Chapter IV

Chapter IV

***Mario***

Lupakan aku
Jangan pernah kau harapkan cinta
Yang indah dariku
Lupakan aku
Ku punya cinta lain yang tak bisa Untuk kutinggalkan

Mungkin suatu saat nanti
Kaupun akan mengerti
Bahwa cinta memang tak mesti
Harus bersama
(Cinta Yang Lain, Ungu ft Chrisye)

“Siapa sih yang muter lagu itu?!” tanya gue gusar.
“Emang kenapa, Bray?” tanya Arie.
“Males aja gue dengernya,” jawab gue kesal.

“Gue, Yo!” timpal Erli dari bangku belakang.
“Matiin!” balas gue cepat.
“Siapa loo?!” balas Erli lagi sambil memasang muka jutek.
“Gue bilang matiin!” bentak gue.
“HP punya gue, lagu punya gue, terserah gue!” Erli ngotot.
Gue menggertakkan gigi dengan geram. Sumpah, untuk pertama kalinya gue pengen banget mematahkan leher cewek brengsek itu.

Gue bangkit dan bergerak cepat menuju bangku Erli.

“Matiin nggak?!” ancam gue.
“Iihhh, kenapa sih elu?”
“Atau gue lempar HP elu ke dinding?!” sambung gue bersungguh-sungguh.
“SIAPA LO?!” Erli nyolot.
Gue terpancing emosi mendengar teriakannya. Dengan cepat gue berusaha menyambar HP digenggamannya yang masih saja mengalunkan lagu sialan itu. Tapi cewek menyebalkan itu buru-buru menyimpan HP-nya ke saku rok-nya.
“Matiin itu lagu atau kecilin volume-nya!” pesan gue sambil berbalik menuju bangku.

Arie melongo melihat kedatangan gue.
“KENAPA?!” tegur gue dengan nada keras. Gue benci melihat tatapan bodohnya itu.
“Elu kenapa sih, Bray? Kok kasar banget sih?” tanya Arie.
“Gue benci lagu itu!”
“Apa reaksi elu harus sebegitunya karena lagu itu, eh?”
Gue menoleh dan menatap Arie sekilas. Setelah itu pandangan gue beralih ke Erli yang menatap gue dengan penuh kebencian. Gue buru-buru membuang pandangan ke depan dan berusaha tak perduli.
“Gue yakin bukan itu masalahnya,” kata Arie lagi.
“Sotoy elu!”
“Kita udah temenan lama, Bray,” Arie mengingatkan. “Gue tahu elu.”

Cuih. Temanan lama katanya? Tahu gue katanya? Seberapa besar elu tahu gue, Rie?

“Cerita dong ke gue, elu punya masalah apa?”
“Gue bakal kasih tahu ke elu, apa yang pantas elu tahu.”
“Jadi, yang satu ini, menurut elu gue gak boleh tahu?”
“Iya.”
“I see. Nggak apa-apa kok…” kata Arie.
Gue mangut-mangut.
“Li, tolong puterin lagu Ungu tadi!” seru Arie ke Erli.
Gue langsung mengangkat kepala.
“Yang tadi?” tanya Erli.
Arie mengangguk.
Gue langsung menggeram.
“Rie, apaan sih elu?!” protes gue.

Mungkin suatu saat nanti
Kaupun akan mengerti
Bahwa cinta memang tak mesti
Harus bersama…

Lagu-paling-jelek-yang-gue-dengar-hari-ini kembali mengalun.

“MATIIN!” gue naik pitam.

Arie langsung bangkit, menarik lengan gue dan menyeret gue ke luar kelas.

“Hei, Rie! Apaan sih…” gue berusaha menolak.
“IKUT GUE!” jawab Arie tegas.

Ia membawa gue ke belakang kelas. Sesampai di sana, ia menyandarkan tubuh gue ke dinding dengan kasar. Dengan mata berkilat-kilat ia menatap gue.

“CERITA KE GUE!”
“Soal apa?” jawab gue berusaha santai.
“Masalah elu.”
“Gue udah bila—”
“Gue gak perduli, Okey?! Cerita ke gue!” desak Arie.
Gue diam dan menatap wajahnya yang mengeras. Kami saling tatap untuk beberapa detik.

“Ehmm, gue benci sama lirik lagu itu. Lagu cengeng dan menyebalkan. Gue gak setuju kalo cinta itu nggak mesti harus bersama. Gue gak setuju kalau cinta nggak harus memiliki. Bagi gue, cinta itu harus memiliki! Gimana elu bisa mengekspresikan rasa cinta dan sayang elu, kalo elu nggak bisa memiliki orang itu?!” cerocos gue.

Arie melongo setelah mendengar omongan gue.
“Kenapa?” tanya gue.
“Cuma karena alasan itu elu bersikap kasar sama cewek???”
“Oh, gue lagi sensitif,” jawab gue pelan, malu.
Arie tertawa dan menepuk pundak gue.
“Bray, elu ada-ada aja deh. Elu nggak lupa minum obatkan?”
Gue cemberut sambil menepis lengannya dari pundak gue.
“Bray, gue nggak tahu elu ada masalah apa, tapi gue berharap secepatnya elu mau cerita ke gue, biar gue bisa bantu dan masalah elu cepat selesai. Gue mau Mario yang biasanya. Gue care sama elu. Gue sayang sama elu.”
“Hah?! Elu sayang sama gue?”
Arie mengangguk mantap.
“Jadi elu nggak sayang sama pacar elu?”
“Elu kan pacar gue,” jawab Arie santai.

Gue terbelalak.

“Ingat Juwita!” seru gue pura-pura sewot.
“Bebeb Juwi itu cewek gue, sedangkan elu itu cowok gue, wkakaka…!”
“Anjrit!” teriak gue sambil meninju bahu Arie. Ia langsung berlari sambil tertawa.
Gue tersenyum sambil memandangi gerak kakinya. Gue geleng-geleng kepala, setelah itu berlari mengejar Arie dengan hati dipenuhi bunga.

“BRAY! TUNGGUUU…!!!”

***

Arie tersenyum sambil menunggu gue menghampirinya.

“Ada apa, Sayang?” kata Arie sambil merangkul pundak gue.
“Berhenti ah, Bray!” pinta gue.
“Kenapa sih?” goda Arie.
“Gue nggak mau satu sekolah tahu…”
“Kalo elu cowok gue?”
“Bukan! Kalo elu Maho! Haha!”
“Gue bakal bilang ke orang-orang, gue bukan homo. Tapi cowok gue yang homo,” balas Arie sambil memeluk leher gue. Mencekik lebih tepatnya.
“Sama aja itu mah!”
Arie terkekeh.
“Juwita elu itu bisa ilfil kalo tahu kelakuan elu kek begini ke cowok,” kata gue.
“Dia gak bakal tahu kecuali elu yang kasih tahu.”
“Emang di sini cuma gue doang yang punya mata?”
“Emang mereka gak ada kerjaan lain? Cuma orang sirik aja yang bakal ngelakuin itu,” jawab Arie santai.
Gue terkekeh. Kita berdua pun kembali ke kelas dengan saling merangkul.

Seperti biasa, jantung gue berdebar setiap bersentuhan dengan Arie. Daya pesonanya begitu besar. Kalau cuma saling merangkul bahu seperti ini rasa nikmatnya luar biasa, bagaimana jika kami berdua melakukan…

Akh, stop! Bawah pusar gue menggeliat bangun membayangkan aksi erotis itu.

Secara spontan gue melepaskan lingkaran tangan Arie di leher gue serta menjaga jarak darinya. Bisa berabe kalo diri gue terbangun saat ini.

“Kenapa?” tanya Arie.
“Apanya?”
Arie mengangkat bahunya enggan bertanya lagi.
“Oh ya, liburan elu kemana, Bray?” tanya Arie.
“Terserah elu,” jawab gue.
“Kok gue?”
“Biasanya elu kan yang kasih ide dan cari tempat kita liburan.”
“Waduh, sorry, Yo, liburan kali ini gue sama Juwi.”

Gue langsung menelan ludah.

“Oohh…” desis gue pelan dengan dada sesak.
“Mau kemana kalian?” tanya gue.
“Juwi maunya ke pantai. Di sana juga ada saudaranya.”
“Oh, gitu. Kalian berdua aja?” otak gue langsung membayangkan yang nggak-nggak.
“Bareng teman-teman Juwi juga plus pacar-pacar mereka.”
“Ooohhh…”
“Coba kalo elu punya pacar juga, Bray, kita bisa liburan sama-sama…” kata Arie berandai-andai.
Gue tersenyum masam.
“Ayolah, Bray, cari pacar,” rengek Arie.
“Gue masih betah ngejomblo. Gue ini high quality jomblo.”
“Berdua itu lebih baik, Bray! Pacaran itu asyik…!!!”
“Sekeras apapun elu ngerayu, gue gak bakal kegoda,” kata gue tegas.
“Yahhh…”

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: