Chapter VIa

Ya basah.

Ughhhh…shit. Di sekitar pangkal paha gue lengket. Dasar homo! Mimpinya nggak jauh-jauh dari selangkangan, cerca hati gue.

Gue masih pengen tidur lebih lama sebenarnya. Apalagi cuaca dingin saat ini mendukung banget untuk terus bergelung dalam selimut. Sayangnya boxer yang basah benar-benar membuat nggak nyaman.

Gue menarik turun boxer sampai ke lutut. “Produk” mimpi cabul barusan juga nempel di bawah pusar dan junior gue. Setengah kering di kulit dan melekat di bulu pubis. Oh, damn! Gue nggak menyukainya!

Gue pun kembali menarik turun boxer sampai lepas dan gue gunakan untuk mengelap bagian basah di sekitar benda “pusaka” gue itu.

Naahhh, sekarang jadi kering dan kenyamanan itu kembali gue dapatkan. Gue pun kembali menarik selimut sampai ke pundak setelah menyelipkan boxer ke bawah bantal.

Gue kembali memejamkan mata. Tapi ternyata otak gue sepenuhnya sudah terjaga. Meskipun gue terus memejamkan mata, tapi otak gue terus bekerja memikirkan apa saja. Terutama soal mimpi basah barusan.

Hihihi, gue geli mengingat alur mimpi yang alurnya nggak sinkron sama sekali. Pertama-tama gue memimpikan kembali saat di Lapangan Setia Negara sore kemarin. Wajar sih, setiap kejadian sehari-hari yang gue alami, suka kebawa mimpi. Tapi sambungannya itu lho, kok, tiba-tiba–entah bagaimana caranya–gue udah berada di tempat tidur aja. Barengan Kak Jo lagi. Gue sendiri nggak habis pikir kenapa gue bisa memimpikan dia? Nggak tanggung-tanggung, mimpi ngeseks berdua pula. Yaahh, meskipun nggak sampai berhubungan intim sih. Hahaha.
Sampai detik ini gue masih merasakan betapa dahsyat sentuhannya. Gue berusaha mengulang dalam benak bagaimana rentetan adegan panas yang tadi tercipta, namun sayangnya, sensasi yang gue rasakan, tidak menimbulkan efek yang sama seperti yang gue alami dalam mimpi.

[i]Dasar homo…homo…[/i], gerutu hati kecil gue. Kok bisa sih gue memimpikan Kak Jo? Kenapa bukan Arie? Kalo sama dia pasti kenikmatannya double. Wkwkwk. Tapi, ah, sepertinya dia emang bukan jodoh gue. Buktinya di dalam mimpi aja kita nggak disatukan. Padahal sudah bertahun-tahun bersama, tapi nggak sekalipun gue memimpikan dia. Sementara dengan Kak Jo, gue baru kenal dia baru sebulan, tapi udah bermimpi yang nggak-nggak aja. Apakah dia jodoh gue?

[i]Khayalan babu![/i] Semprot hati kecil gue lagi. [i]Mimpi basah cuma hadiah ketika elu tidur aja. Nggak berarti apa-apa, kecuali sebagai penanda kalo elu udah balig. Jadi jangan menafsirkan yang nggak-nggak soal mimpi macam itu, bego,[/i] kata hati gue lagi.
Ya sih. Gue jadi teringat, pertama kali dapat mimpi basah, gue mimpi indehoy sama si Zorro (Antonio Banderas). Dan bukan tanpa sebab kenapa si Mr. Banderas ini kebagian “melayani” gue. Soalnya sebelum tidur, gue nonton film Original Sin dulu. Film yang lumayan banyak adegan seks-nya. Gue horny banget lihat si Banderas sampai-sampai kebawa mimpi.

Kalo gue ingat soal ini, gue jadi percaya kalo gay itu bawaan lahir. Lha, buktinya gue. Gue nggak punya pengalaman traumatis apapun, gue nggak berada di sekitar lingkungan yang bisa mengarahkan gue jadi gay, tapi kok bisa gue mengalami mimpi basah pertama sama cowok? Dan “beruntunglah” gue, bermula dari mimpi itulah akhirnya ketertarikan gue sama cowok terus berlangsung.

Itulah sekelumit kisah yang bisa gue bagikan mengenai awal ketertarikan gue sama cowok, meskipun sampai detik ini gue masih belum tahu apa faktor spesifiknya. Memang tercipta untuk jadi gay kali. Hahaha.

Gue meraih HP di samping bantal. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang tiga belas menit.

Eh, kok gue kepikiran pengen menghubungi Kak Jo ya?? Gue pengen dengar suaranya. Hmmm… Tapi apa alasan gue telepon dia? Masa cuma ngucapin selamat pagi doang? Akh! Tapi gue benar-benar pengen dengar suara dia nih! Kenapa sih gue? Aneh-aneh aja deh!!!

Telepon. Nggak. Telepon. Nggak.
Telepon.

Gue mencari nama Kak Jo di phonebook.

Akh! Nggak jadi deh. Bukan style gue banget yang telepon orang-orang tanpa tujuan yang jelas.

Gue menaruh HP di samping bantal lagi lalu duduk di bibir ranjang. Gue menunduk sambil memandangi tubuh bagian bawah gue yang polos. Melihat tentara kecil gue yang dikelilingi rambut pubis yang sedikit semrawutan itu, gue jadi kembali teringat mimpi basah beserta Kak Jo-nya.

Gue kembali melirik HP. Keinginan untuk menghubungi Kak Jo muncul lagi. Mimpi sialan itu benar-benar sudah mengeruhkan jalan pikiran gue nih!

Oke. Gue bakal menghubungi dia. Soal alasannya, bisalah gue pikirkan entar setelah gue dengar suaranya.

Nggak butuh waktu lama, Kak Jo pun mengangkat panggilan gue.

“Assalamualaikum, Morning, Boy! Ada apa?”
“Walaikumsalam. Morning, Kak. Nggak apa-apa.”
“Terus kenapa telepon pagi-pagi begini?”
“Emang nggak boleh?”
“Ya, boleh lah. Tapi keknya terlalu pagi deh kalo cuma buat ngalor ngidul. Emangnya kamu nggak sekolah?”
“Sekolah, Kak.”
“Udah berangkat?”
“Belum, masih di rumah, di tempat tidur.”
“Belum mandi dong?” tanya Kak Jo dengan nada santai dan tenangnya.
“Belumlah,” jawab gue sambil menaikkan kembali kaki ke atas ranjang. Entah kenapa mendengar suara Kak Jo yang cool barusan, deretan adegan panas dalam mimpi gue semalam kembali terbayang di benak gue. Otomatis membuat gue jadi bergairah lagi.

“Sekarang udah pukul tujuh, Mario. Buruan bangun!”
“Ya, Kak. Oh ya, Hari ini masih ujian kan ya? Good luck kak!”
“Thanks, Yo. Ini juga lagi baca-baca materi…”
“Kok belum siap-siap juga, Kak?”
“Kakak masuk pukul sembilan. Makanya sekarang masih santai-santai.”
“Ooo, gitu…”
“Kamu tuh yang buruan mandi! Jam segini masih malas-malasan di tempat tidur? Ayo, ayo, bangun! Ntar telat!” seru Kak Jo.
Gue menahan nafas mendengar nada suaranya.
“Nggak apa-apa. Gue lagi mau dihukum,” balas gue spontan.
“Mau dihukum? Maksudnya?”

Gleg. Gue keceplosan mengeluarkan suara sesuai yang ada di benak gue. Hati kecil gue sedang mengulang ucapan: [i]”Kamu harus dihukum dulu…”[/i] dari Kak Jo, saat gue melontarkan ucapan barusan.

“Oohh, maksudnya, yaaa, nggak semua hukuman itu menyebalkan. Ada beberapa hukuman yang menyenangkan…” terang gue.
“Bukan hukuman dong namanya kalo menyenangkan? Mana ada hukuman yang menyenangkan…”
“Tapi gue mengalaminya,” sambut gue cepat.
“Really? Hukuman macam apa itu?”
Gue langsung garuk kepala. Bingung bagaimana menjelaskannya?
“Uhmmm… Seperti kena sanksi disuruh nyapu atau mungutin sampah sama guru piket, saat pelajaran Sejarah atau Akuntansi sedang berlangsung… Menurut gue itu sanksi atau hukuman yang menyenangkan, hehehe…”
“Yaelah! Gitu tho? Apakah bidang study di jam pertama hari ini Sejarah atau Akuntansi?” tanya Kak Jo.
“Bukan. Tapi Geografi.”
“Baguslah. Kakak pikir kamu sengaja mau telat, biar nggak ikut pelajaran jam pertama itu…”
“Nggaklah. Tapi kalo pun seandainya iya, gue dengan senang hati melancarkan ide brilian itu, wkwkwk…”
“Dasar badung!”
Gue menggigit bibir bawah bersamaan dengan merapatkan kedua paha gue. Badung dan bandel itu sama kan? Tadi di dalam mimpi Kak Jo juga ngomongin gue bandel.

Grrrr. Gue makin horny. Baru kali ini gue ngerasain horny saat sedang teleponan. Berasa lagi phone-sex nih. Tangan gue mulai membelai tentara kecil gue yang sekarang berdiri tegak.

“Kalo bandel, berarti harus dihukum dong???” tanya gue dengan jantung berdebar.
“IYA! Kamu mau dihukum? Biar Kakak request sama guru piketnya.”

Gue langsung nelan ludah saat membayangkan Pak Montezuma, guru piket tergarang dengan kumis tebal melintangnya “menghukum” gue. Gue langsung bergidik. Tinggat ke-horny-an gue langsung drop seketika.

“Thanks deh, Kak. Ampun dah! Mendingan gue mandi sekarang dan siap-siap buat cabut ke sekolah,” pungkas gue.
“Oke,” jawab Kak Jo singkat.
“Bye, Kak!”
“Bye, Yo!”

Gue menatap layar HP beberapa saat, sampai lampu LCD-nya mati. Setelah itu gue menaruhnya di atas meja dan turun dari ranjang. Entah sekarang sudah menunjukkan pukul berapa, gue nggak perduli. Gue menyambar handuk yang tergantung di hanger lalu bergegas ke kamar mandi.

***

*10 Januari 2013*

***Johan***

Aku menarik napas lega setelah mengumpulkan lembar jawaban. Ini adalah ujian mata kuliah terakhir. Itu artinya exams are over! Wohooo!!!

“Good luck everybody! Moga nilai kita nggak mengecewakan,” kata Andre ke seisi kelas.
“AMIIEEENNN…!!!” seisi kelas sepakat mengamini.
“Liburan sudah di depan mata. Apa rencana elu, bro?” tanya Andre saat kami jalan bareng keluar kelas.
“Belum direncanakan.”
“Elu nggak liburan bareng bonyok?”
“Tadi aku udah kepikiran soal itu. Tapi belum tahu kesananya kapan. Di musim penghujan gini, jadi males berpergian…”
“Ya sih. Enaknya tiduran di kamar sambil selimutan, nonton TV, ditemani goreng pisang sama TOP Coffee, kopinya orang Indonesia, haha…!”
“Korban Iklan!”
“Hihihi… Gue kan OI*. Jadi apa yang dikonsumsi Bang Iwan, gue juga harus ngikutin…”
“Freaks!”
“Hihihi.
“Kamu sendiri liburan kemana, Ndre?”
“Di rumah aja. Mau kemana lagi? Bonyok gue di sini, sodara-sodara gue di sini, Kakek-Nenek di sini…”
“Nggak ada rencana jalan-jalan ke luar kota sama temen gitu?”
“Nggak ah. Kek yang elu bilang barusan, musim hujan plus angin kencang yang terus-terusan kek sekarang, gue rasa ini bukan waktu yang tepat buat keluar rumah…”
“That’s right! Mendingan di rumah aja ya. Tidur sepuasnya, nonton TV, dengerin musik, baca-baca…”
“He-eh. Gue mau gunakan liburan ini buat manjain diri. Gue pengen menenangkan otak gue yang selama ini terus diperas!”
“Hahaha…! Kek yang selama semester belajar aja. Bukannya kerjaan kamu tiap kuliah cuma ngegombalin cewek-cewek sama nyontek ya???”
“Ngegombalkan juga butuh mikir, Jo! Nyontek juga salah satu usaha buat dapat nilai yang bagus, hoho…”
“Ya deh. Kamu punya otak emang difungsikan untuk itu,” balasku.
“Shit! Mulut elu ya, Bro…”
“Emang iyakan?”
“IYA! PUAS ELU???”
“Kapan elu ngasih kepuasan?”
“Nih!” Andre memamerkan tinjunya. “Mau elu?”
“Buat kamu aja dah. Tenkyu! Aku balik duluan ya…”
“Barengan aja. Ke parkiran kan?”
Aku mengangguk. “Nggak mau ngegombalin cewek-cewek dulu? Noh, ada Neneng baru keluar…”
“She’s so last year, hihihi…”
“Hahaha…!”

Di parkiran, nada pesan di ponselku berbunyi.
Segeraku baca:

[b]Dari: Mario
Date: 10 Januari 2013
Time: 11.38

Udh ujiannya, kak?

Dari: Kak Jo
Date: 10 Januari 2013
Time: 11.39

Br kelar.

Dari: Mario
Date: 10 Januari 2013
Time: 11.39

wih, yg bakal libur panjang. Asyiknyaaa

Dari: Kak Jo
Date: 10 Januari 2013
Time: 11.40

y dong.
Skrg lg break ya?

Dari: Mario
Date: 10 Januari 2013
Time: 11.42

nggak. Lg di kelas dengar guru sejarah ngoceh.

Dari: Kak Jo
Date: 10 Januari 2013
Time: 11.55

kok sms-an? Belajar sn!

Dari: Mario
Date: 10 Januari 2013
Time: 12.03

lm amat blsny? Skrg lg istirahat kok.

Dari: Kak Jo
Date: 10 Januari 2013
Time: 12.05

sorry, td kk lg di jln.
Oh, skrg lg break? Luch dl gih.

Dari: Mario
Date: 10 Januari 2013
Time: 12.06

Ini lg makan di kantin, ;D

Dari: Kak Jo
Date: 10 Januari 2013
Time: 12.07

mkn apa? Mkn gorengan? Atau mie?

Dari: Mario
Date: 10 Januari 2013
Time: 12.08

pangsit. Hehe

Dari: Kak Jo
Date: 10 Januari 2013
Time: 12.10

usahakan mkan nasilah, Yo. Jgn mkn mie mulu.

Dari: Mario
Date: 10 Januari 2013
Time: 12.11

Y kak. Ntar drmh mkn nasi lg. ;D

Dari: Kak Jo
Date: 10 Januari 2013
Time: 12.12

knp gak mkn drmh aja? Bntar lg pulangkan?

Dari: Mario
Date: 10 Januari 2013
Time: 12.13

msh lm kak. 1 mapel lg. Bs kelaperan gw. Hehe

Dari: Kak Jo
Date: 10 Januari 2013
Time: 12.14

Oh gt. Ya udah, lanjutin maksi-nya deh. Salam buat Arie.

Dari: Mario
Date: 10 Januari 2013
Time: 12.16

yoi. ;)[/b]

note: * OI = nama fans Iwan Fals

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: