Chapter VII

Chapter VII

***Mario***

“Boyz—”
Gue langsung menyambar HP di samping bantal sebelum Kak Jo menuntaskan bacaannya.
“Boyzforum?”

Aih, mampus gue! Dia udah baca!!! Jantung gue langsung berdegup kencang.

“Mirip Facebook tampilannya…” kata Kak Jo lagi.
“I-iya…” gue menjawab dengan gugup.
“Forum apaan tuh? Semacam Kaskus gitu ya?”
“Uhm, yaaa begitulah…” gue menghela nafas sejenak.
“Ooo… Kamu suka nge-forum juga?”
“Nggak!”
“Lha itu?”

Otak gue langsung berpikir keras mencari alasan yang tepat. Kak Jo udah baca nama BF. Sewaktu-waktu bisa aja dia cari tahu soal BF ini dan orientasi seks gue bisa terbongkar.

“Eee, hmmm, Kak, pernah buka Boyzforum ini?” gue balik nanya.
Ia geleng kepala.
“Ini… Forum gay.”
“Gay? Lho, ngapain kamu buka forum gituan? Kamu gay yaaaa…?”
“Enak aja! Kalo gue gay, ngapain gue kasih tahu ini forum apa?” balas gue.
“Terus kenapa kamu buka forum begituan?”
“Nggak sengaja sih. Tadi gue lagi ol di FB, terus ada yang baru nge-add gue, iseng-iseng gue buka info akunnya. Di situs webnya tertulis Boyzforum. Gue klik dah. Gue pikir forum tentang dunia cowok gitu, eeh, gak tahunya forum beginian, hahaha…” gue mengemukakan alasan.
“Berarti teman kamu itu gay dong?”
“Mungkin. Dia baru nge-add gue dan tinggalnya di Kalimantan…”
“Waaah, hati-hati kamu. Dia lagi ngincer kamu tuh, hehehe…” goda Kak Jo.
“Hahahaha. Kalo cakep emang banyak yang suka ya. Nggak cowok, nggak cewek, wkwkwk…” balas gue.
“Kalo dia nembak kamu terima aja. Kamu kan jomblo…” Kak Jo terkekeh.
“Haish! Pacaran sama cowok? Sakit dong gue…!”
“Maybe… Hahaha…!”

Gue menatap Kak Jo sejenak. Wajahnya nggak menunjukkan ilfeel sama sekali membahas tentang orientasi seksual. Hmmm, mungkin ini saatnya gue cari tahu pendapat dia soal gay.

“Kak Jo, emang gay itu gimana sih?” tanya gue pura-pura bodoh.
“Cowok suka sama cowok kan?”
“Kok bisa ya? Emang gimana bisa gitu?”
“Nggak tahu juga. Tapi setahu Kakak, penyimpangan seksual itu bisa dikarenakan pengalaman waktu kecil dan faktor lingkungan…”
“Pengalaman kek gimana?”
“Kalo pernah mengalami pelecehan seksual sewaktu kecil, katanya bisa menyebabkan orientasi seksual seseorang berubah… Pernah disodomi gitu…, But, I dunno for sure.”
“Ooohhh, terus mereka itu berbahaya nggak?”
“Eeennggg… Nggak tahu. Belum pernah ketemu sama orang kayak gitu.”
“Tapi kalo kita nonton TV, sering bangetkan berita mengenai pembunuhan berantai yang dilakukan oleh para gay. Ada Ryan Jombang, terus siapa lagi tuh yang sempat heboh, pokoknya pelakunya mereka-mereka itu…”
“Uhm, gimana ya? Kakak tuh mikirnya gini, sebenarnya kejahatan seperti pembunuhan dan pemerkosaan itu bisa dilakukan siapa aja. Sering banget tuh kita baca di koran atau nonton berita yang ngelakuinnya orang “normal” gitu. Dan kita yang mengetahuinya biasa aja. Tapiii, sebuah kasus kejahatan, akan menyita perhatian publik jika pelakunya itu kaum minoritas. Semisal lesbi atau gay gitukan, mereka ini oleh masyarakat dianggap sesat, kotor, menyalahi kodrat… Dengan tindak kejahatan yang mereka lakukan, maka di mata masyarakat mereka itu semakin hina. Makin kuatlah alasan bagi masyarakat untuk menghujat mereka. Kejahatan mereka itu dihubung-hubungkan dengan orientasi seksual mereka. Padahal pada kenyataannya, kaum mayoritas lah justru yang lebih banyak melakukan tindakan kejahatan. Yaaah, pada intinya semua orang punya potensi untuk melakukan kejahatan, tanpa memandang status orientasi seksual mereka. Kebetulan aja sih yang terungkap selama ini pelakunya homo semua. Jadi setelah melihat beberapa kasus kejahatan yang pelakunya homo semua, jadi terbentuklah opini publik yang mengatakan kalo gay itu semuanya psycho, jahat, berdarah dingin… Padahal nggak semuanya sih menurut Kakak… ” terang Kak Jo panjang lebar.
“Iya, sih. Karena mereka minoritas, jadi apa yang mereka lakukan itu kentara banget yah… Ibarat noda di baju putih, gampang kelihatan,” gue setuju dengan pendapat Kak Jo.

Hmmm, makin kagum deh sama dia. Ternyata pandangannya terbuka banget.

“Jadi seandainya ada teman Kakak yang gay atau lesbi, gimana sikap Kakak ke dia?”
“Waduwh! Nggak pernah kepikiran sih punya teman yang kek gitu. Semoga aja nggak ada…”
“Kan seandainya…”
“Bingung juga sih… Tapi mungkin lihat dulu orangnya gimana. Kalo bisa jaga sikap, tetap bisa saling menghargai, nice person, keknya nggak masalah deh…”
“Asal nggak coba-coba kurang ajar ya…” sambung gue.
“Yup. Nggak maksa Kakak buat jadi pacarnya juga, hahaha…!”
“Hehehe…” gue lega mendengar jawaban Kak Jo.

“Uhmm, seandainya gue gay, Kak Jo nggak bakal ngejauhin gue dong?” pancing gue.
“Kalo kamu gay, Kakak lempar ke sungai Musi!”
“Haish!”
“Emang kamu mau jadi gay?”
“Kan misalnya…”
“Gimana sih, berandai-andai jadi gay… Orang itu berandai-andai jadi presiden!”
“Hehehe…” gue nyengir.

Thanks so much, God. Perasaan gue lega banget setelah mendengar pandangan Kak Jo barusan.

***

*On Boyzforum*

*Pukul 19.48*

[quote]
[b]Ariesboyz:[/b]
cwe gw gak tahu kok gw buka apa.

elu msh nobar bareng pak guru?

[b]OHMario:[/b]
blm tw. Tp bentar lg bakalan sgera tw, :p

nggak lah. Udh pulang tadi dia

[b]Ariesboyz:[/b]
jangan dong! Bs rusak masa dpan gw, haha.

Udah pulang? Pake cipika cipiki nggak td pulangnya? Haha.

[b]OHMario:[/b]
elu beneran cinta sm cwe elu bray? Apa cuma topeng doang?

Pengennya sih… Hahaha. Tp tadi gw hmpr ketahuan sama dia bray. Ngeri euy!

[b]Ariesboyz:[/b]
sayanglah. Gw bi.😀

ketahuan gay? Gmn ceritanya??

[b]OHMario:[/b]
ohh.. Pemakan segala elu ya! Wkwk

gw lupa tutup opmin bray pas buka forum dan dia lihat. Untung gw bs ngeles.

[b]Ariesboyz:[/b]
omnivora dong?

Syukurlah. Gmn reaksi dia td? Elu ngeles gmn?

[b]OHMario:[/b]
sblm dia tw itu forum apa, gw ksh tahu duluan itu forum gay. Gw bilang gw klik dr situs yg tertera di fb teman, hehe.

[b]Arisboyz:[/b]
ckckc, pembohong hebat elu ya. Haha.

[b]OHMario:[/b]
hehehe.
Lg apa bray?

[b]Ariesboyz:[/b]
tiduran aja di kamar smbl nonton.
Di tipi, ada iklan cwo cute *iklan tropicana*
siapa namanya?

[b]OHMario:[/b]
gak tw. Dia yg bintang garnier jg kan? Ya, cute bgt (kek gw)[/quote]

*Pukul 19.56*

[quote]
[b]Ariesboyz:[/b]
namanya saran sirilak, aktor thai.

[b]OHMario:[/b]
pantes cakep.

[b]Ariesboyz:[/b]
iya. Kok cwo thai cakep2 ya? Pengen rasanya pindah ke sana.

[b]OHMario:[/b]
mau ketemu nongpoy ya? Haha.

[b]Ariesboyz:[/b]
bkn. Jirayu dong

[b]OHMario:[/b]
siapa th?

[b]Ariesboyz:[/b]
ms gak tw sih? Yg jadi tong kecil di love of siam.

[b]OHMario:[/b]
love of siam? Blm pernah nonton…

[b]Ariesboyz:[/b]
seriously? Oh my gay! Kmn aja elu? Jangan ngaku gay kalo blm nonton LOS! Hahaha.

[b]OHMario:[/b]
keren ya?

[b]Ariesboyz:[/b]
keren badai, cetar membahana, terpampang sejagat nusantara kalo kata tante syahrini mah.😀

[b]OHMario:[/b]
oke deh. Ntar gw dowload.

[b]Ariesboyz:[/b]
sip. Sip. Cari aja di youtube, ada kok.

[b]OHMario:[/b]
thx bray.[/quote]

***

***Johan***

*16 Januari 2013*

Semenjak SMP aku suka menulis. Entah itu cerpen, puisi, artikel dan karya ilmiah. Bahkan sewaktu masih duduk di kelas tiga SMA, karya ilmiahku mengenai efek keseringan onani bagi siwa, berhasil meraih juara dua tingkat provinsi dalam lomba KIR untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Dan saat ini aku sedang iseng-iseng menulis sebuah cerpen saat ponselku berdering.

Aku berhenti mengetik dan berpaling melirik ponselku. Ternyata Mario yang calling.

“Malam Yo. What’s up?”
“Kak Jo lagi nggak sibukkan?”
“Nggak. Emang kenapa?”
“Bantu gue ngerjain tugas BI ya?”
“Buat artikel, Kak.”
“Oke deh, datang aja ke sini.”
“Yes! Tenkyu Kak!” nada suara Mario terdengar girang.
“You’re welcome.”

Setelah mendapat telepon Mario barusan, aku yang tadinya menulis di kamar segera berpindah ke ruang tengah. Kunyalakan TV dan salah satu channel sedang memutar film Spiderman III.

Tak berapa lama kemudian, terdengar suara bel berdering. Itu pasti Mario. Aku langsung bergegas membuka pintu.

“Tugasnya dikumpul besok, Kak,” terang Mario sambil memasukkan motornya ke garasi.
“Kapan tugasnya dikasih?”
“Seminggu yang lalu sih…”
“Lha, kok baru ngerjain sekarang? Kemarin-kemarin kamu sibuk apa?” tanyaku.
“Lupa, Kak, hehehe…” Mario nyengir.
“Huh, kenapa sih pada suka banget nunda-nunda tugas? Kalo udah kepepet baru ngerjain…” omelku.
“Lain kali nggak lagi deh,” kata Mario sembari mengikutiku masuk.
“Jangan lupa kunci pintunya!” kataku.
“Heeh!”

Kami langsung menuju ruang keluarga.
“Film Spidey ya?” tanya Mario sambil berdiri dan menatap layar TV.
“Ya. Spiderman III.”
“Ah, dari dulu diputer ulang mulu…”
“Emang selalu gitu kok. Film yang diputer pasti film-film lama semuanya…” kataku.
“Kakak lagi apa?” tanya Mario sambil duduk di sampingku. Sementara tangannya menaruh tas yang dibawanya ke atas meja.
“Malam ini gue nginap di sini ya, Kak? Nggak apa-apa kan?”
“Nggak apa-apa. Jadi pagi-pagi besok kamu pulang?”
“Nggak. Gue udah bawa baju seragam,” Mario menepuk permukaan tas yang dibawanya.
“Taruh aja di kamar seragamnya. Gantung di hanger biar nggak kusut,” saranku.
“Oh…” desis Mario sembari bangkit. Ia berjalan menuju kamar tamu.
“Bentar, Kakak ambil kuncinya dulu,” beritahuku sambil bangkit menuju kamarku. Kunci kamar tamu kusimpan di laci lemari.
Mario kembali berjalan ke tempat semula dan mengeluarkan seragamnya.

“Ini!” seruku sambil melemparkan kunci ke arah Mario, yang sukses ditangkapnya dengan tangan satu. Ia lalu beranjak menuju kamar tamu sambil membawa seragam putih abu-abunya.

Setelah itu ia kembali bergabung denganku.
“Kami disuruh buat artikel minimal dua halaman kuarto, Kak,” terang Mario sembari mengeluarkan laptop dari dalam tasnya.
“Temanya apa?”
“Temanya tentang dampak jejaring sosial bagi siswa. Cuma dibagi dua. Pilih mau membahas tentang dampak negatifnya atau dampak positifnya…”
“Terus kamu pilih yang mana? Dampak positif atau negatif?”
“Menurut Kakak yang mana?”
“Aih! Situ yang punya tugas, kok nanya ke orang lain?” aku balik nanya.
“Minta pendapat boleh dong?” Mario ngeles.
“Kalo kamu mau gampangnya, mendingan dampak negatif aja deh. Gampang kita mengurai disadvantages-nya,” aku beropini.
“Gitu ya? Uhmmm… Pilih dampak negatig aja kalo gitu, hehehe…” Mario menggaruk-garuk kepalanya.
“Kenapa nggak cari artikel di internet aja? Pasti banyak tuh tema kek gini…” saranku. Saran yang tak pantut dicontoh, hihihi.
“Tadi mikirnya juga gitu, Kak. Cuma Ibu Nova itu orangnya jeli banget. Dia tahu mana yang bikin sendiri atau ngambil di internet…” Mario menghembuskan napasnya.
“Yaaa, pake akal dong. Jangan dicopy-paste mentah-mentah. Tapi direvisi. Kalo kata dosen Kakak nih, beliau ngasih tips-nya begini, ATM! Ambil, Tiru dan Modifikasi …”
“Aaaa… Nggak ngarti! Pusiiinngg…” Mario membenamkan wajahnya ke sofa.
“Belum nyoba udah nyerah duluan!” aku menekan tengkuknya.
“Aww! Geli!!!” Mario langsung mengangkat wajahnya.
“Perasaan semua anggota tubuh kamu tuh kalo disentuh geli ya? Perut, rusuk, tengkuk…” terangku.
“Hehehe… Habis tangan Kakak lembut banget sih… Jadi merinding.”
“Lembut kok bikin merinding?”
“Iya. Yang lembut-lembut itu suka mendirikan bulu. Makanya makhluk halus itu disebut Lelembut, soalnya bisa bikin bulu tengkuk berdiriii, hehehe…”
“Huh! Ayo, balik lagi ke artikelnya,” kataku.
“Oke. Ayo bantuin…” Mario menatapku dengan muka iba-nya.
“Kamu cari aja dulu artikel mengenai dampak buruk sosmed di google. Ntar Kakak bantu,” usulku.
“Ssiipp!” Mario mengangkat jempolnya.

Aku berdiri dan berjalan ke dapur, setelah itu kembali lagi ke ruang tengah dengan piring di tangan.

“Mau Lepet nggak?”
Mario mendongak.
Aku menaruh piring berisi beberapa buah kue Lepet yang dibungkus daun Pisang itu ke atas meja.
“Kakak buat sendiri?” tanya Mario sembari kembali menghadap laptop.
“Nggak. Tetangga yang ngasih…”
“Ooo… Bik Rom suka banget tuh beli kue Lepet kalo ke pasar,” terang Mario.
“Kakak sukanya yang Lepet Pisang…”
“Emang ada banyak macam-macamnya ya?”
“Ada Lepet Pisang, Lepet ubi Singkong, Lepet Ketan…”
“Gue pernah makan yang Pisang doang. Bik Rom belinya yang Pisang terus. Kirain emang satu macam itu aja…”
“Nggaklah…” aku menggigit Lepet yang baru kukupas bungkusnya.
“Banyak nih Kak artikelnya. Yang mana yaaa???”
Aku beringsut ke samping Mario dan ikut menatap ke layar laptopnya.
“Yang mana?”
“Coba ke bawah!”
Mario menggeser kursornya ke bawah.
“Uhmmm, next page plisss…” kataku.
Mario mengklik tulisan ‘Next page’.

Saat browsing, tiba-tiba ponsel Mario berbunyi. Sebuah telepon sepertinya.

“Assalamualaikum, ya Ma? Beneran kok… Iya. Gak percaya banget sih? Nih ngomong aja…” Mario memberikan ponsel ke aku. Sebelumnya panggilan itu sudah ia loudspeker-kan.
“Apa?” aku mengernyitkan kening.
“Mama…”
“Ada apa?” tanyaku sedikit bingung.
“Biasaaa…”
“Assalamualikum… Malam Tante?” sapaku.
“Wallaikumsalaaammm… Jo? Ini Johan kan?”
“Ya. Ada apa, Te?”
“Nggak apa-apaaa… Cuma mo mastiin si Mario gak boong. Katanya dia mau minta tolong sama kamu ngerjain tugas bahasa Indonesianya. Jadi bener rupanya…”
“Lho, emangnya Mario suka boong ya Te? Pamitnya kemana, perginya kemana ya?”
“Haish! Mulai deh ngomporin….” celetuk Mario.
“Heeh. Makanya Tante cek kebenarannya…” jawab Tante.
“Oooh, gitu. Benar kok. Sekarang dia ada di rumahku,” aku membenarkan.
“Baguslah. Tante takutnya dia pergi ke rumah teman atau ke tempat-tempat yang nggak jelas.”
“Mama tuh nggak percaya banget sama Mario. Mario nggak boong kan, Ma?” timpal Mario.
“Iya. Belajar yang benar!” balas Tante.
“Iyaaaa…”
“Ya udah. Silahkan kerjain lagi tugasnya. Assalamualaikum!”
“Wallaikumsallam!” jawabku dan Mario bersamaan.

Setelah Tante memutuskan sambungan teleponnya, kami kembali fokus ke artikel.

“Naahh, coba buka yang itu, Dampak Negatif Jejaring Sosial…” kataku.
“Yang ini?” Mario memposisikan kursornya ke atas tulisan yang baru kusebut, tapi bukan yang kumaksudkan. Sebab judulnya aja yang sama, tapi situsnya berbeda.
“Bukan. Itu yang subekti dot com.”
“Oh, yang ini?”
Aku mengangguk. Mario pun langung mengklik tautan yang ditampilkan google tersebut.

Setelah tautan yang kami pilih terbuka semuanya, aku dan Mario langsung membaca artikelnya bersamaan.

“[i]…. Berikut dibawah ini beberapa ulasan singkat tentang efek negatif jejaring sosial terutama situs Facebook dan Twitter bagi anak dan remaja.
Pertama, Malas. Ini efek negatif yang paling sering ditemukan pada anak atau bahkan bukan hanya anak. Mereka menjadi malas untuk belajar dan beribadah, karena terlalu asyik dengan teman barunya di jejaring sosial. Hingga pada akhirnya meninggalkan kewajiban-kewajiban yang seharusnya dikerjakan oleh anak…[/i]”

Mario meng-scroll halaman ke bawah sedikit demi sedikit sampai habis.

“Tuh ada empat efek negatifnya. Kamu copy aja dulu ke word. Ntar kita pilih,” saranku.
Tanpa kata, Mario langsung mengikuti ucapanku.

Begitulah seterusnya yang kami lakukan, mencari informasi dan data di internet yang bisa mendukung artikel yang akan Mario buat. Setelah semua data yang dibutuhkan dirasa cukup, selanjutnya aku mulai membantu Mario menyusun kalimat demi kalimat agar koheren dan menjadi sebuah artikel yang menarik.

“Oke, sekarang tinggal kamu kembangin aja tuh. Tambah-tambahin kalimat awal sama akhirnya ya?”
Mario mengangguk.
“Kalo gitu Kakak ke kamar dulu. Ngantuk nih…” pamitku sambil melihat jam di dinding. Sekarang sudah pukul 22.09.
“Ya, thanks Kak. Tapi pagi-pagi besok periksa lagi ya?”
Aku mengangguk sambil bangkit dan mematikan TV. Setelah itu berlalu menuju kamar.

*Keesokan harinya, Pukul 04.11*

Aku tersentak bangun. Langsung tertangkap oleh pendengaranku suara lantunan ayat suci Al-Quran dari masjid. Aku langsung bangun dan mengambil wudhu, setelah itu salat Subuh.

Saat kembali dari kamar mandi, tertangkap oleh mataku lampu ruang tengah yang masih menyala. Hmmm, sepertinya Mario lupa mematikan lampu, gumamku dalam hati. Tapi aku langsung saja ke kamar lagi untuk menunaikan salat Subuh. Nanti sajalah mematikan lampunya.

Selesai salat, aku langsung menuju ruang tengah. Saat di ambang pintu, tatapanku langsung tertuju sama Mario yang tengah tertidur di depan laptopnya dengan posisi meringkuk menahan dingin.

“Lho, nih anak nggak tidur di kamar…?” gumamku seraya mendekatinya.

Wajahnya nampak sangat pulas. Aku menoleh ke layar laptopnya. Ternyata artikelnya belum selesai. Aku geleng-geleng kepala. [i]Sebentar lagi hari terang, kapan nih anak mau nyelesein tugasnya??[/i] omelku dalam hati.

Aku memindahkan laptopnya ke atas meja. Biar aku ajalah yang ngelanjutin. Buat artikel kek gini mah gampang, gumamku dalam hati. Kesian juga kalo bangunin Mario. Otaknya itu pasti belum bakalan konek jam segini.

Baru mengetik beberapa kalimat, terdengar peringatan [i]low bat[/i] dari laptopnya. Aku mencari-cari charger di sekitar Mario bahkan sampai menggeledah tas-nya, tapi nggak ketemu juga. Mungkin charger-nya memang ia tinggalkan di rumah.

Akhirnya laptop-nya itu kubawa ke kamar, sebab charger laptop-ku sama dengan charger laptopnya dan charger itu ada di kamar. Sekalian juga kuselesaikan tugas artikel Mario itu di meja belajarku.

Sekitar tiga puluh menit aku menyelesaikan tugas artikel tersebut, sekaligus mengoreksi tulisan yang sudah Mario buat. Saat membaca tulisannya, memang ada beberapa kesalahan. Seperti penempatan tanda baca, penggunaan kata dan keterkaitan antar satu kalimat dengan kalimat lain. Tapi sedikit kok. Seandainya anak ini mau berusaha lebih keras, aku yakin ia bisa mengerjakan tugas ini dengan baik. Tapi yaaah, lagi-lagi rasa malas mengalahkan segalanya.

Aku pribadi, tak akan bisa tidur nyenyak jika masih ada tugas yang belum aku kerjakan, terlebih lagi jika tenggat waktunya sudah sangat mepet. Nah, itu anak, tugas di kumpul besok, tapi bisa-bisanya dia tidur sepulas itu???

Setelah membaca sekali lagi artikel yang sudah kukoreksi dan dirasa tak ada lagi kesalahan, segera kuatur formatnya (jenis kertas, spasi, font dan font-size), sesuai dengan format standar yang biasa digunakan untuk menulis artikel. Terakhir langsung ku-print.

Beres. Gue menghela napas puas.

Kulirik jam di dinding. Jarum jam sudah melewati angka 5. Ini saatnya membereskan rumah dan masak. Tapi sebelum itu, aku menaruh laptop Mario lagi ke ruang tengah beserta chargernya.

Oke, sekarang saatnya melakukan tugas pagi. Pertama-tama, aku membereskan kamar. Setelah itu langsung ke dapur. Mau membersihkan ruang tengah, tapi Mario masih tidur. Nanti ajalah. Lagian masih banyak waktu.

Aku lantas menuju ke dapur. Rencananya aku akan membuat menu Semur Kentang Ayam. Di pagi yang dingin ini, cocoknya menyantap menu sarapan yang berkuah hangat.

[i]Okeeey, let’s start it![/i], aku berseru dalam hati.

***

“KAAAAKKK…., KAK JOOOOO…!” teriakan dari ruang tengah sedikit menyentakku yang tengah mengaduk kuah semur.

Mario yang nampak sedikit kusut berdiri di ambang pintu dengan muka cemas.

“Kenapa?” tanyaku santai.
“Kakakkan yang nge-charge laptop gue?”
“Yup.”
“Ketikannya Kakak save nggak?”
“Udah mati pas Kakak lihat,” jawaban itu terlintas begitu aja di pikiranku.
“HAH??? Serius Kak? Duh!” Mario langsung memukul kusen pintu dengan kesal.
“Emangnya belum kamu save ya?” tanyaku pura-pura.
“Beluuum! Gue ketiduran semalam. Aaaarrggghhh…!!!”
“Makanya sebelum tidur, pekerjaannya beresin dulu…, alat-alat elektronik di turn-off-in duluu…” kataku.
Mario mangut-mangut dengan kening berkerut di depan pintu.
“Ya udah, buat aja lagi,” usulku sambil menambahkan penyedap rasa ke semur yang tengah mendidih.
“Nggak keburu lagi lah!”
“Sekarang udah jam berapa?”
“Nggak tahu…” jawab Mario dengan malas.
“Ya udah, mandi aja dulu gih…”
Mario tak menjawab maupun bergerak dari tempatnya. Raut mukanya nampak kusam.
“Hey! Buruan mandi…” tegurku.
“Malesss…! Nggak usah sekolah deh…” Mario berbalik dengan gerakan lesu.
Aku terkekeh pelan. [i]Silahkan nikmati dulu akibat kecerobohanmu…[/i], gumamku dalam hati.

Dengan bibir masih dihiasi senyum tipis, kuteteskan sedikit kuah semur ke telapak tangan. Slurruupp. Uhmmm, gurih kok rasanya. Hehehe.

Setelah mematikan kompor, aku berjalan menuju keluar. Di ruang tamu tampak Mario tengah duduk bersandar di sofa dengan wajah kusutnya. Aku berdiri di hadapannya sambil menyilangkan tangan di depan dada.

Ia menatapku sekilas dengan bibir manyun. Sedikit nggak tega juga sebenarnya membuat ia badmood sepagi ini.

“Kenapa belum mandi?” tanyaku.
Mario tak menjawab dengan pandangan tertuju ke depan. Entah apa yang ia pandangi.

“Buruan mandi sana!”
“Nggak semangat sekolah ah!”
“Cemen.”
“Gue udah bela-belain datang ke sini buat tuh artikel…” gerutu Mario.
“Yang salah siapa?”
Mario nggak menjawab.
“Yang nunda-nunda ngerjain tugas siapa?” tanyaku lagi.
“…”
“Yang baru mau gali lobang pas mo beol siapa?”
“…”
“Yang teledor semalam siapa???”
“…”
“C’mon boy! Tinggal hitungan bulan lagi kamu tuh UN. Kapan mau berubahnya?” tanyaku sambil menatapnya lekat.
Lagi-lagi Mario mangut-mangut.
“Jangan ada ganjelan sedikit, mau lari. Ada masalah sedikit, mau menghindar. Kalo kamu terus begini, kamu nggak bakalan bisa belajar dari pengalaman. Kamu bukannya memecahkan problema itu, tapi justru menambah masalahnya. Belajarlah untuk mencari penyelesain yang smart. Kalo cari pemecahan dengan lari dari masalah dan tanggung jawab, itu gampang. Hidup jangan cuma mikirin saat ini, tapi ke depan. Besok-besok nggak mau bantu lagilah, kalo kek gini!” kataku panjang lebar.
Mario tertunduk di bawah tatapanku. Jelas banget ini anak di keluarganya kurang didikan kedisplinan dan tanggung jawab. Makanya dia cepat nyerah dan lari dari masalah.

Aku berjalan meninggalkannya. Biarkan dia berpikir dulu. Aku pun ke kamar dan olahraga kecil. Sit-up, Push-up, bergantung dan angkat dumble. Olahraga kecil seperti ini kerap kulakukan sebelum mandi pagi. Selesai olahraga, aku memutuskan untuk mandi. Kulepaskan kaos yang membungkus tubuhku dan kusambar handuk lalu kembali menemui Mario. Pengen tahu lagi ngapain tuh anak.

Ternyata dia lagi duduk di depan laptop yang terbuka. Aku mengamatinya dari ambang pintu. Ia yang duduk membelakangiku sepertinya tak sadar dengan kehadiranku. Ia tampak fokus mengetik.

Aku berjalan menghampirinya.
“Sekarang udah pukul tujuh lho,” tegurku.
Mario mendongak.
“Pelajaran BI-nya jam berapa?”
“Pertama.”
“Ya udah, mandi aja dulu gih…”
Mario mengacuhkan ucapanku. Ia kembali mengetik.
“Ayo buruan mandi. Tugasnya udah selesai,” beritahuku.
“Eh?” Mario langsung menoleh.
“Buruan mandi! Ntar telat.”
“Kakak tadi bilang apa?”
“Buruan mandi, ntar telat.”
“Bukaaannn! Sebelumnya, sebelumnya.”
“Ya, mandi,” kataku pura-pura bego.
“Terus sambungannya?”
“Mau mandi apa nggak? Kalo nggak Kakak yang mandi nih?” kilahku.
“Kakak serius. Artikel gue Kakak yang lanjutin ya???”
Aku menghela napas.
“Ya?” Mario menatapku penuh harap.
“Masalah artikel itu urusan gampang kok. Kakak mau bantu kamu, asalkan kamu janji mau berubah.”
“Suer! Gue janji!” sambut Mario cepat sambil mengangkat telunjuk dan jari tengahnya.
“Ya udah mandi sana gih!”
“Lihat dulu mana buktinya?” ulur Mario.
“Ada di kamar. Udah di print kok…”
“Seriusan???”
“Heeh,” jawabku disertai anggukan.
“Gak percaya kalo belum lihat artikelnya,” Mario ngotot.
“Aish!” aku berdecak sambil berjalan menuju kamar.
“Kak, serius??? Jangan boong dong! Kalo belon gue mo ngerjain nih!” Mario terus nyerocos sembari membuntutiku.
Aku tak menggubris ucapannya, melainkan terus masuk kamar. Mario berdiri menunggu di luar. Aku mengambil paper di atas meja belajar dan menyerahkannya ke Mario.
“Nih!”
Mario langsung membaca judul artikel yang kubuat. Ia memeriksa sampai lembar kedua lantas tersenyum sumringah.
“Waw!” Matanya berbinar.
“See?”
Ia tersenyum lebar lalu tanpa kuduga langsung memelukku.
“I LOVE YOU, KAK JO-KU YANG PALING BAIIIKK SEDUNIA!” serunya seraya memelukku erat.
“Hey! Apaan sih???” aku sedikit terkejut dengan reaksi berlebihannya.
“You’re really really my bro! Malaikat penyelamat gue banget dah!”
“Udah. Lebay deh…” aku melerai pelukannya.
“Gue janji deh bakalan turuti kata-kata Kakak,” katanya bersemangat.
“Berubah demi kebaikan kamu sendiri. Karena kesadaran kamu, bukan karena orang lain,” pesanku.
“Gue bakal berusaha deh!” ucapnya sembari mengangguk-anggukan kepala.
“Ya udah. Mandi sana!”
“Siap Boss!”
Aku menyampirkan handuk ke pundaknya.
Tanpa banyak kata Mario berjalan ke kamar mandi sambil bersiul riang. Aku tersenyum tipis melihat kelakukannya.

***

Gue mandi dengan cepat (sebenarnya gue pengen coli dulu setelah mencium aroma Kak Jo yang seksi, :p) sebab waktu sudah sangat mepet. Gue benar-benar semangat hari ini. Baru kali ini gue ngerasain pengen cepat-cepat berangkat ke sekolah. Hati gue meledak-ledak saking gembiranya. Seakan-akan gue adalah orang yang baru memenangkan lotere bernilai miliaran rupiah, hahaha.

Selesai mandi, gue langsung berganti pakaian sambil bernyanyi kecil. Gue menyenandungkan lagu One More Night-nya Marron V. Apa hubungannya dengan suasana hati gue sekarang? Nggak ada sih. Asyik aja menyenandungkannya, hehe…

Kelar mematut diri di cermin, menyisir rambut dengan rapi (biasanya gue gue cuma menyisir bagian depannya doang) dan menyemprotkan parfum sedikit lebih banyak dari biasanya, gue keluar kamar.

Gue melirik jam di HP. Sekarang sudah pukul 07.05. Gue bermaksud mau langsung ke sekolah, tapi saat gue mau pamit ke Kak Jo, dianya lagi mandi. Jadinya Gue menunggu di teras. Di sana gue merentangkan tangan lebar. Membiarkan angin pagi yang sejuk menyapa tubuh gue. Gue hirup oksigen pagi yang segar sebanyak mungkin.

“Yooo…!” panggil Kak Jo dari dalam.
“Yaaaa…???” gue bergegas menemuinya.
“Buruan sarapan.” jawab Kak Jo yang nampak sangat tampan setelah mandi. Dia rapi dengan pakaian sederhananya. Dan… Gue suka aroma parfum lembutnya.
“Enggg… Oke deh!” gue nggak nolak.

Kami berjalan menuju meja makan. Kaka Jo mengambil mangkok sedang dan menuangkan kuah—entah lauk apa— dari panci. Aromanya menggugah selera. Ia meletakkan lauk berkuah itu ke atas meja.

“Nasinya ambil sendiri ya…” katanya sambil merebahkan gagang sendok ke bibir mangkok.
Gue mengangguk.
Ia memberikan piring ke gue. Gue langsung mengambil nasi di dalam Magic Com setelah Kaka Jo.

Kitapun langsung makan. Lauk ayam berkuah bikinan Kak Jo enak. Haduuuhhh… Dia makin seksi dah!

“Udah pukul tujuh lewat sepuluh lho,” Kak Jo mengingatkan.
Gue mengangguk dan buru-buru menghabiskan menu gue. Khayalan babu yang mulai merasuk, langsung gue tendang keluar dari benak gue.

***

Untuk pertama kalinya gue mengajukan diri tampil ke depan kelas saat pelajaran Bahasa Indonesia, untuk membacakan isi artikel gue. Meskipun bukan murni artikel buatan gue, tapi gue tahu isi artikelnya dengan baik. Gue kan sudah baca semua datanya semalam. Dan hasilnya luar biasa. Gue dapat applause. Kenanga yang duduk di barisan belakang makin ganjen aja ama gue. Hahaha.

“Aje gileee…! Kesambet apa elu, eh?” Arie menepuk pundak gue saat gue duduk lagi.
“Kesambet setan berhati emas,” jawab gue asal.
“Hahaha…!”
Gue tersenyum riang. Hari ini benar-benar amazing.
“Selanjutnya siapa lagi yang mau baca artikelnya?” tanya Bu Nova.
Lina dari deretan bangku depan mengacungkan tangan.
“Silahkan Lina…”

Gue nggak tahu Lina lagi ngebahas apa. Pikiran gue terlalu sibuk memikirkan kejadian pagi tadi. Rasanya begitu membekas.

Seumur-umur gue nggak pernah dinasehati dan dimarahi kek tadi sama orang, kecuali sama Mama atau guru. Selama ini gue bertindak sesuka gue. Jarang banget yang mau ngasih nasehat ke gue. Tiap hari gue menghabiskan waktu sesuai dengan apa yang ada di benak gue. Nggak ada yang memaksa gue untuk meriview tindakan atau keputusan yang sudah dan/atau mau gue ambil.

Tapi pagi ini, bahkan sejak bulan lalu, tepatnya saat gue mengenal Kak Jo, dia selalu nasehatin gue. Meminta gue meninjau segala tingkah laku gue. Entah kenapa, gue menyukainya. Gue menyukai saat-saat di mana gue tertunduk dengan pikiran berkecamuk di bawah tatapan tajamnya. Gue ngerasa ada yang memperhatikan gue, selain Mama tentunya.

Gue menghela napas. Wajah Kak Jo terpampang di benak gue. Raut mukanya yang tengah marah, bercanda, serius, tenang dan penuh perhatian silih berganti hadir di benak gue.

Hati gue tiba-tiba berdesir. Arus lain mengalir pelan merayap keluar dari ulu hati gue. Sedikit demi sedikit memenuhi hati gue dengan perasaan campur aduk.

“Hei, Bray…” Arie memecah konsentrasi gue. Ia mencoret lengan gue dengan pena.

Gue menoleh dan menatap wajah Arie lekat. Tiba-tiba hati gue bertanya: Arie mungkin segalanya bagi gue. Ia selalu menjadi impian gue, setidaknya beberapa hari belakangan. Tapi sejak hari ini, perasaan itu seakan hilang. Lenyap.

“Hei, elu kenapa natap gue kek gitu? Jatuh cinta elu ama gue?” tegur Arie.
Gue tak merespon candaannya.
“Hey, elu kok aneh sih?” tanya Arie lagi.
Gue mengangkat bahu.
“Ish…! Apaan sih!” gerutu Arie.
Gue tak memperdulikan gerutuannya. Gue kembali membuka artikel gue dan membacanya ulang. Tapi pikiran gue nggak tertuju kesana.
Pikiran gue melayang jauh. Pulang ke rumah Kak Jo. Mereka ulang kejadian dari semalam sampai pagi ini.

Dan… Deg! Gue baru ingat tadi gue pelukan sama dia! Whaaa!!! Gue hampir melupakan itu. Uhmmm… Gimana tadi ya kejadiannya???

Gue meluk dia… Ya. Dan reaksinya? Gue nggak bisa lihat. Tapi ia nggak melakukan penolakan sih. Dan tubuhnya itu… Agak liat. Basah. Aromanya lembut bercampur keringat.

Dia keringetan pagi-pagi? Kok bisa? Habis olahraga kali ya? Uhm, bisa jadi. Gue meremas rambut dengan gemas saat gue ingat tadi itu dia shirtless.

Owowowooo.. Jadi tadi kita pelukan saat dia setengah telanjang? Kepala gue langsung nyut-nyutan mengingat semua itu. Coba kalo waktunya nggak mepet…

[i]Mulaaaaiii… Khayalan binan muncul lagiiii[/i], hati kecil gue berkata sinis sebelum khayalan babu gue melanglang buana. Gue menghela napas. [i]Oke. Lupakan! Lupakan! Lampiaskan pas pulang sekolah ntar aja deh[/i], gue berusaha meredam gejolak muda yang tengah merasuki otak gue ini. :p

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: