sisi pelangi chapter IIIc

***Johan***

Keesokan harinya…

Gue terbangun setelah mendengar kokok Ayam dari kejauhan. Suasana masih gelap. Taksiranku sekarang masih pukul lima-an pagi.
Sebelum bangun, aku melirik ke samping. Mario nampak lelap meringkuk dengan wajah di samping lenganku.
Ia nampak kedinginan. Aku menarik selimutku dan membentangkan ke atas selimutnya. Setelah itu aku ke kamar mandi, berwudhu dan menunaikan salat Subuh.
Selesai salat, aku menyiapkan materi kuliah dan kumasukkan ke dalam tas. Lantas bergerak ke dapur. Aku akan membuat menu sarapan. Yang terpikirkan di otakku hanya salad.
Saat sedang menyibukkan diri di dapur, Mariopun muncul.
“Pagi, Mister…” sapanya.
“Sudah bangun?”
Ia mengangguk.
“Gue mau pulang, Mister…” katanya.
“Sekarang saya bukan guru kamu lagi. Panggil aja Kakak,” saranku.
“Iya. Kakak.”
“Sekarang sudah jam enam. Buruan mandi!” kataku.
“Mandi di rumah aja, Kak…”
“Buruan. Biar nanti kamu di rumah cuma ganti baju, jadi nggak repot lagi,” terangku.
Mario tertegun di pintu.
“Handuk ada di kamar mandi. Kamar mandinya di sebelah sana,” beritahuku sambil menunjuk pintu di dekat washing machine.
Mario berjalan ke arah pintu yang kutunjuk.

Sementara Mario mandi, menu sarapanku selesai. Akupun beralih menyapu rumah. Saat menyapu, aku kembali teringat empat jenis makanan untuk mengatasi mabuk.

Jahe. Mungkin Mario akan lebih segar jika minum wedang jahe? Apalagi sekarang cuacanya dingin.

Akhirnya akupun memutuskan membeli wedang jahe di ujung gang.

Saat aku kembali, Mario yang sudah mandi duduk di teras masih mengenakan T-shirt-ku dan celana sekolahnya. Rambutnya yang basah nampak acak-acakan.

“Dari mana Kak?” tanyanya.
“Ini, kamu minum,” kataku.
“Apaan itu?”
“Wedang jahe.”
“Gue mau pulang, Kak. Udah pukul tujuh…”
“Sarapan dulu.”
“Nggak usah, Kak…”
“Kakak udah buatin sarapan buat kamu.”
“Ah, jadi merepotkan,” desisnya.
Aku melotot. “Kalau kamu merasa hidupmu itu merepotkan orang lain, makanya jangan suka bikin ulah!”
Ia tak menjawab.

Aku menuangkan wedang jahe yang tadi aku beli. Salad dan segelas wedang jahe itu kusodorkan ke hadapan Mario.
“Ayo dimakan.”
“Makasih, Kak…”
Aku mengangguk.
Kamipun makan dalam diam.

Selesai makan, Mariopun pamit pulang dengan mencium tanganku terlebih dulu.
“Thanks banget ya, Kak…”
“Ya. Jangan diulangi lagi.”
Ia mengangguk.
“Hati-hati!”
Ia kembali mengangguk.

***

Sepulang kuliah, aku langsung pulang ke rumah. Ternyata saat aku tiba, ada Mario yang nangkring di atas motornya, tepat di depan pintu pagar.

“Ada apa?” tanyaku tanpa basa basi.
“Kak, gue mau ambil baju gue,” katanya.
“Oh…” desisku sambil membuka pintu pagar.

Aku baru sadar kalau saat pulang tadi anak ini masih mengenakan T-shirt-ku.

“Sudah pulang sekolahnya?” tanyaku.
“Sudah.”
“Nggak boloskan?” selidikku sambil melirik ke arahnya sekilas.
“Nggaklah. Boleh dicek kok!” jawabnya tegas.
“Baguslah,” kataku sambil membuka pintu. “Masuk.”
Mario mengangguk.

Tanpa memperdulikan anak itu lagi, aku langsung ke kamar, berganti pakaian dan mencuci muka. Setelah itu aku mengambil baju seragam Mario di tempat menjemur pakaian.

Saat aku kembali menemuinya, anak itu sedang duduk di teras sambil memainkan ponselnya.

“Ini,” Aku menyodorkan seragam ke arahnya.
“Oh, thanks ya, Kak.”
Aku mengangguk.
“Kalo gitu gue permisi ya…”
“Have you lunch?” tanyaku.
“Yes, I have.”
“Nggak mau makan lagi? Kebetulan saya mau makan siang,” aku menawarkan.
“Makasih, Kak. Nggak usah.”
Aku mengangguk. “Oke.”
Ia tersenyum lalu menuju motornya. Tapi tiba-tiba ia berhenti dan berbalik dengan sikap ragu-ragu.

“Eng, Kak, kenapa Kakak nggak jadi guru les lagi?”
“Masa tugas saya sudah berakhir. Sesuai kesepakatan, saya hanya mengajar kalian selama 2 bulan. Selebihnya Miss. Ana,” terangnya.
“Ehmm, oh… Bukan karena gue kan?” tanyanya dengan nada hati-hati.
“Karena kamu? Nggaklah!” jawabku sambil tertawa kecil.
Ia menggaruk-garuk kepalanya.
“Justru saya yang harusnya bertanyakan, kenapa kamu suka bolos saat les sama saya?”
“Oh, maaf. Lupakan…” jawabnya menghindar lalu buru-buru meneruskan langkahnya.
Aku menghela nafas keras sambil memperhatikan Mario.,,

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: