Chapter Va

Ajeng datang setelah kami semua beralih ke halaman belakang. Aku, Mario dan Adit berdiri melingkari panggangan sate sambil terus mengipasi bara api agar tetap menyala. Sedangkan Pipit dan Farah tengah melumuri sate dengan bumbu rendaman agar aroma dan rasa sate makin maknyos.

“Dari ama aja elu?” cecar Farah ke Ajeng.
“Dari rumah. Dari mana lagi?” balas Ajeng sambil menaruh kantong kresek hitam di samping sebuah kursi.
“Dari rumah pacar?” celetuk Pipit.
“Rumah guelah!”
“Oh, gue kira dari rumah bordil,” kata Farah sambil terkekeh.
“Anjrit!”
“Mana ayang elu? Kok nggak diajak masuk?” tanya Adit sambil melongokkan kepala arah rumah.
“Gue datang sendirian,” jawab Ajeng lalu duduk di kursi di samping tempat ia meletakkan kantong kreseknya tadi.
“Katanya elu mo bawa Rahmaaattt?” kejar Farah.
“Oh, namanya Rahmat ya?” celetukku.
“Heeh. Nama lengkapnya—”
“Edi sud Rahmat Kartolo. MAKSUD LOOOHH?! HAHAHAHA….!!!” Farah dan Adit memotong ucapan Pipit secara bersamaan.
Kami semua terbahak, tak terkecuali Ajeng sendiri.
“Ya, kenapa nggak diikutsertakan?” Adit mengulangi pertanyaan Farah.
“Elu kata kontes, pake diikutsertakan!” balas Ajeng.
“Bukan, tapi lomba sabung ayam! Wkwkwk…” sambut Adit.
“Ayam kampus kaleee…!” celetuk Farah.
“Iya, elu!” kata Ajeng cepat.
“Eeh, sembarangan!”
“Dianya nggak mau ikut. Ya udaaahhh, pergi aja sana ke pantai!” Ajeng akhirnya menjawab pertanyaan Farah dan Adit.
“Ooh, dia ke pantai? Kok elu gak ikut? Bukannya lebih enak ngerayain tahun baru di pantai?” tanya Farah lagi.
“Kalo gue ke pantai, gimana kita bisa kumpul sama-sama sekarang, eh?” balas Ajeng.
“Aseeekkkk!” desisku dan yang lain berbarengan.
“Gue capek ah, selalu ngalah. Selama ini gue selalu nurut keinginan dia. Kali ini ogah gue! Kita rayain tahun baru sendiri-sendiri,” terang Ajeng dengan nada berat.
“Curcol Buuu…??? Kalian berantem?” tanya Farah seraya menyerahkan baskom kecil berisi sate yang sudah diolesi bumbu rendaman ke Adit.
“Yaaa, begitulah. Elu tahu sendiri kan Far, dia jadi nyebelin dan nggak percayaan sejak—”
“Ya, ya, I see,” potong Farah. “Gue kan udah pernah kasih masukan ke elu, cari solusi yang terbaik…”
“Entahlah. Kalo kejadiannya bukan di gue, udah lama juga kali gue ambil keputusan kilat,” jawab Ajeng diiringi desahan berat.
“Masih problem yang dulu itu, Jeng?” timpal Adit.
“Bukan, Dit. Tapi mungkin yang kemarin itu berimbas ke hubungan kita sekarang,” jawab Ajeng.
“Emang problemnya apa, Dit?” tanyaku sambil berbisik ke Adit. Lama-lama penasaran juga dengan topik yang mereka bicarakan.
“Uhmmm… Masalah biasalah,” jawab Adit.
“Bukan karena aku kan?” tanyaku. Entah kenapa aku merasa bahwa akulah penyebab pertengkaran Ajeng dan Rahmat itu.
“Bukan.”
“I hope so. Kalo karena masalah SMS itu mereka berantem, aku benar-benar nggak enak,” kataku.
“Gue yakin bukan,” jawab Adit mantap.
“Emang SMS apaan sih Kak?” tanya Mario sambil terus mengipasi sate yang baru dipanggang Adit.
“Anak kecil gak boleh tahu,” kilahku sambil mengacak rambutnya.
“Iiwww!” gerutu Mario.
“Guru elu yang bersahaja ini nggak sebaik yang elu kira, Yo,” kata Adit.
Aku menyipitkan mata, bersiap menguliti Adit jika ia ngomong yang nggak-nggak.
“Dia udah menjadi orang ketig—”
“Shut up!” seruku sambil membungkam mulut Adit cepat dengan tanganku.
“Uupppsss…” Adit memukuli lenganku dengan kipas sate yang ia pegang. Aku pun melepaskan tanganku dari mulutnya.
“Sembarangan aja!” bantahku.
Adit nyengir.
“Orang ketig apaan? Orang ketiga ya?” kejar Mario sambil menatap Adit.
“Udah, udah. Case closed!” pungkasku.
“Bukan kok. Bukan orang ketiga, tapi keempat,” kata Adit.
“Pradista!” seruku sambil melotot kearahnya tajam.
“Ya, kidding ah! Gitu aja eswete lu.”
“Gue baru tahu Kak Jo bisa jadi—”
“Mario dan Gugum,” potongku cepat sambil menekankan pengucapan nama Gugum. “Udah di SMS kalo kamu nggak tahuan baruan sama dia?”
Bibir Mario langsung melengkung ke bawah. Ia sepertinya mengerti kalau aku tengah mengancamnya soal mabuk itu, jika ia masih mengungkit masalah orang ketiga.
“Udah mateng belum satenya?” tegur Pipit tiba-tiba dan segera bergabung dengan kami.
“Belum. Gantian kipasin nih,” kataku sambil memberikan kipas ke tangannya secara paksa.
“Eerrggghhh!” geramnya seraya memukul bahuku ketika aku berjalan meninggalkan mereka.

Aku berjalan menghampiri Ajeng yang lagi asyik mengutak-atik ponselnya.
“Update status mulu,” tegurku seraya menarik sebuah kursi lalu duduk di sampingnya.
Ajeng menoleh ke arahku lalu melempar senyum.
“Udah mateng satenya?”
“Belum. Ini apa?” tanyaku seraya meraba-raba kantong kresek yang tadi Ajeng bawa.
“Jagung.”
“Ooo,” desisku singkat.
“Kok elu nggak malam tahun baruan sama keluarga, Jo? Bukannya ini moment yang pas buat pulang and ngumpul sama keluarga?”
“Ah, bagiku tahun baru [i]is just the first day of another 365-day[/i]. Nggak ada bedanya dari hari lain, kecuali banyak kembang api.”
“Justru itu. Nggak tiap hari kita bisa lihat kembang api, kecuali di malam tahun barukan?”
“Kamu sendiri kenapa milih di sini, bukan merayakan tahun baru bareng pacar?” aku balik bertanya.
Ajeng menghela napas dan memandang ke langit yang sedikit kelabu.
“Menurut elu, ntar malem bakal hujan nggak?” Ajeng mengalihkan pembicaraan.
“Semoga aja nggak. Kalo hujan, banyak yang bakal kecewa,” kataku.
“Iya, hehe…”
“Jeng,” aku menyebut namanya.
“Ya?”
“Aku boleh nanya?”
“Apa?”
“Apakah kasus SMS itu belum clear?”
“Gak ada hubungannya sama SMS itu kok.”
“Jujur aja. Kita kan temenan. Nggak usah sungkan.”
“I dunno, Jo. Rahmat suka cemburuan. Dia keknya nggak percaya gitu ama gue,” terang Ajeng dengan desahan.
“Sejak dia baca SMS itu ya?”
Ajeng mengangguk.
“Kamu udah jelasin ke dia?”
“Sudah. Farah juga udah bilang kalo kita itu temen dekat. Tapi entahlah. Memang dasarnya dia orangnya cemburuan.”
“Sorry banget, Jeng atas yang terjadi. Kalo boleh, aku mau bicara empat mata sama pacar kamu itu. Biar semuanya jadi jelas. Biar sama-sama enak.”
“Nggak usah, Jo. Gue nggak mau mikirin hal ini. Elu, Adit, Pipit dan Farah itu udah kek keluarga gue sendiri. Gue udah kenal kalian lebih lama dari si Rahmat. Kalo dia nggak percaya sama kalian, sama aja dia nggak percaya sama gue. So, it’s up to him. Gue capek selalu ngalah. Elu nggak perlu ngejelasin apa-apa. Dasar dianya aja yang egois, pengen menang sendiri,” gerutu Ajeng panjang lebar.
Aku tertawa lirih.
“Emang semua cowok itu egois!”
“Karena kami dari planet Mars.”
“Apa hubungannya?”
“Nggak tahu.”
“Ugh!” ia memukul bahuku.
“Pokoknya, kita nikmati aja malam ini. Kalo kamu butuh bantuanku, aku selalu siap buat kamu, buat kalian semua pokoknya,” kataku sambil merangkul pundaknya.
“Yoi! Itu namanya fren!” sambut Ajeng.
Kami tertawa.

***

***Mario***

*Pukul 23.16*

“Mau lagi?” Kak Jo menyodorkan satu tusuk sate yang masih hangat ke gue.
“Mau dong!” jawab gue sambil menarik langsung sate itu dari tangannya.
“Ckck, ternyata porsi makan kamu banyak juga ya?”
Gue terkekeh.
“Ayo ambil lagi satenya di dalam baskom itu!” Kak Jo menunjuk baskom biru kecil di atas meja dekat panggangan sate.
“Eh, elu berdua jangan habisin satenya!” teriak Kak Pipit yang tengah berkumpul mengelilingi api unggun bersama Mbak Ajeng dan yang lainnya.
“Tenang aja. Aku panggangin buat kalian juga!” jawab Kak Jo.
“Tinggal hitungan menit, kita bakal berganti tahun. Nggak kerasa…” desis gue sambil menggigit daging sate yang terasa empuk.
“Apa harapan kamu di tahun 2013?” tanya Kak Jo.
“Yang pertama lulus UN dengan nilai memuaskan,” jawab gue cepat.
“Terus?”
“Hidup bahagia.”
“Lalu?”
“Bisa mendapatkan orang yang gue cintai…”
“Hah? Kamu belum punya pacar?”
Gue geleng kepala.
“Masa cowok terkeren se-SMANSA gak punya pacar?”
“Justru karena keren, jadi standar gue terlalu tinggi,” jawab gue pede.
“Hahaha. Masih mengharapkan punya pacar seperi Taylor Swift ya?”
Gue terkekeh.

*Pukul 23.46*

Kembang api warna-warni mulai menghiasi angkasa sejak satu jam yang lalu. Suaranya yang menggelegar terus bersahutan tak henti-hanti. Sementara tiupan terompet sudah terdengar, bahkan sejak siang tadi.

Gue pun langsung mengabadikan moment ini dengan kamera serta video HP.

“Yo!” teriak Mbak Farah sambil bergaya.
“Boleeehhh…” kata gue sambil memotretnya.
“Gue juga!” pinta Kak Adit.
“Semuanya, semuanya!” seru Mbak Ajeng.

Mereka semua merapat, kecuali Kak Jo yang masih berdiri di samping gue.

“Satu, Dua, Tigaaa… ” Gue menekan tombol kamera.
“Jo, ayo, ikutan!” Mbak Farah melambaikan tangan ke Kak Jo.
“Ayo,” kata gue sambil mendorong Kak Jo ke arah teman-temannya.
Kak Jo bergabung dengan mereka tanpa kata. Gue pun mengabadikan kelima sahabat itu berkali-kali dengan beragam gaya.
“Elu nggak mau foto juga?” tanya Kak Pipit.
“Mau dong. Masa gue cuma photografer doang?” Gue menyerahkan HP ke tangan Kak Pipit.
“Yuk, sini tak jepret…”
Gue langsung bergaya sambil memegang sate. Ada juga dengan gaya gue lagi ngipas sate. Selebihnya gue foto-foto bersama Kak Jo dan teman-temannya. Tak lupa pula kami berenam berfoto satu frame, dengan meminta bantuan Fitri, adiknya Mbak Farah.
“Besok aploud ke Facebook ya, Yo…” kata Mbak Ajeng.
“Ya. Jangan lupa di-like yoooo….” sambung Kak Adit.
Kami terkekeh.

Dua menit lagi menjelang pergantian tahun…

Gue tiba-tiba teringat dengan ritual yang sering gue lakukan sejak masih kecil, ketika waktu menunjukkan pukul 00.00 di malam pergantian tahun baru. Sebuah ritual yang diajarkan Abang gue, Marco, yakni menulis sebuah harapan yang paling elu inginkan di tahun mendatang di selembar kertas, lalu digulung dan dimasukkan ke dalam api unggun.

Kata Marco, api yang panas akan membakar kertas itu tanpa sisa. Ia mengibaratkan api yang panas sebagai semangat yang ingin ditunjukkan di tahun depan demi menggapai harapan yang kita inginkan sampai semuanya tercapai (ia ibaratkan harapan itu kertas. Jika kertas terbakar semuanya, itu sama artinya harapan yang kita inginkan semuanya tercapai). Well, agak maksa sih sebenarnya. Tapi gue percaya aja apa kata Marco. Bahkan gue menularkan ritual ini ke Arie. Kita selalu menuliskan harapan kita di selembar kertas, lalu dimasukkan ke dalam api unggun.

Nyatanya, apa yang gue tulis, nggak pernah tercapai. Tapi gue nggak pernah jera melakukannya. Jika dulu gue menganggap hal itu dengan serius, tapi sejak gue SMP, gue mulai mengerti, ini hanya sebuah permainan. Sebuah game untuk seru-seruan aja. Jadi gue nggak menganggapnya serius lagi. Mau tercapai ya syukur. Kalo pun enggak, gue nggak perduli.

Di tahun baru inipun, gue nggak mau melewatkan ritual ini. Gue pun minta kertas dan pulpen sama Mbak Farah.

“Buat apa?” tanya yang lain.
Gue pun menjelaskan apa yang mau gue lakukan. Ternyata, mereka semua juga pengen ikutan menuliskan harapan mereka di selembar kertas. Gue tertawa melihat mereka ikut gila kek gue.

“Eh, harapan elu apa?” tanya Kak Adit berusaha merebut kertas yang dipegang Kak Pipit.
“Eits! Rahasia dong!” jawab Kak Pipit sambil menghindar.
“Alah, palingan dia nulis pengen dapat pacar yang bening, iya kaaannn???” sambar Mbak Farah.
Kami terkekeh.
“Dari pada elu, harapannya pengen dapat brondong cucok, weeeekkk!” balas Kak Pipit.
“Sorry dorry Mangga Jeruk Stroberi yee, gue udah punya brondong. Nih!” Mbak Farah tiba-tiba menggandeng lengan gue.
“Weeee…!!!” seru kami.
“Harapan elu apa, Jeng?” tanya Kak Jo.
“Pengen baikan lagi sama pacar!” Kak Adit yang jawab.
“Salah! Pengen putus, hihihi…” jawab Mbak Ajeng.
“Widih!”
“Pasti ada sambungannya tuh,” celetuk Mbak Farah.
“Yup. Terus dapat pengganti yang perfect,” Mbak Ajeng membenarkan sambil nyengir.
Kak Adit dan Kak Pipit langsung meringis.
“Nah, kalo elu apa, Jo?” tanya Mbak Ajeng.
Kami serentak menoleh ke arah Kak Jo.
“Kalo aku… Hidup bahagia di dunia, mati masuk surga,” jawabnya santai.
“KOPLAK!” sambut Kak Adit kencang.
“Kalo elu brondong cucok?” tanya Mbak Farah sambil kedap-kedip genit ke gue.
“Lulus UN,” jawab gue cepat sambil memasukkan gulungan kertasnya ke dalam kantong sweater.
“Mantap!” Ia mengangkat dua jempol ke hadapan gue.
Gue tersenyum.

***

*Pukul 00.00*

Langit bermandikan cahaya kembang api warna-warni.
Gue, Kak Jo dan teman-temannya serentak melompat dan berteriak, “HAPPY NEW YEAAAARRR…!!!!”

Kami kembali foto bareng.

“Ayo masukin kertas kalian,” kata Kak Adit sembari melemparkan gulungan kertasnya ke dalam api unggun yang membubung tinggi.
“Ayoooo….!!!” sambut yang lain.

Gue merogoh kantong sweater gue.
“Wih, yang gue hilang!” seru gue.
“Jatuh kali,” kata Kak Pipit.
Gue membungkuk mencari kertas yang sudah gue gulung kecil-kecil di atas tanah. Pasti kertasnya jatuh saat kami berfoto atau melompat tadi.
“Buat aja lagi, Yo,” usul Mbak Ajeng.
Gue mengangguk lalu berlari ke rumah untuk mengambil kertas dan pulpen lagi.

Gue menulis dengan cepat harapan yang sudah gue hafal di luar kepala. Sebuah harapan yang sudah gue impikan sejak dua tahun lalu dan selalu gue impikan akan terwujud.

Setelah gue menulis dan menggulung harapan itu, gue bergegas kembali ke halaman belakang. Saat gue melintasi pintu belakang, tiba-tiba sebuah SMS masuk. Dari Kenanga yang isinya mengucapkan selamat tahun baru.
Langsung terlintas ide iseng di benak gue untuk mengirim SMS serupa ke Kak Jo yang tengah serius memelototi layar HP-nya.

Hanya dalam hitungan detik, HP Kak Jo sudah berbunyi. Ia langsung menatap gue seusai membaca SMS itu. Ia tak mengatakan apa-apa. Gue tersenyum. Ia tak membalas senyuman gue, tapi justru mendekati Kak Adit yang tengah memanggang jagung.

Gue menghela napas pelan lalu berjalan menuju api unggun untuk membakar gulungan kertas gue sendiri. Tapi baru dua langkah gue berjalan, HP gue berbunyi. Sederetan nomor tak dikenal tertera di layar HP gue.

Gue mengerutkan kening lalu menekan tombol Oke.

“Halo?” sapa gue.
“Happy New year, Boy!”

Gue langsung menoleh ke arah Kak Jo yang tengah memandang gue sambil mengedipkan mata. Gue tertawa.

“Kita impas!” katanya lagi lewat telepon lalu memutuskan sambungan dan memberikan HP ke Kak Adit.

Gue tersenyum di tempat gue berdiri. Ini benar-benar lucu. Caranya membalas keisengan gue benar-benar smart.

Sebuah pikiran melintas lagi di benak gue. Gue buru-buru kembali ke dalam dan merubah harapan gue. Gue coret dengan satu garis lurus harapan yang selama 24 bulan belakangan ini mengisi benak gue, lalu gue ganti dengan harapan baru. Setelah itu gue berlari cepat menuju api unggun dan membakar gulungan kertas itu. Tak perduli sekarang masih pukul 00.00 atau nggak.

***

One thought on “Chapter Va

  1. ardi 05/22/2013 pukul 1:19 pm Reply

    Udah tamat kah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: