. Gue nggak akan menyerah begini ajakan?

Nggak. Gue harus tinggal di sini, bagaimanapun caranya, tekad hati kecil gue.
Besok gue bakal minta persetujuan Mama buat tinggal di sini. Setelah itu gue akan meyakinkan Kak Jo lagi, kalo gue sungguh-sungguh. Ya, gue sungguh-sungguh. Gue bakal buat dia menyukai gue seiring berjalannya waktu, itu tekad gue.

***

Keesokan harinya sepulang sekolah…

Gue melangkah cepat memasuki rumah.

“Biiikkk…!!!” teriak gue.
“Mariooo…! Kenapa teriak-teriak???”
Gue menoleh ke arah sumber suara. Di salah satu sofa, nampak Mama duduk sambil melotot ke arah gue.
“Eh, Ma, kok ada di rumah?”
“Ya, hari ini Mama pulang cepat, soalnya nggak ada meeting.”
“Oh, gitu…” timpal gue sambil berlalu menuju kamar. Tapi baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba ada sesuatu melintas di benak gue.

Ah, ini saatnya ngomong sama Mama soal tekad gue semalam, gumam gue dalam hati. Gue pun menghampiri Mama.

“Eh, kenapa nggak ganti baju?” tanya Mama sembari membuka halaman majalah di tangannya.
“Ma, Rio mo ngomong nih…” kata gue tanpa memperdulikan pertanyaannya.
“Apa?” tanya Mama acuh tak acuh dengan tatapan masih tertuju ke majalahnya.
“Rio mau tinggal sama Kak Jo.”
“Tinggal sama Johan?” ulang Mama masih acuh tak acuh.
“Iya. Pindah ke sana,” gue menakankan kata pindah.
“Eh?” Mama langsung menoleh ke gue. “Pindah gimana?” ia langsung fokus ke gue.
Gue tersenyum kecil.
“Rio mau mempersiapkan UN dengan matang. Banyak mimpi yang pengen Rio wujudkan di UN nanti, Ma…” terang gue.
“Memang seharusnya begitu, Nak…” Mama tersenyum manis.
“Rio pengen lulus dengan baik, bisa masuk PT yang bergengsi…”
“Jangan cuma omong doang, buktikan dong. Mulai sekarang belajar yang bener…” potong Mama.
“Aih, dengerin dulu, Ma,” gerutu gue. “Rio bukan cuma omdo. Rio bakal buktiin ke Mama. Makanya Rio ambil keputusan buat pindah ke rumahnya Kak Jo. Rio pengen fokus belajar sama Kak Jo. Rio tahu, semua orang tua pasti pengen punya anak ke dia. Rio bakal berusaha untuk seperti itu…”
Mama menatap gue lekat. Sepasang matanya nampak berkaca-kaca.
Gue mendesah pelan. Gue tahu apa yang ada di pikiran Mama. Pasti soal keadaan keluarga ini lagi. Tekanan yang selalu gue arahkan ke beliau, soal Kak Marco, soal Papa… Selalu seperti ini. Masalah keluarga adalah masalah yang paling sensitif di keluarga gue.
“Mungkin apa Rio bilang ini, nggak akan bisa Mama atau siapapun yang dengar akan percaya gitu aja. Semua orang udah tahu Rio ini anak seperti apa. Rio juga nggak bisa menjanjikan semuanya akan berjalan sesuai keinginan Rio. Tapi begitu besar keyakinan yang tertanam di hati ini, Ma. Rio punya tujuan melakukan semua ini, mungkin itu yang membuat Rio tak sabar pengen melakukannya. Rio punya alasan yang sulit untuk Rio katakan…” kata gue panjang lebar.
Entah apa yang sudah merasuki gue, sampai gue bisa merangkai kata-kata barusan. Namun yang pasti, gue emang punya alasan kenapa gue rela ngelakuin semua ini. Alasan gue adalah Kak Jo. Mungkin ini alasan konyol dan klise. Tapi gue nggak perduli. Selagi rasa ini bisa membuat gue makin positif, gue dengan senang hati akan melakukannya.

“Jadi, boleh ya, Ma?” tanya gue lagi.
“Kenapa harus pindah ke sana?”
“Mama tahu gimana perasaan Rio di sini…”
Mama mendesah pelan dan panjang.
“Di sana, ada Kak Jo yang bisa bantu Rio belajar. Rio juga bisa belajar mandiri sama dia…” terang gue lagi.
“Tapi Mama—”
“Ayolah Ma, demi kebaikan diri anak Mama sendiri kok. Kan Mama sendiri yang bilang harus cari temen yang tepat???”
“Masalahnya itu bukan ituuu, tapiii… Mama nggak mau kamu ninggalin Mama…”
“Rumah Kak Jo sama rumah kita ini deket kok. Rio juga bukan Bang Toyib kali. Rio bakalan sering balik ke sini. Dua minggu sekali minimal. Kadang-kadang mungkin Kak Jo yang bakalan nginap di sini,” terang gue.
“Ah, makin sepi deh rumah ini,” gumam Mama sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Gue hanya diam.
“Tapi kalo itu demi kebaikan kamu, mama nggak ngelarang kok…”
Gue tersenyum lebar.
“Makasih Ma…”
“Ya. Tapi janji, BELAJAR YANG BENER! BUKTIIN KE MAMA KALO KEPUTUSAN KAMU INI ADA HASILNYA!” Mama melotot.
“Yaaahh, baru aja mau Rio peluk, udah naik beberapa oktaf suaranya. Nggak jadi deh!” Gue pura-pura ngambek.

***

***Johan***

Aku menatap cowok berambut hitam kecokelatan di depanku ini dengan seksama. Ia merunduk sedikit, seolah tak nyaman oleh tatapanku itu.

Mario. Jalan pikiran anak ini sedikit tak terduga. Barusan ia kembali mengutarakan keinginannya untuk tinggal bersamaku.

“Kamu sudah bicara soal ini sama Mama kamu?” tanyaku.
“Sudah,” jawabnya mantap. “Dan ia nggak melarang.”
“Kamu serius nggak sih?” tanyaku meyakinkannya.
“Seratus persen!”

Aku mangut-mangut.

“Kapan rencananya kamu mau tinggal di sini?”
“Sekarang juga.”
“Sekarang?”
“Iya. Lebih cepat lebih baik,” jawabnya sambil tersenyum.
“Oke baiklah. Ikut aku!” kataku sambil berdiri.
“Kemana…?” ia ikut-ikutan bangun dari duduknya.
“Ke rumah kamu. Kakak mau bicara sama Mamamu…”
“Ooohhh… Oke!”

***

Aku sengaja menemui Tante untuk membicarakan soal keinginan Mario itu. Makanya aku mengajak dia ke rumahnya lagi. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan sama Mamanya.

Mamanya Mario seperti biasanya, menyambutku dengan ramah. Ia juga menanyakan kabarku. Setelah sedikit basa-basi, aku pun menyampaikan maksud kedatanganku.

“Te, Mario udah cerita soal keinginannya untuk tinggal bersamaku?” tanyaku.
“Iya, dia sudah bilang sama Tante…”
“Oh, begitu…” aku mengangguk-angguk.
“Sebenarnya Tante sedikit keberatan sama keinginannya itu. Dia bilang mau fokus belajar untuk persiapan ujian sama kamu. Tapi kan nggak harus merepotkan kamu dengan cara tinggal sama kamu…”
“Hehehe, nggak masalah sih sebenarnya. Aku sendirian di rumah setelah Papa-Mama pindah dan tinggal sama Abangku. Kalau Mario jadi tinggal sama aku, jadi nggak bakalan kelewat sepi lagi…”
“Ya, ya… Semoga dia nggak berulah di sana… Kau tahu, dia sedikit liar, Jo…” Tante melotot ke Mario.
“Aish…! Liar gimana…???” protes Mario.
“Tenang aja, Te. Aku pasti bisa jinakin dia,” selorohku sambil melempar pandangan ke Mario.
Mario mesem-mesem.
“Tante berharap banyak sama kamu, Jo. Kayaknya kamu bisa membuat Mario lebih baik. Tante berharap banget aura positif kamu bisa tertular ke dia…”
“Bakalan aku coba, Te. Hitung-hitung jadiin dia kelinci percobaan sebelum terjun jadi pengajar sesungguhnya…”
“Hahaha…!” Tante tergelak.
“Sembarangan aja jadiin gue kelinci percobaan…” gerutu Mario.
“Jadi kapan kamu resmi ninggalin rumah, Yo?” tanya Tante.
“Kalo sekarang nggak apa-apa kan, Ma? Lebih cepat kan lebih baik…”
“Buru-buru amat? Keknya emang udah nggak kerasan lagi sama suasana rumah…”
“Nyindir nih…?” balas Mario.
Tante tersenyum simpul.
“Ya udah, kalo gitu buruan siapin apa aja yang mau kamu bawa?? Jangan bawa semuanya,” kata Tante.
Mario langsung bangkit. “Gue ke kamar dulu ya, Kak,” pamitnya sambil mencolek pundakku.
Aku mengangguk. Sementara Mario menyiapkan barang-barangnya, aku dan Tante kembali ngobrol ringan.

***

***Mario***

Yeyeyeye!!! Yeyeyeye!!!

Ihaaaaa…!!

Gue melompat-lompat di atas ranjang dengan perasaan riang gembira.

Gue-bakal-tinggal-bareng-Kak-Jo!!!

Yeah, tinggal bareng Johan Adiwiguna. Ini kek seperti mimpi.

Huuhhh… Gue menghempaskan tubuh ke ranjang. Gue terlentang bebas sambil menatap langit-langit kamar.

What’s next?

Gue memejamkan mata erat. Serangkaian khayalan indah bertebaran di pelupuk mata gue.

Very beautiful. Kalo kata Selena Gomez mah, Love you like a love song deh.

Begitu manis dan menenangkan. Belum apa-apa gue udah merasa kek Cinderella yang hidup bahagia selama-lamanya sama Sang Pangeran.

Hahaha.

Gila.

Alay banget sih gue???

[i]Cowok cool dilarang alay![/i] hati kecil gue mewanti-wanti.

Oke…, desis gue sambil membuka mata. Gue lantas bangkit dan melompat menuju lemari. Gue keluarin satu tas kecil dan mulai memilah dan memilih pakaian yang bakal gue bawa ke rumah Kak Jo.

Gak perlu banyak-banyak dah. Gue kan bisa ngambil pakaian di sini kapan aja. Yang wajib gue bawa itu buku pelajaran sama gadget aja. Setelah menutup restleting tas dan memakai topi, gue kembali ke bawah menemui Mama dan Kak Jo.

“I’ve done,” beritahu gue sambil mengangkat tas.
Mama dan Kak Jo menoleh ke gue.
“Cuma segitu?” tanya Kak Jo.
“Kan kapan-kapan bisa ambil lagi ke sini,” kata gue.
“Oh, iya…”
“Kamu benar-benar belajar di sana, Yo. Jangan pikir karena jauh dari Mama, maka kamu bisa bebas. Mama bakal pantau kamu terus!”
“Kalo mau santai-santai, Rio nggak bakal milih tinggal sama Kak Jo kali, Ma. Tapi ke rumahnya Arie atau Gugum…” balas gue.
Mama misuh-misuh.
Kak Jo tersenyum tipis.
“Ayo pulang yuk, Kak?” ajak gue.
“Oke, Yok…!”
“Ma, Rio pulang ya…” pamit gue sambil nyengir.
Mama merengut.
“Ish, jelek deh…” goda gue.
“Awas kalo nilai kamu nggak memuaskan pas ujian ntar…!” ancam Mama.
“Makanya doain…” balas gue.
“Mau beribu-ribu orang ngedoain, atau mulut Mama sampai berbusa panjatin doa buat kamu, kalo kamunya nggak berusaha, nggak ada gunanya.”
“Tenaaanggg, Rio bakal berusaha sampai titik darah penghabisan…!” ucap gue sungguh-sungguh.
Mama mengangguk. Gue dan Kak Jo pun berangkat menuju rumah kita, eh, rumah dia lagi. Hihihi.

***

“Kamar tamu ini, jadi kamar kamu,” kata Kak Jo sambil melangkah masuk ke kamar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Dia cool banget.
Gue mengangguk sambil meletakkan tas di atas ranjang.
“Buat senyaman mungkin. Tapi harus selalu rapi dan bersih!”
“Siap Bos!”
Kak Jo berjalan ke arah lemari. Ia membuka lemari tersebut.
“Pakaian kamu taruh di sini aja. Tapi dibersihin dulu.”
Gue mengangguk.
Kak Jo kemudian berjalan keluar tanpa ngomong apa-apa lagi. Gue membuka tas dan mengeluarkan barang bawaan gue sambil bersiul kecil.
“Ini sapu sama kemoceng. Terus ini kalo butuh hanger,” ia menyandarkan sapu di dinding. Sementara kemoceng dan beberapa buah hanger ia taruh di atas ranjang.
Gue lagi-lagi mengangguk.
“Oh, iya, sarung bantal sama seprai-nya dilepasin aja. Ganti aja yang baru. Yang ini kita cuci aja dulu,” katanya lagi.
“Biarin aja, Kak.”
“Apek!” ucapnya singkat sambil berlalu lagi keluar kamar.

Sementara Kak Jo pergi keluar, gue menghampiri lemari yang tadi dibuka Kak Jo. Gue membersihkan bagian dalamnya dengan kemoceng. Tak lupa juga gue mengelap kacanya biar lebih kinclong. Baik pakaian yang sudah dilipat dan digantung di hanger, semuanya gue masukin ke dalam lemari itu. Beres.

Sekarang gue tinggal nyapu dikit dah. Saat gue lagi nyapu itu, datang lagi Kak Jo sambil membawa sarung batal dan guling serta seprei. Tanpa ngomong apa-apa, dia langsung menarik seprei yang menutupi springbed. Dengan cekatan ia menukarnya dengan yang baru. Tak hanya itu, ia juga mengganti sarung bantal dan guling yang lama dengan sarung baru yang motifnya sama dengan motif seprei yang baru saja dipasangnya. Masih ada lagi. Ia membawakan sebuah selimut yang lagi-lagi bergambar sama dengan seprei dan sarung bantal plus guling.

“Kakak penggemar Spidey ya?” tanya gue sambil melihat gambar Spiderman gede banget terbentang di atas ranjang.
“Ya…” jawabnya sambil memungut seprei dan sarung bantal yang bertumpuk di atas lantai.
“Kenapa suka Spiderman?”
“Karena Spiderman satu-satunya Superhero yang celana dalamnya di dalam,” ia nyengir.
“Hah?” gue langsung terkekeh.
“Masa sih cuma karena itu?”
“Hehehe. Suka aja. Dia keren dan stylish, you know?”
Gue mengangguk-anggukan kepala.
“Ya udah, buruan beresin kamarnya. Setelah ini kamu harus bantu aku di dapur.”
“Masak?”
“Of course. Di sini nggak ada Bik Dar,” ia tersenyum sambil mengangkat alisnya.
“Oke!”
Ia mengangguk lalu meninggalkan gue lagi.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: