Chapter VI

Chapter VI

***Mario***

“Yo!”
Gue menoleh.
“Tolong dong jangan ngomongin ke orang-orang lagi soal yang Kak Pipit bilang tempo itu,” Kak Jo nampak serius.
“Emang kenapa?”
“Nggak enak aja kalo orang dengar. Ntar mereka ngira beneran…”
“Kalo emang nggak, kenapa mesti nggak enak?” balas gue setengah bercanda.
Ia mengerutkan keningnya. Sepasang matanya juga menyipit. Gue suka melihat ekspresinya itu.
“Ya nggak?”
“Apanya yang iya?!” nada suaranya terdengar gusar.
Gue mengangkat bahu pura-pura nggak perduli akan kegusarannya itu.
“Kakak serius ini.”
“Yaaa…”
“Ya udah pergi sana.”
“Ngusir??? Terserah gue dong…”
“Kalo mo pergi. Kalo nggak mau juga nggak apa-apa…”
Gue mangut-mangut.
“Kalo pulang sekolah, ya pulang sekolah. Jangan keluyuran…” Kak Jo mulai mengomel.
“Keluyuran gimana? Tadi aja kita maen Futsal bareng???”
“Main itu juga jangan tiap sore. Main mulu…kapan belajarnya? Ingat, kamu itu udah kelas 3 SMA…”

Ya elah! Omelannya makin menjadi.

“Katanya kamu khawatir sama nilai Bahasa Indo kamu. Nggak cukup cuma rasa khawatir, yang penting sekarang itu gimana supay—”
“Iya Kakak yang super cereweeeetttt….” potong gue cepat. Capek dengar omelannya.
Kak Jo melotot.
“Kakak itu tulus ngomongin ini sama kamu. Karena Kakak perduli…”
Gue menahan nafas beberapa detik. Kata-kata terakhir Kak Jo barusan begitu menggungah perasaan gue. Gue nggak tahu kenapa.

***

Hujan terus mengguyur kota hampir sepanjang hari ini. Hujan disertai angin. Membuat gue malas untuk beranjak dari ranjang.

“Bangun, Yo…”
Gue bergeming.
“Udah jam tujuh nih… Mandi, bangun…”
Gue mengeratkan balutan selimut ke seluruh tubuh gue.
“Heeehhh….!” selimut gue ditarik paksa. Hawa dingin langsung menyapa.
“Aaahhh…. Dingiiinnn….!”
“Ayo bangun! Kamu bisa telat.”
Aku membuka mata dengan malas. Kak Jo menatap gue dengan tajam.
“Ayo bangun!” katanya lagi.
Aku menarik bibirku menjadi garis keras.
“Heeehhh….! Bangun!” Ia menarik paksa kedua lengan gue.
“Males, Kaakkk….” rengek gue.
“Gak boleh males-malesan! Buruan mandi! Udah pukul tujuh lewat nih…”
Gue menghela napas berat. Kepala gue masih nyut-nyutan karena dibangunkan paksa. Gue masih pengen tidur sedikit lebih lama. Apalagi hujan nggak menunjukkan tanda-tanda bakal berhenti.
“Hey!”
“Aaaaaaahhhhh….” desah gue sambil mendorong Kak Jo sehingga ia terlentang di ranjang. Gue langsung menindihnya.
“Mario!” suaranya terdengar gusar.
Gue mengacuhkan seruannya. Gue memeluk punggungnya erat, menempelkan pipi ke dadanya yang hangat dan memejamkan mata. Waktunya tidur lagi. Hihihi.

***

Gue menggeliat sedikit dalam pelukan hangat Kak Jo. Saat gue bergerak, ia mendekap gue lebih erat. Gue mengelus lengannya yang melingkar di pinggang gue. Dia menggumam pelan. Setelah itu ia mencium dalam tengkuk gue seraya menjatuhkan pahanya ke atas pangkal betis gue.

Darah gue berdesir. Apalagi saat sebentuk gundukan hangat di pangkal pahanya menyentuh pantat gue. Rasanya sekarang bercampur-aduk. Merinding. Geli. Juga enak.

Tiba-tiba ia memukul pantat gue. Gue mengaduh.

“Apaan sih Kak…?”
“Bandel!” katanya tepat di depan telinga gue. Hembusan napasnya yang hangat menggelitik daun telinga gue.
“Siapa yang bandel?” tanya gue seraya memalingkan wajah ke arahnya.
“Kamulah.” Ia menggigit ujung kuping gue. Sedikit air liurnya membelai salah satu area sensitif di tubuh gue itu, membuat diri gue menggeliat.
“Bandel kenapa?”
“Tadi Kakak bilang buruan bangun terus sekolah. Malah tidur lagi…”

Gue tersentak dan buru-buru bangun. Gue lantas langsung melihat jam di layar HP.

“Yaaahhh… Udah pukul sembilan, Kak…” kata gue. “Absen dong hari ini…,” desis gue.
Kak Jo mengangkat kepalanya sedikit dari bantal lalu menarik gue ke dalam pelukannya lagi.
“Kan dari tadi Kakak bilang, Mario, bangun, Mariooo… Kamu nggak perduli. Tapi hari ini nggak ada ujian atau apa kan?”
Gue geleng kepala. Untungnya nggak ada. Jadi gue merasa santai aja. Sesekali bolos sekolah nggak apa-apa kali ya. Hehehe. Tapi di depan Kak Jo gue harus pura-pura sedih. Biar dia nggak terus-terusan ngomelin gue. Wkwkwk.
“Ya udahlah. Makanya lain kali, kalo disuruh bangun, langsung bangun. Kebiasaan deh…” Yah, dia ngomel lagi…
“Kakak juga, kok ikutan bobo sih?” gerutu gue.
“Kamu sih, main tindih aja. Kakak kan jadi…” Ia menggantungkan ucapannya sambil menatap gue penuh makna.
“Jadi apa???”
“Akh! Nevermind!” pungkasnya seraya menindih gue cepat. Dalam sekejap gue sudah berada di bawah tubuhnya.
“Eehh… Apa-apan nih???”
“Sssttt…!”
“Gue mo mandi, Kak…” kata gue sambil mencoba melepaskan lingkaran tangannya yang mengunci tubuh gue.
“Nggak boleh mandi. Kamu harus dihukum dulu…” cegahnya seraya menekan tubuhnya lebih kuat. Gundukan hangatnya menekan paha dalam gue. Shit. Gue jadi horny seketika.
“Hukuman apaan nih???” tanya gue dengan napas tertahan.
“Olahraga kecil sebelum mandi,,,” Jemari kanannya membelai bibir gue. Sementara jemari kirinya menopang kepalanya.
“Senam?”
“Peregangan otot…” jawabnya. “Di sini,” tiba-tiba ia menjatuhkan tangannya di seputar selangkangan gue. Gerakan cepat kelima jemarinya yang menekan kulit di pangkal paha gue menimbulkan sensasi yang luar biasa.
“You like it?” tatapannya tepat di bola mata gue.
Gue membalas tatapannya dengan tajam. Keheningan langsung tercipta. Gue berusaha menahan keheningan ini dan membuatnya sedramatis mungkin.

Gue berhasil mendapatkan moment yang gue inginkan. Gue selalu menyukai saat-saat dimana keadaan sunyi senyap sewaktu kami saling menatap di tempat tidur seperti ini. Sementara keheningan yang sakral ini tercipta, sangat kontras dengan suasana di dalam dada gue. Di dalam sana suara degupan jantung gue terus bergemuruh dan memacu hingga ke ubun-ubun kepala. Meninggalkan sensasi di setiap tempat yang dilaluinya, hingga gue sepenuhnya lebur dalam gejolak nafsu.

“Do it!” kata gue tegas dengan nada menantang.

Kak Jo tanpa ba bi bu langsung menyerang bibir gue. Ia melumat bibir gue penuh tenaga dan sesekali ia menekan tanggup bibirnya ke bibir gue, seolah-olah tak mau membiarkan sedikitpun desisan keluar dari mulut gue.

Gue tentu saja tak akan diam saja menerima gempurannya. Segera gue imbangi pagutan bibirnya. Gue tanggap tangkup bibir bawahnya yang lembut nan basah, lantas gue hisap pelan. Sepasang mata Kak Jo langsung menyipit. Entah apa maksudnya.

Tiba-tiba Kak Jo meluncur ke bawah, tepat saat gue hampir menempelkan kedua telapak tangan gue ke sisi kepalanya.

Gue mengamati apa yang akan ia lakukan.

Oh, oh… Ia berhenti di atas perut gue dan… Ia dengan gerakan sedikit kasar ia menarik pinggang gue ke atas dan memeluknya erat. Sangat erat. Sampai-sampai tubuh gue sedikit melengkung, sehingga bawah pusar gue menyentuh dadanya.

Ia kemudian menyusupkan satu lengannya, tepatnya lengan kirinya di bawah lengkungan pinggang gue. Setelah itu ia meluruskan tubuh gue kembali dengan posisi lengannya ditindih olehku.

Gue tak bicara. Masih menantikan apa yang akan ia perbuat. Tiba-tiba ia bergeser turun dari tubuh gue dan berbaring miring ke sisi tubuh gue. Lalu sedetik kemudian ia mendaratkan kelima jemari kanannya tepat di atas gundukan di bawah pusar gue dan ouch! Ia meremasnya!!!

Gue terkesiap atas perlakukannya barusan. Seluruh tubuh gue langsung mengejang. Di dalam remasan tangannya, diri gue terjaga seketika.

Darah gue mengalir deras ke kepala. Menerjang kesadaran gue dengan berjuta gairah yang hampir tak tertahankan.

“Aakkkhhh….” gue hampir menjerit pelan saat Kak Jo memperkuat remasannya. Sekarang gerakannya berubah memijit bagian tak bertulang di balik boxer gue itu.

Shit. Gue jadi horny setengah mati. Gue menangkap tangan nakal Kak Jo, yang tersenyum licik di bawah penderitaan gue. Dalam satu gerakan cepat gue menuntunnya jemarinya masuk ke dalam boxer gue. Gue ingin ia menyentuh diri gue secara langsung dan utuh.

Tiba-tiba ia menghentikan gerakan tanggannya tepat saat telunjuknya sudah membelai kepala tentara kecil gue yang berkedut. Siaaaaalllll. Sesuatu yang mengalir cepat di kelamin gue hampir tertumpah, namun karena gerakan tiba-tibanya itu, sekarang tertahan di kepala si tentara kecil.

Gue menatapnya sambil menarik bibir gue menjadi garis lurus keras. Amat keras. Gue benci perlakukan tak manusiawinya.

Kak Jo terkekeh. Ia lantas mendaratkan ciuman kecil di perut gue. Gue tal bereaksi. Gue masih emosi.

Tiba-tiba ia menarik turun boxer gue sampai ke paha. Hawa dingin sisa hujan pagi tadi langsung membelai tentara kecil gue. Namun sialnya, belaian dingin itu makin menambah tingkat ke-horny-an gue. Anjrit!

Tap. Kak Jo langsung menggenggam tubuh tentara kecil gue yang malang. Dekapan tangannya sempurna dan hangat. Semakin hangat saat ia mulai menggerakkan tangannya naik turun.

Gue melenguh. Badan gue terbakar di tengah hawa dingin pagi menjelang siang ini. Gerakan tangan Kak Jo yang semakin cepat membuat aliran darah gue mengalir deras ke atas, sementara aliran “yang lain” meluncur deras ke bawah.

Gue mengelinjang. Tubuh gue mengejang. Terus mengejang. Semakin kejang. Lalu melayang. Dan… Ahhhhhhhh….!!!

Basah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: