Chapter VIc

***Johan***

Aku tengah menikmati sarapan sederhanaku, saat telepon rumah berbunyi. Dengan rasa malas aku meninggalkan sarapanku dan beranjak menuju ruang tengah untuk mengangkat panggilan itu.

“Assalamualaikum…, Pagi…” sapaku ramah ke si penelepon.
“Wallaikumsalam…, Jo, ini Mama.”
“Mama? Lho, kok telepon ke sini sih, Ma?”
“Nomer kamu itu lho, kenapa nggak aktif? Dari tadi Mama hubungi…”
“Eh? Masa sih?”
“Iya. Makanya Mama bingung ada apa? Kamu baik-baik aja kan?”
“Baik, Ma. Ini lagi sarapan…”
“Sarapan apa?”
“Standar, Ma. Telur setengah mateng sama susu doang…”
“Aduuuhh, anak Mama. Tiap hari kayak gitu?”
“Nggaklah, Ma. Bosen juga kali. Tiap hari menunya beda-beda kok. Kebetulan aja hari ini agak males, jadi menu-nya yang simple-simple aja… Hehehe…”
“Makanya pindah aja ke sini bareng Mama, dijamin makanannya cetaaarrr semuanya.”
“Eh, eh, eh… Mama tadi ngomong apa? Cetar? Cie, cie… Mama… Makin gaul aja sekarang Mamaku, hohoho…” ledekku.
“Hehehe, emang anak muda aja yang boleh ngomong gitu?”
“Nggak lah. Tapi kalo Mama yang ngomong, rasanya agak janggal, hihihi… Mama kan demennya Poppy Mercury, bukan Syahrini…”
“Aih, payah deh anak Mama, nggak boleh gaul dikit…”
“Hahaha. Ntar Mama dibilang ganjen sama Papa, wkwkwk…”
“Masa ngomong cetar aja dibilang ganjen?”
“Papa kan agak kolot, Ma. Hahaha…!”
“Ya, sih… Dari dulu sampai sekarang masa lagunya Tommy J. Pisa mulu sih???”
“Hihihi…”
“Eh, Mama juga tuh. Dengerin lagu Poppy Mercuri mulu. Antara Jakarta dan Penang…”
“Tapi Mama juga suka dengar lagu lain juga. Ganti-ganti lagunya, nggak kayak Papa mu itu lho, siang, malam, mau tidur, pulang kerja, lagi santai lagunya Tommy J. Pisa mulu. Sampai-sampai Mama hapal semua isi lagunya satu kaset…”
“Nah, itu yang namanya Fans sejati. Dari dulu sampai sekarang, idola nggak berubah-berubah. Cowok konsisten!”
“Hahaha… Ya sih, tapi Mama bosen dengernya…” gerutu Mama.
Aku tertawa kecil.
“Eh, Jo, kamu udah libur kan? Reva, tetangga sebelah rumah udah libur katanya… Kamu juga?”
“Udah libur, kok. Kamis kemarin Jo terakhir ujiannya.”
“Kapan pulang?”
“Nggak tahu…”
“Kok nggak tahu? Berapa lama liburannya?”
“Belum tahu, Ma. Belum dapat info…”
“Biasanya dua bulanan kan?”
“Iya. Biasanya masuk kuliah lagi awal Maret…”
“Ya udah, liburan aja kesini…”
“Ya, Ma. Tapi Jo males banget pergi-pergi kalo cuacanya jelek begini, Ma…” terangku.
“Iya. Di sini tiap malam hujan campur angin kencang lagi. Mama suka takut. Di sana kayak gitu juga?”
“Ya, tapi anginnya nggak kencang-kencang amat kok, Ma…”
“Kalo di sini, wiiihhh, kencang banget! Mama takut banget pohon Kelapa di belakang rumah pada tumbang…”
“Oh, iya, iya. Kelapanya juga pada tinggi-tinggi banget tuh…”
“Iya. Mana dekat banget lagi sama dapur…”
“Insya Allah nggak ada apa-apa, Ma. Oh, iya, Papa mana?”
“Lagi dengerin lagunya Tommy J. Pisa, [i]di batas kota ini… Ku menatap wajahmu…[/i],” Mama menyenandungkan sepenggal lirik dari lagu Tommy yang berjudul Di Batas Kota Ini.
Aku langsung menyambung, “[i]Perpisahan ini membuat luka di hati…[/i]”
“Eh, kamu hafal juga???”
“Iya lah, Ma. Hampir tiap hari dulu denger, hehehe…”
“Tuh kaaannn….”
Aku kembali terkekeh.
“Eh, katanya tadi kamu lagi sarapan ya???”
“He-eh.”
“Aduh, sarapan dulu gih. Mama lupa saking keasyikannya bahas Tommy J. Pisa…”
“Iya deh, Ma. Salam buat Papa dan Kak Reno. Eh, Kak Reno mana?”
“Pergi tadi sama teman-temannya…”
“Oohh. Iya udah, silahkan tutup teleponnya, Ma.”
“Iya, deh. Assalamualaikuuumm….”
“Wallaikumsalaaammm….”

Setelah ngobrol sama Mama melalui telepon, aku kembali ke ruang makan dan melanjutkan sarapanku. Setelah itu aku beranjak ke teras sambil membawa laptop. Nggak ada kerjaan begini mending browsing sambil menikmati suasana pagi yang sejuk.

Belum begitu lama aku berselancar di dunia maya, tiba-tiba terdengar suara suitan dari luar pagar. Aku langsung menoleh.

“Mister Jooo…!”
“Hey!” aku langsung mengangkat tangan melihat siapa yang berdiri di depan pintu pagar.
“What’s up, Mister?” sapa Arie.
“Hi!” balasku sambil berjalan menghampiri pintu pagar dan membukanya.
“Dari mana kalian pagi-pagi gini?” tanyaku.
“Jogging, Kak…” jawab Mario.
“Ohhh…” desisku sembari melirik sekilas pakaian mereka. Keduanya mengenakan celana basket dan kaos oblong serta sepatu olahraga.
“Mister nggak jogging juga?” tanya Arie.
“Pengen sih, tapi kagak ada teman nih…”
“Kalo gitu Minggu depan barengan kita aja, Mister…” usul Arie.
“Boleh…,” sambutku. “Ayo, masuk…”

Mereka berdua berjalan mengikutiku menuju teras.

“Lagi apa, Kak?” tanya Mario.
“Nggak ada kerjaan, jadi browsing aja…” jawabku sembari berlalu ke dalam. Setelah itu keluar lagi dengan teko berisi air putih beserta gelasnya.
“Kalian tiap Minggu ya jogging-nya?” tanyaku.
“Kadang-kadang sih… Kalo sempat dan mood aja,” jawab Arie.
“Kakak udah lama nih nggak jogging. Terakhir jogging waktu Papa-nya Kakak masih di sini…” terangku.
“Emang Papa-nya Mister kemana?”
“Orang tua Kakak pindah ke luar kota. Tinggal bareng sama Abangnya Kakak…” beritahuku.
“Oohhh… Pantesan tiap gue ke sini, gue nggak ketemu siapa-siapa,” kata Mario.
Aku mengangguk.
“Udah berapa lama Kak?”
“Baru kok. Yang jelas waktu kamu kecelakaan itu, Yo, ortu Kakak masih di sini…”
“Baru dong. Belum satu bulanan…”
“Udah satu tahun kok…” kataku.
“Iya, dari tahun 2012 ke 2013. Tapi hitungannya belum tiga puluh hari…” gerutu Mario.
“Hehehe… Iya, iya…”
“Jadi sekarang Kakak sendirian di rumah?” tanya Arie.
“Iya.”
“Nggak takut?”
“Takut sama apa?” aku balik bertanya.
Arie nyengir.
“Dasar penakut!” ejek Mario.
“Becanda, weee…” balas Arie.
“Bilang aja emang elu penakut, Bray…”
“Iya deh, gue ngalah aja, dari pada cari masalah, hehehe…”
“Alesan!”
“Yang waras ngalah aja deh…” balas Arie lalu meletin lidah.
“Kalian ini temanan deket, tapi berantem mulu yah…” celetukku.
Mario dan Arie serentak nyengir.
“Tapi kalo lagi berdua kita nggak pernah berantem lho, Mister,” terang Arie.
“Masa? Di depan orang-orang aja berantem, apalagi kalo berduaan. Pasti cakar-cakaran tuh…” candaku.
“Nggak kok, kita jambak-jambakan biasanya, hahaha…!” Arie tergelak.
“Bukan, Bray. Kita main gundu, Kak, hihihi…” celetuk Mario.
“Main gundu? Jadul banget mainan elu, Bray? Tahun berapa elu lahir? Jaman gue udah main PS kaleee…”
“Sok cen* banget elu! Waktu kecil aja elu sukanya main di comberan, nangkepin Kecebong, weeekkk…”
Aku geleng-geleng kepala. “Jiah, berantem lagi…”
“Hehehe… Tapi berantemnya ini yang bikin kita deket, ya nggak, Bray?” Arie noleh ke Mario.
“Yoiii…!” Mario mengangguk.
“Asal aja nggak pake jambak-jambakan tadi ya…” Aku terkekeh.
“Pastinyaaaa…” Arie memiting leher Mario yang duduk di sampingnya.
“Mau juga sih jambak dia, tapi rambutnya pendek gini… Nggak serulah!” Mario yang tengah diketekin Arie meremas rambut sohibnya itu.
“Aduh! Sakit bego!” Arie menekan kepala Mario dengan dagunya.
“Gue juga sakit, Mo**!” balas Mario sembari memukul perut Arie.
Arie pun langsung melepaskan Mario.
“Asem banget bau ketek elu, Bray!” ledek Mario sambil mengibaskan tangan di depan hidungnya.
“Sembarangan! Bau keringat gue itu seksi tahu!”
“Bukan keringat yang gue bilang, tapi burket!”
“Enggak aahh…” bantah Arie seraya mengendus sekitar ketiaknya. “Nih, coba elu cium…” ia mengangkat lengannya dan mengarahkannya ke Mario.
“Ish!” Mario langsung mendorong tubuh Arie menjauh.
“Udahlah, kalian itu sama. BB semua,” pungkasku sambil terkekeh.
“Eh!” Mario dan Arie serentak berseru.
“Iya, kalian nggak sadar apa? Kalian itu bau banget. Apalagi habis jogging, huuhhhffff…” aku berjengit.
“Masa??? Nih…!” Mario langsung berdiri mendekat ke aku lalu mengangkat ketiaknya.
“Weitsss…!” aku langsung menjauhkan kepalaku.
Mario mencondongkan tubuhnya lebih dekat sambil terus mengangkat ketiaknya.
Tiba-tiba terlintas di benakku untuk menjahilinya. Aku melingkarkan satu lenganku ke sekitar pinggangnya kemudian mulai menggelitiki rusuknya.
Mario tersentak sedikit. “Ee, ee… Geli, geli!!!” serunya seraya menahan pergelangan tanganku.
“Gelitiki aja terus, Mister,” kata Arie sambil mendekati kami. Ia memegangi bahu Mario dari belakang dan ikutan menggelitiki tubuh Mario.
“Stop! Stop! Bray, berhentiii…” seru Mario seraya menggeliat untuk menghindari gelitikan Arie.
“Bodoh amat! Gue nggak bakal berhenti sampai elu ngompol di sini!” kata Arie. “Ayo Mister, gelitikin terus!”
“Bego, bego! Berhenti, Bray! Adudududuhhh… Hahahaha… Be–bego!!! Awas elu! Mati elu, Arie!!!” teriak Mario sembari meronta, memukul dan menendang ke segala arah.
“Udahlah, Rie. Kesian, ntar dia ngompol beneran,” leraiku sambil menyusupkan jemari ke balik baju Mario dan menggelitiki perutnya.
“ANJRIT! ELU TUH JUGA, KAK JO!” Jerit Mario sambil membungkuk dan berusaha menggigit pergelangan tanganku.
Aku terkekeh.
“Berhenti woy!!! Gue gigit nih…?!!” teriak Mario.
“Gigit aja! Itu bukan tangan gue,” kata Arie seraya terkekeh.
“Oke, enough. Ntar diketawain tetangga lagi,” pungkasku sambil mengeluarkan tangan dari balik baju Mario.
“Berhenti, Bray! Demen banget elu gangguin orang. Ntar gue bales elu!”
“Bales pake apaaaa???”
“Elu gangguin gue, lihat aja, gue bakal gangguin pacar elu!”
“Eh! Apa hubungannya?! Ngapain Bebeb gue dibawa-bawa?” Arie memukul bahu Mario pelan.
“Suka-suka gue…”
Aku menatap keduanya bergantian. Pikiran yang sempat terlintas di benakku beberapa waktu lalu sekarang mengemuka lagi.

Mendengar Mario melontarkan gurauan berupa ancaman ke Arie tadi, aku makin yakin kalau Mario punya hati sama Juwita. Kalau nggak, kenapa omongan itu terlontar secara tiba-tiba?

Notes:
* sok cen = sok keren (bahasa gaul anak muda di kota gw)
** Mo = singkatan untuk Monyet. Biasanya di tempat gw, suka ngomong ke teman-teman itu dengan sebutan Mo. Misal:
“Hey, Mo! Apa kabar?”
“Baik, Mo!”

***

***Mario***

Deg!

Gue tersentak saat lengan Kak Jo melingkar di pinggang gue. Gerakannya terasa lembut, namun dekapan tangannya terasa kokoh. Gue berseru sedikit saat jemarinya menggelitik rusuk gue. Geli. Jemarinya yang lembut dan ramping terasa nikmat saat meraba tubuh gue meskipun terhalang baju.

Sayang, tiba-tiba Arie merusak semuanya. Ia memegang bahu gue dengan keras lalu menggelitiki gue tanpa perasaan.

Entah kenapa, tanpa sengaja gue membandingkan keduanya. Membandingkan gerakan mereka. Gerakan Kak Jo terasa lembut dan teratur. Seakan-akan ia tahu betul di mana area sensitif gue. Jujur, gue menikmati gelitikannya itu. Kulit telapak tangannya terasa lembut dan menenangkan. Gue lebih merasakan belaian dari pada gelitikan.

Sementara Arie…, ugh! Sialan dia! Untuk pertama kalinya gue benci disentuh dia. Meskipun saat ini ia memeluk gue dari belakang, punggung gue bersentuhan dengan tubuh bagian depannya, namun gue tak menikmatinya seperti yang sudah-sudah. Gerakannya kasar dan tak beraturan. Jari jemarinya sesuka hati menggelitiki gue. Nggak ada unsur kelembutan sama sekali. Dasar cowok sableng! Ternyata bukan hatinya aja yang nggak peka, tapi gerakannya juga.

Selama ini setiap Arie menyentuh gue, selalu timbul getaran lain dari dasar hati gue. Getaran yang membuat gue malu dan salah tingkah.

Selama ini gue berpikir, hanya sentuhan Arie-lah yang bisa menimbulkan sensasi itu. Ternyata setelah ada orang lain yang melakukannya, gue baru tahu ada sentuhan dahsyat lain yang bisa menenangkan gue.

“Ini nih contoh penjahat cemen, kalo ada masalah dikit sama sang jagoan, pasti pacar si jagoan yang dijadiin senjata,” tuding Arie setelah gue ngomong bakalan gangguin si Juwi.
“Pret dah!” balas gue.
Kak Jo senyam-senyum mendengar omongan kami.
“Udah yuk! Kita pulang Bray! Gue ada acara habis ini,” ajak Arie sambil melihat jam di layar HP-nya.
“Acara apaan, Rie?” tanya Kak Jo.
“Biasalah, Mingguaaannn…” Arie nyengir.
Gue mencibir.
“Kenapa elu? Gak suka? Iri??? Makanya punya pacar!” Arie meledek gue.
“Iri sama elu??? Nggak banget dah! Kalo gue mau, gue bisa dapetin sepuluh pacar sekarang!” balas gue dengan pongah.
“Halah! Satu aja nggak punya, berangan-angan dapat sepuluh pacar. NGIMPI!”
Gue monyongin bibir.
“Udah ah! Ayo cabut!” pungkas Arie.
“Pulang aja sendiri! Gue masih mau di sini,” tolak gue.
“Serius elu?”
“Dua rius!”
“Kampret elu, Mo! Perginya barengan, pulangnya sendiri-sendiri… Nggak setia kawin elu!”
“Siapa juga yang mau kawin ama elu!” balas gue.
“Siapa juga yang mau ama elu? Emang gue homo?!”
“Udahlah! Pergi sana, hussshhh… Hussshh..!!!”
“Meeeeoongggg…!”
“Kucing Garong!”
“Elu Kucing Aer!” balas Arie lalu meletin lidah sambil berjalan meninggalkan teras.
“Diam elu Kucing kurap! Hahaha…!”
“Kurap? Kutu air? Panuan?? Pake Fungiderm, hihihi…”
“Dioles ya Bray, jangan elu jadiin odol! Wkakakaka….!!!”
“Elu kali!” seru Arie setelah keluar pagar.
Gue terkekeh.
Kak Mario yang sedari tadi mendengar perdebatan kami cuma geleng-geleng kepala.

***

Selepas Arie pergi, suasana yang tadi ramai langsung berubah sunyi. Gue dan Kak Jo saling berdiam. Ia tengah asyik dengan laptopnya.

“Lagi browsing apa sih, Kak?” tanya gue.
“Nggak jelas sih…”
“Oohh, kirain emang ada yang dicari…”
Ia menggeleng.
“Uhmmm, Mingguan kemana Kak?” tanya gue lagi.
“Nggak kemana-kemana. Di rumah aja.”
“Nggak jalan sama pacar?”
“Pacar siapa?” ia menoleh sambil memamerkan senyum manisnya.
“Pacar situlah. Masa pacar tetangga?”
“Hehehe, nggak punya pacar,” jawabnya santai.
“Masa jomblo?”
“Emang kamu udah punya pacar?” ia balas bertanya.
“Belum…”
“Masa jomblo?” ia mengembalikan pertanyaan gue barusan.
Gue langsung mangut-mangut.
“Jadi semalam manyun dong?”
“Nggak juga. Semalam Kakak nonton TV, makan, dengar musik, terus tidur. Nggak sempat manyun,” ia menyeringai ke gue.
“Huuhhh…,” desis gue. ” Kenapa nggak cari pacar Kak?”
“Nggak tahu. Nggak kepengen aja.”
“Nggak kepengen?”
“Uhmmm, gimana ya? Sampai saat ini nggak ada kepikiran buat pacaran. Mungkin belum ketemu yang ‘pas’ di hati…”
“Sama…” ucap gue spontan.
“Kamu juga?”
“Iya. Sampai sekarang gue belum mendapatkan cewek yang sanggup menggetarkan hati gue…”
“Oh ya? Belum ada atau cewek yang Kamu suka udah ada yang punya?”
Gue menatap wajah Kak Jo lekat, nggak ngerti apa maksud omongannya barusan.
“Gimana pendapat kamu mengenai seseorang yang menyukai pacar sahabatnya sendiri?” tanya Kak Jo tiba-tiba.
“Kak Jo suka sama pacarnya Kak Pipit ya?”
“Sembarangan!”
“Pacarnya Kak Adit?”
“Ngarang! Mereka semua jomblo!”
“Ooohhh… Iya, ya… Kakakkan sukanya sama Mbak Ajeng, hehehe…”
“Ngawur!” Kak Jo melotot.
“Hehehe, santai aja! Nggak usah sungkan, nggak usah malu. Gue bisa simpan rahasia kok…” goda gue.
“Eerrrggghhh…!!!” geram Kak Jo. “Kenapa nyambung kesana?”
“Hihihi… Iya kaaann??? Cie..cieee….”
“Sotoy nih anak! Kakak itu ngomongin kamu, tauk!”
“Hah?! Gue?? Gue suka sama siapa???”
“Kamu suka sama Juwi ya?”
“Juwi? Pacarnya Arie?”
“Bukan. Juwita Bahar, anaknya Anisa Bahar.”
“Nggak kenal. Siapa tuh?”
“Iya, Juwi pacarnya Arie lah, Yo.”
“Wih! Siapa bilang? Gosip dari mana tuh???”
“Kakak kan cuma nanya…”
“Kok bisa berpikiran gitu?”
“Maaf aja nih ya, kalo Kakak amati, setiap ada Juwi, sikap kamu itu suka aneh lho. Yang tadinya riang tiba-tiba jadi pendiam. Kamu kek nggak nyaman jika melihat kebersamaan Juwi dan Arie. Jadi Kakak berkesimpulan kalo kamu cemburu sama mereka? Kamu suka sama Juwi? Correct me if I’m wrong…”
“Hadoohhh… Apa pula ini? Nggak benar banget itu, Kak. Gue nggak suka sama Juwi kok…”
“Oh, gitu? Surely?”
“Yoi. Gue kan sukanya sama Arie, hihihi…”
Kak Jo langsung melotot lalu memutar bola matanya.
Gue terkekeh.

“Eh, Kak, kalo Mbak Farah itu udah punya pacar belum?” tanya gue.
“Udah. Kenapa? Kamu suka sama dia ya?”
“Bukaaan. Maksud gue, kalo belum, Kakak pacaran aja sama dia, hehehe…”
“Hhhh, kamu nih…”
“Kalo Fitri?”
“Belum. Nah, itu cocok sama kamu, Yo. Dia kelas 2 SMA…”
“Nggak ah!” jawab gue cepat.
“Lho kenapa? Dia kan cantik…”
“Nggak mirip Taylor Swift.”
“Masih kekeuh ya sama si Miss satu itu?”
“Hehehe…”

Kami lantas kembali terdiam. Kak Jo kembali larut dengan laptopnya.

“Eh, Yo, kamu ada DVD Lincoln nggak?”
“Apaan tuh?”
“Film tentang mantan presiden AS, Abraham Lincoln…”
“Film baru ya?”
“Heeh. Main cast-nya Daniel Day-Lewis…”
“Kayaknya belum ada deh. Emang Kakak tahu itu film dari mana?” tanya gue.
“Ini Kakak lagi baca review-nya. Film ini masuk nominasi oscar 2013…”
“Ooohh… Belum ada. DVD-nya juga belum dirilis kali…”
“Mungkin…”
“Kalo mau pinjem DVD ke rumah aja, Kak,” gue menawarkan diri lagi.
“Ya. Keknya dalam waktu dekat ini Kakak bakalan pinjam lagi. Soalnya lagi libur nggak ada kerjaan…”
“Ke rumah aja…”
“Yup.”

Gue melihat Jam di layar HP. Sekarang sudah menunjukkan pukul 09.23.

“Pukul berapa?” tanya Kak Jo.
“Setengah sepuluh kurang tujuh menit…”
“Bentar lagi siang. Eh, kamu belum sarapan kan?”
“Belum.”
“Menu sarapan Kakak nggak ada lagi nih. Tadi Kakak cuma makan Telur rebus setengah mateng sama susu. Kalo kamu mau makan, Kakak beli lauknya dulu…”
“Nggak usah Kak. Gue makan di rumah aja. Gue juga mau pulang nih…” tolak gue.
“Oh, ya udah… Akhir-akhir ini nggak tahu kenapa, males banget “main” ke dapur…” terang Kak Jo.
Gue tersenyum tipis.
“Kakak mau pinjam DVD kan? Mau barengan nggak? Gue mau pulang nih…” ajak gue.
“Uhmm, sekarang?”
Gue mengangguk.
“Boleh deh. Tunggu ya, Kakak taruh laptop ke kamar dulu…”
Gue mengangguk lagi.

Nggak berapa lama kemudian, Kak Jo muncul dengan tambahan kardigan membungkus tubuhnya. Ia kemudian mengeluarkan motor dari garasi. Setelah itu kita pergi menuju rumah gue.

***

***Johan***

Mario melompat turun lalu menekan bel di luar pagar. Tak berapa lama kemudian Bibik datang untuk membuka pintu pagar dengan senyum terus menghiasi bibirnya melihat kedatangan kami.

“Motornya dimasukin aja, Kak,” kata Mario.
Aku mengangguk. Mario berdiri di samping pintu, menungguku memasukkan motor. Setelah motorku masuk, ia langsung menutup pintu pagar itu.
“Ayo, Kak!” katanya mengikuti langkah Bibik yang sudah masuk lebih dulu.
“Gue ganti baju dulu ya…” katanya.
Aku kembali mengangguk lalu duduk di kursi ruang tamu.
Tak berapa lama kemudian, Mario datang menemuiku lagi hanya dengan sepotong handuk melilit pinggangnya.
“Gue sekalian mandi ya, Kak?”
“Sip!”
“Kalo nggak mau nunggu di sini, ke kamar gue aja…”
“Nggak usah deh. Biar di sini aja…”
“Kenapa? Kamar gue udah rapi sekarang, Kak,” kata Mario lalu nyengir.
“Oh ya?”
“Cek aja sendiri!” Ia berjalan sambil melambaikan tangan mengajakku mengikutinya.
“Oke deh…” aku bangkit dan mengikutinya.

Iya sih, sekarang kamarnya udah cukup rapi ketimbang pertama kali aku ke sini. Barang-barang sudah ditaruh pada tempatnya, kotak sampah udah kosong, lantai nggak berserakan lagi sama sampah. Cuma meja belajarnya yang sedikit berantakan.

“Gimana? Rapikan?”
“Lumayan. Tapi gimana dengan lemari pakaiannya?”
“Hehehehe…” Mario langsung nyengir.
“Kalo bisa jangan cuma yang terlihat oleh mata aja yang dirapiin. Yang nggak terlihat sama mata langsung, seperti lemari, kolong tempat tidur, belakang lemari… Semuanya diperhatikan juga, Yo. Noh, meja belajarnya masih berantakan…” saranku.
“Betul tuh,” timpal sebuah suara dari luar.
“Eh, Tante… Apa kabar, Te?” sapaku. Ternyata Mama-nya Mario yang menyahut ucapanku tadi.
“Baik, Jo. Kamu baik jugakan?” beliau tersenyum ramah ke aku.
“Baik, Te…”
“Tante berkali-kali bahkan mulut tante hampir berbusa, selalu ngingatin Mario supaya jaga kebersihan, jaga kerapihan, tapi selalu aja nggak perduli…”
“Dulu Ma, sekarang nggak…” kata Mario.
“Iya, sekarang udah lumayan bersih. Udah nyaman di sini. Kak Jo yang nasehatin kamu ya?”
“Ya, Ma. Kak Jo pernah ke sini—”
“Kamarnya berantakan banget, Te. Makanya aku bantu dia beresin kamar,” potongku.
“Oh, gitu. Tante senang kamu bisa menjadikan Mario lebih baik. Memang si Mario ini butuh teman yang bisa ngebimbing dia. Selama ini temannya dia itu yang setipe sama dia semua. Arie, Gugum, terus siapa lagi tuh… Semuanya nggak ada yang bener! Apalagi si Arie tuh, haduuhhh, mereka berdua itu sebelas dua belas. Sama-sama nakal, sama-sama pemalas, sama-sama pengotor*…”
“Hmm, hmm… Mario pamit mau mandi dulu ya…!” seru Mario lalu senyum dan langsung kabur.
“Nah tuh, selalu kabur kalo orang lagi ngomong…”
Aku tertawa kecil.
“Udah gede, bentar lagi tamat SMA… Tapi kelakuan nggak berubah juga dari dulu…” kata Tante sambil berjalan mengambil pakaian jogging yang Mario kenakan tadi, yang tergeletak di dekat tiang kursi belajar. “Berkali-kali Tante bilang, pakaian kotor taruh ke keranjang cucian, tapi tetaaaap aja pakaiannya ditaruh dimana-mana,” omel Tante.
“Keranjang cuciannya di mana, Te?” tanyaku sambil duduk di bibir ranjang.
“Di samping mesin cuci.”
“Khusus buat Mario, sebaiknya taruh aja keranjangnya di sini, Te. Mungkin dia nggak mau repot-repot cuma nganterin sepotong pakaian ke sana,” saranku.
“Maksud Tante naruh keranjang di dekat mesin cuci sih, biar si Bibik nggak terlalu repot ngambilin semua pakaian kotor ke setiap kamar. Tapi apa yang kamu bilang tadi benar juga, Jo. Dari pada pakaian kotor anak ini di bertebaran mana-mana, mending taruh satu keranjang di sini.”
Aku mengangguk-angguk.
“Mario itu sebenarnya anaknya rajin kok, Te. Dia juga orangnya mau nurut kalo Jo lihat. Cuma mungkin karena agak manja, terus teman-temannya juga rada pemalas, jadi dianya jadi kurang mandiri,” kataku.
“Ya, kamu benar Jo. Tante kelewat manjain dia. Soalnya Tante orangnya suka khawatiran sama dia. Oh, iya, tadi kamu kesini bareng Mario?”
“Iya, Te. Mario sama Arie ke rumah sepulang jogging. Terus aku diajak kesini sama dia. Sebenarnya sih aku kesini juga pengen pinjam koleksi kasetnya Tante…” terangku sambil tersenyum.
“Boleeehhh. Kamu suka nonton juga?”
“Kalo ada waktu dan film-nya menarik, pasti aku tonton…”
“Banyak kok film yang bagus. Tante udah kasih tahu ke Mario film apa aja yang layak dia tonton. Mama Mia!, Everybody’s Fine, The Blind Side…”
“Belum ada yang Jo tonton tuh, Te. Tapi kalo nggak salah The Blind Side itu yang pemerannya Sandra Bullock itu ya?”
“Ya, benar. Dia menang Oscar lho lewat perannya di film itu…”
“Ohhh…,” desisku. “Bentar lagi penganugerahan Oscar bakal digelar lagi tuh, Te…”
“Iya. Tapi dari kesemua nominasinya, Tante baru nonton yang Les Miserables sih, hehehe… Sejak beberapa bulan belakangan ini, kerjaan luar biasa numpuk bangeeett, haduuhhh…” terang Tante sambil geleng-geleng kepala.
“Tadi aku juga sempat nanya ke Mario, sudah ada belum DVD film Lincoln. Itu film kan masuk nominasi Oscar tahun ini…”
“Iya, iya, bener. DVD-nya belum ada, Jo…”

Di tengah percakapan seru kami, Mario keluar dari kamar mandi dengan rambut hitam kecokelatan basahnya.

“Ngomongin apaan sih?” tanyanya sambil membuka lemari pakaian.
“Yo! Pakaian kamu ini jangan ditaruh sembarangan! Mama kan udah bilang, taruh di kerancang cucian!” Tante kembali mengomel sembari mengangkat-angkat pakaian kotor Mario yang sedari tadi di atas pangkuannya.
“Iya, Maaa… Kelar mandi rencananya baru Mario mo taruh ke sana,” Mario ngeles.
“Selalu aja gitu, alasan kamu tuh! Besok-besok Mama taruh keranjang cucian di dekat lemari. Kumpulin semua pakaian kotor kamu di sana!”
“Oke, oke.”
“Jangan oke-oke aja!”
“Iyaaaaa…” Mario menekan ucapannya.
“Kalo udah kelar ganti baju, ajak Kak Jo-nya makan,” kata Tante seraya bangkit dari duduknya.
“Aku udah makan tadi, Tan.”
“Makan aja lagi ya? Tante udah masak banyak tuh,” katanya sambil tersenyum. Setelah itu ia pergi meninggalkan kami.
“Tadi Mama ngomong apa aja, Kak?” tanya Mario sambil memakai singletnya.
“Tentang film.”
“Wah, Mama pasti senang banget tuh…”
“Bukan cuma itu aja, tadi Beliau juga cerita soal kamu. Kamu tahu nggak kalo Mama-mu itu sangat perhatian ke kamu? Dia sayang sama kamu, buktinya dia selalu mengkhawatirkan kamu…”
Mario diam saja.
“Jadi kamu jangan sampai melakukan tindakan yang bisa membuat kekhawatirannya itu bertambah…” pesanku.
Mario melirikku sekilas sambil menaikkan restleting jeans-nya.
“Kita sangat beruntung memiliki seorang ibu yang bisa diandalkan, selalu memikirkan kita…” sambungku lagi.
“Ayo kita makan!” ajak Mario setelah menyisir rambutnya.
Aku menghela nafas. “Baiklah…”

note:
* pengotor = jorok

***

Selesai makan, kami kembali ke kamar Mario.

“Kakak pilih aja sendiri filmnya,” kata Mario sembari menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
Aku bergerak menuju laci lemari tempat kumpulan VCD/DVD itu disusun.
“Kakak nggak punya kerjaan kan?”
“Nggak. Kenapa?”
“Kalo gitu nonton film-nya di rumah gue aja ya?”
Aku melirik sekilas ke arah layar Televisi di depanku.
“Gue juga nggak ada acara apa-apa hari ini. Jadi kita nonton film bareng aja, ya nggak?” sambung Mario.
“Oke!” jawabku.
Mario tersenyum kecil lalu meraih ponsel di samping lampu tidur. Tak berapa lama kemudian, ia bangkit dan berjalan keluar kamar seraya bersiul kecil.

Saat kembali ke kamar, ia diikuti Bibik yang membawa minuman. Sementara di tangan Mario sendiri, tergenggam kantong kresek putih berisi aneka cemilan.

“Buat teman nonton,” kata Mario seraya tersenyum.
Aku menyodorkan DVD yang sudah kupilih.
“Kakak mau nonton yang mana dulu nih?” tanya Mario sambil membaca satu persatu judul film yang aku pilih.
“Everybody’s Fine dulu deh. Itu rekomendasi Mama kamu,” jawabku.
“Oke!” Mario menghampiri DVD Player-nya.

Setelah memutar DVD, ia membentangkan kasur santai di atas ambal dan menurunkan dua buah bantal dari atas ranjangnya.

Tentang Everybody’s Fine, sejak menit-menit pertama aku menyukai alur ceritanya. Berkisah tentang seorang ayah (diperankan oleh Robert De Niro) yang melakukan perjalanan untuk mengunjungi keempat anaknya di empat kota yang terpisah jarak. Satu persatu De Niro menemukan apa yang tidak diketahuinya selama ini mengenai kehidupan anak-anaknya.

Film drama keluarga ini sebenarnya lebih seru kalau ditonton bareng-bareng sama anggota keluarga, sebab begitu banyak pesan moralnya. Aku sedikit menyesal sudah melewatkan film ciamik ini selama tiga tahun lebih.

“Pilihan Mama kamu tepat, Yo. Film-nya layak ditonton oleh kita-kita. Banyak pesan moralnya tentang hubungan keluarga, khususnya hubungan antara ayah dan anak…” terangku sambil melirik Mario yang sedari tadi kerjaannya hanya fokus ke layar ponsel sambil berbaring di sampingku.
Ia tak menggubris ucapanku barusan.

“Oh, iya, Papa kamu kemana ya? Kok Kakak nggak pernah lihat?”
“Pergi.”
“Kerja?”
“He-eh.”
“Businessman ya?”
“Heeehh…” desis Mario seraya mencomot sepotong keripik kentang.
“Jarang pulang?”
“Sibuk.”
Aku mengangguk-anggukan kepala. Sepertinya Mario tidak menyukai permbicaraan seputar ini.
“Eh, kamu lagi OL ya?”
“Ya.”
“FB?”
Mario geleng kepala.
“Twitter?”
“Nggak punya.”
“Terus?”
“Ada deeehhh…”
Aku mencibir.
Mario menatapku lalu terkekeh.
“Katanya tadi mau nobar, tapi kamunya sibuk sendiri…” gerutuku.
“Filmnya nggak asik.”
“Kamu nggak merhatiin sih… Asik lagi! Justru film yang beginian harus kita tonton…”
Mario mangut-mangut dengan jemari terus menari-nari di atas keypad Ponselnya.

Aku menghela nafas lalu menyesap minuman yang disediakan. Setelah itu beranjak untuk memutar DVD kedua.

***

***Mario***

Gue melirik Kak Jo yang kembali fokus menatap layar TV. Ia sedang menonton film kedua.

Gue tersenyum tipis. Entah kenapa, hati gue terasa damai banget bisa berduaan sama dia sekarang.

Gue sedari tadi lagi OL di BF. Gue tengah PM-an sama Ariesboyz sekarang.

[quote][b]OHMario:[/b]
mingguan kmn bray?

[b]Ariesboyz:[/b]
pacaranlah, hahaha.

[b]OHMario:[/b]
pacaran kok msh bf-an? Pacaran ama guling elu? :p

[b]Ariesboyz:[/b]
pacaran beneranlah. Gw punya cwe kali…hoho

[b]OHMario:[/b]
kok ada ya, cwe mau ama elu?😀

[b]Ariesboyz:[/b]
knp nggak? Gw cakep, tajir, masa depan cerah, msh muda, hahaha.

[b]OHMario:[/b]
hahaha. Mimpi kali yeee…

[b]Ariesboyz:[/b]
Nggak percaya dia. Seriusan ini mah.

[b]OHMario:[/b]
percaya deh biar cepat.

[b]Ariesboyz:[/b]
hehe.
Elu kemn mingguan? Jangan merem mulu di kmr. Ntar telor elu netas lho.. Wkwk.

[b]OHMario:[/b]
gw lg nobar nih. Sm cwo keyeeeennn. :p

[b]Ariesboyz:[/b]
Binan lagi khayal2, haha.

[b]OHMario:[/b]
beneran kok. Dia guru les gw. Cakep, msh muda dan jomblo. Tp gak tau, dia PLU apa bkn,😦

[b]Ariesboyz:[/b]
knp gak elu tembak aja langsung? Hihi.

[b]OHMario:[/b]
sama aja bunuh diri gw! Nggaklah. Keknya dia bkn PLU deh… Hiks…

[b]Ariesboyz:[/b]
elu udh cr tw ttg dia, bray?

[b]OHMario:[/b]
blon sih. Tp gw amati, nggak ada tanda2 yg mengindikasikan kalo pak guru yang tampan ini seorang…😦

[b]Ariesboyz:[/b]
emang apa tanda2 yg menunjukkan seseorang itu plu? Mau tau jg dong… Hihihi.

[b]OHMario:[/b]
ada yg diincar ya bray? Haha.
Gak gratis lho! :p

[b]Ariesboyz:[/b]
gw pengen tw sohib gw ada yg plu juga nggak, hehehe…
Gw bayar berapapun deh! Termasuk dengan tubuh gw,😀

[b]OHMario:[/b]
dasar pecun! Hahaha.

[b]Ariesboyz:[/b]
nggak usah ngomongin profesi elu.

[b]OHMario:[/b]
elu kali. Gw anak baik2, hihi.

[b]Ariesboyz:[/b]
baik dalam melayani pelanggan ya?
bray, gw off dulu ya. Cwe gw dr tadi pasang muka masam mulu lihat gw sibuk sm hape.😀

[b]OHMario:[/b]
hahaha. Bijimane sih elu, cwe dianggurin? Ntar ketahuan lho… [/quote]

Gue geleng-geleng kepala setelah PM-an sama si Ariesboyz. Dasar bejat! Lagi sama ceweknya, masih sempat-sempatnya main ke BF.

Gue kemudian masuk ke sub-forum, yakni BoyzRoom. Baca-baca thread yang ada di sana. Siapa tahu ada yang menarik buat dikomentari.

Sementara itu, di samping gue Kak Jo nampak serius menonton film. Gue jadi gemes lihat mimik wajah seriusnya. Dari tempat gue berbaring, dengan cermat gue pandangi wajahnya. Meskipun menatapnya dari samping, gue tetap bisa menikmati sinar sebelah matanya yang tajam (tiba-tiba melintas di pikiran gue sepasang matanya yang tajam dan sedikit menyipit kalo lagi mengomel), hidungnya yang bangir dan ouhh… Tentu saja tangkup bibirnya yang seksi. Tidak terlalu tebal dan berwarna merah. Uhmm, entahlah, gue nggak tahu tipe bibir apa miliknya itu. Tapi jika kalian tahu salah satu boyband dari Negeri Gingseng, yakni Big Bang, maka bentuk bibir Kak Jo itu sama seperti bentuk bibir T.O.P, salah satu member boyband populer tersebut.

Secara sadar, gue meraba bibir gue sendiri. Membayangkan setangkup bibir itu mendarat di atas bibir gue. Bagaimana ya rasanya? Lembutkah? Maniskah? Mimpi nakal beberapa saat yang lalu kembali memenuhi hati gue. Uhmmm, akh! Di bawah sana, diri gue menggeliat bangun.

Ouch! Jeans gue tiba-tiba terasa sempit. Gawat! Gue bisa “berdiri” nih di sini. Buru-buru gue bangun dan menyambar guling yang tergeletak di atas ranjang. Setelah kembali berbaring, gue jepit guling itu kuat di antara kedua belah paha gue. Tekanan lembut permukaan guling cukup membantu meredam gejolak di bawah pusar gue.

Melihat gerakan gue yang (mungkin) tiba-tiba dan terkesan aneh, Kak Jo menoleh.

“Gue ngantuk nih,” kata gue seraya memeluk guling lebih erat.
“Baru jam dua belas lho…”
“Iya sih. Semalam gue begadang sama Arie,” kata gue kasih alasan.
“Oohh, jangan keseringan begadang lah…” katanya seraya kembali menatap TV.
“Ya, Kak. Jadi nggak apa-apa kan gue tidur?”
“Nggak apa-apa kok.”
Gue langsung memejamkan mata sembari berusaha menetralkan pikiran.
[i]Dasar maho! Lihat yang bening dikit aja langsung konak. Katanya elu cuma suka sama si Arie, eh?![/i] cerca hati kecil gue. Gue mengatupkan mulut rapat-rapat. [i]Semakin kesini, pesona Kak Jo nggak kalah kuat sama si Mo itu. Jangan salahin gue dong! Salahin kenapa gue harus punya teman yang cakep-cakep kayak mereka![/i] bela hati kecil gue yang lain.

[i]Maho! Dasar Maho! Pikirannya selangkangan mulu. Apa elu nggak bisa menatap mereka tanpa nafsu???[/i] cerca sisi hati gue yang pertama. Gigi gue bergemeretak mendengar perdebatan dalam diri gue sendiri. Entahlah. Gue juga nggak tahu, apakah semua gay itu merasakan seperti yang gue alami? Setiap melihat atau memikirkan cowok yang dia suka, selalu membayangkan bercinta dengannya? Atau otak gue aja yang kelewat kotor? Sampai-sampai selalu mendahulukan nafsu dibandingkan mementingkan hati. Jujur, selama ini, setiap gue memikirkan Arie, gue selalu memikirkan tentang seks. Saat gue berangan-angan bisa memilikinya, yang terbayang di benak gue hanyalah betapa hebatnya kami bercinta, gaya apa aja yang bakal kami praktekkan berdua, di mana saja kami akan bercinta… Hampir luput di benak gue pikiran tentang: ‘seandainya gue pacaran sama dia, maka gue akan melakukan kegiatan positif apa aja ya??’, atau ‘kalo gue pacaran sama dia, maka kami akan belajar sama-sama dengan giat buat UN, olahraga sama-sama, beresin rumah sama-sama…’ Kalau pun ada pikiran tentang itu, pasti ujungnya ke selangkangan lagi, seks lagi. Entah bagaimana caranya, semua aktivitas yang terbayang di otak gue, maka akan berakhir dengan kami berdua akan bercinta dengan panas, layaknya adegan-adegan di blue film yang selama ini gue tonton.

Jika memikirkan semua itu, terkadang gue merasa begitu hina. Gue nggak bisa menerima keadaan gue yang berbeda dengan orang lain. Gue pengen berkeluh-kesah, tapi nggak ada tempat untuk mengadu. Gue pengen hidup sama dengan yang lain. Bisa mencintai seseorang secara ‘normal’. Gue pengen merasakan bagaimana rasa suka dengan seorang cewek, gue juga pengen ngerasain indahnya malam Minggu bareng pacar, gue juga pengen bersikap manis, romantis dan jantan seperti yang kerap dilakukan Arie pada Juwi.

Huhhh. Letih gue memikirkan semua ini. Semakin dipikirin, semakin membuat pusing. Gue memejamkan mata lebih rapat dan memeluk guling makin erat.

[i]Tuhan, lelapkan gue sejenak, agar pikiran yang menyesakkan ini bisa sirna dari benak gue…,[/i] hati kecil gue merintih.

***

***Johan***

Selesai sudah kutuntaskan menonton film kedua. Sekarang sudah pukul dua siang. Hmm, break dulu ah. Saatnya makan lunchy.

Aku mematikan TV dan DVD player. Sewaktu aku mencabut kabel TV dari stop kontak, tiba-tiba ponsel Mario berbunyi. Sontak aku langsung menoleh.

Mario nampak tertidur lelap. Sampai-sampai bunyi nada pesan dari ponsel yang berjarak hanya sejengkal dari wajahnya saja tak membuatnya terbangun. Aku membiarkannya dengan berjalan menuju kamar mandi. Aku bermaksud mengambil wudhu untuk salat Dzuhur.

Saat aku salat, tepatnya pada rakaat ketiga, ponsel Mario kembali menjerit. Nadanya sama. Pasti SMS juga. Dan lagi-lagi anak itu nggak bangun juga.

Selesai salat, aku bermaksud pulang. Perutku sudah mulai bernyanyi minta diisi. Ternyata makan cemilan selama menonton tadi, tidak mengenyangkan bagi cacing-cacing di perutku.
Aku menatap Mario sejenak. Apakah aku harus membangunkan dia? Atau biarkan saja dia tidur dan aku pamit saja ke Mamanya untuk bilang kalau aku mau pulang.

Dan, lagi-lagi ponsel Mario berdering. Kali ini nadanya lain. Aku membaca nama yang tertera di layar. [i]Mama Calling…[/i]

Aku langsung membangunkan Mario. Tapi anak ini cuma mendesis ‘eegghh’ lalu tidur lagi sambil memeluk guling lebih erat.

“Hey! Mama kamu nih…!” beritahuku.
Mario tak merespon. Mungkin ia sudah kembali terlelap.
“Yo…!” aku mengguncang-guncangkan bahunya. “Panggilaaaann…” aku mendekatkan ponsel ke telinganya.
Ia membuka mata malas sambil berdecak kesal.
“Mama kamu nih yang telepon,” kataku seraya menyodorkan ponsel.
Mario langsung menerima panggilan itu. Aku terus mengamatinya.
Terjadi pembicaraan yang sangat singkat. Setelah itu Mario kembali menaruh ponsel di samping bantalnya.

“Mama nanya Kakak masih di rumah apa nggak…” beritahu Mario tanpa diminta.
“Ohh…” desisku membalas ucapannya dengan sorot mata tertuju pada layar ponselnya yang masih menyala. Tak sengaja terbaca olehku tulisan di tab browser ponselnya tulisan: Boyzroom – Boyzforum!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: