Chapter IVe

Hujan tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Bahkan kelihatannya semakin deras saja. Aku dan teman-teman sudah mengkhatamkan film TDKR kurang lebih sejak setengah jam yang lalu. Dan sekarang kami berlanjut menonton film The Avengers.

Sementara itu, waktu sudah menunjukkan pukul 22.56 menit. Gorengan yang tadi dibawa oleh Fitra udah ludes. Tinggal teh dingin lagi yang ada.

“Kok hujannya nggak renda-reda juga sih?” gumam Fitra.
“Iya nih. Gimana pulangnya?” timpal Pradista.
“Nginap ajalah. Udah malem juga,” usulku.
“Besok pagi-pagi banget Papa mo pake mobilnya,” terang Fitra.
“Oh iya, kaliankan pake mobil? Kenapa mesti pusing sih?”
“Oo..iya…!” seru Pradista pelan sambil menepuk jidat Fitra.
“Pukul jidat elu sendiri, oy!” gerutu Fitra sambil menonjok pelipis Pradista pelan.
“Kalian berdua sih enak, lha gue gimana?” celetuk Mario sambil memeluk badannya.
“Bareng kita aja, Yo,” usul Fitra.
“Gue bawa motor, Kak.”
“Tinggalin aja di sini. Besok baru diambil,” kata Pradista.
“Udaaahhh, kamu nginap aja. Lagian kamu libur sekolahkan?” timpalku.
“Kalo besok gak ada aktivitas, enakan nginap aja dah. Kita-kita sebenarnya juga males pulang. Tapi besok gue ada kuliah pagi, terus mobilnya Pipit (Fitra sering dipanggil Pipit) mo dipake sama Papanya…” terang Pradista.
“Kuliah apaan? Besokkan libur Natalan, cuy?” aku mengingatkan.
“Bagi kalian sih libur. Tapi bagi gue nggak. Waktu tatap muka perkuliahan untuk matkul Ekonomi Makro nggak cukup. Jadi kebetulan teman-teman satu ruangan nggak ada yang merayakan Natal, so, kita sepakat—sepakat nggak sepakat sih sebenarnya—, mengambil waktu libur ini untuk menggenapi waktu tatap muka. Makanya besok dijadwalkan tetap masuk untuk presentasi. Tapi cuma satu mata kuliah kok. So, pulangnya cepat,” terang Pradista.
Aku dan Fitra mengangguk-angguk membenarkan ucapan Pradista barusan.
Mario nampak mangut-mangut.
“Yo, SMS aja orang tua kamu, bilang kamu nginep di rumah Kakak,” saranku.
“Iya, entar aja deh. Siapa tahu bentar lagi hujannya berhenti,” kata Mario masih mengharapkan hujannya reda.
“Ya udah.” Kami kembali hening sambil menatap ke layar TV.

*Pukul 24.50*

***Mario***

Entah sudah berapa kali gue menguap lebar. Sudah tak tehitung. Mata gue sudah berat banget. Udah dibawah 5 watt. Gue pun berusaha sekuat tenaga menjaga agar kepala gue tetap tegak. Sementara film The Avenger yang diputar sudah tamat pula.

Gue online ke Facebook, berusaha mengusir kantuk. Namun deretan huruf terasa kabur di pandangan gue. Benar-benar nggak bisa diajak kompromi mata gue, kecuali sama kasur, bantal dan guling sepertinya. Sial.

“Yo, kamu nggak pulangkan?” tegur Kak Jo tiba-tiba.

Gue tersentak dan berusaha menahan kelopak mata gue agar tetap terbuka.

“Eh?” desis gue.
“Kalo mo tidur, ke kamar aja,” katanya.
“Iya…” kata gue pelan sambil mengusap-usap rambut di belakang telinga.
“Terserah mo di kamar tamu,” Kak Jo menunjuk pintu di belakang kami, “Atau mo di kamar Kakak.”
“Ya, bentar lagi,” kata gue sambil memainkan navigasi HP.
“Kalian gimana? Nggak usah pulang deh,” Kak Jo bertanya ke Kak Fitra dan Kak Pradista.
“Kita pulang, Bro,” jawab Kak Fitra, cowok yang berambut cepak.
“Besok pagi-pagi aja lah pulangnya,” bujuk Kak Jo.
Kak Fitra melirik Kak Pradista, meminta pendapat.
“Kita pulang aja, Pit. Repot kalo besok. Gue belum nyiapin materi buat besok nih.”
“Ya udah, kalo gitu kita pulangnya sekarang aja. Kayaknya hujan nggak bakal berhenti deh,” ajak Kak Fitra.
“Ayok!”

Kedua teman Kak Jo itu berdiri serentak.
“Kalian pulang ya, Kak?” tanya gue basa-basi.
“He-eh.”
“Besok ajalah,” tahan gue.
“Repot, Yo,” Kak Pradista kasih alasan.
Gue tersenyum.

“Kita pulang ya!” pamit Kak Fitra.
Gue mengangguk.
Kak Jo ikutan berdiri dan mengawal keduanya.
Gue dengan malas berdiri lalu meregangkan otot yang terasa pegal sambil menguap lebar. Gue pun ikut keluar bersama Kak Jo untuk mengantar Kak Fitra dan Kak Pradista pulang.

Setelah kedua teman Kak Jo pulang, kami berdua kembali ke ruang tengah. Kak Jo membereskan meja dan membenarkan kain penutup TV.

“Udah malem nih, Yo. Buruan tidur gih,” katanya.
“Ya, Kak,” jawab gue sambil menguap lebar.
“Orang tua kamu udah di-SMS-in belum?”
“Sudah.”
“Ya udah, tidurlah.”
“Baik Kak. Gue tidur di kamar tamu aja ya,” kata gue.
“Ya, ya.”
Gue berjalan ke kamar tamu yang berhadapan dengan ruang keluarga. Saat gue putar gagang pintunya, ternyata dikunci.
Gue berjalan menemui Kak Jo yang tengah mencuci gelas bekas kami minum teh tadi.
“Kak, pintunya dikunci,” beritahu gue.
“Oh, iya. Bentar ya.”
Gue mengangguk lalu kembali ke ruang tengah dan berbaring di sofa.
Tak berapa lama kemudian, Kak Jo datang menemui gue. Ia membuka pintu kamar tamu.
“Yo, pintunya udah dibuka nih,” beritahu Kak Jo.
“Ya, Kak,” balas gue seraya bangun dari baring lalu menuju ke kamar yang pintunya terbuka sedikit.
Gue langsung masuk kamar dan langsung menghempaskan diri ke atas ranjang yang terasa dingin dan sedikit asing.

Mata yang sedari tadi sayu, saat dipejamkan, maka dengan cepatnya membawa gue ke alam mimpi…

***

***Johan***

Aku mengelap mukaku dengan handuk lembut. Seperti biasa, sebelum tidur aku selalu mencuci muka dulu. Setelah itu keluar kamar mandi, mengunci pintunya dan berjalan ke kamar.

Menuju kamar, ternyata kulihat ruangan keluarga masih terang benderang. Aku pun kesana untuk mematikan lampu. Seperti kata Mama, semua lampu yang tak terpakai, sebaiknya dimatikan saja. Hitung-hitung hemat energi.

Aku baru saja hendak menekan kenop lampu, saat mataku tertuju pada kamar ruang tamu yang sedikit terbuka. Aku langsung ingat sama Mario.

Aku berjalan kesana, memegang handle pintu dan melongokkan kepala ke dalam. Di atas ranjang Mario nampak tertidur dengan lelap—telungkup tanpa selimut.

Terbesit dalam pikiranku, bahwa kamar tamu jarang dibuka apalagi ditiduri. Pasti bantal, guling, seprai dan selimutnya sedikit bau apek. Aku pun mengganti selimut itu dengan selimut punyaku. Kubentangkan sedikit di atas kaki Mario. Setelah itu aku keluar kamar dan mengunci pintunya.

Sebagai pengganti selimutku yang kupakaikan untuk Mario, aku Mengambil selimut Mama. Saat aku memakainya, aroma tubuh Mama, membawaku pada kerinduan. Aku memejamkan mata dan berharap bisa bertemu Mama dalam mimpi.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: