Chapter IVf

Aku terbangun oleh suara ponselku yang nyaring.
Sebuah nada pesan masuk. Aku menggeliat dan menguap lebar. Dengan kadar kantuk yang masih sangat kuat, kuambil ponsel di samping bantal dan membuka SMS dengan mata menyipit sedikit. Layar LCD ponsel terasa sangat menyilaukan bagi mataku yang belum melek sepenuhnya.

Sebuah SMS dari Andre, teman seruanganku di kampus. Ia memberitahukan bahwa hari ini tepatnya pukul 10.00 kami akan mengerjakan tugas kelompok mata kuliah Translation di rumah Neneng. Akupun langsung menjawab Iya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 05.30. Aku kembali memejamkan mata sejenak. Rasa dingin sisa hujan semalam serta kantuk yang masih mengeruyupi mata, membuat enggan untuk beranjak bangun.

Kokok Ayam Pak Rahik, tetangga sebelah rumah, menyentakku. Ups! Aku baru ingat, aku belum menunaikan Salat Subuh. Aku langsung bangkit dan bergegas ke kamar mandi.

Guyuran air yang dingin menusuk kulitku. Aku berwudhu dengan cepat lalu buru-buru mengelap anggota tubuhku yang basah dengan handuk untuk menghalau rasa dingin yang menggigit. Setelah itu bergegas menunaikan salat Subuh.

Lagi-lagi Ayam berkokok. Kali ini saling bersahutan. Aku pun melipat sajadah dan menyampirkannya ke sandaran kursi.

Sekarang aku akan memasak sarapan. Tapi sebelum ke dapur, aku terlebih dulu memeriksa pesan yang masuk saat aku tengah salat tadi. Rupanya SMS balasan dari Andre.

Hari ini aku akan memasak Sup Oyong dan Telur Lado Hijau yang resepnya kucontek dari balik bungkus sachet penyedap rasa. Hehehe. Aku harap rasanya akan lezat.

Ternyata mempraktekkan resep itu tak semudah membaca step by step-nya. Harus punya passion dan keahlian khusus untuk menciptakan sajian yang enak. Tapi tentu saja aku tak akan menyerah begitu saja. Bagaimanapun caranya, masakanku nanti harus enak di lidah, setidaknya di lidahku sendiri. Hihihi.

Setelah berkutat di dapur dan mempraktekkan dua resep baru, tugasku selanjutnya adalah membereskan rumah dan menyiram kembang-kembang Mama.

Sebenarnya yang kumaksud membereskan rumah itu hanya sekedar menyapu lantai dan mengelap barang-barang saja dengan kemoceng. Faktanya selain ruang keluarga, kamarku, dapur dan kamar mandi, aku jarang mendatangi ruangan yang lain. Jadi kemungkinan barang-barang di rumah ini akan berantakan itu bisa dibilang mustahil, kecuali ke empat ruangan yang kusebutkan di atas.

Hari ini yang sedikit berantakan cuma ruang keluarga saja. Di ambal terdapat bekas gorengan, tetesan cabe dan kursi yang tidak pada tempatnya. Aku hanya perlu menyapu, mengelap meja dan menaruh dan menyusun kursi pada tempatnya semula. Beres. Setelah itu aku menyibak tirai jendela kaca agar matahari pagi yang belum menyembul dari ufuk timur bisa menerangi seisi rumah ini. Kemudian aku memeriksa semua jendela dan pintu dan memastikan semuanya tertutup dan terkunci. Sendirian di rumah dan hampir setiap siang selalu dibiarkan kosong, membuatku sedikit lebih hati-hati dari biasanya. Meskipun kompleks tempat tinggalku aman, namun tidak ada salahnya kan untuk terus waspada.

Selesai mengerjakan aktivitas rutin di rumah, ini saatnya untuk mandi. Tak perduli cuaca sedingin apapun, kebiasaan mandi pagi sudah tertanan dalam kehidupanku sejak kecil. Kalau kata Mama, jika sudah mandi, itu menandakan kalau seseorang itu sudah siap untuk melakukan kegiatan apapun. Entah itu aktivitas indoor maupun outdoor.

Yang kedua kata Mama, setelah mandi pagi, maka jangan pernah lupa untuk mengisi perut alias sarapan. Sebelum beraktivitas, perut harus diisi terlebih dulu. Agar tubuh berenergi dan pikiran bisa fokus, nggak mikirin perut yang terus ‘kriukkk…kriukk..’ minta diisi.

Selesai breakfast, aku kembali ke kamar. Menyiapkan materi yang akan didiskusikan bersama teman-teman di rumah Neneng nanti. Setelah semuanya sudah dipastikan berada di dalam tas, akupun mengambil waktu santai dengan menonton TV yang juga ada di kamarku. Meng-update informasi dengan menonton berita di TV One, sembari menunggu Andre datang menjemputku.

Seperempat menit lagi menuju pukul sepuluh tepat, Andre pun datang menjemputku. Akupun mematikan TV dan bergegas menemuinya di luar. Setelah itu kamipun berangkat ke rumah Neneng.

***

*25 Desember 2012, pukul 11.03*

“Oke sekarang aku yang menjelaskan bagian materiku,” kataku setelah Neneng selesai menjelaskan materi bagiannya.
“Yang elu tentang apa, Jo?” tanya Yoranda sambil membolak-balikkan halaman buku yang terbuka di depannya.
“[i]The Translation of Neologisms[/i],” jawabku.
“Oke.”
“Neologis ini bermakna kata-kata baru. Kita tahu sendirikan kalo bahasa itu selalu berkembang dari waktu ke waktu. Dalam menerjemahkan, terkadang kita menemui new words yang tidak ada dalam kamus. Karena kamus itu sendiri diterbitkan, setelah bahasa itu ada. Sementara kata-kata baru bisa muncul kapan saja.
Dalam [i]chapter The Translation of Neologisms[/i] ini, ada beberapa sub pokok bahasan. [i]Firstly, old words with new sense[/i]. Maksudnya kata-kata lama bisa mempunya pengertian baru. Contohnya nih, kata gay. Dulu kata gay artinya gembira. Namun sekarang justru kata gay lebih dikenal sebagai sebutan orang yang homoseksual. Sehingga saat seseorang ingin mengatakan pesta yang meriah tidak lagi dengan [i]a gay party[/i], tapi [i]a happy party[/i]. Sebab kalo pake kalimat [i]a gay party[/i], pasti akan langsung diasumsikan sebagai sebuah pesta gay. Kalo dalam bahasa Indonesia, sama halnya dengan makna konotasi dan denotasi atau pergeseran arti. Contohnya pada kata Bunting, Hamil, berbadan dua. Kata-kata in—” penjelasanku terhenti karena suara ponsel di kantong jeansku.

[i]Mario calling…[/i]

***

***Mario***

*25 Desember 2012, Pukul 10.45*

Gue menyelimuti tubuh sampai ke kepala. Wangi selimut yang lembut menambah kenyamanan gue.

Tapi… Wangi selimut ini terasa asing di penciuman gue. Aroma selimut gue nggak begini.

Gue menyibak selimut yang menutupi kepala. Perlahan-lahan gue membuka mata dan menemukan suasana kamar yang berbeda dengan kamar gue.

Gue menguap lebar sambil meraba-raba permukaan di samping bantal, mencari HP. Nggak ada. Gue baru ingat kalau semalam gue langsung tidur dan HP masih ada di dalam kantong celana.

Untung HP gue nggak kenapa-kenapa. Masih utuh dan nggak rusak karena tertindih atau terbentur benda lain selama gue tidur.

Gue membuka kunci otomatis dan shit! SEKARANG HAMPIR PUKUL SEBELAS!!! Ya ampun! Apa kata Kak Jo nanti setelah tahu kalo gue suka bangun telat??? Dia pasti ceramah lagi, ceramah lagi.

Gue langsung melompat bangun lalu melipat selimut, merapikan seprai, bantal dan guling. Gue mesti kasih alasan apa ya? Ah! Bodoh amat! Gue berusaha untuk nggak peduli.

Gue pun menyisir rambut dengan jemari tangan sambil berjalan menuju pintu yang tertutup rapat.

Krekk. Krekk. Pintu kamar nggak terbuka saat gue memutar gagangnya. Gue mencoba memutar gagang pintunya sekali lagi. Tetap nggak terbuka.

Pintunya dikunci!

Sial. Jo mengunci gue di kamar. Pasti karena gue dari tadi molor kek orang mati.

Gimana nih? Apa gue pura-pura masih tidur aja ya? Atau minta dia bukain pintu?

Gue kembali ke ranjang dan duduk di pinggirnya. Gue nggak mau kek orang bodoh di sini. Terkurung menunggu sampai cowok itu bukain pintu.

Gue kembali ke depan pintu dan mengetuk pintu dengan ragu-ragu. Mula-mula gue mengetuk pelan, kemudian lebih keras dan akhirnya dengan keras.

“Kak Jo… Kak Jo!” seru gue sambil menggedor pintu. Tapi tak ada tanda-tanda cowok itu akan membukakan pintu.

Sial! Mungkin di kamar atau bahkan di balik pintu ini ia sedang menikmati teriakan dan gedoran gue. Ia berhasil mengerjai gue.

Hhfffhhh.

“KAK JOOOO…!!!” teriak gue sekencang-kencangmya.

Gak ada sahutan. Gak ada pula langkah kaki mendekat. Rumah ini terasa sepi.

Gue menatap sekeliling kamar. Ah, mungkin gue bisa keluar lewat jendela. Gue pun berjalan mendekati jendela dan menyibak tirainya. Sayangnya jendela ini pake tralis.

Ugh! Gue nyesel udah menyetujui ajakannya untuk menginap di sini tadi malam. Gue juga menyesali kenapa pula gue bisa sampai bangun setelat ini.

Gue menghela napas pelan. Mencoba menenangkan pikiran dan mengendapkan emosi. Bagaimanapun juga ini kesalahan gue.

Tiba-tiba gue teringat dengan HP yang ada di kantong celana. Oh iya! Kenapa gue nggak telepon dia aja? Gue bisa meminta dia untuk menghentikan game yang sama sekali konyol ini!

Gue pun mencari nomor HP-nya di kontak telepon. Sialnya lagi, gue nggak punya nomornya.

Mulut gue hampir aja menyemburkan sumpah serapah dengan rentetan kesialan ini, tapi untungnya gue ingat kalau tadi malam Jo Sialan itu sudah menelepon gue. Nomornya masih tersimpan di call register.

***

***Johan***

*25 Desember 2012, pukul 11.07*

[i]Mario meneleponku. Ada apa???[/i] gumamku sambil mendekatkan ponsel ke telinga.

“Assalamualaikum. Ya, Yo?”
“Bukain pintunya, Kak. It’s not funny,” suara Mario terdengar dingin.
“What do you mean?” tanyaku nggak ngerti.
“Open the—”

Ups! Aku teringat sesuatu. Ya ampun! Aku lupa kalo malam tadi Mario tidur di rumah! Parahnya lagi pintu kamarnya kukunci dari luar saat membereskan rumah pagi tadi. Aku benar-benar lupa sama Mario.

“Yo, Mario! Sorry. I’m so sorry. Kakak pulang sekarang!” potongku cepat sambil mematikan sambungan.
“Ada apa, Jo?” tanya Neneng.
“I’m forget about something. Aku pulang dulu ya? Ntar aku ke sini lagi, okey???”
“Emang ada apa, Bro?” tanya Andre.
“Ada orang di rumah,” kataku sambil berdiri.
“Tapi ntar lu kesini lagi kan?” tanya Yoranda.
“Pasti dong. Aku cuma pergi sebentar kok. Nggak nyampe lima belas menit!” jawabku dengan sedikit seruan sambil keluar rumah.

Namun sesampai di teras, aku lupa kalo tadi Andre yang menjemputku. Aku pun kembali ke dalam.

“Ndre, pinjam motor, Bro!”
“Oh, nih!” Andre melempar kunci motor yang kutangkap dengan sigap.
“Aku cabut ya all!”
“Hati-hati, Jo!” pesan Neneng.
“Beli makanan, Jo!” seru Yoranda.
“Ya, Bro! Beli buah Rambutan!” tambah Andre.

Aku mengiyakan semua seruan mereka sembari menghidupkan motor dan mengendarainya menuju rumah dengan kecepatan lebih kencang dari biasanya.

Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar tamu. Dari ambang pintu ruang keluarga tertangkap oleh telingaku suara musik dari dalam kamar. Aku pun membuka pintu kamar tamu dengan cepat.

Saat aku membuka pintu, nampak Mario langsung berdiri dan menatapku dengan bibir membentuk garis keras. Ia cemberut.

“I’m so sorry, Brotha. Kakak benar-benar lupa kalo kamu ada di rumah,” ucapku dengan sungguh-sungguh.
Ia mengerutkan keningnya.
“Kalo kakak tahu, pasti sejak pagi tadi udah kakak bangunin kamunya,” kataku lagi.
“Nggak apa-apa,” balasnya. “Emang Kakak kemana? Kuliah ya? Eh, hari ini Natalan, nggak mungkin…” Ia menjawab sendiri pertanyaannya.
“Kakak ngerjain tugas di rumah temen. Oh, ya, kamu baru bangun ya?” tanyaku sambil menyipitkan mataku.
“Iya,” jawabnya pelan sambil cengengesan.
“Dasar! Jam segini baru bangun…” gerutuku sambil berjalan keluar kamar.
“Tadinya gue pikir Kakak ngerjain gue,” kata Mario seraya mengikuti langkahku.
“Ngerjain kamu?”
“Iya. Gue mikirnya Kakak sengaja kunci pintu dari luar karena gue bangunnya siang.”
Gue menoleh dan menatapnya tajam. Ia tersenyum dengan mimik wajah lucu.
“Kakak benar-benar lupa kalo kamu nggak telepon tadi,” terangku.
“Hehehe…”
“Ya udah, kamu buruan mandi. Kakak mo ke rumah temen lagi. Tugasnya belum kelar,” kataku.
“Oohhh, maaf jadi ngeganggu kerjaannya, Kak. Gue mandi di rumah aja.”
“No problem. Sebelum pulang mandi dan brunch aja dulu. Menu breakfast Kakak tadi pagi masih ada.”
“Nggak usah, Kakak mo pergi sekarangkan? Gue juga mo pulang.”
“MANDI DULU!” aku mengucapkan kalimat itu dengan sedikit keras. Itu tandanya kalo aku tak mau dibantah.
“T-tapi—”
“TERUS BRUNCH!” potongku cepat.
Mario nampak mangut-mangut.
“Ayo buruan. Kalo sudah ntar baru pulang.”
“Ya deh.”
“Kakak pergi ya!” pamitku.
“Iya Kak.”
“Sip. Kalo mo pulang ntar, jangan lupa pintu dikunci. Terus kuncinya dititipin ke Uni Citra (tetanggaku) ya. Itu tetangga depan rumah,” pesanku sambil mengarahkan telunjuk ke arah rumah bergenteng biru tepat berhadapan dengan rumahku.
“Ya, Kak. Hati-hati.”
Aku mengangguk sambil berjalan menghampiri motor Andre yang kuparkir di depan teras.

***

***Mario***

Gue tengah makan saat nada pesan masuk di HP gue berbunyi.

[b]Dari: Kak Jo
Time: 11.21
Date: 25/12 /2012

udh mandi blm km?

Dari: Mario
Time: 11.22
Date: 25/12/2012

udh kak.

Dari: Kak Jo
Time: 11.23
Date: 25/12/2012

sip. Makan?

Dari: Mario
Time: 11:24
Date: 25/12/2012

ini lg mkan.

Dari: Kak Jo
Time: 11.26
Date: 25/12/2012

good. Kalo mo pergi jgn lp pintu dikunci. Kuncinya dititipin ke uni citra[/b]

Grrr… Ini orang ngingetin gue terus-terusan seakan-akan gue pelupa. Padahal dia sendiri tuh yang suka lupa.

[b]Dari: Mario
Time: 11.28
Date: 25/12/2012

Y[/b]

gue mengirim pesan berisi satu huruf itu dengan gerutuan. Si Jo ini sangat menyebalkan. Sepertinya semua orang harus mengikuti kehendaknya. Dan bodohnya, gue selalu menuruti apa yang ia katakan.

Setelah makan, gue mencuci piring dan gelas yang tadi gue pakai. Kemudian ke bagasi untuk memanaskan mesin motor. Beberapa menit kemudian, gue pun pulang meninggalkan rumah si Jo Yang Menyebalkan.
***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: