Chapter IVd

*24 Desember 2012, Pukul 18.49*

***Johan***

Hampir seharian ini cuaca mendung. Namun baru sekitar pukul 4 sore tadi hujan benar-benar turun. Bahkan cukup deras. Tapi menjelang Maghrib tadi, hujan perlahan mereda.

Aku mengambil sweater yang tergantung di hanger dalam lemari dan memakainya. Lumayan untuk menghangatkan tubuh.

Nah, saatnya sekarang menonton Batman: The Dark Knight Rises.

Aku menuju ruang keluarga. Tapi saat melangkah, tiba-tiba terbesit dalam pikiranku untuk mengajak Fitra dan Pradista. Nonton rame-rame pasti lebih fun!

Aku pun langsung menghubungi Fitra.
“Assalamualaikum! Fit, ke rumahku, ya!”
“Wallaikumsalam. Emang ada apa, Bro?” tanya Fitria.
“Kita nonton The Dark Knight Rises.”
“Wah, boleh tuh. Sip, sip. Gue ajakin Pradista yo?”
“Oke sip. Kamu aja yang telepon dia ya!”
“Oke Brooo…”
“Jangan lupa beli gorengan.”
“Haish…! Baiklah…”
“Siiiippp!”

Sembari menunggu kedatangan kedua temanku itu, aku membuat teh hangat. Makan gorengan lebih nikmat jika ditemani secangkir teh. Apalagi di cuaca dingin begini.

Tak berapa lama kemudian, terdengar suara bel berbunyi diselingi klakson mobil. Itu pasti mereka. Akupun bergegas membuka pintu.

Benar saja. Di luar pintu pagar, nampak mobil Fitra. Tentu saja sebenarnya itu mobil Papanya.

“Cepat buka pintu!” teriak Fitra.
“Gaya-gayaan banget kalian pake mobil?” tanyaku sambil mendorong pintu pagar.
“Cuaca mendung. Takutnya kehujanan di jalan,” jawab Pradista sambil berjalan mensejajari langkahku. Sementara Fitra tengah memarkirkan mobilnya di garasi.
“Sekalian tutup pintu pagar ya, Bro!” seruku ke Fitra sambil melangkah masuk diikuti Pradista.
“Elu beli DVD bajakan ya, Jo?” tanya Pradista tiba-tiba.
“Sembarangan! Asli punya. Aku pinjem.”
“Di Ultra (disk)? Setahu gue di sana belom ada deh…”
“Emang bukan di sana. Tapi pinjam sama Mario—itu, murid yang bayarin makanan kita waktu itu—ingat nggak?”
“Oh, yang itu. Inget kok.”
“Tapi si Adi (PrADIsta) katanya udah nonton, Jo!” timpal Fitra yang menyusul dari belakang.
“Yup. Gue udah nonton di bioskop sewaktu di Padang,” Pradistia membenarkan.
“Kalo udah diem aja. Nggak usah kasih spoiler!” kataku memperingatkan.
“Bener tuh. Nggak asyik lagi kalo udah dikasih tahu,” Fitra membenarkan.
“Sip!” Pradista menyanggupi.

Aku berjalan ke dapur sambil membawa kantong kresek berisi gorengan yang dibawa Fitra. Gorengan berupa Bakwan, Tahu Ompong, Roti goreng dan Pisang goreng itu kuletakkan di piring. Setelah itu kembali kubawa ke ruang tengah beserta teko berisi teh hangat dan tiga buah gelas.

“Mana kasetnya, Jo?” tanya Fitra yang sudah menghidupkan DVD player.
“Di atas lemari,” jawabku sambil meletakkan gorengan yang dibantu sama Pradista.
“Lemari mana?”
“Itu di samping TV. Tempat biasanya. Kamu kek yang baru pertama kali ke sini aja deh,” gerutuku.
“Nggak adaaaa…”
“Ugh! Awas kalo ada!” ancamku seraya berjalan menghampiri Fitra yang terus celingak-celinguk di depan lemari.
“Mana, mana? Adanya VCD Poppy Mercuri nih,” kata Fitra sambil menunjuk VCD usang milik Mama. Almarhumah Poppy Mercuri adalah idola Mama. Beliau sewaktu masih ada di sini, setiap pagi hampir selalu menyetel VCD itu.
“Eh, iya, kok nggak ada?” gumamku kebingungan.
“Heeeh, ngeyel sih elu! Dibilang juga kagak ada!”
Aku mangut-mangut sambil mengingat-ingat dimana gerangan kutaruh DVD itu.

“Ups! Shit! Aku lupa, DVD-nya lupa aku bawa!” seruku sambil menepuk jidat.
“Lupa?”
“Masih di rumah Mario. Haduuhhh….”
“Ya elah, bego! Kok bisa elu pinjem terus pulangnya nggak dibawa sih?” semprot Fitra.
“Panjang ceritanya. Ya udah, aku telepon dia dulu,” kataku sambil merogoh ponsel di saku jeans.

Tapi lagi-lagi aku tersadar kalau aku belum punya nomor anak itu. Aku pun terdiam sejenak.

“Kenapa lagi? Buruan telepon,” tegur Fitra.
“Aku nggak punya nomernya,” jawabku pelan.
“Hadeeehhhh…! Monyong, monyong, monyong!!” gerutu Fitra.
“Ya udahlah. Ganti film lain aja. Kapan-kapan aja nonton Batman-nya,” usul Pradista yang sedari tadi sibuk mengunyah gorengan.
“Elu sih enak udah nonton!” seru Fitra nggak setuju.
“Tenang aja. Percaya sama aku. Malam ini itu film pasti jadi kita tonton. Aku minta nomer Mario sama Arie dulu ya,” kataku menengahi.
“Ya udah. Gue nggak mau datang ke sini sia-sia. Mana udah beli gorengan lagi,” gerutu Fitra sambil berjalan menuju sofa. Ia lantas duduk serentak dengan tangannya yang terjulur mengambil Tahu Ompong.
“Perhitungan banget sih elu jadi orang!” ejek Pradista.

Aku tak menghiraukan percakapan mereka. Segera kutelepon Arie dan memintanya mengirimkan nomer Mario melalui SMS.

“Emang rumahnya si Mario itu dimana, Bro?” tanya Pradista. “Kenapa nggak elu ambil aja kerumahnya langsung?”
“Dekat kok. Cuma sebelum kesana aku mau mastiin dulu dianya ada di rumah apa nggak,” terangku.

Tak berapa lama kemudian, SMS dari Arie pun datang. Ia mengirimkan kartu nama, sehingga aku bisa langsung menyimpan nomer yang ia kirimkan.

***

*24 Desember 2012, Pukul 14.43*

Gue terpaku di depan pintu kamar seusai mengantar Kak Jo pulang.

Sumpah. Gue jadi asing dengan kerapihan yang tersuguh di depan mata gue.

Gue melangkah pelan menghampiri meja belajar gue, lemari gue, jendela kaca, meja kecil dan ranjang. Semuanya rapi dan kinclong.

Gue membelai hamparan bed cover yang terasa bersih dan lembut, yang selama ini di atas ranjang gue suka ada butiran-butiran debu.

Gue berbaring terlentang di ranjang sambil menghirup udara yang terasa segar.

[i]Akh, kok Arie nggak hubungi gue sih? Dia lagi apa ya sekarang?[/i]

[i]Huh, pasti dia lagi senang-senang di sana. Mana mungkin dia ingat sama gue![/i]

Heehh. Memikirkan Arie membuat napas gue sesak. Beginilah rasa sakit yang harus gue telan atas perasaan suka dengan seseorang, yang notabene sejenis sama gue.

Shit! Gue benci jadi gay!

Gue meraih HP dan mengiriminya pesan WhatsApp.

[b]Mario: krikk…krikk… (14.52)[/b]

5 menit…

10 menit…

Belum juga ada jawaban. Pesan gue pun masih bercentang satu.

[quote][b]BF_Arie:[/b]
last seen today at 06.27
status: Happy Together :*[/quote]

Grrr…! Sepertinya Arie lagi senang-senang sama pacar dan rombongannya itu. Bikin gue cemburu aja dah!

Gue bangkit dari baring dan bergerak mengambil laptop. Mungkin saja ia lagi online di FB.

*On Facebook*

[quote]Notifications
[color=blue]Arieswara[/color] juga mengomentari [color=blue]status[/color]nya: “@bray , @mr jo gw udh nympe.”

[color=blue]Nandra Ferdiansyah Mn, Intan Putri Los Merengues[/color] dan 10 lainnya menyukai [color=blue]status[/color] Anda.

[color=blue]Adhyra Pratama[/color] has invited you to like his new Page [color=blue]Teater Petass.[/color]

[color=blue]Adhyra Pratama, Echa Nounha Rachmat dan 9 lainnya juga mengomentari [color=blue]status[/color] anda.[/quote]

Gue langsung meng-klik nama Arieswara.

[quote][color=blue][b]Arieswara[/b][/color]
Happy Together…! –bersama [color=blue]Juwita Aries[/color] di [color=blue]Rumah tepi Pantai[/color]
9 jam yang lalu melalui Blackberry.
23 . suka . 6 komentar . Bagikan[/quote]

Akh, semakin membuat galau.

Gue pun mengupdate status:

[quote]
[color=blue][b]Mario Indonesia[/b][/color]
Galau, stay away from me![/quote]

Gue menatap layar monitor.
Sekarang gue mesti ngapain?

Buka BF aja kali ya? Berbalas komen dengan Ariesboyz keknya lumayan juga.

*On BF*

[quote][b]Ariesboyz:[/b] December 22
[quote=”OHMario;1503233″]@Ariesboyz janji adlh kutang. Gw tunggu loh![/quote]
@OHMario bkn kutang, bray! Tp bra. Wkwk

sip. Kalo gw go public ntar, lu yg pertama kali gw ksh tw.šŸ˜”

[b]OHMario:[/b] December 24
@Ariesboyz gw catet lho!

Btw, sore bray.[/quote]

Sembari menunggu jawaban dari Ariesboyz, gue membuka thread yang lain. Kebanyakan gue cuma jadi silent rider aja.

Beberapa menit berlalu…, Ariesboyz nggak bales juga. Ternyata setelah gue cek, ia aktif terakhir tanggal 23 Desember.

Arrgghh…!!! Emang apes keknya gue hari ini. Semua orang yang ingin gue ajak ngobrol pada sibuk dengan rutinitas dan kebahagiaan mereka masing-masing.

Liburan kali ini benar-benar membosankan!

*Pukul 16.09*

Gue sudah selesai mandi dan mengenakan baju tebal. Di luar hujan turun dengan deras. Gue pun memilih naik ke atas ranjang dan meringkuk dalam balutan selimut.

Tiba-tiba HP gue berbunyi. Sebuah pesan WA masuk.

*on WhatsApp*

[b]BF_Arie: apa sayang?šŸ˜€ (16.14)[/b]

Ugh! Pinter banget ini anak ngegoda gue.

[b]Mario: ngapain aja elu, eh? Gak ksh info seharian. (16.15)

BF_Arie: elu rindu yaaa? (16.16)
BF_Arie: td kita jjl keliling kota. HP lupa gw bawa, Bray. (16.16)

Mario: najis. -_- (16.18)
Mario: kemana aja? (16.18)

BF_Arie: banyaklah. Ke benteng, terus makan, foto2. (16.20)

Mario: asyik dong y. (16.20)

BF_Arie: asli. Foto2 ny gw aplod tuh di fb. (16.21)
BF_Arie: elu hr ini kmana? (16.21)

Mario: di rmh aja.šŸ˜¦ (16.22)

BF_Arie: wkwk. Elu gw aja kagak mau sih… Main noh sama guling. (16.23)

Mario: [-( (16.23)

BF_Arie: atw main sm barbie, bray. :)) (16.24)

Mario: anjrit! (16.24)

BF_Arie: anjrit drive. (16.25)

Mario: itu anji drive! (16.26)
Mario: di sn hujan gak bray? Di sn lg hujan. (16.26)

BF_Arie: iya, gerimis. (16.27)

Mario: skrg elu dmn? (16.27)

BF_Arie: drmh. Kita lg masak mie cabe ijo. Hooottt!šŸ˜€ (16.28)

Mario: mkn mie aja bangga elu! (16.29)
Mario: dasar udik,šŸ˜› (16.30)

BF_Arie: artis tuh udik sedunia (16.30)

Mario: udin itu mah. Udik itu sebutan buat sodara yg lebih muda dr kita. (16.31)

BF_Arie: adik! Pemain sepak bola tuh, adik vermansyah (16.32)

Mario: andik, woy! (16.32)

BF_Arie: wkwk. Elu udh mandi, bray? (16.33)

Mario: udh dong. Elu pasti blm mandi y? (16.33)

BF_Arie: hehe. Ntar aja deh. (16.34)

Mario: jd dr tadi bau amis itu elu. (16.35)

BF_Arie: amis? Harum kali. Gw selalu harum (16.36)

Mario: bkn harum, tp haram elu! (16.37)

BF_Arie: haish! Brb makan mie dl y, bray. Mo gak? (16.38)

Mario: mauuu *suapin* (16.39)

BF_Arie: nih *sekalian sm mangkok + sendok* (16.40)

Mario:šŸ˜¦ (16.40) [/b]

*24 Desember 2012, Pukul 19.16*

Gue tengah mendownload video gay di salah satu wap, ketika nada pesan WA gue berbunyi.

[b]BF_Arie: bray, elu lg ada bisnis apa sm mr.jo? (19.17)

Mario: gak ada. Knp elu tiba2 nanya gt? (19.18)

BF_Arie: dia minta no elu tadi. (19.19)[/b]

Belum sempat gue membalas. Sebuah nomor tak dikenal mengubungi gue. 085273789xxx.

“Halo?” sapa gue sambil menempelkan HP ke telinga setelah memencet tombol OK.
“Yo, ini Kak Jo. DVD-nya lupa dibawa.”
“Hah?” gue langsung menoleh ke arah lemari kaset.
“Iya. Tadi DVD-nya Kakak taruh di atas lemari kaset kamu sebelum kita cuci tangan.”

Gue turun dari ranjang dan menghampiri lemari. Benar saja. Tiga buah DVD ada di atasnya.

“Ya, ya, ada,” beritahu gue.
“Kamu ada di rumah nggak sekarang?”
“Ada.”
“Kakak ambil sekarang DVD-nya nggak apa-apa kan?”
“Uhm—”
“Soalnya Kakak udah kadung ngajakin temen nih di rumah,” potongnya.
“Oooohhhh, ya udah, biar gue aja kesana ngaterin DVD-nya,” gue menawarkan diri.
“Nggak ngerepotin?”
“Nggak kok. Gue lagi suntuk juga di rumah.”
“Sip dah. Kakak tunggu ya. Thanks, Boy!”
“Yoi!”

Setelah sambungan diputus, gue langsung memasukkan HP ke kantong celana, mengambil jaket di lemari dan dengan satu gerakan cepat mengambil DVD lalu berjalan keluar kamar.

“Ma, Mario pergi dulu ya!” pamit gue sambil lalu.
“Mo kemana?” tanya Mama yang tengah menonton TV.
“Ke rumah temen.”
“Hujan, Yo!”
Gue nggak menjawab lagi. Terus saja berjalan ke garasi dan mengeluarkan motor.

Hujan ternyata masih rintik-rintik. Gue mempercepat laju motor. Semakin lama, titik hujan bertambah deras. Untungnya hingga tiba di rumah Kak Jo, curah hujan hanya membuat beberapa bagian di jaket gue cuma lembab aja, nggak sampai basah kuyup.

Gue membunyikan klakson dua kali di depan pintu pagarnya. Tak berapa lama kemudian, dari teras kelihatan Kak Jo berjalan menghampiri gue.

“Wah, ngerepotin nih,” katanya sambil tersenyum dan membukakan pintu pagar.
“Nggak apa-apa kok. Ini DVD-nya,” kata gue sambil menyerahkan kantong kresek yang gue gantung di stang motor.
“Oh, iya,” katanya sambil menerima DVD itu. “Buruan masukin motornya. Ntar hujannya tambah gede,” sambungnya sambil mendongak menatap langit kelabu.
“Nggak usah, Kak. Gue mo langsung pulang,” tolak gue.
“Oh! Tapi ini hujannya—” belum selesai ia meneruskan omongannya, tiba-tiba hujan tercurah dengan lebatnya.
“AYO BURUAN MASUKIN MOTORNYA!” seru Kak Jo.
Gue memangguk dan tanpa pikir lagi langsung membelokkan motor menuju halaman rumahnya.
“LANGSUNG PARKIRIN KE GARASI!” teriaknya sambil menutup pintu pagar dengan cepat.
Gue membawa motor menuju garasi yang pintunya terbuka setengah. Sebuah mobil juga terparkir di sana.

Kak Jo berdiri di teras sambil mengusap-usap rambutnya yang basah. Hujan yang turun deras secara tak terduga itu membuat bahu, punggung dan dadanya basah.

“Sudah, Yo?”
Gue mengangguk.
“Ayo, masuk!” ajaknya.

Di dalam, gue berdiri menunggu Kak Jo mengunci pintu, sambil melepaskan jaket gue yang terasa berat dan lengket di badan karena basah.

“Basah ya?” tanyanya.
“Lumayan,” jawab gue seraya mengibas-kibaskan baju gue dengan tangan.
“Ganti aja kalo nggak nyaman. Pake baju Kakak,” katanya sambil mendahului gue menuju ruang tengah.

Di ruang tengah, sudah nangkring dua sahabat Kak Jo yang pernah gue lihat di Pangsit 21. Gue tersenyum ke arah mereka.

“Ini DVD-nya,” kata Kak Jo ke mereka sambil menaruhnya ke atas meja.
Si rambut cepak mengambil DVD itu dan mengeluarkannya dari kantong kresek.
“Aku mo ganti baju dulu,” kata Kak Jo lagi. “Ayo, Yo!” ajaknya ke gue.

Gue berjalan membuntutinya. Rupanya ia membawa gue ke sebuah kamar. Mungkin ini kamarnya.

Sesampai di kamar yang sangat rapi dan cukup minimalis itu, ia membuka kaosnya dan menjemurnya di jemuran alumunium.

“Mana jaket kamu tadi, Yo? Jemur di sini,” katanya sambil menunjuk jemuran itu.
“Oh, iya,” gue berjalan menghampiri jemuran itu dan menjemur jaket gue di samping kaos Kak Jo.

“Kaos kamu basah juga?”
“Sedikit. Tapi nggak usah diganti. Ntar kering sendiri,” kata gue sambil mengelap bagian bahu gue yang terasa lembab.
“Ganti aja. Ntar kamu masuk angin.”
Gue menurut saja. Dari pada dia ceramahi gue lagi???

Kak Jo melempar sebuah kaos berwarna abu-abu ke gue. Aroma wangi yang lembut langsung menyapa hidung gue.

“Celana kamu basah juga?”
“Nggak kok!”
“Baguslah. Lagian celanaku nggak ada yang pas sama kamu. Palingan kalo kamu mau, yaa, pake sarung,” katanya sambil menutup lemari pakaiannya yang, ehm, rapi banget susunannya.

Gue jadi malu sendiri membandingkan kamar gue dengan kamarnya.

Setelah mengganti baju, gue kembali ke ruang tengah. Sementara Kak Jo pergi ke dapur dahulu. Ternyata ia mengambil sebuah gelas lalu menuangkan teh ke dalamnya.

“Nih,” ia menyodorkan segelas teh itu ke gue.
Gue mengangguk.
“Filmya udah gue puter, Bro!” kata teman Kak Jo yang berambut belah tengah.
“Wah, ulang lagi dong…”
“Baru kok, Jo. Baru aja empat menit dua puluh empat detik.”
“Pokoknya ulang! Nggak asyik ah nonton nggak dari awal.”
“Errrgghhh…!” geram temannya itu sambil menekan tombol pause pada remote DVD Player.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: