sisi pelangi chapter IIIb

***Mario***

*Pukul 21,06*

Gue tersentak bangun. Gue tidur nyenyak banget seperti orang mati. Tanpa mimpi. Tapi…ugh, kepala gue… Kepala gue berat banget.

Gue memaksa membuka mata. Ruangan ini terasa asing. Di mana gue?

Gue langsung bangun. Memperhatikan sekeliling yang nampak temaram.

Ini… Ini bukan kamar gue. Bukan pula ruang keluarga gue. Bukan rumah gue.

Gue menoleh ke samping. Seseorang tidur di samping kiri gue dengan posisi membelakangi gue.

Dia siapa? Gue mencondongkan tubuh ke arah wajahnya. Mister Jo?

Kok gue ada sama mister ini?

Otak gue mulai mengingat-ingat kejadian yang sudah berlalu…

***

*Pukul 16.03*

Jam les habis. Miss. Ana, guru pengganti Mr. Pai-Jo berlalu setelah melempar senyum manisnya. Arie nampak antusias sekali. Senyum tak pernah lepas dari wajah tampannya.

“Girang banget, Bray?” tanya gue.
“So pastilah. Gue mau jemput Bebeb, hehehe…”
“Juwita?”
“Siapa lagi? Gue tipe setia, Bray!”
Gue melengos.

Soal kesetiaan, mungkin elu harus belajar sama gue, Rie, gumam gue dalam hati. Sejak dulu sampai sekarang, gue nggak pernah bisa pindah ke lain hati. Hati gue selalu sama elu.

“Gue cabut ya!” pamit Arie sambil menepuk bahu gue.
“Eh, terus gue?” tanya gue spontan.
Arie berhenti dan mengerutkan keningnya. Kita berpandangan.
“Elu? Terserah elu, Bray! Mau pulang atau nginap di sini, hahaha…!” katanya kemudian. Gue mangut-mangut.
“Eh, Bray! Itu Gugum sama yang laen nungguin elu!” seru Arie lagi saat ia melewati ambang pintu. Gue tak perduli. Gue langsung menyambar tas dan berlalu meninggalkan kelas.

***

“Cheers!” seru Gugum, Sean dan Farid mengangkat gelas lalu bersulang.

Gue terpaku.

Ketiga teman gue itu urung menenggak minumannya dan menatap gue kebingungan.

“Eh, Bray, elu kenapa?” tegur Farid.
“Iya, ayo ikutan bersulang…” ajak Sean.

Gue mengangkat gelas berisi minuman beralkohol (Yang gue sendiri gak tahu merk-nya apa) lalu dengan malas bersulang bersama mereka.

“Minuuummm…” desis Gugum. Ketiganya pun langsung minum.

Sementara gue masih terpaku sambil menatap isi gelas minuman gue yang berwarna keunguan.

“Hey! Kok elu diam, Yo? Minum juga doong…” desak Gugum.

Gue mengangguk dan tersenyum. Tanpa pikir panjang gue langsung menenggak habis minuman itu di bawah tatapan ketiga teman gue.

Rasanya… Uhm, dingin, sedikit menggigit, pahit yang pekat.

“Bray! Gila elu! Jangan ditenggak habis dong…!” seru Gugum terbelalak. “Kacau ini anak,” desis Farid.
“Emang kenapa?” tanya gue sambil menahan rasa pahit yang masih bercokol di mulut gue. “Elu bisa mabuk. Apalagi kalo belum pernah minum,” terang Sean. “Kenapa gak ngomong dari tadi?” desis gue kesal.
“Elu sih langsung minum aja…”
Gue malas berdebat. Gue langsung menaruh gelas ke atas meja dan bersandar di kursi. Sementara ketiga teman gue itu terus mengawasi gue.

“Gue nggak apa-apa,” kata gue.
“Kita harap sih begitu,” kata Gugum.

Gue menghela nafas dalam. Perasaan kosong kembali menyelubungi hati gue.

Pikiran gue berputar.

Jujur gue tak tahu persis bagaimana gue bisa di rumah Gugum. Gue hanya mengikuti aja ajakan mereka sewaktu di parkiran. Mengikuti laju motor mereka. Mereka berhenti guepun berhenti.

Gue juga nggak “ngeh” apa yang mereka bicarakan. Ketawa-ketawa. Entah apa yang lucu. Gue hanya diam dan sesekali tersenyum.

Gue bukan nggak sadar. Gue cuma merasa hampa…

Ugh, kepala gue tiba-tiba pusing. Berat banget. Minuman beralkohol itu mulai bekerja sepertinya.

Gawat. Kepala gue…

Rumah gue masih jauh. Gue rasanya nggak sanggup menahan pusing ini. Gue pengen berbaring. Terlampau berbahaya jika gue terus memaksa mengendarai motor ini.

Tiba-tiba gue teringat bahwa gue baru aja kecelakaan. Selanjutnya wajah Mister Jo melintas di benak gue. Saat dia mengobati luka gue, pesan dia supaya gue hati-hati…

Gue terus memaksa mata gue agar tetap terbuka? Gue sekarang masih di… Aduh, kepala gue makin terasa berat. Dengan kepala pusing tapi gue masih ingat saat ini gue tengah menyusuri jalan di mana gue tabrakan itu.

Gue nggak sanggup lagi tegak. Gue rasanya mau ambruk. Rumah Mister Jo, cuma itu yang ada di otak gue…

***

*Pukul 21.11*

“Yo, gimana keadaan kamu?”

Gue menoleh. Mister Jo terlentang sambil menatap gue lekat.
Gue memegang kepala gue dan menekannya pelan. Masih sedikit berat.
“Udah baikan kok,” jawab gue.
“Bagus,” Ia menatap gue tajam. Entah kenapa gue jadi takut.
“Kamu kenapa?”
Gue tak menjawab.
“Jadi gini kelakuan anak SMA jaman sekarang ya?”
“Baru pertama kali kok,” jawab gue pelan.
“Pertama? Kenapa kamu mabuk-mabukan, eh? Punya masalah?”

Gue tak segera menjawab. Gue nggak mungkin cerita penyebabnya.

“Semenjak Kakak jadi guru kalian, sikap kamu selalu aneh. Ada apa dengan kamu?”
“Gue… Tadi sama teman-teman cuma iseng aja, Mister. Penasaran sama rasanya,” jawab gue.
“Terus manfaatnya apa sama kalian? Emang penting ya coba yang begituan?!” nada Mister Jo terdengar galak.
Gue tak menjawab.
“Saya bisa melaporkan kelakuan kalian ke pihak sekolah, biar kalian diberi pengarahan sama Guru BP,” sambung Mister Jo.
“Jangan, Mister!” seru gue cepat.

Mata kami bertemu. Mister Jo menatap gue tajam. Gue benar-benar tak nyaman di bawah tatapannya itu.

“Buruan kasih kabar sama orang tua kamu. Mereka pasti khawatir sama kamu!”

Gue terhenyak. Dia benar. Mama pasti kelimpungan sekarang.

“Ponsel kamu di atas meja.”

Gue melirik ke meja di samping TV. HP gue tergeletak di sana.

Gue langsung mengirim SMS ke Mama yang isinya mengatakan kalau gue nginap di rumah teman.

“Buruan tidur! Biar besok kondisi kamu segar lagi. Dasar Begajulan!”

Gue kembali berbaring di sampingnya.

“Thanks Mister,” ucap gue.
“Jangan ulangi lagi. Saya paling tidak suka dengan pribadi seperti kamu!” jawabnya.
Gue diam dan berusaha memejamkan mata lagi.

Sebelum terlelap, pikiran gue melayang ke sosok Arie. Akh, dia pasti tidur dengan nyenyak malam ini dalam mimpi indah. Bukan tetang gue, tapi tentang Juwita…

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: