Chapter IVc

*Pukul 12.38*

Aku memperlambat laju motor saat menyusuri jalan AK. Ghani, yang merupakan akses menuju rumah Mario, sesuai yang ia tuliskan di Private Message tadi.

Rumahnya bernomor 38 dan bercat Hijau muda.

“35…, 36…, oh, itu dia 38-nya,” gumamku sambil menambah sedikit kecepatan.

Tepat. Sekarang aku berhenti di depan gerbang pagar sebuah rumah berwarna hijau muda.

Aku mematikan mesin motor dan menstandarkannya tepat di depan pintu pagar. Kemudian kuturun dan menekan bel yang dipasang di dinding bagian dalam pagar.

Seorang perempuan yang mengenakan daster bermotif kembang-kembang besar sedikit tergopoh-gopoh menghampiriku.

Aku tersenyum dan menyapanya.
“Siang, Bu. Ini rumahnya Mario ya?”
“Betul. Temannya Den Mario ya?”
Aku mengangguk.
Ia langsung membuka pintu pagar dan mempersilahkanku masuk.
“Den Rio-nya ada di dalam. Sebentar ya… Tak panggilin,” kata perempuan yang sudah bisa ketebak pasti pembantu di rumah ini. Ia berjalan masuk dan tak berapa lama kemudian yang datang menyambangiku berganti menjadi Mario.
“Eh, Kak Jo udah datang…”
Aku tersenyum.
“Kakak ke sini pake motor?”
“Iya. Ituu…” jawabku sambil menunjuk motor yang kuparkir di luar pagar.
“Dimasukin aja Kak,” saran Mario. “Lagi nggak buru-burukan?”
“Nggak kok.”
“Kalo gitu masuk dulu aja,” ajak Mario.
Aku tak menolak. Setelah memasukkan motor dan menutup pintu pagar, aku kembali duduk di teras.
“Kak, masuk aja…” ajak Mario sambil melongokkan kepalanya sedikit dari dalam.
Aku menurut dan membuntuti langkahnya.
“Langsung ke kamar gue aja yah? DVD-nya ada di kamar,” terang Mario.
Aku mengangguk.

Kesan pertama yang kutangkap dari kamar Mario adalah BERANTAKAN. Sampai-sampai aku ragu untuk masuk.

“Ayo Kak, masuk aja!”
“Berpijak di mana nih?” candaku.
Mario terkekeh sambil memungut selimut yang tergeletak di lantai.
“Hehehe, maaf berantakan nih,” katanya sambil mengacak-acak rambut hitam kecokelatannya.
“Emang kamu nyaman dengan suasana gini?” tanyaku seraya meneliti keadaan kamarnya yang lebih mirip kapal pecah.
“Nyaman-nyaman aja, hehehe…” jawabnya.

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Sekali lagi kulayangkan pandangan ke seisi kamarnya. Sungguh berantakan. Buku berserakan bercampur dengan tempat pensil beserta isinya yang tergeletak di atas meja belajar. Separuhnya berserakan di dekat kaki meja. Sementara di sudut lain, lemari pakaian terbuka setengah dan menyajikan pemandangan susunan lipatan pakaian yang tak karuan. Di samping ranjang terdapat meja kecil yang ditutupi charger, headset, earphone, laptop dan cooling pad. Belum lagi beberapa bungkus snack berserakan di lantai.

Aku mangut-mangut dan gerah melihatnya. Terlebih-lebih lagi saat melihat kotak sampah yang isinya sudah menggunung dan sebagian isinya berhamburan di sekitarnya.

“Selain Batman, gue juga punya film lain, Kak,” beritahu Mario sambil jongkok di depan lemari kecil di samping TV, seolah-olah tak perduli dengan tanggapanku terhadap suasana kamarnya.

“Ini DVD Batmannya,” kata Mario sambil mengangkat DVD-nya setelah ia menarik pegangan lacinya dan terlihat susunan DVD dan VCD yang susunannya tak kalah kacau. Bahkan sudah tak bisa disebut susunan.

Aku langsung menghampirinya dan mengambil DVD itu. Kulihat dan kubaca sinopsis di belakang covernya.
“Ini semua koleksi kamu?” tanyaku sambil memperhatikan isi laci yang penuh dengan DVD.
“Iya. Sebagian koleksi Mama. Beliau itu moviegoers,” terang Mario.
“Ooo…,” aku membaca judul DVD itu satu persatu.
“Mama merekomendasikan gue nonton beberapa film. Ini, terus ini juga,” beritahu Mario sambil menunjukkan DVD berjudul Everybody’s Fine dan Mama Mia!
“Bagus ya?”
Mario mengangkat bahunya. “Nggak tahu. Belum nonton.”
“Banyak banget Filmnya. Bingung mau pilih yang mana,” desisku.
“Terserah Kakak. Pinjam aja sesukanya.”
“Kamu udah nonton film apa aja? Bisa recommended yang mana aja yang bagus?” pintaku.
“Uhmmm, The Proposal bagus. Teruuusss… Black Swan? Keren. Yang main Natalie Portman. Ada lagi The Avengers. Sudah belum nontonnya? Pokoknya banyak deh.”
Aku menghela napas. Bingung sendiri jadinya.
“Oh, iya, Kakak mau minum apa?” tanya Mario tiba-tiba.
“Nggak usah, Yo.”
“Aahh, mau minum apa? Teh, Kopi, Jus?”
“Air putih aja.”
“Cuma itu? Gue buatin teh susu ya?”
“Nggak usah. Air putih aja,” kataku bersih keras.
“Baiklah…” desisnya sambil beranjak keluar kamar.

Sementara Mario pergi keluar kamar, aku kembali memilih-milih DVD yang akan kupinjam. Akhirnya aku memutuskan untuk meminjam DVD TDKR, The Iron Lady dan The Avengers.

Setelah menetapkan pilihan pada tiga film tersebut, aku menyusun ulang DVD itu ke dalam laci agar tampak rapi.

“Kakak lagi apa? Ini Air putihnya,” kata Mario seraya meletakkan segelas air putih ke sampingku.
Aku tak menjawab pertanyaannya.
“Sudah ketemu pilihannya?” tanya Mario lagi. Aku menunjuk ke arah DVD yang kutaruh di dekat kakiku.
“Oh, ini,” desis Mario. Ia mengambil DVD pilihanku itu dan menelitinya satu persatu. Setelah itu ia kembali memperhatikanku.
“Kalo dengan keadaan centang prenang gini kamu bisa nyaman, apalagi kalo suasananya bersih, pasti kamu makin betah,” kataku.
Mario mangut-mangut.
“Pribadi seseorang itu bisa tercermin dari keadaan kamarnya,” kataku lagi.
“Oh iya. Menurut Kakak gue—”
“Pemalas, urakan, bandel, suka menyusahkan orang lain, dan manja!” potongku cepat.
“Ah, nggak juga,” bantahnya pelan.
“Orang tua kamu nggak ngomel lihat kamar yang seberantakan ini?” tanyaku.
“Ngomel sih. Tapi lama-lama dia bosen sendiri dan masa bodoh.”
“Teman-teman kamu suka ke sini?”
“Kadang-kadang.”
“Gimana tanggapan mereka?”
“Biasa aja. Kamar mereka kek gini juga…”
“Pantesan kalian bisa klop! Biasanya berandal temannya berandalan juga. Pemalas temannya orang pemalas juga,” kataku.
Mario nyengir.
“Kakak juga orangnya nggak bersih-bersih amat. Tapi setidaknya nggak sampai segininya. Kita harus tahu dan aware sama hal-hal yang ada di sekitar kita. Gimana kamu bisa tidur dengan nyenyak, belajar dengan fokus dan istirahat dengan nyaman coba kalo sampah berserakan, debu berterbangan dan barang-barang nggak pada tempatnya kek gini?” omelku.
“Gue udah terbiasa.”
“Jangan pernah pelihara sesuatu yang buruk. Itu nggak bakal ada faedahnya buat masa depan kamu,” kataku. “Kalau hal-hal kecil dan pribadi seperi kebersihan ruang pribadi kita aja nggak kita jaga, gimana mo menjaga public area?” sambungku sambil menutup laci berisi DVD yang sudah kususun rapi.
“Ambil sapu!” kataku seraya bangkit dan melangkah menuju jendela kaca. Dengan sekali gerakan, kusibak tirai jendela sehingga cahaya Mentari siang langsung menerangi kamar.
“Tuh lihat, debu di kaca udah tebal banget,” kataku sambil menggoreskan huruf “J” di atasnya dengan telunjukku. Hurufnya tercetak jelas.
“Ayo, ambil sapu,” kataku lagi sambil melirik Mario yang nampak mangut-mangut.
Ia bergerak dengan enggan.
“Sekalian pungutin sampah-sampah itu terus buang. Nggak lihat apa kotak sampahnya udah penuh???”
Mario menuruti ucapanku tanpa komplain. Dalam diam ia memunguti bungkus snack dan kertas yang berserakan di lantai. Setelah itu dimasukkannya ke dalam kotak sampah. Lalu kotak sampah pun di bawanya ke luar.

Sepeninggalan Mario, aku memunguti buku, pena dan pensil di lantai lalu menyusun semua barang yang ada di atas meja belajar. Tak lupa pula kuintip isi buku tulisnya.

“Tulisan apa orat-oret sih ini?” desisku melihat tulisan ceker Ayam di lembaran buku tulis. Tulisannya persis seperti tulisan dokter saat menulis resep obat. Ini anak benar-benar nggak karuan.

Setelah membereskan meja belajarnya, aku beralih ke lemari pakaiannya. Namun aku tahu bahwa tak semestinya aku menjamah area ini, sehingga aku hanya menutup pintunya saja.

Tak berapa lama kemudian, Mario kembali muncul dengan sapu dan serokan di tangan.

“Ada kemoceng nggak?” tanyaku.
“Ada. Buat apa?”
“Bersihin kaca.”
Tanpa berkata-kata lagi Mario kembali keluar kamar. Aku pun mengambil sapu yang ia sandarkan di daun pintu. Langsung saja kusapu lantai tanpa ada yang tersisa, termasuk kolong ranjang, kolong meja dan lemari.

Debu begitu tebalnya. Terutama di bawah ranjang. Aku sampai terbatuk karena menghidup udara yang bercampur debu yang berterbangan.

Mario mematung di ambang pintu dengan kemoceng di tangan.

“Hey, ngapain bengong? Lap kacanya,” kataku sambil menoleh sejenak.
“Lu gak perlu ngelakuin ini, Kak,” katanya.
“Kakak cuma pengen buat kamu malu,” kataku.
“Hah?”
Aku tak menjawab. Biar dia yang berpikir sendiri. Aku pertama kali datang ke sini dan langsung membantunya membersihkan kamar. Ku harap ini pelajaran buatnya, bahwa kebersihan itu sangat penting agar orang yang berkunjung menjadi nyaman. Yaahhh, itu sih kalau dia bisa berpikir. Kalau pun enggak, ya sudahlah. Aku melakukannya semata-mata karena merasa berhak mengajarinya karena pernah—meskipun cuma dua bulan—menjadi gurunya.

***

***Mario***

Gue berdiri menatap kamar gue yang bersih dan rapi luar biasa.

Rasanya aneh. Gue tiba-tiba tersenyum.

“Gimana?” tanya Kak Jo yang berdiri di samping gue.
“Aneh, hehehe…”
Ia menghela napas. “Oh, iya, dimana kamar mandinya? Kakak mau cuci tangan.”
“Oh, ayo! Gue juga mau cuci tangan kok!” ajak gue.

Sesampainya di kamar mandi, gue mempersilahkan Kak Jo mencuci tangan lebih dulu.

“Den Rio, kenapa belum makan?” tanya Bibik yang lagi membereskan dapur.
“Oh, ya, ya, Bik. Siapain sekarang. Dua orang ya!” jawabku.
Bibik mengangguk.

Sementara Bibik berlalu ke ruang makan, gue mencuci tangan.
“Udah lunch, Kak?” tanya gue saat kita berpapasan di pintu kamar mandi.
“Rencananya Kakak setelah dari rumah kamu, mo cari makan,” jawabnya.
“Kalo gitu makan di sini aja.”
“Nggak usah. Tujuan aku ke sini untuk pinjem DVD, bukan untuk makan siang,” tolaknya.
“HARUS!” gue menekankan pengucapan kata ‘harus’ itu.
Dia tak menjawab, justru langsung ngeloyor keluar.
“Gue pernah makan di rumah Kakak. Jadi sekarang gantian Kakak yang makan di rumah gue,” paksa gue sambil menyusul langkah kakinya.
“Oh begitu? Baiklah,” jawabnya santai.
“Ayo! Kita ke meja makan, let’s go!” ajak gue yang langsung diikuti oleh Kak Jo.

“Menu apa siang ini, Bik?” tanya gue ke Bibik yang tengah menuangkan air putih.
“Cakalang suwir pedas, tumis Kecipir dan ada juga keripik biji Duren pedas…”
“Uhm, favorit gue tuh keripik biji Durian. Udah pernah ngerasain belum Kak?” tanya gue sambil menarik salah satu kursi untuk ditempati oleh Kak Jo.
“Belum. Gimana rasanya?”
“Kakak icip-icip dulu deh. Enak banget! Nggak kalah sama keripik Singkong,” terang gue bersemangat.
Kak Jo mengambil seiris keripik di dalam piring dan memasukkannya ke dalam mulut.
“Gimana? Enak nggak?” tanya gue menunggu komentarnya.
“Enak,” jawabnya sambil mengangguk-angguk. ” Rasa Duriannya nggak ada sama sekali ya?”
“Heeh. Kalo nggak dikasih tahu, pasti banyak yang nggak nyangka kalo itu biji Durian, betul nggak?”
“Yup.”
Gue tersenyum. “Sekarang mari kita makan. Ambil sendiri ya, Mister? Anggap aja rumah sendiri,” kata gue sambil melempar senyum ramah.
Ia mengangguk.

Kami makan sambil mengobrol.

“Gimana nilai raportmu, Yo?” tanya Kak Jo.
“Standar.”
Ia berhenti mengunyah dan menatap gue sekilas dengan tajam.
“Tapi gak ada yang merah kok,” sambung gue buru-buru.
“Bahasa Inggris kamu berapa?”
“Delapan Tujuh,” jawab gue sedikit bangga.
“Yang terkecil nilai bidang study apa?”
“Bahasa Indonesia, gue dapat Enam Lima…”
“Enam Lima? Kecil amat?”
“Sumpah, gue angkat tangan sama mata pelajaran yang satu ini. Gue nggak ngerti sama sekali,” terang gue putus asa.
“Banyak banget orang yang kesulitan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Aku nggak tahu, di mana letak kesulitannya? Bahasa Indonesia merupakan salah satu pelajaran favoritku,” terang Kak Jo.
“Gue benci sama pelajaran Sejarah dan Akuntansi. Tapi gue lebih pede mengisi jawaban dua mata pelajaran ini dibanding Bahasa Indonesia.”
“Kamu harus belajar lebih keras kalo begitu. Bahasa Indonesia itukan salah satu mata pelajaran terpenting yang diUN-kan.”
“Ya, makanya gue bingung gimana UN nanti. Jangan sampai Bahasa Indonesia membuat gue nggak lulus. Amit-amit.”
“Coba minta bantuan sesama teman yang jago Bahasa Indonesia-nya.”
Gue mengangguk.
“Oh, ya, kalian masih ikut les tambahan?”
“Masih.”
“Kamu masih suka mangkir dari les, eh?” Ia mengerling tajam.
“Nggak kok. Gue selalu ikut les.”
“Oh, berarti benar aku penyebab kamu sering absen, ya,” katanya sebelum meneguk air putihnya.
“Nggak kok. Gue kan udh bilang nggak ada hubungannya dengan Kakak,” gue merengut.
“Nevermind. Gimana enjoy nggak diajar Miss. Ana?” Ia mengubah topik pembicaraan.
“Asyik-asyik aja. Tapi teman-teman–fans elu– lebih menyukai Kakak daripada dia.”
Kak Jo terkekeh, lalu mengelap sudut bibirnya dengan serbet.
“Salam sama mereka semua.”
“Sip. Kenanga and the gank pasti berteriak kegirangan,” kata gue.
“Bilang sama mereka, jangan terus-terusan memperhatikan penampilan, tapi perhatikan juga persiapan UN. Wajah cantik nggak akan mampu membantu mengisi butir-butir soal ujian dengan benar.”
“Ya, bakalan gue sampein.”

Selesai makan siang, kami ngobrol sebentar di teras lalu Kak Jo pamit pulang. Sebelum pulang ia kembali menceramahi gue. Soal kebersihan kamarlah, persiapan UN-lah. Sepertinya dia memang tipe orang yang suka mengomel layaknya Emak-emak. Huh!

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: